Kamis, 08 September 2011

Rasa Nyaman

Sebenarnya apa yang kita cari? Seumpama itu adalah definisi dari sebuah hubungan, maka ada baiknya kamu lupakan. Terlalu banyak hal di dunia ini yang dilabeli dan akhirnya hilang makna. Agama, Tuhan, Cinta, Tinja, Kukuh, Sikap dan Lezat. Semuanya lebur, cair dan runtuh.

"Kamu mengada-ada. Kamu hanya tak ingin terikat," katamu.

Jika terikat adalah memberikan perhatian serupa ibu pada jabang bayinya, maka ikatlah aku. Terikat seringkali adalah usaha memiliki, menguasai dan mendominasi. "Kita sama-sama paham. Logika tak pernah bersepakat dengan perasaan," jawabku.

Kita bersitegang. Lalu apakah yang kamu mau? Bukankah kita sudah sama-sama nyaman dengan kondisi ini. Anarchy. "Bah kenapa harus melabeli? Biar keren? Biar garang? Anarkhi pulak kau bawa-bawa," desisku.

"Dari segala nama, mengapa kau pilih Wesi? Kamu mau jadi besi? Keras dan tak mau dibengkokan,"

"Wesi. Wesi. Wesi. Anonimus tentu lebih keren. Tapi terlalu panjang An No Ni Mus. Belum jika salah sebut. Jadi Anus,"

Tetapi apa sebenarnya yang kita jalani ini? Sebuah lakon? Kebutuhan? Keseharian? Atau hanya sekedar kebiasaan?

"Sebut apapun yang kau suka, asal jangan paksa aku melabeli. Label itu reduksi. Pukimak lah dengan segala label yang diciptakan,"

"Termasuk dengan apa yang kamu rasakan?"

"Bah!"

Kamu hanya merasa nyaman. Nyaman itu lena. Dan segala lena adalah nila. Meracuni detak jantung lalu menjalar ke pembuluh hati. Kamu tahu. Aku tahu. Kita tahu itu. Kita bukan lagi kanak-kanak yang mengejar sebuah layang-layang putus. Atau menanti perigi mengering.

"Apapun itu," katamu menahan amuk diambang bibir. "Jangan paksa aku mengikat diri. Aku sayang kamu. Namakan itu. Tapi juga seperti angin aku ingin bebas. Tak butuh aku dua betina,"

"Bangsat. Kau kira apa aku ini? Sejenis binatang. Dasar Otak mesum,"

Ada jeda..

Lalu kita sama-sama tertawa. Keras sekali. Tertawa pertama sejak pertengkaran disebuah kereta yang memaknai pertemuan kita.

"Aku Wesi,"

"Aku R,"

"Hanya alfabet?"

"Keberatan?'

"Tidak, hanya tak bisa. Tak jamak. Perempuan khalayak suka yang jamak."

"Well aku bukan jamak. Aku istimewa"

Rasa nyaman itu nila. Meracuni. Kita lihat siapa yang lebih dulu terbunuh.


*Jember 08/09/11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar