Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Iqra Anugrah dalam sebuah Dialog




Ini merupakan sedikit fragmen dari perbincangan saya bersama Iqra Anugrah. Mahasiswa master dari Ritsumeikan Asia Pacific University yang juga akan melanjutkan kuliah master dalam bidang politik di Ohio University. Ia merupakan sosok pribadi yang menarik. Saya sendiri mengenalnya lewat Facebook. Berawal dari rasa kagum terhadap analisisnya di Blog pribadinya, saya kemudian banyak bicara dan berdiskusi dengan Iqra. Ini adalah sedikit perbincangan kami.

Bisa cerita dikit gak latar belakang pendidikan lo?

o Well, dari TK/SD-SMA gw sekolah di Indonesia, di Jakarta lebih tepatnya, dan semenjak kuliah gw berada di luar negeri. S1 gw di Hubungan Internasional (HI) dan S2 gw di Kajian Kawasan (Asia Pacific Studies, bahasa bulenya), yang mana dua-duanya gw dapatkan di Ritsumeikan Asia Pacific University atau APU di Jepang. InsyaAllah gw September tahun ini lulus S2 dan abis itu bakal ngambil S2 (ya, yang kedua, dan kalo lo bingung kenapa gw “suka sekolah” nanti bakal tau jawabannya) di jurusan Ilmu Politik di Ohio University di Amrik.


o Itu latar belakang pendidikan formal gw, tapi jujur gw lebih banyak belajar dari pendidikan non-formal atau informal gw. Dari SMP gw udah ikut berbagai kegiatan organisasi dan lain-lain yang sifatnya luar sekolah, sampai dengan sekarang




On Political Parties and Religious Bylaws in Post-Suharto Indonesia


Kenapa lo lebih memilih kuliah di luar negeri?


o Pertama-tama, tentu karena kualitas. Gw merasa kualitas akademik, non-akademik, dan kemampuan gw bakal lebih berkembang di luar. Kedua, exposure, di luar negeri kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, apalagi kalau tinggal di negeri orang, belajar bahasa baru, dan ketemu orang-orang baru. Sebagai informasi, univ gw adalah univ internasional di Jepang di aman sekitar 40% mahasiswa, staff, dan dosen adalah orang asing, jadi selain kuliahnya pake bahasa Inggris, gw punya kesempatan ketemu dengan teman-teman dari 90 negara lebih. Ketiga, tentunya karena gw dapet beasiswa, karena kalo gak gw gak bakal bisa kuliah di luar. Pertama-tama gw cuma dapat beasiswa uang sekolah, dalam artian sekolah gratis, terus gw coba kerja part-time atau paruh waktu dan daftar beasiswa lain sana-sini. Alhamdulillah sekarang gw kuliah gratis plus dapat uang bulanan buat biaya hidup yang bahkan bisa ditabung.

· Proses lo buat dapet beasiswa gimana?


o Untuk kuliah gw yang sekarang di Jepang, beasiswa gw dari univ-nya langsung. Kebetulan univ gw ini ada kantor perwakilannya di Jakarta, jadi gw daftar dari situ. Terus pas nyampe di Jepang, gw beasiswa gado-gado daftar sana-sini dan juga kerja part-time, sampai akhirnya dapat beasiswa dari pemerintah, lebih tepatnya mendiknas Jepang, yang full. Alhamdulillah secara finansial gw cukup independen sampai dengan sekarang.


o Untuk S2 gw yang selanjutnya dari Amrik, Alhamdulillah gw juga dapat beasiswa dari universitasnya sendiri sekaligus dapat beasiswa dari ETS (lembaga yang mengurusi tes TOEFL), yang kurang lebih full lah hitungannya, mencakup uang sekolah dan uang hidup gw. Untuk yang ini, gw juga daftarnya langsung ke universitasnya.

· Kenapa ambil jurusan politik?


o Minat awal gw itu dulu filsafat, dan religious studies atau kajian keagamaan, terutama Islamic studies. Kebetulan gw lahir dari keluarga aktivis, dan dari kecil nyokap secara gak langsung mendidik tentang pentingnya jadi orang yang tanggap dan peduli dengan keadaan sosial.


o Satu hal yang mungkin sangat berpengaruh dalam keputusan gw menekuni bidang politik adalah setiap kali gw naik bis buat berangkat dan pulang sekolah pas SMP dan SMA, gw jadi sadar akan realita kehidupan.


o Kemudian, karena gw merasa gw perlu mempelajari sesuatu yang riil untuk menjawab realita hidup (sori, bahasanya sok-sok berat, hehe), akhirnya gw memutuskan “banting setir” belajar Ilmu Politik. Spesialisasi gw sekarang adalah Politik Perbandingan di Asia Tenggara.


o Mungkin yang gw lakukan emang belum begitu banyak sebagai orang yang belajar Ilmu Politik, tapi gw berusaha berkontribusi semaksimal mungkin dengan cara ikut berbagai kegiatan kemahasiswaan di dalam dan di luar negeri, ngadain seminar, bikin tulisan, dsb.


· Lo percaya gak kaum muda bisa berbuat sesuatu di Indonesia dengan jurusan yang mereka ambil di luar negeri?


o Gw rasa permasalahannya bukan percaya ato gak percaya, tapi lebih ke lo mau gak mewujudkan ide-ide lo, lo mau gak bertindak. Udah banyak pertanyaan emang dan bahkan pesimisme betapa banyaknya anak Indonesia lulusan LN tapi apa dampaknya terhadap kemajuan Indonesia, tapi gw yakin, berdasarkan apa yg gw lihat dan kerjakan bareng teman-teman Indonesia yang juga lagi sekolah di LN, sekelompok orang yang berkomitmen buat Indonesia itu selalu ada dan merekalah yang akan menggerakkan potensi orang-orang Indonesia di LN.


o Sekedar informasi, perkembangan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai negara ini sedang pesat banget loh. Kegiatannya juga bukan sekedar nari-nari atau pertunjukkan budaya Indonesia secara simbolik (yang mana penting juga tetep), tapi kita berusaha mempengaruhi apa yang terjadi di tanah air, dengan diskusi, membangun koneksi, mempengaruhi dan mengkritisi politisi-politisi kita (apalagi pas mereka lagi “dinas” ke LN, ha!). So far kita fokus ke membangun jaringan antar PPI di berbagai negara dan tentunya menjaga independensi, dan kita mau tetap seperti itu.


Sebenarnya kita bisa bersaing gak sih di luar negeri?


o Kalau boleh jujur, kita itu sangat bersaing dan memiliki potensi yang besar. Sayang kadang-kadang kita gak menyadari itu dan support dari yang di dalam negeri juga kurang.


o Gw sendiri sudah menyaksikan buktinya. Gw udah ketemu orang-orang Indonesia yang jadi profesor dan professional di LN. Mahasiswa-mahasiswa kita juga berprestasi loh. Dari pengalaman gw sendiri, Alhamdulillah gw juga udah pernah misalnya menang kompetisi esai atau diundang ke simposium internasional yang isinya orang-orang dari berbagai belahan dunia yang datang dari univ-univ dan lembaga-lembaga top. Jujur, pas nyampe di Jepang, gw bilang ke diri gw sendiri “gw gak bakal kalah sama orang-orang dan bule-bule dari negara lain!”, dan gw rasa semangat itu yang juga mendorong gw untuk aktif ikut berbagai kegiatan dan juga di kelas, terutama yang ada diskusinya, hehe.


o Makanya, sekarang PPI di berbagai negara sedang giat-giatnya membangun jaringan dengan berbagai potensi Indonesia di LN ini. Mudah-mudahan dengan adanya network ini kita bisa makin bersaing di LN.


o Contoh nyata, gw baru bulang dari Simposium Internasional, namanya St. Gallen Symposium, di Swiss, bulan Mei kemarin. Gw ketemu dengen orang-orang Indonesia yang sempat jadi First Winner kontesnya, mengalahkan mahasiswa Harvard dan LSE. Ada juga wirausahawan dari Indonesia yang satu panel dengan mahasiswa MBA Harvard. Selain itu, Pak Gita Wirjawan, Kepala BKPM, juga memberik kuliah di Panel Utama, satu sesi dengan Menkeu Perancis, Christine Lagard, dan Editor Senior Financial Times, Martin Wolf. Jadi, potensi kita untuk bersaing itu ada, selama kita percaya dan mau menggunakannya.


· Ngalamin cultural shock ga?


o Jujur, bisa dibilang gak. Begitu nyampe asrama kampus, gw langsung berasa excited, mungkin karena kesempatan untuk ngobrol dan berinteraksi dengan temen-temen se-asrama yang datang dari berbagai macam negara. Satu faktor lain adalah mungkin karena orang Indonesia di kampus gw dan di Jepang pada umumnya cukup banyak, jadi gw makin gak berasa homesick. Cultural shock mungkin sedikit terjadi ketika ngelihat cara kerja orang Jepang dan kerja bareng mereka, yang misalnya kalau meeting cenderung lama dan kalau ngomong gak to the point. Tapi selebihnya, pengalaman gw di LN menyenangkan karena bisa banyak belajar hal-hal baru, terutama di kehidupan.


· Perlu berapa lama buat adaptasi?


o Untuk lingkungannya, gak begitu lama. Untuk bahasa, gw baru bener-bener PD ngomong pasca setaun tinggal di sini, yang mana itu juga kebantu dengan pelajaran bahasanya yang intensif dan interaksi dengan orang Jepang dan mahasiswa asingnya yang maksimal. Masalah akademik, gw ngerasa baru bener-bener bisa nulis akademik yang bener mungkin setelah 1.5 tahun kuliah dalam bahasa Inggris.


· Apakah lo nerd? dalam artian buat dapet beasiswa itu lo harus jadi kutu buku?


o Well, gw suka baca buku, kalo gak malu sama nama sendiri, yang artinya adalah “membaca”, haha. tapi kalo lo ngebayangin orang yang suka baca buku kayak ilmuwan-ilmuwan yang belajar sains dan teknik di film-film, gw jamin gw bukan kayak gitu, haha. So, gw bukan nerd, haha. Jujur, gw dulu pas SMA juga bukan termasuk yang jago-jago amat, dan iya dulu jurusan gw IPA, biasa lah konformitas di masyarakat kita, sampai akhirnya gw sadar gw musti kembali ke passion gw, apa yg pengen bgt gw pelajari dari dulu yaitu ilmu sosial.


o Dari berbagai macam proses pendaftaran beasiswa yang pernah gw jalani (fyi, gw juga banyak gak dapetnya, hehe, tapi coba terus), gw sadar klo kekuatan, atau istilahnya “yang bisa di jual” dari gw adalah aktivitas gw di berbagai kegiatan dan tulisan-tulisan gw di berbagai tempat. Nilai memang cukup penting, tapi bukan segalanya. Dan yang terpenting, lo musti tau cara menikmati hidup, yang mana itu juga masuk penilaian para pemberi beasiswa, karena mereka pengen ngasih beasiswa ke orang yang aktif dalam hal-hal serius tapi juga bisa diajak santai dan asik juga, hehe.


· Suka musik jenis apa?


o Favorit gw adalah Classic Rock, Oldies, Acid Jazz, Europop/Eurorock, sama Brit Music. Untuk Classic Rock, yang mana adalah music kebangsaan gw, The Rolling Stones udah the best of the best lah, Mick Jagger gak ada matinye. Tentunya gw suka the Beatles. Yang rada modern, gw suka banget sama Muse. Untuk Acid Jazz, gw fans beratnya Jamiroquai, dan untuk yg berbau Euro, gw demen banget sama Kings of Convenience, Sondre Lerche, and Mew.


o Musik-musik selain itu gw juga suka sih, tapi buat selingan aja, biar tetap “terjaga” dan “murni” lah selera kupingnya, hehe.


· Konser musik yang terakhir lo liat?


o Terakhir kali gw nonton Konser-nya Coldplay, bela-belain deh jauh-jauh ke Osaka biar kata tinggalnya jauh dari sana. Gak nyesel sih tapi nonton itu, benar-benar keren dan puas, apalagi liat aksi panggungnya Chris Martin.


· Tayangan/film yang terakhir lo liat?


o Kalau di yang di Bioskop sih, terakhir kali gw liat Avatar, maklum di sini selain rada mahal nonton Bioskop, di kota kecil tempat gw tinggal ini rada susah, sampe mesti ke kota sebelah dulu untuk nonton film.


o Abis itu gw nonton beberapa film dan tayangan lainnya via internet, cuman gw udah lupa apa aja, haha.


· Kenal Justin Bieber atawa SM*SH gak?


o Secara pribadi gak kenal. Kalo kenal as in tau lagu-lagunya sih ya. Jujur gw gak “kuat” denger lagu mereka, alias rada-rada males dan geli gitu klo denger, no offense buat Bieber dan SM*SH, haha. Klo yg suka sih yah gmn lagi ya, silakan aja, namanya pilihan orang musti dihormatin. Gw sih, ya itu, lo tau kan maksudnya apa :D



· Sebutin 5 buku yang paling berpengaruh dalam hidup lo? dan kenapa?


o 5 buku paling berpengaruh, hmm, susah juga ya, menantang ini, hehe, tapi kalau boleh disebut 5 doang, mungkin ini daftarnya kurang lebih:


o Pertama, tulisan-tulisan pemikir dan aktivis gerakan kiri dan progresif, dari Marx dan Adorno hingga Chomsky dan Sartre. Tulisan-tulisan mereka, baik dalam bentuk buku, maupun yang lain, jadi inspirasi buat gw.


o Kedua, buku-buku dan tulisan-tulisan pemikir Islam progresif di Indonesia, terutama Cak Nur. Tulisan-tulisan dan buku-bukunya tetap relevan hingga sekarang, dan menunjukkan bahwa kita bisa religius, kritis, demokrat atau socially concerned, dan juga memiliki pergaulany yang luas.


o Ketiga, untuk literature atau novel, gw suka baca sastra-sastra non-Barat, tapi yang paling nampol adalah novel-novel Orhan Pamuk, yang ceritanya sangat menyentuh, dan isu-isu yang dibawa juga sangat relevan untuk sekarang, yaitu bagaimana menerima perbedaan, perdamaiaan antar peradaban, dan pembelaan terhadap kemanusiaan.


o Keempat, untuk ilmu ekonomi, secara khusus gw suka tulisan-tulisannya Paul Krugman, ekonom AS yang menang Nobel, taun 2009 kalau gak salah, terutama karyanya dia yang The Conscience of a Liberal. Karya dia menunjukkan bahwa untuk memajukan ekonomi dan menyejahterakan orang, kita gak perlu mengorbankan keadilan dan solidaritas, terutama buat orang-orang yang kurang beruntung.


o Kelima, buku Chomsky for Beginners yang gw baca pas SMP betul-betul inspiratif. Noam Chomsky, sebagai salah satu intelektual kenamaan Amrik betul-betul menjadi semacam panutan gw semenjak saat itu. Buku yang isinya tentang biografi Chomsky ini mengajarkan bahwa kita juga bisa berbuat sesuatu buat orang banyak, seperti layaknya Chomsky.


· Dalam 10 tahun lo mau jadi apa?


o Sebagai “dasar”nya, gw mau jadi profesor atawa dosen, ngajar di universitas, bisa di dalam atau di luar negeri. Di saat yang sama, gw juga pengen terlibat di beberapa kegiatan atau gawean yang lain. Gw juga pengen jadi peneliti di beberapa LSM yang emang fokus di penelitian untuk bidang-bidang politik seperti pemantau dan survey hasil pemilu. Sebagai alternatif, gw juga mungkin bisa merintis karir sebagai salah satu peneliti atau officer di salah satu LSM/NGO internasional, terutama yang fokus untuk program-program demokratisasi dan pemantau pemilu.


o Tentunya, gw juga berharap gw sudah memiliki reputasi sebagai penulis,baik untuk tulisan tulisan akademik seperti jurnal dan buku maupun tulisan populer seperti artikel di media massa maupun buku populer. Gak tertutup kemungkinan gw juga bersentuhan dengan media, baik sebagai pengamat politik misalnya atau host/pembawa acara diskusi sosial-politik. Gawean-gawean yang lain seperti jadi konsultan PR untuk institusi publik dan korporasi, punya publishing house sendiri yang fokus untuk mempromosikan karya-karya penulis bahasa Indonesia dalam bahasa Inggris misalnya, juga mungkin dilakukan.


o Intinya, gw berharap sudah bisa membangun dasar yang kuat sebagai pemikir atau intelektual yang juga aktivis, bisa bertindak dan mengakar di masyarakat. Hopefully gw berharap gw sudah bisa pulang ke Indonesia pada saat itu, berbuat sesuatu, sebelum mungkin nantinya bisa berkontribusi di kancah internasional juga (Sekarang ngerti kan kenapa gw “seneng sekolah”, karena fleksibilitasnya dan juga dengan modal pendidikan ini gw pikir gw bakal bisa mewujudkan apa yang gw mau dan suka. Kerjaan bukan Cuma kerja perusahaan aja man! And it feels good to help people, so that’s why I, an average guy with a bigger mouth, decided to focus on this particular field).


· Jika punya kuasa menulis sejarah lo pengen dikenang sebagai apa?


o Gak neko-neko. Jadi orang baik dan jujur aja cukup deh. Kalau bisa jangan sampai diingat jadi orang yang pernah berbuat gak bener. Berat tanggung jawabnya sama yang di Atas :D


· Just joke question, jika ada reinkarnasi, lo berharap masa lalu lo sebagai siapa? Karl Marx, Hitler, atau Da Vinci?


o Musti milih di antara tiga ini nih? Bisa milih yang lain gak? Hehe *Nawar. Gw lebih cenderung ke Karl Marx mungkin ya, tapi kalau bisa mungkin jadi Gandhi lebih baik :D Beliau levelnya udah deket ke nabi-nabi dan utusan Tuhan yang lain tuh, haha. Tapi gw seneng sih dengan diri gw yg sekarang, jadi, jadi siapapun itu gw gak begitu masalah, asal mirip-mirip ama diri gw yang sekarang kali yak, hehe.


James Dauglas Morrison


He said he a lizard king, he can do anything

Saya mengenal Jim Morrison, atau lebih lengkapnya James Dauglas Morrison, dari kakak saya yang pertama. Dia penggemar berat musik jazz dan psydelic yang tentu saja sangat diakomodiasi oleh The Doors nya Morrison. Ada saat-saat dimana pada saat kakak saya sedang suntuk dia akan memutar keras Light My Fire dan Riders on the Storm dengan volume penuh. Well, saat itu saya masih kelas dua SD. Dan buat saya repertoire Light My Fire yang lebih dari tujuh menit itu terlalu bising dan membosankan.

Lalu pertemuan kedua saat saya kuliah dan masuk sebuah organisasi pers. Di sana saya bertemu seorang begundal yang menyaru jadi musisi bernama Nuran. Sekali waktu dia memutar The End nya Doros. Sontak saya kaget, kok bisa ada orang Jember yang kenal dan mendengar The Doors. Mana orangnya relatif muda. Mindset saya saat itu mereka yang mendengarkan musik-musik semacam Jazz, Psydelic, hanya orang-orang uzur yang termakan usia. Ternyata saya salah.

Tanpa sadar saya juga mulai menikmati musik The Doors. Tentu, saya menafikan ketokohan Jim. Buat saya mereka yang terlalu menokohkan, dalam konteks ini band, biasanya band yang akhirnya akan bubar seiring ego dari sang patron. Well, setelah saya mencari tahu tentang Doors. Semakin saya tahu, keberadaan Jim dan Doors serupa dengan keberadaan Atlas dan Dunia dalam mitologi Yunani. Keberadaan mereka terpisah sebagai individu namun saling menyokong satu sama lain.

Sosok Jim adalah sosok mistis, dari tulisan Nuran kawan saya yang pemuja Denie Sakrie itu, Jim memiliki alter ego. Beberapa sosok yang terbangun seiring dengan masa hidupnya. Terkadang ia adalah Mr. Mojo Rising lalu berganti menjadi Jimbo sang pemabuk beralih rupa menjadi Lizard King lalu tiba tiba kembali menjadi James Dauglas Morrison.

Hari ini adalah hari dimana Jim meninggal. 40 tahun lalu di sebuah apartemen, Jim ditemukan meninggal. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya. Konon ini hanya isu, bahwa sebenarnya Jim masih hidup dan mengejar mimpi Arthur Rimbaud ke Afrika. Namun satu hal yang pasti sosoknya sebagai James Dauglas Morrison manusia biasa belum pernah terungkap. Ini hanya sekedar pengantar. Nanti kalau sudah selesai meriset akan saya lanjut lagi. Untuk sekarang ini dulu. :D

Sabtu, 05 Februari 2011

Sebuah Hikayat Pertemuan *

Jadi coba gw inget, pertama kali kita ketemu di taman lawang. Waktu itu lo nanyi lagu dangdut bang Toyib, pakebaju merah norak, betis lo bebulu, pake high heels, menor abis, bedak dengan ketebalan 10cm, lipstik merah marun campur cat tembok, dan eye shadow warna pink menyala petromaks. Dan gw inget banget suara lo tenor abies, meski centil. Itulah kenangan gw tentang lo. Eh bentar deh? Kok itu? Sori, itu Franscois A.K.A Mince. Sori sist salah orang.

Pada awalnya adalah ketulusan. Banyak yang bilang bahwa dalam hidup ini selain membubarkan FPI dan nurunin Nurdin Halid, yang paling sulit dilakukan adalah sebuah sikap tulus tanpa pretensi apapun, lo tau kan? Gw yakin itu, seyakin-yakinnya bahwa Lady Gaga harus diarak ke Tiananmen Square trus dipaksa nyanyiin cinta satu malam pake gaya joget Anoa ayan Alehandro nya itu. Sebagai konsekwensi menyebarkan musik yang naudzubillah sampah. Lo setuju kan? Karena Sikap tulus terhadap apapun adalah hal yang maha sulit. Baik terhadap persahabatan, berbagi dan hidup. Dan gw mau cerita tentang salah satu sahabat gw yang dalam hidupnya gw, rasa gak kenal yang namanya pikiran jahat selain sikap tulus ikhlas.

Orang yunani bilang “Amicus verus est rara avis” nyang artinye sahabat baik adalah burung yang langka. Kenapa burung dan bukan duit segepok? Jangan lo tanya gw, tanya aja ama orang yunani. Tetapi dalam suatu hikayat, Zeus sang raja dewa itu seneng banget melihara burung elang. Makanya banyak orang Yunani yang ikut-ikutan pengen gaul dengan memelihara burung elang. Sayangnya saat itu elang sangat jarang di Yunani. Mungkin orang Yunani pengen menganalogikan bahwa teman atau sahabat yang baik adalah suatu hal yang sangat langka untuk dapat dimiliki. Dan kalo pun dimiliki sangat sulit dipelihara.

Lo kan penah bilang penasaran ngapain gw bisa nyasar sampe di UI? Nah Sekitar medio 2007 gw dan dosen matakuliah terori Ilmu Kesejahteraan Sosial gw lagi nongkrong di kampus. Mendiskusikan tentang bagaimana cara mengatasi global warming dengan menciptakan semacam teknologi tepat guna. Alat yang mampu untuk memfilter bau kentut dan bau ketek yang ternyata banyak mengandung amoniak. Dimana kita semua pahami kalo amoniak yang bisa merusak atsmosfer. Oke deng gw bohong, kita lagi diskusiin tentang kondisi jurusan kita yang jalan ditempat. Dimana pemahaman mengenai teori Ilmu Kesejahteraan Sosial di Unej secara ontologis, epistemologis dan praksisnya gak berkembang.

Untuk itu dosen gw nyaranin gmana kalo misalnya kite nih, anak-anak Kessos 05 Unej yang gahol beud melakukan semacam studi banding ke UI. Oke meski namanya Studi banding, jangan lo kira kita bakal naek bus ber AC, Pesawat Eksekutif, terus nginep di hotel bintang 10. Bukan! Sama sekali bukan, kita anak-anak Kessos Unej 05 yang gahol beud. Lebih memilih melakukan studi tour dengan jalan paling militan sejagat raya. Lebih militan dari para kaum gerilyawan EZLN di Mexico. Yaitu dengan pergi studi banding ke Jakarta dengan naek kereta api kelas neraka. “the notorius Gaya Baru Malam Selatan”! (*backsound suara setan ketawa, manusia teriak, kambing melahirkan, kuda joging dan Nurdin Halid menolak mundur).

Oke karena gw pikir akan bertele-tele, gw skip cerita gw di kereta dari Gubeng ke Jatinegara. Dimana dalam perjalanan 26 jam di kereta itu. Suasananya bisa bikin pertempuran 120 hari di Stalingard macam lobi hotel berbintang karena jauh lebih baik. Setelah sampai di Jatinegara, gw dan sekitar tujuh temen gw langsung melakukan istigosah masal dengan sujud syukur berjama’ah di stasiun Jatinegara. Sebagai rasa syukur karena kita semua selamat dari siksa dunia di kereta itu dalam keadaan utuh. Lo tau lah, gimana rasanya naek angkutan umum kelas ekonomi di negeri ini.

Di Jakarta gw dan temen-temen gw ningep di rumah Ade, Lo inget gak? Temen satu jurusan angkatan 2005 yang kebetulan tinggal di Bekasi. Sehari setelah sampai di Jakarta kita mampir deh ke UI dimana sebelumnya maen ke panti sosial Bambu Apus. Di UI gw akuin gw mengalami semacam apa yang disebut dengan gegar budaya. Man, gmana gak gegar budaya? Dimana-mana gw liat cewek bening semlohai yang dulu cuma bisa gw bayangin ada di Sinetron. Tapi di UI, (tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para feminis) cewek-cewek bening kayak kulit kacang rebus sehabis konser, geletakan dimana-mana dijalan raya.

Gw sempet iseng ngilang terus naek bus kuning UI itu dan mampir ke fakultas ekonomi, yang puji segala nama tuhan, isinya kalo gak cewek cakep ya cewek cuakep banget. Oke gw tau gw norak. Kan lo tau tabiat gw yang bak pelaut kesiangan, berasa ganteng trus pengen buka cabang percintaan dimana-mana. Lo paham lah, lo kan yang paling doyan ngatain gw si gombal dari goa jember. Tetapi bukankah segala yang unik dan berbeda akan diingat? Makanye gw bertingkah bak gorila kampung, biar lo dan temen-temen lo inget.

Sesampainya di FISIP UI, gw sebagai alpha male pemimpin rombongan langsung mengajak kawanan Mahasiswa Unej Kessos ke ruang jurusan FISIP UI. Disana gw disambut ama kepala jurusan Kessos yang ternyata mbak-mbak (Dia nolak dipanggil ibu, maunya dipanggil mbak). Nah setelah itu kita dikenalin ama beberapa mahasiswi Kessos yang kebetulan lagi dikampus. Kita kenalan deh. Gw kenalan ama lo dan temen-temen lo yang baik itu. Kita dianterin kemana-mana, diajak ngobrol dengan santun dan penuh semangat. Segala tesis gw mengenai orang Jakarta yang songong dan barbar langsung runtuh saat gw kenal ama lo dan temen-temen lo.

Gw gak akan pernah lupa saat itu karena lo ngajakin kite, anak Kessos 05 Unej yang gahol beud, ketempat yang selalu bikin gw nyaman. Apalagi kalo bukan perpustakaan. Dan lo bilang kalo perpustakaan fisip ini masih kecil dan ada yang lebih gede lagi dipusat. Lo tau gak? Ngebayangin itu aja lutut gw udah mimisan, lemes gak karuan. Perpustakaan FISIP yang luas dan cozy dengan sofa empuk ditengah ruangan ditambah karpet merah empuk itu. Ternyata masih lebih kecil dibanding dengan perpustakaan pusat. Oh no, gw pikir gw perlu review ulang keputusan kuliah di Unej, saat itu. Gw pengen pindah, secepatnya!

Pertama kali kita kenalan lo masih sok-sok jaim gitu, masih sok bijak pake bahasa aku-kamu. Dan gw ya nurut-nurut aja, tetapi setelah beberapa lama. Lo akhirnya menyerah dan bersikap lo-gw dengan segala kekonyolan lo. Temen-temen lo juga secara arif dan bijak sana mem bulying lo sehingga gw dan temen-temen gw ngakak gak berhenti-henti. Mungkin di sana lo jadi semacam sansak becandaan, objek hinaan, atau menjadi semacam Mili nya AADC. Gw ga tau yang jelas, lo menerima itu semua dengan lapang dada. Sebuah mentalitas kelas wahid untuk menjadikan seseorang bersikap tulus terhadap segala yang ada. Sebuah sikap yang gagal gw pelajari dari lo.

Mungkin lo lupa, tapi gw selalu inget, tanpa sadar kita. Maksudinya lo dan gw selalu berjalan sama-sama. Meski juga sama temen-temen gw yang lain, tapi gw inget, kita berdua yang paling intens ngobrol, bukan karena kita suka. Tapi karena gw yang paling bawel nanya ini itu ama lo, tentang UI, tentang FISIP, tentang mata kuliah, tentang dosen-dosen dan tentang segala hal yang ada di kampus lo yang keren itu. And you know what? Lo jawab semua itu dengan segala kebaikan dan rasa tulus, gw yakin itu, karena gw inget di mata lo yang baik itu gak ada sebersit rasa dongkol dan sebel. Tapi entah dalam hati, pan gw banyak nanya kaya tukang sensus?

Di akhir perjalanan kita semua, mahasiswa Kessos Unej dan Kessos UI ngobrol di semacam gazebo di tengah kampus UI yang asri itu. Berbagi tentang kehidupan kuliah kita yang bisa dikatakan sangat bertolak belakang. Metode kuliah yang UI yang fleksibel dan modern, atau pola interaksi dosen yang hangat dan akbrab, dan yang paling gw gak bisa terima adalah kesadaran mahasiswa UI akan literasi yang baik. Mungkin lo pikir gw berlebihan, tapi mengingat kemauan membaca kalian yang besar. Gw ngerasa minder, dan dalam hati memacu gw untuk lebih banyak membaca. Alasannya sederhana, pas gw lihat bahan kuliah dan daftar bacaan dari temen-lo-yang-sekarang-lagi-dicari-jurusan itu. Gw langsung keder ngebayangin seberapa banyak materi dan buku yang musti lo baca dalam satu mata kuliah di semester itu.

Setelah itu kita semua pulang. Temen-temen gw balik ke Jember sementara gw balik ke Bogor. Gw yakin lo kaget karena beberapa hari setelahnya gw sms. Mungkin saat itu lo mikir “aahh siapa sih pangeran tampan yang sms gw?” sambil senyum-senyum geje genit gitu. Tapi setelah tahu sms itu dari gw, mungkin lo bakal mikir “busyet dah salah apa gw sampe disms ama beruk pemakan orok ini?” sambil ngelempar garam buang sial. Tetapi bukankah hidup adalah kejutan yang satir? Dan dimulailah kisah pertemanan long distance kita ini. Dan gw bersyukur gw minta nomer lo saat itu, karena gw bisa berteman dengan seorang gadis baik hati yang tulus. Ya meski rada odong tapi punya hati yang bersih seperti langit musim semi.

Inget gak lo? Pas kita pertama kenal, sok-sokan perhatian nanyain “lagi apa? Dimana? ma siapa, dua makan beling belum?” segala sms perhatian culun yang gek penting itu, mungkin bikin lo eneg dan muntah-muntah. Ya gw terima, maklum, kan gw orang kampung? Tapi yang paling konyol adalah pertanyaan gw “udah sholat belum?” pertanyaan paling maha odong yang bisa bikin gw dirajam pake duit. Habis gw Cuma tau nama panggilan lo, kalo gw tau nama lengkap lo mah. Gw g akan nanya hal konyol macam itu. Tapi tau ga lo? Nama lo yang indah itu adalah perpaduan nama seorang santa yang dalam hidupnya memiliki kehidupan kudus, kehidupan yang memberikan inspirasi bagi umat putra Maria. Dan gw yakin hidup lo gak bakal jauh berbeda. Bakal memberikan kebaikan bagi sesama.

Lo tau gak? Sebenarnya kita berdua adalah sepasang mahasiswa yang sama-sama ditekan zaman. Bedanya lo konsisten untuk terus maju sampe bisa kelar kuliah, sementara gw selalu berlari sembunyi untuk mencari alasan menunda kelulusan. Gw tau itu, karena lo salah satu dari sekian banyak sahabat gw yang paling rajin ngingetn gw buat lulus. Tapi beyond that, lo adalah salah satu orang yang sanggup nerima gw apa adanye. Duile klise dan bombastis yak? Tapi biarlah toh gw yang nulis ini. Dan gw kadang malu, seringkali gw suka banyak nuntut dan bikin lo bingung ama tingkah gw yang kaya abege tua lagi menopouse ini. Untuk itu, I bow to you.

Dalam banyak hal gw harus minta maaf ama lo, karena dari sekian tahun pertemanan kita. Yang ada Cuma nyusain lo doang, dari bantu nyusunin skripsi gw gak kelar-kelar, marah-marah gak jelas, nggrecokin revisian lo ama mas-dosen-ganteng, sampe dengan rajin bikin lo galau tiap malam. Tapi seperti yang selalu gw bilang, ‘gw idup hanya untuk bikin lo galau disegala bidang’. Gw minta maaf karena belum bisa jadi pribadi yang baik seperti yang lo lakuin, atau menjadi seorang sahabat yang bisa berbuat tulus untuk seorang sahabat yang selalu lo tunjukan. Untuk itu gw minta maaf banget. Suatu saat nanti gw akan nunjukin gw bisa berubah, gak dalam waktu dekat, tapi pasti gw lakuin.

Banyak sekali sebenarnya yang gak gw bilang ama lo tentang betapa gw kagum ama hidup lo yang mengagumkan itu. Bukan sebagai badut Kessos 06 UI, tetapi sebagai pribadi baik hati yang susah banget mau marah. Gw sebenernya gak tau gimana hidup lo di jakarta, tetapi kalo boleh gw songon dan berandai-andai, gw ngebayangin idup lo yang santai banget. Panik Cuma pas lagi ada deadline, pelupa, dan sering ceroboh. Tetapi bukankah hidup hanya serentetan kesalahan? Dan lo menjalani itu semua dengan ritme yang terarah. Seolah-olah hidup ini seperti musik jazz, berpadu dalam simfoni yang kadang naik turun, cepat-pelan, lembut dan keras.

Kita semua pernah bikin salah, tetapi gw yakin. Dalam kamus hidup lo yang besar itu dendam bukan salah salah satu isinya. Mungkin gw naif dan sok tau, tetapi sekian tahun pertemanan kita yang gak jelas ini. Lo menunjukan kualitas idup sebagai seorang bijaksana. Mengingatkan gw ama sosok Don Quixote karya Miguel Cervantes. Lo tau? Dia adalah sesosok prajurit konyol yang naik seekor keledai yang kerjaanya Cuma ngelantur dan nyusain orang. Tetapi setelah orang-orang itu sadar, sebenarnya Don Quixote sedang menyindir. Dengan cara yang paling menyenangkan, yaitu humor!

Pertemanan yang kita jalanin ini mengingatkan gw ama kisah hidup James Joyce ama Ezra Pound. Kalo boleh gw ceritain ama lo. James Joyce adalah Penulis besar dari Irlandia yang menyusun Ulysses sementara Ezra Pound adalah penyair dari Amerika yang menyusun The Cantos. Kaya lo dan gw, pertemanan mereka dibatasi jarak yang jauh. Joyce di Swedia sementara Pound di Inggris. Tetapi pertemanan mereka terjaga lewat surat menyurat yang intens. Seringkali mereka berdebat, marahan, baikan, becanda dan saling galau-galauan. Persis ama mereka. Bedanya mungkin, mereka ganteng sementara lo gak. Tetapi biarlah, bukankah jarak mengajarkan rindu?

Dalam suatu kesempatan Ezra menulis puisi, yang gw pikir menggamparkan perasaan gw saat ketemu ama lo saat itu.

The Encounter

All the while they were talking the new morality

Her eyes explored me.

And when I rose to go

Her fingers were like the tissue

Of a Japanese paper napkin.


Sepertinya gw udah kebanyakan ngebacot dan sebelum semuanya membosankan. Ijinkan gw menutup, intinya buat gw adalah suatu kebanggan atau lo boleh bilang semacam a series of unfortunate event nya Lemony Snickets bisa kenal ama lo. Seonggok manusia fana yang paling unik se kampus fisip UI saat itu. Ya meski sebenarnya gw rada males-males gitu deh buat kenal, tetapi apa mau dikata. Sebagai mahasiswa Kessos yang meyakini prinsip filantropis dan humanisme. Gw berusaha menjalankan keyakinan tentang “memanusiakan manusia meski sebenarnya mereka gak manusia-manusia amat” yang diajarkan oleh jurusan kita yang amat hebat, Ilmu Kesejahteraan Sosial yang abadi. And in the end, selamat ya, selamat telah menjadi Fransisca Risky Mayang Arum S. Kessos. Semoga kamu tetap jadi superstar dengan hati paling cantik dan tulus di belantara hidup yang tengik ini.

*ditulis dengan Native Languange Objek kajian cerita.