Langit
terlampau gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yang
berarak, sore itu, membuat semua warna luluh dalam satu warna. Monokrom. Segala
hiruk pikuk keramaian yang sebelumnya masih ada dihentikan begitu saja. Seperti
seseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot mahakuasa. Mendung memang
selalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.
Sementara
keramaian berangsur angsur hilang hujan tak juga datang. Hanya sekedar beberapa
petir menyambar dan lampu-lampu yang mulai menyala. Dan sisanya masih sunyi.
Kekosongan
yang mencabik merubah taman ria itu seperti kuburan. Tidak ada siapapun disana.
Tidak juga pengelola yang rakus memberikan tiket mahal untuk pertunjukan kelas
teri. Tetapi penduduk kota
kenangan semuanya sudah terlalu bosan dengan ingatan, sehingga saat
segerombolan sirkus datang, menawarkan hal-hal baru membuat mereka datang tanpa
peduli dengan secarik harga dalam tiket.
Kota kenangan adalah
tempat dimana semua ingatan masa lampau tinggal. Tentang ingatan masa kecil,
masa lalu, masa yang sudah usai dan baru saja selesai. Tempat dimana segala
yang telah terjadi berkumpul. Kota
kenangan selalu ramai dengan ingatan-ingatan yang usang. Yang telah
ditinggalkan para pemiliknya. Tak ada yang baru di kota kenangan, karena semuanya sudah selesai
dan terjadi.
Entah
bagaimana awalnya segerombolan sirkus itu tiba. Kapan dan dimana mereka bermula
datang tak seorang pun penduduk di kota
kenangan tahu.
“Seingatku mereka muncul saat senja paling merah
mengarak awan warna keemasan,” kata penduduk di Kota kenangan.
“Ahh tidak. Kau salah. Mereka datang saat hujan sangat
deras dan melarutkan semua yang kering,” kata seorang penduduk lain.
“Sompral! Kalian berdua sok tau. Sirkus itu datang
saat malam paling cemerlang memperlihatkan rasi bintang utara,” sanggah penduduk
yang lain.
Semua
perdebatan terjadi di sudut-sudut kota
kenangan. Omongan warung kopi. Perbincangan di kafe. Gosip saat pertemuan PKK.
Bahkan saat rapat anggaran dana karang taruna. Semua orang di kota kenangan memperbincangkan sirkus yang
tiba-tiba muncul itu.
Tapi
yang jelas, sirkus itu hanya buka pada saat hari beranjak sore. Ia tak buka
lebih dari waktu tergelincirnya matahari sehingga memperlihatkan senja yang
gelap. Semua seolah terjadwal. Terpatenkan dan tak pernah berubah. Penduduk kota kenangan pun tak
pernah protes. Karena seingat mereka tak pernah ada kejadian selepas sore.
Ingatan-ingatan yang menjadi penduduk kota
kenangan selalu hadir saat malam.
Sirkus
itu memasang tarif yang terlalu tinggi bagi para penduduk kota kenangan. Setiap penduduk yang ingin
menonton pertunjukan itu harus memberikan sebuah ingatannya yang paling
berharga. Entah kenangan mengenai ciuman pertama. Kenangan saat bersama orang
tua yang telah meninggal. Apapun yang menjadi ingatan paling berharga bagi
warga kenangan menjadi harga mati tiket itu.
Tapi
sudah menjadi rahasia umum bagi penduduk kota
kenangan. Siapapun yang kehilangan ingatan paling berharga. Maka orang itu akan
mati dan musnah dalam rimbunnya dunia alpa. Lupa adalah sebuah kematian bagi
setiap penduduk kota
kenangan.
Tetapi
rasa penasaran penduduk kota
kenangan memang sudah tak tertahankan lagi. Sudah bertahun-tahun sejak dunia
terbentuk. Penduduk kota
kenangan tak pernah melihat hal yang baru. Semuanya sudah usang. Semuanya sudah
dilihat. Bagi mereka ingatan adalah sebuah perputaran atas kejadian yang telah
selesai. Tak pernah ada yang berbeda dalam hidup mereka yang sangat membosankan
itu.
“Datanglah datanglah. Kami sirkus bayang bayang.
Menampilkan sebuah pertunjukan tentang masa depan. Sesuatu yang belum terjadi.
Datanglah datanglah. Cukup dengan ingatan paling berharga maka anda akan
dipuaskan akan masa depan. Datanglah datanglah,” kata para pekerja sirkus itu.
Sebenarnya
apa itu masa depan? Bukankah ia masih belum terjadi. Sesuatu yang rahasia. Kebanyakan
masa depan berkisah tentang hal-hal yang tak perlu diketahui. Seperti juga
malam hari yang ujungnya belum pasti. Meski setiap malam pasti berujung pagi.
Lalu untuk apa meributkan sesuatu yang sudah pasti. Masa depan selalu jadi hal
yang ranum untuk dibicarakan. Tapi selalu jadi hal yang ogah untuk di taklukan.
Kukira
semua penduduk kota
kenanangan sudah teramat bosan dengan segala ingatan. Mereka sudah terlalu
jengah dengan segala hiruk pikuk yang itu itu saja. Tentang ciuman pertama,
pesta pernikahan, kelahiran anak, masa masa sekolah, dan hal sontoloyo lainnya.
Manusia kota
kengangan adalah manusia yang muak dengan ingatannya. Mereka gagap dengan suatu
hal yang berlum terjadi. Manusia yang hidup di masa lalu.
Lalu
kenapa kemudian mereka menginginkan masa depan? Ingatan adalah barang usang
yang bisa diganti dengan yang lain. Setiap penduduk kota kenangan punya deposito kenangan. Kotak
istimewa yang menyimpan ingatan-ingatan istimewa. Tapi tentu selalu ada yang
paling istimewa dari yang istimewa. Yaitu ingatan purna. Nyawa dari setiap
penduduk kota
kenangan. Hal yang paling diinginkan sirkus bayangan.
Tapi
tak pernah ada yang tahu bagaimana seseorang bisa hadir dan tinggal di kota kenangan. Tentang
bagaimana mereka bisa hidup dan kemudian beranak pinak di kota kenangan. Tentang siapa orang pertama
yang tiba di kota
kenangan. Dan bagaimana ingatan purna bisa menjadi nyawa bagi setiap penduduk kota kenangan. Tak pernah
tahu dan memang mereka tak pernah ingat.
“Kota
kenangan tercipta sesaat Adam dan Hawa memakan buah durian,” kata seorang.
“Durian gundulmu! Kota kenangan tercipta saat Nuh plesiran
dengan kapal pesiar,” ujar yang lain.
“Ealah dalah wong kok ya pada sok tau! Kota kenangan diciptakan
saat tiga raja bertemu Yesus di kandang domba!” sergah seorang wanita tua.
“Bah kalian semua itu sok tau! Kota kenangan ini cadangan tanah yang
dijanjikan Raja Daud untuk kita lah!,” kata seorang sengit.
Begitulah
perdebatan mengenai kota
kenangan yang tak pernah habis-habis. Mereka bertengkar mengenai asal mula.
Seperti berusaha bersepekat mengenai anak ayam dan telurnya. Mengenai hal ini
penduduk kota
cahaya selalu ingin unjuk suara. Maklum mereka hanya punya sepotong-sepotong
ingatan. Separuh-separuh pengetahuan. Tak pernah ada yang utuh dalam sebuah
ingatan. Ia akan selalu hadir seperti kentut yang apak.
Sementara
hari pertunjukan sirkus semakin ramai, semakin penuh, semakin dekat dan semakin
membuat penduduk kota
kenangan terdesak. Sedikit demi sedikit penduduk kota kenangan berkurang. Kematian karena
hilangnya ingatan purna menjadi berjelaga. Menjadi kabar dimana-mana. Seorang
ibu berpisah dengan anaknya. Seorang kekasih dengan cintanya. Dan seorang
lelaki dengan istrinya. Sirkus itu seperti kabar buruk yang enggan pergi
menghilang.
Namun
tak satupun penduduk kota
kenangan yang berusaha untuk mencegah datangnya sirkus itu. Atawa mencegah
kepergian orang-orang untuk menyongsong sirkus itu. Mereka terikat sebuah norma
kehendak bebas. Siapapun yang datang ke kota
kenangan adalah orang-orang merdeka. Dan mereka akan pergi dengan cara merdeka.
Tak satupun manusia berhak atas manusia lain. Meskipun ia seorang pecinta
sekalipun.
Dan
malam semakin menelan gelap. Bulan habis separuh dan rasi bintang utara muncul
perlahan-lahan. Di suatu tempat yang tersembunyi namun tak jauh-jauh amat dari kota kenangan. Sepasang
pemuda pemudi yang dimabuk ingatan berbagi mengenai kehidupan. Si lelaki ingin
pergi melihat sirkus sedang si wanita enggan pergi. Ah, dalam cinta masalah
sendok bisa sangat rumit. Apalagi masalah hidup.
“R, kukira aku harus pergi. Kita tak bisa hidup terus
di masa lalu,”
“Mamadd, jangan. Hidup kita sudah cukup bahagia. Untuk
apa diperdebatkan lagi?”
“Kau wanita tak mengerti tantangan,”
“Kau lelaki tak mengerti perasaan,”
“Kalau begitu kita pergi sama-sama,”
“Kenapa bukan kau yang tinggal sahaja?”
“Aih kenapa begini rumit?”
“Kau yang membuat sulit,”
Dan
perdebatan itu terjadi sepanjang malam. Hingga datang pagi dan matahari
kemerahan yang ramah menyapa kota
kenangan. Rambut hitam si gadis berliuk keemasan diterpa matahari. Si lelaki
gamang melihat itu. Ia tahu, rambut dan lesung pipit senyum itulah yang
membuatnya jatuh hati. Sebuah senyuman sederhana yang bahkan tak akan mampu
ditiru oleh Cina. Bukankah jatuh cinta adalah perkara sederhana?
Akhirnya
si lelaki melumpuhkan diri pada ego. “Nasib setiap lelaki,” katanya. “Harus di
lempar seperti dadu. Biar ia pejal dengan karang atau pecah dengan rasa
sayang,” ia berlalu pergi. Setelah mengucapkan aku sayang padamu untuk terakhir
kalinya pada si wanita. “Aih kukira jatuh cinta tak begini rumit,” kata wanita
itu diam. Airmatanya tamat sudah semalaman membujuk si lelaki untuk pergi.
Malam
berlalu pilu. Keheningan yang merambat di kota
Kenangan kian hari kian mencekat. Semakin hari warga kota Kenangan semakin menyusut. Mereka
berbaris mendatangi sirkus bayangan untuk menatap masa depan. Menggadaikan
hidup untuk sesuatu yang tak pernah mereka ketahui. “Hari semakin gelap dan
segala kawanku telah pergi. Untuk apa aku di sini?” kata seorang pria renta.
Penduduk terakhir kota
kenangan.
Hampir
sewindu sirkus bayang bayang berada di kota
kenangan. Sudah tak terhitung jiwa-jiwa yang hilang karena melihat masa depan.
Mereka yang melampaui takdir diri sendiri untuk berbuat curang. Melihat masa
depan tanpa akhirnya berdiri dan meraih masa depan itu sendiri. Lelaki dan
perempuan. Terjebak keinginan dan rasa penasaran. Akhirnya harus musnah di
telan ingatan.
“Datanglah
datanglah. Kami sirkus bayang bayang. Menampilkan sebuah pertunjukan tentang
masa depan. Sesuatu yang belum terjadi. Datanglah datanglah. Cukup dengan
ingatan paling berharga maka anda akan dipuaskan akan masa depan. Datanglah
datanglah,” kata seorang pekerja sirkus itu. Kali ini tak ada yang datang.
Penduduk kota
kenangan sudah berada di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar