Citizen
Kane dibuka dengan salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah film dunia,
sebuah snow globes terjatuh sementara seorang sekarat mengucap “Rosebud,”
berulang kali. Dengan teknologi yang terbatas saat itu, Orson Welles, seorang
jenius dalam dunia pertunjukan membuat penontonnya terbius. Francois Truffaut
seorang kritikus film asal Prancis, menyebut bahwa film yang dibuat oleh Welles
membuat kita menjadi bijak. Karena film film Welles dibuat dengan cara berbeda,
film yang membuat para penontonnya berpikir dari mana kegilaan, kecepatan dan
racun ini?
Pada 1967, Truffaut
menulis sebuah esai tentang sang sutradara dan debutnya yang revolusioner.
Truffaut memuji Welles dengan sangat tinggi. Ia menyebutnya sebagai anak muda
dan romantis, Welles adalah seseorang jenius. Tidak hanya jenius tapi sangat
jenius dan berbeda, lantas menjebut filmnya Citizen Cane sebagai sebuah film
yang kuat, dramatis dan puitis. “Usaha mengejek keinginan untuk berkuasa,”
katanya.
George
Orson Welles lahir 100 tahun yang lalu pada 6 Mei 1915, di Kenosha, Wisconsin. Patrick
Z. McGavin, seorang kritikus film menggambarkan dengan baik relasi kehidupan
pribadi Welles dan kerja kerja kreatifnya. Ibunya Beatrice meninggal saat
Welles berusia 9 tahun yang disusul ayahnya Dick, pada saat ia berusia 15
tahun. Baru saat bersama Dr. Maurice Bernstein, seorang dokter dan penikmat
opera, Welles menemukan harapan baru. Ia mengatakan kehidupan Welles di Chicago
inilah yang jadi ruang kreatif untuk melarikan diri dari kesedihan kesedihan
itu.
Dari mana sebaiknya seorang pemula memahami film
film Orson Welles? Apakah Citizen Kane? The Lady from Shanghai? Atau The Third
Man? Jika anda penikmat buku, anda bisa memulai dengan buku biografinya Citizen
Welles: A Biography of Orson Welles yang disusun oleh Frank Brady. Mengapa
buku? Karena sebagai universalis Orson Welles adalah sebuah teka-teki, ia tidak
akan bisa dipahami hanya dari film-filmnya saja. Anda mesti membaca kehidupan
pribadinya, bagaimana ia menjadi seorang pekerja teater, penyiar radio, penulis
naskah, aktor dan juga sutradara.
Welles
adalah pria gemuk dengan suara yang keras, ia sering dilihat dalam acara talk
shows dan iklan-iklan. Frank Brady, dalam bukunya, menyebutkan bahwa meski
dalam kehidupan yang relatif keras dan tragis, Welles adalah seseorang yang
humoris. Frank menjelaskan sosok Welles melalui film film yang ia bikin. Mulai
dari Citizen Kane yang memenangkan Oscar pada 1941 sampai dengan F for Fake
1974.
Film film
berikutnya seperti, The Magnificent Ambersons (1942), The Stranger (1946), The
Lady from Shanghai (1947), Macbeth (1948),
Othello (1952), Mr. Arkadin,
(1955), Touch of Evil (1958), The Trial (1962), Chimes at Midnight (1965), dan
The Immortal Story (1968) adalah film yang menjadkan sosok Welles menjadi
legenda, dan pada satu titik, melahirkan kecurigaan bahwa ia adalah seorang
sutradara yang dipuji berlebihan.
Kecurigaan
ini memang beralasan, beberapa menganggap Orson Welles sebagai seorang
sutradara yang diuntungkan zaman. Pemujaan berlebihan menjadikannya seorang
idola, namun anda tidak seharusnya percaya pada kritikus. Percayalah pada apa
yang anda lihat sendiri. Tak Percaya? Coba saja tonton Chimes at Midnight yang
konon sedang dicetak ulang dalam format Blu-ray oleh Janus Films dan Criterion.
Film ini akan menunjukan bagaimana Orson Welles adalah aktor yang hebat dan
seorang Shakesperian yang taat.
Chimes at
Midnight bukan satu-satunya film Welles yang direstorasi ulang dalam bentuk
Blu-ray. Pengalaman menonton dengan kualitas gambar tinggi juga bisa dinikmati
dalam film The Lady from Shanghai" dan "Touch of Evil" yang
dilengkapi dengan komentar dari pakar Orson Welles eperti Jonathan Rosenbaum dan
James Naremore. Tapi bukan hanya itu Criterion dikabarkan baru saja akan
merilis film kualitas baik dari "F for Fake," dan "The Complete
Mr. Arkadin" dalam seri karya
lengkap Welles.
Paul
Byrnes, kritikus film Sidney Morning Herald, pernah menulis esai pendek yang
berjudul Why Orson Welles continues to cast a long and enigmatic shadow over
cinema. Ia menyebut Welles sebagai orang yang berbakat namun memiliki banyak
kekurangan. Dengan satir Byrnes menyebut segala hal tentang Welles adalah hal
yang besar, termasuk berat badannya yang disebabkan makan, minuman keras dan
rokok. 30 tahun setelah kematiannya, Welles masih bisa melahirkan debat, apakah
ia sosok yang besar atau hanya sekedar orang yang overrated.
Byrnes
mengajukan pertanyaan sederhana, bagaimana seseorang yang membuat film kanonik
seperti Citizen Kane, sebuah film yang berani dan inovatif, percaya diri dan
modern, lantas kehilangan sentuhannya? Byrnes lantas mengajukan beberapa
argumen, seperti pengaruh editing dan curgia bahwa proses editing inilah yang
sebenarnya menjadikan beberapa filmnya seperti, The Lady from Shanghai dan Mr
Arkadin adalah film yang buruk. Sementara film Touch of Evil terselamatkan
melulu karena akting Welles sebagai orang yang korup.
Beberapa
film lainnya seperti The Other Side of the Wind, The Dominici Affair, The
Merchant of Venice dan Don Quixote juga
tak terselesaikan. Ada banyak alasan mengapa Orson Welles memutuskan
menghentikan proses pembuatan film. Satu di antara yang paling dikenal adalah
karena kebangkrutan. Pada akhirnya, setelah menonton filmnya, anda bisa menilai
apakah peraih penghargaan-penghargaan seperti Palme d'Or dan Oscar layak
dikenang atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar