Tampilkan postingan dengan label sarkasme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sarkasme. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Melawan Lupa - Rawat Ingatan



Masih ingatkah anda dengan Kudatuli. Akronim dari KerUsuhan DuApuluh TUjuh juLI?

Lalu apakah kita akan terus berlagak lupa? Bahwa pernah ada manusia yang dipaksa mati, dipaksa luka, dan dipaksa hilang. Bahwa pernah ada usaha sistematis dari aparatus negara untuk membungkam rakyatnya. Bahwa pernah ada perlawanan dari sebuah kesadaran akar rumput tentang kondisi yang busuk. Bahwa segala perlawanan itu harus tunduk di depan moncong senapan atas nama stabilitas dan demokrasi.

Lalu apakah kita akan selamanya pura-pura lupa? Atau berani mengingat dan melawan?

Senin, 04 Juli 2011

How " Pasti " Are You?


Universitas Kampret of Cambridge, calon kampus saya :D


Oke, sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa ini bukan tulisan motivasi. Bukan pula tulisan penyemangat yang diharapkan setelah lunas membaca ini kalian akan langsung masuk surga. No, in fact half of this writings is almost shit.

Berawal dari keisengan saya dan kawan-kawan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berkata "Kalau ngerasa pasti bisa, pasti bisa beneran." Saat sedang capek menulis dan membaca. Sekedar penyemangat saat sedang sumpek atau merasa sesak dengan kondisi diri sendiri. Tak disangka mantra itu ampuh untuk membuat saya dan kawan-kawan mencapai apapun yang kami inginkan.

Ada kawan yang berkata Pasti Bisa juara satu Desain. Dan dia menang juara tak hanya juara satu tapi juga juara umum. Ada kawan yang berkata Pasti Bisa lolos beasiswa. Dan dia lolos beasiswa selama setahun. Ada juga seorang bigot kawan saya yang bersumpah akan menziarahi makam tuhan Jim Morrison. And that mother fucker fly to paris and meet his god! FUCK!

Ini bukan kisah "man jadda wa jadda" ala Ahmad Fuadi. Bukan sama sekali. Jika AF adalah fatalis akut yang berhamba pada doa akan menyelesaikan segala. Saya dan kawan-kawan saya merupakan budak matrealisme logis yang bertumpu pada kerja keras dan usaha diri. Rumus Pasti Bisa itu seringkali membuat saya tak percaya. Seperti saat saya bermimpi bisa ikut kelas jurnalisme sastrawi Pantau, atau melancong ke Sulawesi atau menemukan buku langka Amartya Sen. Semua karena keisengan berkata "Pasti Bisa"

Dan ini mimpi saya. Untuk kuliah di Universitas Kampret of Cambridge. Salah satu universitas terbaik dan (termahal di Dunia). Saya ingin belajar bagaimana universitas yang didirikan para desertir Oxford ini melakukan riset, menganalisa dan bagaimana produk penelitian mereka bisa melakukan perubahan kebijakan. Well, saya pasti bisa. Pasti. Entah kapan.

Sabtu, 30 April 2011

Sarkasme

not that 'Marx'

“A child of five could understand this. Fetch me a child of five.”
Groucho Marx

Buat saya kesalahan terbesar Voltaire, adalah saat ia percaya pada sarkasme akan merubah pemikiran orang bebal. Voltaire salah, sebagaimana Groucho Marx dalam komedi-komedinya. Sarkasme hanya berguna bagi mereka yang berpikir, mengenal ironi dan paham terhadap aforisme. Selebihnya, sarkasme adalah perayaan terhadap kebodohan orang lain.

Perdebatan yang dilakukan Candide yang mencita-citakan dunia ideal ala Leibnizian optimism cuma humor kitsch Voltaire. Ia berpikir dengan mengejek dan melakukan penghinaan maka mereka (pemangku kebijakan) akan berubah menjadi santo. Well, saya yakin Voltaire belum pernah ikut UKM dan belum pernah tinggal di Indonesia. Ia tidak tahu rasanya berteriak mengkritik lewat sindiran dan sarkasme namun hanya dibalas dengan prihatin.

Candide merupakan proyeksi diri Voltaire dalam mewujudkan dunia utopis dimana terbentuk masyarakat terdidik yang emansipatoris, empathis dan sadar sosial. Ia salah, ia hanya sekedar meneruskan cita-cita bodoh dari para pendahulunya. Kesalahan yang sama dilakukan oleh para penerusnya. Para pemikir yang terlalu kaffah berpikir dan menempatkan orang politik memiliki kecerdasan setara mereka. Para pemikir yang melakukan kritik dengan sindiran. Buat saya mereka hanya menggarami laut.

Salah satu pemikir itu adalah Nietzsche. Perancis, kata Nietzsche dalam beberapa fragmen pengantar Beyond Good and Evil. Mengatakan bahwa Perancis merupakan Episentrum peradaban dan intelektualitas dunia. Sebuah ironi, karena mana ada orang intelek yang suka nyopet dan menolak bayar angkot? Hal ini saya ketahui dari seroang teman yang pernah mampir ke Prancis dan melihat kondisi real dil sana. Ia melihat sebagaian warga Prancis yang katanya intelek itu suka nyopet dan tak bayar angkot. Well Nietzsche tentu tak tahu ini.

Sarkasme paling purna menurut saya keluar dari begawan pop art Andy Warhol "in the future," ujarnya pelan "everyone will be world-famous for 15 minutes." Sebuah seruan jijik yang menyenangkan tentang eufimisme yang menganggap diri sendiri suci. Warhol mungkin hendak melanjutkan cita-cita dari Guy Debord dalam Spectacle Society yang keras menyindir masyarakat Perancis. Namun sekali lagi mabi Situasionist ini hanya mengawang-awang dan tak dapat menghujamkan kritiknya ke bumi. Kritiknya gagal!

Karena dalam abad Media, Citra adalah segalanya. Dan sarkasme yang tak dapat dipahami tak akan berguna. Berapa poster dan tulisan yang sudah menyindir Nurdin Halid? Atawa berapa forum yang menghina dan nyinyir berkata tentang Marzuki Alie? Tapi tentu saja kebebalan dan kebodohan luarbiasa mereka tak sanggup mencerna sarkasme paling gampang sekalipun.

Di sisi lain saya mengingat kisah dari fragmen cerpen AA Navis tentang robohnya surau kami. Dimana ia menceritakan kisah seorang haji yang masuk neraka pada seorang lebai masjid. Sebuah kisah sederhana yang hendak menyentil hati nurani. Dan tentu saja bagi ia yang paham mereka akan sangat tersindir dan sakit hati. Kita semua tahu ending dari cerita AA Navis itu bukan?

Lalu apa guna Sarkasme? saya cenderung menyetujui William Faulkner yang berkata “He has never been known to use a word that might send a reader to the dictionary.” Sarkasme hanya mempan digunakan saat kondisi masyarakat kita sudah seperti negara semacam Israel atawa Jepang. Dimana mereka dengan sedikit saja guyonan dan sarkasme yang berdasar akan menyentuh hati nurani. Well itu yang saya yakin kita tak akan pernah capai.