Minggu, 29 Januari 2012

Kota Kenangan


            Langit terlampau gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yang berarak, sore itu, membuat semua warna luluh dalam satu warna. Monokrom. Segala hiruk pikuk keramaian yang sebelumnya masih ada dihentikan begitu saja. Seperti seseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot mahakuasa. Mendung memang selalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.

            Sementara keramaian berangsur angsur hilang hujan tak juga datang. Hanya sekedar beberapa petir menyambar dan lampu-lampu yang mulai menyala. Dan sisanya masih sunyi. 

            Kekosongan yang mencabik merubah taman ria itu seperti kuburan. Tidak ada siapapun disana. Tidak juga pengelola yang rakus memberikan tiket mahal untuk pertunjukan kelas teri. Tetapi penduduk kota kenangan semuanya sudah terlalu bosan dengan ingatan, sehingga saat segerombolan sirkus datang, menawarkan hal-hal baru membuat mereka datang tanpa peduli dengan secarik harga dalam tiket.

            Kota kenangan adalah tempat dimana semua ingatan masa lampau tinggal. Tentang ingatan masa kecil, masa lalu, masa yang sudah usai dan baru saja selesai. Tempat dimana segala yang telah terjadi berkumpul. Kota kenangan selalu ramai dengan ingatan-ingatan yang usang. Yang telah ditinggalkan para pemiliknya. Tak ada yang baru di kota kenangan, karena semuanya sudah selesai dan terjadi.

            Entah bagaimana awalnya segerombolan sirkus itu tiba. Kapan dan dimana mereka bermula datang tak seorang pun penduduk di kota kenangan tahu. 

“Seingatku mereka muncul saat senja paling merah mengarak awan warna keemasan,” kata penduduk di Kota kenangan. 

“Ahh tidak. Kau salah. Mereka datang saat hujan sangat deras dan melarutkan semua yang kering,” kata seorang penduduk lain.

“Sompral! Kalian berdua sok tau. Sirkus itu datang saat malam paling cemerlang memperlihatkan rasi bintang utara,” sanggah penduduk yang lain.

            Semua perdebatan terjadi di sudut-sudut kota kenangan. Omongan warung kopi. Perbincangan di kafe. Gosip saat pertemuan PKK. Bahkan saat rapat anggaran dana karang taruna. Semua orang di kota kenangan memperbincangkan sirkus yang tiba-tiba muncul itu.

            Tapi yang jelas, sirkus itu hanya buka pada saat hari beranjak sore. Ia tak buka lebih dari waktu tergelincirnya matahari sehingga memperlihatkan senja yang gelap. Semua seolah terjadwal. Terpatenkan dan tak pernah berubah. Penduduk kota kenangan pun tak pernah protes. Karena seingat mereka tak pernah ada kejadian selepas sore. Ingatan-ingatan yang menjadi penduduk kota kenangan selalu hadir saat malam.

            Sirkus itu memasang tarif yang terlalu tinggi bagi para penduduk kota kenangan. Setiap penduduk yang ingin menonton pertunjukan itu harus memberikan sebuah ingatannya yang paling berharga. Entah kenangan mengenai ciuman pertama. Kenangan saat bersama orang tua yang telah meninggal. Apapun yang menjadi ingatan paling berharga bagi warga kenangan menjadi harga mati tiket itu.

            Tapi sudah menjadi rahasia umum bagi penduduk kota kenangan. Siapapun yang kehilangan ingatan paling berharga. Maka orang itu akan mati dan musnah dalam rimbunnya dunia alpa. Lupa adalah sebuah kematian bagi setiap penduduk kota kenangan.

            Tetapi rasa penasaran penduduk kota kenangan memang sudah tak tertahankan lagi. Sudah bertahun-tahun sejak dunia terbentuk. Penduduk kota kenangan tak pernah melihat hal yang baru. Semuanya sudah usang. Semuanya sudah dilihat. Bagi mereka ingatan adalah sebuah perputaran atas kejadian yang telah selesai. Tak pernah ada yang berbeda dalam hidup mereka yang sangat membosankan itu.

“Datanglah datanglah. Kami sirkus bayang bayang. Menampilkan sebuah pertunjukan tentang masa depan. Sesuatu yang belum terjadi. Datanglah datanglah. Cukup dengan ingatan paling berharga maka anda akan dipuaskan akan masa depan. Datanglah datanglah,” kata para pekerja sirkus itu.

            Sebenarnya apa itu masa depan? Bukankah ia masih belum terjadi. Sesuatu yang rahasia. Kebanyakan masa depan berkisah tentang hal-hal yang tak perlu diketahui. Seperti juga malam hari yang ujungnya belum pasti. Meski setiap malam pasti berujung pagi. Lalu untuk apa meributkan sesuatu yang sudah pasti. Masa depan selalu jadi hal yang ranum untuk dibicarakan. Tapi selalu jadi hal yang ogah untuk di taklukan.

            Kukira semua penduduk kota kenanangan sudah teramat bosan dengan segala ingatan. Mereka sudah terlalu jengah dengan segala hiruk pikuk yang itu itu saja. Tentang ciuman pertama, pesta pernikahan, kelahiran anak, masa masa sekolah, dan hal sontoloyo lainnya. Manusia kota kengangan adalah manusia yang muak dengan ingatannya. Mereka gagap dengan suatu hal yang berlum terjadi. Manusia yang hidup di masa lalu.

            Lalu kenapa kemudian mereka menginginkan masa depan? Ingatan adalah barang usang yang bisa diganti dengan yang lain. Setiap penduduk kota kenangan punya deposito kenangan. Kotak istimewa yang menyimpan ingatan-ingatan istimewa. Tapi tentu selalu ada yang paling istimewa dari yang istimewa. Yaitu ingatan purna. Nyawa dari setiap penduduk kota kenangan. Hal yang paling diinginkan sirkus bayangan.

            Tapi tak pernah ada yang tahu bagaimana seseorang bisa hadir dan tinggal di kota kenangan. Tentang bagaimana mereka bisa hidup dan kemudian beranak pinak di kota kenangan. Tentang siapa orang pertama yang tiba di kota kenangan. Dan bagaimana ingatan purna bisa menjadi nyawa bagi setiap penduduk kota kenangan. Tak pernah tahu dan memang mereka tak pernah ingat.

“Kota kenangan tercipta sesaat Adam dan Hawa memakan buah durian,” kata seorang.

“Durian gundulmu! Kota kenangan tercipta saat Nuh plesiran dengan kapal pesiar,” ujar yang lain.

“Ealah dalah wong kok ya pada sok tau! Kota kenangan diciptakan saat tiga raja bertemu Yesus di kandang domba!” sergah seorang wanita tua.

“Bah kalian semua itu sok tau! Kota kenangan ini cadangan tanah yang dijanjikan Raja Daud untuk kita lah!,” kata seorang sengit.

            Begitulah perdebatan mengenai kota kenangan yang tak pernah habis-habis. Mereka bertengkar mengenai asal mula. Seperti berusaha bersepekat mengenai anak ayam dan telurnya. Mengenai hal ini penduduk kota cahaya selalu ingin unjuk suara. Maklum mereka hanya punya sepotong-sepotong ingatan. Separuh-separuh pengetahuan. Tak pernah ada yang utuh dalam sebuah ingatan. Ia akan selalu hadir seperti kentut yang apak.

            Sementara hari pertunjukan sirkus semakin ramai, semakin penuh, semakin dekat dan semakin membuat penduduk kota kenangan terdesak. Sedikit demi sedikit penduduk kota kenangan berkurang. Kematian karena hilangnya ingatan purna menjadi berjelaga. Menjadi kabar dimana-mana. Seorang ibu berpisah dengan anaknya. Seorang kekasih dengan cintanya. Dan seorang lelaki dengan istrinya. Sirkus itu seperti kabar buruk yang enggan pergi menghilang.

            Namun tak satupun penduduk kota kenangan yang berusaha untuk mencegah datangnya sirkus itu. Atawa mencegah kepergian orang-orang untuk menyongsong sirkus itu. Mereka terikat sebuah norma kehendak bebas. Siapapun yang datang ke kota kenangan adalah orang-orang merdeka. Dan mereka akan pergi dengan cara merdeka. Tak satupun manusia berhak atas manusia lain. Meskipun ia seorang pecinta sekalipun.

            Dan malam semakin menelan gelap. Bulan habis separuh dan rasi bintang utara muncul perlahan-lahan. Di suatu tempat yang tersembunyi namun tak jauh-jauh amat dari kota kenangan. Sepasang pemuda pemudi yang dimabuk ingatan berbagi mengenai kehidupan. Si lelaki ingin pergi melihat sirkus sedang si wanita enggan pergi. Ah, dalam cinta masalah sendok bisa sangat rumit. Apalagi masalah hidup.

“R, kukira aku harus pergi. Kita tak bisa hidup terus di masa lalu,”

“Mamadd, jangan. Hidup kita sudah cukup bahagia. Untuk apa diperdebatkan lagi?”

“Kau wanita tak mengerti tantangan,”

“Kau lelaki tak mengerti perasaan,”

“Kalau begitu kita pergi sama-sama,”

“Kenapa bukan kau yang tinggal sahaja?”

“Aih kenapa begini rumit?”

“Kau yang membuat sulit,”

            Dan perdebatan itu terjadi sepanjang malam. Hingga datang pagi dan matahari kemerahan yang ramah menyapa kota kenangan. Rambut hitam si gadis berliuk keemasan diterpa matahari. Si lelaki gamang melihat itu. Ia tahu, rambut dan lesung pipit senyum itulah yang membuatnya jatuh hati. Sebuah senyuman sederhana yang bahkan tak akan mampu ditiru oleh Cina. Bukankah jatuh cinta adalah perkara sederhana?

            Akhirnya si lelaki melumpuhkan diri pada ego. “Nasib setiap lelaki,” katanya. “Harus di lempar seperti dadu. Biar ia pejal dengan karang atau pecah dengan rasa sayang,” ia berlalu pergi. Setelah mengucapkan aku sayang padamu untuk terakhir kalinya pada si wanita. “Aih kukira jatuh cinta tak begini rumit,” kata wanita itu diam. Airmatanya tamat sudah semalaman membujuk si lelaki untuk pergi.

            Malam berlalu pilu. Keheningan yang merambat di kota Kenangan kian hari kian mencekat. Semakin hari warga kota Kenangan semakin menyusut. Mereka berbaris mendatangi sirkus bayangan untuk menatap masa depan. Menggadaikan hidup untuk sesuatu yang tak pernah mereka ketahui. “Hari semakin gelap dan segala kawanku telah pergi. Untuk apa aku di sini?” kata seorang pria renta. Penduduk terakhir kota kenangan.

            Hampir sewindu sirkus bayang bayang berada di kota kenangan. Sudah tak terhitung jiwa-jiwa yang hilang karena melihat masa depan. Mereka yang melampaui takdir diri sendiri untuk berbuat curang. Melihat masa depan tanpa akhirnya berdiri dan meraih masa depan itu sendiri. Lelaki dan perempuan. Terjebak keinginan dan rasa penasaran. Akhirnya harus musnah di telan ingatan.

            “Datanglah datanglah. Kami sirkus bayang bayang. Menampilkan sebuah pertunjukan tentang masa depan. Sesuatu yang belum terjadi. Datanglah datanglah. Cukup dengan ingatan paling berharga maka anda akan dipuaskan akan masa depan. Datanglah datanglah,” kata seorang pekerja sirkus itu. Kali ini tak ada yang datang. Penduduk kota kenangan sudah berada di masa depan.

Kamis, 26 Januari 2012

Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (I)


Langit biru dan debur ombak yang berkejaran. Sementara ratusan orang memadati Pantai Putih Malikan (Papuma) Minggu (12/12) lalu. Keriuhan itu sempat menjadi mencekam saat wangi dupa dan kemenyan menyeruak. ditambah sepotong kepala kambing diletakan diatas sebuah miniatur kapal. Papuma sedang tenggelam mengikuti alur prosesi upacara adat Larung Sesaji.

Sisa kebudayaan pagan Hindu Jawa ini memang masih melekat di banyak tradisi. Kebudayaan yang lahir dari silang budaya agama asli Jawa yang percaya dengan roh nenek moyang, berfusi dengan kebudayaan hindu yang mengagungkan banyak dewa. Setelah islam datang dan mendominasi Jawa, kebudayaan ini tak serta merta punah. Ia lantas beralih rupa. Beradaptasi menjadi sebuah kebudayaan campuran yang masih menyisakan identitas lama.

Tak jauh dari lokasi upacara adat sebuah gedung berwarna merah berdiri megah. Sebuah menara bundar dengan kisi-kisi emas menjulang tinggi. Di tengah gedung ada sebuah ceruk dengan batu besar. Batu itu merupakan batu asli, keberadaanya sedikit janggal karena batu sungai itu tak jamak ditemui di tepi pantai. Di atasnya seekor patung singa dan burung bangau berdiri angkuh. Gedung itu adalah Vihara Dewi Sri Wulan.

Sepi pecah saat rombongan Larung Sesaji yang sedari tadi diam mulai berjalan. Mereka kemudian berajalan berarak mengelilingi lokasi resor wisata pantai Papuma. Dengan memakai kostum adat jawa dan diringin riuh tetabuhan kelompok seni Reog Singo Budoyo. Rombongan itu lantas memasuki pekarangan Vihara dan berhenti di salah satu ceruk, tempat sesaji diletakan lantas seorang juru kunci memasang dupa. Hening.

            Suparto adalah pria dengan rambut gondrong dan kumis tebal. Sorot matanya tajam dan sesekali berkacak pinggang. Badannya gempal meski sedikit pendek. Di buku-buku jarinya beberapa batu akik berwarna cerah dipasang rapi. Jika tak kenal betul, banyak orang yang berpikir jika ia seorang gali (preman) atau seorang dukun. “Hayo jangan naik naik. Nanti jatuh,” kata Parto pada seorang anak sambil tersenyum lepas. Si anak lantas turun pelan pelan sambil tertawa. 

Selesai didoakan di ceruk itu, sesaji lantas dibawa ke pinggir pantai. Rombongan yang mengarak semakin banyak dan membuat garis pantai itu dipenuhi jejak kaki. Tepat di tengah pantai Papuma beberapa sesepuh dan pemimpin Vihara mendorong sesaji itu ketengah laut. “Itu buah kerja keras dari masyarakat sekitar Papuma. Ya Ambulu ya Wuluhan. Semuanya,” kata Suparto.

            Hari itu ia sedang menjadi mitra panitia upacara larung sesaji. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat sekitar Papuma untuk penolak bala. Berbagai elemen masyarakat turut serta dalam perayaan kali ini. seperti seniman, jagawana, polisi, tokoh adat, tokoh agama dan penjaga vihara. “Tiga tahun yang lalu acara ini diramaikan dengan Barongsai. Tahun ini kami coba dengan reog,” lanjutnya.


            Sesaji yang dilarung kelaut sudah menjauh. Namun beberapa warga masih diam ditempat dan melihat perahu itu berlayar dan perlahan hilang. Ini bukan satu satunya prosesi larung sesaji yang diadakan oleh masyarakat Papuma. Malam sebelumnya pengelola wana wisata bersama beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan hiburan wayang kulit. 

            Seorang pria tua dengan wajah tirus kurus dan peci hitam datang mendekati Suparto. Suparto lantas mencium tangan pria tua itu. “Saya Nyoto. Dulu kepala Wana Wisata Papuma tapi sekarang sudah pensiun,” katanya sambil tersenyum. Ia lantas berjalan bersama Suparto menuju Vihara Dewi Sri Wulan. Sepanjang perjalanan ia banyak disapa oleh panitia yang kebetulan melintas.

Selepas sampai di halaman Vihara keduanya duduk istirahat. Larung sesaji yang dilakukan masyarakat Papuma sangat berbeda. “Ada elemen islam, kejawen dan kong hu cu. Ini menunjukan kerukunan antar umat beragama,” katanya. Sesuatu yang tak akan ditemui dimanapun di Indonesia. “Tak banyak upacara yang melibatkan banyak agama. Ini contoh yang baik untuk melawan fanatisme.”

            Larung sesaji ini sudah lima kali digelar selama lima tahun terakhir. Dalam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Nyoto yakin hal ini bisa menjadi suatu aset yang sangat berharga bagi wisata Jember. “Acara ini bisa menarik perhatian karena keunikannya. Dan bisa jadi agenda wisata yang sangat penting."

            Pensiunan yang telah bertugas lebih dari 12 tahun di Papuma ini tahu betul, Larung Sesaji bisa menyatukan banyak elemen masyarakat. Mereka bekerja sama menyiapkan sesaji, acara hiburan dan pengumpulan dana. Mengingat banyak kota lain yang berseteru perihal keyakinan antar umat beragama. “Ini bisa jadi promosi dan identitas yang baik bagi Jember,” pungkasnya.

Ia lantas bercerita perihal pembangunan Vihara Sri Wulan. Dulunya vihara ini hanya sebuah klenteng kecil yang terbuat dari kayu. Dibangun oleh seorang Tionghoa totok asal Lumajang yang mengaku mendapat wangsit. Dikisahkan orang Tionghoa ini membabat hutan bukit Papuma sendirian. Lalu membuat jalan dengan melintasi tebing setinggi tujuh meter dengan ombak besar laut selatan mengancam dibawahnya.

“Kira-kira itu tahun 60an. Saat ramai PKI, nah orang Tionghoa ini jalan kaki dari Lumajang ke Papuma, karena wangsitnya bilang begitu.” Tutur Nyoto. Nyoto menyebut orang Tionghoa itu dengan nama Dharmo, atau Dharma, yang berarti kebajikan. Dharmo sendiri dikisahkan kemudian membangun klenteng sederhana dengan kayu sehingga membentuk gubug. “Saat itu ia menyembah Dewi Kwan Im, karena menurut wangsit suaranya perempuan,” tutur Nyoto.

Kondisi klenteng sempat sangat tak terawat karena terjadi peristiwa PKI pada 1966, yang berbuntut pada pembekuan kebudayaan Tionghoa diseluruh Indonesia. Paska itu banyak orang Tionghoa yang beribadah secara sembunyi-sembunyi disini. Beberapa orang yang tak senang dengan keberadaan klenteng ini sempat melakukan pengrusakan pada tahun 1970an. Hingga akhirnya dibiarkan tak terawat.

Sampai akhirnya pada 2009 seorang dermawan melakukan pemugaran. Ia menolak disebutkan namanya. Karena merasa memiliki kisah personal dengan klenteng di pinggir pantai Papuma ini. “Usaha saya bisa besar karena sembahyang disini,” katanya. Atas kepercayaan itulah pada 2009 tangal 9 bulan 9 dan pukul 9 klenteng ini diresmikan ulang menjadi Vihara Sri Wulan bagi umat Tri Dharma.  




Pembangunan Vihara itu sendiri tak pelak menjadi suatu sensasi pada masanya. Karena disebut sebagai Klenteng Dewi Kwan Im terbesar dan satu-satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain yang memiliki keunikan ini. “Bahkan satu-satunya di Asia Tenggara,” lanjut Nyoto.

Suparto ingat sekali pembangunan vihara ini banyak membantu ia saat itu yang hanya seorang pengangguran. Bersama lebih dari 30 orang lain ia bahu membahu membangun tempat ibadah ini. Banyak warga sekitar Ambulu dan Wuluhan Jember yang merasa terbantu akan keberadaan proyek ini. “Proyek ini kan hampir setahun. Jadi hampir tiap hari saya dibayar. Alhamdulillah sekali,” katanya.

Keberadaan Vihara ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sekitar Papuma. Karena banyak orang yang datang dan beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis manca negara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini. “Mereka yang bisa menghargai agama orang lain. Akan dihargai,” kata Nyoto. Dan debur ombak Papuma masih riuh.




*Semua foto oleh Heru Putranto