Langit biru dan debur ombak yang berkejaran.
Sementara ratusan orang memadati Pantai Putih Malikan (Papuma) Minggu (12/12)
lalu. Keriuhan itu sempat menjadi mencekam saat wangi dupa dan kemenyan
menyeruak. ditambah sepotong kepala kambing diletakan diatas sebuah miniatur
kapal. Papuma sedang tenggelam mengikuti alur prosesi upacara adat Larung
Sesaji.
Sisa kebudayaan pagan Hindu Jawa ini memang masih
melekat di banyak tradisi. Kebudayaan yang lahir dari silang budaya agama asli
Jawa yang percaya dengan roh nenek moyang, berfusi dengan kebudayaan hindu yang
mengagungkan banyak dewa. Setelah islam datang dan mendominasi Jawa, kebudayaan
ini tak serta merta punah. Ia lantas beralih rupa. Beradaptasi menjadi sebuah
kebudayaan campuran yang masih menyisakan identitas lama.
Tak jauh dari lokasi upacara adat sebuah gedung
berwarna merah berdiri megah. Sebuah menara bundar dengan kisi-kisi emas
menjulang tinggi. Di tengah gedung ada sebuah ceruk dengan batu besar. Batu itu
merupakan batu asli, keberadaanya sedikit janggal karena batu sungai itu tak
jamak ditemui di tepi pantai. Di atasnya seekor patung singa dan burung bangau
berdiri angkuh. Gedung itu adalah Vihara Dewi Sri Wulan.
Sepi pecah saat rombongan Larung Sesaji yang
sedari tadi diam mulai berjalan. Mereka kemudian berajalan berarak mengelilingi
lokasi resor wisata pantai Papuma. Dengan memakai kostum adat jawa dan diringin
riuh tetabuhan kelompok seni Reog Singo Budoyo. Rombongan itu lantas memasuki
pekarangan Vihara dan berhenti di salah satu ceruk, tempat sesaji diletakan
lantas seorang juru kunci memasang dupa. Hening.
Suparto adalah pria dengan
rambut gondrong dan kumis tebal. Sorot matanya tajam dan sesekali berkacak
pinggang. Badannya gempal meski sedikit pendek. Di buku-buku jarinya beberapa
batu akik berwarna cerah dipasang rapi. Jika tak kenal betul, banyak orang yang
berpikir jika ia seorang gali (preman) atau seorang dukun. “Hayo jangan
naik naik. Nanti jatuh,” kata Parto pada seorang anak sambil tersenyum lepas.
Si anak lantas turun pelan pelan sambil tertawa.
Selesai didoakan di ceruk itu, sesaji lantas
dibawa ke pinggir pantai. Rombongan yang mengarak semakin banyak dan membuat
garis pantai itu dipenuhi jejak kaki. Tepat di tengah pantai Papuma beberapa
sesepuh dan pemimpin Vihara mendorong sesaji itu ketengah laut. “Itu buah kerja
keras dari masyarakat sekitar Papuma. Ya Ambulu ya Wuluhan. Semuanya,” kata
Suparto.
Hari itu ia sedang menjadi
mitra panitia upacara larung sesaji. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai
wujud rasa syukur masyarakat sekitar Papuma untuk penolak bala. Berbagai elemen
masyarakat turut serta dalam perayaan kali ini. seperti seniman, jagawana,
polisi, tokoh adat, tokoh agama dan penjaga vihara. “Tiga tahun yang lalu acara
ini diramaikan dengan Barongsai. Tahun ini kami coba dengan reog,” lanjutnya.
Sesaji yang dilarung
kelaut sudah menjauh. Namun beberapa warga masih diam ditempat dan melihat
perahu itu berlayar dan perlahan hilang. Ini bukan satu satunya prosesi larung
sesaji yang diadakan oleh masyarakat Papuma. Malam sebelumnya pengelola wana
wisata bersama beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan hiburan wayang kulit.
Seorang pria tua dengan
wajah tirus kurus dan peci hitam datang mendekati Suparto. Suparto lantas mencium
tangan pria tua itu. “Saya Nyoto. Dulu kepala Wana Wisata Papuma tapi sekarang
sudah pensiun,” katanya sambil tersenyum. Ia lantas berjalan bersama Suparto
menuju Vihara Dewi Sri Wulan. Sepanjang perjalanan ia banyak disapa oleh
panitia yang kebetulan melintas.
Selepas sampai di halaman Vihara keduanya duduk
istirahat. Larung sesaji yang dilakukan masyarakat Papuma sangat berbeda. “Ada
elemen islam, kejawen dan kong hu cu. Ini menunjukan kerukunan antar umat
beragama,” katanya. Sesuatu yang tak akan ditemui dimanapun di Indonesia. “Tak
banyak upacara yang melibatkan banyak agama. Ini contoh yang baik untuk melawan
fanatisme.”
Larung sesaji ini sudah
lima kali digelar selama lima tahun terakhir. Dalam perkembangannya semakin
banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Nyoto yakin hal
ini bisa menjadi suatu aset yang sangat berharga bagi wisata Jember. “Acara ini
bisa menarik perhatian karena keunikannya. Dan bisa jadi agenda wisata yang
sangat penting."
Pensiunan yang telah
bertugas lebih dari 12 tahun di Papuma ini tahu betul, Larung Sesaji bisa
menyatukan banyak elemen masyarakat. Mereka bekerja sama menyiapkan sesaji,
acara hiburan dan pengumpulan dana. Mengingat banyak kota lain yang berseteru
perihal keyakinan antar umat beragama. “Ini bisa jadi promosi dan identitas
yang baik bagi Jember,” pungkasnya.
Ia lantas bercerita perihal pembangunan Vihara Sri
Wulan. Dulunya vihara ini hanya sebuah klenteng kecil yang terbuat dari kayu. Dibangun oleh seorang
Tionghoa totok asal Lumajang yang mengaku mendapat wangsit. Dikisahkan orang
Tionghoa ini membabat hutan bukit Papuma sendirian. Lalu membuat jalan dengan
melintasi tebing setinggi tujuh meter dengan ombak besar laut selatan mengancam
dibawahnya.
“Kira-kira itu tahun 60an. Saat ramai PKI, nah orang
Tionghoa ini jalan kaki dari Lumajang ke Papuma, karena wangsitnya bilang
begitu.” Tutur Nyoto. Nyoto menyebut orang Tionghoa itu dengan nama Dharmo,
atau Dharma, yang berarti kebajikan. Dharmo sendiri dikisahkan kemudian
membangun klenteng sederhana dengan kayu sehingga membentuk gubug. “Saat itu ia
menyembah Dewi Kwan Im, karena menurut wangsit suaranya perempuan,” tutur
Nyoto.
Kondisi klenteng sempat sangat tak terawat karena
terjadi peristiwa PKI pada 1966, yang berbuntut pada pembekuan kebudayaan
Tionghoa diseluruh Indonesia. Paska itu banyak orang Tionghoa yang beribadah
secara sembunyi-sembunyi disini. Beberapa orang yang tak senang dengan
keberadaan klenteng ini sempat melakukan pengrusakan pada tahun 1970an. Hingga
akhirnya dibiarkan tak terawat.
Sampai akhirnya pada 2009 seorang dermawan
melakukan pemugaran. Ia menolak disebutkan namanya. Karena merasa memiliki
kisah personal dengan klenteng di pinggir pantai Papuma ini. “Usaha saya bisa
besar karena sembahyang disini,” katanya. Atas kepercayaan itulah pada 2009
tangal 9 bulan 9 dan pukul 9 klenteng ini diresmikan ulang menjadi Vihara Sri Wulan bagi umat Tri Dharma.
Pembangunan Vihara itu sendiri tak pelak menjadi
suatu sensasi pada masanya. Karena disebut sebagai Klenteng Dewi Kwan Im
terbesar dan satu-satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain
yang memiliki keunikan ini. “Bahkan satu-satunya di Asia Tenggara,” lanjut
Nyoto.
Suparto ingat sekali pembangunan vihara ini banyak
membantu ia saat itu yang hanya seorang pengangguran. Bersama lebih dari 30
orang lain ia bahu membahu membangun tempat ibadah ini. Banyak warga sekitar
Ambulu dan Wuluhan Jember yang merasa terbantu akan keberadaan proyek ini.
“Proyek ini kan hampir setahun. Jadi hampir tiap hari saya dibayar.
Alhamdulillah sekali,” katanya.
Keberadaan Vihara ini menjadi sebuah kebanggaan
tersendiri bagi masyarakat sekitar Papuma. Karena banyak orang yang datang dan
beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis
manca negara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini. “Mereka
yang bisa menghargai agama orang lain. Akan dihargai,” kata Nyoto. Dan debur
ombak Papuma masih riuh.
*Semua foto oleh Heru Putranto
*Semua foto oleh Heru Putranto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar