Sebelumnya
saya juga ingin menyampaikan sebuah dislaimer bahwa tulisan ini adalah tulisan
yang overrated. Jika anda menginginkan sebuah tulisan yang adil dan
berimbang saya sarankan untuk berhenti membaca tulisan ini. Dalam banyak hal
ini adalah sebuah service, boleh dikata sebuah penulisan yang menjilat. Tapi
saya tak peduli.
Saya mengenal Jakartabeat seusai
perdebatan panjang mengenai musik blues dan hardcore bersama Nuran Wibisono. Ia
adalah kontributor jakartabeat yang paling mesum sekaligus penggila hairmetal
zuhud. Kala itu saya dengan pongahnya mengatakan bahwa musik hardcore adalah
sebuah music cult. Melebihi dekadensi hairmetal apalagi
kemaharajaan blues.
Statement
ini lantas memancing perdebatan tolol mengenai skema scene musik blues di Deep
Shout Missisipi sampai kegairahan hardcore di DC. Nuran lantas menjabarkan
dengan riang bagaimana musik yang berkembang di domain rednecks America itu,
beserta semua nama besar seperti Muddy Waters, Garry Moore, John Mayal, sampai
dengan John Mayer. Sementara pengetahuan saya soal hardcore sudah tamat pada
nama seperti black flag, fugazi dan suicidal tendensies.
Dengan
kata lain perdebatan itu berakhir dengan pembantaian pengetahuan musik saya
yang seupil oleh Nuran. Saya akhirnya penasaran, bagaimana mungkin seorang
cabul yang malas membaca seperti dia punya banyak pengetahuan tentang musik?
Akhirnya saya sampai pada sebuah naskah berjudul obat sakit hati bernama
continuum. Fuck, ternyata si keple Nuran ini adalah kontributor webzine
musik jakartabeat.
Sebermula
firman tuhan, saya menjadi seorang hipster. Selalu membaca dan mencari
tahu perkembangan baru di jakartabeat. Saya tak ingin dua kali dipecundangi
mengenai pengetahuan soal musik. Situs yang juga dibinani Philips Vermonte,
peneliti di CSIS, memberikan ruang dan pengetahuan baru tentang apa itu melawan
dominasi selera kebanyakan. Meski dengan demikian saya beresiko dianggap
seorang snobs.
Saya
menyukai musik. Terutama musik bagus yang tak banyak diketahui oleh orang
banyak. Ada sebuah kepuasan tersendiri saat kita mendengar musik yang berbeda.
Band yang sama sekali asing tapi punya talenta digdaya. Perasaan-perasaan
seperti ini membuat saya seperti messiah. Bahwa ada bebunyian diluar sana yang
jauh lebih baik dari ngak ngik ngok yang terpaksa kita dengar di
televisi.
Kelahiran
jakartabeat tak lepas dari kegelisahan mas Philips dan mas Taufiq Rahman
(editor koran jakartapost dan penggemar kata overrated) yang memutuskan memulai
sebuah blog “Berburu Vinyl.” Sebagai kanal menumpahkan rasa berdebar-debar
setiap kali mereka menemukan piringan hitam yang masuk daftar 500 Greatest
Albums of All Time versi Rolling Stone Amerika.
Saya
suatu saat pernah bertanya sebuah pertanyaan maha konyol apa itu Vynyl? Yang dijawab
seorang kawan dengan sinisme akut berupa “Tahu google kan?” Di sini saya
kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan mas Philips dan mas Taufiq adalah
sebuah kegilaan. Berasal dari negara yang masyarakatnya kurang mengapresiasi
sejarah. Mereka malah kembali ke bentuk rekam musik yang menurut saya sudah
purba.
Berburu
Vynil juga menjadi semacam tapal batas egosentrisme manusia yang tak ingin mati
sambil mendengarkan musik jelak. Beberapa bulan lalu saya pernah bergunjing
dengan mas Taufiq mengenai kuliah, musik dan buku. Ia berkata “Hidup terlalu
pendek untuk diisi dengan musik jelek,” saya mengamini. Belakangan saya tau ia
mengutip ini dari Herry Sutresna, pentolan Homicide itu.
Seiring
berjalannya waktu (padahal hanya enam bulan) Berburu Vynyl harus mengalami
pensiun dini. Alasannya sederhana duo kombatan yang mirip Tsuneo dan Dikisugi
ini menginginkan wahana yang lebih luas. Tak melulu membahas musik namun juga
hal-hal sentimentil tak penting lainnya. Seperti silsilah keluarga bebek atau
pengaruh Kafka dalam Velvet Revolution.
Artikel
non musik pertama yang saya baca di jakartabeat adalah naskah milik Gde Dwitya
yang berjudul Fakultas Sastra, setelah revolusi tak ada lagi. Meski menyitir fragmen
buku esei Goenawan Muhamad, Gde tak membahas dunia kebatinan para filsuf
seperti yang biasa dilakukan GM. Tapi opini kebumian mengenai kondisi real
mahasiswa Indonesia saat ini.
Artikel
itu sangat menempeleng muka saya yang dulu gemar sekali turun ke jalan untuk
beraksi bak Jenggo. Menentang tirani pemerintah, melawan kebijakan pro modal
dan tetek bengek romantisme mahasiswa labil. Bahwa ada banyak jalan dalam
melakukan perjuangan. Tak melulu harus demonstrasi namun juga bisa dengan
menulis dan menyebarkan pemikiran.
Dalam
banyak hal saya percaya, dalam masa mendatang, saya akan dengan bangga
mengatakan bahwa “i’m one of those bastard who read jakartabeat and alive,”
dengan pola subversif yang cerdas. Say` sangat heran sampai hari ini Tiffie tak
melirik jakartabeat sebagai sebuah web yang laten kritisme dan snobisme akut.
Jakartabeat juga kerap kali
mengejutkan saya dengan mencantumkan nama-nama band suritauladan dalam hidup
saya. Seperti Rage Againts The Machine, The Mars Volta dan Pure
Saturday. Hidup saya yang kering karena menjomblo sekian dekade seolah tak
penting lagi. Saya merasa menemukan pencerahan baru, serupa perasaan
Aristoteles saat berteriak “Eureka!”
Selepas setahun jakartabeat beredar
di dunia maya, saya semakin masyuk dalam membaca tiap artikelnya. Jakartabeat,
seperti juga kunci.or, jurnal karbon, dan library.nu adalah satu-satunya media
internet yang masih waras. Lupakan wikipedia karena pengetahuan ala ensiklopedi
itu membuat kita malas mengunyah diksi dan fantasi.
Awalnya saya takut jika nantinya
jakartabeat hanyaakan menjadi one hit wonder yang selesai pada setahun. Menjadi
sekedar relik bahwa pernah ada generasi kick ass yang menulis tentang
musik, berpikir berbeda, dan kritis menyikapi zaman. Kekawatiran saya ini
rupanya berlebihan.
Mas Philips dan mas Taufiq malah
mengembangkan jakartabeat lebih kece dari imajinasi saya yang paling banal. Dengan
menerbitkan like this, sebuah kumpulan tulisan tergahar yang ada di jakartabeat.
Like this sendiri seolah menjadi bukti valid bahwa kutukan webzine adalah
ketiadan karya nyata dalam bentuk fisik.
Jakartabeat Music Writing Contest
I (JMWC I)yang digelar tahun lalu juga merupakan kejutan menyenangkan dari duet
editor imut tadi. Bahwa dalam usahanya menyemai penulis/jurnalis(me) musik yang
sehat dan cerdas, perlu ada upaya regenerasi dan penyemaian bibit. JMWC I terbukti
sukses dengan bukti sekitar 100san karya yang masuk. Meski saya sempat jengkel
karena naskah saya bahkan tak masuk ke dalam 10 besarnya.
Saya menyadari betapa jakartabeat
kini menjadi sebuah kawah candradimuka musik-musik kreatif Indonesia. Ada sebuah
diktum yang mengatakan bahwa, mereka (band/buku/film) yang termuat di jakartabeat
adalah sebuah avantgarde. Disusun oleh narasi besar senama Herry
Sutresna, Akhmad Sahal, Anwar Holid, Ardi Wilda, Ari Perdana, Arian13, Samack, Ayos Purwoaji, dan masih banyak lagi.
Saya tak akan menghina kapasitas
nalar para pembaca sekalian dengan menjelaskan satu persatu siapa mereka. Jika anda
berpikir bahwa tulisan saya sangat tendensius dan cenderung melakukan
pengkultusan. Maka anda benar. Jika seorang Franco dengan sangat fasisnya
mencintai Madrid. Atau bagaimana Winston Churcil sangat menggilai cerutu. Maka bolehlah
saya melakukan sakralitas terhadap situs ini.
Jika anda tanya mengapa? Well, kita
mulai dari perbendaharaan pertemanan saya yang tiba-tiba jadi sangat keren. Dari
yang awalnya berkawan dengan manusia mesum bernama Nuran, saya bisa berkenalan
dengan mas Philips (meski hanya lewat facebook), mas Taufiq (yang terlepas dari
sarkasme tulisannya ia sangat ramah), Fakhri Zakaria (pria murah senyum yang
sangat baik hati).
Tapi dari semua itu, jakartabeat,
telah berperan besar dalam penuntasan masa jomblo saya yang sangat endemik itu.
Karena pada 2011 lalu mereka untuk pertama kalinya menyelenggarakan festival
musik santai di pinggir danau kampus UI. Bertempat di seputar kompleks gedung
perpustakaan Universitas Indonesia. Saya
berhasil mengakhiri masa lajang saya yang sudah terlampau keparat lamanya.
Dari
perbincangan saya dengan mas Taufiq acara ini terinspirasi oleh Pitchfork Music
Festival, acara musik yang diselenggarakan di sebuah taman di kota Chicago. Bersama
rekan-rekan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di UI jakartabeat sukses
menghancurkan definisi konser megah adalah konser yang besar. Kelak dalam
pelajaran sejarah murid-murid sekolah musik dunia, mereka akan mengenal acara
ini dengan nama By the Lake Music Festival.
Di
konser ini pula saya bisa tuntas menonton konser Efek Rumah Kaca untuk pertama
kalinya. Juga dengan sangat norak saya bangga bisa bertemu dan mengobrol dengan
Cholil, yang sangat baik mau saya ajak jabat tangan. Tapi di atas itu semua
saya sangat mengharu biru karena bisa mengenal Payung Teduh. Band yang tanpa
sengaja rela menjadi pengiring pertemuan saya dan pacar.
Payung
Teduh dengan lagunya, “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan,” secara
literer memberikan suasana mendukung untuk kisah kasih saya. Mungkin jika
Payung Teduh tak menyanyikan frase “Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin
karena kau sedang cantik-cantiknya,” pacar saya akan sadar bahwa petang itu
saya bau sekali dan belum mandi.
Tapi
bukankah itu semua tak penting? Dalam rentang waktu tiga tahun ini jakartabeat,
seolah menjadi new emerging forces. Istilah yang terlampau lekat dengan Sukarno
dalam melawan Neo Imperialisme. Ah, haibat betul. Namun seperti yang banyak
terjadi. Membuat lebih gampang daripada merawat dan melakukan konsistensi.
Ia
butuh lebih banyak energi, kemauan dan yang paling penting tekad yang tulus. Bukan
tentang materi didapat itu jelas. Semua kontributor jakartabeat tak pernah
mendapatkan bayaran. Hal inilah yang membuat situs ini menjadi kanon (atau
pongah?) sehingga tak ada kepentingan pasar dan murni subjektifitas.
Selamat ulang tahun jakartabeat. Mungkin telat. Tapi lebih baik daripada tidak ganteng sama sekali. Tabik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar