Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Memanusiakan Manusia






Apakah semua anggota organ garis keras  itu sekumpulan idiolog yang kaku?

Hari ini saya menemukan jawabannya. Ada tetangga kosan, sebut saja ia Usman, ia seorang simpatisan HT. Dalam setiap demonstrasi penolakan Obama dan Amerika ia selalu ikut. Dalam setiap kajian mengenai hukum negara islam ia selalu datang. Awalnya saya mengira ia adalah seorang yang fanatik. Seseorang yang taklid buta menginginkan khilafah sebagai harga mati perubahan di republik ini.

Sambil makan pecel kami berbincang sebentar mengenai kehidupan. Sekedar basa basi karena telah bertemu di jalan. Di tengah perbincangan ponsel saya berbunyi, nada derngnya adalah potongan lagu rage againts the machine. "Wah suka Rage juga mas?" tanya Usman. karena tak menyimak saya jawab "Apa mas?" "Itu lagunya. Rage Againts The Machine?" saya terkejut karena bang usman yang punya jenggot tipis itu mengenal Zack dan kawan-kawan.

Perbincangan itu lantas mengantarkan kami pada perbincangan mengenai lagu-lagu kanon RATM dan musik lain. Ternyata saat mudanya (Usman saya perkirakan berusia 30 tahunan) merupakan penggemar musik seperti RATM, Megadeth dan Antrax. Dengan dandanan celana kain cingkrang dan kaus bertuliskan Khilafah Sedunia, saya pikir saya sedang bermimpi. Bagaimana tidak? komunitas yang selalu getol menolak demorkasi liberal dan menyeru pada hukum syariah islam ini ternyata menyukai musik yang dianggap kafir.

Sepertinya saya lupa bahwa dalam suatu hikayat Rasullulah yang diriwayatkan Abu Hurrairah "Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya." juga ayat dari Al Maidah 8 " Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.”  Saya lupa bahwasanya orang-orang seperti Usman juga mungkin habib-habib FPI merupakan manusia biasa. Dimana saat muda mereka memiliki memori kolektif terhadap sebuah trend.

Bukan tidak mungkin jika Beib Rizieq pada masa mudanya adalah metal head yang menggemari Motley Crue dan Kix. Bagaimana jika Abu Bakar Baasyir adalah fans berat Tiga Dara atau Muddy Watters? Semua kemungkinan kemungkinan itu menjadikan para tokoh garis keras tadi menjadi sesosok manusia biasa. Bahwa mereka juga sama seperti kita makan nasi, nonton televisi, membaca koran dan buang air. melahirkan pemahaman bahwa mereka juga memiliki perasaan, keinginan, gairah dan obsesi.

Adalah tak adil jika kemudian kita menghakimi para tokoh garis keras, juga para pengikutnya sebagai manusia yang kering. Dengan bayangan mereka adalah orang-orang kaku yang kerjaannya hanya membaca kitab, mengkafirkan orang dan melakukan pengrusakan. Bagaimana jika dalam kesehariannya mereka adalah orang-orang yang biasa kita temui di jalan? Sebagai kernet angkot, petugas pajak atau mahasiswa S3?

Pilihan Usman untuk kemudian bergabung dalam HT adalah murni hak asasinya sebagai manusia merdeka. Sebagaimana juga pilihan manusia lain untuk beriman kepada Yesus, Budha atau YHWH. Tak ada manusia lain, atau kelompok yang berhak memaksakan kehendaknya itu. “Saya tak pernah merasakan paksaan atau cuci otak seperti yang dituduhkan orang liberal itu,” katanya. Saya tak berani membayangkan jika ia tahu bahwa saya adalah seorang pemikir bebas?

Penilaian-penilaian terhadap manusia lain akan berujung kepada seberapa besar lingkar otak kita dalam melakukan analisa. Apakah kita menganggap mereka pahwalan atau seorang preman. Tak salah jika para remaja tanggung yang mengidolakan restorasi negara (juga keimanan) bersikap ekstrim terhadap kondisi kekinian. Siapa yang tak jengah (atau bernafsu) melihat gadis dengan rok mini? Atau dijual bebasnya minuman keras? Atau bagaimana kapitalisasi perusahaan barat telah merongrong kedaulatan negeri ini?

Keimanan, seperti yang dikatakan Al Imam Syafi’i, memiliki tingkatan-tingkatan. Ada iman yang sangat sempurna, ada iman yang berkurang, dan ada iman yang jelas kekurangannya dan ada pula iman yang bertambah. Seorang zuhud seperti Imam Syafi’i pun, dalam hidupnya menghindarkan diri dari pertentangan tafsir keimanan. Juga pertentangan mengenai moralitas dan kebenaran diri sendiri.

Dalam suatu pertemuam Imam Syafi’i pernah ditantang berdebat mengenai suatu permasalahan. Namun perdebatan itu dilakukan atas dasar kebencian pribadi dan bukan usaha mencari rahmat illahi. Maka sang imam menyampaikan sebuah ayat “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (An’am: 68)

Maka manusia dengan otak paling lemot pun akan bisa menilai bagaimana asmaul husna di perlakukan. Apakah ia dibiarkan diumbar dijalanan dengan parang terhunus dan mulut menuh khamr. Atau dalam sebuah majelis yang santun dan mengedepankan argumentasi dan rasa cinta kasih. Saya tak mengatakan bahwa Usman dan rekan-rekannya adalah para penjual nama tuhan di jalanan. Lebih dari itu saya menghormatinya sebagai manusia yang juga bisa alpa.

Saya kira Usman merujuk pada kejadian Ahmadiyah di Cikeusik. Saya benar-benar tergoda untuk bertanya pendapat HT terhadap ahmadiyah. Namun dari matanya saya percaya bahwa Usman adalah manusia yang mencintai perdamaian. Juga seorang muslim yang meyakini hukum dalam An Nisa: 93. “....Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Lalu bagaimana kemudian awal mula kekerasan itu terjadi? Mengenai sekelompok manusia yang mengaku pewaris kebenaran illahi? Mungkin para remaja tanggung yang tak sempat merasakan kegetiran tragdei 98 perlu membaca sejarah. Bagaimana Pam Swakarsa dibentuk militer sebagai dalih pengendalian masa. Dan bagaimana organisasi fasis berlabel agama itu menjadi sektarian dan semakin radikal.

Usman dalam perbincangan yang sangat singkat itu memberikan saya pemahaman yang luas. Bahwa sebagai manusia ia juga memiliki kekurangan, memiliki keinginan, dan juga memiliki kesamaaan dengan manusia lain. Fakta jika ia juga menggemari Farrokh Bulsara adalah sebuah kejutan yang keras. Bahwa mereka yang senantiasa membawa panji-panji hitam kilafah adalah manusia biasa seperti kita.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan? Apakah dengan menunaikan dictum grup hiphop homicide yang mengatakan “Fasis yang baik adalah fasis yang mati,” lantas jika demikian apa beda kita dengan kaum fasis yang kita lawan tadi? Mengingat kata-kata Gandhi yang bijak. “Jika setiap kejahatan mata dibayar dengan mata. Maka seluruh dunia akan diisi oleh orang buta,”

Kanjeng Nabi Muhammad seperti juga Sidharta di bawah pohon bodhi sedang berupaya memutus mata rantai kekerasan. Pada zamannya kanjeng Nabi harus berhadapan dengan hukum barbar suku-suku arab. Dimana setiap pembunuhan harus dibayar dengan qisas atau diganti dengan harta yang banyak. Maka inilah arti Islam (atau As Salam) sebagai damai mewujud. Sebagai rahmatan lil alamin.

Ia lantas bercerita tentang Hari Mukti, salah satu tokoh HT, juga merupakan mantan rocker dan penggemar musik keras. “Tapi kalau dalam hati mas Usman sendiri gimana?” tanya saya. “Gak pernah ada yang namanya mantan metalheads. Selamanya demikian. Tapi sekarang saya lebih banyak dzikir,” katanya. Perkataanya membuat saya terbayang, bagaimana jika Zack de La Rocha suatu saat menjadi seorang mubaligh?

Selasa, 10 Mei 2011

Mengingat Gie dan sekedar catatan tentang Persma

~ Pada akhirnya kita memilih jadi tumbal atau martir.

Jadi dimana saya harus memulai untuk berkisah tentang pers mahasiswa. Sungguh sebenarnya bercerita mengenai sejarah adalah usaha melawan kebosanan. Seperti kamu, saya juga benci untuk duduk dan mendengarkan orang tak jelas bercerita tentang hal yang sebenarnya tak menarik. Persma adalah segala puncak dari ke-tak-menarikan.


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas organ mahasiswa yang bergerak dalm bidang jurnalistik. Seharusnya demikian, tetapi praktek dilapangan seringkali tak jauh beda dengan ekskul menulis. Ya menulis. Sekedar mencurahkan uneg-uneg dalam kata dan ditautkan seolah itu menjadi karya hebat.


Saya mungkin terdengar nyinyir, tapi lebih baik kamu sekalian yang hendak berproses dalam pers mahasiswa tahu lebih awal. Bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis. Karena bukanlah persma jika tak kritis, ia hanya sekedar penulis medioker kampungan.


Pers mahasiswa dimulai dari ratusan tahun lalu. Pada saat para mahasiswa hindia di Belanda berusaha menulis untuk menuntut pelaksanaan politik etis. Sebuah usaha mencerdaskan pribumi dengan akses pendidikan yang merata dan lebih luas. Kala itu belum dikenal pers mahasiswa. Hanya perjuangan atas dasar kesukuan demi kemajuan daerahnya masing-masing.


Kemudian hal ini berkembang setelah ide-ide nasionalisme kebangsaan dikenal. Tentu saja hal ini dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 yang konon adalah hari sumpah pemuda. Melalui sumpah “berbahasa satu bahasa Indonesia” kanal perjuangan yang dahulu berupa diplomasi dan perjuangan perang. Kini perjuangan menemukan jalannya yang baru. Kata-kata.


Tulisan dan kaitannya dengan pers mahasiswa, adalah perjuangan untuk mengabarkan. Informasi dan usaha menarasikan perlawanan. Kamu akan memulai proses panjang yang diawali satu huruf, kata, kalimat dan pamflet yang bisa menggugah dan menggerakan hati. Dalam banyak peradaban, sebuah tulisan bisa mengawali sebuah revolusi pemikiran.


Adalah Soe Hok Gie, seorang tionghoa pemikir cum wartawan, yang menyadari hal tersebut. Menulis untuknya adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu, sebagai wartawan mahasiswa, Gie secara frontal melakukan kritik terhadap pemerintah dan tokoh berkuasa kala itu. Takut? Tentu tetapi apalah arti seorang intelektual yang gagal memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan bersama. Mereka tak lebih dari sampah.


Jika kemudian saya harus bertanya maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Gie telah menjawabnya dengan garang ia berkata :


Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: Kebenaran.


Bukankah kebenaran merupakan hal yang paling hakiki? Lalu kemanakah kebenaran itu kemudian akan berjalan. Saya pikir ia akan berjalan melalui kata-kata menuju setiap hati nurani para pembacanya. Dan pers mahasiswa sebagai salah satu organ yang bergerak di dalamnya harus konsisten untuk melakukan hal itu.


Kemudian di manakah pers mahasiswa harus berada? Saya pikir pers mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus, harus mulai bekerja dan peduli dengan segala hal di sekitar kampusnya. Hal-hal remeh temeh yang terkait dengan permasalahan kampus. Semisal; dedikasi dosen terhadap proses perkuliahan atau akses terhadap berkegiatan. Jangan terpaku pada hal-hal besar yang nantinya akan membuat kita melayang dan lupa diri. Tulislah hal di sekitar kampus kamu dan kabarkan dengan lantang tanpa embel-embel.


Lalu apakah yang harusnya dikerjakan oleh pers mahasiswa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca dan membaca. Karena mustahil memiliki tulisan yang baik jika kamu tak pernah membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus. Ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat.


Bagaimana setelah kita membaca? Banyaklah berdiskusi dan ingat CATAT SEGALA HAL PENTING selama diskusi berlangsung. Carilah teman diskusi yang kamu anggap ia menguasai hal yang ingin kamu atau telah kamu baca. Dengan demikian kamu akan punya pandangan yang lebih menyeluruh dan lebih baik. Setelah itu lakukan proses pengendapan, membiarkan pemikiran dengan cara kontenplasi, lalu meminjam sajak Saut Sitompul “Tulis, Tulis, Tulis!”


Menulis bukan untuk gaya-gayaan dan unjuk kepintaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha perjuangan. Sudah berapa kali saya gambarkan dalam tulisan ini, bagaimana sebuah tulisan dapat mempengaruhi seseorang. Sebagai contoh kalian perlu membaca Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi karya wartawan gaek Bondan Winarno. Sebuah penulisan investigastif yang mampu membuat mentri pada zaman Soeharto meradang.


Jangan takut saat menulis, seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte, “Aku lebih memilih menghadapi seribu bayonet dari pada sebuah pena,” Ia tak sedang gombal. Menulis kawan akan menjadikan kamu seroang pejuang tersembunyi. Tetapi perlu diingat jangan kemudian privilage itu membuat kalian merasa lebih baik dari orang lain. Jika demikian kalian boleh masuk tong sampah secara hina.


Ini bukan panduan, semacam rasa semangat untuk berbagi saja. Kamu bisa belajar dengan sendirinya. Pers mahasiswa sejatinya adalah sekedar usaha untuk mencari jati diri melalui organ penulisan jurnalistik. Jangan telan bulat-bulat apa yang saya tulis. Itu hanya akan menjadikan kamu boneka dan kacung saja. Jadilah besar karena kemampuan kamu sendiri, bukan karena orang lain. Seperti apa yang dikatakan Gie.


Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.


Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta.


Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan. Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan.


Pada akhirnya Gie berkata demikian “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu?

Jumat, 15 April 2011

Demos-Kratos dan Sekedar Catatan Mengenai Sahabat

~ pada saatnya semua lelaki berjuang sendiri.

Saya mengingat sembilan April sebagai hari kematian Mohammad Baqir al-Sadr, seorang filsuf dan pemikir syiah dari Iraq sekaligus juga menantu pejuang kemerdekaan berpikir Iraq, Muqtada al-Sadr. Mohammad Baqir al-Sadr pernah mengagumi ide menganai kilafah dan salah satu dari sedikit sekali pemikir syiah islam yang bergulat dengan ide-ide kontenporer diluar konsepsi imam mahdi. Buat Mohammad Baqir al-Sadr, Islam adalah keseluruhan yang mutlak dan tak perlu menjadi berbeda-beda. Hal ini terbukti dalam karyanya Wilayat Al-Umma, atawa pemerintahan umat. Ia hendak mengkonsepsikan khilafah ala Hizbut Tahrir yang pernah ia geluti dan pemikiran marxisme yang sempat ia cicipi.

Meski pada akhirnya Mohammad Baqir al-Sadr harus gugur dalam siksaan kuasa rezim Sadam Husein. Mohammad Baqir al-Sadr memberikan sebuah warisan pada dunia. Dalam salah satu jaryanya Lamha fiqhiya, Mohammad Baqir al-Sad hendak mengabarkan keberpihakan islam pada ide-ide demokratis.

'Islamic theory rejects monarchy as well as the various forms of dictatorial government; it also rejects the aristocratic regimes and proposes a form of government, which contains all the positive aspects of the democratic system.'

Demokrasi, saya selalu berpikir apalah arti kata itu sehingga begitu murah dan megah diucapkan oleh banyak orang. Sejenak saya mengingat seorang kawan. Demos, yang dalam bahasa latin adalah rakyat, adalah teman baik saya saat SMA dulu. Orang yang baik benar dan mengerti bagaimana bersikap, setidaknya itu menurut saya. Seorang mantan ketua Osis dan juga Ketua kelas 1 F. Entah kenapa ia dipilih menjadi kelas, tetapi kemudian dalam banyak kesempatan ia selalu menunjukan kualitasnya sebagai seorang pemimpin.

Tapi sayang seribu sayang, tuhan menciptakannya terlalu pendek. Padahal dalam beberapa catatan pacar yang ia miliki, semuanya tinggi dan jangkung. Dalam banyak hal saya selalu percaya, tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Ia menciptakan anomali dalam setiap keindahan. Pacar Demos adalah segala yang bernama keindahan dan Demos itu anomalinya.

Saya mengenang Demos saat ia masih SMA, karena selepas sekolah ia memutuskan pisah ranjang dengan saya. Mungkin karena alasan ketidakharmonisan antara kami berdua membuatnya jengah dan tak lagi nikmat berdua bersama saya. Ya sebagai seorang yang tahu diri, saya ya manut manut saja. Wong hidup itu mengenai pilihan. Seingat saya Demos kemudian memilih untuk kuliah perhotelan di Surabaya. Saya curiga dia pergi kesana karena hendak dekat dengan seorang pria jalang bekulit hitam legam.

Saat SMA saya dan Demos duduk berdua. Kami melalui masa indah bersama, berlarian di padang rumput, berdendang riang di taman bunga, kadang berkejaran di hutan. Eh? Maaf itu kajol dan amir khan bintang film bollywood kesukaan Demos. Demos memang menyukai pelm india, jauh sebelum briptu Norman terkenal, Demos sudah mengenal kuch-kuch ho ta hai dan Govinda. kalau tak percaya anda bisa main ke kamarnya yang terpampang poster besar amitabachan dengan tulisan kecil 'i love you' dari Demos.

Demos adalah seorang seniman. Selain hobi sesekali menggambar, ia tercatat sebagai seorang keybordis terbaik pada masanya. Terkenal seantero Bondowoso dan sekitarnya. Bersama sebuah band yang dilabeli Master Q, ia mencatat sejarah sebagai keybordis paling cilik yang bisa memenangi sebuah festival. singkatnya memenangi kebanggaan atas prestasi mukanya yang pas-pasan itu.

Kenangan yang tak mungkin bisa saya lupakan adalah saat-saat dimana kami berdua harus cabut saat pelajaran bahasa Indonesia dan makan pecel di warung pak toyo. Makan pecel bersama dan musti ketemu kepala sekolah di kantin. Dalam banyak hal Demos merupakan potret kecil masyarakat kebanyakan di Indonesia. Kecil, melarat, kumuh dan tak berdaya. Sebagai sahabat yang kaffah baik pribadi maupun fisik (namun sama-sama melarat) kami berbagi. ya itung-itung amal

Dalam banyak hal seharusnya saya mendendam pada Demos. Ia merebut cahaya hatiku, pelita cintaku dan semangat hidupku. Ya benarm, dia merebut gadis yang saya sukai, Fatimah anak wan abdul. Hati saya hancur berkeping keping serupa surai kuda yang dihembus angin. Tetapi karena persahabatan tulus dan kenangan indah bersama. saya rela mengalah.

Untuknya di hari ini, ulang tahunnya, saya hendak membacakan sebuah syair dari Walt Whitman. Yang pernah menjadi sebuah simbol persahabatan dalam film Dead Poet Society. Sebuah film yang bercerita tentang persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan perbedaan.

O CAPTAIN! my Captain!

O CAPTAIN! my Captain! our fearful trip is done;
The ship has weather'd every rack, the prize we sought is won;
The port is near, the bells I hear, the people all exulting,
While follow eyes the steady keel, the vessel grim and daring:

But O heart! heart! heart!
O the bleeding drops of red,
Where on the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

O Captain! my Captain! rise up and hear the bells;
Rise up--for you the flag is flung--for you the bugle trills; 10
For you bouquets and ribbon'd wreaths--for you the shores a-crowding;
For you they call, the swaying mass, their eager faces turning;

Here Captain! dear father!
This arm beneath your head;
It is some dream that on the deck,
You've fallen cold and dead.

My Captain does not answer, his lips are pale and still;
My father does not feel my arm, he has no pulse nor will;
The ship is anchor'd safe and sound, its voyage closed and done;

From fearful trip, the victor ship, comes in with object won; 20
Exult, O shores, and ring, O bells!
But I, with mournful tread,

Walk the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

Untukmu Mos, adalah semangat yang tak kunjung padam. Serupa pelita pengetahuan yang di curi Prometheus dalam mitologi yunani. Saya mengingatmu sebagai pribadi gelisah yang hendak berjuang lebih tinggi. Jauh lebih tinggi dari ukuran tubuhmu yang mini. Selamat ulang tahun kawan. Sodara Sampai Mati.

Sabtu, 9 April 2011. Saat malam terlampau keji menindas ulu hati.

Malleus Spectacle (catatan perihal wanita)


~Dalam diam hati wanita mengutuk-kutuk perilaku lelaki yang demikian. (Kartini)


Pada tahun 1486 Heinrich Kramer menyusun sebuah buku yang berisi hukum berbasis prasangka pada wanita. Dimana buku itu kemudian menjadi awal mula pembantaian 200.000 wanita pada kurun waktu 200 tahun. Buku itu adalah Malleus Maleficarum atawa Palu Penyhir. Sebuah buku panduan mengenali dan menghukum wanita yang dianggap dan diduga sebagai penyihir. Sejarah manusia yang seringkali maskulin,membenarkan pembunuhan tersebut atas depresi abad kegelapan di Eropa.


Sebelum melanjutkan tulisan ini saya tak hendak berlagak semacam feminis. Sungguh mati bukan, saya tak paham benar dengan wacana mengenai feminisme itu. Dalam banyak tulisan saya menghindari perdebatan dalam pemahaman tentang wanita. Tetapi sejak beberapa hari terakhir saya merasa gemas dengan tayangan di TV, yang Nauzubillah menyudutkan dan merendahkan kaum hawa begitu rupa.


Pertama adalah tayangan serupa orkes melayu yang muncul di MNC TV. Acara yang bertajuk 'Tarung Dangdut' itu dengan sedemikian rupa memperlakukan wanita bagaikan ternak yang dipajang untuk dijual. Mereka diminta berjoget erotis, berdandan seronok dan tampil heboh. Hanya untuk di komentari dan dihina bak pesakitan saja. Okelah kita katakan bahwa acara tersebut adalah hiburan. Sekedar just for fun, tetapi apakah harus merendahkan martabat (wanita)?. Maka tak salah jika saya percaya, cerita dalam surat-surat Kartini tak berhenti pada masanya. Kisah penindasan itu masih terjadi hingga kini.


Pada satu episode (benar saya menonton acara ini sampai habis) Deswita Maharani (katanya pesohor) memanggil peserta yang tampil paling seronok. Dada terbuka lebar, onepiece diatas lutut dan muka menor. Dan demi segala peradaban manusia yang mengenal pengetahuan dan budi pekerti. Peserta itu hanya menjadi bahan guyonan dan lelucon dari Olga, Ivan Gunawan dan entah siapa saya tak kenal. Salah satu dari mereka berkata "Huh heboh banget bu, mau mangkal ya?" Dengan segala hormat, pernyataan demikian ini tak pantas ditampilkan diwaktu prime time dimana hampir usia produktif (8-25 tahun) masih banyak menonton.


Tayangan kedua adalah pariwara yang ditampilkan ekstra josh. Minuman suplemen berenergi itu menempatkan perempuan sebagai pihak subordinat dan liyan sekaligus. Subordinat karena ada kata "Laki-laki kok minum rasa-rasa" mengacu pada konsep minuman berenergi lelaki adalah ekstra josh. Pada saat saya di Bali saya melihat beberapa kuli dan petani adalah wanita. Sebagaimana buruh kasar mereka juga mengkonsumsi ekstra josh sebagai suplemen penambah tenaga. Jika saja mereka paham ide besar dari penindasan jender terselubung yang dilakukan oleh ekstra josh. Saya khainul yakin mereka akan berhenti mengkonsumsi ekstra josh.


Pariwara ekstra josh tersebut juga memuat adegan yang menampilkan buruh kasar pria namun bersuara wanita. Idenya adalah menempatkan mereka sebagai pihak lemah dan tak berdaya yangse harusnya tak ada disitu (bekerja menggunakan otot). Hal ini merupakan pelecehan wanita yang teramat sangat. Sektor informal Indonesia menaafikan keberadaan wanita sebagai tulang punggung perekonomian. Saya memang belum memiliki data yang valid untuk membenarkan statement ini. Argumen saya hanya berdasar pada analisis pemberitaan di koran dan televisi yang "menyosokan" lelaki sebagai pemantik ekonomi paling besar. Peran perempuan bahkan kurang diakui dalam industri yang notabene banyak menggunakan tenaga mereka.


Saya tak selalu sepaham dengan ide feminisme, tetapi tak membuat saya serta merta menolak. Dalam banyak hal feminisme perlu, mereka kaum wanita, berhak memperoleh keadilan. Sebagai manusia dalam segala hal. Maya Anggelou dalam sebuah sajaknya pernah mengungkap kegarangan diri wanita tanpa harus menjadi bitchy atawa menye-menye. Tak perlu berpijak pada pakaian yang serba wah, dandanan yang serba menor, kata-kata yang keras lagi membabibuta, juga tak perlu serta merta diam mengafirmasi. Hidup adalah sebagaimana jalan hujan. Proses yang dimulai dari titik terendah laut.


Phenomenal woman

Pretty women wonder where my secret lies.

I'm not cute or built to suit a fashion model's size

But when I start to tell them,

They think I'm telling lies.

I say,

It's in the reach of my arms

The span of my hips,

The stride of my step,

The curl of my lips.

I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.

I walk into a room

Just as cool as you please,

And to a man,

The fellows stand or

Fall down on their knees.

Then they swarm around me,

A hive of honey bees.

I say,

It's the fire in my eyes,

And the flash of my teeth,

The swing in my waist,

And the joy in my feet.

I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.

Men themselves have wondered

What they see in me.

They try so much

But they can't touch

My inner mystery.

When I try to show them

They say they still can't see.

I say,

It's in the arch of my back,

The sun of my smile,

The ride of my breasts,

The grace of my style.

I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.

Now you understand

Just why my head's not bowed.

I don't shout or jump about

Or have to talk real loud.

When you see me passing

It ought to make you proud.

I say,

It's in the click of my heels,

The bend of my hair,

the palm of my hand,

The need of my care,

'Cause I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.


Seperti halnya Naif yang memuja wanita dalam salah satu lagunya. Saya tak hendak membela mereka. Di sini saya hanya mau bercerita tentang bagaimana saya memandang beberapa tayangan yang terlalu memojokan itu. Dan sisanya biar mereka sendiri yang membela diri.

Minggu, 27 Maret 2011

Menggugat Proses Literasi


Outside of a dog, a book is man's best friend. Inside of a dog it's too dark to read. ~Groucho Marx

Apa jadinya jika J.D Salingger, salah satu penulis cerpen terbaik Amerika, menyerah di awal-awal karir penulisannya? Mungkin kita tak akan pernah sempat membaca karya kanon macam The Cathcer in The Rye. Salingger sendiri dikenal publik amerika sebagai cerpenis yang hanya mau menulis cerpen untuk majalah Newyorker. Sebuah majalah kelas wahid yang ada di kota New York dan dikenal selektif dalam memilih karya.

Salingger tidak serta mereta mencapai kemasyuran sebagai cerpenis dengan jalan yang mudah. Ia harus menguji mental menulis dengan berulang kali ditolak. Tetapi proses membuatnya menjadi pribadi yang tak menyerah. Ia terus menerus mencoba, memperbaiki konsep penulisan dan mengembangkan cerpennya dengan semaksimal mungkin. Dan hasilnya bisa ditebak, pada suatu saat Newyorker bersedia memuat salah satu cerpennya.

Tak sedikit sebenarnya penulis yang kemudian menyerah karena sebuah penolakan. Beberapa malah kemudian banting stir berhenti menjadi penulis karena gagal menaklukan kerasnya dunia literasi. Lalu sebenarnya apakah yang menjadikan sebuah penulis menjadi baik? Apakah kualitas karya diukur dari kerasnya usaha atau memang ada suatu hal yang dinamakan bakat?

Saya pribadi tidak percaya bakat, saya percaya kerja keras dan integritas diri akan membentuk keahlian. Lupakan Mozart dan lupakan Will Hunting dalam film “Good Will Hunting.” Mereka adalah sebuah kebetulan. Semacam momen dimana anda bertemu dengan seseorang yang ada kenal di jalan. Sebuah serendipity.

Seorang kawan pada sebuah malam tiba-tiba bercerita tentang kegalauannya menghadapi permasalahan dalam sebuah organisasi yang pernah ia asuh dulu. Ia mantan aktifis pers mahasiswa, ia mengalami dilema transisi melepaskan kondisi nyaman pengurus menjadi sebuah stagnansi bernama alumni. Ia bingung bagaimana hendak melakukan perubahan di organisasinya dulu, karena ia pikir pengurus yang sekarang terlalu lembek dan kurang militan.

Ceritanya organisasi dimana ia dulu pernah bergabung baru saja melakukan pergantian kepengurusan yang ditandai dengan seremoni laporan pertanggung jawaban para pengurusnya. Pada seremoni itu ia berlakon bak pengadil yang hendak mendebat segala hal yang ia anggap salah. Maklum, apalah arti seorang alumni jika ia tak pernah marah dan mengkritik kinerja adik-adik organisasinya. Pleidoinya selalu sama, untuk menjaga kualitas organisasi. Buat saya sih penyebabnya klasik, yaitu post power syndrome.

Si kawan ini mengeluhkan betapa proses itu menjadi alasan paling murahan untuk menutupi ketidak becusan sebuah usaha. Ia mencontohkan pada saat LPJ organisasi tempat ia bernaung, hampir segala kegagalan dan kekurangan yang terjadi dipersalahkan kepada ‘proses’. Padahal dulu saat ia masih tergabung sebagai mahasiswa yang menggiatkan organisasi, proses ia maknai sebagai sebuah kerja keras dalam mengembangkan diri. Bukan sekedar melakukan das sein yang memang sudah menjadi kodrat diri.

Proses menurutnya adalah dimana ia berusaha lebih dari hal yang memang diwajibkan kepadanya. Saya sendiri memaknai proses sebagai usaha menjadi liyan yang tak tersubordinasi. Sederhananya adalah menjadi diri sendiri untuk berbeda dengan kebanyakan. Saat saya masih aktif menjadi anggota pers mahasiswa saya berusaha untuk banyak belajar mengembangkan kemampuan menulis saya. Bukan karena hal itu diwajibkan oleh LPM dimana saya bernaung, tetapi karena memang saya ingin jadi lebih baik.

Proses juga saya artikan ‘work your ass up twice’. Saat kawan-kawan saya menulis sekali, saya coba untuk menulis dua kali. Saat kawan saya membaca tiga buku maka saya harus membaca empat. Hal ini karena saya menyadari bahwa orang kebanyakan hanya akan melakukan hal yang diperintahkan kepadanya, sedangkan orang yang sedikit melakukan lebih banyak dari apa yang diperintahkan. Untuk mencapai keparipurnaan.

Secara implisit Nietzche dalam Beyond Good and Evil dan Thus Spoke Zarathrusta meramalkan sebuah kondisi kelompok liyan yang terbebas dari segala macam norma. Menjadi kelompok yang terbebas ari segala aturan karena mereka mencapai keparipurnaan pemikiran, tindakan dan diri. Superman yang hadir sebagai penyelamat manusia.

Sesungguhnya apa dimaksud Nietzche sebagai superman tidak serta merta muncul gletek tanpa dilandasi proses sebelumnya. Menilik kisah dari para santo, untuk mencapai kondisi kesucian yang beberapa derajat itu, mereka harus melalui serangkaian peristiwa. Santo Petrus misalnya, sang penjaga pintu surga dalam keyakinan nasrani itu. Menjadi salah seorang dari 12 belas rasul pilihan, karena mencapai pencerahan saat melakukan tugas ketuhanan. Serta keyakinan tak tergoyahkan selama penyebaran agama kristus di tanah Roma. Proses yang tak tergoyahkan disertai oleh keyakinan akan perubahan membawa hasil yang baik.

Proses yang berbeda dari manusia kebanyakan itulah yang membedakan keistimewaan seorang individu. Kawan saya tadi mencak-mencak karena proses yang dianggapnya sakral itu dijual murah sebagai pledoi kemalasan. “Masak diskusi tak mau, menulis malas, baca segan gitu dikatakan proses?” katanya dengan menggebu. Saya pikir kawan saya tak salah, ia cuma buta melihat kondisi kekinian.

Era kejumawaan Zuckenberg dengan facebook dan kicau bising Twitter telah meruntuhkan budaya literasi dan semangat keberaksaraan kita. Jangankan mengharap orang untuk membaca, untuk sekedar melihat tontonan yang pantas saja orang susah. Sinetron, sitkom dan reality show sudah mereduksi pemikiran kita pada tataran yang paling nadir.

Dalam sebuah kuliah Umberto Eco memberikan makalah yang berjudul “From Guttenberg to Internet,” Eco memberikan semacam kronik budaya literasi manusia dari era Pharaoh mesir hingga kemunculan world wide web. Dengan sangat satir ia memberikan analogi yang tertuang dalam kisah Notre Dame de Paris. Dalam sebuah fragmen kisah itu ia menggambarkan perkiraan pendeta Claude Frollo, bahwa akan tiba sebuah masa, dimana buku akan menghancurkan gereja. “Ceci tuera cela,” ujarnya

From Guttenberg to Internet Sejatinya adalah upaya untuk memberi cagar budaya pemikiran intelektualitas. “In order to be a free person, we need to learn about Life and Death.” tulis Eco “And only books can give such wisdom.” Keberadaan buku memang tidak dinafikan dapat menjadi sebuah stimulus untuk mengembangkan pemikiran si pembacanya. Tetapi kalau tak ada kemauan untuk membaca ya akan sangat percuma sekali. Proses akan berarti apabila dimulai dari diri sendiri yang ditautkan pada sebuah tujuan.

Pers mahasiswa sebagaimana saya bernaung dulu memberikan pemahaman itu. “Bagaimana mau menulis baik jika baca saja tidak,” ujar Diyah pimred saya dulu. “Kalo bacaannya sampah ya tulisannya jadi sampah,” saya lupa yang berkata itu. Tetapi jika kemudian menulis, membaca dan berdiskusi alam tataran pers mahasiswa dianggap sebagai proses, buat saya itu konyol. Tak perlu jadi aktifis pers mahasiswa jika hanya sekedar menulis, membaca dan berdiskusi. Jadi juru ketik atau tukang catat resep obat pun bisa.

Namun bagaimana memiliki pemahaman utuh dan mendalam tentang apa yang ditulis, dibaca dan dibicarakan itulah yang penting. Pers mahasiswa berbeda dengan organ mahasiswa lainnya. Karena mereka dituntut untuk dapat menyajikan berita, analisis dan kebenaran dengan proporsional. Seringkali proses yang pers mahasiswa lakukan terpaku pada euforia masa lalu. Tentang masa-masa 45, 66, 73 dan 98. Saya kira pers mahasiswa kini terlalu melankolis dan labil.

Saya menggugat itu semua. Harusnya pers mahasiwa bisa lebih paham tentang apa yang mereka lakukan. Bukan sekedar menjalankan proker organisasi. Semacam membaca, diskusi, reportase dan menulis. Lebih dari itu, proses dalam pers mahasiswa harus dimaknai sebagai bildungprozezse. Terminologi Hegelian untuk pembentukan karakter diri, Heidegger kemudian meminjamnya dalam Sein und Zeit sebagai mencandra keseharian. Atau dalam bahasa sederhana saya “dig deeper to understand more.’

Lalu jawabannya berpulang kepada anda sekalian. Kawan saya yang juga mantan aktifis pers mahasiswa itu kemudian hendak membuat semacam manifesto untuk mengingatkan para pengurus di tempat ia dulu pernah berorganisasi. Untuk kembali ke fitrahnya dalam berproses. Semacam usaha Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri waham wahabisme di Arab Saudi, mengembalikan islam pada Al Quran dan Hadist.

Saya sendiri menolak bikin yang begituan. Karena tidak signifikan, apapun yang telah terjadi dalam sejarah, kemungkinan kecil bisa terulang dengan sama besar. Saya menolak diktum Hegel bahwa sejarah akan selalu berulang. Misalnya, apabila (memang pernah) pers mahasiswa turut ambil bagian dalam penumbangan Soeharto. Saya yakin, khainul yakin, bahwa hal yang sama tidak akan pernah terjadi pada SBY dan Bakrie.

Alasannya sederhana, jika kamu tidak pernah mau mengenal musuhmu, bagaimana kamu akan mengalahkannya? Mau mengalahkan musuh dengan pena, tapi tak hendak menulis dan membaca. Mustahil bisa. Samar samar saya mendengar tawa tengik Zizek di kejauhan. Berbisik, saya mendengar ia berujar “We can no longer, as we did in the good old times.” Dan matahari terlalu terik pagi ini.

Senin, 14 Februari 2011

Insureksi dalam Melodi


Pada awalnya adalah keheningan, saat saya berjalan beramai-ramai dalam sebuah demonstrasi di awal masa kuliah. Melakukan long march dari depan gedung fakultas menuju rektorat yang cukup jauh, demi satu tuntutan pencabutan uang gedung. Namun seketika keheningan itu dipecahkan oleh salah seorang mahasiswa senior yang menyanyikan lagu sederhana ‘Berderap dan Melaju’. Saat itu saya tahu satu hal, musik dan aksi masa adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dalam keramaian.

Irama nada ‘Berderap dan Melaju’ yang repetitif dan easy listening langsung merayu pendengarnya untuk memBeo dalam sebuah nyanyian massal. Lirik yang lugas, sederhana dan mudah diingat membuat saya kecanduan sekedar bergumam atau malah latah ikut bernyanyi. Siapapun anda, jika asyik dalam kerumunan aksi dan mendengar lagu ini. Saya jamin akan ikut dihipnotis untuk ikut bernyanyi atau sekedar mengepal tangan lalu bersiul mengikuti nadanya. Inilah kekuatan musikalitas crowd, mampu menarik anda dalam sebuah hingar bingar pergerakan sosial.

Dalam suatu masa, Njoto salah satu dedengkot Politbiro PKI pernah berkata “Musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan”. Ia menyampaikannya didepan rombongan paduan suara “Tak Seorang Berniat Pulang” yang baru saja selesai berlomba dalam ulang tahun KSSR tahun 1964. Seolah berkata, Jika anda mengamini revolusi adalah hiruk pikuk jalanan, maka anda boleh ambil barisan. Jika tidak, diam atau bersiaplah disingkirkan. Setidaknya begitu saya menafsirkan kata-kata Njoto tersebut.

Njoto bukan asal bicara atau waton muni, karena yakinlah Ia adalah seorang Violist jempolan. Salah satu Pemikir PKI paling jitu dan kata-kata itu ia refleksikan dari jati dirinya sebagai musisi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana gendjer-gendjer menjadi begitu hip dikalangan keluarga PKI dan bagaimana Internationale mampu menggugah para sosialita marxist di Moskwa saat itu. Musik adalah salah satu sarana revolusi, maka agitasi dimulai di udara!

Maka pada saat kelahiran adigium Medium is the Message! akhir tahun 60an, McLuhan sebenarnya hanya memuntahkan kembali atas apa yang diamini Njoto. Musik adalah medium sekaligus pesannya. Maka tidak salah jika kemudian musik menjadi salah satu insrumen perjuangan sosial. Entah itu dilakukan dalam sebuah konser, jam sessions, atau bahkan pada aksi sebuah massa. Musik telah menemukan perannya sendiri dalam hiruk pikuk demonstrasi.

Dalam pergerakan sosial sendiri, dalam hal ini demonstrasi, musik adalah salah satu elemen penunjang yang mampu membentuk kesadaran kolektif. Seringkali malah dalam lirik yang didendangkan ia sendiri telah menyuarakan tuntutan dan ratapan dalam satu waktu. Ia ikut serta menjadi ‘orang tak nampak’ yang meramaikan sebuah aksi massa.

Saya sendiri setidaknya pernah ikut merasakan sublimasi semangat dalam lirik profetik lagu-lagu pergerakan sosial yang jamak dinyanyikan saat demonstrasi. Sebut saja Darah Juang, Totalitas dan Buruh Tani. Sebagai mahasiswa yang juga pernah mengikuti euforia ‘agent of change’ ikut demonstrasi adalah sebuah keharusan dan demonstrasi tanpa ketiga lagu tersebut, rasanya seperti menonton konser Rage Againt The Machine tanpa kehadiran Zack De La Rocha. Terasa Hambar!

Dalam sebuah berita pagi, sekilas saya menonton berita tentang protes mahasiswa di Jambi. Tanpa sengaja ada sepotong fragmen berita yang memperlihatkan seorang mahasiswa dengan ikat kepala bertuliskan ‘keadilan’, mengepalkan tangan kiri ke udara, menutup mata dan menyanyikan sepotong lirik Darah Juang. Dan demi setiap tetes keringat perjuangan Munir dan Marsinah, getaran lirih semangat perlawanan dalam lirik ‘Darah Juang’ itu masih mampu membuat saya meneteskan air mata.

Darah Juang boleh jadi adalah anthem dalam setiap demonstrasi mahasiswa. Dia adalah zetgeist yang mengingatkan para mahasiswa untuk senantiasa berjuang (itu pun kalo demonya beneran niat tulus dan bukan pesanan. Mereka dirampas haknya / tergusur dan lapar / bunda relakan darah juang kami / tuk membebaskan rakyat. John Sonny Tobing dan Andi Munajat adalah duo Mahasiswa UGM yang konon mengaransemen lagu ini. Seolah-olah ingin menyampaikan pada semua pseudo mahasiswa agar tak lupa turun ke jalan menjadi oposisi bagi rezim yang ada.

Seakan merayakan liturgi dari kebudayaan massa, lagu-lagu demonstrasi di Indonesia juga memiliki pasar tersendiri. Meski tidak berorientasi pada keuntungan, peredaran lagu-lagu ini biasanya dimulai dari komunitas/organisasi kemahasiswaan yang kemudian merembet pada segenap komunitas/organisasi kemasyarakatan atau kesenian yang merasakan semangat perjuangan dalam lagu-lagu tersebut.

Apakah kemudian lagu tersebut kemudian berhenti menjadi bahan bakar semangat pergerakan? Saya kira tidak, setidaknya mahasiswa Indonesia khususnya meyakini bahwa semangat juang itu mengalir dalam lagu-lagu yang lain. Coba saja anda menyimak bait lirik dari lagu Totalitas Perjuangan. Kepada para Mahasiswa / yang merindukan kejayaan / Kepada rakyat yang kebingungan / Di persimpangan jalan. Seakan berkata bahwa peran mahasiswa adalah mutlak dan perlu dalam sebuah perjuangan. Dan lebih jauh lagi Ia berbunyi Kepada pewaris peradaban / Yang telah menggoreskan Sebuah / catatan kebanggaan / Di lembar sejarah manusia. Lirik lagunya masih optimistik memandang peran mahasiswa sebagai gembala perubahan.

Perkembangan lagu-lagu pergerakan yang ada dari jaman ke jaman juga mengalami perubahan baik secara konteks lirik dan isu yang dituntut. Jika pada angkatan 66 lagu-lagu perjuangan mahasiswa Indonesia masih berkutat pada perbaikan nasib rakyat, pembubaran PKI dan bobroknya sistem. Maka pada era digital keong racun pada saat ini lirik-lirik lagu juga mengalami perubahan dramatis. Memang isu isu kerakyatan masih menjadi tema sentral, tapi lirik-lirik yang digunakan tidak lagi menjadi gegap gempita dan patriotik. Beberapa malah menjadi sangat centil dan lucu.

Lirik lagu Cinta Demonstran misalnya, lagu ini menggambarkan sepasang kekasih yang sedang berpamitan. Mirip dialog seorang prajurit yang dilepas perang oleh kekasihnya. Sudah berulang kali abang katakan / Jangan bermain cinta dengan demonstran / Nanti ditangkap polisi / Sakit-sakit sekali. Lagu ini memang tidak banyak dikenal oleh kalangan aktifisme mahasiswa, karena seringkali memang hanya digunakan sebagai lagu nongkrong. Namun liriknya yang seakan-akan memberikan peringatan tentang resiko hubungan pacaran dengan aktifis membuat lagu ini digunakan sebagai lagu pelepas lelah paska aksi.

Dalam suatu fragmen pemberitaan Tempo pada tahun 21 Januari 28 tahun yang lalu tergambar situasi panas yang menyelimuti kamous ITB. Terik matahari membakar kampus "Ganeca" ITB Bandung. Dimana Tak kurang dari 3.000 mahasiswa berkumpul di sana dari hari Senin siang sebelumnya. Selembar spanduk merah terpampang di mulut pintu kampus. Bunyinya serem, senada dengan pernyataan mereka: "Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Suharto kembali sebagai Presiden Republik Indonesia." Sambil menyanyikan lagu perjuangan seperti halo-halo bandung, para mahasiswa seakan ingin meminjam semangat para pejuang untuk meneriakan ketidak adilan yang saat itu terasa menekan.

Hardeep Phull sendiri dalam bukunya STORY BEHIND THE PROTEST SONG ; A Reference Guide to the 50 Songs That Changed the 20th Century, mengungkapkan lagu-lagu yang dalam sejarah tercatat menjadi mesin pendorong perubahan sosial. Hardeep Phull berkata bahwa sebenarnya ingin menunjukkan tentang makna dan bagaimana lagu-lagu tersebut bisa mempengaruhi dunia. Lagu we shall overcome yang dipopulerkan oleh Joan Baez pada tahun 63. Sebenarnya telah memiliki sejarah lebih lama dari itu. Setidaknya pada awal tahun 1900 dan berkembang menjadi lagu kebangsaan pergerakan sosial pada tahun 1960an.

Lalu saya teringat tentang Marthin Luther King Jr. Seorang tokoh Afrika Amerika yang sangat luar biasa. Seorang tokoh yang ikut andil dalam meruntuhkan kebijakan rasialis Jim Crows Laws di Amerika melalui aksi "The Great March on Washington". Sebuah aksi yang dipicu rasa muak atas segala diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Amerika. Mengingat momen dimana Marthin Luther King Jr bersama ratusan ribu orang saling bergandengan tangan menyanyikan we shall overcome. Sebuah lagu yang menyiratkan semangat untuk tetap konsisten melawan ketidakadilan.

Beberapa Band di Indonesia kemudian mengadopsi lirik-lirik yang secara cerdas melawan, mengkritik dan mengejek kondisi sosial kemasyarakatan kita. Band seperti Efek Rumah Kaca, Melancolic Bitch, dan Grup Hip-Hop Homicide misalnya. Mereka telah meninggalkan kelas perjuangan jalanan, dan menjadikan panggung musik sebagai arena perang wacanan dan pemikiran. Dalam banyak hal saya menilai musik-musik mereka memiliki kelemahan. Yaitu musik mereka hanya bisa dinikmati oleh golongan kelas menengah terdidik.

Lirik lagu Boombox Monger dari Homicide misalnya, lebih menuntut pemahaman pendengarnya atas wacana Marxist secara utuh. Jika konsumen adalah raja / maka industri adalah Kasparov / dan setiap vanguard lapangan / tak lebih Lenin dari Ulyanov / mencari poros molotov. Karena sangat susahnya pemahaman atas lirik ini, pendengar dari Homicide bisa jadi adalah mereka para pegiat buku yang sudah tamat membaca pengantar filsafat dan kajian budaya.

Melancolic Bitch dan Homicide dalam liriknya selalu menggunakan istilah yang multi tafsir yang saya ragu para tukang becak di Indonesia bisa mengerti padu padan arti dari lirik lagu mereka. Saya sendiri kemudian mengartikan bahwa dalam genre lagu perjuangan, terdapat pembagian kelas tentang dimana ia akan berperang. Lagu-lagu semacam we shall overcome dan Darah Juang akan menempati pergerakan kelas bawah, karena liriknya lugas dan mudah dimengerti. Sedang Tantang Tirani nya Homicide dan Take B.Y.O.B dari System of Down adalah lagu perjuangan pada golongan kelas menengah.

Dalam banyak hal saya mengagumi Iwan Fals karena mampu membuat lagu-lagu cerdas yang memiliki lirik musik dekat dengan kondisi realitas kerakyaatan. Seperti sore tugu pancoran, orang pinggiran, sugali dan ujung aspal pondok gede misalnya. Iwan Fals secara cerdas menangkap fenomena sosial yang terlihat (namun jarang kita akui keberadaannya) menjadi lirik-lirik yang cerdas, menghibur, nakal dan juga menyindir dalam satu waktu.

Pada lagu sore tugu pancoran misalnya Iwan Fals menangkap fenomena sederhana tentang para pedagang asongan di lampu merah yang sering kita lihat namun tidak kita sadari realitasnya. Si budi kecil kuyup menggigil / Menahan dingin tanpa jas hujan / Di simpang jalan tugu pancoran / Tunggu pembeli jajakan koran. Secara sederhana ia merekonstruksi sebuah kondisi di pertigaan ibu kota, dimana anak kecil menjadi pelaku usaha sektor informal. Padahal seharusnya ia larut dalam permainan dan masa sekolah.

Dalam kesempatan lain ia bisa sangat satir menyindir penguasa melalui lagu Bento. Namaku Bento rumah real estate / Mobilku banyak harta berlimpah / Orang memanggilku bos eksekutive / Tokoh papan atas atas s'galanya asyik. Lagu yang sampai saat ini menimbulkan polemik dan mitos tentang siapa sebenarnya Bento tersebut. Beberapa orang menyebut tokoh Bento adalah Soeharto ada pula yang berkata itu adalah Tommy Soeharto. Entahlah yang jelas lagu itu pernah membuat Iwan Fals diciduk tentara dan ditahan beberapa hari.

Iwan Fals boleh jadi salah satu dari sekian banyak musisi yang kemudian menjadi patron dalam lagu-lagu yang bertemakan kondisi sosial di Indonesia. Namun tetap pergerakan lagu-lagu perjuangan mahasiswa masih menjadi sangat ekslusif. Peredaran lagu yang masih berkutat pada komunitas, lirik yang cenderung terlalu patriotik dan kebanyakan tidak digarap dengan audio mixing yang baik boleh jadi. Genre musik demonstrasi (saya menyebutnya demikian) hanya menjadi musik-musik yang seremonial saja. Terbatas pada saat terjadi aksi-aksi saja.

Beberapa band indie grassroot yang memang dekat dan konsistenn dengan isu-isu sosial seperti Marjinal dan Lontar dari Surabaya, mulai coba menggarap serius musik-musik perjuangan jalanan tadi dengan audio mixing yang baik. Alhasil perkembangan genre musik ini sedikit banyak mulai berkembang dari scene-scene punk di Indonesia. Lalu beralih pada gig gig di konser konser kesenian. Dalam banyak komunitas lagu perjuangan mahasiswa diidentifikasi sebagai lagu-lagu yang senada dengan cita-cita perjuangan mereka.

Semangat dalam lagu-lagu perjuangan mahasiswa adalah semangat perlawanan. Hal ini selalu tergambar dalam setiap lirik lagu-lagu mereka. Lagu perjuangan mahasiswa adalah kisah tentang perjuangan yang tak selesai, perjuangan yang kemudian seakan-akan menjadi pertarungan tanpa henti. Karena selama masih ada penindasan kepada rakyat, maka selamanya lagu-lagu perjuangan mahasiswa ini tidak akan berhenti.