Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

Untuk Jim


Untuk : James Augustine Aloysius Joyce

Di Fluntern Cemetery, Zűrich, Swedia


Hai Jim, apa kabar? Aku berharap kau baik-baik saja dan kukira kini kau sudah senang kan? Berkumpul dengan Nora, kedua anakmu dan tentu saja Stephen cucumu yang keras kepala itu. Tentu saja kau bahagia, segala pencapaianmu yang luar biasa itu hanya sedikit dari kecintaanmu pada keluargamu kan? Jim, Aku ingin sekali bertukar kabar padamu, tapi tentu saja, itu sulit. Kita sama-sama sibuk dalam dunia kita masing-masing, seringkali malah kita berlagak lupa tentang keberadaan kita. Sampai pada akhirnya kepura-puraan itu menjadi kenyataan dan kita benar-benar lupa. Tetapi bukankah itu semua wajar kan Jim?

Aku baru saja menyelesaikan Dubliners Jim, sungguh buatku itu cerita yang konyol. Bukan, bukan maksudku mengejek, kau tentu saja seperti banyak diakui orang lain di dunia adalah seorang jenius. Konyol maksudku adalah, bagaimana mungkin kau menceritakan suatu kota, yang bahkan kau sendiri tidak berada dikota itu saat menulisnya. Malah kau menulisnya dengan sangat baik, lebih baik daripada Bono mengkampanyekan perdamaian dunia. Kau tentu kenal Bono kan Jim? Rocker gaek yang suka pakai kaca mata itu? Jika belum, nanti akan aku kenalkan, kau harus mendengarkan lagunya Jim. Setidaknya lagu-lagu Bono selangkah lebih dekat dengan Tuhan, meski sampai akhir hayat kau menolak mendekati segala hal yang berbau imanen kan Jim?

Jim yang baik, ingatkah kau pada Irlandia? Tanah yang kau cintai dengan cara yang tersembunyi, bahkan jauh tersembunyi sehingga Nora pun merasa kau membenci Irlandia. Tahukah kau? Jika Irlandia kini memiliki pemain sepak bola hebat, ya aku tak tahu kau suka bola atau tidak. Yang jelas, aku Suka Manchester United Jim. Kamu harus suka, cobalah untuk suka. Daripada kau sepertinya hanya diam dalam kebisuan. Kau mencintai Irlandia kan Jim? Hayo ngaku saja, aku tahu Jim. Kamu begitu mencintai negaramu dengan sangat lihai. Jika tidak kau cintai, kau tak mungkin membuat Dubliners, Potrait dan Ulysses dengan latar belakang Irlandia kan Jim? Hayo kau sudah ketauan Jim tak usah mengelak lagi.

Ya biarlah jika kau tak mau mengaku, kau terlalu keras kepala, sangat keras kepala. Tapi sudahlah Jim toh semua orang punya hal yang ingin disimpan sendiri tanpa orang lain yang tahu. Hei Jim apakah kau tahu jika dunia sudah mengingatmu, mengenangmu, menceritakanmu, menafsirkanmu dan menjadikanmu sebuah patron? Santo sastra, ya sekali lagi mungkin kau tidak tahu. Kau tertalu acuh pada hal-hal yang tak kau mengerti. Lagi pula kau hanya ingin menulis ya tho Jim?

Kemarin seorang kawan bertanya tentang apa arti tanggal 13 Januari buatku, sebenarnya kawan itu ingin mengingatkan bahwa tanggal itu aku harus bayar SPP lagi. SPP dari kuliahku yang tak kunjung selesai, Ia menyindirku. Tapi dengan mantab Kubilang bahwa tiap tanggal 13 Januari adalah hari dimana Aku berkirim surat denganmu Jim. Ya meski Aku tahu, kamu tidak akan membalas surat-suratku. Tapi tak apalah, toh kita selalu berusaha meski seringkali hasilnya tidak terduga.

Kawanku itu lanjut bertanya, memang ada apa tanggal 13 Januari. Ya Kujawab, kalo itu adalah hari dimana kau istirahat dari Jagad Pramuditha untuk selamanya. Kawanku rupanya masih penasaran. Memang siapa Kau itu, sampai tiap 13 Januari musti Kukenang. Kubilang Kau itu adalah penulis, ealah dia malah ketawa “penulis kok pakek di inget-inget”. Ya rasanya pengen sekali menyumpal mulut kawanku itu dengan sandal, tapi kok ya kasihan. Toh bukan salah dia juga kalau tidak mengenal dan menghargaimu.

Dengan perlahan kujelaskan bahwa kau itu orang hebat. Ya namanya manusia, berbeda-beda. Apa yang Aku anggap hebat ya belum tentu hebat untuk orang lain. Contohnya ya kawanku ini, standar hebatnya adalah punya motor terbaru dengan modifan paling kinclong, jago disko di kelab malam, atau lulus kuliah lantas jadi PNS. Ya biarlah Jim, orang kan bebas berpendapat. Seperti yang kau gambarkan lewat Stephen Dedalus dan Leopold Bloom yang saling bertolak belakang itu kan Jim. Seolah-olah kau hendak berkata ‘tidak ada orang yang benar-benar bersih dan tidak ada orang yang benar-benar kotor’.

Kawanku itu rupanya penasaran denganmu Jim, penasaran bagaimana Kau itu bisa mempengaruhi dunia dan Kujelaskan pula bahwa seorang manusia itu selain dikenang hidupnya juga dikenang Karyanya. Jika kamu tak bisa membuat sejarah, maka catatlah namamu dalam sejarah. Kubilang begitu pada kawanku itu Jim. Pusing sekali katanya Jim, omonganku mungkin terlalu bertele-tele dan berawang-awang. Entahlah padahal Aku bicara dengan sederhana. Kawanku itu mendesak lagi Jim. ‘ceritakan padaku tentang Joyce’ katanya. Aku jadi bingung, mau memulai darimana. Karena banyak buku yang membahas tentangmu tiap tahun terbit, ratusan skripsi atau karya ilmiah sampai sekarang, masih tak habis menjelaskanmu Jim. Lalu apalah aku ini jika dipaksa bercerita tentangmu?

Sedikit berkilah Aku bercerita tentang Homerus sang penyair The Odyssey dan The Illiad. Kuceritakan padanya tentang puisi epik panjang karya penyair buta dari Yunani itu. Karena Aku tahu Jim, kawanku yang bebal ini tergila-gila pada kisah Troy yang dimainkan oleh Brad Pitt. Ya meski Aku curiga Kawanku itu tak suka cerita Troy, tapi suka pada perut bidang Brad Pitt tapi sudahlah. Nah kubilang pada Kawanku itu tentang Odessey si cerdik yang berhasil merayu Achilles untuk perang dibawah pasukan Agamenmon. Nah tokoh cerita epik inilah yang kemudian menjadi bahan dasarmu untuk membikin Ulysses, mahakaryamu itu. Ya memang agak mbulet dan ribet, tapi terkadang susah sekali menjelaskan hal sederhana pada orang bebal.

Awalnya Kawanku itu manggut-manggut Jim, saat kutanya apa dia ngerti, ealah malah nyengir dan geleng kepala. Tiwas kataku dalam hati, manusia seringkali terlalu sombong dalam kebebalannya. Padahal ketidaktahuan adalah awal dari usaha terhadap pemahaman. Kawanku inilah contohnya, prototipe manusia dari bangsaku Jim. Manusia yang memuja citra, pecinta budaya massa dan bebal terhadap literasi. Bangsa yang seringkali lupa untuk belajar, membaca dan merenungi hidup lewat pengetahuan. Wong bagaimana mau membaca, sekolah aja maen-maen.

Dengan perlahan dan hati-hati kujelaskan pada Kawanku itu tentangmu Jim. Tentang James Joyce, pengarang hebat yang telah membuat banyak karya. Mulai dari Dubliners, A Potrait of The Artis as A Young Man, Exiles, Finegans Wake dan tentu saja Ulysses. Kubilang padanya Dubliners adalah sebuah kumpulan cerpen tentang kehidupan dan perilaku orang-orang di Dublin Irlandia. A Potrait of The Artis as A Young sendiri adalah kisah perjalanan Stephen Dedalus di Dublin juga. Dan mahakaryamu Ulysses, tentang petualangan Leopold Bloom yang menelusuri kota Dublin yang dibagi menjadi 18 bab, mirip dengan Odessey milik Homer.

Kawanku itu lantas bertanya, apa menariknya? Maka kujelaskan lagi bahwa, karyamu Ulysses memperkenalkan sebuah teknik menulis yang boleh dibilang jarang pada jaman itu. Stream of Consiussness, arus kesadaran, dimana secara menyeluruh tehnik ini mengaburkan deskripsi antara narasi, pemikiran tokoh, kesan sesaat, sensasi, dan alur cerita. Kira-kira begitu, toh aku yakin dia gak bakal paham. Kubilang metode ini kau Gunakan pada karakter Molly Bloom, istrinya Leopold, yang pada 40 halaman Ulysses meracau tentang kenikmatan senggama, pemikirannya, deskripsi fungsi kelamin dan sensasi yang ia rasakan.

Setelah kujelaskan panjang lebar Kawanku itu kemudian berdiri dan berlalu. Ia berucap ”ealah tak pikir sopo, gak penting blas, mending delo’ Uya Kuya, lucu”. Anjing, orang udah capek-capek jelasin, malah gitu komentarnya. Tapi ya sudahlah Jim, sekali lagi kubilang. Bahwa semua orang berhak memilih siapa idolanya, berhak memilih jalan hidupnya dan juga berhak menjadi siapapun yang ia kehendaki.

Mungkin Aku pribadi mesti berterima kasih pada Sylvia Beach pemilik Shakespeare and Co. Jika ia tidak iseng menawarkan diri untuk mencetak Ulysses, Aku tidak akan mengenal kau Jim. Dan dunia tidak perlu pusing memecahkan apa maksud dan teka-teki yang ada dalam Ulysses. Aku sendiri sedang menunggu Ulysses untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena sedikit sekali karya sastra bermutu yang diterjemahkan dalam bahasa kami. Tidak seperti Jepang yang setiap ada buku baru. Dalam waktu sebulan pasti ada terjemahan dalam bahasa Jepang. Ya gini nasib jadi warga negara dunia ketiga.

Maaf ya Jim, seperti yang kau tahu. Negaraku, ya negara yang banyak konter pulsa dan pedagang baksonya ini adalah negara sederhana di asia tenggara. Wuits jangan asal mengira, negaraku ini kemarin dinobatkan sebagai negara maju, bukan negara berkembang lagi. Dan tentu Kau tau Borneo kan? Itu loh pulau yang kau sebut dalam Ulysses “This sister of the wild man of Borneo has just come to town”. Nah Borneo itu adanya di Indonesia. Yap Indonesia, negeri yang pernah disinggahi Neruda dan dijajah oleh Daendlles.

Sebenarnya Aku malu mau bercerita tentang Negeriku Jim, bukan, bukan karena rakyat kami yang suka menebas leher saudaranya atas nama agama, atau sepak bola kami yang luluh lantak karena megalomaniak pemimpinya, atau karena kami memiliki badan lesgislatif setingkat dibawah septic tank. Bukan Jim, bukan karena itu semua, tapi lebih karena, kau jangan tertawa yah, ya karena bangsaku tidak suka membaca dan buku itu barang yang tidak lebih penting daripada gincu. Di negaraku, khusunya para kaum mudanya, beriman pada satu pemikiran. Boleh goblok asal Gaul. Ya silahkan tertawa, silahkan. Aku tahu selepas kau membaca ini Kau pasti akan tertawa terkencing-kencing.

Negaraku bukan Irlandia Jim, bukan pula Swiss. Disini seorang penulis, betapa pun hebatnya dia tidak akan pernah dihargai apalagi diabadikan dalam mata uang. Jangankan mata uang, perangko pun aku ragu. Ya memang penulis di Negeri kami tidak ada yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Sastra. Tidak seperti Irlandia yang memiliki William Butler Yeats atau Samuel Beckett atau Seamus Heaney. Tidak kami tidak memiliki peraih Nobel, tapi kami punya Pramoedya Ananta Toer, kami punya W.S Rendra, kami punya Chairil Anwar, Kami punya Romo Mangun, Kami punya Umar Kayam, dan kami punya sederet nama-nama penulis lain yang aku yakin bisa meraih Nobel. Ya memang gak dalam setahun dua tahun lagi, tapi nanti pasti dapatlah. Kalau sudah ada yang dapat, Kau akan Kukabari Jim

Biar kukisahkan kau sedikit tentang Pramoedya Ananta Toer. Dia itu sepertimu Jim, keras kepala, mencintai istri dengan sepenuh hati dan Ia humanis. Jika kau bisa bikin Dubliners, Pramoedya bisa bikin Cerita dari Blora, jika kau bikin a potrait of The Artist as a Young Man, Pramoedya bisa bikin Bukan Pasar Malam dan jika kau mampu membikin Ulyssys maka Pramoedya bisa bikin Tetralogi Pulau Buru. Haha! Jangan kau pikir bangsa kami yang udik ini tak bisa bikin karya sastra ya, sori-sori Jim jangan salah! Nanti liat saja, kau pasti akan liat karya dari bangsa kami. Karya orisinil yang bebas dari pertentangan kelompok. Mungkin tidak sekarang tapi entah nanti.

Ya sudahlah Jim, segini dulu Surat yang hendak kukirim padamu. Aku mau lanjut bikin skripsi, eits maaf ya. Aku gak mau dengar kuliahmu tentang pendidikan, kamu aja gak lulus kuliah mau ngajari aku yang mahasiswa ini, catat MAHASISWA, bergengsi, intelektuil dan agent of change. Ya meski belum bisa bikin karya semacam Ulysses, setidaknya Aku mau lulus kuliah dan punya gelar sarjana. Haha! Iri kan? Makanya dulu kuliah yang bener, jangan suka Mabok! Baiklah Jim, Aku pamit, salam untuk Nora dan keluargamu yang lain. Tabik.

N.B “I’ve put on so many enigmas and puzzle that it will keep the professors busy for centuries arguing over what I meant, and that’s the only way of insuring one’s immortality.”

Pengantarmu dalam Ulysses ini asu sekali Jim.

Salam koprol, A.D.B.H

Rabu, 22 Desember 2010

Apologi Anak Badung pada Sebuah Hari Ibu


Mungkin Mak, saya masih belum bisa khatam Qur'an seperti yang Mak inginkan selalu. Masih belum bisa Duha dan Tahajud seperti yang Mak inginkan. Tapi yakinlah Mak, saya hanya meyakini satu tuhan dan satu nabi penutup seperti yang Mak selalu yakini.

Mungkin Mak, saya masih belum bertingkah santun dan berkata sopan seperti yang Mak selalu tekankan. Masih belum bisa beradab seperti yang Mak selalu lakukan. Tapi yakinlah Mak, aku hanya berlaku demikian untuk jadi diri sendiri, seperti yang Mak selalu isyaratkan.

Mungkin Mak, saya masih belum punya istri solehah berkerudung rapat seperti yang Mak selalu sindirkan. Masih belum bisa mencari istri untuk diajak membangun keluarga sakinah sesuai citra Ali dan Fatimah. Tapi yakinlah Mak, bahwa kelak, siapapun yang saya nikahi, akan menjaga tiang agama dan mencintai Mak seperti saya.

Mungkin Mak, saya masih belum lulus dari kuliah seperti yang Mak selalu tanyakan. Masih belum bisa memberikan gelar Sarjana yang Mak idamkan. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencari ilmu dengan segala kerendahan hati dan kerakusan yang profetik, seperti yang selalu Mak tanamkan.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa memberikan bantuan hepeng agar Mak bisa naik haji. Masih belum bisa memberi tabungan seperti yang Mak selalu inginkan dalam Doa-Doa malam. Tapi yakinlah Mak, saya selalu bertaruh pada nasib dan diri sendiri. Kelak saat semua manusia berpaling pada uang, sayalah yang akan mendoakan Mak lebih keras dari riuh sepertiga malam terakhir.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa sholat dengan taat. Masih belum bisa bersujud dengan segala khidmat dan keikhlasan seperti yang selalu Mak lakukan dalam 5 wajib dan 2 sunah sehari. Tapi yakinlah Mak, bahwa meski nanti leher ditebas, tubuh dinista, dan hidup dihina. Kalimatullah Syahadat tak akan lepas tertukar dewa-dewa digital.

Mungkin Mak, saya masih belum menjadi seorang Amtenaar seperti yang selalu Mak tawarkan. Masih belum bisa mengabdi pada tumpah darah negara ini seperti yang Mak contohkan pada Kakek. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencintai negeri ini, Indonesia, dengan cara yang mungkin belum bisa Mak pahami.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa berhenti membaca komik seperti yang Mak selalu cemburukan. Masih belum bisa singgah dari derap-derap boks dialog dan gambar dalam komik. Tapi yakinlah Mak, saya selalu berpijak pada setiap realitas dan kejujuran yang Mak katakan.

Mungkin Mak, saya masih belum saya masih belum mau dewasa seperti yang Mak selalu ingatkan. Masih belum bisa bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain seperti yang Mak contohkan tiap saat. Tapi yakinlah Mak, saya tidak akan membuat orang lain disusahkan dengan ulah saya, seperti yang Mak selalu ingatkan.

Mungkin Mak, saya masih belum mau pulang dan meneruskan usaha kerupuk seperti yang Mak selalu bisikan. Masih belum bisa membesarkan usaha yang Mak bangun dari kerak keringat dan jelaga air mata. Tapi yakinlah Mak, di sisa umur Mak yang ada tak akan saya birakan Mak menangis dan berkeringat lagi demi saya. Mak menangis dan berkeringatlah untuk Akherat Mak yang Firdaus itu.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa melupakan buku-buku dan syair-syair puisi yang Mak benci ini. Masih belum bisa lepas dari labirin mimpi dan kasur imaji yang nyaman. Tapi yakinlah Mak, saya akan selalu ingat masa-masa keras dimana setiap pagi Mak bangun pagi untuk mengolah adonan kerupuk dan menggorengnya ditengah terik siang paling keji. Saat saya bangun nanti, hanya Mak yang menikmati sisa hari.

Mungkin Mak, saya masih belum tau mana yang baik dan mana yang benar seperti yang Mak selalu nasihatkan. Masih belum bisa adil membagi cinta pada Bapak, masih belum bisa menahan amarah pada Bapak. Tapi yakinlah Mak, saya menghormati Bapak dengan cara yang tersembunyi, dengan cara yang tak perlu dunia tahu.

Mungkin Mak, saya masih belum tahu dimana kelak saya akan berlabuh seperti yang Mak selalu khawatrikan. Masih belum bisa menghilangkan keraguan dan kebimbangan yang Mak selalu coba hilangkan. Tapi yakinlah Mak, saya kelak akan membuat semua orang mengenal Dhani anak Emak yang baik. Mungkin tidak kaya, mungkin tidak pintar, mungkin bukan jadi pejabat, tapi dalam nadi seorang Dhani tak ada tetes nanah yang membuatmu akan malu Mak.
Maka dengan ini Mak, saya berjanji, hanya untuk Mak seorang. Saya akan menjadi orang bermanfaat seperti yang Mak selalu harapkan.


*untuk Semua Ibu paling juara di Jagat Raya

Senin, 20 Desember 2010

Hari Ini (seperti) Lima Tahun yang Lalu

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, hujan masih tetap basah dan terik matahari pukul 12 siang tetap berjelaga jalang. Saya berdiri disebuah tugu bertuliskan Universitas Jember. Sebuah prasasti banal bentuk identitas kedirian Lembaga. Entah apa artinya, namun yang jelas ia berdiri gagah menyambut segenap civitas akademika baik muda maupun purna.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, rumput depan gedung rektorat masih hijau dan air masih sering mampet di masjid Kampus. Menyisiri Boulevard Unej ditengah siang panas adalah tindakan bodoh. Namun seperti usang usia almamater ini, kerinduan akan menyusuri jalan-jalan kampus tak kuasa menahan diri untuk diam dan tidur siang. Sebuah kerinduan yang komplementer dengan rentang waktu kuliah yang tak kunjung usai.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Tukang Parkir Rektorat tersenyum ramah dan Satpam rektorat garang dengan dada membusung. Seperti biasa jika saya lupa memakai sepatu, satpam depan gedung akan berlagak kuasa dan membentak pedas. Padahal saya yakin, berapa hasil dua kali duaratus dua belas ia tak paham. Tapi apaboleh buat, seperti biasa saya hanya diam. Percuma melawan kebebalan tukang pukul yang digaji atas otot bukan otaknya.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Fakultas Ekonomi masih saja ranum menggoda dan Fakultas Tehnik gagah perkasa. Saya menghindari panas yang mulai keparat ini dan duduk cangkrukan di fakultas ekonomi. Fakultas surga yang mahal. Semua berlabel harga mulai dari otak, paras, tubuh dan tempat duduknya. Tidak ada yang gratis, bahkan sepotong senyum bisa menjadi komoditas. Saya hanya numpang lewat dan berteduh. Mungkin hanya udara dan jalan yang belum dilabeli harga.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, kafe-kafe masih saja ramai pengunjing dan UKM-UKM sepi berhantu. Saya memutuskan lanjut berjalan kebelakang fakultas Ekonomi. Menuju riuh dan teduhnya Fakultas Sastra yang ramah. Dimana dulu saya ingat sebagai sebuah ranjang ekstasi kreasi seni kampus ini. Berpuisi, berkelindan dengan teater atau sekedar ajang orasi. Tapi entah kenapa ranjang ini mulai keras dan tidak nyaman digunakan. Lelaki tampan dan wanita rupawan mulai menjamah populasi seniman yang dulunya berontak nyaman. Ada sebuah reruntuhan paham disini, saya tidak bisa lagi mengenali penghuni sastra macam Gie, macam Rendra atau macam Chairil. Semuanya terpoles, bergincu dan artificial. Sastra telah menjadi Etalase dan catwalk. Saya terasing.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, saya masih belum paham tuts Blackberry dan percaya Apple Mac hanya mitos kaum urban. Saya memutuskan untuk lanjut bergerak menuju warung Mak No dibelakang kampus Sastra. Disebuah jalan ironis bernama jalan jawa VII. Dekat kampus namun masih ada yang buta huruf. Alienasi atas akses pendidikan boleh jadi kambing hitam, tapi kemana mahasiswa pengabdi dan pendobrak itu? Dalam warung Saya tidak sendiri, mungkin ada 4 orang lainnya. Sangat muda, bersemangat dan penuh energi. Namun tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Gadget telah merengut kesadaran manusia, melempar mereka kedalam monolog paling purba. Egosentrisme teknologi. Dunia terasa jauh lebih baik saat apel dan blackberry adalah buah.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, angin masih saja kejam pada mereka yang ringkih dan mendung menolak datang pada puncak gersang. Saya tak mau menjadi patung di warung Mak No, menjadi yang liyan karena tak bisa memiliki gadget mahal seharga kuliah saya 10 smeseter. hari mulai sore dan senja mulai turun malu-malu. saya berjalan ke barat. Menuju keremangan fakultas saya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. saya masuk dari tembok besar yang menyangga gedung tersebut. Dulu ada pintu kecil, tapi kini sudah tidak ada. harus hilang atas nama estetika. Padahal pintu itu sudah dilewati 10 angkatan FISIP, yang mungkin salah satunya sudah menjadi orang besar. Tapi sekali lagi, apalah arti sebuah pintu dihadapan kebijakan dan peraturan.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Bu Lek masih tetap cerewet didengar dan kopi pahit hitam itu masih nikmat disesap. Kampus saya sudah semakin dewasa, sudah mulai berbenah. ada kelas internasional, sudah ada kelas ber AC, setiap kelas memiliki proyektor, dan sebuah lapangan basket kini mewujud gagah. Kampus saya semakin tampan, kini setiap mahasiswa boleh membawa mobil dan motor karena parkiran terhampar luas. mahasiswa boleh mengakses internet gratis, dengan laptop tentunya. Tetapi saya masih merindukan masa lalu, duduk diwarung kumuh berdiskusi tentang kuliah sampai malam, berjibaku dengan wacana di lorong kelas dan sibuk mempersiapkan bacaan untuk tugas yang menggunung. saya mungkin adalah artefak masa lalu, manusia yang gagal berdamai dengan romantisme.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, buku-buku Camus masih diperpustakaan tetap berdebu dan antrian pusat komik masih melingkar panjang. Saya lelah dihajar kenangan, mungkin ini waktu yang tepat untuk pulang. Memikirkan ulang arah hidup, berdiksusi dengan masa depan, dan berdamai dengan ego. Bukankah kemenangan diri adalag saat kau meruntuhkan ego demi sebuah kedewasaan? Merayakan kedirian dengan jalan yang paling bijak. Saya sendiri menyusuri jalan FISIP lalu ke perpustakaan yang masih mesra menunggu saya untuk seperti dulu berkutat lama dalam kemesraan yang genit. Mencanda buku-buku tandon yang tak pernah dibuka sejak dibeli, atau sekedar mencumbui sajak-sajak Dante yang tak terbaca. Ia masih disana, berdiri mesra sementara langit sudah tergelincir gelap. Malam sudah tiba dan saya belum dewasa.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, tuts hitam keyboard Tegalboto masih luntur dan monitor usang hasil hibah masih menyalak terang. Dan inilah saya, mengingat momen saat menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru yang berbaris memasuki ruang kuliah dengan semangat belajar menggebu. Namun akhirnya harus kecewa dipecundangi cita-cita. Adakah yang salah? Mungkin buku dan diskusi yang dusta atau boleh jadi nasib tertukar kejam. Saya masih belum mau menyerah dengan keadaan. setidaknya tidak sekarang dan tidak disini. Tidak dihadapan Tegalboto dan almamater saya. Tidak saat say masih tegak berdiri dan belum runtuh dihantam umur. Menyerah pada keadaan adalah keterpecundangan!

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, bulan masih separuh matang di awal minggu dan saya masih sendiri. Bukan sekedar sentimental belaka, ini sekedar share. Saya sudah berada diambang studi yang mereka sebut dengan wisuda. Dan sedang berjuang melawan dilema transisi. Entah ini post power syndrome atau sekedar haus perhatian belaka. Namun kesepian-kesepian paska kesibukan memang pengkhianat paling mutakhir yang bisa diciptakan nalar.

Kalau Saja Saya

Jadi andaikata seperti ini, memang benar saya ini megalomaniak, besar mulut dan banyak omong. Ya mbok sekali-kali jangan diam tapi bilang, kalo saya ini adalah seorang keparat. Tak perlu jadi Nero kan untuk membakar Roma? Kira kira begitu. Jangan tunggu saya menghancurkan diri untuk kemudian diberitahu. Ya namanya manusia, kalo salah sekali duakali dibiarkan. Tapi kalo terus terusan salah kalian biarkan, ya kalian juga keparat.

Saya toh mengakui kalo misalnya saya ini sekedar penjiplak, mungkin, seringkali malah menolak jujur pada diri sendiri. Tapi bukankah Plato hanya mengutip Dialog bersama Socrates? Bukan, kalau anda pikir saya menyamakan diri, ya itu namanya naif. Apalah saya didepan mahaguru Filsafat Aristoteles itu. Saya masih belum memiliki nyali seperti Zizek yang secara acak adut meruntuhkan semua norma. Ya saya sekedar Dhani, itu yang anak Kesejahteraan Sosial 2005 yang sampai taun 2010 belum juga lulus.

Ini sekedar andai dan semua yang andai itu tak perlu biaya. Gratis, bebas dan mudah. Andai saya tidak jadi saya sekarang ya mungkin saya tidak kenal kalian dan tidak akan menulis seperti ini. Ya mungkin saya akan jauh lebih baik-baik saja, lebih kurus, dan lebih laku. Ini masih dalam konteks andai, bukankah andai itu bebas untuk sekedar konstruksi? Bebas dari segala macam hukum, mau hukumnya Newton, Hawkin ataulah Einstein. Apalagi hukumnya Muhammad, Sidharta atawa Musa. Bebas sebebasnya Nurdin jadi Ketua PSSI.

Anggap saja seperti ini, saya yang kebetulan namanya pasaran, Arman Dhani Bustomi. Pada tahun 2007 gak ikut-ikutan ababil masuk Lembaga Pers Mahasiswa yang so called organisasi perjuangan. Mungkin saat ini saya sudah bekerja disalah satu perusahaan multi nasional di nusantara. Sudah punya pacar anak Ekonomi yang cakep, bohai, seksi dan setengah berkerudung. Kemana-mana naek Yamaha Vixion dan Honda Tiger minimal naek motor modifan seharga kuliah saya selama 10 tahun. Saya akan nampak keren, dalam definisi anak muda, pakaian kantor, IPhone dan Gadget lainnya.

Saya gak paham dengan konsumerisme dan saya gak paham dengan outsourcing. Dua kata itu asing, wong tiap hari saya musti kerja keras untuk memenuhi setorang, target penjualan dan bonus akhir tahun. Saya adalah apa yang saya jual sebulan ini. Anggap saja demikian. Seandainya saya tidak masuk ke organisasi ABABIL macam Tegalboto, pasti saat ini saya sudah tidak perawan. Buat apa? Wong gak terlalu penting, representasi banal atas norma sudah saya injak dalam-dalam atas nama kelelakian dan kejantanan. Ya, saya jantan karena sudah tidak perjaka. Bahwa saya akan menderet-deretkan nama gadis A, cewek B, Tante C dan sebagainya. Karena saya pejantan tangguh yang luar biasa.

Anggap saja begini, atas konsekwensi memiliki Vixion, IPhone dan Pacar Cantik saya masuk dalam nominasi manusia unggulan versi diskotek, distro dan disana sini. Wong punya duit, punya kuasa dan meski agak dipaksa punya tampang setara Primus Yustisio. Jadi abdi dunia gaul, penegak budaya massa dan avant garde mode. Saya akan asing pada Efek Rumah Kaca apalagi Pure Saturday. Hidup saya penuh dengan Armada, ST 12, Drive dan yang paling penting Radja. Apalagi yang lebih indah daripada suara lengking ian kasela dengan dadam dadadam nya?

Sekali lagi saya adalah manusia pilihan, jauh dari kesusahan apalagi hiruk pikuk pergerakan. Apapula pergerakan itu? Taik kucing macam apa? Apalah arti sebuah ikatan komunal didepan raksasa korporasi milyaran dolar? Di depan Sukhoi dan M16? Membusuk diludahi peluru atas ide absurd bernama idealisme? Bah! amit-amit cabang bayi, semoga semua keturunan saya dijauhkan dari yang namanya pemikiran kiri dan ketersesatan wacana!

Kalau pun kemudian saya memutuskan untuk jadi abdi negara itu pun sebuah pilihan investasi yang benar. Sedikit membayar pada apa yang anda sekalian sebut sebagai cukong, calo atau makelar. Amtenaar bung amtenaar! apa yang lebih gagah daripada menggunakan seragam dan merayakan upacara setiap hari senin? tidak ada bung tidak ada. Y mungkin yang lebih gagah adalah saat kita berdiri tegak mengantri gaji ke 13. itu saja.

Coba saja saat tergelincir dalam jurang nista pers mahasiswa saya lekas-lekas keluar dan bertobat, ya tidak perlu saya dikakangi beban moril idealisme. Sungguh setan dan sial sekali mereka yang kemudian sedikit banyak diberakin ide ini? Mewujudkan tatanan dunia yang sempurna, tanpa cela dan konsisten? Berak macam apa ini yang tidak mau dibasuh? Menyusahkan saya saja, ini jikalau kemudian saya menjadi Amtenaar, bakal menjadi semacam rem untuk saya menerima salam tempel dan sedekah tanpa syarat. Ya namanya manusia, masa pemberian ditolak? kan haram. Idealisme itu sungguh setan sekali, makanya saya setuju pada Machiavelli.

Anggap saja kemudian sekarang saya menyesal, lalu kabur, dan menyerah. Ya gak masalah, Ini Indonesia bukan amerika. kalo menyerah dan pasrah itu kodrat, bukan mental kita untuk berjuang. 350 tahun dijajah, mereka yang melawan toh didikan barat. Kita ini abdi, budak, dan inlander. gak usah sok-sokan jadi pejuang dan melawan. nanti lucu. semacam komedi tapi tidak komikal hanya ironis.

Tapi kalau kemudian anda mengamini, ya konyol, ini hanya gumam. Dan mereka yang meyakini gumam, sepertinya akan selalu tersesat arah.

Minggu, 12 September 2010

Histeria-Histeria

Mari bermain dalam ruang imaji tanpa tepi. Berlari dalam katalis supra banal. Dan telanjang dalam perspektif definisi. Kita masing-masing adalah Alice in wonderland. Kita adalah Frodo yang berziarah ditemani cincin kuasa. Dan pada akhirnya menyerah pada realitas hiper fiksi produksi google. Beranikah anda bermimpi?

Beberapa bulan lalu saat maen ke Jogja dan mampir sebentar disarang penyamun, saya diberi oleh-oleh film. Sebuah film yang berjudul The Imaginarium of Doctor Parnassus, film yang saya sebut supra-dupra-asoi artinya film yang bisa dilihat berkali-kali tanpa bosan. Dalam list saya hanya sedikit film kualitas supra-dupra-asoi. Paling Cuma Forrest Gump, V for Venddeta, dan My Girl seri pertama. Saya tidak akan membahas tentang The Imaginarium of Doctor Parnassus, anda bisa lihat pembahasan itu di blog teman saya. Ia mungkin bisa lebih handal dan cerdas dalam menjelaskan makna film itu, sedang saya disini hanya akan berbagi wacana kosong. Jika berkenan mari kita berangkat.

Saya sedang bermimpi menjadi Tony dalam film itu, menjual impian produksi iblis dan tuhan. Menawarkan mimpi paling liar untuk ditukar kenikmatan purna. Bersediakah kita? Saya mengharap-kan kata amien serentak. Tolong serentak jangan parsial, biar kita komunal. Jika masuk Surga bisa rombongan, dan jika pun harus mampir ke Neraka bisa paketan. Ayo apa mimpi anda yang tersembunyi dan paling liar? Keluarkanlah. Mimpi itu murah, meraihnya yang sangat mahal. Mimpi itu mudah, meraihnya yang susah. Lalu mampir kesini, masuk dalam dunia cermin. Sebenarnya siapa anda? Mudah menjawabnya jika ada cermin bukan? Lalu mungkinkah ada dunia dibaliknya? Coba tebak dan masuklah. Gumam saya adalah gumam resah. Karena gumam tak perlu arti ia hanya mau dimengerti. Terserah anda bagai mana mengartikannya.

Lalu apa sebenarnya mimpi anda? Dan bagaimana anda akan berusaha dalam pemenuhan mimpi tersebut? Saya ini mungkin sedang resah, sedang mengalami post graduate syndrome. Berdiri didalam lobi antara idealisme masa muda dan realitas keras dunia. Takut untuk melangkah keluar dan berlari dari comfort zone. Serasa twenty something, tahu kan? Itu lirik Jamie Cullum. Ia berujar “After years of expensive education, A car full of books and anticipation, I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot, But the world don't need scholars as much as I thought”. Yihaaa! Dia harus jadi santo! Yakin saya, sabdanya begitu mantab dan keras.

Jujur saya memang tidak menyenangi dunia kerja, dimana kita harus tunduk menghamba pada orang lain. Lalu digencet habis-habisan untuk mengejar tenggat, target penjualan atau laporan keuangan. Saya terlalu banyak kenal orang yang pada akhirnya tidak bisa menikmati hidup dan dirinya sendiri karena dikukung oleh keinginan konsumtif dan kesalihan normatif dari cara pandang masyarakat. Seseorang dianggap sukses jika ia kerja kantorang atau bahkan jadi amtenaar. Tetapi saya memimpikan hal lain. Saya ingin hidup dan bekerja dengan jiwa paling binal dan liar, mengabdi pada kebebasan, bukankah hidup adalah mencatat sejarah?

Adalah Marquis de Sade, seorang sastrawan masokis paling liar yang pernah saya tahu. Penulis novel 120 Days of Soddom, sebuah novel erotis penuh pemberontakan norma dan asusila paling subversif pada zaman Napoleon. Ia menuliskan kisah pesta seks dan orgy selama 120 hari dengan detail adegan dan semua perilaku seks yang paling menyimpang. Dari sodomi, masokisme, oral, pedofilia dan oedispus. Semua adegan tersebut ditutup dengan adegan konsumsi terhadap tahi. Oke itu menjijikan, tetapi dia adalah orang yang paling merdeka yang menghamba pada kebebasan absolut dalam penulisan. Sejauh ini saya pikir begitu.

Marquis de Sade juga salah seorang yang meginspirasi Foucault. Dengan pemikiran yang paling liar mengenai seks, Focault membuat magnum opus berjudul Historie de la Sexualitie. Telaah kritis mengenai tirani moralitas dan norma terhadap ruang privat manusia. Foucault mengindikasikan bahwa sebenarnya ada sebuah konspirasi besar dalam masyarakat dalam penentuan baik dan buruk, salah dan benar, suci dan haram. Konspirasi yang pada akhirnya mengekang kebebasan manusia dalam berpendapat, bereksistensi dan berkepribadian. Dalam History of Madness misalnya, ia mengemukakan alasan Panoptikon sebagai bentuk represi aparat terhadap masyarakatnya. Sebuah kepatuhan yang dibangun dari rasa takut akan simbol-simbol aparatus negara. Lalu pada akhirnya akan ada bentuk penindasan-penindasan elementer terhadap masyarakat melalui simbol tersebut. Seperti keraguan dalam berpendapat, kebebasan yang dibatasi dan kemampuan yang dikekang.

Kebebasan yang dikekang selalu melahirkan resistensi. Perlawanan dari segala macam hal, mulai budaya, sosial, politik dan keagamaan. Karena sejatinya manusia merdeka. Foucault dan Andy Warhol mungkin belum pernah kenal. Tetapi warhol adalah sebuah simbol penolak dominasi seni pop. Serupa Foucault, Warhol disiksa oleh ketenaran karyanya, pengkultusan dan ekspektasi besar terhadap kegemilangan. Foucault adalah seorang individualis yang karyanya sinis, seolah mengejek masyarakat, namun hal itulah yang membuat ia makin terkenal. Warhol juga demikian, karya-karya nya yang anti pop, malah membuatnya makin pop. Ia menolak segala macam penghargaan dan nominasi, karena menurutnya itu hal bodoh. Namun ia kemudian dikultuskan sebagai seniman flamboyan yang anti kemapanan. Selalu ada dualisme pemahaman terhadap suatu aksi. Dan seringkali terhadi salah tafsir dalam pemaknaan, dan celakanya tafsir yang salah tersebut seringkali jadi pedoman yang di imani dengan baik.

Warhol menggeberak dunia dengan silouete warna-warni dari foto ikon seks Amerika Marilyn Monroe. Sederhana namun menghentak, bukankah simplicity is the best? Warhol memanifestasikan kegairahan dalam kanvas. Memaknai lekuk wajah Monroe sebagai nafsu. Dan menurut saya ia benar, siapa yang tidak ingin menikmati Monroe? J.F.K saja terpikat. Namun bukan itu yang menjadi poros, tetapi lebih kepada seduction of leisure. Baudrillard menyebutnya sebagai ‘vulgar but easy’. Pop dan lugas. Apalagi yang diharapkan dari seorang seniman yang dengan mudah menyampaikan pesan tanpa perlu seorang kurator sok pintar menerjemahkan sebuah karya?

Lebih jauh Baudrillard bercerita dalam Seduction tentang rayuan. Dimana rayuan bukanlah tentang hirarki alamiah, namun lebih kepada ritual dan perayaan terhadap tanda-tanda. Iklan, model, televisi dan poster telah menjadikan hidup manusia lebih susah daripada apa-apa yang ditawarkan. Kehidupan lebih mudah melalui teknologi malah membuat manusia menjadi menghamba pada produksi. Pernahkah anda menjadi korban mode yang menginginkan benda yang sebetulnya tidak anda butuhkan? Ponsel, I pad, Blackberry dan gadet-gadget lainnya? Itulah histeria konsumsi.

Apolonious, seroang filsuf yang hidup sezaman dengan Gaius Julius Caesar. Manusia yang ingin merdeka dengan menjadi budak. Menurutnya kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diberi, melainkan sesuatu yang diperjuangkan. Perbudakan teknologi, pengetahuan dan kekuasaan telah merasuk begitu rupa dalam diri kita sehingga kita lupa sebenarnya kita sedang di tindas. Diperparah lagi dengan sifat pelupa dan pemaaf yang akut, menjadikan manusia (Indonesia) seringkali tidak belajar dari kesalahan. Lalu akhirnya menjadi affirmatif dan pasif. Cerminan paling busuk yang digambarkan Herber Marcuse dalam One Dimensional Man.

Disinlah saya, masih dalam persimpangan antara so called idealism versus life itself. Pencapaian yang saya kira luarbiasa, nyatanya tidak membuat saya menjadi berharga. Malah semakin membuat saya diasingkan. Perkataan-perkataan saya serupa sabda yang ditunggu pelaksanaannya. Histeria linguitik. Entah mengapa, kapan hari, atau bahkan seumur hidup saya, saya dituduh sebagai manusia bermulut besar. Mungkin karena terlalu banyak janji yang belum terpenuhi, atau orang terlalu buta dan tidak mau tahu atas pencapaian lain yang telah saya buat? Entahlah.

Saya jadi teringat Muhammad Ali, si mulut besar juara dunia tinju kelas berat itu. Orang yang selalu menepati omongannya yang besar. And then again, when he loses nobody argued. Atau almarhum Tupac Shakur dan Notorius B.I.G duo legenda rap scene dari westcoast dan eastcoast. Seumur hidup mereka diciptakan untuk membual dan mereka hidup dari itu. Manusia itu cenderung alpa, saya juga. Namun sangat ironis dan satir jika hanya menertawakan kegagalan sementara keberhasilan dinilai separuh. Mereka yang dikecewakan seringkali gagal bersifat adil dalam memandang sesuatu. Menyedihkan sekali. Dan inilah saya, pembual paling hebat yang anda kenal. Histeria saya akan membuat anda terkapar. Karena saya adalah pembual yang memenuhi janjinya pada waktu yang tepat, bukan seorang pembual yang tepat waktu. Tabik.


Selasa, 07 September 2010

My next generation




Malam (29/8/2010) itu sebenarnya saya tidak ada niat menonton acara Kesenian Musik Patrol yang diadakan unit kegiatan kesenian kampus Universitas Jember (Unej). Saya sedang capek sekali, karena baru saja melakukan perjalanan dari Bondowoso-Jember. Namun karena sudah kadung berjanji pada Halim kawan saya untuk membuat semacam tulisan mengenai Patrol, ya saya putuskan untuk nonton patrol.

Patrol adalah semacam kelompok musik etnik ritmik, seringkali diperdengarkan saat bulan ramadhan untuk membangunkan orang-orang agar bisa sahur. Instrumen dari musik patrol sangat sederhana, beberapa jenis kentungan, perkusi dan seruling. Jika memiliki sedikit modal berlebih, bisa memberi sedikit modifikasi sound sistem dan lampu-lampu dengan bantuan tenaga genset.

Malam Itu acara "Carnaval Musik Patrol" menginjak tahun kesepuluh. Satu dekade ajang kreasi seni yang mengangkat tema lokalitas. Beberapa hari sebelumnya saya dan Halim sempat bertemu di kampus, tepatnya di Gedung Rektorat. Kami membahas tentang eksistensi keberadaan kesenian Patrol di Jember, serta bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat Jember. Kami bicara panjang lebar dan berdebat tentang keotentikan kesenian ini. Namun kami sepakat, bahwa kesenian ini perlu dikenalkan dan disebarluaskan. Oleh karena itu malam ini saya berniat menulis acara Patrol tersebut.

Dipintu gerbang ‘boulevard’ Unej saya bertemu dengan Oryza Ardiansyah, wartawan Bejat (beritajatim.com), yang juga kebetulan menjadi senior saya. Beliau kemudian mengajak saya untuk melakukan peliputan bersama, dia yang wawancara dan saya yang motret. Kami berdua kemudian memutuskan untuk memulai peliputan dari sekumpulan kelompok Patrol di sebelah utara tugu. Kelompok yang kami wawancarai bernama ‘Kharisma’.

Pemimpin kelompok Patrol itu bernama Pak Slamet, beliau berasal dari Gebang. Wajahnya bulat, ada semburat kumis tipis muncul diatas bibirnya. Malam itu ia mengenakan celana kain warna hitam, dipadu dengan jaket jeans warna senada, di kepalanya memakai kopyah rajutan dan kaus merah putih ala sakera nongol sedikit diantara jaket pak Slamet. Malam itu ia serupa Sakera, hanya lebih modis dan gaul. mulutnya tak berhenti tersenyum saat Mas Oryza mengajaknya berbicara. Dengan bahasa Indonesia yang padat dialek madura, pak Slamet menceritakan kecintaannya pada musik Patrol.

“saya ikut musik patrol dari taun 89 dek, waktu itu nama kelompoknya masih Arisma”

Lebih dari 20 tahun pak Slamet mengenal musik patrol, dan sampai hari ini masih tetap setia mengawal keberadaan musik tersebut. Pak Slamet mengaku, dedikasinya ini dilandasi atas kecintaan belaka. Ia kemudian menceritakan pengalamannya dahulu saat masih aktif dalam kesenian musik Patrol. Dan bagaimana perhatian dari pemerintah daerah Jawa Timur kala itu.

“Ya dulu kan sering dipanggil, yang ke Surabaya, Malang, pas masih jaman pak Basofi (mantan Gubernur Jatim)”

Meski kemudian seiring perkembangan waktu para personil ”Arisma” fokus pada kehidupan masing-masing dan meninggalkan kesenian Musik Patrol. Namun pak Slamet masih tetap menyisakan obsesi untuk terus melestarikan kesenian ini. Sehingga ia nekat mengumpulkan uang tiga juta rupiah untuk membangun infrastruktur kelompok Musik Patrol miliknya.
Peserta Carnaval Musik Patrol malam itu


”saya kerjanya wiraswasta dek, jahit, ini habisnya tiga juta, ya dapet ngumpulin, dari panitia cuma dibantu enamratus duapuluhlimaribu. ”

Pak Slamet datang bersama kelompok patrol yang para pesertanya sebagian besar masih remaja usia sekolah. Bahkan ada yang masih sekolah kelas 4 SD. Salah satu dari peserta adalah anak Pak Slamet sendiri yang bernama Riko. Sejak kecil ia ingin memperkenalkan kesenian Patrol pada anaknya itu, agar nanti ia diharapkan bisa meneruskan cita-citanya.

Riko, putra pak Slamet, penerus kesenian (semoga) 

”saya pengen ini terus ada yang ganti, makanya (tim) ini tak namai generasi.” pak Slamet sendiri merasakan betapa kesenian ini seperti kehilangan semangatnya. Padahal dulu pada tahun 90an sangat banyak kelompok-kelompok musik patrol di Jember. Tetapi karena kurangnya apresiasi dan sarana untuk menuangkan karya, ada kelompok musik patrol yang kemudian vakum atau bubar sama sekali.

Pak Slamet sendiri mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan kesenian ini. Tidak perlu uang namun lebih kepada perhatian. ”Ndak perlu kasih uang dek, yang penting perhatian, masak lomba patrol kayak gini yang adain Unej” ia juga berkisah. Sebenarnya malu juga untuk minta bantuan dana dari Pemerintah Daerah meski sebenarnya bisa. ”Buat apa dek? Wong ngadakan (acara patrol) aja ndak, masak mau minta uang”.

Pak Slamet, tetap berkarya dengan kumis tipisnya


Pak Slamet mungkin adalah salah satu orang yang merasa bahwa menjaga kesenian harus dengan menanamkan kecintaan sedini mungkin. Saya jadi teringat musik dari the Who dengan lagunya My Generation. Sebuah lagu yang sempat in di tahun 60an akhir. Lagu yang mengumandangkan pemberontakan generasi. Sebuah generasi yang seperti kehilangan identitas dan menolak jadi tua. Hingga pada akhirnya mereka berusaha melepaskan diri dari segala yang lampau. Siapkah kita, jika pada akhirnya kesenian ini jadi artefak?

People try to put us d-down (Talkin' 'bout my generation)
Just because we g-g-get around (Talkin' 'bout my generation)

Minggu, 05 September 2010

Tahukah kau cara menikmati luka ?

tahukah kau cara menikmati luka ?

yang perih terang

yang sakit hitam

yang pedih jujur (?)

ajarkan aku menertawakannya

ajarkan dalam sepi yang paling riuh

(lalu diam-diam menangis)

apakah kau tau?

itu luka-luka mu

luka - luka ku

luka- luka kita

hanya serupa ilusi

yang gagal di mengerti

oleh akal yang tunduk pada hati

Jumat, 20 Agustus 2010

Kenangan Dalam Botol


Pada awalnya adalah ingatan.

Kamu selalu tahu bahwa aku membenci matahari yang terlalu terik datang di waktu musim hujan. Karena aku suka hujan. Oh mungkin aku lupa bilang. Karena waktu yang menembus bilik-bilik ingatan membuatku lupa apa saja yang telah kulepas dari mulutku ini. Mungkin kata atau umpatan. Aku lupa, mungkin karena sangat ingin lupa, peri-peri yang menjaga sungai kenangan mengabulkan inginku. Tetapi di hari terik ini entah kenapa ingatan tentangmu datang lagi.

Kenapa selalu tentang ingatan?

Aku mau berkisah tentang ingatan, yang kusimpan rapi dalam kertas dan kumasukan dalam botol kecap tebal. Kisah tentang ingatan yang segar berumur sewindu purnama. Dalam kisah itu sebagian besar tentang kamu, tentang kita dan sedikit tentang hal-hal yang kita sukai. Ingatan itu masih kusimpan rapi dalam botol, bukan karena aku sentimentil. Tapi aku tak tahu cara menghancurkannya. Aku mau ingatan itu hilang tapi setiap kubuang, selalu kembali dengan cara yang sama. Dengan pita merah dan sepucuk surat tertulis “kumohon jangan kau buang”.

Aku terdiam tolol dan kembali menyimpan ingatan itu.

Ingatan itu menyakitkan, karena ia bercerita tentang kamu. Tentang senyum yang lepas, tentang rindu yang tebal, dan tentang lubang besar yang hilang. Dimana semantik-semantik cinta yang mulai bertunas? (Apa hakku mengatakan itu cinta dan bukan nafsu?) Itu sudah dikubur, semenjak kau dan aku saling menyakiti. Saat aku berdusta tentang banyak wanita dan kau berkata tentang seorang pria. Aku menolak menangis tapi air dalam kantung mataku deras turun. Kau tidak tahu, karena aku tak mau kau tahu. Itu menyakitkan.

Kapan rasa sakit itu dimulai?

Di tengah bulan November yang panas, yang gerah. (Kenapa selalu gerah dan panas?) Kenangan remeh temeh tentang betapa kamu yang memakai baju putih dan rok hitam itu begitu purna. Ingatkah kau? Bukankah aku berjumpa kau dalam sebuah ruangan penuh dengan manusia, tetapi kenapa hanya kau yang tinggal dan di ingat? Dimana kemudian kau datang kepada sarang buas dimana nalar dan kebebasanku di buai. Kita bertemu lagi untuk yang kedua, (saat itu aku yakin ini jodoh) awal perkenalan kita biasa saja. Aku pun sebenarnya hanya suka, tak jatuh kagum barang sedetik. Tapi nanti kau pun akhirnya ajarkan aku betapa kau itu begitu menarik. Saat itu kau tetap begitu purna meski kusam dan berkeringat. (Dan itu awal mula Aku benci matahari Terik!)

Aku selalu ingat. Tapi entah kau.

Aku ingat sedikit jalan-jalan di kota ini, yang basah setelah hujan. Tentang awal tinggal dirimu di sebuah induk semang. Bukankah kawanku yang menghantarkanmu? Tentu kau masih ingat padanya. Tapi kau bilang kau bosan, kau tak suka, kau tak suka dilarang bermain di loteng. Tentu aku ingat kau suka bermain di Loteng. (Ah aku tak pernah tahu sedalam apa hubunganmu dengan gravitasi). Kau selalu suka tempat tinggi. Aku membutuhkanmu. Aku butuh perempuan tangkas yang tak bisa diam, yang tak peduli kulit hitam karena berjalan panas. Perempuan yang berebut membaca buku Raditya Dika, setelah semalaman berdebat mana yang lebih baik dari Manikebu dan Lekra, perempuan yang memaksaku mengantri nonton laskar pelangi dan menangis menghukat nasib Lintang yang suram, perempuan yang teguh bilang Kerispatih itu keren meski kau tau aku jelas-jelas memandang mereka najis haram, Perempuan yang menolak patriarki tetapi begitu senewen minta di manjakan, Perempuan yang mau repot memasak, belajar membikin kue dan memaksaku untuk memakannya. Terus dan terus dan terus sampai aku bilang kue bikinanmu enak. Lalu kau tersenyum puas. Kemandirian yang dibangun atas semangat kepanduan, (hei pernahkah ku bilang aku juga penganut dasa dharma dan tri satya pramuka?) yang baru kuketahui belakangan kau adalah pandu perempuan paling manis yang pernah kukenal. Terpujilah sir Robert Baden Powell ujarku tiga kali.

Itu kamu, yang membuat saya luluh.

Kemudian kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu? Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian bertegur kata. Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara, lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan. Karena ia tak pernah melihat momen ini sebagai hal paling kudus dalam hidup. Ia dengan kata sederhana meruntuhkan menara Babilon dalam diriku, memporak-porandakan peradaban patriarki ala Sparta. Hingga aku lengser di ujung rupa penjelmaan si pendobrak Artemis yang menitis dalam dirimu. Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak membutuhkan sikap aposteriori. Tidak perlu Kant untuk membuktikannya. Karena itu wajib dan semua yang wajib hukumnya Fardhu! Itu bukan monopoli titah wahabi tapi semua umat yang pake embel-embel agama di KTP nya. Dan di ujung hari aku bertakbir Amor Platonicus!

Aku rindu kau dalam banyak bahasa.

Keberanian untuk mengucap rindu itu lahir dari rahim-rahim biner dalam layar ponsel buatan Bavaria. Ya aku kemudian berani untuk mengambil resiko jatuh sayang padamu. Ya serupa nyali Perseus yang memusnahkan Kraken, aku putuskan untuk mengenalmu, mengejarmu, dan berusaha memilikimu. Aih? Tidak, kau bukan untuk dimiliki, kau bukan benda, kau lebih luhur dari padan kata surga dan suci sekaligus. Meraih ya meraih, sehingga keberadaanku kau akui, aku akan meraih predikat itu. Aku mulai berani bertukar sapa dalam jejaring provider seluler. Karena menatapmu langsung akan membuatku ringkih, lemah dan tak berdaya. Sedikit demi sedikit aku membangun sedimen keberanian untuk bertemu denganmu, mengajakmu makan di kaki lima tanpa takut diare atau hepatitis. Aku selalu kagum atas sikapmu yang tak ambil pusing, acuh diri dan penampilan. Itulah kamu, tidak perlu rapal mantra aji jaran goyang atau puji laku pengasihan. Hatiku ini rontok untukmu! Sedikit demi sedikit dalam diri ini terpatri sebuah sarkofagus, dengan ikrar. Hingga pada batas masa penciptaan yang diakhiri 4 penunggang kuda, aku tak akan menyesali keputusan ini. Keputusan untuk jatuh sayang, meski akhirnya sangat perih.

Hujan adalah kenangan yang pecah

Seperti hujan, ingatanku tentangmu itu mendung, basah, dingin dan pecah. Tetapi sampai detik ini aku masih jatuh sayang. Bukankah sayang itu pamrih? Ia memintaku tetap ingat sebagai imbalan jatuh sayangku padamu. Tentu kau ingat saat kuminta kau masak? Ya masak, kau bilang kau bisa masak, aku tak percaya, kau bilang coba saja, kujawab buktikan, dan esoknya kau bawakan aku makan. Dan sungguh aku tak percaya kenikmatan kaviar atawa escargot deux ala paris mampu menandingi kesederhanaan masakanmu. Kau memang bukan Farah Quin, tetapi masakanmu jujur, sejujur mata terang berbinar serupa bintang saat kubilang masakanmu enak. Lain waktu kau bilang kau bikin kue, sedikit gosong, tak apalah, karena itu yang masak kau, pare mentah pun kulahap (semakin gombal, tapi benar kata Iwan Fals, cuma orang yang sedang goblog yang tak gombal bersamamu). Kau adalah dualisme Durga, kau begitu gagah dilapangan dengan bola ditangan, tapi kau juga selalu menangis karena takut gelap. Iya, aku masih ingat. Kau sengaja menelponku sesaat sebelum tengah malam, karena ingin pipis tapi takut gelap. Kubilang pergi. Kau bilang gelap, kau takut. Ya sudah aku temani, kau memaki bagaimana bisa? Kujawab bisa, hidupkan lampu! Dan kau tertawa dengan suara manis.

Aku selalu suka suaramu.

Gendud kau panggil aku. Aku memang gendut, tapi aku suka gendut. Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan ujar Rendra mesra, kau pun begtu Juwitaku. Aku begitu kagum pada dawai suara yang rentak keluar dari bibir mungilmu. Dan suara itu yang kadang membuatku mabuk kepayang. Aih! Tak sadarkah kau suaramu itu seperti nyanyian Requiem yang dirindukan serdadu sekarat di padang mashyar? Oh ini bukan seram, ini kesungguhan sayang, ini adalah suara pembebasan. Apalagi yang dirindukan orang serkarat selain kematian yang agung? Dan aku rela mati dalam tebasan suaramu di riuh rendah Valhala, menunggu kedatangan kurir Valkyrie! Suaramu adalah rindu yang ditahan waktu pada saat permulaan masa. Dan yakinlah duhai Juwita hitam manis, derai angin dari kotamu tak akan mampu merengkuh indah khalam suaramu.

Hingga kau kusakiti…

Zuhud dalam keterbatasan membuatku mudah cemburu, sinis, peka, kejam, paranoid, pesimis, posesif, fanatis, banal, scizophrenic dan jahil. Aku pada dasarnya adalah mahluk lemah yang bersembunyi pada setumpuk tebal buku-buku yang tak lunas di mengerti. Hanya pada pengetahuan yang setengah aku berani bergaya. Aku cemburu atas semua kelebihanmu, kemandiranmu, pesonamu, kebaikan hatimu, perangaimu, olah lakumu, bahasamu, suaramu, wajahmu, sikapmu, marahmu, cemberutmu, tawamu dan yang paling utama, aku benci bakatmu untuk dicintai. Itulah dengki, dosa yang mengutuk iblis dalam pengasingan, dengki karena yang Maha Agung mencintai Adam lebih dari Iblis. Aku dengki atas kelebihanmu, aku cemburu atas cintamu yang luas, aku marah pada sikapmu yang adiluhung!

Aku menyayangimu dengan cara yang bodoh

Kuakui itu, aku adalah pria bodoh yang menukar emas dengan seonggok tahi. Aku rela menukar keberadaanmu demi sekerat ego. Aku dan egoku yang setolol Duryudana! Aku mulai menyakitimu dengan kata-kata kasar. Kata-kata yang keluar tanpa tendeng aling-aling. Kata-kata rusuh yang muncul dari pikiran primitif. Sikapku yang kasar dan perangaiku yang buruk. Akulah Caligula, manusia yang gila karena kehilangan cinta. Tapi itu tak memberikan pembenaran atas sikapku yang bodoh, ucapanku yang keji dan tingkahku yang menjijikan. Aku hanya tak tahu cara menyayangimu, nafsu memiliki yang membuncah serupa api yang membakar nalarku. Saat ku tahu kau dekat dengan seorang pria. Kecemburuan itu datang perlahan, menyusup perlahan dan membakar bara dalam hatiku. Aku cemburu dan aku bodoh! Sungguh, kau boleh merajamku dengan sejuta sayat paku yang direnda racun laba-laba Black Widow yang perih itu. Andai bisa menyuap betara Kala untuk mengulang waktu, maka rela kuruntuhkan Jonggring Soloka beserta isinya! Tapi tak pernah ada andai yang terkabul dalam hidup manusia. Andai tetap menjadi andai.

Keangkuhan yang luntur

Pada malam-malam suci dimana sebuah kitab umat di turunkan aku bergumam. “sedang apa kau? Sudahkah kau bahagia? Apakah kau mendapat jawab atas doa-doamu?”. Hanya angkuh ruang dan dengki yang menahanku untuk lari berontak melihatmu. Untuk memastikan kau tersenyum dan baik-baik saja. Tapi apa daya, rupanya sayangku padamu masih kalah oleh ego. Aku menangisi keputusanmu, keputusanmu untuk menerima pria lain untuk membahagiakanmu. aku tahu itu dari seorang kawan yang juga kawanmu. Betapa sakit jiwaku, rasanya seperti dicabik perlahan-lahan. Sakit dan perih. Aku menahan sakit yang tak kunjung padam, hidupku linglung, hatiku luka, mataku sayu, semangatku padam dan segala rupa keromantisan novel remaja seakan mengejek. Aku tahu ini salahku sendiri dan aku pun paham luka ini mesti aku sendiri yang mengakhiri. Luka ini akan berhenti perih jika aku berhenti mengingatmu.

Kisah ini punya akhir.

Ya, aku selalu percaya kisah yang baik harus punya akhir. Bukan berarti Happy Ending ala Disney. Karena Lemony Snicket dan Solzhenitsyn mengajarkanku untuk tak berharap pada akhir bahagia-namun tetap- kepalaku yang keras, ogah belajar dari kitab-kitab. Sehingga kemudian aku bertanya “Bagaimana cara mencintai angin yang menolak tunduk dan hanya hendak berhembus tunggang langgang tanpa sekat? Bukankah kau serupa udara yang bersifat Omnipresent? Tak mau di ikat dan terbang bebas. Dan semakin mengingat aku semakin luka. Ah entahlah biar luka ini aku yang tanggung, aku memang menutup mata, kau tau? Karena ku pikir kau tak akan kehilangan aku. Ya, kau dan temanmu yang banyak, hidupmu yang riuh, dan cintamu yang luas. Kau tak akan kehilangan aku. Aku si bungkuk buruk rupa dalam kisah karya Victor Hugo. Yang hanya bisa mencintai dengan jalan yang paling sunyi.

Ini mungkin akan menyakitkan..

Aku tahu, ini menyakitkan. Tapi obat yang baik selalu pahit. Ingatan tentang mu datang serupa banjir bandang, yang wussshhh wussshhh datang tanpa mampu dihentikan tapi kemudian Dor! Hilang begitu saja. Tapi sebelum peri-peri yang baik membuang semua ingatanmu ke dalam botol kecap, aku tetap mau berkisah. Kisah tentang ingatan kamu. Mungkin kau lupa, tapi aku selalu ingat.