~ untuk R
Semestinya ada yang lebih
bijaksana dari sebuah perpisahan yang pelik. Semacam kesepakatan dengan masa
lalu agar tak lagi datang diam-diam. Sebenarnya bukan perpisahan itu yang
menyebalkan, tapi perihal ingatan-ingatan yang kerap datang seperti maling.
Juga berbagai khusyuk perjuangan melupakan saat kesendirian datang. Hidup
sering menjadi sebuah usaha melawan kenangan dan kita kerap dipaksa menyerah
kalah sebelum memulai.
Aku belajar untuk menerima
kekalahan, juga menerima fakta bahwa mengingat adalah laku batin yang pedih.
Kita tak bisa benar-benar membagi perasaan kepada orang lain. Perasaan adalah
sebuah medium yang unik. Ia tak bisa kembar karena masing-masing manusia
memiliki kondisi tersendiri dalam mengalami sebuah perasaan. Adakalanya orang
menangis tanpa sebab kala hujan tiba, juga sebuah senyuman tulus ketika melihat
sebuah senja yang keemasan. Perasaan adalah anugerah yang tak pernah bisa
dimengerti.
Kenangan, seperti juga perasaan,
bekerja dengan cara yang ajaib. Kita tak bisa mengendalikan bagaimana sebuah
perasaan datang. Tak pernah ada perasaan utuh, seperti juga kenangan lengkap.
Ketika kenangan datang kita tak pernah benar-benar seutuhnya memutar ulang
kejadian yang telah lampau. Kita mesti hidup dengan cara yang demikian sebagai
sebuah proses tanpa akhir.
Banyak hal yang tak bisa kita
sepakati dalam hidup. Seolah-olah kita adalah sebuah sekrup yang bekerja
mekanis dan sistematis. Robot yang harus tunduk pada perintah-perintah yang
bahkan kita sendiri tak bisa mengerti. Seperti tiba-tiba merindu lantas haru.
Atau bertemu lantas terluka. Kejadian-kejadian yang menuntut kita untuk dewasa
pada perasaan. Sayangnya, tak pernah ada manusia yang dengan bijak menyapa masa
lalu yang perih seperti seorang karib.
Aku belajar untuk melupakan
lesung pipit sebagai sebuah masa lalu. Juga dahi lebar dengan hidung mungil
yang kerap berubah indah ketika sebuah senyuman hadir tiba-tiba. Bukankah siksa
paling keji adalah merasakan rasa sakit tanpa sebab? Kukira ada yang lebih
bijak dari sekedar mengumpat, walau itu pada kenangan paling perih sekalipun.
Atau pada sebuah keadaan yang sama sekali tak bisa dikembalikan. Atau pada
sebuah perasaan yang tak bisa dihilangkan.
Kukira jatuh cinta padamu adalah
sebuah keniscayaan. Sebuah perasaan yang tidak mungkin tidak hadir. Ia adalah
nasib, atau juga kutukan, yang dengan sukarela aku terima. Bukankah kita semua
pernah kecewa, meratap lantas dilupakan? Tapi mencintaimu bukanlah pilihan. Ia
adalah kondisi apa boleh buat yang aku yakin semua orang akan setuju. Jika
tidak kami akan bertemu lantas baku hantam untuk memaksakan perasaanku.
Ada beberapa kisah cinta yang
memang berakhir tragis untuk melahirkan kisah lain yang lebih manis. Juga
beberapa pengorbanan yang sia-sia karena tak pernah ada pelajaran gratis. Hidup
adalah perkara berdamai dengan kekalahan lantas mengais sisa harapan. Semua
yang sisa adalah daya hidup paling pejal, paling laten dan paling pegas. Ia
bisa diinjak, bisa ditekan dan bisa dihimpit. Namun sekeras itu pula mereka
akan melawan. Kukira perasaanku padamu juga demikian.
Pada suatu malam aku menulis
puisi setelah membaca puisi. Kau akan begitu terkejut bagaimana sederhananya
(sekaligus rumitnya) pikiran kita bekerja. Aku memagut diksi begitu banyak juga
menafsir kata begitu banyak. Sebagian besar malah melahirkan proyeksi bentuk
wajahmu yang merupa dalam begitu banyak ekspresi. Tentu sebagian besar adalah
senyuman, meskipun ada beberapa mimik nyinyir dan genit. Tapi semua menjadi
samar, karena kini saat aku mengingatnya semua rupa tadi hilang.
Aku mencintai puisi seperti kau
mencintai segala obsesimu. Puisi adalah segala yang bernama semangat. Kau akan
begitu tergagap memahami bagaimana kata-kata yang dijalin bisa memberikan
kendali atas perasaanmu. Seperti sepotong sajak Goenawan Mohamad “Akulah Don Quixote de La Mancha, Majnenun yang mencintaimu.” Ada yang mencoba lepas dari sajak itu. Sebuah perasaan yang melompat ketika kau kasmaran.
Dalam puisi aku bebas memahat
pesan dan menempatkanya dalam sebuah kado dengan pita merah jambu. Lantas
menaruhnya diam-diam di sebuah lini pasa jejaring sosial maya. Kita tak pernah
akan menduga siapa saja yang terjerat lantas urun haru. Atau siapa saja yang
tercekat lantas merutuk amuk. Puisi menghadirkan itu semua. Aku tak mengharap
kau paham tapi aku berdoa kau bisa merasakan apa yang ada dalam setiap sajak
yang kubikin.
Dalam puisi aku bisa berkisah
tentang perjalanan semalam dengan deru bus yang merambat pelan, seusai
menikmati pagelaran musik dengan rupa malam begitu kudus. Atau sebuah
perjalanan sepanjang siang hingga petang pada sebuah atap perpustakaan. Atau
juga ribuan pesan pendek dengan basa basi konyol. Juga sebuah senyum dengan abu
merapi yang menetas dalam gelas jeruk panas. Di sana ada angkringan, beberapa
tikar dan sebuah tembok yang kelak akan runtuh. Seperti juga sebuah rezim yang
berdiri terlalu lama.
Dalam puisi aku juga bisa
berteriak kesakitan. Menggarami luka lanyas menyayat perih sebuah borok. Atau
mengemas kebencian dengan ragam warna cerah. Seolah olah dunia baik-baik saja
namun membusuk dari dalam. Dalam puisi aku bisa menjadi orang munafik yang tak
pernah belajar merelakan. Seperti batu yang menghimpit lantas menekan keras.
Harapan, kukira, adalah perkakas paling sadis dalam menyakiti. Kau tak akan
pernah tau seberapa sakit rindu yang koyak.
Kentingan
Seperti puisi, aku mengingatmu sebagai ilusi
biji wijen, serpih haru musim hujan
tapi apakah itu penting?
malam turun dan anjing bercengkrama
Kukira kita harus
belajar pada awan mendung
yang lekas
hilang seusai hujan
Tapi rindu bukanlah perkara buang hajat
(di sini kita berdebat, tentang bagaimana
orang kidal membasuh kenangan)
sementara di kejauhan bising kota mencair
Gementing warna kelam
gagap adalah bahasa para pecinta yang
hatinya dikuasai kasih
menggebu seperti arus mudik lebaran
Kukira kita harus
belajar pada awan mendung
yang lekas hilang seusai hujan
Bisik kereta dan sepenggal lirik lagu pop
menguning bising pada radio
“siapa hari ini yang masih mendengar gelombang FM
ketika jejak masa lalu sudah disimpan dalam
123 bit kartu ingatan bikinan tiongkok”
Seperti Isa yang rindu bapa Nya
kita menyerah hanya pada cinta
Kukira kita telah jatuh pada sebuah sungai keruh. Kita berdua salah paham perkara kabar. Itu saja.
T_T
BalasHapusUntuk R :)
BalasHapusKatastrofa, Dhan..
BalasHapus