Tampilkan postingan dengan label Mamadd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mamadd. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Februari 2011

Untuk Mamadd yang Terkutuk Bujang Sepi

Di Dropsie Avenue Assylum


Sebelumnya aku tidak tahu bagaimana harus menjawab semua surat dan pesan yang kau berikan padaku Madd. Karena ya kamu tahu, aku bukan penyair dan aku bukan insinyur. Aku adalah aku, sesederhana itu. Aku tak tahu bagaimana harus menanggapi segala kisah tentang langit, rintik hujan, deru angin dan segala warna kelam yang diciptakan mendung yang kau ceritakan itu Madd. Sungguh aku tak tahu, aku hanya gadis sederhana yang tak pernah perduli dengan segala hal sentimentil yang telah kau banyak perhatikan itu.

Dalam banyak hal, aku berterima kasih atas segala perhatian yang telah kamu berikan Madd. Sungguh itu adalah pujian, segala yang bernama perhatian bukankah adalah pujian? Merupakan sebuah kebahagiaan bagi seorang gadis untuk memperoleh segala puja-puji kecantikan, dan rayuan paling gombal sekalipun. Sungguh dalam banyak hal itu, aku merasa menjadi gadis paling cantik sejagat. Untuk itu aku berterima kasih. Tetapi seperti halnya kaviar yang dimakan dengan begitu rakus, kenikmatan pun menemukan titik nadir kejenuhannya Madd.

Kamu tentu tak pernah peduli jika kemudian aku bilang bahwa aku sudah memiliki pacar. Pacar ganteng, kaya, cerdas, priyayi dan yang paling penting dia sehat juga tegap. Surat tengik yang kau kirimkan itu, salah satunya tanpa senganja nyasar pada pacarku. Surat tengik yang membuat kami ribut, surat sontoloyo yang merusak segala suasana liburanku di Paris. Kamu tentu tidak mau peduli, karena dalam otak kecilmu yang bangkotan itu, kamu tak mengenal realitas! Hidupmu adalah mimpi fakir yang terlambat dikabulkan.

Sesungguhnya aku tidak peduli dengan segala racauanmu tentang hujan yang tak lagi datang dengan menyapa. Yang datang tiba-tiba, tanpa pamit, kurang ajar dan seringkali diam diam. Serupa kentut yang tak tertahan, berhembus diantara barisan awan mendung yang kelam itu. Sungguh aku tak peduli Madd. Apa peduliku jika kemudian mendung itu runtuh dan menghujani bumi dengan bau apak darah? Aku tak peduli, aku tak butuh rasa peka terhadap segala yang bukan urusanku Madd. Sungguh aku tak peduli.

Karena kamu tahu? Dalam lontar riwayat hidupku, kini aku sudah hidup dalam kenyamanan yang begitu rupa. Aku pernah mengenal rasa pahit getir kemelaratan dan tak berminat untuk merayakannya kembali bersamamu Madd. Pemimpi miskin yang diludahi kemapanan. Oh Cmon Madd, its twentyfirst century for Christ sake! Siapa orang tolol yang mau mendengarkan syair, rima dan berbait puisi tengik yang tak membuat orang lain kaya. Siapa orang di kolong langit yang masih menerima puisi wujud rasa cinta? Tidak ada Madd! Tidak ada! Mungkin otakmu yang soak karena terlalu banyak kau gunakan merancap itu sudah out of date. Godverdamnt! Sini kuberi kau tips, get a diamond! Its Women Bestfriend!

Mamad yang malang dan sial, sebenarnya apa salahku sampai-sampai kamu mengirim surat tengik konyol itu berulang-ulang? Apa yang aku lakukan sehingga kamu melakukan hal sontoloyo semacam ini kepadaku? Apakah aku berhutang sehingga kau mengejarku begitu rupa dengan harapan membayar hutangmu itu? Jawab Madd, Jawab! Aku tak habis mengerti dengan segala isi otakmu yang absurd itu. Apakah buku-buku dan segala ruang diskusi yang kau gandrungi itu telah mencuci otakmu dengan tuntas? Sehingga di zaman ketika gadis menjadi presiden dan Yacht merupakan kado perkawinan, kau masih terjebak di abad XVII dimana Shakespeare dan William Blake masih perjaka?

Kamu tahu Madd? Dunia sudah banyak berubah, peradaban manusia kini telah menemukan tuhan bernama kartu kredit yang membuat segala ibadah belanja menjadi khusyuk. Kamu tahu Madd? Untuk dicintai seorang gadis cukup kamu miliki saja rekening gendud, wajah tampan, tubuh berotot dan status sosial. Sesederhana itu Madd. Tak tahukah kau bahwa Mark Zuckenberg adalah person of the year time tahun 2010 hanya karena dia menciptakan berhala bernama Facebook? Ia memiliki lebih dari 500 juta umat yang begitu salih updating status for their miserable fate of unable adapting in REAL social life! Sepertinya kamu butuh Facebook Madd.

Oh Mamadd yang tolol, Mamadd yang obesitas dan Mamadd yang lapuk. Tak tahukah kau jika manusia modern tidak lagi mengenal empati? Mereka telah menukarnya dengan sehelai kemapanan bernama pesta. Aku bahkan sudah menjual segala empatiku lama sekali. Untuk apa? Hidup yang keras ini tidak membutuhkan perasaan untuk bertahan. I’m not being an asshole poor Mamadd, it is a mere strugle for survival of the fittest. Perasaan hanya akan menghambat karir dan kehidupan orang. Perasaan, terutama nurani, adalah sampah paling tolol yang dimiliki manusia. Dan kebetulan kau punya stok terlalu banyak Madd, perasaanmu yang halus itu akan membunuhmu pelan-pelan. Sistem yang kelewat busuk tapi nikmat ini akan melindasmu sampai lumat!

Oh Mamadd, mungkin saat kamu membaca ini kamu akan berlari keras dan mencariku. Tapi hentikan Madd. Dengan segala sisa kewarasan yang mungkin masih Kamu miliki. HENTIKAN! Aku sudah tidak lagi di Indonesuck. Ah negeri sampah yang bahkan aku tak sudi menyebutkan dalam surat menyedihkan ini. Negerimu, negeri yang kamu cintai dengan segala detak jantung dan aliran darahmu itu. Negeri munafik yang masyarakatnya tolol. Negeri macam apa yang tidak memberikan warganya ruang untuk berkeyakinan? Negeri macam apa yang pemimpinya diam melihat rakyatnya ditebas dalam sebuah pembantaian? Aku pergi Madd! Pergi dari negeri barbar yang pemimpinya hanya bisa prihatin diatas darah rakyatnya yang berkeyakinan.

Sungguh aku mohon kepadamu untuk tidak lagi mencari atau mengirimiku surat Madd. Sungguh dalam segala hangover ku selepas pesta pora, aku merutuki pertemuan kita. Sungguh Madd, aku mengutuk pertemuanku dengan manusia tengik macam kamu. Manusia yang terlalu ringkih, pengeluh, cengeng yang pengecut! Laki-laki macam apa yang tak juga lulus kuliah karena rasa takut menghadapi kehidupan? Kamu jangan berbohong! Pecundang macam kamu itu sudah terlalu banyak berbohong dan yang paling menyedihkan dari itu semua. Kamu membohongi diri kamu sendiri lalu meyakininya sebagai sebuah realitas, beserta sederet lurus apologi, afirmasi, identifikasi dan pembenaran dari otakmu yang pendek itu. Sungguh hidupmu adalah kesia-siaan yang paling sial.

Sudah terlalu lama kamu berbohong Madd. Sudah terlalu lama kamu mengasihani diri kamu sendiri. Dulu aku sempat kasihan, tetapi kini tak lebih dari rasa jijik terhadap bau anyir sikap pengecutmu. Laki-laki macam apa yang sudah berumur segitu, hidup dalam sokongan ketek orang tua, tak jua bekerja menjadi sampah. Biar kuberi tahu padamu Madd. Pada hidupmu yang super sial itu. Tak ada. Sekali lagi kujelaskan. TAK ADA SATUPUN GADIS YANG HENDAK BERTARUH HIDUP PADA SEORANG PENGANGGUR KECUT! Tidak ada Madd. Dan kamu adalah seburuk-buruknya penganggur. Yaitu penganggur pemimpi yang tak lebih merana dari pada orang impoten!

Biar kubandingkan kau dengan hidup pacarku. Agar kau tahu, aku bukan kejam Madd. Aku hanya gadis yang membutuhkan kepastian hidup. Dimana tentu saja, No offense yang tak mungkin pernah akan kudapat darimu. Pacarku adalah seorang lulusan perguruan tinggi luar negeri, keluarganya adalah priyayi, seorang pensiunan kapten, yang memiliki enam perusahaan tambang, selusin kapal tangker, dan puluhan rumah mewah di dalam atau luar negeri. Oh aku tahu apa yang akan kau pikirkan, ‘bagaimana seorang kapten memiliki harta sebanyak itu?” Well you know Madd? I don’t give a shit! Aku bahkan tak perduli jika keluarganya semasa hidup adalah pembantai PKI, koruptor sumbangan bencana Aceh, siluman babi ngepet, rentenir petani gurem, Bankir Century, atau bahkan antek yahudi. Aku tak peduli Madd! Harta adalah sahabat manusia hidup!

Aku hanya sekedar realistis. Hidup butuh kesenangan dan aku adalah pemuja kesenangan yang paling taat. Lupakan idealisme, Hegel sudah lama membusuk dalam kuburnya dan Mahaguru Marx selalu akan benar Madd. Semua faktor produksi tidak akan pernah dimiliki oleh kaum proletar. Dan borjuis selalu akan jadi cukong pengakang nasib buruh! Selamanya, karena kalian para rakyat miskin yang hanya peduli dengan isi perut dan Blackberry. Tidak akan pernah mengetahui kesadaran kolektif untuk melakukan perubahan. Tidak akan pernah! Untuk itu aku memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang mapan dan menjadi borjuis sejak dalam pikiran! Aku hanya gadis sederhana yang meminta sebuah berlian 200 karat sederhana untuk hadiah valentine, Lamborgini mungil untuk hadiah ulang tahun, dan liburan murah ke Hawaii untuk menghilangkan ngambek. Well Madd, I ask you, can you afford this? If you can, you win my heart. Or whatever you want.

Aku hanya mencoba jujur Madd, tidak menjadi munafik dengan segala kediaman yang bangsamu pernah lakukan. Oh ya, aku akan berpindah kewarganegaraan menjadi Israel. At least, mereka memiliki solidaritas sosial. Satu orang terluka adalah luka semua bangsa. Bangsamu yang katanya beragama, bangsamu yang katanya berPancasila, bah itu taik kucing paling sengti yang pernah kudengar. Seluruh bangsamu adalah Machievelian yang lebih dari Machieveli! Bangsa apa yang membantai habis 2 juta manusia atas nama prasangka komunisme? Bangsa apa yang diam melihat perampokan tanah adat suku lalu menjadikannya korporasi tambang multi nasional? Bangsa apa yang merintih kalau ditindas menindas jika berkuasa? Bangsa macam apa yang melarang keyakinan orang lain atasnama puritanisme sakau? Bangsa macam apa yang menghukum seorang ibu atas nama konspirasi skandal bank besar? Bangsa penganut Machievelian paling munafik sejagat!

Untuk itu, ijinkan aku menjadi busuk dimatamu. Menjadi jahat dimatamu. Maaf Madd. Bertold Brecht benar mengenai Gelap Massa! Biar ku tuliskan padamu, sebuah puisi paling realistis mengenai bangsamu dan seluruh jagat raya yang mblegedesh ini!

Bertold Brecht dalam “To Posterity,”

Truly, I live in dark times!

An artless word is foolish. A smooth forehead

Points to insensitivity. He who laughs

Has not yet received

The terrible news.

What times are these, in which

A conversation about trees is almost a crime

For in doing so we maintain our silence about so much wrongdoing!

And he who walks quietly across the street,

Passes out of the reach of his friends

Who are in danger?

Sudah kau baca? Tentu kau paham apa artinya bukan? Kau tentu tahu? Kau adalah segala yang bernama so called mahasiswa aktifis yang hanya bisa baca dan mengerti. Tanpa bisa mempraktikkann segala pengetahuanmu. Kamu adalah tenokrat gagal! Maka bacalah puisi itu, kabarkan pada anak cucumu (itu pun jika ada wanita yang mau padamu -yang aku sangsi mengenainya) bahwa bangsamu adalah bangsa jahiliyah yang tak mengenal peradaban. Bangsa yang dihuni mahluk fasis yang setengah paham terhadap segala yang diyakininya. Dan aku, si gadis malang yang mungkin kamu benci ini. Hanya mencoba jujur. Puisimu memang indah tetapi maaf, itu tidak mengeyangkanku, tak mampu memberiku sebuah sabuk Dolce Gabana paling murah sekalipun.

Dalam keremangan senja musim panas Prancis, di sebuah kamar presidental suit hotel Ritz Paris aku menulis surat balasan sederhana untuk suratmu yang sontoloyo itu. Langit sudah perlahan menjadi ungu, samar-samar aku mencium wangi Champagne dan lobster panggang untuk makan malamku. Maaf Madd, waktuku tak banyak. Aku ada janji dengan Carla Bruni untuk menyaksikan peragaan busana terbaru dari Armani. Dengan ini aku mengutuk segala hidupmu yang menyedihkan itu. Cepat sadar Madd atau matilah. Dunia sudah tak butuh penyair.

Au Revoir

Tertanda R.

NB: Jangan dibalas, karena akan percuma. Setelah ini Aku dan pacarku berlibur di pulau pribadi di Karibia. Lalu kami akan menikah dan tinggal di rumah baru kami di suatu tempat di Eropa barat.

Minggu, 30 Januari 2011

Bátard Eifel

Paris masih tetap malam saat kamu tiba dengan serangkaian marah yang ditahan. Matamu merah, tapi tak nampak barang sebiji airmata. Itulah kamu, terlalu angkuh pada dunia. Bahkan pada dirimu sendiri. Bukankah tangis adalah sebuah eskapis luka-luka yang tak bersembuh? Kamu duduk menghadap jendela. diam, diam dan diam. Kamu memang tidak suka ditanyai perihal warna merah matamu. dan aku tahu itu, terlalu banyak mata-mata merah yang kamu tunjukan padaku.

"Aku ingin jadi pawang hujan"

"Buat apa?"

"Aku mau bikin hujan besar, terus sungai Seine meluap dan meruntuhkan Eifel jahat itu!"

“kenapa jahat?”

“pokoknya jahat”

“kamu kekanak-kanakan”

“memang, aku masih muda, lalu kenapa? Selama muda hak ku untuk berbuat seenaknya”

“ya ya ya”

Ucapanmu menghamburkan lamunan tentang tugas akhir yang akan selesai. Apalagi ini? Kamu selalu saja begitu, datang serupa petasan yang merepet, keras, dan bising lalu kemudian menyisakan kesunyian serupa kuburan. Mengisi kesunyian itu dengan hela napas yang tertahan. Dan seringkali aku yang musti kerja keras menghiburmu dengan coklat panas.

Kamu adalah gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Bahkan pada musuh paling keji yang bisa dikenal sejarah. Orang yang selama hidupnya hanya mengenal dua jenis manusia, orang yang baik hati dan orang yang sangat baik hati. Aku percaya kamu diciptakan dari embun pertama bulan januari.

Dan disinilah, di flat murah hati di pinggir sungai Seine kamu duduk termanggu. Murung, manyun dan menggerutu. Kamu masih memakai syal warna hijau kesukaanmu itu. Syal butut yang kamu dapat dari pasar Senen. Yang kamu curigai milik Audrey Tautou. Menghela napas setarikan, meletakan segenap penat yang kukira masi tersimpan separuh itu.

"ada apa lagi dengan Eifel?"

"tahu gak? aku apa sih pikiran orang-orang Perancis tentang kerinduan, romantisme, revolusi dan bohemian-nitas!, yang jelas Eifel itu merusak pemandangan langit yang mendung saat mau malam, mestinya besi itu di kilokan saja"

"kan kasian orang-orang yang mencintai Eifel?"

"huh, biar mereka tahu diatas Eifel itu ada hamparan biru kelabu yang lebih indah dari seonggok besi angkuh"

“kenapa angkuh?’

“ya angkuh, besi sebanyak itu dibuang percuma atas nama estetika?”

“memang indah kok”

“masih lebih indah langit, liat juga gak bayar”

“kenapa musti marah sama eifel? Kan benda mati”

“ya pokoknya Eifel yang salah!”

“wooo ngotot gak jelas”

“biarin!”

Mau tidak mau aku harus tertawa mendengar ucapanmu. Sebuah ucapan paling tolol atau paling jujur yang bisa kamu ucapkan tentang langit. Aku melihat matamu mendelik, lalu acuh memandang ke arah jendela sekali lagi. Kamu sadar, Cuma aku, dan mungkin hanya aku yang boleh dan bisa melihat serta menerima kemarahanmu. Gadis yang dicintai matahari.

Aku menghela napas, menggaruk rambut yang tak gatal. Sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk dihadapanmu dan mulai bicara. Aku tak tahu harus memulai bicara darimana. Karena kamu bukan pelajaran fisika nuklir yang dengan mudah aku kerjakan dengan bantuan rumus dan buku. Kamu jauh lebih kompleks dari itu. Butuh gabungan fenomenologi, psikoanalisa, linguistik dan hermenutika untuk sekedar mentafsirkan bibir monyong serupa cemberutmu saat ini. Dan aku tak mampu, karena aku hanya seorang mahasiswa fisika biasa.

“Ada apa wahai Reene Luna d’Angelis lova beud” ujarku sambil nyengir.

“jangan panggil aku pake namaaa ituuu MaMadd jeleeeek!” teriaknya sambil melempar bantal kemukaku.

“lho itu kan namamu sendiri? Friendster punya, 6969 teman”

“yang kukenal bahkan tidak sepersepuluhnya”

“lalu kenapa diterima?”

“aku baik, malas nge reject. Kok kamu masih inget saja nama konyol itu?”

“kamu mungkin lupa, tapi aku selalu ingat, apalagi tentang kamu”

Momen banal, artifisal dan romantis mulai cair diruangan ini. Kamu menyunggingkan senyum, senyum yang dicintai matahari. Karena aku tahu, selalu tahu, bahkan jauh sebelum Musa mengenal sepuluh perintah. Kamu akan tertawa dengan sebuah panggilan sederhana dari nama absurd buatanmu saat masih sekolah menengah dulu. Nama yang mengharap pencitraan imut, lucu dan menggemaskan. Artifisial, namun siapa yang tak pernah mengalami pubertas selain adam dan hawa?

“MaMadd, Eifel itu untuk apa sih? Kenapa orang begitu menyukainya?”

“Eifel adalah Paris, dan Paris adalah Perancis dan Perancis adalah segudang bla-bla-bla yang tadi kamu sebutkan”

“Aku kangen rumah Madd, disana sawahnya lebar, langitnya luas, dan menara besi paling tinggi Cuma punya RRI”

“kenapa harus di Rumah? Di Paris kan banyak langit yang luas?”

“emoh! Pokoknya aku mau langit tanpa ada yang nantang!”

Aku mengamini permintaanmu, percuma mendebat permintaan gadis yang mempunyai keinginan sekeras cadas. Aku akan selalu kalah pamor dan hanya akan kalah wibawa. Kamu sekali lagi terdiam, menunduk dengan mata tetap terpaku pada jendela. Dan jauh disana sungai Seine meliuk seperti ular kawin.

Aku tahu pembicaraan tentang Eifel ini hanya pelarian, yah seperti appetizer sebelum main course. Dan aku tahu, aku harus sabar menunggu sampai kamu sendiri yang mengantarkan makanan utama itu. Tak perlu lama, aku tahu, setelah sebuah tangis yang disertai sesengukan yang panjang. Kamu akan bercerita, semuanya, karena Cuma padaku, air bah kegalauanmu bisa dicurahkan. Aneh memang, aku yang hanya teman sekolah, tidak terlalu akrab, bisa menjadi sebuah spons besar yang melingkupi semua perasaanmu.

Tangismu perlahan pecah, tangisan yang terlalu angkuh kamu tunjukan pada dunia, kamu hujamkan padaku. Ya hanya padaku seorang, seorang laki-laki yang bercita-cita jadi astronot. Hanya karena kamu bilang akan menikahi laki-laki yang membawakanmu batu dari bulan. Tapi kamu tak pernah sadar, karena kamu gadis luarbiasa polos, yang diciptakan Tuhan dari embun.

Aku tahu ini saatnya aku membuat coklat panas. Setelah kamu menangis dan sesenggukan panjang. Hanya coklat panas obat mujarab yang memberimu ketenangan. Aku berdiri, membiarkanmu sendiri di kursi panjang dekat jendela. Kearah dapur dan membuat coklat panas. Aku tak tahu minuman macam apa ini, aku hanya membuat, tak pernah mencoba menikmatinya.

“Madd, bisa gak kalo malam ini gak usah ada coklat?”

“lho kenapa?”

“aku gak ingin tenang, aku ingin menangis sepuasnya”

“aneh”

“gak seaneh namamu. Mamadd dengan dua de”

“mulai lagi deh”

“kamu duluan, banyak nanya, kayak hansip”

Itu ucapan paling aneh, lebih aneh dari keinginanmu menjadi mentri Agama atau pawang Hujan. Kamu yang tak suka menangis, kenapa malam ini jadi sangat sentimentil? Aku tahu ada yang tak benar, namun belum bisa meraba apa itu. Ah kamu, gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Ada apa sebenarnya?

“R, aku mencintaimu” kataku tiba-tiba.

“oh Madd? Haruskah sekarang kita berdebat lagi? Bukankah sudah kubilang, kita lebih dari itu semua. Aku menyukaimu sebagai seorang laki-laki, tetapi sebagai kekasih? Kamu sudah tahu jawabannya”

“ya, tapi kamu tak pernah bilang kenapa?”

Kuputuskan untuk berdiri, memutar sebuah lagu, Paris Combo, Fibre de vere. Lantunan lagu jazz lembut itu mulai merambati dinding flat murah hati ini. Diseberang lampu-lampu kota Paris sepertinya ikut menikmati deru saksofon ini. Semuanya terasa lekas temaram.

“sederhana saja, apa yang bisa kamu berikan Madd? Cinta? Puisi? Kata-kata? Hanya itu yang bisa kudapatkan darimu.”

“bukankah semua butuh cinta R? dan puisi salah satu cara menunjukannya”

“jangan melawak Madd, kamu itu mahasiswa jurusan astrofisika, bukan sastra!”

“bukankah kamu cerita ingin menikahi astronout?”

“tentu Madd, astronout, yang mampu memberikanku gaun Versace, parfum Calvin Klein, mobil Bentley dan sebuah vila di Monaco. Apa kamu sanggup Madd?”

“tidak”

“oh Madd, tolong, aku butuh kamu, MaMadd, seorang pria romantis yang bisa memberikanku semangat kapan saja. Please? Aku butuh laki-laki itu sekarang”

“ya ya ya ya, baiklah-baiklah”

Aku tidak tahu hubungan macam apa kami ini, seperti sepasang sahabat? Bukan, kami jauh lebih dari itu? Bersaudara? Aku harap tidak, setidaknya bukan anak bapaknya. Entahlah, semacam friend with benefit. Minus hubungan badan kami, adalah sepasang kekasih. Setidaknya begitu kupikir. Kemudian aku alihkan semua pikiranku keluar jendela. Memandang langit paris yang mendung dalam kegelapan. Menelan semua warna bintang. Sementara dikejauhan kelap-kelip Eifell merayap pelan. Tetapi tak ada yang lebih indah dari kamu. Dan kamu tak pernah sadar itu, karena kamu gadis luarbiasa polos, yang diciptakan Tuhan dari embun.

“kamu marah?”

“gak, kenapa harus?”

“maaf Madd, aku perempuan biasa, aku mencintai dunia, sedangkan kamu hidup dalam angan-angan”

“bisa kita tidak membahas ini?”

“ojo nesu” wajahmu merajuk.

Aku benci wajahmu yang merajuk itu, sungguh benci setengah mati. Wajah itu yang membuatku pecah berantakan dulu. Yang membuatku pontang-panting kerja keras sampai akhirnya aku berakhir disini. Di Prancis. Hanya untuk melihatmu merajuk sekali lagi.

“ya ya ya, lalu kenapa kamu menangis?”

“Piere mencampakanku”

“lagi?”

“ya, demi gadis kurus kering bodoh kurang gizi itu Madd!”

“maksudmu gadis kurus kering bodoh kurang gizi yang jadi model majalah Vogue itu?”

“bisa tidak kamu mendukung aku malam ini Madd?”

“aku hanya bicara tentang kenyataan R”

“arggghh! Kamu itu”

Entah kenapa kamu menangis lagi, kini lebih sesak, lebih tertahan dan aku tahu lebih perih.

“aku mencintaimu R”

“maMadd, please. Kita berdua tau kemana hubungan ini akan berakhir”

“aku tahu, dan aku akan selalu mencoba”

“kamu bodoh, pemimpi dan keras kepala”

“karena kamu”

“bukan, kamu hanya mencintai ide tentang ku Madd. Tentang R yang kamu sukai.”

“apa bedanya?”

“R mu adalah ia yang mau menerimamu tanpa syarat, mencintaimu dengan ikhlas”

“kamu tidak?”

“tidak Madd, aku hanya gadis biasa, aku tidak mungkin mencintaimu, aku mencintai dunia dan segala kerakusannya. Sementara kamu hidup dalam bayang-bayang”.

“bukankah hidup ini sekedar bayang-bayang”

“ tidak bagiku”

Kita sebenarnya sama-sama hidup dalam bayangan R. Kita sama-sama dibayangi pilihan dan logika masing-masing. Kamu hanya gadis sederhana yang merindukan kemapanan hidup, kepastian, sesederhana itu. Bukan yang lainnya. Sedangkan aku adalah pemimpi, tololnya masuk ilmu sains, untuk percaya ada dunia yang lebih ideal tanpa bom atom dan alkohol. Kamu dan aku, terjebak dalam ruang sempit di tepi sungai Seine, memandang mendung yang mulai bergulung. Meski dalam gelap malam, kita masih bisa merasai keangkuhan warna kelam mendung yang tak pandang bulu itu. Kusam dan muram.

“apakah kamu mencintaiku Madd? Maksudku benar-benar mencintaiku?”

“ya”

“dengan sepenuh hati?”

“tidak, itu konyol. Aku mencintaimu secara sederhana tanpa embel-embel”

“Kupikir Piere mencintaiku sepenuh hati, tapi kemudian dia menyakiti”

“dia menggigitmu?”

“tidak, diam-nya lebih kejam”

“lalu bagaimana kamu tau dia mencintaimu?”

“pokoknya tau saja, sikapnya, pandangan matanya”

Kamu diam, aku diam, kita semua diam. Menunggu datangnya suara. Paris Combo sudah lama usai bernyanyi, dalam kesederhanaan Aku mendengar Sia melantunkan Soon We’ll be Found.

Let’s not fight I’m tired can’t we just sleep tonight

Turn away it’s just there’s nothing left here to say

Turn around I know we’re lost but soon we’ll be found

Bukankah begitu R? Sebenarnya kita adalah orang-orang yang tersesat dan lupa jalan pulang. Kita tidak pulang bukan karena tidak bisa, tapi kita hanya terlalu malas dan mencari jalan kembali. Kita sudah duduk terlalu nyaman dalam ketersesatan, kita sudah hidup terlalu enak dalam tempat yang entah ada dimana lalu meyakinkan diri sendiri seolah-olah kita sudah dirumah. Padahal kita tersesat. Tetapi kamu adalah gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Tentu kamu tidak peduli dengan semua itu bukan?

“Madd, terima kasih ya?”

“untuk?”

“semuanya, selalu ada buat aku, dengerin aku”

“makasih doang, duit dong! Minimal terima cintaku kek ato ajak nikah gitu”

“Mamadd jelek” katamu sambil tersenyum.

Dan akhirnya kaupun tersenyum. Memberikan senyum yang dirindukan dunia, yang dirindukan malam, dan yang pasti kurindukan. Kita duduk berdua, tertawa, menikmati momen yang mahal ini. Tapi tidak lama. Karena setelah kau tertawa, pintu flat murah ini diketuk. Terdengar tok tok yang ritmis. Yang dinamis. Semacam perayaan atas sebuah keakraban. Siapa?

Kuputuskan untuk berdiri. Meninggalkanmu sendiri dengan semacam muka yang bertanya. Aku berjalan menuju pintu. Saat pintu kubuka sesosok tubuh berlari menuju kearahmu. Sementara di balik pintu berdiri sesosok wanita bertubuh tinggi kurus. Kau pun berlari bergegas menghampiri tubuh kecil yang juga bergerak menyongsongmu. Akhirnya sosok yang kau cintai itu muncul juga. Sosok yang kau cintai lebih dari aku. Muncul dan menjanjikanmu kedamaian. Aku diam, berpikir harus bersikap bagaimana.

“Piereeeeeeeeeeeee sayank, maafkan aku sayang, jangan pergi lagi aku mencintaimu” jawabmu sambil menangis. Kamu memeluk Piere erat, seolah-olah hanya kau dan dia di jagat raya.

“guk” Piere menjawab pelan.

Mantra Lambe Lamis

Langit sore itu seperti habis berkelahi dengan hujan. Sisa-sisa awan mendung pekat gelap masih asik menggantung diujung cakrawala. Sinar matahari yang bersembunyi dibalik awan-awan itu semakin usang. Cahaya matahari yang sendu, yang resah, karena segala pesonanya habis ditelan awan gelap, awan mendung yang senantiasa berdiri paling depan saat hujan akan datang. Sementara sinar matahari sore, selalu saja muncul malu-malu, tekun dan tak berubah sejak awal waktu diciptakan.

Kota Bleketek masih saja gugup atas basah yang diberikan hujan sebelumnya. Masih banyak sisa genangan air disana sini. Diujung jalan menuju gedung DPR, di tengah jalan menuju pasar, di pinggir jalan menuju pabrik, pokokny disegala jalan yang hendak menuju suatu tempat pasti ada lubang air yang menggenang. Pemerataan pembolongan jalan sudah menampakan hasilnya. Dimana-mana di kota Bleketek jalan pasti ada yang bolong. Dan masyarakatnya asik-asik aja dengan kondisi ini.

Perlahan-lahan awan mendung yang tadinya pekat itu membubarkan diri. Mereka seperti sudah puas melaksanakan aksi pembasahan bumi. Sudah tuntas menyuarakan kebasahan di bumi. Sudah lega menuntaskan hajat mereka untuk memberikan tetes air kepada bumi. Lalu dengan damai tanpa ribut-ribut kumpulan awan pekat itu menghilang. Diganti bias sinar sore yang sepertinya sudah mulai pasang aksi. Sudah berani muncul sendiri, dengan garang melukis warna di atap-atap bumi. Senja telah tiba, senja emas yang membawa cahaya malas telah datang.

Sementara langit sedang sibuk menyambut datangnya senja, dibumi, dibawah mereka. Ada sebuah pertigaan yang paling ramai di kota Bleketek. Pertigaan paling prestisius yang ada di kota Bleketek. Karena hanya pertigaan itu, lubang air paling sedikit berada. Pertigaan kebanggaan kota Bleketek. Dipertigaan itu tampak seorang pemuda yang gendut, duduk, kepalanya mendongak menantang langit. Sendiri, ditengah buas ramai kota yang tak pernah ramah.

Sudah dua hari dua malam Mamadd tidak tidur barang semenit. Konon katanya ia sedang belajar ilmu kebatinan yang haibat betul. Ilmu yang konon bisa membuat orang-orang hanya bisa berkata-kata manis. Dari mana ceritanya Mamadd bisa memperoleh pengetahuan ilmu ini juga menjadi misteri. Konon dari salah satu surat kabar ternama ibu kota “Sililit-sebanyak selulit”, Mamadd mendapatkan cerita Ilmu itu saat sedang mengembara di negeri Kutang. Mana yang benar orang-orang dikota Bleketek tidak ada yang tahu.

Mamadd duduk di bawah lampu merah pertigaan pasar dan gedung DPR yang terhormat. Sepanjang jalan sebelum lampu merah, orang berhenti beramai-ramai memandang Mamadd, ada pak tua diatas becak, ada bini muda pejabat dalam mobil Ferari, ada mahasiswa cabul diatas motor bahkan pengemis musiman berhenti barang sebentar untuk melihat kejaiban Mamadd.

“ngapain orang itu?” kata salah seorang oknum Ambtenaar yang bolos kerja.

“Mamadd dengan dua de pak” kata pedagang Aqua.

“Mamadd dengan dua de? Mamadd siapa?” Ambtenaar itu tanya lagi.

“itu pak, Mamadd yang suka kencing berdiri di pinggir kali, aqua pak? ” kata pedagang Aqua .

“oh Mamadd yang suka makan di ke ef si itu?” Ambtenaar itu tanya lagi.

“iya pak dia, Tisu pak?” kata pedagang Aqua.

“kenapa dia?” Ambtenaar itu tanya terus.

“katanya kumat gilanya, rokok pak?” kata pedagang Aqua.

“wah Bahaya! Nanti aku ketularan gila! Gak dapat gaji ke 16! Cilakak! Harus cepat-cepat pergi dari sini!” kata Ambtenaar itu bergegas pergi menjauh.

“wooh Ambtenaar keree! Tanyak doang! Cupu lu” kata pedagang Aqua.

Ambtenaar itu pergi ngebut naek Ducati Multistrada full custom dengan kecepatan yang wus wus wus nyaris tiada henti, hampir menabrak bakul rujak, tapi dengan sigap berhasil menghindar. Saat Ambtenaar itu pergi, orang-orang yang lain berdatangan, semakin ramai mendekat. Malah ada ibu-ibu yang membuka warung dadakan, fans dadakan, guide dadakan, ojek dadakan, copet dadakan, dan penggalangan koin peduli Mamadd dadakan. Pokoknya pertigaan itu ramai sekali. Kota Bleketek jadi ramai, ramai pertunjukan.

Tapi Mamadd tetap cuek, tetap sontoloyo, tetap cool abies. Mamadd masih duduk sendiri dengan mulut mangap dan kepala mengadah ke atas langit. Tangannya terlipat didada, matanya tertutup, mukanya kumuh, pakaiannya compang-camping, badannya bau. Pokoknya Mamadd sudah sah seperti para penganut ilmu hitam di film-film sinetron indosiar jaman dulu. Mamadd sepertinya tidak peduli dia tetap saja melanjutkan diamnya. Seolah-olah dipertigaan itu hanya ada dirinya sendiri dan segala ramai riuh orang-orang itu tidak ada. Mamadd mengamini kesunyian yang gaib.

Seorang gadis datang tergopoh-gopoh, ia datang dengan pria berseragam. Menunjuk-nunjuk tubuh Mamadd. Orang-orang diminta minggir oleh orang berseragam itu, minta diberi jalan. Tapi pertigaan itu sudah terlalu ramai, sudah terlali sesak, sudah terlalu banyak orang-orang. Mungkin ada puluhan ribu, ratusan ribu entahlah. Awalnya mereka hanya datang untuk melihat Mamadd. Tetapi karena disekitar pertigaan jalan itu muncul warung-warung dadakan. Orang jadi lupa pulang, mereka semua nongkrong menunggu aksi Mamadd selanjutnya.

“heh minggir! Petugas mau lewat” kata pria berseragam itu.

“dih enak aja! Antri dong emang ente pikir ane kagak ngantri pengen liat”

“saya ini petugas, kamu mau ditindak karena menghalangi tugas petugas yang sedang bertugas?” kata pria berseragam itu.

“emang ente pikir ane siapa? Saya ini pengantri yang sedang mengantri dalam antrian! Jangan maen-maen! Mentang-mentang petugas ente bisa seenaknya?” kata orang itu.

Gadis yang tadi ada dibelakang petugas itu kemudian maju. “maaf pak, saya ini pacar orang itu, orang yang sedang ngelmu itu”. Awalnya orang yang berdebat dengan petugas berseragam itu tidak peduli, tetapi orang-orang didepan antrean berteriak teriak. Membenarkan perihal hubungan si gadis dengan Mamadd.

“oi! Itu R! pacarnya si Mamadd” kata orang dikejauhan.

“R? lha R yang katanya ninggalin Mamadd pergi ke planet Mars itu?” jawab orang dibelakang.

“iya itu!, kasih jalan! Kasih jalan!” kata orang dikejauhan.

Akhirnya R dan pria berseragam melalui jalan sempit di sekitar orang-orang itu. Jalanan yang dipenuhi oleh ratusan ribu orang. Yang panjang melingkar seperti antrean tiket sepak bola. R dan pria berseragam terus melaju melalui jalan sempit itu. Setelah tiga jam yang melelahkan R akhirnya sampai di tempat Mamadd. R heran mengapa sampai selama itu untuk berjalan melalui jalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi bukankah di kota itu kemacetan adalah hal biasa, apalagi didekat pertigaan. Kota selalu punya apologi terhadap kemacetan.

Setibanya di dekat Mamadd, R terkejut bukan kepalang. Mulut Mamadd jadi sangat lebar, penuh dengan air, mungkin air hujan yang datang terus-menerus dua hari terakhir. Didalam mulut Mamadd bahkan ada jentik-jentik nyamuk, telur kecoak dan alahmak sandal bekas. Mungkin ada orang iseng yang melempar sandal kemulut Mamadd. Tapi bukan hanya itu yang membuat R terkejut, muka Mamadd menjadi terang bersinar meski kotor dan kusam, rambutnya putih gondrong, janggutnya lebat memutih, padahal Mamadd baru dua hari di pertigaan itu.

“Mad, Mamadd bangunlah sayang, ini aku R, bangunlah sayang” kata R seraya membersihkan muka Mamadd dengan tisu basah.

“hei sodara, dengar kata nona ini, sodara harus bangun, sodara telah melanggar ketertiban umum, sudah mengganggu stabilitas negara, sudah merusak tatanan umum” kata pria berseragam itu.

“Mamadd sayang ayolah bangun, lihatlah, ini aku gadismu, aku tak akan pergi ke Mars, aku akan berada disampingmu, tidak akan meninggalkanmu” kata R mengiba. Matanya yang indah mulai basah. Dengan sekuat tenaga ia berusaha nampak tegar, tapi sekuat-kuatnya ia menahan, toh ia terlihat sangat khawatir.

“heh Sodara! Ayo bangun berhenti bercanda, yang anda lakukan ini adalah pelanggaran hukum berat. Semacam penistaan konstitusi” kata pria berseragam itu.

“apanya yang melanggar pak?” kata seorang penonton dibelakang.

“ya ini, mengganggu kenyamanan publik, meresahkan warga masyarakat, menggunakan fasilitas umum, membuat macet dan sebagainya dan sebagainya” sahut pria berseragam itu mantab.

“ah bapak lebih mengganggu, lebih meresahkan, seenaknya aja maen peluit suit suit” jawab sebuah suara.

“heh siapa itu? Hayoh maju! Ini pencemaran nama baik petugas! Biar jelek-jelek gini saya gak punya rekening gendut! Saya gak bisa disuap untuk jalan-jalan ke akherat! Saya ini petugas bersih! Jangan maen slonong boy gitu kalok bicara. Sontoloyo!” teriak pria berseragam itu.

Syahdan bahkan R dan petugas berseragam itu pun tidak mampu membuat Mamadd bangun dan berhenti bertapa. Waktu berjalan dengan cepat, kerumunan yang tadinya ratusan ribu itu berubah jadi jutaan orang, yang awalnya hanya dua hari berlalu sekarang sudah menjadi tiga tahun, Mamadd dengan tabah berlaku tapa selama itu tanpa makan dan minum. Kelakuan Mamadd menjadi berita umum diseluruh dunia. Mengalahkan insureksi yang terjadi di Tunisia, revolusi di Mesir, Banjir bandang di Australia, terpilihnya kembali Nurdin Halid, bahkan mengalahkan berita konser Justien Bieber di negara itu. Pokoknya Mamadd jadi semacam pemberitaan yang mahadaya. Luarbiasa.

Tepat setelah tiga hari, tiga bulan, tiga jam dan tiga puluh menit berlalu sejak Mamadd melakukan tapa brata itu. Mamadd akhirnya membuka mata, menundukan kepala, membuang isi mulutnya yang kini bertambah banyak. Ada sandal bekas, tiket sepak bola, celana dalam, botol aqua, majalah bekas dan masih banyak yang lainnya. Mulut yang lebarnya seluas lapangan kasti itu, perlahan-lahan mengecil, dan kembali keukuran semula.

Para penonton yang berjuta-juta itu ramai sendiri, riuh dengan pertanyaan yang terpendam, penasaran dengan Mamadd. Dalam riuh keramaian yang seperti dengung suara lebah itu. Ukuran mulut Mamadd kembali menjadi normal, ia berdiri tegak, membersihkan tubuhnya yang penuh sarang laba-laba, bekas kencing, grafitti dan selebaran sedot WC. Melihat itu semua, para wartawan lokal dan interlokal semua merangsek maju dan berusaha berbicara dengan Mamadd. Termasuk juga R dan petugas berseragam yang sudah menunggu selama tiga hari, tiga bulan, tiga jam dan tiga puluh menit sejak Mamadd melakukan tapa brata itu.

“sabar sodara-sodara sekalian” ujar Mamadd kalem. “biarkan saya minum dulu dan bicara sama saya punya pacar”.

“halo sayang, apa kabar? Katanya mau ke Mars? Gak jadi?” kata Mamadd bertanya.

“jadi-jadi gundulmu! Gak lihat apa aku khawatir! Huuu uuu uu” jawab R sambil menangis.

“lho kok gitu, kan kamu sendiri yang bilang, bahwa kamu ingin kesana” kata Mamadd. “bukankah kamu sendir yang bilang, aku ini goblok, tengik, keparat, jancuk, asu dan sebagainya dan sebagainya”

“ya itu kan dulu, kan aku gak nyadar kalo ngomong gitu sama kamu huuu uuu uu “ jawab R.

“nah itulah, bukankah kata-kata seringkali meluncur tanpa kendali?” jawab Mamadd. “ yang seringkali tidak disadari menyakiti orang lain”.

“untuk itulah sodara-sodara sekalian” lanjut Mamadd dengan bergaya “melakukan tapa mantra lambe lamis ini”

“what is tapa mantra lambe lamis mister Mamadd?” tanya seorang wartawan asing.

“ you know lah, tapa mantra lambe lamis, is somekind of laku sepi ing pamrih untuk getting some wisdom dalam keadaan tiada bicara and yet open his cangkem” kata Mamadd.

“untuk apa?” tanya wartawan yang lainnya.

“seringkali kita, atau saya, atau anda, atau siapapun yang kebetulan punya mulut. Terlalu banyak bicara, terlalu banyak bersuara, terlalu banyak ngomong, terlalu banyak berdebat, terlalu banyak mengumpat, terlalu banyak bergunjing, terlalu banyak berencana dan terlau banyak dan sebagainya dan sebagainya” Mamadd diam sebentar, menggaruk pantat dengan tangan, lalu mencium tangan yang menggaruknya tadi.

“bau, and yet, kita seringkali lupa untuk mendengar! Dan yang paling penting! Kita seringkali lupa untuk berkata baik! Berkata benar! Berkata jujur! Berkata Tulus! Berkata Sederhana! Berkata lurus! Berkata jelas! Dan sebagainya dan sebagainya!” jawab Mamadd.

“dan untuk itu tapa mantra lambe lamis, dilakukan untuk memberikan semacam pengetahuan, semacam kedigdayaan, semacam pencerahan dan semacam macam lainnya” kata Mamadd semakin pelan.

“minta aer, saya haus” ujar Mamadd lalu lanjut. “tapa mantra lambe lamis akan membuat pemiliknya hanya berkata yang benar, hanya berkata jujur, hanya berkata santun, hanya berkata tulus, hanya berkata sopan, hanya berkata lurus, hanya berkata kebenaran, dan hanya berkata kesederhanaan!”

“it is posible mister Mamadd?” kata seorang wartawan.

“Sure! In your dream” kata Mamadd lalu pergi minggat.

Meninggalkan penonton yang berjuta-juta itu kebingungan di pertigaan paling ramai di kota Bleketek.

Bondowoso, 30 Januari 2011.

Tiga Puluh

Hari ini Mamadd dengan dua de berulah lagi. Kemarin dulu dia sibuk bertapa dibawah pertigaan lampu merah. Sekarang dia jalan-jalan di depan Gedung Perwalian Ingatan (DPI). Mamadd berjalan layaknya pragawan yang sedang membawakan pakaian mahal nan megah. Bedanya, Mamadd hanya pakai celana cutbray warna hijau terang, kemeja safari warna biru tanpa dikancing, tubuhnya yang tambun berlemak penuh selulit bergelambir kemana-mana. Mamadd sedang kumat.

Konon katanya Mamadd datang ke DPI untuk mengajukan semacam hal yang namanya protes. Ya seperti biasa, hidup Mamadd yang kacau balau, sontoloyo, kuper, sengit itu seperti kurang greget kalo gak pake sensasi.

“hari ini aku mau protes pada DPI” kata Mamadd dengan gagah “agar tanggal tigapuluh dihapus saja dari semua kalender!” lanjutnya lagi. Ada apa ini? Mamadd selalu saja begitu, selalu gemebyar rame padahal kosong. Dipinggir jalan orang-orang ramai berkumpul. Senang melihat Mamadd, senang melihat orang mempermalukan dirinya sendiri, padahal orang-orang yang menonton itu sebenarnya tak punya malu.

“ealah, kenapa Madd?” kata bakul rokok.

“ya agar dicapai suatu kesepakatan dimana orang-orang tidak perlu mengingat tanggal tiga puluh” kata Mamadd acuh.

“wo gendeng! Masak tanggal tigapuluh mau dihapus?” kata hansip.

“kamu yang gendeng, kok mau-maunya ada tanggal tiga puluh” kata Mamadd teriak teriak. “Cuma orang goblok yang suka tigapuluh, tiga puluh itu tanggung jawab, dewasa, hutang, janji” kata Mamadd bersikeras “life begin at thirty?, mblegedes! Sontoloyo! Siapa yang berhak menentukan itu semua?”

“semua orang wajib dewasa Madd” kata guru PMP

“semua orang kecuali Aku!” kata Mamadd.

“semua orang pasti akan berumur tigapuluh Madd” kata guru ngaji.

“tidak, aku akan langsung berumur tigapuluh satu”. Kata Mamadd.

“hah bertele-tele, kutu kupret, babi gendeng! Hayoh jelaskan kenapa harus tiga puluh” kata seorang preman.

“wealah! Dasar! Orang egois, manusia tengik, gegar sejarah! Pasti dulu tiap pelajaran sejarah tidur! Tiap ada tragedi liat sinetron! Jadi nya gini, tengik culas dan gak mau tau!” kata Mamadd.

“siapa yang tengik dan culas Madd, gak usah banyak bacot!” kata tukang becak.

“heh kalian manusia tengik” ujar Mamadd, lalu berdiri diatas tugu gedung DPI. “kalian tahu? Pada tanggal 30 Mei 1619 VOC merebut pelabuhan Jakatra di pantai utara Pulau Jawa.”

“gak penting! Gak bikin kenyang!” kata calo tiket berteriak.

“gak penting gundulmu!” teriak seorang kakek tua. “anak muda tolol macam kamu, tahu apa soal sejarah? Soal membela tanah air? Soal memperjuangkan kemerdekaan!” jawab kakek yang ternyata pensiunan veteran yang sudah kecewa nasibnya dikadali pemerintah gak tau diri.

“pak’e sabar! Sabar! Nanti jantungnya kumat!” ujar seorang anak perempuan yang mungkin cucunya. “jangan sakit dulu Pak’e, rumah sakit masih mahal, biaya pengobatan masih selangit, kakek jangan mati dulu, setidaknya sampai nanti, pemerintah memberikan tunjangan pahlawan ke tiga belas” ujar si gadis kalem.

“DIAAAM! DIAAAM SEMUA! Dasar semua kafir! Semua sesat! Pemuja setan! Syahwat! Bisa-bisanya kumpul disini semua! Kapitalis! Yahudi! Ini pasti ingin merongrong agama dan sunah!” teriak orang bersorban dengan janggut lebat. “jadi ada apa disini, tolong saya dikasih tahu, sebelum menebas leher orang kafir. Lanjutnya singkat.

“wooo sok alim lu!”

“sok beragama koe”

“sok tauuu!”

Kondisi makin ricuh. Makin ramai, para bakul makanan, tukang copet, hansip dan perangkat negara saling berdebat. Saling teriak. Saling bicara. Ingin pendapatnya diperhatikan. Ingin suaranya didengar. Semua ramai, semua sontoloyo, dan semuanya seperti binatang.

“hehe hehe hehe hehe he he”

“oi Madd! Kenapa ketawa! Dasar wong gendeng!”

“ya lucu! Liat kalian”

“ini kan gara-gara kamu, ngomong gak penting”

“apanya gak penting?”

“ya omonganmu soal tanggal tiga puluh!”

“kenapa gak penting?”

“lhaaaa! Kenapa juga kami harus ingat ada apa tanggal 30 Mei 1619?” ujar orang itu. “padahal sekarang kan tiga puluh januari duaribu sebelas!”

“emang benar! Bukan masalah tanggal berapa, tapi apa yang terjadi tanggal segitu!”

“kan sudah kami bilang, gak penting!”

“buatku penting! Saat itu pasukan kompeni datang ke Indonesia dan menaklukan batavia, membunuh banyak bangsa kita dan mengambil alih tanah bangsa kita”

“buat kami tidak penting”

“sapa suruh kalian mikir itu penting”

Orang-orang jadi pada ribut sendiri, mulai berpikir, memang benar. Mamadd tidak menyuruh mereka untuk mementingkan tanggal tiga puluh. Sama saja seperti tanggal duabelas, tanggal duasatu. Orang-orang mulai pusing, mulai gerah, mulai panas. Lalu tiba-tiba dari gedung DPI yang terhormat tergopoh-gopoh dua orang yang tak kalah gendud dari Mamadd. Tak kalah tengik dari Mamadd. Dan yang jelas lebih kaya dari Mamadd.

“sodara-sodara, tenang, sebagai anggota dewan yang terhormat” kata orang itu. “semua masalah pasti bisa diselesaikan seara konstitusional, secara beradap, kalo perlu kami akan menggunakan hak poling kami” kata anggota dewan tersebut.

“buuuuuuh! Telat!”

“sok pinter!”

“sok penting”

“sok peduli, padahal rapat kerjaannya tidur!”

“sok! Waktu kerja malah studi banding, maling lu!”

Orang orang malah menumpahkan kekesalan kepada Anggota dewan tersebut. Mukanya merah. Takut. Berkeringat. “tenang sodara-sodara sekalian, kami dari Dewan Perwalian Ingatan akan membentuk Satgas Kenduri” kata anggota dewan tersebut. “kami akan mengusut tuntas segala permasalahaan ini. Soal apa tadi? Oh iya, soal tanggal tigapuluh”

“boros gak guna!”

“satgas memble!”

Tiba-tiba Mamadd yang berada di atas tugu DPI meloncat dan salto diudara. Mendarat tepat didepan anggota dewan yang sekarang sama sekali tidak terhormat itu. Semua orang terpukau, semua orang diam, semua orang memperhatikan Mamadd.

“hei kamu kacung!” kata Mamadd menunjuk muka anggota dewan tersebut. “iya kamu, kacungku kan? Babu? Pembantu? Pelayan?”

“heh! Jangan kurang ajar! Saya ini anggota dewan yang terhormat!” kata nya “jelek-jelek gini saya sudah habis sawah 800 hektar supaya terpilih jadi anggota dewan, enak aja situ panggil saya”

“lho, kerjaanku kan mewakili aku di sana, di DPI, ya kamu jadi kacung dong! Hayo jongkok!”

“iya jongkok!”

“pelayan!”

“kacung”

“babu”

Melihat kondisi massa yang makin tak terkendali. Si anggota dewan terpaksa jongkok. Memang benar mungkin, hanya dalam keadan marah, dalam keadaan tertekan dan melawan. Masyarakat akan didengar oleh wakilnya.

“dengar ya? Titahku ini, titah dari rakyatmu, rajamu, yang kamu wakili, yang sering kamu lupakan, yang sering kamu tinggal tidur, yang sering kamu tinggal reses” uajar Mamadd sambil menunjukan jari telunjuk ke muka anggota dewan tersebut.

“kamu, babuku, pelayanku, kacungku! Dengar! Sekarang ini tanggal tigapuluh, persetan bulan apa. Kamu ingat? Tanggal tiga puluh Mei 2007 ada penembakan di Alastlogo, Pasuruan” mata Mamadd merah menahan marah, perutnya yang gendut menegang, dan badanya tegak berdiri.

“kalo dulu kompeni rebut tanah milik pribumi, kini militer yang bunuh rakyat sendiri. Dimana keadlian itu? Hah?” kata Mamadd teriak. “ ah jangankan peduli, ingat pun kau tak mungkin!”

“kamu tahu? Kerjamu yang gak becus sebagai Dewan Perwalian Ingatan! Yang mustinya ingat, yang mustinya tidak lalai, yang mustinya tidak lupa, gagal kamu laksanakan.”

“Empat orang yang mati tanggal tiga puluh itu akan terus menunggu keadilan!, akan terus menunggu pertanggung jawaban!” ujar Mamadd berapi-api.

“kalo kamu tidak bisa menuntaskan permasalahan ini, kalo kamu tidak kuasa menyelesaikan masalah ini! Kamu punya dua jalan! Satu kamu harus mundur!”

“tapi.. tapi.. tapi..” ujar anggota dewan itu mengiba. Mukanya melas.

“ya ya ya, saya tau, saya paham, orang tengik, gak tau diri macam kamu mana berani mundur untuk sebuah tanggung jawab?” kata Mamadd tegas. “oleh karena daripada itu, maka Kamu babuku, pelayanku, kacungku! Dengar! Harus menghapus tanggal tiga puluh disemua bulan, disemua kalender, agar tidak ada tanggal tigapuluh, agar tidak ada yang ingat, agar tidak ada yang mengenang, dan yang jelas! Tidak perlu ada hutang! Cukup sekian terima kasih.”

Setelah mengucap itu Mamadd, mundur, kabur, hilang.