Mengapa
Akira Kurosawa menjadi sosok raksasa film paling penting yang dikenal dunia
dari Jepang? Ia menjadi guru bagi banyak sutradara generasi berikutnya seperti Roman
Polanski, Nicholas Roeg dan Quentin Tarantino. Bagi banyak orang Kurosawa
adalah manusia jenius yang bisa menghadirkan nuansa cerita film dengan
gambar-gambar yang indah dan ikonik. Selain itu Kurosawa juga mampu
menghadirkan narasi kisah tersendiri pada tiap tiap gambarnya.
Namun tidak
banyak generasi hari ini yang mengenal sosok Kurosawa sebagai maestro jenius
yang mampu menghadirkan kisah-kisah sentimentil dan manusiawi. Padahal
karya-karyanya bisa dilihat dan dirasakan pada film-film modern yang digarap oleh
sutradara-sutradara raksasa Hollywood seperti Francis Ford Coppola, Martin
Scorsese, Steven Spielberg dan George Lucas.
Ia adalah
sutradara yang menolak pakem linier dalam penceritaan. Baginya struktur adalah
satu elemen dalam film yang tidak harus dipatuhi. Ia bisa membuat narasi cerita
dengan susunan akhir, awal dan tengah. Atau tengah, awal dan akhir tanpa harus
membuat penontonnya menjadi bingung. Sesuatu yang kemudian merevolusi film
modern.
Banyak yang
menganggap bahwa filmnya yang berjudul Seven Samurai sebagai karya utamanya.
Film yang dibuat pada 1954 memang salah satu yang mengangkat namanya ke dunia,
namun banyak karya-karya lain dari Kurosawa yang mesti dilihat dan ditonton. Ia
juga punya kekuatan untuk menghadirkan elemen gerak, suara, dialog, narasi
cerita dan gambar menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Untuk
merayakan ulang tahun ke 105 Akira Kurosawa tahun ini, baiknya kita kembali
menonton film-film klasik Kurosawa yang kurang dikenal. Tentu ada banyak judul
selain Seven Samurai yang dibuat dengan sangat indah dan monumental oleh
Kurosawa. Geo Times akan memilihkan empat film Kurosawa yang penting untuk
ditonton, tentu saja selain Seven Samurai.
Ikiru
adalah film yang mampu menghadirkan perasaan bersalah, rasa haru, dan keinginan
untuk berubah menjadi lebih baik. Film ini, bagi saya, adalah film terbaik dan
paling monumental yang dibuat oleh Kurosawa. Ia menghadirkan sosok yang dekat,
tentang manusia yang dikuntut kematian. Sesosok pegawai negeri yang divonis
memiliki penyakit mematikan. Dimainkan dengan sangat sempurna oleh Takashi
Shimura, sang pegawai negeri itu ingin, sekali saja dalam hidupnya, menjadi
sosok yang berarti.
Ikiru
menghadirkan keharuan bukan karena si tokoh utama sekarat, namun ketika
kematian menyambutnya ia malah ingin memberi lebih banyak. Dalam film ini kita
akan melihat gambaran betapa rumitnya birokrasi yang kemudian mengingatkan kita
pada negeri ini. Film ini mampu mengawinkan kritik sosial, lanskap muram tema
kematian dan semangat hidup dalam satu tema yang aktual.
Film
berikutnya adalah Yojimbo. Tema klasik tentang seorang ronin, samurai tanpa
tuan, yang terjebak di antara perang dua gangster yang menguasai kota kecil.
Tema ini kemudian sering diadopsi oleh film seperti Zatoichi dan film film
barat ala cowboy. Salah satunya adalah film “A Fistful Of Dollars” karya Sergio
Leone. Namun sebenarnya apa yang membuat Yojimbo menjadi sebuah film yang
istimewa?
Film ini
menginspirasi terlalu banyak remake. Seperti yang dibuat oleh Walter Hill
dengan film ‘Last Man Standing” atau apa
yang dibuat oleh Joel dan Ethan Cohen dalam “Miller’s Crossing”. Jika anda
menyukai segala film ala wild wild west, di mana seorang asing datang ke kota
lalu menjadi heorik, maka anda mesti mencari di mana ide itu bermuara. Siapa
lagi kalau bukan Kurosawa yang pertama memulainya?
Rashomon
adalah karya monumental yang menggetarkan. Tunggu, segala label hiperbolik ini
bukan tanpa alasan. Bayangkan, seorang pria mati, seorang perempuan diperkosa,
ada empat saksi mata namun ada lima cerita yang saling berbeda, berganti dan
kemudian berkelindan. Siapa yang patut dipercaya? Siapa yang berdusta?
Bagaimana jika semua cerita itu benar, siapa yang akan ada pilih untuk
percayai?
Film yang
diangkat dari cerita pendek karya Ryƫnosuke Akutagawa, Rashomon adalah film
yang menjadikan sosok Kurosawa sebagai sutradara jenius dan menjadikan film
film jepang dalam peta film dunia. Film ini mendapatkan penghargaan di Venice
Film Festival. Rashomon menjadi satu tonggak penting bagaimana sejarah, dan
persepsi kebenaran, kembali dipertanyakan melalui film.
Red Beard
merupakan gambaran bagaimana kemanusiaan mesti bersikap di tengah krisis. Ia
mesti ditonton sebelum anda menonton Ikiru. Film ini merupakan pintu masuk
untuk memahami kemanusiaan dalam film-film Kurosawa. Bagaimana ia memandang
kemanusiaan, empati dan kepedulian terhadap sesama. Film ini adalah film
terakhir yang digarap Kurosawa bersama Toshiro Mifune.
Red Beard
adalah film tentang seorang dokter dan muridnya. Film ini terinspirasi dari
fragmen novel Fyodor Dostoevsky. Bagaimana ceritanya? Anda mesti melihatnya
sendiri, film ini akan kurang menarik ditonton jika dibocorkan di sini. Film
ini juga dipuji sebagai salah satu gambaran bagaimana Kurosawa sangat mencintai
sastra. Selain menggarap film-film adaptasi dari Shakespeare, Kurosawa juga menggarap
film dari Dostoevsky.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar