Tampilkan postingan dengan label tegalboto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tegalboto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Ber umur




Jumat kemarin saya hampir mati. Oke itu sedikit berlebihan. Tapi yang benar hampir selama dua hari saya sekarat dan tak bisa melakukan apa-apa selain tidur dan terlentang. Duduk pun rasanya sangat sakit. Kata seorang teman yang perawat itu karena liver saya, yang lain bilang karena sondep (you know that kinda stomach ache but like hell), dan ibu saya bilang karena kelelahan. Saya pribadi entah kenapa lebih percaya pada yang terakhir.

Hampir selama dua minggu saya liputan seperti orang gila. Berkisar dari Bondowoso sampai dengan Semboro. Itu sekitar 200 km bolak balik. Setiap hari saya lakukan dengan jam kerja dari jam 08.00 sampai pulang jam 23.00. Entah kenapa waktu itu saya hanya ingin keluar, bekerja, menulis dan baca komik. Seperti ada ketakutan-ketakutan jika saya diam. Saya akan tersedot masuk kedalam sebuah ruang gelap bernama kebencian dan dendam.

Mungkin ada kaitannya dengan masalah pribadi yang saya alami dengan seorang kawan, seorang gebetan dan juga sebuah perkumpulan. Well, shit do happens right? Some handle it with care, some others handle it like shit. Kita bisa lari dari masalah dan menganggapnya selesai. Atau berdiri menghadapi sebagai seorang jantan. Sayangnya saya bukan keduanya Dan sekali lagi sepertinya saya melakukan apa yang saya bisa. Diam.

Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya.

Sayangnya saya tak punya mental atau kemampuan seperti Gie. Dia bisa saja bilang begitu karena dia punya banyak teman karib, barisan groupies, pekerjaan menyenangkan, hobi asik dan sederet hal-hal keren yang lebih menarik daripada nongkrong seharian di café wifi. Hidup adalah soal hitam dan putih buat Gie. Dan sialnya saya selalu memilih untuk jadi abu-abu.

Pada bulan ini sekitar 2007 saya ikut organisasi pers mahasiswa. Namanya Tegalboto. Terlepas dari nama kampungan dan ece able. Disana saya banyak belajar mengenai kemampuan bertahan hidup. tentang bagaimana menghadapi manusia arogan, berkata kasar, sok kuasa, sok pinter (yang memang pinter) dan bagaimana cara menulis. Oh tentu saja tidak gratis. Semuanya dibayar dengan ketundukan dan rasa patuh.

Perintah pertama yang saya terima adalah membaca. Saya suka membaca tapi tidak dengan buku-buku tebal berjudul pos realitas, bumi manusia, apalagi kamus besar bahasa Indonesia. Whats the point anyway? Well memang saya tak pernah disuruh membaca semua itu, tapi seperti ada dorongan untuk membaca itu. Buku-buku tadi bergeletakan di ruang redaksi Tegalboto. And I’m a bit curious about what they read.

They said ignorance is a bliss.

Well can’t agree more. Sok tau itu berbahaya mau tahu itu lebih berbahaya. Keingintahuan kerapkali membuat orang jadi lupa diri dan akhirnya berakhir pada hal-hal buruk. Oke, tidak semuanya. Beberapa. Sebagian kecil. Oke fine! Sangat kecil dari rasa ingin tahu menyebabkan anda tidak beruntung. Tapi rasa ingin tahu saya waktu itu membuat saya terpapar nanar karena rasa malu. Apa itu KOMODIFIKASI CITRA? APA ITU MAGNUM OPUS? APA ITU TRANSENDEN?

Akhirnya saya harus berteman dengan KBBI untuk mencari itu semua. Saya terlahir pemalu. Oke maksudnya malu-maluin. Cenderung sok tahu dan sok hebat. But peoples change. As age goes by, so does maturity. Saya berusaha untuk tak lagi sok tahu dengan mencari tahu. Anehnya hal ini saya lakukan atas kesadaran sendiri. Bukan karena dorongan orang lain, ya meski kadang masih suka nanya dengan beberapa senior di Tegalboto.

Hari ini Tegalboto ulang tahun. Entahlah saya tiba-tiba ingin menulis tentang bagaimana rasa rindu yang lindap itu berjelaga. Bahwa saya merindukan diskusi kritis di malam dengan penuh makian. Tentang bagaimana hidup di luar Tegalboto itu kejam. Dan bagaimana kami harus begadang setiap malam untuk mengejar deadline. Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Ini muka penuh luka Siapa punya ?

Ya bahkan Chairil pun pernah labil dan krisis identitas bukan? Bahwa segala yang lalu kerap kali legit dan membuat kita mabuk kepayang. Nostaligia selalu menawarkan kisah-kisah manis hidup yang telah usai. Sedangkan hari-hari kita di depan masih menunggu untuk dirubuhkan. Saya rindu Tegalboto yang lalu. Sedangkan hari ini saya bahkan tak bisa pergi kesana untuk sekedar menghidu bau apak udaranya. Dasar gombal.

Kita semua gombal. Siapa yang tidak? Seorang penulis, apalagi jika dia penyair, adalah mahluk paling gombal kedua setelah penyanyi dangdut. Oh benar. Kasta tertinggi mahluk gombal bukan penyair. Cih! Mereka tak akan bisa bikin syair bagus macam penyanyi dangdut. Sebuah gitar, sesisir sajak. Putuslah semua urat malu para perawan. Dikejarnya kau nanti bagai seorang maling hati. Aih.

Gombal atau tidak itu perkara perspektif. Kalau kau tanyakan pada Marx dia bakal bilang, gombal itu candu kaum borjuis supaya proletar tetap tertindas. Jika kau tanyakan pada Wittgeinstein, dia bakal bilang gombal itu permainan bahasa untuk menyembunyikan makna sebenarnya. Jika kau tanya Rhoma Irama, bisa panjang urusannya. Dia punya puluhan lagu soal gombal. Dikata terlalu habis kau dikejar pemain gendang.

Tiada insan yang bebas dari ujian.

Aih manis benar bang Rhoma bikin syair. Saya kira Tegalboto juga demikian. Ia tak bebas dari ujian zaman. Jika dahulu angkatan saya menerima enam orang keparat yang sebagaian besar telah lulus dan berprestasi nasional. Maka Tegalboto juga sudah meraih berbagai penghargaan nasional. Sudah pula sampai ke Jerman dan sudah pula sampai ke Merauke.

Ini bukan tentang identitas cauvinis kolektif. Tetapi mengenai memaknai proses sebagai usaha berkelanjutan tanpa akhir. Saya bisa hilang arah, atau mentok berkarir, atau disoriensatasi hidup, atau post power syndrome atau bahkan mungkin menopouse. Tapi setiap era punya caranya sendiri beradaptasi dan membuat karya monumental. Saya kira ini yang sudah tecatat dalam masing-masing kepala alumnus Tegalboto.

Proses adalah laku hidup kepanditaan. Serupa keras hati Bambang Ekalaya yang berlatih memanah meski tanpa guru. Awak Tegalboto, pada zaman saya, kehilangan sosok guru. Karena kami merasakan kesetaraan dan kesejajaran. Tak ada yang patut di gugu dan di tiru. Karena role model dan patronase hanya akan berbuntut kekecewaan jika luput pada amanah.

Pada akhirnya perjuangan kita hanya sloganistis.

Ahmad Wahib, meski HMI tapi tidak asu, boleh berkata begitu. Embel-embel platonik ‘menuju pencerahan masyarakat’ itu berat. Saya tidak tahu siapa jancuk yang membuat kata-kata itu. Dikira gampang melakukan pencerahan. Apalagi mengajak serta masyarakat yang amoral, sakit dan gendeng ini menuju kesana. Membawa diri sendiri belum tentu bisa apalagi orang lain. Meh!

Kuncinya adalah menuju pencerahan. Itu adalah ajakan berproses. Menuju bukan hasil, karenanya proses itu sendiri di Tegalboto adalah sebuah zetgeist. Bildungprozze. Pembentukan jati diri yang dilakukan perlahan dan didasari pemahaman. Saya yakin Tegalboto bukan pabrik yang berorientasi pada hasil keluaran. Tapi lebih kepada pembentukan kedalam.

“Pengarang” sebut Pramodya Ananta Toer, “mendapatkan tekanan terberat atas perlakuan yang ditimpakan padanya, pengalaman pribadinya adah juga pengalaman bangsanya, dan pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.” Maka maknai proses sebagai pengalaman. Dan kalian akan mendapati tugas seorang pengarang (penulis) adalah mahaberat. Karena harus menuliskan keabadian.

Karena Hidup adalah keberanian menjadi kita.

Saya sudah muak untuk kemudian terus menerus berproses di Tegalboto. Karena seorang bayi yang disapih pun akan sampai pada masa peralihan. Apa yang diberikan tegalboto pada saya jauh lebih dari cukup. Jauh dari memadai untuk memulai hidup sebagai seorang pemikir atau penulis. Itupun jika saya punya cukup nyali untuk melakukannya. Karena seringkali alasan lebih panjang daripada keinginan untuk memulai.

Inilah Tegalboto berusia 18 tahun. Sudah cukup dewasa untuk menonton naughty america. Dan sudah cukup matang untuk ikut SNMPTN. Tapi kembali, proses seringkali meminta tumbal atau martir. Dan kebanyakan dari mereka dilupakan. Semoga saja pengurus Tegalboto hari ini tidak perlu jadi keduanya. Semoga mereka jadi anak-anak zaman yang berlari mengejar narasinya sendiri. Narasi pencerahan. Tabik.

Jumat, 24 Juni 2011

Bapak Desain Grafis Persma Jember



Begini saja, jika ada anak Persma Jember yang mengatakan bahwa ia mampu ngelayout dengan baik tapi tak mengenal nama Widi Widahyono. Well anda boleh kenalkan saya padanya untuk saya injak muka dan meludahinya pelan-pelan. Benar, jika anda membaca judul sontoloyo dari tulisan ini maka anda tahu bahwa saya sedang melakukan sebuah klaim. Klaim terhadap suatu titel dan identitas kedirian.

Saya ingin bercerita tentang seseorang yang saya hormati sebagai begawan, wali, suhu, master, sinuhun, dosen dan ustad sekaligus. Seseorang yang dikenal tak banyak bicara tetapi dikenal dengan sejuta karya yang membahana. Orang itu adalah Widi Widahyono. Punggawa desain grafis Persma Jember dan orang yang mampu mengangkat derajat layouter dalam sebuah organisasi pers setara dengan pemimpin umum dan pemimpin redaksi.



Mas Widi tinggal di daerah paling tertinggal di Jember. Ledok Ombo, menurut BPS Jember, merupakan kantong buta huruf terbesar di Jember. Hampir 80% orang disana putus atau tak sekolah. Ini data valid tanya saja sama kepala desa Ledok Ombo kalau anda tak percaya. Sangat mengagetkan dari tempat semacam itu bisa lahir seorang dengan kemampuan jenius dalam melayout.

Mas Widi sebenarnya baru berkenalan dengan layout saat beliau mulai aktif di UKPKM Tegalboto. Diperkenalkan software desain oleh Pukulun Semiotika, Poskolonialisme, dan Multikulturalisme, Sigit Budi Setiawan, membuat mas Widi jadi keranjingan layout. Meski sebelunya ia pernah kuliah di ITS dalam jurusan teknik informatika, Mas Widi mulai serius mendesain sejak di Tegalboto.

Software yang pertama digauli Mas Widi adalah Page Maker yang konon katanya sangat anying sekali. Butuh berlayer layer dan kejelian tinggi untuk menata sebuah gambar dan kata menjadi sinergis. But Widi the All Mighty membuktikan bahwa ia memang dilahirkan untuk jadi tukang layout. Seingat saya Newsletter Tegalboto Pos yang bertajuk Sandal merupakan salah satu karya, yang segera menjadi klasik, dari Mas Widi.

Dalam banyak hal dia tak sekedar belajar dan menautkan apa yang ia terima dalam kanvas kosong. Ada sebuah tanggung jawab sosial dan hati (bukan moral) untuk berkarya dan melawan. Hingga pada akhirnya Mas Widi menciptakan sebuah alterego perlawanan gerilya grafis. Kick by Grapic the Aestethic of Propaganda. Well jika anda pernah melihat sebuah poster mirip gambar korek api dengan judul, awas ada maling di sekitar kita, well itu karya mas Widi.




Mari kita coba lepaskan Anxiety of Influence dalam mitos-mitos yang melingkupi Mas Widi. Seperti fakta bahwa dia Cina, tapi gak pelit, bahwa ia sebenarnya adalah alien dari galaksi Tuetentmonto yang menyaru dalam bentuk manusia labil, atau bagaimana Mas Widi bisa sangat cool dan jarang bicara, atau bagaimana bisa mempesona banyak wanita tanpa menjadi ganjen. Mas Widi adalah mitos itu sendiri.

Hari ini sinuhun begawan Widi telah melakukan ruwat skripsi sebagai alih jenjang mahasiswa abadi menjadi pengangguran terdidik. Kini tongkat maraton sebagai koboi kampus melekat pada saya. Well dalam banyak hal saya akan sedih, tapi kali ini saya akan terima dengan penuh kebanggaan. Karena yang memberi adalah mas Widi. Tentu ia tak ingin saya terus diam dan tak segera lulus. Saat memberi gelar itu ia berkata "Ndang lulus le, sumpek delok raimu."



Mas Widi yang terkasih dan metal selalu. Mungkin ini hanya sekegar gumaman tak penting. Sekedar Rendesvousez dari hidupmu yang selalu Rawk itu. Tapi sekarang dengan gelar ditangan. Mari Mas kita MAJU BERKARYA!

Selasa, 10 Mei 2011

Mengingat Gie dan sekedar catatan tentang Persma

~ Pada akhirnya kita memilih jadi tumbal atau martir.

Jadi dimana saya harus memulai untuk berkisah tentang pers mahasiswa. Sungguh sebenarnya bercerita mengenai sejarah adalah usaha melawan kebosanan. Seperti kamu, saya juga benci untuk duduk dan mendengarkan orang tak jelas bercerita tentang hal yang sebenarnya tak menarik. Persma adalah segala puncak dari ke-tak-menarikan.


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas organ mahasiswa yang bergerak dalm bidang jurnalistik. Seharusnya demikian, tetapi praktek dilapangan seringkali tak jauh beda dengan ekskul menulis. Ya menulis. Sekedar mencurahkan uneg-uneg dalam kata dan ditautkan seolah itu menjadi karya hebat.


Saya mungkin terdengar nyinyir, tapi lebih baik kamu sekalian yang hendak berproses dalam pers mahasiswa tahu lebih awal. Bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis. Karena bukanlah persma jika tak kritis, ia hanya sekedar penulis medioker kampungan.


Pers mahasiswa dimulai dari ratusan tahun lalu. Pada saat para mahasiswa hindia di Belanda berusaha menulis untuk menuntut pelaksanaan politik etis. Sebuah usaha mencerdaskan pribumi dengan akses pendidikan yang merata dan lebih luas. Kala itu belum dikenal pers mahasiswa. Hanya perjuangan atas dasar kesukuan demi kemajuan daerahnya masing-masing.


Kemudian hal ini berkembang setelah ide-ide nasionalisme kebangsaan dikenal. Tentu saja hal ini dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 yang konon adalah hari sumpah pemuda. Melalui sumpah “berbahasa satu bahasa Indonesia” kanal perjuangan yang dahulu berupa diplomasi dan perjuangan perang. Kini perjuangan menemukan jalannya yang baru. Kata-kata.


Tulisan dan kaitannya dengan pers mahasiswa, adalah perjuangan untuk mengabarkan. Informasi dan usaha menarasikan perlawanan. Kamu akan memulai proses panjang yang diawali satu huruf, kata, kalimat dan pamflet yang bisa menggugah dan menggerakan hati. Dalam banyak peradaban, sebuah tulisan bisa mengawali sebuah revolusi pemikiran.


Adalah Soe Hok Gie, seorang tionghoa pemikir cum wartawan, yang menyadari hal tersebut. Menulis untuknya adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu, sebagai wartawan mahasiswa, Gie secara frontal melakukan kritik terhadap pemerintah dan tokoh berkuasa kala itu. Takut? Tentu tetapi apalah arti seorang intelektual yang gagal memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan bersama. Mereka tak lebih dari sampah.


Jika kemudian saya harus bertanya maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Gie telah menjawabnya dengan garang ia berkata :


Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: Kebenaran.


Bukankah kebenaran merupakan hal yang paling hakiki? Lalu kemanakah kebenaran itu kemudian akan berjalan. Saya pikir ia akan berjalan melalui kata-kata menuju setiap hati nurani para pembacanya. Dan pers mahasiswa sebagai salah satu organ yang bergerak di dalamnya harus konsisten untuk melakukan hal itu.


Kemudian di manakah pers mahasiswa harus berada? Saya pikir pers mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus, harus mulai bekerja dan peduli dengan segala hal di sekitar kampusnya. Hal-hal remeh temeh yang terkait dengan permasalahan kampus. Semisal; dedikasi dosen terhadap proses perkuliahan atau akses terhadap berkegiatan. Jangan terpaku pada hal-hal besar yang nantinya akan membuat kita melayang dan lupa diri. Tulislah hal di sekitar kampus kamu dan kabarkan dengan lantang tanpa embel-embel.


Lalu apakah yang harusnya dikerjakan oleh pers mahasiswa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca dan membaca. Karena mustahil memiliki tulisan yang baik jika kamu tak pernah membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus. Ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat.


Bagaimana setelah kita membaca? Banyaklah berdiskusi dan ingat CATAT SEGALA HAL PENTING selama diskusi berlangsung. Carilah teman diskusi yang kamu anggap ia menguasai hal yang ingin kamu atau telah kamu baca. Dengan demikian kamu akan punya pandangan yang lebih menyeluruh dan lebih baik. Setelah itu lakukan proses pengendapan, membiarkan pemikiran dengan cara kontenplasi, lalu meminjam sajak Saut Sitompul “Tulis, Tulis, Tulis!”


Menulis bukan untuk gaya-gayaan dan unjuk kepintaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha perjuangan. Sudah berapa kali saya gambarkan dalam tulisan ini, bagaimana sebuah tulisan dapat mempengaruhi seseorang. Sebagai contoh kalian perlu membaca Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi karya wartawan gaek Bondan Winarno. Sebuah penulisan investigastif yang mampu membuat mentri pada zaman Soeharto meradang.


Jangan takut saat menulis, seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte, “Aku lebih memilih menghadapi seribu bayonet dari pada sebuah pena,” Ia tak sedang gombal. Menulis kawan akan menjadikan kamu seroang pejuang tersembunyi. Tetapi perlu diingat jangan kemudian privilage itu membuat kalian merasa lebih baik dari orang lain. Jika demikian kalian boleh masuk tong sampah secara hina.


Ini bukan panduan, semacam rasa semangat untuk berbagi saja. Kamu bisa belajar dengan sendirinya. Pers mahasiswa sejatinya adalah sekedar usaha untuk mencari jati diri melalui organ penulisan jurnalistik. Jangan telan bulat-bulat apa yang saya tulis. Itu hanya akan menjadikan kamu boneka dan kacung saja. Jadilah besar karena kemampuan kamu sendiri, bukan karena orang lain. Seperti apa yang dikatakan Gie.


Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.


Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta.


Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan. Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan.


Pada akhirnya Gie berkata demikian “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu?

Senin, 13 Desember 2010

Tentang Ning yang Ku Tahu


Dalam hidup saya meyakini tidak ada cewek seperti ranger pink. Jago silat, pinter dan cakep. Tapi tuhan selalu punya lelucon yang tidak selesai. Ia menciptakan Riskaning “Suning” Dianti. Ibarat mobil, Suning itu Humvee, eksotis tapi besar. Dan ini kisah tentang dia.

Halaman parkir gedung Sutarjo penuh sesak dengan orang. Kedua pintu di sisi sebelah selatan gedung itu dibanjiri oleh orang. Para pemuda-pemudi yang memakai baju toga itu berdesakan dengan berbagai macam orang. Ada yang membawa orang tuanya, kekasihnya, ada pula yang diseret oleh tukang foto wisuda. Disekeliling halaman parkir itu muncul lapak-lapak foto dadakan yang dibangun seadanya. Sebagian besar para pelaku wisuda disana tersenyum lepas, beberapa bingung dengan ponsel menempel di pipi. Di tengah lapangan ada dua lajur karpet yang dijejer melintang, diatasnya terdapat foto para pelaku wisuda yang dipotret pagi sebelumnya. Matahari terik bersinar tepat diatas ubun-ubun. Suasana riuh ramai karena suara tukang foto berpadu dengan teriakan keceriaan para pelaku wisuda. Universitas jember saat itu sedang melaksanakan upacara Wisuda periode Ke dua untuk tahun 2010.

Tulilit tulilit. Ponsel saya berbunyi. Sebuah sms, “beh kamu dimana? Aku disebelah timur deket kursi, lagi duduk capek” bunyi sms itu. Saya bergegas melaju kearah utara, lalu menuju pintu sebelah kanan dari lapangan parkir Gedung Sutarjo itu. Saya celingak-celinguk, keluar-masuk, tapi wajah orang yang saya cari tak kunjung muncul. Saya mengeluarkan ponsel saya, lalu mencoba telepon. Tetapi kemudian tenoot, lowbat, kemudian mati. “juancuk” seru saya. Selalu saja mati di waktu yang tak tepat.

Sehari sebelumnya..

Sudah dua hari saya sakit perut, maagh yang selalu kumat kalau saya nekat gak makan seharian. Beberapa hari terakhir saya sedang berambisi menyelesaikan game Final Fantasy XII, game real playing game besutan SquareEnix. Dan berakibat berkurangnya porsi makan. Walhasil Saya sedang meringkuk diatas kasur memegang perut, saat 7610 saya berbunyi. Sama seperti hari sebelumnya Ning menghubungi saya via sms, kali ini pukul 10 malam. Mengingatkan bahwa besok dia mau Yudisium. Saya wajib hadir, dia pengen ngerasain difoto pake “kamera bagus”, maksudnya Nikon D90 saya. Kasian, memang dia kaum duafa yang fakir jepret. Padahal saya sudah berulang kali bilang, kalo motret dia itu merusak komposisi, selalu gak seimbang, dan butuh lensa yang Wide. Tapi tetep saja ngotot, Ya sudah apa boleh buat demi kecintaan saya pada kelestarian ragam fauna indonesia, saya rela memotret dia bersama kawanan-nya

Ning adalah representasi nyata dari Jaiko. Adik giant yang tembem dan ginuk-ginuk. Ia adalah gadis yang menyenangkan, murah senyum dan seperti memiliki stok positive attitude dua ton. Saya jarang melihat ia muram atau marah, mungkin hanya 3 kali saya melihat ia begitu. Saat pertama kali bertemu di kampus FISIP, saat pertama kali kerja sama dalam tim dan saat ia dipaksa wisuda secara prematur. Sikap itulah yang barangkali membuat saya jatuh cinta sampe mati dengan gadis ini. She is natural born adorable girl.

Detik itu juga saya dikejutkan dengan fakta bahwa dalam 2 hari Suning akan lulus. Akan keluar dari kepompong perkuliahan almamater Universitas Jember. Dan berjibaku dengan banyak orang untuk melepaskan status sebagai pengangguran terdidik. Namun bukan tentang pengangguran yang saya pikirkan, tetapi fakta bahwa dia akan lulus dan meninggalkan saya. Apa yang lebih buruk dari perpisahan?

Ning adalah pelangi. Dia memiliki banyak hal yang akan membuat anda kagum, kesal, iri dan mencintainya tanpa syarat. Pada satu sisi ia adalah pribadi yang disiplin, taktis, konsisten dan ulet. Namun disisi lain dia adalah pribadi ceroboh, panikan, dan mudah marah. Segala macam perasaan itu bertemu, bertumbuk dan membentuk ekstasi tersendiri. Ya seperti perasaan anda bertemu dengan senja yang dilihat sesaat. Menyilaukan, sempit dan buang-buang tenaga.

Ning adalah langit yang memudar saat mendung. Mundur ke masa-masa 4 tahun lalu saat kami berkenalan secara formal, pada awal masuk UKPKM Tegalboto. Sebuah Unit Kegiatan Pers tingkat Universitas Di Jember, meski pada akhirnya saya baru menyadari kalau sekret organisasi itu lebih mirip sarang penyamun gagal daripada markas kaum intelektuil. Saat itu saya mengenal Ning sebagai sosok pemalu, yang selalu bersembunyi dibalik sahabatnya Widya (Idz). Ia lebih banyak diam, berbisik pada Idz, dan sedikit sekali berinteraksi dengan anggota kelompok yang lain. Awalnya saya kira dia menderita gangguang mulut sehingga susah ngomong atau memang dia seorang pendiam (dan suatu saat saya mengutuk pemikiran saya ini). Entahlah, yang jelas saat itu saya tidak memperhatikan Ning, saat itu Ning hanya sekedar figuran karena tokoh utamanya adalah Idz.

Ning adalah seorang sahabat yang pekat. Sementara Idz adalah seorang gadis manis berhidung tidak mancung. Sangat menarik perhatian lelaki Jablay macam saya. Saya lebih memandang Idz saat itu dan melupakan keberadaan Ning. Malah saat itu saya pikir ia hanya pengganggu saja. Karena dimana ada Idz selalu ada Ning. Namun ekspektasi saya mengenai Ning hancur berantakan saat kami bekerja dalam tim untuk pertama kalinya. Penggarapan sebuah Buletin. Ning adalah salah satu orang yang ikut berperan didalamnya. Ia tidak sukses menulis, namun saya melihat kesungguhan kerja keras dari matanya. Matanya adalah api. Jika anda pernah membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Maka Ning adalah penganut Bushido yang paling taat. Ia gagal dalam proyek buletin pertama kami, namun ia sukses menyindir ego saya lewat kerja kerasnya yang teramat sangat.

Ning adalah sepasang mata yang menelanjangi. Kami jadi sering bertemu sejalan karir yang terus menjulang pada UKM tersebut. Yah, biasa sebagai pria berbakat, rendah hati, sedikit tampan dan cerdas macam saya. Diklat dasar magang saat itu cuma sekedar sarapan (padahal berat koyok asu, sumpah pada Rafli dan Dyah semoga mereka sukses!). Hampir setiap sore kami bertemu, mulai bertukar sapa, mulai banyak berbincang, dan mengenal satu sama lain. Sungguh momen syahdu yang mungkin sangat saya rindukan suasananya. Perlahan tapi pasti saya mulai mengenal Ning dan Ning sudah tau segala sifat saya dalam sekali lihat. Bahwa saya adalah seorang “megalomaniak pembual yang gak tau diri”.

Ning adalah seorang seniman. Saya yakin itu, karena dalam setiap karya yang ia buat. Ia tidak pernah setengah-setengah. Selalu total dan bertanggungjawab. Maka bukanlah sebuah kejutan jika ia pada tahun 2008 lalu memenangi kompetisi desain poster KPK yang diadakan di Jember. Ia tidak memenangi 1 tetapi 2 gelar sekaligus. Sebagai Juara 3 dan juara Favorit lomba poster KPK. Saya ingat sekali, sehari setelah pengumuman yang juga bertepatan dengan Ulang Tahun saya dan Mas Widi. Ia mentraktir saya Pizza Hut. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan karena saya sebelumnya belum pernah menimatir 'Roti Umbel" tersebut. poor me

Ning adalah seorang Jenderal bintang Lima. Jika anda pernah mendengar Student Journalistic Festival, sebuah ajang pertemuan pers siswa SMA sekarisidenan besuki. Maka anda harus pula mengenal Ning. karena dia adalah seorang mastermind yang menggerakan kami awak tegalboto untuk bekerja keras demi mensukseskan acara itu. Ning adalah seorang motivator yang unik, dia selalu mendorong saya dan teman-teman untuk berusaha lebih keras dengan mengucapkan kata-kata sarkastik, sindiran dan ejekan maut. Namun itu semua tak ada apa-apanya dibandingkan dengan lirikan maut yang ia lakukan kalau sedang sangat kesal. sebagai imajenasi, taukah anda karakter Dolores Umbridge dalam Harry Potter seri ke 5? Bayangkan wajah sangar menyebalkan itu sedang melirik dengan perasaan dua kali lebih menyebalkan daripada sifat Ebenezer Scrooge dalam kisah Christmas Carol Charles Dickens. Well, buat saya lebih baik dirajam dan disuruh makan ban lebih baik daripada menerima tatapan mata sinis itu.

Ning adalah sebuah paradoks. Bekerja dengannya sama dengan bekerja dengan Yahudi ditambah efisiensi orang Jepang dan kejamnya Margaret Tatcher. Ia seroang biadab yang tidak mengenal apologi, jika anda sudah menyanggupi, maka anda harus bekerja sangat-sangat-sangat keras untuk memenuhi ekspektasi seorang Ning. Dan siapkan mental anda untuk dihina begitu rupa jika gagal, namun jangan harapkan pujian. Karena sebuah komitmen tanggung jawab buatnya adalah keharusan.

Ning lahir 23 Juli 23 tahun yang lalu di Bondowoso. Ironis memang, ia lahir di kota yang sama dengan saya. Namun memiliki perilaku dan perangai yang berbeda 180*. Dalam hidup, saya tidak pernah digampar dan dipermalukan oleh perempuan. Meski saya malu-maluin. saya selalu bersikap sangat cool dan bergaya penuh kelas. Namun dihadapan seorang ning, semua representasi saya tadi dihancurkan berkeping keping. Malah Ning memiliki a very famous Quotes about me. "lontong diketok-ketok, dadi wong kok ngomong tok" tambahkan sedikit tamparan di muka. Well, saya rela menjadi Ignacio dalam Nacho Libres. rela Lillahitallah gak pake spandex dan pake cawet saja. rasanya itu lebih mulia daripada di hina gadis ini. and truth is bitter right?

Ning adalah sebuah harapan yang tak usai. Salah satu hal yang mungkin layak mendapat predikat buruk dari seorang Ning adalah sikap ceroboh dan panikannya. Ning adalah seorang paranoia nomor satu jika melihat perencanannya mengalami gangguan. ia bisa menjadi sangat annoying dan histeris jika hal yang diharapkannya tidak sesuai rencana. Walhasil kita semua yang berada didekatnya merasakan dampak tersebut. Mulai dari ikutan panik, marah dan gemas. Bakat buruk lainnya adalah ning suka menjatuhkan suatu barang tanpa sebab. Ini adalah bakat buruk yang sering membuatnya berurusan dengan kerusakan barang. mungkin itu saja kelemahan Ning. dan jika anda sekalian pikir pantat besar Ning adalah kekurangan, maka terkutuklah kalian dalam lubang neraka paling jahannam. Pantat itu adalah sumber inspirasi dunia, jika Da Vinci dan Monet masih hidup. Mereka akan menjadikan pantat Ning sebagai sebuah magnum opus!

Adalah saya, Dinda, Talitha, Idz, Mas Widi, mas Dedy, dan mas Kresna adalah serangkaian korban kangen yang dilukai Ning. Ia begitu tega lulus dan meninggalkan kami. Tapi meminjam lagu buruk bagus dari Cinderella, Coming Home, 'I see the fire in your eyes, but a Woman's gotta make her way'. Ning adalah seorang wanita dewasa yang tau akan masa depannya. She is Rockstar. Dia akan memenuhi mimpinya untuk keliling indonesia, menjadi Bupati Gresik, dan Melayout Ulang tampilan lembaga sensor film sebelum sebuah film di putar dibioskop.Dia selalu mempunyai sejuta cara untuk berkarya, sejuta cara untuk mendorong sahabatnya, sejuta cara untuk selalu ceria. dan Ning is my alltime hero. kalo anda?