Saya harus berterimakasih pada
Nirvana karena membantu kakak saya melepaskan pengaruh dekaden hair metal.
Setidaknya setelah mendengar album Nevermind, kakak saya berhenti melolongkan
kaset Poison, Gun n Roses dan segala bala Kurawanya di rumah. Meski yang terjadi
kemudian berganti suara orang bergumam, dalam bahasa ibu saya, racauan parau
orang disunat. Puncak kesalihan kakak saya pada Nirvana adalah keinginan untuk
membuat tatoo bertuliskan “I hate myself
and I want to die,” di tangan. Sayang beliau keburu meninggal dua tahun
lalu sebelum kata itu tersemat di tangannya.
Saya
tak pernah benar-benar bisa meresapi Nirvana. Besar hanya dengan bagasi musik
sekualitas Bragi, Pancaran Sinar Petromak dan Padhayangan Project membuat saya
tahu diri untuk tak menilai band ini terlalu jauh. Namun ada yang menarik dari
band yang bermula dari Aberdeen ini. Musik mereka adalah sebuah keterasingan
yang seolah olah sudah bosan menunggu untuk diledakan. Sebuah gairah yang bocor
seusai menahan diri atas kondisi yang itu-itu saja. Lantas ketika sumbu sudah
dinyalakan mereka menolak untuk diam dan berusaha untuk terus berteriak.
Hari ini 24
September merupakan perayaan 21 tahun Nevermind dibuat. Entah mengapa saya
ingin mengingat album ini seraya vakansi pada masa lalu yang naif. Saat SMA
saya baru menyadari betapa besar pengaruh album ini. Tidak susah mencari
alasannya. Album ini merupakan anti tesis dari segala raksasa musik yang
mendominasi chart radio masa itu. Michael Jackson atau Gun n Roses seolah dikerjain
oleh anak kemarin sore yang muncul dengan suara sengau penuh riff gitar yang
berisik. Nirvana yang baru sukses dengan album mandiri Bleach mendobrak pakem
musik baru yang lantas memperkenalkan Grunge.
Alasan naif
lainnya juga karena beberapa band yang saya anggap keren saat itu, semacam
Linkin Park atawa Limp Bizkit, mengaku sangat menghormati album ini. Belakangan
saya juga menyadari bahwa pentolan Limp Bizkit, Fred Durst menjadi promotor
band grunge Puddle of Mudd sebagai
usaha mengembalikan pamor musik ini ke khalayak ramai dan gagal. Lagipula siapa
yang masih betah mendengar lapisan suara gitar yang dicabik melengking dengan
distorsi dan teriakan geram pemuda tanggung yang masih mencari jati diri? Grunge
lantas menjadi hantu atas scene musik yang muncul meletup sekejap dengan jejak
yang panjang.
Apa
itu Grunge? Oh sampai hari ini saya masih belum mampu menemukan padu padan kata
yang tepat untuk menjelaskan kata arkaik ini. Seperti juga makna kata indie,
Grunge adalah sebuah medan perdebatan yang tak kunjung usai. Eddie Vadder
pernah muntab karena Pearl Jam dipaksa masuk kategori ini. Soundgarden dan Alice
in Chains mencak-mencak menolak dikotomi kata ini. Lantas apakah Grunge hanya
milik Nirvana seorang? Entah. Yang jelas Nevermind, meminjam istilah Dave
Whitaker penulis No One Needs 21 Versions
of “Purple Haze”…And Other Essays from a Musical Obesessive, memulai tahun-tahun
yang kelak disebut sebagai masa kedaulatan Grunge.
Nevermind
dimulai dengan singgle catchy nan mudah diingat Smells like teen spirit. Secara
pribadi, keseluruhan irama dalam lagu ini adalah puncak kejayaan Nirvana. Saya
selalu membayangkan nomor ini adalah anthem dari generasi X yang kecewa pada
dominasi orang tua dalam menentukan moralitas. Sekali mendengar mustahil kita
melupakan lenguh Cobain yang mengeras pada bagian reffrain. Ada yang mencoba
berontak dalam lagu ini seperti para pemacu yang sedang bertandang dalam
karapan sapi. Keras, cepat, penuh agresi, konsentrasi pada dengung, lenguh
kemarahan sapi dan keringat yang mengucur.
Lagu
kedua adalah nubuat gelap tentang masa depan vokalis Nirvana yang suram.
Dimulai dengan suara ragu-ragu Kurt dan dominasi dentuman drum Dave Ghorl. Pelan-pelan
lagu yang awalnya bertempo lambat ini menggelegar dengan teriakan parau yang
membawa kita pada reffrain. In Bloom membuat saya berpikir, kira-kira apakah
ini lagu terakhir yang didengarkan Kurt sebelum ia memutuskan bunuh diri? Para
penggemar teori konspirasi pasti akan orgasme mengaitkan lirik “And he likes to sing along” dengan frase
“And he likes to shoot his gun”
sebagai sebuah surat wasiat.
Come as You Are is a saint of backstabing
songs. Setidaknya bagi saya. Berulang-ulang selama beberapa bulan dalam
satu masa gelap hidup saya, cabikan bass Krist Novoselic yang memulai lagu ini mendominasi
lingkup dengar telinga saya. Petikan gitar solo Kurt yang bersuara seperti pria
tua kelelahan selalu menjadi hiburan. Lagu ini sebenarnya berpotensi menjadi
primadona dalam album Nevermind. Repetisi yang dibuat Novoselic sangat mudah
diingat dan dikenali. Sayang spotlight
keburu menyodok Smells Like Teen Spirit sebagai bintang utama.
Berturut
turut pendengar diajak bercengkrama dalam mosh pit lewat track Breed. Sejak awal lagu ini mencengkeram
mereka yang hendak bermandikan darah dalam lautan konser. Suara gitar, bass dan
drum bertalu-talu silih berganti meminta para pendengarnya untuk menghempas
diri sekeras-kerasnya. Lantas kemudian kita diajak menurunkan tensi yang
terlanjur tinggi dalam track Lithium. Lagu ini cocok didengarkan sembari
mengompres dahi yang terluka saat moshing dengan bir dingin. Saya tak pandai
memahami lirik ini dalam bahasa Inggris, namun Lithium saya kira adalah
syahadat bromance para penggila konser bertensi tinggi.
Lagu
berikutnya adalah Polly yang merupakan salah satu lagu lembut namun paling
horor dalam keseluruhan album Nevermind. Suara didominasi oleh petikan ritmik
Kurt dan sedikit suara bass yang tegas dari Novoselic. Suara gitar yang perlahan
namun pasti membuat Polly membangun imaji tenang yang semu. Saya sering membayangkan
para penculik psikopat mendengar lagu ini mendekap korban mereka seraya
berbisik “Let me clip, Your dirty wings”.
Ketenangan
yang dibangun Polly tak berlangsung lama, Territorial
Pissings memporak porandakan tatanan mapan yang sebelumnya sudah dibangun
oleh Polly. Lagu ini merupakan renik dari pengaruh Punk yang berkembang pesat
di kota Seattle. Ia cepat, ia tegang, ia memangsa, ia membakar, ia menerjang,
dan kerumunan mosh pit sekali lagi terbakar seusai lagu Breed. Lagu ini lantas
ditutup oleh teriakan-kehabisan-tenaga yang kelak menjadi trademark Kurt
sembari membanting dan menghancurkan instrumen musik saat konser.
Nirvana jelas
mencoba membongkar seluruh narasi musik yang baik dengan melakukan eksperimen
pada suara dengan cara mereka sendiri. Melalui nomor Drain You mereka bermain dengan noise, dengan suara vokal naik
turun yang tak jelas intonasinya, juga dengan suara-suara asing yang coba
diperdengarkan seusai reff pertama dilakukan. Selama hampir 60 detik mereka
bermain main dengan suara ngek ngok
nyaring sebelum akhirnya masuk pada ritme awal lagu.
Lagu-lagu
berikutnya seperti seperti On A Plain,
Stay Away, dan Lounge Act tak begitu saya dengarkan secara khusus. On A Plain bicara tentang narsisme angst
sementgara Stay Away bicara soal
hidup monoton yang diatur oleh trend fashion.
Lounge Act barangkali cocok menjadi
manifesto Generasi X. Ia bercerita tentang penolakan pada norma, ia bicara
kemunafikan, ia bicara keinginan untuk sesuatu yang baru. Hal ini pula yang
membuat Nirvana menjadi band yang tak hanya sekedar bicara perihal
penolakan-penolakan anak muda. Mereka bicara tentang sesuatu yang subtil.
Keinginan agar generasi muda diberikan kesempatan untuk bicara dan didengar.
Saya
menyukai keputusan Butch Vig, produser dan juga penyelaras irama Nevermind,
yang menempatkan Something In The Way
di akhir lagu. Lagu ini tenang dan dilakukan atas petikan malas gitar Kurt
Cobain. Gesekan alat musik, mungkin biola, membuat lagu ini semakin kelam. Ditambah
suara Kurt yang muram bernyanyi seolah berbisik dan kelelahan. Saya selalu
menikmati lagu ini seperti sebuah doa panjang yang tak berharap dikabulkan.
Nevermind
adalah alasan bagi para pemuda pada zamannya untuk marah tanpa sebab. Geram
dengan segala tata krama dan moralitas yang dianggap semu. Padahal, ya, sekedar
tak ingin sekolah atau terlalu malas untuk melakukan sesuatu. Tapi yang
kemudian saya lihat Nevermind seolah menjadi berhala yang dielukan tanpa kritik.
Tengok saja dogma Pitchfork yang menyebutkan bahwa siapapun yang menjelekan
Nevermind adalah hipster yang mencoba keren, sayangnya mereka adalah hipster
gagal. Sebegitu kerenkah Nevermind hingga menjadi sebuah karya ilahi yang
absolut?
Dari
cerita almarhum kakak saya jadi mengetahui bagaimana Nevermind bisa begitu
lekat di kepala para pendengarnya. Bondowoso, kota dimana kami tinggal, adalah
daerah tertinggal yang selera musik ditentukan oleh radio yang saban hari
didominasi oleh musik dangdut. Suatu hari menjelang akhir tahun ajaran 1992
atau setahun selepas Nevermind keluar. Smeels Like Teen Spirit diputar di salah
satu radio. Satu-satunya cara untuk memiliki album kaset saat itu adalah pergi
ke Surabaya atau Malang. Alternatif lainnya adalah membayar Rp. 1000 kepada
penyiar radio untuk mengkopi satu album penuh yang susah didapat.
Pengaruh
Nevermind dalam budaya populer dunia juga sangat luar biasa. Saya mengingat
setidaknya dua kali album ini menjadi cameo dalam kartun ultra sarkastik
kesayangan amerika. Pertama mereka muncul dalam salah satu poster The Simpsons,
dimana Bart, berperan sebagai bayi berenang. Juga muncul dalam salah satu
fragmen episode The Family Guy dimana Stewie, menyimpan Vinyl Nevermind, dan
hijrah ke masa lalu untuk mencegah Kurt bunuh diri. Sebagai gantinya ia
menyarankan kurt untuk mencoba kudapan.
Mendengar
lagi album ini setelah sekian lama membuat saya kembali menyadari. Saya hanya pemuda
yang melewati masa SMA dengan euforia kebebasan paska Soeharto. Saya tak
benar-benar besar di era 90an yang menjadi rahim kelahiran Nevermind. Bukan pula generasi X yang bosan dengan segala tetek
bengek malaise modern yang dibawa
perang dingin atau glam rock. Tak ada yang benar-benar saya lawan, akhirnya, tak
ada yang benar-benar saya dengarkan sebagai sebuah identitas. Album ini adalah
legenda hidup yang semestinya dibiarkan mencari nasibnya sendiri. Bukan lantas
dijadikan semacam berhala, tapi ah sudahlah here
we are now, entertain us Nirvana!

mantabb mas bro..
BalasHapus