Tampilkan postingan dengan label obsesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obsesi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2011

Surga dan Sedikit Kesepakatan Masa Depan


"If you have a garden and a library, you have everything you need."
— Marcus Tullius Cicero —

Apa itu surga? Buat saya surga adalah saat bersama orang yang kita cintai, membaca buku sambil meminum kopi pahit, memandang senja di sebuah pematang sawah, alunan khusyuk tartil seorang anak mengaji, memandang mata orang yang kita cintai di pagi hari saat ia bangun tidur dan berkata "Aku suka rambut lusuhmu, caramu menguap, mata bengkakmu dan masam wangimu,"

Adalah Marcus Tullius Cicero, seorang orator, pengacara, filsuf dan juga pemikir paling penting romawi. Ia berasal dari keluarga terdidik yang mencintai pengetahuan. Lewat membaca dan menulis ia mengembangkan bakatnya sebagai penerjemah, linguis, dan juga penulis yang handal. Beberapa karya terbaiknya adalah kumpulan surat untuk sahabatnya Aticcus, sebuah kontenplasi sebagai anggota senat romawi dan juga tulisan pemikirannya terhadap alam.

Untuk Cicero, membaca buku, berpikir tenang, berkebun dan menikmati sore hari di Roma adalah sebuah kemewahan setara surga.

Tapi surga kecil saya untuk saat ini adalah sebuah kamar kumuh dengan berbagai buku berserakan rapi, sebuah jendela besar menghadap sawah, omelan ibu tiap pagi, komentar teman yang cadas dan lagu-lagu moody di earphone. Bagaimana dengan kalian?

Sabtu, 25 Juni 2011

Buku Dan Kerakusan Diri


Saya benci keramaian. Apalagi keramaian yang diisi dengan banyak orang banal atau dalam terminologi saat ini gaul. Saya merasa terasing di antara mereka. Oleh karena itu saya membenci mall, konser musik band populer, bandara dan pernikahan. Tapi jika ada keramaian yang sudi saya hadiri. Well, itu adalah kenduri langsung Rage Againt The Machine, pengajian live Pure Saturday, kuliah umum bersama Amien Maalouf atau pameran buku. Untuk yang terakhir saya rela berdesakan dengan sejuta orang sekaligus.

Tiga minggu lalu Jember kedatangan tim Bukabuku dari Jogjakarta. Sebuah event organizer yang bergerak dalam bidang pameran buku. Saya sendiri kenal baik dengan mas Tri Prasetyo, atau TP, direktur eksekutif dari Bukabuku Production. Dengan semangat juang serupa gerilyawan Maoist Nepal saya mendatangi Gedung Soetardjo lokasi dimana pameran itu diadakan. Di pintu masuk saya bertemu mbak Elok, mantan bos saya dulu saat nguli bersama Bukabuku, yang datang bersama putrinya.

"Lho urung lulus Dhan?" katanya.

"Durung mbak, sik arep ujian,"

"Ket rong taun wingi ngunu, sampe aku mbrojol anak awakmu urung lulus pisan," lanjutnya seperti petasan banting.

"eh wes mbak yo, aku tak masuk dulu,"

Saya tahu mbak Elok tidak akan berhenti sampai di sana. Dia bakal nanya apa saya masih sholat, kapan nikah, sudah punya pacar dan sebagainya. Sebagai orang baik, mbak Elok punya cara menyebalkan dalam bertanya. Oleh karena itu saya memutuskan kabur sebelum ditanya yang macam-macam.

Di pintu masuk saya bertemu mas TP. Dia masih saja seperti dulu, kurus kering dan workaholic. Dalam banyak hal saya mengagumi pribadi mas TP yang keras. Ia punya jabatan tinggi dalam Bukabuku, tapi tak membuat dia segan untuk jaga parkir, mengangkut sampah, dan mengusung kardus. Ia sepertinya berbakat menjadi direktur sekaligus kuli pasar.

"Dhan," kata mas TP wajahnya tampak sangat berbinar dan bijak,

"Ya mas?"

"Raimu panggah welek jeh, ra mutu tenan," katanya.

Saya sebenarnya ingin menginjak muka dan menggampar mas TP. Namun karena saya masih sadar diri atas fakta empiris yang memang ada saya tahan. Selepas cipika-cipiki saya langsung berhambur ke area pameran buku. Seperti yang saya duga sebelumnya, pameran buku di Jember di dominasi oleh buku-buku keagamaan (islam). Seolah apa yang ada di Al Quran tak cukup dan mereka butuh 'text book' penunjang demi menambah keimanan mereka. Buat saya ini adalah tanda-tanda senjakala keimanan.

Tapi tentu saja saya tak ingin membalas hal itu. Terlalu banyak hal yang lebih penting daripada sekedar membela atau menjaga kekuasaan tuhan. Saya hendak berburu buku langka. Dimana lagi jika bukan di Yusuf agency. Bagi para penggila buku yang sudah malang melintang di pameran buku. Nama Yusuf Agency sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai satu-satunya juragan buku yang bisa memuaskan nafsu birahi penggila buku klasik, murah dan langka. Mengapa demikian?

Berawal pada medio 2004 dimana pak Yusuf, pemilik usaha ini melihat peluang usaha dari tumpukan buku di sebuah gudang percetakan. Berbekal kenekatan ia membeli tumbukan buku itu berdasarkan kardusan. Catat KARDUSAN, terlepas dari isi dan penulis bukunya, ia membeli sekitar 20 kardus buku ukuran besar dengan harga 1 juta rupiah.

Lantas ia mengikuti pamrean buku di Jogja. Ia lantas menjual buku dengan harga yang sangat murah, sekitar 5.000-50.000. Ia menjual buku itu berdasarkan insting dan kondisi buku saja. Tak disangka jualannya laku keras. Sampai beberapa tahun kemudian ia bisa membuka sebuah gerai toko di dekat UIN Sunan Kali Jaga Jogja di sebelah Social Agency.

Tapi saat saya datang pada hari pertama pameran buku gerai Yusuf belum buka. Baru pada hari kedua mereka buka. Nah ini dia salah satu foto gerai dari Yusuf Agency. Lihat harga yang tertera? Anying sekali kan? Di tumpukan harga buku 5.000 itu saya menemukan karya klasik Gabriel Garcia Marquez yang berjudul Calidas, The Space Betwen Us karya Thrity Umrigar, Puisi Ajip Rosidi dan The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde.

Di satu sisi saya senang karena bisa membeli buku-buku kanon tadi dengan harga murah. Namun di sisi lain saya muntab dan jengah karena buku tidak dihargai secara semestinya. Saya pernah membaca kegelisahan semacam ini juga dirasakan oleh Alfathri Adlin. Salah satu mantan redaktur jalasutra, ia kesal karena masyarakat Indonesia suka sekali membeli barang mahal semacam gadget hanya untuk gaya-gayaan. Namun enggan sekali membeli buku yang relatif lebih murah untuk pengetahuan. Saya selalu meyakini, bangsa yang gagal memaknai nilai buku sebagai cara perubahan sosial, maka bangsa itu akan hancur segera.

Di Yusuf Agency sebenarnya ada beberapa buku yang sangat menarik. Seperti sejarah keagamaan dunia versi Lux, buku tentang fremasonary di Indonesia dan sebuah buku karya Maman S Mahayana tentang kritik cerpen.Tapi karena keterbatasan uang yang saya miliki, saya terpaksa menghemat keuangan saya dan beralih pada gerai toko berikutnya. Di sana saya menemukan buku klasik Naguib Mahfouz yang berjudul Lelaki dalam Pasungan, sebuah buku novel Ernest Hemmingway dan buku tentang laporan kompas mengenai orang Tionghoa. Dengan uang 25.000 saja saya bisa membawa semua buku itu pulang.

Di toko berikutnya saya menemukan buku terbaru dari begawan kajian budaya dan posmodernisme Indonesia, Yasraf Amir Pilliang, Multiplisitas dan Diferensiasi. Tanpa ragu saya menawar buku itu. Kebetulan ada teman saya yang datang, Qomar, seorang pemain futsal dan wining eleven kelas wahid. Saya paksa dia untuk membeli buku itu. Dia setuju meskipun awalnya enggan. Tentu saja saya ingin dia membeli biar suatu saat saya bisa meminjamnya hehe.

Di tempat yang sama saya juga menemukan buku klasik dari Anne Frank. Seorang gadis yahudi yang dikenal dunia karena catatan hariannya. Ia meninggal di kamp konsentrasi Naxi Jerman. Selain itu saya juga menemukan sebuah buku Novel yang berjudul Saudagar Buku Dari Kabul karya Asne Seierstad. Hari itu saya membeli banyak buku. Di bawah ini gerai buku itu.




Ini hasil perburuan saya hari itu.

Sebenarnya di rumah saya memiliki beberapa buku. Well, saya memang sangat menyukai buku. Jika kalian bertanya apa semua buku itu saya baca. Jawabannya iya. Jika anda tanya sekali lagi apakah saya hapal dan ingat isi buku itu. Tentu saja tidak. Beberapa buku itu saya beli karena kebutuhan riset tulisan. Beberapa karena memiliki nilai historis dan yang lain karena saya sangat suka buku itu.

Kegemaran saya membaca mungkin adalah warisan dari Ibu dan Bapak saya. Ibu saya adalah penggemar berat karya Ko Ping Ho. Di rumah saya yang lama kami punya lengkap semua bukunya. Sedangkan bapak saya, sebagai muhamadiyin, mengoleksi banyak sekali buku-buku kajian hadis dan pemikiran dari timur tengah. Pernah ada cerita lucu saat bapak saya menemukan buku Irsyad Manji dan Ali Syariati di kamar. Bapak mendudukan saya dan bertanya dengan serius.

"Awakmu sik islam kan?"

"Iyo," jawab saya heran.

"Isih percoyo nabi Muhammad kan?" lanjutnya.

"Iyo, opo'o pak?"

"kok Moco buku iki," sambil menunjuk buku itu.

Sontak saya tertawa lebar. Saya bilang saja buku-buku itu hanya buku bacaan ringan. Tak menjadikan saya liberal atau syiah. Bapak belum percaya, dia minta saya buang buku itu. Tentu saya menolak, kami sempat bersitegang tapi akhirnya dia menyerah. Buat saya buku, terlepas pengarangnya siapa, tak punya dosa. Bukan salah J.D Sallinger jika kemudian Lee Harvey Oswald, seorang pembunuh, mengakhiri John F Kennedy karena membaca cathcer in the rye. Buku adalah benda mati, manusia lah yang melakukan interpertasi terhadapnya.

Saya hanya punya satu lemari buku. Sisanya tak cukup saya taruh di meja belajar saya. Ini dia buku-buku itu. Terakhir saya ingat saya punya sekitar 300 an buku. Gabungan koleksi warisan dari punya bapak dan kakak saya. Ini dia mereka.


Kumpulan buku yang berantakan sempat mau dikilokan

Lalu saya kadang bertanya. Buat apa buku sedemikian banyak? Tak membuat saya lulus tepat waktu apalagi dapat pacar. Dalam diam saya seringkali merutuki kegemaran saya yang satu ini. Bagaimana tidak? Seringkali saya harus menghemat dengan tidak makan dan jajan, dimana hal ini hobi saya, untuk membeli buku. Apalagi jika buku itu hardcover dan langka sudah pasti akan mahal. Belum lagi jika buku itu tak ada di Jember, terpaksa saya harus pergi ke Jogja atau surabaya untuk mencari buku itu. Well, i think i'm mad!

*buku sepertinya adalah kutukan cinta saya yang pertama. Entah dengan anda.

Rabu, 02 Juni 2010

Skateboard, Budaya Pop Tandingan

The globalization of culture – the effect upon culture of the “increasing connection

Of the world and its people” – is perhaps nowhere more visible than in the changing

Nature of the relationship between the world’s youth and their sense of identity

(Solomon & Scuderi 2002:13)

Sekelumit upil tentang budaya anak muda

Keberadaan remaja selalu menjadi bagian yang menarik untuk dibahas. Remaja adalah mereka yang mengalami periode transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, biasanya berumur dari 10-20 tahun. Secara definitif remaja memiliki 2 ciri yaitu berupaya untuk mencapai tujuan dari apa yang diharapkan oleh norma budaya yang berlaku, dan tumbuh dengan cepatnya perkembangan mental, emosi dan sosial.[i]

Dalam usaha untuk mencapai kesesuaian dengan norma budaya yang berlaku, remaja seringkali mengalami benturan pemikiran dan keinginan. Sehingga melahirkan sikap-sikap pemberontakan terhadap norma-norma tersebut. Norma budaya yang telah mapan atau establish culture kemudian menjadi hal yang dirasa mengekang kebebasan dan ekspresi dari kaum muda tadi. Lahirlah perlawanan budaya (counter culture) yang dilakukan oleh kaum remaja. Dan kebudayaan baru yang dilakukan oleh remaja inilah yang kemudian disebut dengan youth culture.

Youth culture atau kebudayaan remaja/anak muda adalah semua hal yang menjadi kebiasaan, gaya hidup, perilaku dan pemikiran yang dilakukan oleh remaja/anak muda. Atau menurut Dick hebdige [ii] youth-based subculture with distinct styles, behaviours and interests. Kebudayaan remaja/anak muda adalah sebuah produk zaman yang akan selalu ada dalam setiap periode waktu. Keberadaanya selalu ditandai oleh semangat perlawanan dan gejolak kawula muda dalam menunjukan eksistensi mereka.

Perlawanan ditunjukan dalam bentuk cara berpakaian (fashion style), bahasa dan istilah (language style), modifikasi kepemilikan benda, ragam jenis musik, dan tempat nongkrong. Perlawanan yang dilakukan adalah bentuk penolakan atas institusi sosial (hukum, peraturan hidup, norma, agama dan adat istiadat) dan kemapanan (kemewahan, kemudahan, fasilitas) yang dianggap tidak sesuai dengan pola pikir para remaja saat itu.

Keberadaan mereka yang menolak institusi sosial dan kemapanan kemudian seringkali dianggap sebagai bentuk ketidak teraturan sosial (sosial disorder). Ketidakteraturan yang diekspresikan dalam subkultur yang berlawanan terhadap budaya mayoritas. Subkultur sendiri adalah budaya yang terbentuk sebagai counter culture atau budaya tandingan dari budaya yang telah mapan. Ketidakteraturan sosial ini kemudian cenderung dan seringkali menjurus pada kenakalan remaja atau (juvenile deliquency).

Padahal apa yang disebut oleh orang dewasa sebagai kenakalan tersebut tidak lebih dari upaya mencari perhatian dan kebutuhan akan eksistensi dari seorang manusia. Remaja yang juga manusia memiliki dorongan libido untuk bisa dikenal, diketahui dan diakui eksistensinya oleh orang lain. Libido dalam hal ini bukan berarti tentang seks semata, libido menurut Carl Gustav Jung adalah energi yang memanifestasikan diri dalam proses kehidupan dan dipersepsi secara subjektif sebagai usaha atau hasrat.[iii] Gampangnya kelebihan energi yang ga tau musti digimanain, yang penyaluranya positif jadi bagus kalo ga ya ngerusak.

Hegemoni global dari Indonesia sampai Kabul, Afganistan

Tahun 2002 generasi muda dunia dikejutkan dengan sebuah penyanyi pendatang baru yang bernama Avril Lavigne. Penyanyi muda asal Kanada ini melejit lewat anthem-nya skaterboy. Lagu yang bercerita tentang kehidupan seorang pemain papan luncur (skateboard) yang ditolak oleh seorang gadis, namun sang pemain skateboard ternyata menjadi terkenal dam masuk MTV. Oke cut the Sh**, maksud saya adalah bagaimana lagu itu kemudian menjadi sebuah cerminan kebudayaan anak muda amerika. Di Indonesia sendiri booming skateboard mulai muncul sejak awal tahun 2000, namun kemunculan fenomena skateboard sendiri ditengarai sejak pertengahan 70an.

Skateboard konon lahir dari komunitas peselancar di California. Budaya yang lahir dari anak muda ini berkembang begitu pesat di sana. Skateboard sendiri adalah olahraga ekstrim yang menggunakan sebuah papan luncur sebagai media olahraganya. Skateboard dimanapun di dunia dianggap sebagai perilaku nakal dari anak muda. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar, setiap tanggal 21 juni diselenggarakan skater’s day. Sebuah hari dimana setiap skater bebas dari segala tugas yang ada dan melakukan skate sepanjang hari.

Tujuan dari skater’s day adalah hari dimana skateboarder berkumpul untuk meningkatkan kepedulian mengenai isu-isu yang sedang berkembang, terutama yang berhubungan dengan skateboarding[iv]. Jadi salah besar jika kemudian budaya papan luncur (skateboard culture) dikatakan sebagai kelakuan anak muda ga ada kerjaan. Seperti mbah marijan bilang, don’t judge book from its cover. Jangan komentar kalo ga kenal. Kebencian orang tua terhadap permainan ini mungkin karena ketidaktahuan mereka tentang makna filosofis dari olah raga ini. Sesungguhnya, skateboard adalah olah raga yang menantang nyali para pemainnya. Setiap pemain skate sadar betul akan resiko apabila memainkan olah raga ini. Sehingga rasa tanggung jawab dan solidaritas sangat kental pada olah raga. Hal ini merupakan suatu nilai penting dari keberadaan skateboard yang selalu dikecam oleh masyarakat.

Contoh baik lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Oliver Percovich, Sharna Nolan dan Travis Beard saat mereka menunjukkan kepada anak-anak Afghanistan bagaimana cara menggunakan skateboard, ketiga warga Australia itu menyadari bagaimana sebuah persahabatan dibentuk dan melihat salah satu cara menjembatani suku-suku yang berseteru[v]. Skateboard bukan lagi menjadi kegiatan yang menakutkan apalagi kegiatan yang harus disisihkan keberadaannya. Karena Indonesia pernah mengukir prestasi melalui skateboard. Karena lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya berkumandang di ajang Asian Indoor Games 2007 setelah atlet skateboard, I Putu Yogi Darmawan, meraih medali emas dari nomor park di arena MUST Pavilion, Makau, Minggu (28/10/08).[vi]

Namun pertanyaanya adalah “emang penting gitu skateboard?”. Jawabanya beragam tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Skateboard diakui atau tidak merupakan anak haram dari peradaban industri. Karena kehadiran skateboard tidak akan pernah bisa sebesar ini tanpa media global yang kemudian membentuk citra tentang ”betapa kerennya menjadi seorang skateboarder”. Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer dalam the cultural industry: Enlightenment as Mass Deception, berujar seperti ini “Films, radio and magazines make up a system which is uniform as a whole and in every part”. Dengan kata lain adanya berbagai media yang dirangsang oleh kapitalisme telah melahirkan skateboard culture sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan.

Lebih kasar lagi mereka mengatakan “The truth that they are just business is made into an ideology in order to justify the rubbish they deliberately produce. They call themselves industries; and when their directors’ incomes are published, any doubt about the social utility of the finished products is removed”. Singkatnya budaya yang dulunya adalah sebuah media perlawanan saat berhadapan dengan modal dan media global maka yang terjadi adalah komodifikasi! Komodifikasi sendiri adalah sebuah penurunan nilai awal dari sebuah budaya dan tergantikan dengan nilai intrinsik yang bersifat ekonomis.

Skateboard culture gaya tanpa jiwa?

Skateboard kini sudah kehilangan giroh (jiwa.red) dalam perlawanan terhadap kemapanan. Mengapa tidak, coba lihat dandanan kaum skateboarder saat ini dari papan (deck), sepatu, celana, kaus ampe kolor (boxer) adalah barang-barang branded yang tidak murah. Lalau kemanakah semangat perlawanan itu pergi? Jika anda seorang skateboader pasti atau setidaknya pernah mendengar film the lord of dog town. Sebuah film sejarah tentang perkembangan skateboard di Amerika, film yang berkisah tentang perjalanan karir skateboard dari, Tony Alva, Jay Adams and Stacy Peralta.

Film yang sangat menarik jika kita bisa menganalisisnya dari kacamata kajian budaya. Film yang bercerita tentang tiga anak muda dari ”dogtown” yang awalnya adalah sekelompok anak muda yang sangat menggandrungi olaharaga selancar. Karena keterbatasan media dan tempat, akhirnya mereka berselencar di darat dengan papan seluncur. Singkat cerita mereka kemudian menjadi bintang-bintang remaja melalui papan seluncur tadi. Disaat mereka jadi bintang itulah datang para kapitalis yang bertopeng manis menawarkan kejayaan dan kemapanan.

Film ini sesungguhnya menggambarkan realita dimana posisi skateboarder dalam sejarah peradaban youth culture. Keberadaan remaja jangan sampai menjadi korban dari kaum kapitalis yang sembunyi dalam kolong budaya. Artinya saat kalian ingin menjadi seorang skateboarder, janganlah terjebak pada penampilan fisik, kepemilikan akan barang, dan eksklusifitas komunal. Penampilan fisik tidak harus dilengkapi dengan kepemilikan barang-barang yang ”seakan wajib dimiliki”. Sehingga kalian menjadi terasing dari lingkungan tempat kalian tinggal dan menjadi kelompok eksklusif.

Legenda-legenda skateboarder seperti Rodney Mullen dan Tony Hawk harus menjadi patokan bagaimana seorang skater ingin terus bereksistensi. Mereka ber-skateboarder untuk kesenangan, untuk kepuasan pribadi, dan sebagai media berinteraksi. Bukan sebagai ajang gaya-gayaan semata. Namun kenyataannya adalah para skateboarder masa kini hanya terjebak pada penampilan luar. Mereka bingung mencari model terbaru dari sepatu Mcbeth, DC shoes atau Adio daripada mencari jalan agar dapat diterima dalam masyarakat. Padahal kita semua tahu berapa harga dari produk-produk skate yang kebanyakan adalah import tadi. Harganya tentu mahal dan membuat kesan sangat ekslusif pada pemakainya. Hal ini malahan akan semakin membuat kesinisan pada para skateboarder makin meningkat.

Sedikit penutup saya akan mengutip sedikit pesan dari the godfather of skateboard Rodney Mullen. ”i dont know anything about style, but one thing i sure. I like skateboard” keep on grinding and do some ollie guys!!!

*oleh Arman Dhani B.



Sumber-sumber tulisan

http://frontside180.com

http://martabahrull.wordpress.com/

http://seirawan-homelesscrew.blogspot.com

http://www.surf-time.com

http://bandungcreativecityblog.wordpress.com
The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception by Theodor Adorno and Max Horkheimer (1944)

Kapitalisme, teori dan sejarah perkembangannya by Robert Lekachman dan Borin Von Loon

end notes:
[i] WHO, oleh Dr, dr, sri adiningsi MS, MCN lembaga perlindungan anak Jatim

[ii] Hebdige, D. (1979) Subculture in the meaning of style, Menthuen & Co, London

[iii] http://id.wikipedia.org/wiki/Libido

[iv] http://www.surf-time.com/contest_skate/detail/26.htm

[v] http://dw-club.net/dw/article/0,2144,3496640,00.html

[vi] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/29/or/3947932.htm