Aku
tak tahu apa
yang menarik dibahas pada malam ini. Sebuah renungan pendek? Mungkin, tapi saat
ini aku hanya ingin menulis. Menulis apa saja, karena hanya itu yang kubisa, tak
mahir pula. Namun tetap saja, aku menyukai kegiatan menulis. Bukan menulis
secara harfiah, tapi menuliskan kata-kata ini menggunakan komputer. Mungkin hanya sekedar
senang mendengar tuts keyboard komputer diketik
Suaranya tuts yang baradu itu seperti simfoni yang melankolis sekaligus
tegas. Tentang bunyi-bunyian yang tak mau tunduk dengan sekitarnya. Seperti
sebuah kegelisahan atas apa yang sudah mapan. Sesuatu yang telah menjadi
kesepakatan bersama. Bahwa setiap malam keheningan adalah postulat yang akan
ikut serta.
Tetapi bukankah segala
yang disepakati itu cenderung membosankan? Sesuatu yang menunggu untuk dirubah,
dihancurkan dan ditata ulang. Seperti negara yang terlampau korup, pemimpin
yang dungu lagi tengik dan masyarakat yang terlalu bebal. Malam seperti kali
ini seringkali melahirkan keinginan-keinginan revolusioner, yang akan menguap
seperti kentut di keesokan paginya.
Suara tuts yang beadu
dengan jari-jari itu seperti melenakan. Sebuah beau geste yang
sebenarnya hanya sebuah kehampaan dari ketiadaan pekerjaan. Tapi bukankah itu
tak penting? Saat aku menulis ini, ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwa
tulisan ini akan menjadi penting. Atau setidaknya memiliki manfaat. Namun
sampai saat ini aku masih belum tau apa yang akan kutulis.
Sementara jari-jariku
terus menulis kata-kata yang nir makna. Ingatan masa lalu berkelebatan serupa blietzkrieg.
Menghantarkan fragmen-fragmen kenangan yang mau tak mau datang. Seperti canda
tawa di sebuah warung kopi, perjalanan dalam sebuah kereta api, kutipan dari
sebuah buku yang tak seberapa terkenal dan perdebatan panjang yang disertai
kemarahan. Semua datang silih berganti tanpa bisa dikendalikan.
Betapa terkutuknya
sebuah kenangan bisa jadi tergantung perasaan yang dibawanya. Seperti sepotong
sajak cinta tentang senja yang turun perlahan. Atau kemarahan atas sebuah
pengkhianatan yang disertai pemakluman. Dan kenangan itu datang tanpa sebuah
narasi yang runut. Menghasilkan badai perasaan dalam diriku. Seperti sengau
marah yang tertahan di ujung hidung saat bersin. Ketersiksaan atas diri
sendiri.
Hujan diluar tak
membuatku berhenti menulis. Padahal rinai hujan sedang memukul-mukul jendela di
kegelapan. Membawa imaji tentang jari-jari mungil peri yang sedang penunggu
penyelesaian harapan. Tapi aku memilih acuh dengan semua itu. Karena
mempercayai peri-peri adalah keniscayaan pada subjek transenden selain tuhan.
Itu merupakan langkah awal penyekutuan terhadap tuhan. Bukankah kau dan aku tak
mau berakhir dalam jilatan api neraka yang kekal?
Bunyi tik tok tik tek
trot itu semakin merdu, mengandaikan diri sebagai Mozart yang tuli dalam proses
penciptaan mahakaryanya. Bahwa dalam segala anomali ada sebuah keindahan jika
kita cukup sabar untuk menikmatinya pelan-pelan. Aku semakin resah. Karena
belum ada kesadaran untuk apa aku menulis ini. Untuk apa aku menyusun kata-kata
ini. Sementara keresahan semakin kalut. Ingatan terus berkuasa dan menarik aku
ke masa lalu. Masa dimana semua kata-kata ini belum tercipta.
Petir menyambar di
kegelapan malam saat aku mengingat tahun 2007 disebuah pondok kecil di kampus.
Saat pertama aku belajar mengenai kegairahan menulis dan kenikmatan membaca.
Dimana segala ribut pencarian eksistensi diri dilebur menjadi sebuah semangat
kolektif kebersamaan. Manusia-manusia liyan yang bergerombol mencari makna
hidup dari budaya literasi. Kami yang merayakan perbedaan sebagai sebuah
keharusan.
Umpatan, makian,
kritik, dan semangat silih berganti bergaung dalam proses pembentukan watak.
Bahwa solidaritas dibangun dari tempat tidurmu dan kesadaran dunia di luar sana
adalah dunia yang kejam. Dunia yang gagal memberikan keharmonisan dan
kemanusiaan. Luruh sebagai kenyataan yang disebut kedewasaan dan realitas
hidup. manusia memangsa manusia sebagai upaya mempertahankan eksistensi. Sebuah
dunia yang menakutkan.
Lalu ingatan dengan
pongahnya meloncat kesebuah kewaktuan yang lain. Di saat merapi berontak dan
mengeluarkan segala dendamnya kepada manusia. Debu putih dan aliran lava dingin
menelan aliran sungai yang membelah kota luar biasa itu. Tapi semua itu tentu
saja tak penting. Karena apalah arti sebuah Alengkadipura yang gegap gempita
tanpa adanya Dewi Sinta?
Ingatan membawamu
kepada sebuah kenangan pada sebuah pakaian warna coklat dengan bordir kata-kata
yang sudah luruh. Tentang senyum paling manis di pulau jawa yang merebus segala
kata-kata jadi ingatan laten. Mengenai perjumpaan pembuka. Mengenai
perbincangan yang pendek. Mengenai jeruk hangat dengan sedikit gula. Mengenai
mata yang kau kira jujur. Lalu kau merasakan seribuan jarum-jarum pendek
menikam pelan. Sangat pelan. Hingga kau lupa caranya menjerit.
Astaga betapa perihnya
luka itu hingga tak sadar kopi di samping keyboardmu tumpah dan membawa luka
nanar panas. Namun kau masih belum sadar. Karena perih yang kau rasakan bukan
ditangan yang sedang melepuh. Tapi dalam hatimu yang dipenuhi kebohongan dan
kebencian. Sehingga butuh waktu lama sampai kata-kata ini membentuk paragraf
untuk membuatmu sadar bahwa masa depan masih belum terbentuk pasti.
Aku lantas bertanya
kepada ingatan mengenai dirinya. Bagaimana ia bisa bertahan dengan membawa
banyak kenangan. Bagaimana ia masih bisa menjadi dirinya sementara berbagai
peristiwa bekelindan serupa jalinan benalu. “Manusia cenderung hidup di masa lalu.
Sedang aku adalah apa yang terjadi saat ini. Kenangan hanya sebuah benda yang
kubawa. Sementara manusia menganggap kenangan sebagai realitas yang masih ada.”
Lalu ingatan duduk di
sampingku. Membawakanku kopi lain yang masih hangat dengan sepiring pisang
goreng yang mengepul. Menemaniku menuliskan kata-kata lain yang lebih penting
dari sebuah naskah tanpa tujuan yang sedari tadi kususun. “Ada baiknya kau
menyusun masa depan,” kata ingatan. “Bagaimana jika kita mengingat masa lalu?”
kataku.
Ingatan menghembuskan
nafas panjang. “Manusia,” katanya. “Tak pernah bisa belajar dari sejarah.” Tapi
aku masih tetap menunggu. Menunggu ingatan untuk kembali bercerita lebih
banyak. Ia masih diam dan membalut tanganku yang melepuh karena kopi yang
tumpah. Sementara hatiku masih berarah dengan ribuan jarum kecil yang semakin
menusuk.
Ingatan tetap diam.
Akhirnya aku memutuskan untuk terus menulis. Merangkai sendiri barisan
kata-kata yang masih kuharapkan kelak memiliki manfaat. Tapi tetap saja bahwa
kata-kata itu terjalin seperti perbincangan basa basi. Sebuah perkenalan yang
canggung dan puisi yang gagal. Ingatan masih tetap diam. Ia lantas mengambil
sepotong pisang goreng dan mengunyah pelan-pelan dalam mulutnya yang tanpa
gigi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar