Tampilkan postingan dengan label perkenalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkenalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Sekedar Perbincangan di Sore Hari II


Setelah kemarin saya selesai berbincang bersama Iqra Anugerah. Orang berikutnya yang saya ingin wawancarai adalah Wimar Witoelar. Buat saya dia adalah tokoh yang luar biasa. Seseorang yang open minded, cerdas, sarkastis dan tahu bagaimana bersikap. Dia juga sempat dan masih aktif menjadi kolumnis di (Today, Business Week, News week, Australian Financial Review), komentator TV (ABC, CNBC, CNN).

Pada masa rezim Soeharto berkuasa, Wimar pernah membuat acara talkshow yang bertajuk perspektif. Sebuah bincang-bincang yang mengundang tokoh-tokoh kontroversial yang secara nyata beroposisi dengan penguasa kala itu. Seperti Sri Bintang Pamungkas dan Munir. Dalam perbincangan itu ia bisa saja menjadi sangat tajam bertanya. Lalu tiba-tiba menjadi sangat konyol dengan guyonan cerdasnya. Oh ya Wimar juga dikenal sebagai salah satu dari sedikit sekali stand up comedian yang dimiliki oleh Indonesia.

Tunggu saja wawancara saya dengan beliau. :D

Iqra Anugrah dalam sebuah Dialog




Ini merupakan sedikit fragmen dari perbincangan saya bersama Iqra Anugrah. Mahasiswa master dari Ritsumeikan Asia Pacific University yang juga akan melanjutkan kuliah master dalam bidang politik di Ohio University. Ia merupakan sosok pribadi yang menarik. Saya sendiri mengenalnya lewat Facebook. Berawal dari rasa kagum terhadap analisisnya di Blog pribadinya, saya kemudian banyak bicara dan berdiskusi dengan Iqra. Ini adalah sedikit perbincangan kami.

Bisa cerita dikit gak latar belakang pendidikan lo?

o Well, dari TK/SD-SMA gw sekolah di Indonesia, di Jakarta lebih tepatnya, dan semenjak kuliah gw berada di luar negeri. S1 gw di Hubungan Internasional (HI) dan S2 gw di Kajian Kawasan (Asia Pacific Studies, bahasa bulenya), yang mana dua-duanya gw dapatkan di Ritsumeikan Asia Pacific University atau APU di Jepang. InsyaAllah gw September tahun ini lulus S2 dan abis itu bakal ngambil S2 (ya, yang kedua, dan kalo lo bingung kenapa gw “suka sekolah” nanti bakal tau jawabannya) di jurusan Ilmu Politik di Ohio University di Amrik.


o Itu latar belakang pendidikan formal gw, tapi jujur gw lebih banyak belajar dari pendidikan non-formal atau informal gw. Dari SMP gw udah ikut berbagai kegiatan organisasi dan lain-lain yang sifatnya luar sekolah, sampai dengan sekarang




On Political Parties and Religious Bylaws in Post-Suharto Indonesia


Kenapa lo lebih memilih kuliah di luar negeri?


o Pertama-tama, tentu karena kualitas. Gw merasa kualitas akademik, non-akademik, dan kemampuan gw bakal lebih berkembang di luar. Kedua, exposure, di luar negeri kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, apalagi kalau tinggal di negeri orang, belajar bahasa baru, dan ketemu orang-orang baru. Sebagai informasi, univ gw adalah univ internasional di Jepang di aman sekitar 40% mahasiswa, staff, dan dosen adalah orang asing, jadi selain kuliahnya pake bahasa Inggris, gw punya kesempatan ketemu dengan teman-teman dari 90 negara lebih. Ketiga, tentunya karena gw dapet beasiswa, karena kalo gak gw gak bakal bisa kuliah di luar. Pertama-tama gw cuma dapat beasiswa uang sekolah, dalam artian sekolah gratis, terus gw coba kerja part-time atau paruh waktu dan daftar beasiswa lain sana-sini. Alhamdulillah sekarang gw kuliah gratis plus dapat uang bulanan buat biaya hidup yang bahkan bisa ditabung.

· Proses lo buat dapet beasiswa gimana?


o Untuk kuliah gw yang sekarang di Jepang, beasiswa gw dari univ-nya langsung. Kebetulan univ gw ini ada kantor perwakilannya di Jakarta, jadi gw daftar dari situ. Terus pas nyampe di Jepang, gw beasiswa gado-gado daftar sana-sini dan juga kerja part-time, sampai akhirnya dapat beasiswa dari pemerintah, lebih tepatnya mendiknas Jepang, yang full. Alhamdulillah secara finansial gw cukup independen sampai dengan sekarang.


o Untuk S2 gw yang selanjutnya dari Amrik, Alhamdulillah gw juga dapat beasiswa dari universitasnya sendiri sekaligus dapat beasiswa dari ETS (lembaga yang mengurusi tes TOEFL), yang kurang lebih full lah hitungannya, mencakup uang sekolah dan uang hidup gw. Untuk yang ini, gw juga daftarnya langsung ke universitasnya.

· Kenapa ambil jurusan politik?


o Minat awal gw itu dulu filsafat, dan religious studies atau kajian keagamaan, terutama Islamic studies. Kebetulan gw lahir dari keluarga aktivis, dan dari kecil nyokap secara gak langsung mendidik tentang pentingnya jadi orang yang tanggap dan peduli dengan keadaan sosial.


o Satu hal yang mungkin sangat berpengaruh dalam keputusan gw menekuni bidang politik adalah setiap kali gw naik bis buat berangkat dan pulang sekolah pas SMP dan SMA, gw jadi sadar akan realita kehidupan.


o Kemudian, karena gw merasa gw perlu mempelajari sesuatu yang riil untuk menjawab realita hidup (sori, bahasanya sok-sok berat, hehe), akhirnya gw memutuskan “banting setir” belajar Ilmu Politik. Spesialisasi gw sekarang adalah Politik Perbandingan di Asia Tenggara.


o Mungkin yang gw lakukan emang belum begitu banyak sebagai orang yang belajar Ilmu Politik, tapi gw berusaha berkontribusi semaksimal mungkin dengan cara ikut berbagai kegiatan kemahasiswaan di dalam dan di luar negeri, ngadain seminar, bikin tulisan, dsb.


· Lo percaya gak kaum muda bisa berbuat sesuatu di Indonesia dengan jurusan yang mereka ambil di luar negeri?


o Gw rasa permasalahannya bukan percaya ato gak percaya, tapi lebih ke lo mau gak mewujudkan ide-ide lo, lo mau gak bertindak. Udah banyak pertanyaan emang dan bahkan pesimisme betapa banyaknya anak Indonesia lulusan LN tapi apa dampaknya terhadap kemajuan Indonesia, tapi gw yakin, berdasarkan apa yg gw lihat dan kerjakan bareng teman-teman Indonesia yang juga lagi sekolah di LN, sekelompok orang yang berkomitmen buat Indonesia itu selalu ada dan merekalah yang akan menggerakkan potensi orang-orang Indonesia di LN.


o Sekedar informasi, perkembangan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai negara ini sedang pesat banget loh. Kegiatannya juga bukan sekedar nari-nari atau pertunjukkan budaya Indonesia secara simbolik (yang mana penting juga tetep), tapi kita berusaha mempengaruhi apa yang terjadi di tanah air, dengan diskusi, membangun koneksi, mempengaruhi dan mengkritisi politisi-politisi kita (apalagi pas mereka lagi “dinas” ke LN, ha!). So far kita fokus ke membangun jaringan antar PPI di berbagai negara dan tentunya menjaga independensi, dan kita mau tetap seperti itu.


Sebenarnya kita bisa bersaing gak sih di luar negeri?


o Kalau boleh jujur, kita itu sangat bersaing dan memiliki potensi yang besar. Sayang kadang-kadang kita gak menyadari itu dan support dari yang di dalam negeri juga kurang.


o Gw sendiri sudah menyaksikan buktinya. Gw udah ketemu orang-orang Indonesia yang jadi profesor dan professional di LN. Mahasiswa-mahasiswa kita juga berprestasi loh. Dari pengalaman gw sendiri, Alhamdulillah gw juga udah pernah misalnya menang kompetisi esai atau diundang ke simposium internasional yang isinya orang-orang dari berbagai belahan dunia yang datang dari univ-univ dan lembaga-lembaga top. Jujur, pas nyampe di Jepang, gw bilang ke diri gw sendiri “gw gak bakal kalah sama orang-orang dan bule-bule dari negara lain!”, dan gw rasa semangat itu yang juga mendorong gw untuk aktif ikut berbagai kegiatan dan juga di kelas, terutama yang ada diskusinya, hehe.


o Makanya, sekarang PPI di berbagai negara sedang giat-giatnya membangun jaringan dengan berbagai potensi Indonesia di LN ini. Mudah-mudahan dengan adanya network ini kita bisa makin bersaing di LN.


o Contoh nyata, gw baru bulang dari Simposium Internasional, namanya St. Gallen Symposium, di Swiss, bulan Mei kemarin. Gw ketemu dengen orang-orang Indonesia yang sempat jadi First Winner kontesnya, mengalahkan mahasiswa Harvard dan LSE. Ada juga wirausahawan dari Indonesia yang satu panel dengan mahasiswa MBA Harvard. Selain itu, Pak Gita Wirjawan, Kepala BKPM, juga memberik kuliah di Panel Utama, satu sesi dengan Menkeu Perancis, Christine Lagard, dan Editor Senior Financial Times, Martin Wolf. Jadi, potensi kita untuk bersaing itu ada, selama kita percaya dan mau menggunakannya.


· Ngalamin cultural shock ga?


o Jujur, bisa dibilang gak. Begitu nyampe asrama kampus, gw langsung berasa excited, mungkin karena kesempatan untuk ngobrol dan berinteraksi dengan temen-temen se-asrama yang datang dari berbagai macam negara. Satu faktor lain adalah mungkin karena orang Indonesia di kampus gw dan di Jepang pada umumnya cukup banyak, jadi gw makin gak berasa homesick. Cultural shock mungkin sedikit terjadi ketika ngelihat cara kerja orang Jepang dan kerja bareng mereka, yang misalnya kalau meeting cenderung lama dan kalau ngomong gak to the point. Tapi selebihnya, pengalaman gw di LN menyenangkan karena bisa banyak belajar hal-hal baru, terutama di kehidupan.


· Perlu berapa lama buat adaptasi?


o Untuk lingkungannya, gak begitu lama. Untuk bahasa, gw baru bener-bener PD ngomong pasca setaun tinggal di sini, yang mana itu juga kebantu dengan pelajaran bahasanya yang intensif dan interaksi dengan orang Jepang dan mahasiswa asingnya yang maksimal. Masalah akademik, gw ngerasa baru bener-bener bisa nulis akademik yang bener mungkin setelah 1.5 tahun kuliah dalam bahasa Inggris.


· Apakah lo nerd? dalam artian buat dapet beasiswa itu lo harus jadi kutu buku?


o Well, gw suka baca buku, kalo gak malu sama nama sendiri, yang artinya adalah “membaca”, haha. tapi kalo lo ngebayangin orang yang suka baca buku kayak ilmuwan-ilmuwan yang belajar sains dan teknik di film-film, gw jamin gw bukan kayak gitu, haha. So, gw bukan nerd, haha. Jujur, gw dulu pas SMA juga bukan termasuk yang jago-jago amat, dan iya dulu jurusan gw IPA, biasa lah konformitas di masyarakat kita, sampai akhirnya gw sadar gw musti kembali ke passion gw, apa yg pengen bgt gw pelajari dari dulu yaitu ilmu sosial.


o Dari berbagai macam proses pendaftaran beasiswa yang pernah gw jalani (fyi, gw juga banyak gak dapetnya, hehe, tapi coba terus), gw sadar klo kekuatan, atau istilahnya “yang bisa di jual” dari gw adalah aktivitas gw di berbagai kegiatan dan tulisan-tulisan gw di berbagai tempat. Nilai memang cukup penting, tapi bukan segalanya. Dan yang terpenting, lo musti tau cara menikmati hidup, yang mana itu juga masuk penilaian para pemberi beasiswa, karena mereka pengen ngasih beasiswa ke orang yang aktif dalam hal-hal serius tapi juga bisa diajak santai dan asik juga, hehe.


· Suka musik jenis apa?


o Favorit gw adalah Classic Rock, Oldies, Acid Jazz, Europop/Eurorock, sama Brit Music. Untuk Classic Rock, yang mana adalah music kebangsaan gw, The Rolling Stones udah the best of the best lah, Mick Jagger gak ada matinye. Tentunya gw suka the Beatles. Yang rada modern, gw suka banget sama Muse. Untuk Acid Jazz, gw fans beratnya Jamiroquai, dan untuk yg berbau Euro, gw demen banget sama Kings of Convenience, Sondre Lerche, and Mew.


o Musik-musik selain itu gw juga suka sih, tapi buat selingan aja, biar tetap “terjaga” dan “murni” lah selera kupingnya, hehe.


· Konser musik yang terakhir lo liat?


o Terakhir kali gw nonton Konser-nya Coldplay, bela-belain deh jauh-jauh ke Osaka biar kata tinggalnya jauh dari sana. Gak nyesel sih tapi nonton itu, benar-benar keren dan puas, apalagi liat aksi panggungnya Chris Martin.


· Tayangan/film yang terakhir lo liat?


o Kalau di yang di Bioskop sih, terakhir kali gw liat Avatar, maklum di sini selain rada mahal nonton Bioskop, di kota kecil tempat gw tinggal ini rada susah, sampe mesti ke kota sebelah dulu untuk nonton film.


o Abis itu gw nonton beberapa film dan tayangan lainnya via internet, cuman gw udah lupa apa aja, haha.


· Kenal Justin Bieber atawa SM*SH gak?


o Secara pribadi gak kenal. Kalo kenal as in tau lagu-lagunya sih ya. Jujur gw gak “kuat” denger lagu mereka, alias rada-rada males dan geli gitu klo denger, no offense buat Bieber dan SM*SH, haha. Klo yg suka sih yah gmn lagi ya, silakan aja, namanya pilihan orang musti dihormatin. Gw sih, ya itu, lo tau kan maksudnya apa :D



· Sebutin 5 buku yang paling berpengaruh dalam hidup lo? dan kenapa?


o 5 buku paling berpengaruh, hmm, susah juga ya, menantang ini, hehe, tapi kalau boleh disebut 5 doang, mungkin ini daftarnya kurang lebih:


o Pertama, tulisan-tulisan pemikir dan aktivis gerakan kiri dan progresif, dari Marx dan Adorno hingga Chomsky dan Sartre. Tulisan-tulisan mereka, baik dalam bentuk buku, maupun yang lain, jadi inspirasi buat gw.


o Kedua, buku-buku dan tulisan-tulisan pemikir Islam progresif di Indonesia, terutama Cak Nur. Tulisan-tulisan dan buku-bukunya tetap relevan hingga sekarang, dan menunjukkan bahwa kita bisa religius, kritis, demokrat atau socially concerned, dan juga memiliki pergaulany yang luas.


o Ketiga, untuk literature atau novel, gw suka baca sastra-sastra non-Barat, tapi yang paling nampol adalah novel-novel Orhan Pamuk, yang ceritanya sangat menyentuh, dan isu-isu yang dibawa juga sangat relevan untuk sekarang, yaitu bagaimana menerima perbedaan, perdamaiaan antar peradaban, dan pembelaan terhadap kemanusiaan.


o Keempat, untuk ilmu ekonomi, secara khusus gw suka tulisan-tulisannya Paul Krugman, ekonom AS yang menang Nobel, taun 2009 kalau gak salah, terutama karyanya dia yang The Conscience of a Liberal. Karya dia menunjukkan bahwa untuk memajukan ekonomi dan menyejahterakan orang, kita gak perlu mengorbankan keadilan dan solidaritas, terutama buat orang-orang yang kurang beruntung.


o Kelima, buku Chomsky for Beginners yang gw baca pas SMP betul-betul inspiratif. Noam Chomsky, sebagai salah satu intelektual kenamaan Amrik betul-betul menjadi semacam panutan gw semenjak saat itu. Buku yang isinya tentang biografi Chomsky ini mengajarkan bahwa kita juga bisa berbuat sesuatu buat orang banyak, seperti layaknya Chomsky.


· Dalam 10 tahun lo mau jadi apa?


o Sebagai “dasar”nya, gw mau jadi profesor atawa dosen, ngajar di universitas, bisa di dalam atau di luar negeri. Di saat yang sama, gw juga pengen terlibat di beberapa kegiatan atau gawean yang lain. Gw juga pengen jadi peneliti di beberapa LSM yang emang fokus di penelitian untuk bidang-bidang politik seperti pemantau dan survey hasil pemilu. Sebagai alternatif, gw juga mungkin bisa merintis karir sebagai salah satu peneliti atau officer di salah satu LSM/NGO internasional, terutama yang fokus untuk program-program demokratisasi dan pemantau pemilu.


o Tentunya, gw juga berharap gw sudah memiliki reputasi sebagai penulis,baik untuk tulisan tulisan akademik seperti jurnal dan buku maupun tulisan populer seperti artikel di media massa maupun buku populer. Gak tertutup kemungkinan gw juga bersentuhan dengan media, baik sebagai pengamat politik misalnya atau host/pembawa acara diskusi sosial-politik. Gawean-gawean yang lain seperti jadi konsultan PR untuk institusi publik dan korporasi, punya publishing house sendiri yang fokus untuk mempromosikan karya-karya penulis bahasa Indonesia dalam bahasa Inggris misalnya, juga mungkin dilakukan.


o Intinya, gw berharap sudah bisa membangun dasar yang kuat sebagai pemikir atau intelektual yang juga aktivis, bisa bertindak dan mengakar di masyarakat. Hopefully gw berharap gw sudah bisa pulang ke Indonesia pada saat itu, berbuat sesuatu, sebelum mungkin nantinya bisa berkontribusi di kancah internasional juga (Sekarang ngerti kan kenapa gw “seneng sekolah”, karena fleksibilitasnya dan juga dengan modal pendidikan ini gw pikir gw bakal bisa mewujudkan apa yang gw mau dan suka. Kerjaan bukan Cuma kerja perusahaan aja man! And it feels good to help people, so that’s why I, an average guy with a bigger mouth, decided to focus on this particular field).


· Jika punya kuasa menulis sejarah lo pengen dikenang sebagai apa?


o Gak neko-neko. Jadi orang baik dan jujur aja cukup deh. Kalau bisa jangan sampai diingat jadi orang yang pernah berbuat gak bener. Berat tanggung jawabnya sama yang di Atas :D


· Just joke question, jika ada reinkarnasi, lo berharap masa lalu lo sebagai siapa? Karl Marx, Hitler, atau Da Vinci?


o Musti milih di antara tiga ini nih? Bisa milih yang lain gak? Hehe *Nawar. Gw lebih cenderung ke Karl Marx mungkin ya, tapi kalau bisa mungkin jadi Gandhi lebih baik :D Beliau levelnya udah deket ke nabi-nabi dan utusan Tuhan yang lain tuh, haha. Tapi gw seneng sih dengan diri gw yg sekarang, jadi, jadi siapapun itu gw gak begitu masalah, asal mirip-mirip ama diri gw yang sekarang kali yak, hehe.


Jumat, 24 Juni 2011

Bapak Desain Grafis Persma Jember



Begini saja, jika ada anak Persma Jember yang mengatakan bahwa ia mampu ngelayout dengan baik tapi tak mengenal nama Widi Widahyono. Well anda boleh kenalkan saya padanya untuk saya injak muka dan meludahinya pelan-pelan. Benar, jika anda membaca judul sontoloyo dari tulisan ini maka anda tahu bahwa saya sedang melakukan sebuah klaim. Klaim terhadap suatu titel dan identitas kedirian.

Saya ingin bercerita tentang seseorang yang saya hormati sebagai begawan, wali, suhu, master, sinuhun, dosen dan ustad sekaligus. Seseorang yang dikenal tak banyak bicara tetapi dikenal dengan sejuta karya yang membahana. Orang itu adalah Widi Widahyono. Punggawa desain grafis Persma Jember dan orang yang mampu mengangkat derajat layouter dalam sebuah organisasi pers setara dengan pemimpin umum dan pemimpin redaksi.



Mas Widi tinggal di daerah paling tertinggal di Jember. Ledok Ombo, menurut BPS Jember, merupakan kantong buta huruf terbesar di Jember. Hampir 80% orang disana putus atau tak sekolah. Ini data valid tanya saja sama kepala desa Ledok Ombo kalau anda tak percaya. Sangat mengagetkan dari tempat semacam itu bisa lahir seorang dengan kemampuan jenius dalam melayout.

Mas Widi sebenarnya baru berkenalan dengan layout saat beliau mulai aktif di UKPKM Tegalboto. Diperkenalkan software desain oleh Pukulun Semiotika, Poskolonialisme, dan Multikulturalisme, Sigit Budi Setiawan, membuat mas Widi jadi keranjingan layout. Meski sebelunya ia pernah kuliah di ITS dalam jurusan teknik informatika, Mas Widi mulai serius mendesain sejak di Tegalboto.

Software yang pertama digauli Mas Widi adalah Page Maker yang konon katanya sangat anying sekali. Butuh berlayer layer dan kejelian tinggi untuk menata sebuah gambar dan kata menjadi sinergis. But Widi the All Mighty membuktikan bahwa ia memang dilahirkan untuk jadi tukang layout. Seingat saya Newsletter Tegalboto Pos yang bertajuk Sandal merupakan salah satu karya, yang segera menjadi klasik, dari Mas Widi.

Dalam banyak hal dia tak sekedar belajar dan menautkan apa yang ia terima dalam kanvas kosong. Ada sebuah tanggung jawab sosial dan hati (bukan moral) untuk berkarya dan melawan. Hingga pada akhirnya Mas Widi menciptakan sebuah alterego perlawanan gerilya grafis. Kick by Grapic the Aestethic of Propaganda. Well jika anda pernah melihat sebuah poster mirip gambar korek api dengan judul, awas ada maling di sekitar kita, well itu karya mas Widi.




Mari kita coba lepaskan Anxiety of Influence dalam mitos-mitos yang melingkupi Mas Widi. Seperti fakta bahwa dia Cina, tapi gak pelit, bahwa ia sebenarnya adalah alien dari galaksi Tuetentmonto yang menyaru dalam bentuk manusia labil, atau bagaimana Mas Widi bisa sangat cool dan jarang bicara, atau bagaimana bisa mempesona banyak wanita tanpa menjadi ganjen. Mas Widi adalah mitos itu sendiri.

Hari ini sinuhun begawan Widi telah melakukan ruwat skripsi sebagai alih jenjang mahasiswa abadi menjadi pengangguran terdidik. Kini tongkat maraton sebagai koboi kampus melekat pada saya. Well dalam banyak hal saya akan sedih, tapi kali ini saya akan terima dengan penuh kebanggaan. Karena yang memberi adalah mas Widi. Tentu ia tak ingin saya terus diam dan tak segera lulus. Saat memberi gelar itu ia berkata "Ndang lulus le, sumpek delok raimu."



Mas Widi yang terkasih dan metal selalu. Mungkin ini hanya sekegar gumaman tak penting. Sekedar Rendesvousez dari hidupmu yang selalu Rawk itu. Tapi sekarang dengan gelar ditangan. Mari Mas kita MAJU BERKARYA!

Minggu, 19 Juni 2011

Sekedar Perbincangan di Sore Hari

Iqra Anugrah

Saya terinspirasi seorang kawan dari jauh. Mengenai bagaimana kita mengejar mimpi dan berupaya lebih keras untuk menjadi yang terbaik. Tunggu wawancara dan perbincangan saya bersama Iqra Anugrah. Seorang kolumnis Global Politics Magazine, Analis kebijakan internasional dan juga peraih beasiswa master di Ohio University.
Ini merupakan satu dari 10 rencana wawancara yang saya anggap orang hebat dan bisa menginspirasi. Sebuah usaha menyebarkan semangat positif dan memulai perubahan. Well saya selalu yakin tulisan dan orang hebat akan memberikan kita semangat baru untuk memulai insureksi. Tunggu wawancara saya dan Iqra. :)

Kamis, 03 Juni 2010

Sedikit Jejak Tegalboto

Memori Telah Terekam,

Refleksi,… Sebuah Evaluasi Dalam Perjuangan Untuk Kemajuan…

Terus Bergerak, Bergerak Terus.

Untukmu Cita-Cita Pers Ku, Ku Gadaikan Nyawa Dan Raga Ini

Dalam Genggaman Penaku…

Untukmu negeri kutorehkan kata di dinding sejarahmu…

Untukmu tirani kuhujamkan penaku di dinding kebenaran…

Penaku… layaknya pasukan Bonaparte

Kataku… layaknya peluru-peluru Bonaparte

Dan Bonaparte pun berkata :

“Lebih baik menghadapi seribu tentara daripada menghadapi sebuah pena”

Dan Bonaparte pun,… lari tunggang langgang[i]


Selamat datang di ruang kumuh berantakan ini, silahkan anda melihat-lihat. Saya tahu anda masih malu, masih risau untuk dapat nyaman. Saya pun demikian, saat anda datang saya gemetaran. Senang dan bersemangat, masih ada beberapa manusia-mahasiswa-yang masih mau datang ke ruang ini. Silahkan melihat-lihat, tempat ini adalah UKPKM Tegalboto, saya biasa menyebutnya tebe. Ruangan yang anda tempati ini melahirkan saya untuk kedua kalinya. Disini saya akan belajar bersama anda tentang kehidupan, tentang seluloid, tentang diagfragma, tentang kata, tentang diksi, tentang reportase, tentang redaksi, tentang trace, tentang layout dan tentang filsafat jika anda berkenan.


Maaf, saat anda datang belum sempat saya bersihkan ruangan ini. Maklum, saya tak biasa melihat tempat ini bersih. Kumuh bukan berarti jorok dan tak karuan. Tapi memang kumuh karena mahluk didalamnya tak lelah bergulat dengan segala absurditasnya, jika anda lihat disebelah lemari besi ada tumpukan koran butut, maaf itu bukan karena rayap. Tapi karena kami disini berulang kali membacanya, menelaah, mencerna dan kalau bisa memahami kata-demi-kata didalamnya. Jika anda teliti kawan, boleh saya panggil anda kawan? Anda akan melihat beberapa poster menggantung, ada sang Jalang Chairil Anwar, si Burung Merak Willibrordus Surendra Broto atau anda biasa memanggilnya W.S Rendra, dibawahnya nampak potongan koran sobek, “kembalikan mereka” poster itu berujar, dan diatasnya ada sebuah poster merah menyala sebuah jejak kaki yang diatasnya terpampang wajah para pemimpin kita, itu sebuah hadiah dari seorang kawan, “rawat ingatan” katanya. Poster itu berisi tentang beberapa peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia, ada banyak, nanti kawan, jika kau mau akan saya ceritakan.


Saya yakin anda penasaran dengan sebuah ruang diatas poster-poster tadi. Ruangan itu ruang istirahat, ada sebuah televisi besar didalamnya punya seorang kawan yang dititipkan, ada sebuah kasur didalamnya, saat saya sedang lelah biasanya saya tidur disana, ah menyenyangkan. Nanti saya ajak anda naik kesana. Ruangan lantai dua ini punya kisah, ia dibangun oleh orang-orang hebat dimasanya, para soko guru Tegalboto. Dibangun tahun 2006 dengan arsitek seadanya, dengan biaya sebisanya dan dibangun sekuatnya. Nanti kawan, saya janji akan saya ceritakan kisah suka-duka ruangan ini.


Maaf, saya khilaf, seharusnya saya disini berkisah atau bertutur tentang sejarah berdirinya UKPKM Tegalboto dan PPMI. Tapi sekali lagi saya terlalu bersemangat, banyak kisah yang hendak saya bagi dengan kalian kawan, semoga kalian masih betah. Ada beberapa nama yang saya ingat turut membidani berdirinya organisasi pers mahasiswa ini kawan, diantaranya Susilo Darma, Khudori, Muhammad Fauzi dan Insan Kamil. Saat itu mereka gelisah akan sebuah ide memiliki pers mahasiswa universitas. Jadi sepanjang 1992 berbagai diskusi memunculkan gagasan yang mendukung berdirinya sebuah pers mahasiswa universitas. Mendapat dukungan dari lembaga pers mahasiswa yang sudah ada saat itu, maka media pers mahasiwa universitas jember lahir dengan nama TEGALBOTO sesuai tempat dimana ia menghirup udara pertama kali. Dengan menorehkan motto “amanat hati nurani mahasiswa” kehadirannya disambut antusias untuk merefleksikan kondisi bangsa yang sebenarnya carut marut.


Sehingga pada tanggal 26 november 1993 SK Rektor no: 7395/PT.32.H/SK/013 tahun 1993 tentang penerbitan majalah muncul. Dan pada bulan November 1993 majalah mahasiswa tegalboto terbit untuk pertama kali dengan dukungan LPM SAS, Plantarum, Pijar, Prima , Ecpose, Imparsial dan Aspirasi. Dengan Moto awal “amanat hati nurani mahasiswa“ terutama untuk mengusung perspektif wacana sosial politik dan budaya disetiap tema redaksi. Moto ini bertahan pada edisi 1-2. Karena setelah itu tahun 1996 moto berubah menjadi “menuju demokrasi kerakyatan” selaras dengan pergolakan kondisi politik yang makin memanas. Pergerakan mahasiswa menyatukan visi meruntuhkan rejim.


Pergulatan mahasiswa saat itu jauh lebih keras dan represif kawan, hampir setiap hari mahasiswa saat itu dihantui oleh panoptikon[ii] aparat. Pergulatan antara kuliah, demonstrasi, menulis, membaca, pacaran, dan mengorganisir gerakan. Bukan sebuah karir yang menyenangkan untuk dilakukan, tapi hal tersebut merupakan sebuah panggilan hati nurani untuk bergerak dan perduli terhadap nasib bangsa kita kala itu. Pernah kawan sekalian mendengar pepatah latin Accipere quam facere praestat injuriam? Lebih baik tersiksa dalam ketidakadilan daripada berpartisipasi di dalamnya. Diam saat penindasan terjadi adalah sebuah sikap afirmasi terhadap penindasan tersebut. Sehingga konon tokoh mahasiswa sekelas Ahmad Wahib pun pesimis sehingga ia berujar “Perjuangan kita menjadi semacam perjuangan yang emosional dan sloganistis![iii]”.


Di awal kemunculannya Tegalboto mengusung motto “amanat hati nurani mahasiswa“, kemudian “menuju demokrasi kerakyatan” dan akhirnya berganti menjadi “menuju pencerahan masyarakat” sampai sekarang. Hal ini karena pada awal kemunculannya, Tegalboto memiliki cita-cita dan semangat tersendiri. “Amanat hati nurani mahasiswa“ dipilih karena Tegalboto merasa perlu untuk memberikan sebuah ruang untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa yang masih terkekang suasana kebijakan NKK/BKK. Tegalboto menjadi sebuah wadah untuk berdiri menyuarakan kepentingan mahasiswa dalam beraktualisasi diri. Hal ini kemudian berubah menjadi “menuju demokrasi kerakyatan” karena arus penolakan dan rasa muak terhadap Rezim Orde Baru begitu menggebu-gebu.


Paska runtuhnya tirani Orba dan masuknya arus informasi yang begitu riuh, Tegalboto menemukan jiwa barunya. Semangat pembaharuan, semangat bernama Dialektik der Aufklarung[iv]. Di agitasi sebuah perkumpulan kuno bernama Mazhab Frankfurt, Tegalboto mengimani sebuah agama baru. Dan iman tersebut adalah “menuju pencerahan masyarakat”. Dengan cita-cita luhur melakukan pencerahan keilmuan, kebudayaan, pemikiran, perilaku dan sikap. Tegalboto berusaha meramu hal tersebut dalam banyak cara, melalui diskusi kajian budaya, filsafat, advokasi dan reportase. Sehingga pada akhirnya segala macam hal tadi diruntutkan dalam barisan kata sehingga melahirkan karya tulis yang mungkin pernah anda baca.


Dalam perkembangannya Tegalboto melahirkan banyak manusia-manusia luarbiasa, ia melahirkan banyak intelektual muda yang berhasrat melakukan pencerahan nyata melalui tulisan dan karya. Dan kawan, semoga saya bisa membantu anda menjadi salah satunya. Dari sedikit karya tersebut adalah buletin bulanan bernama “Buletin Tegalboto”, Newsletter per semester bernama “Tegalboto Pos”, selebaran insidental “Lembar Tegalboto”, dan Majalah Mahasiswa Tegalboto, dan yang baru saja diluncurkan tegalboto.org. sebuah dunia maya dimana kita bisa berbagi informasi dan absurditas.


Tegalboto dibangun dengan semangat kebersamaan yang hidup alamiah di Red Carpet Community. Diantara orang-orang yang berdiskusi, ngopi, membaca, menulis, berkelakar tentang filsafat, tertawa diantara caci maki dan sedikit nyleneh dalam berkarya. Tegalboto hidup dalam sebuah tongkrongan lokal berparadigma global. Sebuah nafas yang tak pernah berhenti berhembus. Dan seperti inilah wajah itu sekarang. Belum terbentuk sempurna tapi terus berproses. Satu tekad kami: berpikir berbeda untuk pencerahan adalah keharusan![]



[i] Sebuah puisi pengantar yang ditulis oleh mantan sekjend Nasional PPMI, Agung Sedayu pada tahun 2004 di Semarang.

[ii] Konsep yang dikenalkan filsuf posstrukturalis Michel Foucault, tentang rasa takut yang diakibatkan oleh simbol-simbol represi aparatus negara seperti polisi.

[iii] Dalam buku Pergulatan pemikrian Ahmad Wahib, LP3ES

[iv] Sebuah diktum dalam buku karangan Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, yang diterbitkan pada tahun 1944, buku yang berisi terhadap kritik kebudayaan dan masa