Pada satu sore yang teduh aku dan
beberapa kawan datang di acara diskusi buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo.
Jujur kukatakan, sebenarnya aku malas datang. Bukan hanya karena tak begitu suka
jenis buku ini tapi juga fenomena travel
writer, siapapun itu, adalah fenomena yang kepalang overrated dan begitu memuakan. Namun kupikir aku harus bertemu
dengan Agustinus Wibowo. Setidaknya aku harus membenarkan tuduhan bahwa
selamanya genre ini akan terjebak pada skema deskripsi keindahan dan promosi
pariwisata belaka. Tapi rupanya aku memang ditakdirkan untuk salah.
“Menulis perjalanan adalah usaha untuk menulis
tentang manusia dan kemanusiaan. Jika tulisan perjalanan tak bicara tentang
manusia. Maka ia adalah tulisan yang mati,” kata Agustinus ketika aku berjumpa
dengannya sore itu. Lelaki pendek berkulit putih ini jauh dari bayangan awalku
dari penulis catatan perjalanan yang usai mengarungi jalan yang luas. Kukira ia
akan tinggi besar, brewok yang lebat dan tubuh yang kekar. Tapi penampilan
memang seringkali menipu. Tak kusangga lelaki tionghoa didepanku yang begitu
santun dan komikal. Telah menaklukan salah satu dataran paling mematikan di
dunia.
Kadang untuk mencari ke dalam
seseorang harus pergi jauh ke luar. Aku tak hendak bicara tentang jarak atau
perjalanan. Tapi tentang renungan-renungan yang dihasilkan dari sebuah
kepergian. Kukira ini hal yang mampu kucerna dari buku catatan perjalanan Titik
Nol karya Agustinus Wibowo. Ada yang subtil dari buku ini. Bukan tentang
perjalanannya menembus atap dunia. Atau bagaimana ia dengan rendah hati bicara
tentang negeri yang jauh. Lepas bicara tentang ruang yang tak ada di tanah yang
asing. Tapi lebih pada fragmen-fragmen renungan atas ibunya di mana ia bicara
tentang perasaan tanpa perlu menulis kalimat gombal yang genit.
Dalam 552 halaman ‘Titik Nol’ yang
kelu ia menuliskan sebagian besar hidupnya seraya telanjang berkata “inilah
aku,” sebuah usaha yang berani. Ia bicara tentang keluarga, tentang kematian,
tentang kepedihan dan tentang makna hidup. Aku bahkan tak perlu, atau tidak mau
bercerita padamu tentang perjalanannya, kukira ia sudah tamat bercerita di dua
buku pendahulunya. Selimut Debu dan Garis Batas. Agustinus kukira hendak
menebus dosa. Hendak bercerita dengan nada yang pilu. Perihal kecintaannya pada
ibu, kecintaannya pada keterasingan, dan kecintaannya untuk memejalkan diri
memacu batas dirinya sendiri.
“Sebenarnya apa yang saya cari
dari sebuah perjalanan?” kata Agus retoris. “Awalnya saya melakukan perjalanan
ya memang ingin pamer. Aku pernah kemari, aku pernah ke sana. Tapi seiring
berjalannya waktu. Saya bertanya. Apakah itu makna perjalanan?” Hampir dua jam
kami berdiskusi. Selama dua jam pula ia habis meruntuhkan mitos tengik bahwa
perjalanan adalah perihal vakansi dan bersenang-senang. Saya harus sepakat
padanya bahwa perjalanan semestinya memberikan suatu pelajaran. Semacam proses
yang tak akan diperoleh bila perjalanan hanya diperlakukan sebagai sebuah
eskapisme.
Buku Agustinus bagiku tak terlalu
istimewa. Ia tidak seperti Walden, catatan
perjalanan susunan Henry David Thoreau, atau On
The Road milik Jack Kerouac, atau novel Balthazar Odyssey milik Amien Maalouf. Meskipun demikian, dalam tiap bukunya Agustinus seolah menunjukan pada para pembaca untuk
tidak sekedar membayangkan tapi juga merenung. “Tradisi bukan sesuatu yang tak
bisa dilawan. Kondisi bukan sesuatu yang tak bisa diubah,” tulisnya pada laman
170 Selimut Debu. Bagi saya, Ia masih konsisten. Berusaha keluar dari pakem
catatan perjalanan yang hanya merayakan euforia dangkal destinasi belaka.
Sebuah buku semestinya
mencerahkan. Atau dalam fungsi yang paling minimal, sebuah buku selayaknya
memberikan kita perspektif lain yang bisa dengan bijak memberikan masukan tanpa
bersikap seperti guru. “Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak
mungkin dalam perjalanan,” kata Agustinus pada kalimat pendek di halaman 237.
Ia bicara pada dirinya sendiri. Tapi sebagai pembaca tak mungkin tidak untuk
tak mengamininya sebagai sebuah pesan. Dalam lokus yang lebih luas buku ini bicara
sebagai sebuah monolog. Penonton diminta diam. Tapi sang aktor utama bicara. Menista
diri sendiri. Tapi dalam diam itu setiap penonton seolah ditempeleng dengan
kebenaran-kebenaran yang dengan keras coba mereka disembunyikan sendiri.
Titik Nol mengingatkanku pada sebait
puisi Tiongkok karangan Huang Zongxi yang hidup di masa dinasti Qing pada
1610-1695 masehi. “Usia muda berjuang siapa sanggup menyamai?
Dapat pulang terhormat menunjukan jati diri,” katanya. Puisi ini ditulis
sebagai penghormatan Zongxi pada Changsui, seorang pemberontak yang dieksekusi
di usia belia. Tapi bukan tentang pemberontakan aku mengingat sajak ini. Melainkan tentang sikap kagum dan kebanggaan pada orang lain yang dirasa lebih hebat
dalam menjalani idealisme. Dalam bait lain Zongxi merangkup seluruh kisah titik
nol dalam sebuah kalimat “Pertalian antar
generasi bukanlah demi pribadi, menangkap suara massa penilaian coba diberi,”
tulisnya.
Agustinus, kukira, adalah peziarah yang melintasi kesunyian sebagai jalan hidup.
Sejujurnya aku tak begitu suka buku catatan perjalanan. Selalu ada bagian
dalam kisah perjalanan yang luput dipahami sebagai pembelajaran. Apa yang kita
anggap sebuah bagian penting perjalanan, katakanlah sebuah perenungan,
kerapkali dianggap sebagai wejangan sok bijak. Ketika deskripsi keindahaan coba
dijabarkan, selalu ada pikiran nyinyir yang coba menista bahwa si empu penulis
sedang pamer. Aku tahu hal ini karena aku adalah bagian dari orang orang yang
nyinyir tersebut. Perjalanan semestinya jadi sebuah bagian personal.
Bukan sebuah perayaan gegap gempita yang semua orang harus tahu.
Tapi melalui buku ini aku belajar
sebuah hal yang sangat menyakitkan. Bahwa hidup sebenarnya bukan hanya tentang
menerima, mencari atau memiliki. Hidup adalah perihal seberapa banyak yang bisa kamu
berikan pada orang lain. Agus bisa saja diam. Menelan bulat segala kisahnya
sebagai milestone pencapaian diri. Ia
membagi cerita sejak Selimut Debu, Garis Batas hingga Titik Nol sebagai upaya
untuk menunjukan bahwa hidup bukan sekedar kubikel di mana kamu bekerja. Atau
sekedar tanggal di mana kamu menerima gaji. Atau sekedar haha hihi foto-foto
pada sebuah destinasi. Lebih dari itu Agus berupaya menunjukan hidup adalah
lebih dari itu.
Namun Titik Nol bukannya tanpa
cela. Bagiku keintiman tulisan Agustinus membuatku sebagai pembaca menjadi
jengah. Beberapa pikiran dan tulisannya hampir jatuh pada kategori tulisan
motivasi yang memuakkan. Ada sebagian babak dalam Titik Nol seperti membuat
Agustinus menjadi Mario Teguh yang coba menulis catatan perjalanan. Kata-kata
mutiara self help bertebaran begitu
banyak sampai-sampai aku lupa ini buku travelling ataukah buku panduan
kebahagiaan hidup?
Seperti usahanya mendefinisikan kebahagiaan pada laman 316, deskripsi melankolis dan metafora
yang miskin, membuat saya berpikir bahwa ketika menulis fragmen ini, Agus
tengah kehabisan tenaga dan imajinasi. Ia menggunakan simbol ikan, laut, dan
kerakusan. Kukira ia lebih dari ini. Kukira Agus tak perlu membuat metafora,
yang bagiku murahan, untuk menunjukan bagi pembacanya bahwa kebijaksanaan hadir
seiring dengan bertambahnya pengalaman dan usia. Tapi bukankah tak pernah ada
buku yang sempurna.
Di sisi lain ada adegan paling
profetik sekaligus paling menyentuh hatiku dalam buku ini. Adegan ketika sang
Mama yang dalam sakit ditanya apa agamamu oleh seorang perawat. Sang perawat
hanya ingin memberikan kesempatan terakhir bagi Mama untuk bisa berdoa pada
tuhannya. “Bawakan saja semua. Semua doa aku terima, apapun agamanya. Karena
doa tetaplah doa,” katanya. Aku merasakan kekuatan dalam kalimat ini. kupikir
ini bukan kata-kata orang yang menyerah kalah pada penyakit. Atau orang yang
takut pada kematian. Ini adalah kata-kata yang mendekap erat sang maut dan
menyapanya sebagai kawan lama.
Sore itu setelah perbincangan
panjang dan diskusi yang hangat. Hanya satu pesan yang berkelindan dan terpatri
begitu hebat dalam kepalaku. Pesan dari Agustinus yang wajahnya tak bosan
tersenyum. “Perjalanan adalah usaha untuk pulang. Pulang kepada rumah atau
pulang pada diri kita sendiri”. Kukira inilah hakikat perjalanan yang aku cari.
Ia bercerita bahwa manusia adalah mahluk karikatural yang bisa sangat ambigu.
Ia bisa jadi bermanfaat bagi orang lain tapi tak berguna bagi orang lainnya.
Ia mencontohkan bagaimana Ibnu Battutah
bisa saja dianggap sebagai anak durhaka karena lebih dari 27 tahun tak pernah
pulang. Namun di sisi lain ia bisa jadi sangat penting untuk merekam jejak
peradaban dunia pada zamannya. Ia sedang bercermin. “Sama seperti yang aku
tuliskan. Aku sudah keliling ke banyak negara, tapi apakah aku berguna bagi
orang tuaku?” katanya retoris. Memang terlalu banyak retorika yang ia ucapkan.
Tapi Agus rupanya selalu menemukan komedi dalam setiap tragedi yang ia alami.
Ia bisa dengan wajah datar tanpa
ekspresi berkisah tentang bagaimana nyawa manusia begitu murah di Afganistan.
Atau bagaimana sebuah tragedi tsunami yang dengan gegabah dianggap tulah oleh orang lain bisa dianggap
sebagai sebuah bencana alam biasa bagi yang lain. Atau bagaimana ia dengan
sangat manusiawi menunjukan bahwa ia adalah anak mami kesayangan. Di sisi lain bisa dengan magis menuliskan
penyamaran dengan identitas ganda di negeri atap langit. Bagiku ia telah lepas
dari kategori penulis perjalanan biasa. Kukira ia adalah virtuoso yang mampu
meramu kata menjadi imaji yang begitu hidup.
Agak berlebihan memang untuk
menyebut penulis dengan tiga buku dengan julukan virtuoso. Namun siapapun yang
membaca tiga bukunya mau tak mau harus setuju. Ia bisa sukses mengaduk pikiran
dengan rasa haru, ketegangan, komedi dan perenungan yang dalam. Meski pada
beberapa bagian ia tak ubahnya motivator kelas dua yang gagal meramu kata-kata
mutiara. Titik Nol adalah buku yang wajib dibaca, dan ya tentu saja wajib
diterbitkan. Ia lebih dan jauh lebih penting dari tulisan stensil panduan
perjalanan sekian juta menuju omong kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar