Tampilkan postingan dengan label ucapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ucapan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Ber umur




Jumat kemarin saya hampir mati. Oke itu sedikit berlebihan. Tapi yang benar hampir selama dua hari saya sekarat dan tak bisa melakukan apa-apa selain tidur dan terlentang. Duduk pun rasanya sangat sakit. Kata seorang teman yang perawat itu karena liver saya, yang lain bilang karena sondep (you know that kinda stomach ache but like hell), dan ibu saya bilang karena kelelahan. Saya pribadi entah kenapa lebih percaya pada yang terakhir.

Hampir selama dua minggu saya liputan seperti orang gila. Berkisar dari Bondowoso sampai dengan Semboro. Itu sekitar 200 km bolak balik. Setiap hari saya lakukan dengan jam kerja dari jam 08.00 sampai pulang jam 23.00. Entah kenapa waktu itu saya hanya ingin keluar, bekerja, menulis dan baca komik. Seperti ada ketakutan-ketakutan jika saya diam. Saya akan tersedot masuk kedalam sebuah ruang gelap bernama kebencian dan dendam.

Mungkin ada kaitannya dengan masalah pribadi yang saya alami dengan seorang kawan, seorang gebetan dan juga sebuah perkumpulan. Well, shit do happens right? Some handle it with care, some others handle it like shit. Kita bisa lari dari masalah dan menganggapnya selesai. Atau berdiri menghadapi sebagai seorang jantan. Sayangnya saya bukan keduanya Dan sekali lagi sepertinya saya melakukan apa yang saya bisa. Diam.

Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya.

Sayangnya saya tak punya mental atau kemampuan seperti Gie. Dia bisa saja bilang begitu karena dia punya banyak teman karib, barisan groupies, pekerjaan menyenangkan, hobi asik dan sederet hal-hal keren yang lebih menarik daripada nongkrong seharian di café wifi. Hidup adalah soal hitam dan putih buat Gie. Dan sialnya saya selalu memilih untuk jadi abu-abu.

Pada bulan ini sekitar 2007 saya ikut organisasi pers mahasiswa. Namanya Tegalboto. Terlepas dari nama kampungan dan ece able. Disana saya banyak belajar mengenai kemampuan bertahan hidup. tentang bagaimana menghadapi manusia arogan, berkata kasar, sok kuasa, sok pinter (yang memang pinter) dan bagaimana cara menulis. Oh tentu saja tidak gratis. Semuanya dibayar dengan ketundukan dan rasa patuh.

Perintah pertama yang saya terima adalah membaca. Saya suka membaca tapi tidak dengan buku-buku tebal berjudul pos realitas, bumi manusia, apalagi kamus besar bahasa Indonesia. Whats the point anyway? Well memang saya tak pernah disuruh membaca semua itu, tapi seperti ada dorongan untuk membaca itu. Buku-buku tadi bergeletakan di ruang redaksi Tegalboto. And I’m a bit curious about what they read.

They said ignorance is a bliss.

Well can’t agree more. Sok tau itu berbahaya mau tahu itu lebih berbahaya. Keingintahuan kerapkali membuat orang jadi lupa diri dan akhirnya berakhir pada hal-hal buruk. Oke, tidak semuanya. Beberapa. Sebagian kecil. Oke fine! Sangat kecil dari rasa ingin tahu menyebabkan anda tidak beruntung. Tapi rasa ingin tahu saya waktu itu membuat saya terpapar nanar karena rasa malu. Apa itu KOMODIFIKASI CITRA? APA ITU MAGNUM OPUS? APA ITU TRANSENDEN?

Akhirnya saya harus berteman dengan KBBI untuk mencari itu semua. Saya terlahir pemalu. Oke maksudnya malu-maluin. Cenderung sok tahu dan sok hebat. But peoples change. As age goes by, so does maturity. Saya berusaha untuk tak lagi sok tahu dengan mencari tahu. Anehnya hal ini saya lakukan atas kesadaran sendiri. Bukan karena dorongan orang lain, ya meski kadang masih suka nanya dengan beberapa senior di Tegalboto.

Hari ini Tegalboto ulang tahun. Entahlah saya tiba-tiba ingin menulis tentang bagaimana rasa rindu yang lindap itu berjelaga. Bahwa saya merindukan diskusi kritis di malam dengan penuh makian. Tentang bagaimana hidup di luar Tegalboto itu kejam. Dan bagaimana kami harus begadang setiap malam untuk mengejar deadline. Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Ini muka penuh luka Siapa punya ?

Ya bahkan Chairil pun pernah labil dan krisis identitas bukan? Bahwa segala yang lalu kerap kali legit dan membuat kita mabuk kepayang. Nostaligia selalu menawarkan kisah-kisah manis hidup yang telah usai. Sedangkan hari-hari kita di depan masih menunggu untuk dirubuhkan. Saya rindu Tegalboto yang lalu. Sedangkan hari ini saya bahkan tak bisa pergi kesana untuk sekedar menghidu bau apak udaranya. Dasar gombal.

Kita semua gombal. Siapa yang tidak? Seorang penulis, apalagi jika dia penyair, adalah mahluk paling gombal kedua setelah penyanyi dangdut. Oh benar. Kasta tertinggi mahluk gombal bukan penyair. Cih! Mereka tak akan bisa bikin syair bagus macam penyanyi dangdut. Sebuah gitar, sesisir sajak. Putuslah semua urat malu para perawan. Dikejarnya kau nanti bagai seorang maling hati. Aih.

Gombal atau tidak itu perkara perspektif. Kalau kau tanyakan pada Marx dia bakal bilang, gombal itu candu kaum borjuis supaya proletar tetap tertindas. Jika kau tanyakan pada Wittgeinstein, dia bakal bilang gombal itu permainan bahasa untuk menyembunyikan makna sebenarnya. Jika kau tanya Rhoma Irama, bisa panjang urusannya. Dia punya puluhan lagu soal gombal. Dikata terlalu habis kau dikejar pemain gendang.

Tiada insan yang bebas dari ujian.

Aih manis benar bang Rhoma bikin syair. Saya kira Tegalboto juga demikian. Ia tak bebas dari ujian zaman. Jika dahulu angkatan saya menerima enam orang keparat yang sebagaian besar telah lulus dan berprestasi nasional. Maka Tegalboto juga sudah meraih berbagai penghargaan nasional. Sudah pula sampai ke Jerman dan sudah pula sampai ke Merauke.

Ini bukan tentang identitas cauvinis kolektif. Tetapi mengenai memaknai proses sebagai usaha berkelanjutan tanpa akhir. Saya bisa hilang arah, atau mentok berkarir, atau disoriensatasi hidup, atau post power syndrome atau bahkan mungkin menopouse. Tapi setiap era punya caranya sendiri beradaptasi dan membuat karya monumental. Saya kira ini yang sudah tecatat dalam masing-masing kepala alumnus Tegalboto.

Proses adalah laku hidup kepanditaan. Serupa keras hati Bambang Ekalaya yang berlatih memanah meski tanpa guru. Awak Tegalboto, pada zaman saya, kehilangan sosok guru. Karena kami merasakan kesetaraan dan kesejajaran. Tak ada yang patut di gugu dan di tiru. Karena role model dan patronase hanya akan berbuntut kekecewaan jika luput pada amanah.

Pada akhirnya perjuangan kita hanya sloganistis.

Ahmad Wahib, meski HMI tapi tidak asu, boleh berkata begitu. Embel-embel platonik ‘menuju pencerahan masyarakat’ itu berat. Saya tidak tahu siapa jancuk yang membuat kata-kata itu. Dikira gampang melakukan pencerahan. Apalagi mengajak serta masyarakat yang amoral, sakit dan gendeng ini menuju kesana. Membawa diri sendiri belum tentu bisa apalagi orang lain. Meh!

Kuncinya adalah menuju pencerahan. Itu adalah ajakan berproses. Menuju bukan hasil, karenanya proses itu sendiri di Tegalboto adalah sebuah zetgeist. Bildungprozze. Pembentukan jati diri yang dilakukan perlahan dan didasari pemahaman. Saya yakin Tegalboto bukan pabrik yang berorientasi pada hasil keluaran. Tapi lebih kepada pembentukan kedalam.

“Pengarang” sebut Pramodya Ananta Toer, “mendapatkan tekanan terberat atas perlakuan yang ditimpakan padanya, pengalaman pribadinya adah juga pengalaman bangsanya, dan pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.” Maka maknai proses sebagai pengalaman. Dan kalian akan mendapati tugas seorang pengarang (penulis) adalah mahaberat. Karena harus menuliskan keabadian.

Karena Hidup adalah keberanian menjadi kita.

Saya sudah muak untuk kemudian terus menerus berproses di Tegalboto. Karena seorang bayi yang disapih pun akan sampai pada masa peralihan. Apa yang diberikan tegalboto pada saya jauh lebih dari cukup. Jauh dari memadai untuk memulai hidup sebagai seorang pemikir atau penulis. Itupun jika saya punya cukup nyali untuk melakukannya. Karena seringkali alasan lebih panjang daripada keinginan untuk memulai.

Inilah Tegalboto berusia 18 tahun. Sudah cukup dewasa untuk menonton naughty america. Dan sudah cukup matang untuk ikut SNMPTN. Tapi kembali, proses seringkali meminta tumbal atau martir. Dan kebanyakan dari mereka dilupakan. Semoga saja pengurus Tegalboto hari ini tidak perlu jadi keduanya. Semoga mereka jadi anak-anak zaman yang berlari mengejar narasinya sendiri. Narasi pencerahan. Tabik.

Selasa, 30 Agustus 2011

Ied Mubarak?


er.. Ied Mubarak Everyone. Yes, You too :)

Kamis, 04 Agustus 2011

Lissist


Apa yang spesial dari 4 Agustus? selain hari ini 100 tahun yang lalu nabi besar Jazz Louis Armstrong lahir di New Orleans? Aku pikir tak ada yang spesial semua masih sama saja. Tak pernah ada jazz yang benar-benar jazz. Karena apa yang kita pahami sebagai jazz adalah yang ada dalam festival! Sementara televisi tetap menyiarkan sampah bernama sinetron dan Nazarudin merasa gagah dengan caping tololnya. Semua sama, seperti komedi satir yang terlalu sering diulang.

Mungkin akan sedikit berbeda jika hari ini adalah hari lahir desainer pakaian bernama Louis Vuitton. Sialnya kamu tak pernah peduli dengan pakaian. Dengan trend terbaru atau bagaimana konstruksi masyarakat dibentuk oleh sebuah mode. Kamu dan aku percaya bahwa trend fashion adalah apa yang disebut Barthes sebagai, humiliated repetition. Sebuah bentuk pengulangan brengsek dari kebudayaan masa!

Ini hari juga hari dimana catatan hari Anne Frank ditemukan. Dimana semua yang bernama kenangan ditautkan dalam kisah. Serupa menjalin yang kokoh lagi keras. Sementara semua catatan harus bersikap bodoh dan tolol seperti Raditya Dika atau Pocongg. Padahal ada kisah kemanusiaan yang luput dijawab dari catatan Anner Frank. Ia dibunuh dan kisahnya dikabarkan karena ia menulis!

Jadi bagaimana cara merayakan kelahiran yang menurutmu tak penting ini? Ceremoni ulang tahun, sepertiu juga wisuda, adalah basa basi tengik yang sangat kau benci. Sebenci kau pada tugas menumpuk dan riset thesismu yang berlembar-lembar itu. Mungkin kita sama, sama merutuki tugas-tugas sebagai sebuah basa basi.

Lalu apakah yang menarik untuk kuberikan padamu pada hari ini? Ah kupikir sepotong sajak Maya Angelou sangat pas jika kubacakan menjelang subuh dengan segelas kopi pahit.

When You Come

When you come to me, unbidden,
Beckoning me
To long-ago rooms,
Where memories lie.

Offering me, as to a child, an attic,
Gatherings of days too few.
Baubles of stolen kisses.
Trinkets of borrowed loves.
Trunks of secret words,

I cry.

Lalu dimanakah kita? Kukira sama seperti kemarin. Masih mencari antara realitas dan hiper realitas. Serupa cita-cita Guttenberg dalam mesin cetak, bahwa sesungguhnya Alkitab berhak dibaca oleh siapa saja dan dimana saja. Bahwa kita masih mencari keping identitas diri di tengah gempuran segala yang kitsch segala yang banal dan segala yang artifisial. Tapi lekuk tawa dan kutukan itu jujur. Dan kita sama-sama mencintai kebebasan.

Senin, 01 Agustus 2011

Menempuh Ramadhan, Menempuh Perjuangan


Saya benci basa-basi. Meski kadang seringkali dipaksa untuk melakukan itu. Jika sudah muak saya biasanya mohon diri dan pergi. Seperti beberapa hari ini saya menerima banyak sekali ucapan selamat berpuasa. Saya sedikit jengah dengan kata-kata yang dikirimkan kepada saya. Seperti sedang pamer moral bahwa dalam bulan Ramadhan tingkah kita harus diperbaiki. Memangnya bulan lain kita amoral?

Lalu saya juga sedikit risih dengan jahitan kata-kata yang kadang serupa basa-basi tengik. Seperti bahwa sikap baik dan kerendahan hati itu hanya akan muncul saat Ramadhan tiba. Lalu kemana saja mereka sebelas bulan sebelumnya?

Saya memang bukan santo, ulama atau umat yang baik. Setidaknya tidak berusaha membuat diri saya tampak baik dengan bersikap seolah-olah salih dengan kata-kata itu. Well Memangnya pamer moral itu penting?

Selamat menempuh Ramadahan. Ini bulan perjuangan.


Minggu, 29 Mei 2011

116 So Called Karya dan Pertentangan Mengenai Gerhana

~ Dimana letak keabadian dalam kata-kata?

Hari ini pada 585 sebelum masehi terjadi sebuah perang hebat di Kızılırmak, sebuah sungai di Turki, yang terjadi antara kaum Medes dan kaum Lydians. Setidaknya begitu menurut catatan Herodotus sang pencatat kronik. Pada hari itu juga salah satu filsuf tertua dunia, Thales, memprediksikan mengenai sebuah gerhana. Dan ia benar, tepat pada siang hari, Gerhana yang saat itu dimaknai sebagai kuasa dewa muncul.

Helios sang dewa matahari dikabarkan sedang libur menaiki chariot nya yang membawa serta cahaya dan panas. Tapi tentu saja bukan tentang itu saya akan bercerita. Kali ini saya hendak bercerita tentang blog yang anda baca saat ini. Tentang bagaimana saya memulainya dengan semangat riya’ dan pamer. Lalu dengan sangat naif ingin menjadikan blog ini semacam sarana pencerahan. Oh yeah, I made this fuckin blog to show ya all I can write!

Tentu semua berakhir konyol. Kalian bisa melihat sendiri alasannya, saya dalam banyak posting hanya menulis segala remeh temeh tentang curhat menye-menye yang tak memiliki pengaruh tehadap tatanan dunia global. Jangankan mempengaruhi kebijakan Amerika yang telah dikakangi AIPAC, untuk sekedar membungkam cocot Ruhut Si Tompel aja tak bisa. Dalam banyak hal, blog ini gagal.

Saya membuat blog ini pada tanggal 28 Mei 2010, tujuh hari setelah saya lahir, dan dua minggu setelah almarhum kakak saya juga dilahirkan. Tak ada alasan khusus mengenai kenapa saya memilih tanggal ini, tapi yang jelas saya membuat blog ini karena ajakan bigot bernama Aunurahman Wibisono. Tidak, bukan karena saya menghamba pada dia. Tapi alasan yang ia kemukakan untuk memaksa saya membuat blog sangat masuk akal. “Kalau kita mati besok, apa yang akan dikenal orang tentang kita? Blog cuk! Biar kamu diingat,” katanya.

Selayaknya Adam yang dirayu ular di surga untuk menikmati buah khuldi. Saya nunut gitu saja, patuh pada rayuan setan. Saya menulis layaknya orang kesetanan, tentu saja niatnya adalah riya’ dan posting yang ada sebagian besar merupakan tulisan lama saat saya di Tegalboto. Hasilnya adalah kesia-siaan yang berbuntut pada rasa pesimis dan inferior. “Ah taik buat apa juga nulis?” ujar pikiran saya.

Tapi pada suatu kesempatan seorang kawan membawakan saya film Ikiru karya Akira Kurosawa. Film yang tak akan saya jelaskan ini berkisah tentang kemauan seseorang mencapai tujuan terakhirnya. Terlepas dari rasa ingin dikenal dan disanjung tokoh dalam film itu memberikan pemahaman baru tentang integritas diri. Bukan tentang siapa yang menulis, tetapi tentang untuk apa kita menulis.

And that hit me, saya pikir saya membuat kekeliruan besar. Menulis adalah kerja untuk pencerahan dan segala niat busuk di antaranya hanya akan membuat tulisan itu sia-sia. Padahal di lemari ada setumpuk buku Pramoedya Ananta Toer, yang selama hidup ia dikenal menulis hanya untuk meberikan pengetahuan. Saya malu untuk mengakui bahwa saya gagal sejak dalam pikiran.

Dalam satu fragment film Ikiru, Watanabe, sang tokoh utama mendapatkan pencerahan mengenai alasan hidup justru saat ia akan mati. Tentunya jika saja ia hidup lebih awal dengan tahu alasan ia hidup, maka karya yang akan ia buat akan lebih maksimal. Perjuangan untuk meraih tujuan sepertinya sangat keras. Tapi itulah harga sebuah kehidupan.

Watanabe dan Thales dari Miletus memang tak saling kenal. Tetapi usaha mereka untuk mencapai pemikiran yang lebih baik adalah sama. Thales yang menolak penjelasan mitologis menemukan jalan hidupnya setelah berhasil memprediksikan datangnya gerhana. Sedang Watanabe menemukannya dalam vonis kanker lambung yang dimilikinya.

Gerhana, dalam pemikiran Thales, adalah sebuah momen dimana segala yang ada dijagat raya ini gelap. Sebuah periode pasti yang akan selalu hadir. Dan ia benar, sejarah manusia mengenal perang, genosida, drugs, lady gaga, alay, Djenar Maesa Ayu, dan segala hal yang menunggu untuk tercerahkan.

Saya tidak ingin bertindak seperti Walter Benjamin yang dengan sangat gagah melakukan dikotomi atas apa yang disebutnya high art atau low art. Segala seni, sebutnya, menuju tahapan post auratic dimana segalanya akan dipahami dan dicerna dengan sederhana. Thales dan Benjamin kemudian larut dalam definisi Andy Warhol sebagai Pop Art, yes in the future everybody will be famous kata Andy, for fifteen minutes.

Tapi seperti juga Thales yang mencari alur hidup tak lurus, saya juga demikian. Setidaknya dalam blog ini saya bisa merdeka, atau saya pikir saya merdeka, who knows akan ada orang yang menganggap blog ini sebagai spam, melaporkannya dan sejarah terumbukarya hanya akan jadi nothing but a minor history.

Tapi seperti juga kata Thales, Nothing is more active than thought, for it travels over the universe, and nothing is stronger than necessity for all must submit to it. Saya percaya, suatu saat saya akan menjadi sejarah dan bukan sekedar gerhana.

Selasa, 10 Mei 2011

O_O Zaki

~ Tapi bukankah kita selalu datang sembari mempersiapkan kepergian?

Kawan saya Arys pernah berkata “Jika kamu duduk dekat Zaki, bersiaplah untuk tersedot masuk kedalam dunianya”. Saya kira dia hanya hiperbola, main-main, sekedar memuji dan basa-basi. Tapi ternyata tidak. Arys benar, dalam kata sederhana, berada di dekat Zaki, kita akan diajak menggenapi ramalan Bertold Brecht soal Gelap Masa.

Entah kenapa pada suatu ba’da maghrib yang tidak terlalu terang. Saya iseng membuka file di hardisk portable. Ada kumpulan file orang-orang yang titip data di situ, saya iseng mengintip, lalu nama Zaki loncat keluar. Sebagai orang iseng yang sudah banyak makan asam garam dengan sikap kurang ajar. Saya membuka file itu dengan istiqomah, tentu tidak lupa basmalah.

Saya main-main dalam folder Zaki, menjelajah segala isinya yang sebagian besar adalah file java script. Saya tak jelas apa itu, susunan notes yang bikin pusing. Lalu dengan sengaja membuka folder yang dinamakan ‘catatan kecil’. Didalamnya saya membaca renungan, seperti suara sumbang, seperti bisikan, seperti kalimat yang putus, seperti kata yang ditahan, seperti seperti seperti apapun. Saya tidak tahu cara mendefinisikannya. Mungkin cuma Zaki, dua malaikatnya dan Tuhan yang tahu.

Folder itu merupakan bisik pribadi Zaki. Saya tak hendak mengungkapnya disini. Saya bukan pecinta gosip yang suka mengumbar kata-kata dan aib. Meski saya kadang suka mengumbar aib sendiri. Namun jika boleh saya mengutip salah satu sajaknya, Si penelusur rupa rupa jejak purba yang sok berguna ini, / hanya ingin meneruskan lagi luka batu / pada titik kediamannya yang paling letih dan tragis. Ada semacam jeda yang ragu ragu disana. Dan secara resmi saya tenggelam dalam hidup Zaki.

Baru kemarin rasanya saya duduk berbincang dengan mas Edi, Arys dan saya lupa sisanya. Mungkin Fandy atau mas Ebi. Dalam kantin ekonomi yang ramai itu, saya hanya menangkap satu kalimat. “Zaki sudah seperti GM” kata mas Edy. Hari ini saya sepakat, tanpa syarat dan tanpa debat. Zaki dalam tulisan, adalah GM muda, tapi dalam sikap? Entahlah, saya hanya bisa membayangkan penyair pinggir sungai Praha di film before sunrise, kumal dan jenius.

Awal mula saya kenal Zaki samar-samar, mungkin dalam ruang diskusi, atau dijalanan saat unjuk rasa. Dahulu turun kejalan adalah semacam etalase diri. Entahlah saya benar-benar lupa tapi yang jelas, saat itu saya tidak begitu tertarik dengan Zaki. Penampilannya serampangan, citra seniman atau penyair saya tidak terlalu hapal. Saya menjaga jarak dengan orang-orang semacam itu. Selain karena saya bukan Homo, saya memang tidak menyenangi sastra, terutama puisi.

Buat saya saat itu, puisi tidak menyelesaikan masalah, ia hanya membahasakan masalah dengan lebih syahdu. Sekeras apapun William Blake mengkritik gereja, pada zamannya toh ia tetap tak berhasil. Sekeras apapun Wiji Tukul bersyair, ia akhirnya hilang ditelan zaman. Puisi, menurut saya dahulu, adalah semacam lekat buta pesakitan. Apologi paling murah untuk menolak realitas.

Dalam suatu esei GM bilang saat revolusi tak ada lagi, maka semua akan mati. Sempat kemudian saya bertanya. Semua itu mengacu pada apa? Apakah kehidupan? Apakah sastra? Apakah gerakan? Atau apakah semangat? Biar GM saja yang berpikir. Tetapi jika saya mengingat puisi-puisi Zaki. Saya percaya bahwa negativitas dan nihilisme adalah semacam lelucon saja baginya. Dalam bising sunyi sajak dan perilaku Zaki. Saya dipaksa mengamini diktum Chairil Anwar 'hidup hanya menunda kekalahan'.

Zaki membuat saya melacur pada degil mesra dunia sastra. Mengamini segala bentuk ekspresi kata-kata sebagai senjata yang bahkan lebih tengik dari serbuan bayonet.

Hari ini Zaki berulang tahun, tetapi saya tak tahu ia dimana. Pernah saya merasa sangat rindu lalu membikinkan sajak untuknya. Tentu sajak abal-abal, apalah arti sajak saya itu dihadapan Zaki. Dalam sajak itu saya menyebutnya sebagai gembala kata-kata. Entahlah mungkin akan ia anggap lalapan saja. Tetapi bukankah kamu selalu berkata, tak pernah ada kata selesai pada proses. Seperti puisi yang ia bacakan pada launcing majalah Tegalboto kemarin 'Ambil gunting lalu tusukan'.

Selamat berkurang masa Zak. Kita adalah orang-orang yang terbuang. Yang dipaksa menyerah pada pilihan-pilihan paling picis. Semoga kau terberkati, carilah jalan belakang lain jika suatu saat kau jatuh cinta, perjuangkanlah. Jangan menyerah, puisimu adalah senyawa prana yang memberi hidup.


*28 Maret saat saya pikir telah selesai dengan puisi

Rani

~ Sepertinya mata jadi hulubalang jalang

Saya benci untuk mengakui bahwa dalam banyak hal saya kangen kamu. Hahaha tolol ya? Padahal dekat, mau ketemu tinggal loncat pager juga ketemu. Tapi ya itu lagi, lelaki punya ego yang kadang terlalu tolol untuk bisa dipahami dengan kesabaran paling bebal. Lagipula kamu juga menghilang, untuk itu saya pikir kamu menjaga jarak.

Tapi bukan untuk itu saya menulis ini. Ya kamu tahulah sebagai pria muda yang jadi idola remaja sekarisidenan Mozambique saya ini sibuk. Tapi pas kemarin lagi kondangan di Westminster Abbey ada reminder dari I Phone saya. Katanya kamu ulang tahun. Nah itu dia, saya gak pernah tahu kalau kamu juga dilahirkan. Saya kira seperti kebanyakan manusia kamu dibuat dari tanah. Ternyata saya salah, kamu diciptakan setidaknya bercampur dengan cahaya.

Oke, jadi dimana saya harus bercerita. Hmm saya sebenarnya lupa kapan pertama kali kita bertemu. Saya hanya ingat Fuad. Selebihnya sekedar blur, ya karena dunia ini jadi lonjong miring karena pesona yang kamu buat. Gombal ya? Biar, wong kodrat kok seorang perempuan di gombali. Tapi bukan kodrat lelaki untuk selingkuh, itu adalah penistaan. Jadi entah kamu sekarang berpacaran dengan siapa, selingkuh adalah vonis mati perasaan. Ingat itu.

Kemarin kamu bikin puisi indah sekali, malah saya baru lihat ada puisi yang mengalir. Puisi kamu yang lelaki jingga itu, ah sial benar bagusnya. Kapan-kapan kamu kirim saja itu ke tikungan. Biar nanti diapresiasi. Kalau perlu nanti ikut rencana kami bikin antalogi puisi Jember - Jogja. Kamu musti ikut, biar ada pembanding penyair wanita. Tak melulu Zaki, Halim atau Arys saja. Kukira kamu punya warna sendiri sebagai penyair lugas dan sendu.

Jika pun saya harus menyamakan puisimu mirip sekali dengan puisi Emily Dickinson. Emily dilahirkan di Amerika tepatnya di Amherst, Massachusetts pada tahun 1830. Ia dikenal sebagai salah satu penyair paling cantik yang pernah ada. Tentunya tak kalah beda dengan kecantikan kamu 11-12 saya kira. Seperti juga kamu, Emily tak selalu berhasil kisah cintanya. Beberapa kali kandas dan berakhir dengan perang dingin.

Emily dikenal sebagai penyair yang mengutamakan diksi dan jalinan puisi yang deskriptif. Artinya menjelaskan latar, suasana, dan perasaan yang ia rasakan. Dipengaruhi kondisi 'galau'nya. Seperti kesepian, kesunyian, kerinduan, jatuh cinta dan patah hati. Sejenak sama kan? Hanya saja kamu lebih beruntung, memiliki keluarga dan teman yang tulus. Emily tak sempat memilikinya. Untuk itu kamu pantas bersyukur.

Jika kamu mau berlatih membaca dan menulis. Saya yakin kamu akan bisa mengalahkan novel dan narasi liris dari Nukila Amal. Tapi apalah saya bercerita ini dihari ulang tahunmu yang telat sehari. Maaf, saya tak sempat kasih kado. Belum gajian, maklum wartawan medioker, pemula pula. Sekedar sapa salam doa dan mungkin secarik sajak

Ini ada puisi Emily Dickinson yang paling saya sukai judulnya There is no Frigate like a Boo. Tentu kamu tahu alasannya, karena saya suka buku. Dan puisi ini berkisah tentang buku.

There is no Frigate like a Book

There is no Frigate like a Book

To take us Lands away,

Nor any Coursers like a Page

Of prancing Poetry –

This Traverse may the poorest take

Without oppress of Toll –

How frugal is the Chariot

That bears a Human soul.

Lalu apakah kamu sekarang sudah selesai membaca buku Puthut EA yang saya pinjamkan? Ah biarlah, kadang seperti kenangan, buku itu hadir sesukanya. Tak kenal momen. Mau kita ulang tahun atau tidak. Tetapi bukankah itu yang indah? Menjalani hidup seperti buku. Melalui baris demi baris dan lembar demi lembar. Seperti kisah yang kita tak pernah tahu apa akhirnya.

Dan inilah saya, buta sama sekali dengan kondisi yang ada padamu. Saya tak tahu usia kamu berapa, pacar kamu siapa, atau kapan kamu mau lulus. Yang jelas segala kebaikan dan proses semoga akan menjadikan kamu pribadi yang lebih bijak, lebih baik dan lebih anggun. Dan akhirnya malam memang terlalu larut di luar.

*30 April tengah malam Mei