Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2011

Gymnastiar


dok. nova


Menjadi seorang Abdullah Gymnastiar, atau televisi menyebutnya sebagai Aa’ Gym, boleh jadi bukan perkara mudah. Menjadi Gymnastiar saat ini adalah menjadi kesabaran. Karena entah mengapa, sebagai bagian dari bangsa yang kebanyakan mau tau kehidupan orang lain, bangsa ini mungkin sudah terlalu banyak menuntut pada Gymnastiar terlalu banyak.

Gymnastiar pernah menjadi konotasi nama yang merujuk pada seorang ahli ibadah, pusat patron ibu-ibu pengajian, korporasi syariah Manajemen Qolbu dan ustad santun sederhana dari sunda. Sepanjang tahun 2000-2007 karirnya bersinar begitu baik, dia bisa ditemukan di hampir setiap acara ceramah keagamaan. di sebagian besar acara siraman rohani tiap bulan puasa dan menjadi langganan pengajian untuk beberapa pengajian elit di ibukota.

Itu dulu, namun setelah Gymnastiar memutuskan untuk mengikuti panggilan hatinya melaksanakan salah satu sunnah. Karena poligami, Gymnastiar dicerca, dihinakan, dianggap pesakitan dan diakhiri dengan serangkaian pemboikotan atas acara-acaranya. Para penentang, dalam hal ini ibu-ibu pengajian, menganggap Gymnastiar munafik. Apakah Gymnastiar marah? Saya tidak tahu, tetapi sebagai manusia dia pasti kecewa, sangat kecewa saya pikir.

Apakah poligami adalah cela? Adalah dosa? Adalah pelanggaran? Tidak, poligami merupakan tindakan sah berdasarkan syariah. Perbedaan Perspektif yang membuat poligami menjadi semacam stigma atas ketidaksetiaan, pengkhianatan, nafsu berahi, dan perzinahan terlembaga. Apakah salah stigma itu? Tentu tidak sepenuhnya salah, toh memang benar banyak manusia yang menggunakan dalih poligami berkedok sunnah untuk memuaskan nafsu berahinya. Pertanyaannya adalah siapakah dijagat raya ini yang berhak menentukan seorang manusia laki-laki melakukan poligami karena nafsu dan bukan ibadah? Saya kira tidak ada.

Kalaupun ada, itu hanya sekedar indikasi-indikasi. Indikasi selalu bermuara pada kecurigaan dan kecurigaan seringkali bersumber pada sikap Suudzon. Lalu apa bedanya mereka yang belajar agama dengan para pencoleng gibah di tengah pasar? Gymnastiar bukan tuhan, tetapi sekedar mahluk yang sedang memanggul tanggung jawab sebagai penasihat umat. Ini baik, tetapi sebagai umat yang baik pula, seharusnya kita memiliki sikap tenggang rasa, pengertian dan toleransi. Bukan sekedar menuntut kesempurnaan.

Naif sekali seorang umat yang menuntut kesempurnaan pada manusia lain yang kebetulan menjadi pemimpin. Bukan berarti pemimpin bisa menjadi seenaknya dan berlinding dibalik ‘kemanusiaan-nya’. Ada hal-hal sederhana yang membutuhkan pengertian, seperti dalam hal ini poligami, adakah yang salah? Jika kemudian Gymnastiar menikahi seorang janda, yang kebetulan cantik, merupakan kehinaan? Tidak dia melakukan tindakan legal syah atas nama agama, sedangkan pada diri sendiri kita sering munafik dan menunjuk hidung orang lain atas kebusukan yang kita lakukan. Sementara Gymnastiar mencoba jujur pada diri sendiri, ia berpoligami, karena ia manusia yang berusaha mencegah kemungkinan berzina.

Seharusnya mereka yang mencibir, menghina, terutama yang dengan tempik sorak mengabarkan kehidupan Gymnastiar dengan begitu rupa, meminta maaf. Kalau perlu dengan sujud, apalah hak mereka untuk menilai dan menautkan ukuran pada nilai moralitas kehidupan orang lain? Apakah dengan beristri ganda seorang Gymnastiar menjadi pesakitan bermental residivis? Apakah dengan beristri satu Gymnastiar akan menjadi santo yang membawa segerombolan umat penuntut masuk sorga? Tidak, seringkali bangsa ini semakin mirip dengan umat Musa dikaki bukit Sinai. Menuntut terlalu banyak hasil instan pada satu orang dan terlalu malas berusaha berubah untuk diri sendiri.

Gymnastiar adalah seorang manusia yang umum ada, tetapi karena sedikit ilmu tentang agama yang dimilikinya ia hendak berbagi, hendak mengingatkan, hendak menyampaikan kabar dan hendak memberikan pengetahuan keimanan. Sejatinya hal ini perlu mendapatkan perhatian atau setidaknya sedikit rasa hormat terhadap pilihan hidupnya. Adakah itu terlalu banyak? Entahlah saya bukan umat yang baik, malah seringkali saya mencintai pemimpin spiritual saya dengan cara egois. Saya tidak ingin ia hidup untuk dirinya sendiri, saya ingin ia hidup lurus untuk saya sendiri, saya ingin ia hidup baik agar dapat saya contoh, dan yang lebih penting saya hanya ingin memonopoli kebaikannya untuk saya pribadi.

Semoga Gymnastiar memiliki hati yang lapang atas sikap saya ini. Memaafkan dengan tulus, karena perubahan sikap saya yang dulu mengagumi, lantas mencerca karena ia tak lagi hidup dalam proyeksi ideal saya tentang seorang pengayom umat. Seringkali sebagai umat yang terlalu banyak menuntut, saya ingin Gymnastiar tidak berubah, selalu seperti dulu. Hidup hanya untuk umat dan tidak untuk dirinya sendiri. Persetan dengan kehidupan pribadinya, karena saya adalah orang sesat yang butuh orang lain untuk kehidupan yang lebih lurus. Semoga Gymnastiar memaafkan.

Tentang maaf dan memaafkan Saya jadi Ingat seorang filsuf perempuan Yahudi bernama Hannah Arendt. Kebencian mengenai partai Nazi diakhirinya dengan pengampunan. Buat saya itu hal yang luarbiasa, karena dengan tidak memaafkan, kita akan terjebak pada luka masa lalu selamanya tidak akan bisa melangkah kedepan. Soal itu saya percaya, sangat percaya dan mempercayainya tanpa syarat.

Memaafkan dan menerima keadaan manusia lain sebagai manusia yang bisa salah itu luar biasa sulit. Seperti melihat uang milyaran euro teronggok dijalanan, tanpa pengamanan dan kita terjebak pada dilema manusiawi. Mengambilnya atau menyerahkan kepada orang yang mungkin dianggap bertanggung jawab. Akan ada selalu tanya yang tergenang disitu, iya kalau mereka melaksanakan tugasnya, kalau tidak? Uang itu dikakangi sendiri bagaimana?

Hidup seringkali merupakan perjuangan menghadapi kecurigaan. Tentang menghadapi yang tanda tanya. Itulah yang membuat manusia jadi manusia, berjuang mengenai sesuatu yang hasilnya tidak pasti. Lalu menjalaninya dengan penuh kesederhanaan. Mungkin dalam prosesnya kita akan dihina, disakiti dan diasingkan. Hal itu bukan perkara mudah tetapi bukan tidak mungkin. Menjadi manusia purna seringkali harus melalui jalan penuh rintangan. Soal itu mungkin saya harus banyak belajar kepada Gymnastiar.

Rabu, 26 Januari 2011

Soe Hok Gie ; Dalam Sebuah Surat



Dhan, apa kabar Indonesia kini? Ramai kukira, kudengar sedang ramai bicara kerbau. Kenapa memangnya? Sudah lama aku tidak mendengar tanah kelahiran aku. Ah ya, kemarin aku bertemu dengan Gus Dur, orang baik, ia menyenangkan, aku dan Ahmad Wahib ketawa terpingkal dibuatnya. Ah jika aku bertemu dengannya sejak lama mungkin aku tobat jadi atheis. Hehehehe tapi aku tau kau takan percaya. Gus ini anak kyai rupanya, banyak ia bercerita tentang islam dan yang bukan islam. Rupa-rupanya ia tahu aku gak percaya tuhan barangkali. Aku sebenarnya iri melihat dia. Dia telah tenang dalam Tuhannya. Dia sudah bersatu dengan Tuhannya. Katanya ia pernah jadi presiden, 2 tahun lantas ia bosan lalu diberhentikan. Oleh DPR katanya, yang ia tuduh mirip Taman Kanak-Kanak. Aku dan Wahib sekali lagi keras tertawa.

Siapa presiden kita kali ini Dhan? Militer lagi ataukah sudah teknokrat? Aku ingin suatu saat Indonesia dipimpin oleh Filsuf atau Budayawan. Biar ia bijak, atau setidaknya ia mungkin bisa berpikir secara lebih baik, bukan lagi tentang untung rugi, tapi baik buruk. Jangan lagi presiden dari golongan kyai atau pastur, mereka suruh perbaiki umat saja, jangan ikut berpolitik. Dulu ada Buya H.A.M.K.A, orang hebat dan baik ia Dhan. Berani ia kritik Soekarno, kudengar ia sahabat Hatta.

Dhani masihkah kau suka membaca? Aku ada buku bagus, buku lama tapi semoga kau suka. Dr. Zhivago judulnya, Pasternak yang menulis. Boris Pasternak, ah si manusia itu yang sampai akhir hayatnya menolak berkompromi dengan sesama manusia, sampai saat ini tak sempat aku menulis tentangnya Dhan. Kapan-kapan kau tulis tentangnya, nanti kubaca. Jangan pacaran terus, ya aku tahu, kau sedang dekat dengan seorang gadis padang. Kawanmu Rasul bercerita, ia tiba lebih dahulu sebelum Gus Dur. Aktifis ia Dhan? Katanya dari LPM Keadilan. UII Jogja, anak sebaik dan secemerlang itu. Sayang sekali, kenapa pemuda hebat selalu cepat kesini. Sedangkan para pemabuk dan penggila pesta selalu berhayat panjang. Tapi yah, beruntunglah mereka yang mati muda, dan yang tak pernah dilahirkan.

Masih kau jadi anggota Tegalboto? Nama yang aneh brick field? Hahaha jangan marah Dhan, apapun namanya jika ia berguna tak apalah. What is a name kata Shakespeare. Sebagai wartawan kau musti tau tugas pers. Jangan kau ikuti kata presiden Soekarno dulu saat ia buka jurusan jurnalistik di pada masaku. Ia bilang tugas pers adalah menggambarkan cita-cita muluk kepada rakyat supaya nafsu yang baik dari rakyat berkobar kembali. Seolah hendak dikatakan presiden, tugas pers ialah meninabobokan rakyat. Bukan inilah tugas pers melainkan menggambarkan kebenaran pada pembaca. kalau pemberitaan itu merugikan kelompok tertentu maka berita itu harus disiarkan. Kita sering dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan seterusnya beginilah kemerdekaan pers di indonesia potonglah kaki tangan seseorang lalu masukan ditempat 2x3 meter dan berilah kebebasan padanya. inilah kebebabasan pers di indonesia.

Akhir-akhir ini aku selalu berpikir, apa gunanya semua yang Aku lakukan ini. Aku menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang Aku anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh Aku dan makin sedikit orang yang mengerti Aku. Dan kritik-kritik Aku tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang Aku lakukan? Aku ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik Aku? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang Aku merasa sungguh-sungguh kesepian.

Aku bukan Ubermensh Dhan, kadang Aku lelah bergulat dengan pemikiran Aku sendiri. Memikirkan tentang rakyat, bangsa dan kemanusiaan. Tapi apapun yang terjadi Aku menolak untuk berkompromi dengan penindasan. Lebih baik mati diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan sekarang makin Aku geli melihat kawan-kawanmu, generasi mahasiswa kala ini sedang galau. Sibuk mencari eksistensinya sendiri. Kulihat kau pun demikian, lebih sering update status Facebook daripada ibadahmu. Generasi Facebook, menyedihkan dan jika kau kemudian ikut arus di dalamnya. Dan kupikir kamu akan terjebak dalam identitasnya.

Aku ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. Kau tak percaya? Lihat saja demonstrasi mahasiswa saat ini, norak, kampungan! Dulu aku benci sekali dengan mahasiswa oportunis yang sok-sokan menjadi bagian dari sebuah sistem parlemen. Sistem itu busuk Dhan, tapi melihat mahasiswa demonstrasi dengan membawa batu, parang, kayu dan bensin. Mereka mau menjalankan demokrasi atau sekedar sok jagoan?

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik Aku dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. Busuk bukan? Ya, yah aku ingat kau dulu pernah bercerita tentang kawan-kawan ekstramu yang kau bilang busuk itu. Tapi kita harus adil Dhan, Seorang intelektual harus adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Pram bilang begitu, oh ya dia titip salam. Lama ia tak baca lagi tulisanmu, mandul kau katanya? Ayo menulis Dhan, ajak teman-temanmu sekalian. Jangan mau jadi renik dalam sejarah yang hanya numpang kuliah tanpa bisa memberi jejak dalam sejarah.

Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?. Karena kau tau Dhan? Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis. Aku muak dengan FPI Dhan, memangnya agamamu memerintahkan umatnya membawa parang kemana-mana lalu menghancurkan tempat yang dituduh maksiat? Beruntunglah aku yang tak beragama ini jika demikian. Agama harusnya membawa kedamaian Dhan, jika pun Tuhan memang ada tak mungkin ia menyuruh umatnya membacok sesamanya hanya karena berebut lahan parkir atau karena tak dapat jatah uang keamanan.

Sudahkah kau lulus Dhan? Jangan lulus dulu, tuntaskan dulu tanggung jawabmu sebagai intelektuil, bukan aku menyuruhmu malas. Tapi sesuaikan dengan tanggung jawabmu sebagai Agent of enlighment. Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas disegala arus-arus masyarakat yag kacau, seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanannya. Lalu hiduplah dengan keyakinan teguh. Karena kau tau, Aku tak mau jadi pohon bambu, Aku mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Karena Aku tak mau diam melihat penindasan. Dan Aku lebih tak suka melihat orang-orang munafik Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

Kau tentu ingat puisiku Dhan, Puisi yang kubuat saat sedang galau. Yah pasti kau lupa, tak suka aku dengan tabiatmu ini. Baiklah kutulis ulang untukmu Dhan.

Saya mimpi tentang sebuah dunia, Di mana ulama - buruh dan pemuda,

Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB,Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,

Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, Agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun,

Dan melupakan perang dan kebencian, Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang.

Hadapilah cita-cita ini Dhan, karena buat apa menghindar? Cepat atau lambat, suka atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang; kepercayaan. Karena kehidupan sekarang benar-benar membosankan Aku. Aku merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Aku ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur. Bergeraklah Dhan, tubuhmu terlalu gemuk, terlalu banyak makan junkfood. Jangan kau bilang peduli rakyat, jika makanmu masih seperti priyayi. Bergeraklah Dhan, ayo didik masyarakatmu dengan kata-kata dan buku. Karena kau tahu, percuma hidup jika kau tak dapat berkarya.

Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya, hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin tumbuh dengan baik. Berakar menghujam seperti beringin. Maka jika kau lihat mengapa Orde Baru kuat mengakar, ya mungkin karena lambang partainya adalah beringin. Akan lain cerita jika lambangnya adalah pohon toge.

Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit, Jadilah saja belukan. Tapi belukan terbaik yang tumbuh ditepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukan, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Karena bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Tetapi jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.

Dhan, aku mau kau dan generasimu mengerti. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya alat menuju kondisi yang lebih baik. Ayo bangkit Dhan, jangan malas, jangan hanya bisa nonton sinetron. Tak malu kau pada kami? Aku dan Ahmad Wahib, Munir, kau tau Munir kan? Orang cemerlang itu, yang selalu datang dengan sepeda motor tuanya? Ia hebat karena mau belajar, sekolah dan membaca, pejuang ia Dhan. Tak mau kau seperti ia? Bukan sebagai superhero macam Superman, itu Cuma dagelan. Jadilah hebat karena kau peduli dan jujur. Atau seperti Marsinah, ya Marsinah wanita besi itu datang dengan berbagai persoalannya, tapi ia lega Dhan, selama hidup ia sudah jujur, jujur untuk melawan kesewenangan, ayo lah Dhan. Tak perlu dengan agitasi turun ke Jalan, bisa kau bikin macam Si Rendra, berpuisi. Jangan diam Dhan, diam hanya macam orang kejam. Karena diam dan kasihan adalah laknat kutukan pada hati manusia. Ingatlah Dhan, apatisme lahir karena dua hal, kau terlalu bodoh untuk berpikir atau terlalu egois untuk perduli.

Sahabatmu, Gie.

N.B : aku baca tulisanmu, jelek! Macam tukang kutip saja, perbaiki Dhan. Kutunggu kau untuk jadi Martir.

*Ditulis ulang untuk mengenang Soe Hok Gie, ditulis dengan campuran berbagai kutipan catatannya.

Kamis, 13 Januari 2011

Untuk Jim


Untuk : James Augustine Aloysius Joyce

Di Fluntern Cemetery, Zűrich, Swedia


Hai Jim, apa kabar? Aku berharap kau baik-baik saja dan kukira kini kau sudah senang kan? Berkumpul dengan Nora, kedua anakmu dan tentu saja Stephen cucumu yang keras kepala itu. Tentu saja kau bahagia, segala pencapaianmu yang luar biasa itu hanya sedikit dari kecintaanmu pada keluargamu kan? Jim, Aku ingin sekali bertukar kabar padamu, tapi tentu saja, itu sulit. Kita sama-sama sibuk dalam dunia kita masing-masing, seringkali malah kita berlagak lupa tentang keberadaan kita. Sampai pada akhirnya kepura-puraan itu menjadi kenyataan dan kita benar-benar lupa. Tetapi bukankah itu semua wajar kan Jim?

Aku baru saja menyelesaikan Dubliners Jim, sungguh buatku itu cerita yang konyol. Bukan, bukan maksudku mengejek, kau tentu saja seperti banyak diakui orang lain di dunia adalah seorang jenius. Konyol maksudku adalah, bagaimana mungkin kau menceritakan suatu kota, yang bahkan kau sendiri tidak berada dikota itu saat menulisnya. Malah kau menulisnya dengan sangat baik, lebih baik daripada Bono mengkampanyekan perdamaian dunia. Kau tentu kenal Bono kan Jim? Rocker gaek yang suka pakai kaca mata itu? Jika belum, nanti akan aku kenalkan, kau harus mendengarkan lagunya Jim. Setidaknya lagu-lagu Bono selangkah lebih dekat dengan Tuhan, meski sampai akhir hayat kau menolak mendekati segala hal yang berbau imanen kan Jim?

Jim yang baik, ingatkah kau pada Irlandia? Tanah yang kau cintai dengan cara yang tersembunyi, bahkan jauh tersembunyi sehingga Nora pun merasa kau membenci Irlandia. Tahukah kau? Jika Irlandia kini memiliki pemain sepak bola hebat, ya aku tak tahu kau suka bola atau tidak. Yang jelas, aku Suka Manchester United Jim. Kamu harus suka, cobalah untuk suka. Daripada kau sepertinya hanya diam dalam kebisuan. Kau mencintai Irlandia kan Jim? Hayo ngaku saja, aku tahu Jim. Kamu begitu mencintai negaramu dengan sangat lihai. Jika tidak kau cintai, kau tak mungkin membuat Dubliners, Potrait dan Ulysses dengan latar belakang Irlandia kan Jim? Hayo kau sudah ketauan Jim tak usah mengelak lagi.

Ya biarlah jika kau tak mau mengaku, kau terlalu keras kepala, sangat keras kepala. Tapi sudahlah Jim toh semua orang punya hal yang ingin disimpan sendiri tanpa orang lain yang tahu. Hei Jim apakah kau tahu jika dunia sudah mengingatmu, mengenangmu, menceritakanmu, menafsirkanmu dan menjadikanmu sebuah patron? Santo sastra, ya sekali lagi mungkin kau tidak tahu. Kau tertalu acuh pada hal-hal yang tak kau mengerti. Lagi pula kau hanya ingin menulis ya tho Jim?

Kemarin seorang kawan bertanya tentang apa arti tanggal 13 Januari buatku, sebenarnya kawan itu ingin mengingatkan bahwa tanggal itu aku harus bayar SPP lagi. SPP dari kuliahku yang tak kunjung selesai, Ia menyindirku. Tapi dengan mantab Kubilang bahwa tiap tanggal 13 Januari adalah hari dimana Aku berkirim surat denganmu Jim. Ya meski Aku tahu, kamu tidak akan membalas surat-suratku. Tapi tak apalah, toh kita selalu berusaha meski seringkali hasilnya tidak terduga.

Kawanku itu lanjut bertanya, memang ada apa tanggal 13 Januari. Ya Kujawab, kalo itu adalah hari dimana kau istirahat dari Jagad Pramuditha untuk selamanya. Kawanku rupanya masih penasaran. Memang siapa Kau itu, sampai tiap 13 Januari musti Kukenang. Kubilang Kau itu adalah penulis, ealah dia malah ketawa “penulis kok pakek di inget-inget”. Ya rasanya pengen sekali menyumpal mulut kawanku itu dengan sandal, tapi kok ya kasihan. Toh bukan salah dia juga kalau tidak mengenal dan menghargaimu.

Dengan perlahan kujelaskan bahwa kau itu orang hebat. Ya namanya manusia, berbeda-beda. Apa yang Aku anggap hebat ya belum tentu hebat untuk orang lain. Contohnya ya kawanku ini, standar hebatnya adalah punya motor terbaru dengan modifan paling kinclong, jago disko di kelab malam, atau lulus kuliah lantas jadi PNS. Ya biarlah Jim, orang kan bebas berpendapat. Seperti yang kau gambarkan lewat Stephen Dedalus dan Leopold Bloom yang saling bertolak belakang itu kan Jim. Seolah-olah kau hendak berkata ‘tidak ada orang yang benar-benar bersih dan tidak ada orang yang benar-benar kotor’.

Kawanku itu rupanya penasaran denganmu Jim, penasaran bagaimana Kau itu bisa mempengaruhi dunia dan Kujelaskan pula bahwa seorang manusia itu selain dikenang hidupnya juga dikenang Karyanya. Jika kamu tak bisa membuat sejarah, maka catatlah namamu dalam sejarah. Kubilang begitu pada kawanku itu Jim. Pusing sekali katanya Jim, omonganku mungkin terlalu bertele-tele dan berawang-awang. Entahlah padahal Aku bicara dengan sederhana. Kawanku itu mendesak lagi Jim. ‘ceritakan padaku tentang Joyce’ katanya. Aku jadi bingung, mau memulai darimana. Karena banyak buku yang membahas tentangmu tiap tahun terbit, ratusan skripsi atau karya ilmiah sampai sekarang, masih tak habis menjelaskanmu Jim. Lalu apalah aku ini jika dipaksa bercerita tentangmu?

Sedikit berkilah Aku bercerita tentang Homerus sang penyair The Odyssey dan The Illiad. Kuceritakan padanya tentang puisi epik panjang karya penyair buta dari Yunani itu. Karena Aku tahu Jim, kawanku yang bebal ini tergila-gila pada kisah Troy yang dimainkan oleh Brad Pitt. Ya meski Aku curiga Kawanku itu tak suka cerita Troy, tapi suka pada perut bidang Brad Pitt tapi sudahlah. Nah kubilang pada Kawanku itu tentang Odessey si cerdik yang berhasil merayu Achilles untuk perang dibawah pasukan Agamenmon. Nah tokoh cerita epik inilah yang kemudian menjadi bahan dasarmu untuk membikin Ulysses, mahakaryamu itu. Ya memang agak mbulet dan ribet, tapi terkadang susah sekali menjelaskan hal sederhana pada orang bebal.

Awalnya Kawanku itu manggut-manggut Jim, saat kutanya apa dia ngerti, ealah malah nyengir dan geleng kepala. Tiwas kataku dalam hati, manusia seringkali terlalu sombong dalam kebebalannya. Padahal ketidaktahuan adalah awal dari usaha terhadap pemahaman. Kawanku inilah contohnya, prototipe manusia dari bangsaku Jim. Manusia yang memuja citra, pecinta budaya massa dan bebal terhadap literasi. Bangsa yang seringkali lupa untuk belajar, membaca dan merenungi hidup lewat pengetahuan. Wong bagaimana mau membaca, sekolah aja maen-maen.

Dengan perlahan dan hati-hati kujelaskan pada Kawanku itu tentangmu Jim. Tentang James Joyce, pengarang hebat yang telah membuat banyak karya. Mulai dari Dubliners, A Potrait of The Artis as A Young Man, Exiles, Finegans Wake dan tentu saja Ulysses. Kubilang padanya Dubliners adalah sebuah kumpulan cerpen tentang kehidupan dan perilaku orang-orang di Dublin Irlandia. A Potrait of The Artis as A Young sendiri adalah kisah perjalanan Stephen Dedalus di Dublin juga. Dan mahakaryamu Ulysses, tentang petualangan Leopold Bloom yang menelusuri kota Dublin yang dibagi menjadi 18 bab, mirip dengan Odessey milik Homer.

Kawanku itu lantas bertanya, apa menariknya? Maka kujelaskan lagi bahwa, karyamu Ulysses memperkenalkan sebuah teknik menulis yang boleh dibilang jarang pada jaman itu. Stream of Consiussness, arus kesadaran, dimana secara menyeluruh tehnik ini mengaburkan deskripsi antara narasi, pemikiran tokoh, kesan sesaat, sensasi, dan alur cerita. Kira-kira begitu, toh aku yakin dia gak bakal paham. Kubilang metode ini kau Gunakan pada karakter Molly Bloom, istrinya Leopold, yang pada 40 halaman Ulysses meracau tentang kenikmatan senggama, pemikirannya, deskripsi fungsi kelamin dan sensasi yang ia rasakan.

Setelah kujelaskan panjang lebar Kawanku itu kemudian berdiri dan berlalu. Ia berucap ”ealah tak pikir sopo, gak penting blas, mending delo’ Uya Kuya, lucu”. Anjing, orang udah capek-capek jelasin, malah gitu komentarnya. Tapi ya sudahlah Jim, sekali lagi kubilang. Bahwa semua orang berhak memilih siapa idolanya, berhak memilih jalan hidupnya dan juga berhak menjadi siapapun yang ia kehendaki.

Mungkin Aku pribadi mesti berterima kasih pada Sylvia Beach pemilik Shakespeare and Co. Jika ia tidak iseng menawarkan diri untuk mencetak Ulysses, Aku tidak akan mengenal kau Jim. Dan dunia tidak perlu pusing memecahkan apa maksud dan teka-teki yang ada dalam Ulysses. Aku sendiri sedang menunggu Ulysses untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena sedikit sekali karya sastra bermutu yang diterjemahkan dalam bahasa kami. Tidak seperti Jepang yang setiap ada buku baru. Dalam waktu sebulan pasti ada terjemahan dalam bahasa Jepang. Ya gini nasib jadi warga negara dunia ketiga.

Maaf ya Jim, seperti yang kau tahu. Negaraku, ya negara yang banyak konter pulsa dan pedagang baksonya ini adalah negara sederhana di asia tenggara. Wuits jangan asal mengira, negaraku ini kemarin dinobatkan sebagai negara maju, bukan negara berkembang lagi. Dan tentu Kau tau Borneo kan? Itu loh pulau yang kau sebut dalam Ulysses “This sister of the wild man of Borneo has just come to town”. Nah Borneo itu adanya di Indonesia. Yap Indonesia, negeri yang pernah disinggahi Neruda dan dijajah oleh Daendlles.

Sebenarnya Aku malu mau bercerita tentang Negeriku Jim, bukan, bukan karena rakyat kami yang suka menebas leher saudaranya atas nama agama, atau sepak bola kami yang luluh lantak karena megalomaniak pemimpinya, atau karena kami memiliki badan lesgislatif setingkat dibawah septic tank. Bukan Jim, bukan karena itu semua, tapi lebih karena, kau jangan tertawa yah, ya karena bangsaku tidak suka membaca dan buku itu barang yang tidak lebih penting daripada gincu. Di negaraku, khusunya para kaum mudanya, beriman pada satu pemikiran. Boleh goblok asal Gaul. Ya silahkan tertawa, silahkan. Aku tahu selepas kau membaca ini Kau pasti akan tertawa terkencing-kencing.

Negaraku bukan Irlandia Jim, bukan pula Swiss. Disini seorang penulis, betapa pun hebatnya dia tidak akan pernah dihargai apalagi diabadikan dalam mata uang. Jangankan mata uang, perangko pun aku ragu. Ya memang penulis di Negeri kami tidak ada yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Sastra. Tidak seperti Irlandia yang memiliki William Butler Yeats atau Samuel Beckett atau Seamus Heaney. Tidak kami tidak memiliki peraih Nobel, tapi kami punya Pramoedya Ananta Toer, kami punya W.S Rendra, kami punya Chairil Anwar, Kami punya Romo Mangun, Kami punya Umar Kayam, dan kami punya sederet nama-nama penulis lain yang aku yakin bisa meraih Nobel. Ya memang gak dalam setahun dua tahun lagi, tapi nanti pasti dapatlah. Kalau sudah ada yang dapat, Kau akan Kukabari Jim

Biar kukisahkan kau sedikit tentang Pramoedya Ananta Toer. Dia itu sepertimu Jim, keras kepala, mencintai istri dengan sepenuh hati dan Ia humanis. Jika kau bisa bikin Dubliners, Pramoedya bisa bikin Cerita dari Blora, jika kau bikin a potrait of The Artist as a Young Man, Pramoedya bisa bikin Bukan Pasar Malam dan jika kau mampu membikin Ulyssys maka Pramoedya bisa bikin Tetralogi Pulau Buru. Haha! Jangan kau pikir bangsa kami yang udik ini tak bisa bikin karya sastra ya, sori-sori Jim jangan salah! Nanti liat saja, kau pasti akan liat karya dari bangsa kami. Karya orisinil yang bebas dari pertentangan kelompok. Mungkin tidak sekarang tapi entah nanti.

Ya sudahlah Jim, segini dulu Surat yang hendak kukirim padamu. Aku mau lanjut bikin skripsi, eits maaf ya. Aku gak mau dengar kuliahmu tentang pendidikan, kamu aja gak lulus kuliah mau ngajari aku yang mahasiswa ini, catat MAHASISWA, bergengsi, intelektuil dan agent of change. Ya meski belum bisa bikin karya semacam Ulysses, setidaknya Aku mau lulus kuliah dan punya gelar sarjana. Haha! Iri kan? Makanya dulu kuliah yang bener, jangan suka Mabok! Baiklah Jim, Aku pamit, salam untuk Nora dan keluargamu yang lain. Tabik.

N.B “I’ve put on so many enigmas and puzzle that it will keep the professors busy for centuries arguing over what I meant, and that’s the only way of insuring one’s immortality.”

Pengantarmu dalam Ulysses ini asu sekali Jim.

Salam koprol, A.D.B.H

Kamis, 26 Agustus 2010

47 Tahun Sejarah Perjuangan

Wiji Thukul adalah sebuah kisah yang belum tamat. Manusia yang seumur nafas ditempa kerasnya hidup. Hingga pada akhirnya ia moksa tak tentu rimba. 47 tahun lalu ia dilahirkan, sebagai pria yang mungkin memang dikisahkan untuk menjadi peluru. Peluru yang dengan jalang, menelikung penindasan-penindasan.

Wiji thukul adalah kata-kata yang tak tuntas diucapkan. Sebuah kalimat yang menggantung, menunggu orang untuk menyelesaikan. Seperti mendung yang pekat, tapi tak kunjung hujan. Barisan kata-kata Wiji Thukul tak lekang menunggu jawaban. Jawaban dari mereka yang sembunyi di balik baying-bayang.

Wiji Thukul adalah barisan-barisan yang tak bubar. Ia patuh runtut menunggu ketidakadilan diselesaikan. Hutang dibayar. Pendidikan gratis. Hakim adil. Dan jendral-jendral ditangkap. Bukan karena ia komandan barisan. Karena ia sebuah garis tegak lurus. Yang menolak dibengkokan dengan moncong senapan.

Wiji Thukul adalah teater yang tak selesai. Kumpulan kisah kisah yang haus perhatian. Narasi-narasi yang jujur. Bukan sinetron yang menjual mimpi. Tragedi satir yang menanti humor. Bukankah dramaturgi tak diajarkan di kolong jembatan dan di lampu merah? Lalu mengapa teater ini tak kunjung selesai.

Wiji Thukul adalah corong usang. Yang berbisik ;

“Aku Masih utuh dan kata-kata belum binasa”

aku bukan artis pembuat berita
tapi memang
aku selalu kabar buruk
buat para penguasa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat
dan berdesakan mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ia tak mati-mati
telah kubayar apa yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
:kau masih hidup!

Wiji Thukul adalah perjuangan melawan lupa. Labirin tanpa akhir. Yang kemudian diasingkan lewat teks-teks banal. Kisah-kisah perselingkuhan. Opera sabun. Di khianati keong racun. Dan akhirnya berakhir pada selokan-selokan sejarah. Namun ini sekedar alarm. Karena “aku memang masih utuh, dan kata-kata belum binasa”

Rabu, 02 Juni 2010

Belenggu Pengasingan



-->
Saya percaya kreativitas, karya dan pencerahan sejalan lurus dengan kebebasan dalam berpendapat dan berpikir. Segala macam belenggu, penjara, ikatan dan kekangan tidak membuat manusia menjadi lebih baik. Malah akan membuat manusia makin keras melawan, sebuah laten pembawaan hasrat manusia akan pencapaian diri. Penjara dan kerangkeng kebebasan adalah sebuah blunder yang dibuat karena sikap paranoid terhadap pemikiran. Saya tidak membenarkan perbuatan jahat tanpa ganjaran, kurungan dalam hal ini masih dibutuhkan. Namun benarkah institusi penjara atau lembaga pemasyarakatan hal ini akan membawa kebaikan? Tidak juga saya pikir. Penjara dalam banyak kisah malah melahirkan pesakitan yang lebih ahli dalam kejahatan.

Anda tentu pernah mendengar Joni Indo, Robin Hood dari Indonesia. Perampok yang beken pada tahun 80an, sering keluar masuk penjara. Dan konon setiap kali keluar dari penjara ia makin ahli dalam menjalani aksi perampokannya. Memang hal ini tidak bisa dijadikan sebuah indikator empiris dalam pembuktian bahwa penjara menjadi sekolah kejahatan (school of crime). Tetapi paling tidak akan memberikan anda sebuah gambaran betapa institusi yang harusnya menyadarkan, malah membuat ‘pasien’ makin parah.

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja pulang dari Jogja, di sana saya bertemu dengan kawan-kawan lama sesama pegiat pers mahasiswa. Selain mencari percetakan untuk majalah edisi berikutnya saya juga menyempatkan diri untuk mencari beberapa buku yang memang sudah lama saya inginkan. Salah satunya adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Pertama kali saya membaca buku ini saat saya bekunjung dirumah Pras, kawan saya yang juga tinggal di Jogja. Pras ini adalah salah satu anggota Ekspresi[i]. Di kamarnya banyak sekali buku-buku, diantara sekian ratus buku yang sebagian besar adalah buku sastra, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu- lah yang paling menyita perhatian saya.

Sejak lama saya menginginkan buku ini, karena di dalamnya adalah pengalaman dan pandangan Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya sejauh yang saya ketahui, adalah seorang wartawan, seorang penulis, kritikus sastra, penerjemah karya sastra, dan pengarang dari Tetralogi Pulau buru, sebuah roman kebangkitan nasional indonesia. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu sendiri di tulis antara 6 Februari 1925 sampai dengan 1995, sebagian besar ditulis di pengasingannya di pulau Buru.

Menjadi menarik, karena Pramoedya yang dipenjara dan diasingkan di pulau buru tidak pernah merasa diadili dan mengetahui, kesalahan apa ia perbuat hingga akhirnya harus dihukum. Jika pun ia harus dihukum, maka saya berpikir ia dihukum karena menyerukan kebenaran dan keberanian untuk berpikir bebas. Hal ini diungkapkannya saat diwawancarai tim psikologi gabungan Univesitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada yang di pimpin Prof. Dr Fuad Hasan. Saat itu Pramoedya berkata “saya merasa diperlakukan tidak menurut hukum. Belum pernah saya dijatuhi hukuman oleh suatu pengadilan saya selalu menulis dengan nama jelas, setiap orang boleh menyalahkan, apalagi pemerintah yang memiliki kementrian penerangan… saya tidak bicara tentang kekuasaan yang sedang berlaku. Saya bicara tentang Indonesia, jika kami bersalah maka hukumlah dengan setimpal. Jika tidak, bebaskanlah”.[ii]
Tindakan pemerintah yang menangkap dan mengurung Pramoedya dalam Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba adalah sikap pengecut. Pramoedya diciduk dari kediamannya oleh militer, lalu buku-buku koleksi pribadinya dibakar. Sebuah bentuk tirani dari pemerintah, dalam menekuk intelektualitas yang dianggap laten dan berbahaya bagi ketertiban umum. Namun apa itu ketertiban umum? Apa itu melawan pancasila? Apa itu separatisme? Pemahaman yang konyol dan tidak utuh terhadap suatu terminologi. Kekonyolan macam ini yang akhirnya membuat Pramoedya pada akhirnya diasingkan di Pulau Buru.

Keresahan dan ketidakadilan yang dirasakan selama pengasingan di Pulau Buru bukan milik Pramoedya seorang, ada sekitar 12.000 tahanan politik (Tapol) lainnya. Dalam catatannya, Pramoedya mengungkapkan, hampir sebagian besar yang diasingkan tidak menjalani proses peradilan yang layak. Hal ini Ia ungkapkan dalam surat terbuka kepada Goenawan Muhamad (GM), “Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya.” Mungkin hal inilah yang membuat Pramoedya menjadi seorang apatis dan pensiun percaya terhadap segala institusi pemerintah. Yang dianggapnya sama saja dan merupakan perpanjangan tangan pemerintahan fasis.[iii]
Banyak pengalaman pahit dan getir yang dilalui Pramoedya saat di Pulau Buru, ia merasakan kekejaman dan ketidakadilan terhadap haknya sebagai manusia. Penyiksaan batin dan fisik menjadi sebuah keseharian. “berdua kami ditempeleng dan aku mendapatkan tambahan semburan ludah. Dan waktu tinjunya tiba-tiba mengenai ulu hatiku aku meliuk nyaris roboh.”[iv]. Apakah ini tujuan pengasingan? Terlebih-lebih yang katanya penjara bagi Tapol eks Komunis yang membahayakan stabilitas pancasila? Buat saya tak lebih dari pertunjukan sirkus penjara.

Penjara, meminjam istilah Michel Foucault sebagai monumen Panoptikon. ‘to induce in the inmate a state of conscious and permanent visibility that assures the automatic functioning of power’[v]. Sebuah monumen yang kelahirannya dibuat sebagai institusi menakutkan, sebuah teror tidak sadar yang membayangi pemikiran setiap manusia untuk berpikir dua kali jika ingin melakukan hal buruk. Namun bagaimana jika monumen yang sejatinya dibuat untuk melindungi dan mencegah perbuatan jahat menjadi institusi yang melegalkan dan membiakan kejahatan? Hal ini tentu akan menjadi sebuah ironi yang akan kita (saya) tertawakan dengan getir.

Pramoedya memperoleh pemikiran gilang gemilang dan karya baik ini bukan karena karbitan sejarah. Dimulai dari didikan ayahnya pendiri Klan Toer, Pramoedya muda melihat bagaimana ayahnya yang seorang Priyayi rela membuang segala privilage nya untuk terjun berorganisasi bersama rakyat, mengajarkan wanita baca tulis, organisatoris Boedi Oetomo. Seperti yang diungkapnya “ dan yang selalu aku hormati; tabah dalam mengambil keputusan dan memutuskan sesuatu… ia mempunyai pengetahuan luas tentang literatur jawa, sendiri seorang penggerak…”[vi]. Watak tak kenal lelah dan kemandirian yang membuatnya bertahan dari kejamnya Pulau Buru juga tak lepas dari peran Ibundanya. Pramoedya yang selama pengasingan hampir tidak pernah menggantungkan diri (dan memang tidak bisa mengharapkan) terhadap pemerintah, selalu berusaha untuk berdikari dalam pemenuhan kebutuhannya.

Watak mandiri dan sikap anti kompromi Pramoedya, yang digambarkan dalam buku ini membuat saya malu. Sebagaimana saya masih bergantung pada kakak dan sesekali pada orang tua saya. Pramoedya sendiri tidak mengelak dan mengakui bahwa kedua orang tuanya yang telah membentuk sikap dan kepribadiannya. “memang dua-dua orang tuaku menduduki tempat terpenting dalam awal kehidupanku. Sikap, tingkah, ucapan dan cita-cita mereka telah menjadi bagian dari diriku..”[vii]. pramoedya adalah sebuah model dari ‘hasil didikan sejarah’, di mana Ia menyerap pemikiran, tingkah laku dan sikap dari kedua orang tuanya. Dan dalam perkembangan hidupnya hasil didikan itu mengendap dan membentuk Pramoedya seperti yang kita baca dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.”

Dalam kesempatan lain Pramoedya pernah berujar, menulislah, karena dengan menulis kau tak akan dilupakan sejarah. Menulis bagi Pramoedya adalah sebuah perjuangan, perjuangan melawan lupa. Berusaha mengingat dan memberikan ingatan tersebut sebagai warisan bagi sejarah bangsa ini. Pramoedya adalah seorang penulis yang dalam terminologi Cak Nun “penulis selilit”,[viii] Anda tahu selilit? Peristiwa di mana ada semacam makanan yang menjadi benda asing dalam barisan gigi kita, yang mengganggu kita dan membuat kita tidak nyaman. Dan itulah Pramoedya, menjadi selilit sejarah bagi penguasa tiran Orde Baru dan pemerintahan fasisnya.

Dalam catatan pinggirnya, GM pernah berujar, “sejarah memang sebuah proses dari keadaan terbelenggu ke arah keadaan merdeka-dan riwayat hidup Pramudya Ananta Toer melukiskan itu. Di zaman perang kemerdekaan ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Di zaman ‘Demokrasi Terpimpin’ Soekarno ia dipenjarakan tentara, karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Di zaman ‘Orde Baru’ ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun”[ix]. Tapi mungkin GM lupa, Pramoedya dipenjara bukan karena ia menulis, Pramoedya dipenjara karena ia berusaha jujur dan berani berkata tidak pada pemerintah Orba.

Pramoedya bukanlah GM dan Jacoeb Oetama yang rela berkompromi paska Malari (Malapetaka Lima Belas Januari 1974). Ia serupa Mochtar Loebis[x], serupa Soe Hok Gie, serupa Munir, serupa Marsinah dan serupa Wiji Thukul yang secara lantang menolak tunduk patuh dan “melupakan” penindasan yang ada di hadapan mereka. Pramoedya bukanlah seorang santo yang dapat dengan legowo memaafkan para penindasnya, ia manusia biasa yang bisa sakit hati dan dendam. Dan hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada karyanya.

Penjara apapun tak akan menyekap kerativitas dan kebebasan Pramoedya dalam berpendapat, berpikir dan menjadi diri sendiri. Penjara hanya sekedar belenggu, belenggu pengasingan dari hingar bingar dunia. Meminjam kata-kata Tan Malaka, “siapa Ingin merdeka, hendaklah mereka siap dipenjara.” Pramoedya telah melalui hal itu, dan menang melawan lupa. Dan mereka yang dibungkam akan tetap bersuara meski dalam kubur. Tak akan ada penjara yang sanggup memasung pemikiran, membelenggu kata-kata dan menahan kebebasan. Semua hanya menunggu runtuh, entah oleh waktu atau kerasnya si pesakitan dalam melawan! []





[i] Lembaga Pers Mahasiswa, Universitas Negeri Yogyakarta, didirikan pada tanggal 20 April 1992
[ii] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I. Hasta Mitra. Jakarta, 1995 (hal. 19)
[iii] Ibid 87
[iv] Ibid 87
[v] Michel Foucault, Discipline & Punish: The Birth of the Prison (NY: Vintage Books 1995)
[vi] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II. Hasta Mitra. Jakarta, september 2000 (hal. 4)
[vii] Ibid. 11
[viii] Istilah serupa pernah diberikan oleh Muhidin M Dahlan dalam obituari Pramoedya Ananta Toer “Pram, Buku yang tak selesai dibaca”
[ix] Majalah Tempo NO. 08/XXVIII/27 April - 3 Mei 1999
[x] Menarik, karena Mochtar Lubis adalah salah satu sastrawan “Manikebu” yang berseberangan pandangan dengan Pramoedya yang dianggap sastrawan Lekra. Dalam suatu waktu Mochtar Loebis pernah mencibir Tetralogi Pulau Buru, namun mereka sama-sama menjadi korban fasisme Orba saat harian Indonesia Raya milik Mochtar Lubis di bredel pemerintah Orba.