Selasa, 09 Juni 2015

105 Tahun Akira Kurosawa

Mengapa Akira Kurosawa menjadi sosok raksasa film paling penting yang dikenal dunia dari Jepang? Ia menjadi guru bagi banyak sutradara generasi berikutnya seperti Roman Polanski, Nicholas Roeg dan Quentin Tarantino. Bagi banyak orang Kurosawa adalah manusia jenius yang bisa menghadirkan nuansa cerita film dengan gambar-gambar yang indah dan ikonik. Selain itu Kurosawa juga mampu menghadirkan narasi kisah tersendiri pada tiap tiap gambarnya.

Namun tidak banyak generasi hari ini yang mengenal sosok Kurosawa sebagai maestro jenius yang mampu menghadirkan kisah-kisah sentimentil dan manusiawi. Padahal karya-karyanya bisa dilihat dan dirasakan pada film-film modern yang digarap oleh sutradara-sutradara raksasa Hollywood seperti Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, Steven Spielberg dan George Lucas.

Ia adalah sutradara yang menolak pakem linier dalam penceritaan. Baginya struktur adalah satu elemen dalam film yang tidak harus dipatuhi. Ia bisa membuat narasi cerita dengan susunan akhir, awal dan tengah. Atau tengah, awal dan akhir tanpa harus membuat penontonnya menjadi bingung. Sesuatu yang kemudian merevolusi film modern.

Banyak yang menganggap bahwa filmnya yang berjudul Seven Samurai sebagai karya utamanya. Film yang dibuat pada 1954 memang salah satu yang mengangkat namanya ke dunia, namun banyak karya-karya lain dari Kurosawa yang mesti dilihat dan ditonton. Ia juga punya kekuatan untuk menghadirkan elemen gerak, suara, dialog, narasi cerita dan gambar menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Untuk merayakan ulang tahun ke 105 Akira Kurosawa tahun ini, baiknya kita kembali menonton film-film klasik Kurosawa yang kurang dikenal. Tentu ada banyak judul selain Seven Samurai yang dibuat dengan sangat indah dan monumental oleh Kurosawa. Geo Times akan memilihkan empat film Kurosawa yang penting untuk ditonton, tentu saja selain Seven Samurai.

Ikiru adalah film yang mampu menghadirkan perasaan bersalah, rasa haru, dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Film ini, bagi saya, adalah film terbaik dan paling monumental yang dibuat oleh Kurosawa. Ia menghadirkan sosok yang dekat, tentang manusia yang dikuntut kematian. Sesosok pegawai negeri yang divonis memiliki penyakit mematikan. Dimainkan dengan sangat sempurna oleh Takashi Shimura, sang pegawai negeri itu ingin, sekali saja dalam hidupnya, menjadi sosok yang berarti.

Ikiru menghadirkan keharuan bukan karena si tokoh utama sekarat, namun ketika kematian menyambutnya ia malah ingin memberi lebih banyak. Dalam film ini kita akan melihat gambaran betapa rumitnya birokrasi yang kemudian mengingatkan kita pada negeri ini. Film ini mampu mengawinkan kritik sosial, lanskap muram tema kematian dan semangat hidup dalam satu tema yang aktual.

Film berikutnya adalah Yojimbo. Tema klasik tentang seorang ronin, samurai tanpa tuan, yang terjebak di antara perang dua gangster yang menguasai kota kecil. Tema ini kemudian sering diadopsi oleh film seperti Zatoichi dan film film barat ala cowboy. Salah satunya adalah film “A Fistful Of Dollars” karya Sergio Leone. Namun sebenarnya apa yang membuat Yojimbo menjadi sebuah film yang istimewa?

Film ini menginspirasi terlalu banyak remake. Seperti yang dibuat oleh Walter Hill dengan film ‘Last Man Standing”  atau apa yang dibuat oleh Joel dan Ethan Cohen dalam “Miller’s Crossing”. Jika anda menyukai segala film ala wild wild west, di mana seorang asing datang ke kota lalu menjadi heorik, maka anda mesti mencari di mana ide itu bermuara. Siapa lagi kalau bukan Kurosawa yang pertama memulainya?

Rashomon adalah karya monumental yang menggetarkan. Tunggu, segala label hiperbolik ini bukan tanpa alasan. Bayangkan, seorang pria mati, seorang perempuan diperkosa, ada empat saksi mata namun ada lima cerita yang saling berbeda, berganti dan kemudian berkelindan. Siapa yang patut dipercaya? Siapa yang berdusta? Bagaimana jika semua cerita itu benar, siapa yang akan ada pilih untuk percayai?

Film yang diangkat dari cerita pendek karya Ryƫnosuke Akutagawa, Rashomon adalah film yang menjadikan sosok Kurosawa sebagai sutradara jenius dan menjadikan film film jepang dalam peta film dunia. Film ini mendapatkan penghargaan di Venice Film Festival. Rashomon menjadi satu tonggak penting bagaimana sejarah, dan persepsi kebenaran, kembali dipertanyakan melalui film.

Red Beard merupakan gambaran bagaimana kemanusiaan mesti bersikap di tengah krisis. Ia mesti ditonton sebelum anda menonton Ikiru. Film ini merupakan pintu masuk untuk memahami kemanusiaan dalam film-film Kurosawa. Bagaimana ia memandang kemanusiaan, empati dan kepedulian terhadap sesama. Film ini adalah film terakhir yang digarap Kurosawa bersama Toshiro Mifune.

Red Beard adalah film tentang seorang dokter dan muridnya. Film ini terinspirasi dari fragmen novel Fyodor Dostoevsky. Bagaimana ceritanya? Anda mesti melihatnya sendiri, film ini akan kurang menarik ditonton jika dibocorkan di sini. Film ini juga dipuji sebagai salah satu gambaran bagaimana Kurosawa sangat mencintai sastra. Selain menggarap film-film adaptasi dari Shakespeare, Kurosawa juga menggarap film dari Dostoevsky.


Senin, 08 Juni 2015

Ngerinya Anti Kretek

Pada Minggu 7 Juni kemarin, saya menghadiri sebuah diskusi terbuka tentang usaha meratifikasi FCTC. FCTC adalah Framework Convention on Tobacco Control. Sebagai orang yang tidak merokok, saya kurang nyaman di antara para perokok dan tidak suka rokok. Oleh karena itu acara ini bagi saya menarik. Karena ia bicara tentang bagaimana produk tembakau semestinya dikendalikan. Mungkin mereka akan bisa sedikit membahas bagaimana sebuah regulasi bisa dibangun untuk memberi jalan tengah antara perokok dan non perokok.

Tapi ada yang janggal, tidak, lebih tepatnya menjadi sebuah monolog pengadilan yang buat saya agak memuakan. Apalagi ketika moderator acara itu Tulus Abadi, dari YLKI, membuka diskusi dengan penghakiman terhadap para perokok. Tulus mengatakan bahwa para perokok mesti dibedakan dalam penerima Jaminan Sosial Kesehatan. Lebih daripada itu ia menyebut orang miskin yang merokok, semestinya tidak boleh disebut miskin, karena mampu membeli rokok.

Saya terkejut, bukan hanya karena cara berpikirnya yang demikian menggelikan, tapi bagaimana ia melakukan rasionalisasi terhadap apa yang ia ucapkan. Tulus mengatakan bahwa kalo orang miskin terus-terusan dijamin kesehatannya oleh pemerintah, maka dana kesehatan bisa jebol. Lebih daripada itu, dalam forum itu, Tulus meminta kepada para dokter untuk mejadi garda depan untuk mengendalikan hal ini.

Forum itu lebih mirip penghakiman kepada para perokok ketimbang melakukan rasionalisasi terhadap ratifikasi FCTC. Tulus dalam hal ini, membuat saya bergidik ngeri, bagaimana ia meminta pemerintah melakukan pengecualian jaminan sosial kesehatan hanya karena seseorang merokok dan tidak. Lebih daripada itu, ia menyebut seseorang miskin dan tidak miskin hanya berdasar kemampuan membeli rokok.

Jika logika serupa diterapkan, semestinya tidak hanya orang miskin perokok saja yang harus dibedakan dalam penerima santunan BPJS. Jika rokok dianggap tidak sehat, maka bagaimana dengan mi instan? Bukankah selama ini mi instan dianggap berbahaya dan memiliki kandungan kurang baik jika dikonsumsi terus menerus, maka Tulus juga harus mendukung agar orang miskin yang makan mi instan harus dibedakan pelayanannya dari BPJS.

Dalam forum itu dihadirkan beberapa panelis, seperti Dr Hakim Sorimuda Pohan penasihat Komnas Pengendalian tembakau, Dr. Theresia Sandra Diah Ratih dari Kasubdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Kementerian kesehatan, dan Jalal yang disebut sebagai aktivis pengendalian tembakau. Forum itu lebih layak disebut pengadilan bagi para perokok dan petani tembakau, ketimbang usaha meratifikasi FCTC.

Dalam forum itu Dr Hakim Sorimuda Pohan menyebut kebiasaan buruk merokok sebagai sebuah budaya yang buruk. Ia lantas memberikan analogi budaya Matador di Spanyol, yang menurutnya barbar dan telah dihentikan. Dr Hakim Sorimuda Pohan secara tersirat menyampaikan bahwa kretek, yang merupakan produk budaya asli Indonesia, sebaiknya dihilangkan saja. “Pancasila kan menyebut Kemanusiaan yang adil dan beradab, bukan keadilan yang berbudaya,” katanya.

Apakah tolak ukur keberadaban itu? Apakah dengan meniadakan matador Spanyol menjadi sebuah bangsa beradab? Lantas bagaimana Dr Hakim Sorimuda Pohan mengukur sikap Spanyol pada bangsa Catalan dan Basques? Atau mungkin bagi beliau Matador itu lebih penting dihilangkan sebagai simbol perdaban ketimbang memberikan keadilan bagi bangsa Catalan dan Basques.

Terlalu banyak fallacy yang diberikan Dr Hakim Sorimuda Pohan, bagaimana ia mengatakan bahwa keselamatan bangsa ini terancam kecanduan atas nikotin. Bagaimana mengukur klaim ini? Ia mengatakan bahwa kematian akibat rokok lebih banyak dibandingkan korban perang dunia I dan II. Saya jadi ingat sosok Taufiq Ismail, yang pernah mengatakan bahaya ”nikotinisme” yang melampaui gabungan Naziisme dan komunisme. ”Saat ini rata-rata kematian akibat nikotin di dunia mencapai empat juta jiwa per tahun, sementara Naziisme tahun 1933-1945 dan komunisme dunia hanya 3,7 juta jiwa per tahun.”

Bagaimana mengukur kematian itu? Apakah baik Dr Hakim Sorimuda Pohan dan Taufiq Ismail pernah menghitung kematian yang terjadi atas nama agama? Atau bagaimana dengan kematian akibat kecelakaan lalu lintas jalan? Bagaimana dengan kematian akibat penyalah gunaan senjata? Juga kematian akibat penyakit degeneratif dari pola makan yang tidak sehat dan berasal dari makanan cepat saji juga minuman bersoda? Sudahkah mereka melakukan penghitungan?

Dalam forum itu Dr Hakim Sorimuda Pohan dan Jalal memberikan sebuah analisis menarik tentang produksi tembakau Indonesia. Intinya mereka mengatakan bahwa FCTC tidak akan mempengaruhi produksi tembakau di Indonesia. Keduanya mencontohkan Cina, Brazil dan India sebagai negara yang telah meratifikasi FCTC namun produksi tembakaunya tetap tinggi. Tapi keduanya gagal menjelaskan, apakah produksi tembakau hasil dari Cina, Brazil dan India merupakan hasil dari pertanian tradisional ataukah produksi masal industri tembakau?

Saya ingat ketika saya datang ke Legoksari, Desa Lamuk, Kecamatan Tlogomulya, Temanggung, tempat Tembakau terbaik di dunia dihasilkan. Nama tembakau itu adalah Tembakau Srinthil, satu jenis tembakau khusus dihasilkan dari daun paling atas pada tanaman tembakau. Biasanya dipetik paling akhir. Sewaktu masih di pohon, tak ada yang bisa mengetahui lembaran daun itu akan menjadi Srinthil. Menurut Subakir,  Kepala Desa Legoksari, tak ada yang bisa memastikan kapan dan bagaimana tembakau Srinthil dihasilkan. “Bahkan peneliti dari Amerika dan Cina sudah mencoba, tapi tak bisa. Hanya bisa di Temanggung,” katanya.

Tembakau Srinthil memiliki aroma khas, harumnya mirip aroma buah salak yang matang. Daunnya berbentuk melengkung hampir keriting dan susah dirajang. Agak lembap, tetapi tidak basah. Warnanya hitam pekat seperti disiram madu. Kadar nikotinnya tinggi, berkisar 3% – 15%, persentase cukup tinggi untuk tembakau. Inilah yang menjadikan Srinthil incaran pemburu tembakau berkelas.
Srinthil bukanlah jenis tembakau, melainkan variasi khusus dari tembakau biasa yang tumbuh secara abnormal. Secara kualitas Srinthil merupakan tembakau grade F, G, H, dan I, dengan kadar nikotin paling tinggi. Riset Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Malang, Jawa Timur, menyimpulkan kondisi alam, cuaca, dan struktur tanah di Temanggung memang memberikan panen tembakau dengan kualitas terbagus di dunia.

Mau tidak mau saya dibuat khawatir oleh para Anti Kretek. Mereka tidak hanya abai terhadap fakta-fakta unik lapangan yang tidak bisa dipukul rata. Mereka juga ngotot bahwa FCTC tidak akan merugikan petani tembakau, tapi pada sisi lain juga melakukan usaha penggiringan opini bahwa industri rokok demikian berkuasa. Dari sebuah portal media online saya membaca bahwa Sekjen Gabungan Perserikatan Perusahaan Rokok Indonesia (GAPPRI), Hasan Aoni Aziz, seyogyanya diundang untuk jadi pembanding, namun dia kemudian tidak diberikan kesempatan bicara. Malah memberikan kesempatan seorang wartawan kompas untuk bicara soal bahaya rokok. Ada apa in?

Baik Dr Hakim Sorimuda Pohan, Tulus Abadi dan juga Jalal berulang kali mengatakan bahwa ratifikasi FCTC tidak akan membuat petani tembakau tersisih. Jalal sekali lagi dengan datanya mengatakan bahwa produksi tembakau di Indonesia menurun, tapi di sisi lain ia mengatakan bahwa lahan tembakau semakin luas bahkan melakukan deforestasi. Saya jadi ingin bertanya, seberapa luas deforestasi yang dilakukan pertanian tembakau dibanding dengan industri sawit. Atau bagaimana perjuangan Tulus terhadap penyakit yang disebabkan oleh minyak goreng.