Sabtu, 18 Februari 2012

Jember Pada Suatu Masa


Pasar tanjung tempo dulu (foto oleh Frans Yughananta)

H Mohammad Handanuhendro S.H adalah pria dengan rambut keperakan dan wajah yang teduh. Dalam menikmati masa pensiunnya ini, Handanu, begitu ia disapa lebih banyak diam dirumah dan menikmati waktu berkumpul bersama keluarga. “Saya mengabdi untuk Jember lebih dari 32 tahun. Sama dengan masa bakti Pak Harto,” katanya berkelakar.

            Handanu adalah sedikit dari warga pendatang Jember yang mengamati dan mengalami langsung perubahan Jember sejak tiga dekade silam. Ragam variasi perkerjaannya dalam kepemerintahan Jember telah banyak memberinya pemahaman mengenai kota Tembakau ini. “Saya pertama kali datang 1970 dan bekerja sebagai pegawai rendah sampai terakhir menjadi sekda pada 2002 lalu.”

            Pada 1970 an Jember tidaklah sebesar sekarang. Suasana kota Jember lebih seperti kota di pegunungan karena banyak pohon tinggi dan berhawa sejuk. Handanu sangat mengingat kenangan ini, karena sebagai orang yang besar di Malang, Jember membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. “Waktu itu tak banyak kendaraan bermotor, sepeda aja jarang. Tenang dan sejuk sekali seperti Malang.” 

            Nama Jember sebenarnya dikenal berdasarkan jurnal kepemerintahan Belanda di Jawa Timur, Provinciaal Blad Ban Oost Java, tertanggal 7 September 1929. Handanu sendiri tak banyak paham mengenai ini. Namun dari perbincangan ringan dengan beberapa warga sepuh asli Jember. Diketahui bahwa Jember awalnya tidak dikembangkan sebagai kota administratif namun kota Perkebunan. “Jadi dulu pun saya sempat menjadi asisten pembantu untuk mengurus perusahaan perkebunan ini. dan memang sangat besar sekali perkebunan di Jember ini.”

           Mantan Sekab Jember ini juga berkisah mengenai kekagumannya dengan arsitektur Belanda tempo dulu. Seperti Alun-alun kota yang kini telah banyak berubah. Dahulu lokasi alun alun jauh lebih besar dengan rumput dan pohon yang lebat. Dan disebelah masjid jami’ lama ada penjual rujak yang sangat enak. “Saya dulu suka sekali kesana. Rujaknya segar dan sangat laris. Jadi kalau beli harus antri.” 

Jember tempo dulu hanyalah sebuah kota kecil dengan sedikit penduduk. Hal ini juga digambarkan dalam catatan sejarah kota yang ada di profil kabupaten Jember sebagai "Kota asri yang penduduknya mengenal satu sama lain." Sedangkan di jaman itu, pusat perdagangan sekaligus pusat hiburan masyarakat adalah Kompleks Pasar Tanjung sampai Jalan Sultan Agung. Di tempat itulah, perekonomian Jember digerakkan oleh masyarakat Tionghoa.

Terminal Lama Jember di Dekat Pasar Tanjung (foto oleh Frans Yughananta)





























Toko itu terletak di belokan Jalan Samanhudi yang menuju Jalan Sultan Agung, dekat dengan Jembatan Jompo. Di bangunan yang penuh dengan alat-alat pertanian, timbangan, dan peralatan besi lainnya, Suroso menjalankan usahanya setiap hari. Toko itu menjadi saksi bisu kondisi kawasan pecinan di Jalan Samanhudi.

            Suroso mengenang, dulu, ketika jaman perjuangan kemerdekaan ketika kawasan itu menjadi pusat perekonomian yang digerakkan oleh para pedagang Tionghoa, rasa persaudaraan begitu terasa. “Setiap malam, para pemilik toko di sini mengadakan pertemuan di tengah jalan itu,” katanya. Mereka mengobrol ngalor-ngidul sambil merasakan kudapan dan minuman.

            Membicarakan kondisi negara sampai kemajuan perdagangan yang mereka lakukan. Di pertengahan abad ke-19, ada migrasi masyarakat Tionghoa yang termasuk bangsa Hokkien. Mereka datang sebagai pelaku ekonomi. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pedagang hasil bumi, pedagang kelontong, tukang kredit, rentenir maupun usaha di bidang pertanian. Dan mereka membentuk pemukiman sendiri, yang berpusat di kawasan Pasar Tanjung, khususnya Jalan Samanhudi.

            Sampai saat ini pun, masih banyak keturunan mereka yang tinggal di sana. Melanjutkan usaha kakek dan nenek mereka. Di masa itu, kebanyakan dari mereka menjual barang-barang kebutuhan hidup. Seperti sembilan bahan pokok, dan kebutuhan bahan bakar, seperti minyak tanah. Meski tak sedikit pula yang memilih bekerja sebagai pengusaha properti dan juga bisnis perusahaan perbankan.

           Sementara itu jauh sebelumnya pada 1850 George Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan tembakau di Jember. Hasilnya kemudian dipasarkan ke Eropa. Dan mendapat pengakuan kualitas sangat baik. Hal ini yang kemudian menjadi cikal bakal dimana Jember semakin berkembang sebagai kota pertanian dan perkebunan. Dalam catatan perusahaannya dikatakan, Birnie membawa pekerja asal Madura untuk bekerja di ladang tembakau.


Vila Rembangan Lokasi plesir para Tuan dan Noni Belanda (foto oleh Frans Yughananta)

Kebanyakan ladang tembakau yang dibuat Birnie berada di kawasan utara Jember. Sehingga sampai sekarang keturunan mereka banyak mendiami daerah itu. Hal ini bisa dilihat. Sementara kawasan selatan Jember banyak dihuni oleh orang-orang perantau dari Magelang, Sragen, Ngawi dan sebagaian dari Bugis.

            Handanu mengatakan bahwa kawasan selatan Jember yang subur, memang banyak didiami oleh pendatang asal Jawa karena insting sebagai petani. Pertemuan dua kebudayaan ini yang kemudian membentuk Jember dengan begitu banyak budaya campuran. “Saat saya datang 1970 orang Jember itu dikenal dengan setengah satu. Maksudnya banyak menggunakan kata kerja dan benda dengan awalan setengah dan satu. Seperti lun alun dan lan jalan,” katanya.

            Namun Jember sempat mengalami peristiwa kelam berdarah saat Pemberontakan PKI terjadi pada tahun 1965. Sungai Bedadung yang membelah Jember sempat memerah dengan darah. Kebanyakan memang bukan warga Jember tapi dari pinggiran Jember yang berbatasan dengan Bondowoso. “Imbasnya adalah banyak aktifitas orang tionghoa yang ditutup. Karena saat itu China adalah negara komunis,” kata Suroto.

            Padahal pada 1950-1960an setiap Imlek tiba selalu ramai dan meriah. Karena pusat kota Jember memang dihuni oleh para warga Tionghoa. Saat itu jalanan pada malam hari ditutup, barongsai, liang-liong dan para penari tumpah ruah di jalanan untuk unjuk kebolehan. “Saya ingat papa saya dulu suka bagi angpau sama tetangga. Jadi kita orang dulu sama orang lokal akrab,” kata Suroto.

            Namun Intruksi Presiden Soeharto (Inpres) No 14/1967 tentang larangan kegiatan bagi kaum tionghoa membuat semua itu hilang. Banyak di antara kaum tionghoa yang terpinggirkan dan harus merelakan usahanya hilang karena dituduh antek PKI. “Suasana sangat mencekam. Padahal bupati pertama Jember itukan keturunan tionghoa,” lanjutnya.

            Meski Jember telah banyak berkembang selama 83 tahun terakhir, tapi ada beberapa landmark (situs bersejarah) yang masih tegak berdiri sampai hari ini. Seperti gedung mesjid Jami’ yang dulunya merupakan kantor wedana (pejabat setara wakil bupati). “Gedung itu dulu ada aula dan kantor pemerintahan. Lengkap dengan tempat tinggal Wedana,” kata Handanu.

            Pusat pertokoan di kawasan jalan Sultan Agung juga dulunya dua arah. Dan semakin meningkatnya perekonomian dan penduduk kota Jember membuat kota ini berkembang semakin jauh. Beberapa gedung seperti BTN yang dulunya gedung bank Indonesia mengalami perubahan nama dan fungsi. Namun kondisi gedung-gedung ini setidaknya masih dirawat dengan baik.

Jember dulunya hanya sebuah afdeling dibawah naungan gewesteljik bestuur besoeki yang dipimpin residen dan hanya memiliki enam distrik seperti distrik Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul dan Puger. Pemerintah Hindia Belanda lantas meningkatkan status Jember menjadi Regentschap yang setara kabupaten. “Waktu itu yang ditunjuk menjadi bupati adalah Notohadinegoro dia menjadi orang pribumi pertama yang menjadi menjadi pemimpin Jember,” tutur Handanu.


Kantor Wedana Jember yang pernah beralih jadi masjid (foto oleh Frans Yughananta)



Handanu lantas berkisah bahwa surat penetapan Jember sebagai Kabupaten ditandatangani Belanda tertanggal 9 Agustus 1928. Namun surat itu berlaku efektif 1 Januari yang dikemudian hari dianggap sebagai hari ulang tahun kota Jember. “Tapi jika melihat warisan budaya dan keanekaragaman budaya yang ada. Usia Jember jauh lebih dari itu.”

Perkembangan kota Jember yang dinamis dan cepat ini juga mengalami permasalahannya sendiri. Seperti banyak gedung gedung tua warisan Belanda yang harus “mengalah” karena kurang representatif atau mengganggu “pembangunan”. Tengok saja kondisi alun-alun kota Jember yang tak lagi dikelilingi gedung tua khas belanda. Seperti Kantor pengadilan lama, atau Hotel Djember yang legendaris.

Bekas kantor kawedanan yang terletak di jalan Sultan Agung juga kini berubah menjadi pusat pertokoan. Handanu juga menjelaskan jika gedung pusat penelitian dan kakau Indonesia yang diresmikan pada 1 Januari 1911 dengan nama Besokisch Proefstantion pun telah dipugar. “Sayang sekali sebenarnya. Dikota lain sedang berlomba merawat dan melestarikan tapi disini ada yang dibiarkan atau bahkan di hancurkan.” 

Handanu juga berkisah mengenai patung Moh Sroedji yang ada di depan kantor Pemda Jember. Dahulu patung itu berada di sisi barat alun-alun. Namun karena letaknya yang berdekatan dengan mesjid banyak yang keberatan. Karena dapat dimakn`i sebagai usaha menyembah patung tersebut. “Sehingga harus dipindahkan untuk kepentingan bersama,” katanya meniru koran lama.

Jika Jember merawat landmark-landmark tadi bukan tak mungkin Jember akan dikenal seperti Praha, ibukota negara Ceko yang terkenal dengan gedung-gedung berasitektur baroq. Gedung peninggalan Belanda di Indonesia dirasa sangat istimewa karena di negeri asalnya, arsitektur semacam ini jarang ditemui. Kelak kita yang muda ini hanya bisa gigit jari. Dan mengagumi masa lampau lewat gambar foto yang usang.
            

Kamis, 16 Februari 2012

Memanusiakan Manusia






Apakah semua anggota organ garis keras  itu sekumpulan idiolog yang kaku?

Hari ini saya menemukan jawabannya. Ada tetangga kosan, sebut saja ia Usman, ia seorang simpatisan HT. Dalam setiap demonstrasi penolakan Obama dan Amerika ia selalu ikut. Dalam setiap kajian mengenai hukum negara islam ia selalu datang. Awalnya saya mengira ia adalah seorang yang fanatik. Seseorang yang taklid buta menginginkan khilafah sebagai harga mati perubahan di republik ini.

Sambil makan pecel kami berbincang sebentar mengenai kehidupan. Sekedar basa basi karena telah bertemu di jalan. Di tengah perbincangan ponsel saya berbunyi, nada derngnya adalah potongan lagu rage againts the machine. "Wah suka Rage juga mas?" tanya Usman. karena tak menyimak saya jawab "Apa mas?" "Itu lagunya. Rage Againts The Machine?" saya terkejut karena bang usman yang punya jenggot tipis itu mengenal Zack dan kawan-kawan.

Perbincangan itu lantas mengantarkan kami pada perbincangan mengenai lagu-lagu kanon RATM dan musik lain. Ternyata saat mudanya (Usman saya perkirakan berusia 30 tahunan) merupakan penggemar musik seperti RATM, Megadeth dan Antrax. Dengan dandanan celana kain cingkrang dan kaus bertuliskan Khilafah Sedunia, saya pikir saya sedang bermimpi. Bagaimana tidak? komunitas yang selalu getol menolak demorkasi liberal dan menyeru pada hukum syariah islam ini ternyata menyukai musik yang dianggap kafir.

Sepertinya saya lupa bahwa dalam suatu hikayat Rasullulah yang diriwayatkan Abu Hurrairah "Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya." juga ayat dari Al Maidah 8 " Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.”  Saya lupa bahwasanya orang-orang seperti Usman juga mungkin habib-habib FPI merupakan manusia biasa. Dimana saat muda mereka memiliki memori kolektif terhadap sebuah trend.

Bukan tidak mungkin jika Beib Rizieq pada masa mudanya adalah metal head yang menggemari Motley Crue dan Kix. Bagaimana jika Abu Bakar Baasyir adalah fans berat Tiga Dara atau Muddy Watters? Semua kemungkinan kemungkinan itu menjadikan para tokoh garis keras tadi menjadi sesosok manusia biasa. Bahwa mereka juga sama seperti kita makan nasi, nonton televisi, membaca koran dan buang air. melahirkan pemahaman bahwa mereka juga memiliki perasaan, keinginan, gairah dan obsesi.

Adalah tak adil jika kemudian kita menghakimi para tokoh garis keras, juga para pengikutnya sebagai manusia yang kering. Dengan bayangan mereka adalah orang-orang kaku yang kerjaannya hanya membaca kitab, mengkafirkan orang dan melakukan pengrusakan. Bagaimana jika dalam kesehariannya mereka adalah orang-orang yang biasa kita temui di jalan? Sebagai kernet angkot, petugas pajak atau mahasiswa S3?

Pilihan Usman untuk kemudian bergabung dalam HT adalah murni hak asasinya sebagai manusia merdeka. Sebagaimana juga pilihan manusia lain untuk beriman kepada Yesus, Budha atau YHWH. Tak ada manusia lain, atau kelompok yang berhak memaksakan kehendaknya itu. “Saya tak pernah merasakan paksaan atau cuci otak seperti yang dituduhkan orang liberal itu,” katanya. Saya tak berani membayangkan jika ia tahu bahwa saya adalah seorang pemikir bebas?

Penilaian-penilaian terhadap manusia lain akan berujung kepada seberapa besar lingkar otak kita dalam melakukan analisa. Apakah kita menganggap mereka pahwalan atau seorang preman. Tak salah jika para remaja tanggung yang mengidolakan restorasi negara (juga keimanan) bersikap ekstrim terhadap kondisi kekinian. Siapa yang tak jengah (atau bernafsu) melihat gadis dengan rok mini? Atau dijual bebasnya minuman keras? Atau bagaimana kapitalisasi perusahaan barat telah merongrong kedaulatan negeri ini?

Keimanan, seperti yang dikatakan Al Imam Syafi’i, memiliki tingkatan-tingkatan. Ada iman yang sangat sempurna, ada iman yang berkurang, dan ada iman yang jelas kekurangannya dan ada pula iman yang bertambah. Seorang zuhud seperti Imam Syafi’i pun, dalam hidupnya menghindarkan diri dari pertentangan tafsir keimanan. Juga pertentangan mengenai moralitas dan kebenaran diri sendiri.

Dalam suatu pertemuam Imam Syafi’i pernah ditantang berdebat mengenai suatu permasalahan. Namun perdebatan itu dilakukan atas dasar kebencian pribadi dan bukan usaha mencari rahmat illahi. Maka sang imam menyampaikan sebuah ayat “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (An’am: 68)

Maka manusia dengan otak paling lemot pun akan bisa menilai bagaimana asmaul husna di perlakukan. Apakah ia dibiarkan diumbar dijalanan dengan parang terhunus dan mulut menuh khamr. Atau dalam sebuah majelis yang santun dan mengedepankan argumentasi dan rasa cinta kasih. Saya tak mengatakan bahwa Usman dan rekan-rekannya adalah para penjual nama tuhan di jalanan. Lebih dari itu saya menghormatinya sebagai manusia yang juga bisa alpa.

Saya kira Usman merujuk pada kejadian Ahmadiyah di Cikeusik. Saya benar-benar tergoda untuk bertanya pendapat HT terhadap ahmadiyah. Namun dari matanya saya percaya bahwa Usman adalah manusia yang mencintai perdamaian. Juga seorang muslim yang meyakini hukum dalam An Nisa: 93. “....Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.

Lalu bagaimana kemudian awal mula kekerasan itu terjadi? Mengenai sekelompok manusia yang mengaku pewaris kebenaran illahi? Mungkin para remaja tanggung yang tak sempat merasakan kegetiran tragdei 98 perlu membaca sejarah. Bagaimana Pam Swakarsa dibentuk militer sebagai dalih pengendalian masa. Dan bagaimana organisasi fasis berlabel agama itu menjadi sektarian dan semakin radikal.

Usman dalam perbincangan yang sangat singkat itu memberikan saya pemahaman yang luas. Bahwa sebagai manusia ia juga memiliki kekurangan, memiliki keinginan, dan juga memiliki kesamaaan dengan manusia lain. Fakta jika ia juga menggemari Farrokh Bulsara adalah sebuah kejutan yang keras. Bahwa mereka yang senantiasa membawa panji-panji hitam kilafah adalah manusia biasa seperti kita.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan? Apakah dengan menunaikan dictum grup hiphop homicide yang mengatakan “Fasis yang baik adalah fasis yang mati,” lantas jika demikian apa beda kita dengan kaum fasis yang kita lawan tadi? Mengingat kata-kata Gandhi yang bijak. “Jika setiap kejahatan mata dibayar dengan mata. Maka seluruh dunia akan diisi oleh orang buta,”

Kanjeng Nabi Muhammad seperti juga Sidharta di bawah pohon bodhi sedang berupaya memutus mata rantai kekerasan. Pada zamannya kanjeng Nabi harus berhadapan dengan hukum barbar suku-suku arab. Dimana setiap pembunuhan harus dibayar dengan qisas atau diganti dengan harta yang banyak. Maka inilah arti Islam (atau As Salam) sebagai damai mewujud. Sebagai rahmatan lil alamin.

Ia lantas bercerita tentang Hari Mukti, salah satu tokoh HT, juga merupakan mantan rocker dan penggemar musik keras. “Tapi kalau dalam hati mas Usman sendiri gimana?” tanya saya. “Gak pernah ada yang namanya mantan metalheads. Selamanya demikian. Tapi sekarang saya lebih banyak dzikir,” katanya. Perkataanya membuat saya terbayang, bagaimana jika Zack de La Rocha suatu saat menjadi seorang mubaligh?

Selasa, 14 Februari 2012

Tiga tahun Jakartabeat



Sebelumnya saya juga ingin menyampaikan sebuah dislaimer bahwa tulisan ini adalah tulisan yang overrated. Jika anda menginginkan sebuah tulisan yang adil dan berimbang saya sarankan untuk berhenti membaca tulisan ini. Dalam banyak hal ini adalah sebuah service, boleh dikata sebuah penulisan yang menjilat. Tapi saya tak peduli.
            
Saya mengenal Jakartabeat seusai perdebatan panjang mengenai musik blues dan hardcore bersama Nuran Wibisono. Ia adalah kontributor jakartabeat yang paling mesum sekaligus penggila hairmetal zuhud. Kala itu saya dengan pongahnya mengatakan bahwa musik hardcore adalah sebuah music cult. Melebihi dekadensi hairmetal apalagi kemaharajaan blues.

Statement ini lantas memancing perdebatan tolol mengenai skema scene musik blues di Deep Shout Missisipi sampai kegairahan hardcore di DC. Nuran lantas menjabarkan dengan riang bagaimana musik yang berkembang di domain rednecks America itu, beserta semua nama besar seperti Muddy Waters, Garry Moore, John Mayal, sampai dengan John Mayer. Sementara pengetahuan saya soal hardcore sudah tamat pada nama seperti black flag, fugazi dan suicidal tendensies.

Dengan kata lain perdebatan itu berakhir dengan pembantaian pengetahuan musik saya yang seupil oleh Nuran. Saya akhirnya penasaran, bagaimana mungkin seorang cabul yang malas membaca seperti dia punya banyak pengetahuan tentang musik? Akhirnya saya sampai pada sebuah naskah berjudul obat sakit hati bernama continuum. Fuck, ternyata si keple Nuran ini adalah kontributor webzine musik jakartabeat.

Sebermula firman tuhan, saya menjadi seorang hipster. Selalu membaca dan mencari tahu perkembangan baru di jakartabeat. Saya tak ingin dua kali dipecundangi mengenai pengetahuan soal musik. Situs yang juga dibinani Philips Vermonte, peneliti di CSIS, memberikan ruang dan pengetahuan baru tentang apa itu melawan dominasi selera kebanyakan. Meski dengan demikian saya beresiko dianggap seorang snobs.

Saya menyukai musik. Terutama musik bagus yang tak banyak diketahui oleh orang banyak. Ada sebuah kepuasan tersendiri saat kita mendengar musik yang berbeda. Band yang sama sekali asing tapi punya talenta digdaya. Perasaan-perasaan seperti ini membuat saya seperti messiah. Bahwa ada bebunyian diluar sana yang jauh lebih baik dari ngak ngik ngok yang terpaksa kita dengar di televisi.

Kelahiran jakartabeat tak lepas dari kegelisahan mas Philips dan mas Taufiq Rahman (editor koran jakartapost dan penggemar kata overrated) yang memutuskan memulai sebuah blog “Berburu Vinyl.” Sebagai kanal menumpahkan rasa berdebar-debar setiap kali mereka menemukan piringan hitam yang masuk daftar 500 Greatest Albums of All Time versi Rolling Stone Amerika.

Saya suatu saat pernah bertanya sebuah pertanyaan maha konyol apa itu Vynyl? Yang dijawab seorang kawan dengan sinisme akut berupa “Tahu google kan?” Di sini saya kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan mas Philips dan mas Taufiq adalah sebuah kegilaan. Berasal dari negara yang masyarakatnya kurang mengapresiasi sejarah. Mereka malah kembali ke bentuk rekam musik yang menurut saya sudah purba.

Berburu Vynil juga menjadi semacam tapal batas egosentrisme manusia yang tak ingin mati sambil mendengarkan musik jelak. Beberapa bulan lalu saya pernah bergunjing dengan mas Taufiq mengenai kuliah, musik dan buku. Ia berkata “Hidup terlalu pendek untuk diisi dengan musik jelek,” saya mengamini. Belakangan saya tau ia mengutip ini dari Herry Sutresna, pentolan Homicide itu.

Seiring berjalannya waktu (padahal hanya enam bulan) Berburu Vynyl harus mengalami pensiun dini. Alasannya sederhana duo kombatan yang mirip Tsuneo dan Dikisugi ini menginginkan wahana yang lebih luas. Tak melulu membahas musik namun juga hal-hal sentimentil tak penting lainnya. Seperti silsilah keluarga bebek atau pengaruh Kafka dalam Velvet Revolution.

Artikel non musik pertama yang saya baca di jakartabeat adalah naskah milik Gde Dwitya yang berjudul Fakultas Sastra, setelah revolusi tak ada lagi. Meski menyitir fragmen buku esei Goenawan Muhamad, Gde tak membahas dunia kebatinan para filsuf seperti yang biasa dilakukan GM. Tapi opini kebumian mengenai kondisi real mahasiswa Indonesia saat ini.

Artikel itu sangat menempeleng muka saya yang dulu gemar sekali turun ke jalan untuk beraksi bak Jenggo. Menentang tirani pemerintah, melawan kebijakan pro modal dan tetek bengek romantisme mahasiswa labil. Bahwa ada banyak jalan dalam melakukan perjuangan. Tak melulu harus demonstrasi namun juga bisa dengan menulis dan menyebarkan pemikiran.

Dalam banyak hal saya percaya, dalam masa mendatang, saya akan dengan bangga mengatakan bahwa “i’m one of those bastard who read jakartabeat and alive,” dengan pola subversif yang cerdas. Say` sangat heran sampai hari ini Tiffie tak melirik jakartabeat sebagai sebuah web yang laten kritisme dan snobisme akut.

            Jakartabeat juga kerap kali mengejutkan saya dengan mencantumkan nama-nama band suritauladan dalam hidup saya. Seperti Rage Againts The Machine, The Mars Volta dan Pure Saturday. Hidup saya yang kering karena menjomblo sekian dekade seolah tak penting lagi. Saya merasa menemukan pencerahan baru, serupa perasaan Aristoteles saat berteriak “Eureka!

            Selepas setahun jakartabeat beredar di dunia maya, saya semakin masyuk dalam membaca tiap artikelnya. Jakartabeat, seperti juga kunci.or, jurnal karbon, dan library.nu adalah satu-satunya media internet yang masih waras. Lupakan wikipedia karena pengetahuan ala ensiklopedi itu membuat kita malas mengunyah diksi dan fantasi.

            Awalnya saya takut jika nantinya jakartabeat hanyaakan menjadi one hit wonder yang selesai pada setahun. Menjadi sekedar relik bahwa pernah ada generasi kick ass yang menulis tentang musik, berpikir berbeda, dan kritis menyikapi zaman. Kekawatiran saya ini rupanya berlebihan.

            Mas Philips dan mas Taufiq malah mengembangkan jakartabeat lebih kece dari imajinasi saya yang paling banal. Dengan menerbitkan like this, sebuah kumpulan tulisan tergahar yang ada di jakartabeat. Like this sendiri seolah menjadi bukti valid bahwa kutukan webzine adalah ketiadan karya nyata dalam bentuk fisik.

            Jakartabeat Music Writing Contest I (JMWC I)yang digelar tahun lalu juga merupakan kejutan menyenangkan dari duet editor imut tadi. Bahwa dalam usahanya menyemai penulis/jurnalis(me) musik yang sehat dan cerdas, perlu ada upaya regenerasi dan penyemaian bibit. JMWC I terbukti sukses dengan bukti sekitar 100san karya yang masuk. Meski saya sempat jengkel karena naskah saya bahkan tak masuk ke dalam 10 besarnya.

            Saya menyadari betapa jakartabeat kini menjadi sebuah kawah candradimuka musik-musik kreatif Indonesia. Ada sebuah diktum yang mengatakan bahwa, mereka (band/buku/film) yang termuat di jakartabeat adalah sebuah avantgarde. Disusun oleh narasi besar senama Herry Sutresna, Akhmad Sahal, Anwar Holid, Ardi Wilda, Ari Perdana, Arian13, Samack, Ayos Purwoaji, dan masih banyak lagi.

            Saya tak akan menghina kapasitas nalar para pembaca sekalian dengan menjelaskan satu persatu siapa mereka. Jika anda berpikir bahwa tulisan saya sangat tendensius dan cenderung melakukan pengkultusan. Maka anda benar. Jika seorang Franco dengan sangat fasisnya mencintai Madrid. Atau bagaimana Winston Churcil sangat menggilai cerutu. Maka bolehlah saya melakukan sakralitas terhadap situs ini.

            Jika anda tanya mengapa? Well, kita mulai dari perbendaharaan pertemanan saya yang tiba-tiba jadi sangat keren. Dari yang awalnya berkawan dengan manusia mesum bernama Nuran, saya bisa berkenalan dengan mas Philips (meski hanya lewat facebook), mas Taufiq (yang terlepas dari sarkasme tulisannya ia sangat ramah), Fakhri Zakaria (pria murah senyum yang sangat baik hati).

            Tapi dari semua itu, jakartabeat, telah berperan besar dalam penuntasan masa jomblo saya yang sangat endemik itu. Karena pada 2011 lalu mereka untuk pertama kalinya menyelenggarakan festival musik santai di pinggir danau kampus UI. Bertempat di seputar kompleks gedung perpustakaan Universitas Indonesia.  Saya berhasil mengakhiri masa lajang saya yang sudah terlampau keparat lamanya.

Dari perbincangan saya dengan mas Taufiq acara ini terinspirasi oleh Pitchfork Music Festival, acara musik yang diselenggarakan di sebuah taman di kota Chicago. Bersama rekan-rekan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di UI jakartabeat sukses menghancurkan definisi konser megah adalah konser yang besar. Kelak dalam pelajaran sejarah murid-murid sekolah musik dunia, mereka akan mengenal acara ini dengan nama By the Lake Music Festival.

Di konser ini pula saya bisa tuntas menonton konser Efek Rumah Kaca untuk pertama kalinya. Juga dengan sangat norak saya bangga bisa bertemu dan mengobrol dengan Cholil, yang sangat baik mau saya ajak jabat tangan. Tapi di atas itu semua saya sangat mengharu biru karena bisa mengenal Payung Teduh. Band yang tanpa sengaja rela menjadi pengiring pertemuan saya dan pacar.

Payung Teduh dengan lagunya, “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan,” secara literer memberikan suasana mendukung untuk kisah kasih saya. Mungkin jika Payung Teduh tak menyanyikan frase “Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya,” pacar saya akan sadar bahwa petang itu saya bau sekali dan belum mandi.

Tapi bukankah itu semua tak penting? Dalam rentang waktu tiga tahun ini jakartabeat, seolah menjadi new emerging forces. Istilah yang terlampau lekat dengan Sukarno dalam melawan Neo Imperialisme. Ah, haibat betul. Namun seperti yang banyak terjadi. Membuat lebih gampang daripada merawat dan melakukan konsistensi.

Ia butuh lebih banyak energi, kemauan dan yang paling penting tekad yang tulus. Bukan tentang materi didapat itu jelas. Semua kontributor jakartabeat tak pernah mendapatkan bayaran. Hal inilah yang membuat situs ini menjadi kanon (atau pongah?) sehingga tak ada kepentingan pasar dan murni subjektifitas.

Selamat ulang tahun jakartabeat. Mungkin telat. Tapi lebih baik daripada tidak ganteng sama sekali. Tabik.

Senin, 13 Februari 2012

Cerita Dari Desa Saya



            Bayangkan sebuah negara tanpa anak-anak. Para warganya hanyalah orang tua yang keras kepala, anak muda yang egois dan sekumpulan manusia dewasa yang munafik. Meminjam definisi Herbert Marcuse, masyarakat paska industri yang terlalu satu dimensi. Negara yang melupakan cara bersenang-senang dengan jujur dan apa adanya.

            Buat saya negara semacam itu adalah negara yang terlalu tengik untuk ditinggali. Terlampau menakutkan bagi saya yang mencintai fantasi, mimpi dan kekonyolan. Saya selalu percaya sebuah negara yang baik dapat dilihat dari cara anak-anak mereka bermain. Kesegaran dan keberagaman permainan tradisionil nir teknologi, membuat anak-anak menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa.

            Saat saya kecil momen bermain adalah momen yang jauh membuat saya kreatif daripada membaca, yang meski merupakan kegemaran saya, cenderung membuat saya asosial. Tek ketekan (bahasa madura untuk petak umpet) merupakan permaianan yang tak pernah bosan saya mainkan. Dalam permainan itu saya harus menggabungkan strategi, stamina dan diplomasi dengan baik.

            Tek ketekan sepertihalnya petak umpet membuat saya harus cepat mencari tempat persembunyian dalam waktu 10 detik. Tak jarang saya harus berlari, berkelit memperebutkan tempat, dan membagi lokasi pada rekan yang terlalu mudah ditemukan. Saya selalu tak tega melihat teman yang mudah ditemukan, meski saya juga tak jago-jago amat bersembunyi. Singkatnya dalam permainan itu saya dilatih untuk bersinergi antara tubuh, pikiran dan perasaan.

            Itu hanya sebuah fragmen kenangan saat saya kecil. Kini mencari anak-anak bermain tek ketekan seperti mencari Godot. Keberadaan mereka sudah hilang dalam keramaian dunia digital. Playstation dan personal computer sudah merebut ruang eksistensi anak-anak di desa saya. Ya, desa dimana saya kini tinggal dan lahir telah berubah menjadi kebanyakan daerah sub urban di Indonesia. Di jejali teknologi prematur yang belum tuntas dipahami pemanfaatannya.

            Semua permainan tradisional yang saya ketahui diperkenalkan di desa. Kebanyakan diajarkan oleh teman-teman yang sedikit lebih tua. Saat saya masih TK yang mengajari adalah teman-teman usia SD. Dan seterusnya. Relasi semacam ini menimbulkan rasa hormat dan sungkan. Karena mereka yang mengajari permainan tradisional itu selalu tampak keren dan luarbiasa.

            Namun saat saya pulang ke desa Kademangan, Bondowoso, Jawa Timur. Semua relasi itu seperti hilang. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain tek ketekan sambil menunggu waktu mengaji. Tidak ada lagi anak-anak yang berkejaran bermain benteng sambil basah berpeluh seusai sekolah. Semua lekuk kegiatan yang akrab saya temui kala kecil sudah hilang. Jalanan kampung saya sepi.

Anak-anak kehilangan kemampuan mereka berinteraksi dengan sesama. dengan duduk manis seperti patung dihadapan televisi yang memutar Naruto. Atau hilang kontak dengan dunia nyata dan asyik bermain PC.

            Saya dipaksa menelan kenyataan bahwa desa saya telah berubah menjadi dunia asing. Merasa kalah saya pun mengamini bahwa perubahan tak bisa dilawan. Globalisasi media dan teknologi sudah merampok kenangan masa kecil saya. Permainan tradisional sudah didesak dan memunah karena kalah. Diam diam saya menyerah kalah.

            Hingga pada satu waktu seorang kawan mengajak saya ke sebuah daerah di Jember. Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sebuah kecamatan dengan penduduk sekitar 56.000 jiwa. Belakangan saya ketahui bahwa sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani. Sebagian lagi berjibaku di sector informal seperti pedagang dan buruh perusahaan.

            Awalnya saya enggan untuk datang ke Ledokombo. Selain karena lokasinya yang cukup terpencil, desa itu dikenal sebagai gudang masalah. Kemiskinan menjadikan desa itu seperti dikutuk. Mulai dari tingkat buta huruf yang tinggi, tingkat pengangguran kaum muda yang tinggi, dan sarang preman. Dalam banyak hal desa itu seperti gudang gali yang seharusnya dihapus dari peradaban Jember yang beranjak maju.

            Belum lagi stigma yang melekat pada penduduk Ledokombo yang sebagian besar Madura. Bahwa mereka malas, egois, susah diajak maju, sok tau, emosional dan sebagainya. Kerap kali suratkabar di Jember memberitakan kasus kekerasan yang diawali oleh salah paham. Buat saya saat itu mendatangi Ledokombo adalah mendatangi kesialan itu sendiri.

            Namun di desa itu saya dibuat terkejut. Disana saya seperti menemukan kembali desa saya yang hilang. Perasaan dejavu menghampiri. Saya melihat anak-anak bisa bermain bebas, mengejar layangan, beradu gundu, dan memainkan egrang. Semua dilakukan sambil tertawa lepas. Sesaat saya terpaku dalam diam. Desa saya yang hilang telah kembali.

Tanoker, bahasa Madura untuk kepompong, adalah kelompok yang bertanggung jawab atas kegiatan itu. Mereka dengan semangat kebersamaan, membangun lagi identitas desa Ledokombo yang selama ini dikenal sebagai dusun tertinggal, kampung buruh, dan dukuh miskin. Menjadi sebuah desa yang memiliki kebanggan kolektif.

Pusat kegiatan Tanoker dibangun disebuah tanah lapang, ada perigi yang mengalirkan air jernih di dua sisinya. Sebuah danau buatan menganga ditengah tanah lapang itu. Beberapa pepohonan melindungi tanah itu dengan rindang bayangannya. Sebuah lokasi sempurna untuk memejalkan diri dan bermain sepuasnya.

Tanah itu adalah milik Suporahardjo dan Farha Ciciek. Duo pasangan brilian yang telah mengangkat derajat desa Ledokombo dimata dunia. Ya, dimata dunia. Sudah puluhan kali peneliti dan mahasiswa asing datang ke Ledokombo untuk mengagumi semangat perubahan yang mereka bawa. Desa gali yang dikucilkan peradaban ini sudah bangkit meraih kehormatannya sendiri.

Lewat permainan tradisional Tanoker Ledokombo sedikit demi sedikit mengajarkan semangat kebersamaan. Atau dalam bahasa pendirinya, “Sebuah  tempat dimana pertemuan berbagai kalangan dari berbagai latar belakang,” bukan lagi individu. ”yang dikelola  untuk saling menguatkan demi menciptakan perdamaian, keadilan  dan kesejahteraan,” utopis? Tapi nyatanya Ledokombo tegak dan menunjukan eksistensinya.

Cita-cita Suporahardjo dan Farha Ciciek sederhana. Mereka ingin membangun kebanggaan para warga desa Ledokombo atas desa dimana mereka tinggal. Khususnya untuk anak-anak, yang dalam bahasa mereka “generasi penerus bangsa, harapan  dunia dimanapun mereka berada.” Anak-anak bertanggung jawab pada masa depan negara. Dan kita, para orang dewasa, berhutang pengetahuan untuk dibagi pada mereka.
Lewat Tanoker Ledokomo masyarakat diajak untuk berproses dengan kesungguhan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Melalui berbagai kegiatan kreatif yang dimotori anak-anak. Di kawasan berbukit ini sangat terasa bahwa masyarakat memiliki potensi dan hasrat untuk berubah.

Dengan semboyan “bersahabat, bergembira, belajar, berkarya”. Tanoker menginvasi pikiran putra-putri buruh migran (TKW/TKI), buruh tani, tukang ojek, supir, pedagang kecil, guru, pekerja rumahtangga dan pegawai negeri/swasta. Untuk berani bermimpi. Berani berkarya. Dan berani untuk melakukan perubahan sederhana dengan cara bermain.
            
Siapa bilang sebuah perubahan harus dimulai dari pusat kota? Berbekal kemandirian dan keinginan untuk berdaulat. Sebuah negara melakukan gerilya dan peperangan dipelosok desa, puncak gunung atau kelam hutan. Ledokombo juga demikian.
          
  Berbekal pemahaman potensi desa yang membiliki banyak tumbuhan menjulang seperti kayu sengon dan bambu. Tanoker Ledokombo lantas memanfaatkan sumber daya yang ada untuk bermain. Anak-anal diajarkan memainkan egrang. Sebuah permainan yang mustahil ditemui dikota-kota besar tanpa sebuah rekayasa sebelumnya.

Ledokombo didera demam egrang karena Tanoker. Awalnya desa itu menolak, takut, asing dan ragu pada cita-cita aneh ini. “Memulai perubahan dari permainan egrang? Ide gila apa ini,” kata sebagian besar warga Ledokombo. Namun para pendiri dan pegiat Tanoker tak mau jatuh pada sebuah pikiran picik. Mereka tetap mengajarkan dan menyerbar luaskan permainan egrang.

Sebuah kayu yang menjadi alat utama permainan egrang tak bisa dikuasai dalam sesaat. Butuh mentor untuk kemudian mengajarkan, memandu dan mengarahkan gerak diri. Egrang membuat pemainnya untuk selalu hati-hati dan bersikap awas. Anak-anak di Tanoker melakukan itu semua. Interaksi personal yang dilakukan atas rasa cinta terhadap sesama.

            Namun tak berhenti disana. Anak-anak mengembangkan permainan egrang ke batas jauh pemikiran mereka. Sebuah alur kreatif yang lahir dari kerja sosial nyata. Bukan ciptaan artificial intelligence komputer manapun. Anak-anak desa jauh lebih kreatif sebagai manusia karena belajar dari alam. Bukan kecerdasan buatan yang ditanamkan tenologi buatan.

            Anak-anak itu belajar sendiri mengenai arti penting kerjasama. Sikap patriot saat mengakui kekalahan. Kebesaran hati untuk mau belajar dari orang lain. Serta penghargaan terhadap alam. Nilai-nilai yang mungkin kini sudah usang, hilang dan punah. Dari permainan sederhana semacam egrang. Anak-anak desa Ledokombo melakukan bildungsprozesse sebagai sebuah keseharian.

Melalui egrang tadi anak-anak ini meredam ego diri untuk tak kehilangan kendali. Tertatih tatih memantapkan diri diujung kayu dan mulai melangkah diatas kayu egrang. Belajar untuk dapat berdiri dan fokus pada apa yang mereka lakukan. Semua dilakukan hati-hati. Karena saat mereka kehilangan kendali diri. Saat itulah mereka akan jatuh dari egrang.

Tanoker lantas mengadakan “Egrang City Tour” yaitu pentas/lomba/pelatihan egrang dan penjualan produk-produk Ledokombo di Jember. Sinergi kebersamaan antara anak-anak dan orang tua, masyarakat dan pemerintah, serta segala entitas yang menginginkan Ledokombo untuk maju. Tanoker seolah menggenapi pepatah jepang “Sora ha tsunagatteiru node (kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu (Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung).
            
Sedikit demi sedikit muncul kebanggaan atas desa Ledokombo. Anak-anak tidak lagi berkeliaran dijalanan berkegiatan tak jelas. Orang tua yang merutuki nasib miskin terpacu untuk melakukan perubahan positif. Berbagai unit kerja lahir dari semangat Tanoker. Kepompong yang lahir dari ulat buruk rupa menjadi kupu-kupu indah.

            Meski saya tak lahir dan besar di Ledokombo, tetapi ada rasa kagum yang bergetar dihati saya. Meyakini bahwa perubahan besar tak harus dari hal hal yang besar. Namun tindakan sederhana yang dilakukan konsisten. Seperti membiarkan anak-anak untuk bermain dan melahirkan kreatifitas tanpa batas. Berani bermimpi dan bertanggung jawab atas keinginannya.

             Saya selalu percaya, sebuah bangsa yang hebat, dibangun dari anak-anak yang memiliki mimpi liar. Dan mereka diajarkan untuk berani mengejar dan mengejawantahkan mimpi itu dalam bentuk nyata. Indonesia butuh lebih banyak anak-anak yang berlari bebas di alam. Bukan duduk diam dikamar dan tenggelam dalam dunia semu digital. Itulah kabar dari desa dimana saya kini tinggal. Apa cerita desa anda?

Beau Geste


            Aku tak tahu apa yang menarik dibahas pada malam ini. Sebuah renungan pendek? Mungkin, tapi saat ini aku hanya ingin menulis. Menulis apa saja, karena hanya itu yang kubisa, tak mahir pula. Namun tetap saja, aku menyukai kegiatan menulis. Bukan menulis secara harfiah, tapi menuliskan kata-kata ini menggunakan komputer. Mungkin hanya sekedar senang mendengar tuts keyboard komputer diketik

            Suaranya tuts yang baradu itu seperti simfoni yang melankolis sekaligus tegas. Tentang bunyi-bunyian yang tak mau tunduk dengan sekitarnya. Seperti sebuah kegelisahan atas apa yang sudah mapan. Sesuatu yang telah menjadi kesepakatan bersama. Bahwa setiap malam keheningan adalah postulat yang akan ikut serta.

            Tetapi bukankah segala yang disepakati itu cenderung membosankan? Sesuatu yang menunggu untuk dirubah, dihancurkan dan ditata ulang. Seperti negara yang terlampau korup, pemimpin yang dungu lagi tengik dan masyarakat yang terlalu bebal. Malam seperti kali ini seringkali melahirkan keinginan-keinginan revolusioner, yang akan menguap seperti kentut di keesokan paginya.

            Suara tuts yang beadu dengan jari-jari itu seperti melenakan. Sebuah beau geste yang sebenarnya hanya sebuah kehampaan dari ketiadaan pekerjaan. Tapi bukankah itu tak penting? Saat aku menulis ini, ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwa tulisan ini akan menjadi penting. Atau setidaknya memiliki manfaat. Namun sampai saat ini aku masih belum tau apa yang akan kutulis.

            Sementara jari-jariku terus menulis kata-kata yang nir makna. Ingatan masa lalu berkelebatan serupa blietzkrieg. Menghantarkan fragmen-fragmen kenangan yang mau tak mau datang. Seperti canda tawa di sebuah warung kopi, perjalanan dalam sebuah kereta api, kutipan dari sebuah buku yang tak seberapa terkenal dan perdebatan panjang yang disertai kemarahan. Semua datang silih berganti tanpa bisa dikendalikan.

            Betapa terkutuknya sebuah kenangan bisa jadi tergantung perasaan yang dibawanya. Seperti sepotong sajak cinta tentang senja yang turun perlahan. Atau kemarahan atas sebuah pengkhianatan yang disertai pemakluman. Dan kenangan itu datang tanpa sebuah narasi yang runut. Menghasilkan badai perasaan dalam diriku. Seperti sengau marah yang tertahan di ujung hidung saat bersin. Ketersiksaan atas diri sendiri.

            Hujan diluar tak membuatku berhenti menulis. Padahal rinai hujan sedang memukul-mukul jendela di kegelapan. Membawa imaji tentang jari-jari mungil peri yang sedang penunggu penyelesaian harapan. Tapi aku memilih acuh dengan semua itu. Karena mempercayai peri-peri adalah keniscayaan pada subjek transenden selain tuhan. Itu merupakan langkah awal penyekutuan terhadap tuhan. Bukankah kau dan aku tak mau berakhir dalam jilatan api neraka yang kekal?

            Bunyi tik tok tik tek trot itu semakin merdu, mengandaikan diri sebagai Mozart yang tuli dalam proses penciptaan mahakaryanya. Bahwa dalam segala anomali ada sebuah keindahan jika kita cukup sabar untuk menikmatinya pelan-pelan. Aku semakin resah. Karena belum ada kesadaran untuk apa aku menulis ini. Untuk apa aku menyusun kata-kata ini. Sementara keresahan semakin kalut. Ingatan terus berkuasa dan menarik aku ke masa lalu. Masa dimana semua kata-kata ini belum tercipta.

            Petir menyambar di kegelapan malam saat aku mengingat tahun 2007 disebuah pondok kecil di kampus. Saat pertama aku belajar mengenai kegairahan menulis dan kenikmatan membaca. Dimana segala ribut pencarian eksistensi diri dilebur menjadi sebuah semangat kolektif kebersamaan. Manusia-manusia liyan yang bergerombol mencari makna hidup dari budaya literasi. Kami yang merayakan perbedaan sebagai sebuah keharusan.

            Umpatan, makian, kritik, dan semangat silih berganti bergaung dalam proses pembentukan watak. Bahwa solidaritas dibangun dari tempat tidurmu dan kesadaran dunia di luar sana adalah dunia yang kejam. Dunia yang gagal memberikan keharmonisan dan kemanusiaan. Luruh sebagai kenyataan yang disebut kedewasaan dan realitas hidup. manusia memangsa manusia sebagai upaya mempertahankan eksistensi. Sebuah dunia yang menakutkan.

            Lalu ingatan dengan pongahnya meloncat kesebuah kewaktuan yang lain. Di saat merapi berontak dan mengeluarkan segala dendamnya kepada manusia. Debu putih dan aliran lava dingin menelan aliran sungai yang membelah kota luar biasa itu. Tapi semua itu tentu saja tak penting. Karena apalah arti sebuah Alengkadipura yang gegap gempita tanpa adanya Dewi Sinta?

            Ingatan membawamu kepada sebuah kenangan pada sebuah pakaian warna coklat dengan bordir kata-kata yang sudah luruh. Tentang senyum paling manis di pulau jawa yang merebus segala kata-kata jadi ingatan laten. Mengenai perjumpaan pembuka. Mengenai perbincangan yang pendek. Mengenai jeruk hangat dengan sedikit gula. Mengenai mata yang kau kira jujur. Lalu kau merasakan seribuan jarum-jarum pendek menikam pelan. Sangat pelan. Hingga kau lupa caranya menjerit.

            Astaga betapa perihnya luka itu hingga tak sadar kopi di samping keyboardmu tumpah dan membawa luka nanar panas. Namun kau masih belum sadar. Karena perih yang kau rasakan bukan ditangan yang sedang melepuh. Tapi dalam hatimu yang dipenuhi kebohongan dan kebencian. Sehingga butuh waktu lama sampai kata-kata ini membentuk paragraf untuk membuatmu sadar bahwa masa depan masih belum terbentuk pasti.

            Aku lantas bertanya kepada ingatan mengenai dirinya. Bagaimana ia bisa bertahan dengan membawa banyak kenangan. Bagaimana ia masih bisa menjadi dirinya sementara berbagai peristiwa bekelindan serupa jalinan benalu. “Manusia cenderung hidup di masa lalu. Sedang aku adalah apa yang terjadi saat ini. Kenangan hanya sebuah benda yang kubawa. Sementara manusia menganggap kenangan sebagai realitas yang masih ada.”

            Lalu ingatan duduk di sampingku. Membawakanku kopi lain yang masih hangat dengan sepiring pisang goreng yang mengepul. Menemaniku menuliskan kata-kata lain yang lebih penting dari sebuah naskah tanpa tujuan yang sedari tadi kususun. “Ada baiknya kau menyusun masa depan,” kata ingatan. “Bagaimana jika kita mengingat masa lalu?” kataku.

            Ingatan menghembuskan nafas panjang. “Manusia,” katanya. “Tak pernah bisa belajar dari sejarah.” Tapi aku masih tetap menunggu. Menunggu ingatan untuk kembali bercerita lebih banyak. Ia masih diam dan membalut tanganku yang melepuh karena kopi yang tumpah. Sementara hatiku masih berarah dengan ribuan jarum kecil yang semakin menusuk.

            Ingatan tetap diam. Akhirnya aku memutuskan untuk terus menulis. Merangkai sendiri barisan kata-kata yang masih kuharapkan kelak memiliki manfaat. Tapi tetap saja bahwa kata-kata itu terjalin seperti perbincangan basa basi. Sebuah perkenalan yang canggung dan puisi yang gagal. Ingatan masih tetap diam. Ia lantas mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyah pelan-pelan dalam mulutnya yang tanpa gigi.
            

Kamis, 09 Februari 2012

Jarak


ada ragu yang gegas
yang menunggu jawab
atas terik matahari sore di atas aspal
di balik deru asap bus kota
jalan macet pukul tiga

perihal jarak yang jauh
pesan yang lambat
kabar yang hilang

kukira rindu hanya perihal waktu
yang menunggu dibayar lunas
beserta bunga dan pokoknya

Monumen Kebodohan


~ Saat hati sedang sakit. Ada baiknya diam. Karena bergegas adalah kebodohan


Pada dasarnya kita, manusia, adalah mahluk a sosial, arogan, egois, tamak, keras kepala dan penakut. Kita membutuhkan orang lain untuk sekedar rasa aman. Seseorang yang bisa menggenapkan kita. Alegori Robinson Cruise yang disusun oleh Daniel Defoe adalah sebuah guyonan komikal yang bohong belaka. Tak pernah ada manusia yang benar-benar sendiri. Bahkan dalam kesendiriannya ia sebenarnya sedang bersama sesuatu. Geist yang tersembunyi.

Homo Sapiens tak diciptakan untuk menjadi lone hunter. Mereka adalah mahluk komunal yang butuh orang lain untuk bekerja sama. Bahkan dalam mitologi agama, Adam, tak puas menikmati surga sendirian dan meminta diciptakan mahluk lain. Kosmos tak lagi sama. Ketunggalan yang dahulu didominasi Adam, berubah dengan kemunculan Hawa. Jagat raya tak lagi utuh dalam keganjilan. Genap adalah definisi sempurna.

Tapi sekali lagi jagat pramuditha membuktikan. Bahwa dua kepala jarang bisa di damaikan. Merusak adalah sifat lahiriah manusia yang paling hakiki. Bahwa menyakiti adalah sebuah keharusan yang sulit untuk dihindari. Meski telah dilengkapi nalar, manusia kerap kali jatuh pada sebuah pilihan-pilihan bodoh. Menyakiti atas dorongan perasaan. Dengan alibi sederhana "kita tak bisa mengontrol perasaan".

Saat kemarahan menguasai diri maka sifat paling purba manusia akan muncul. Sifat destruktif yang tak akan puas sampai rasa bencinya selesai. Maka manusia menciptakan eskapisme. Pelarian untuk rasa sakit yang teramat sangat. Di sini sekali lagi manusia tidak belajar mengenai hidup. Bahwa lari tak pernah jadi penyelesaian. Hidup adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya, kata Soe Hok Gie. Lalu apa yang ditakutkan? Bukankah nasib adalah narasi yang kita tulis sendiri?

Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (III)


Klenteng Fung San Sie terletak di kawasan pertokoan Jompo yang padat. Anda harus blusukan masuk ke sebuah gang kecil dan menempuh jalan yang lumayan berliku untuk sampai kesana. Tak banyak orang yang tahu bahwa Klenteng ini merupakan yang tertua di Jember. Dibangun setahun sebelum Indonesia merdeka oleh ekspatriat asli China daratan yang mengadu nasib di Jember.


Setiap perayaan Imlek, sejak pukul empat pagi para pengunjung klenteng sudah mengantri untuk melakukan sembahyang. Bagi umat yang percaya, kelenteng tertua ini dapat membawa berkah tersendiri. “Padahal nyelekit ke dalam gang. Tapi sejak subuh sudah banyak pengunjung yang sembahyang,” kata Sugiono Putra, pengurus klenteng Fung San Sie ini.

            A Kiem, begitu Sugiono Putra biasa disapa, merupakan generasi ketiga pengurus klenteng ini. Salah satu pendiri klenteng Fung San Sie adalah nenek langsung dari A Kiem. Dan memang sejak awal didirikan keluarga A Kiem lah yang mengurusi klenteng tersebut. “Ngurusi ini (klenteng) bukan seperti dagang. Tidak ada keuntungan materi. Ini perkara ikhlas dan berbagi,” katanya.





           Meski berdiri lebih dari 61 tahun tapi klenteng ini masih terlihat terawat. Bahkan masih ada salah satu bilik ruangan yang masih berupa bangunan asli dari tahun 46. Cerobong asap yang berdiri di salah satu sudut klenteng juga masih tegak beridiri. Beberapa patung dan lukisan juga masih terawat meski sudah berumur lebih dari beberapa dekade.


           Pada masa jayanya klenteng ini memiliki halaman yang luas. Dibangun di tepi sungai Bedadung yang mengalir jernih. A Kiem mengingat masa kecilnya dahulu pada tahun 1950 sebelum pergolakan PKI, sungai Bedadung dipenuhi ikan mujair. Aliran sungai yang tenang dan rindang pepohonan membuat klenteng ini sangat damai. Seperti sebuah sajak dari penyair China daratan Li Bai. "I do not dare to speak in a loud voice, I fear to disturb the people in heaven."


Sayang seiring dengan kemajuan kota Jember Klenteng ini semakin tersingkir. A Kiem bukan seorang pedagang sehingga sedikit demi sedikit tanah kosong di kanan kirinya dibangun rumah. Kondisi klenteng Fung San Sie meski tak buruk tapi terjepit diantara pembangunan rumah dan kos-kosan yang semakin sesak. Selain itu sungai Bedadung kini sudah tak lagi bersih. Bau menyengat limbah pasar membuat sungai ini tak mungkin lagi bisa di buat mandi. "Padahal baru seperti kemarin saya mandi di sana dan mengail mujair."


A Kiem mewarisi perawatan klenteng ini sejak tahun 70an dari sang Ibu. Sebagai generasi ketiga ia telah melakukan pemugaran sedikit demi sedikit. “Dulu lantainya dari tanah, lalu diganti tehel dan ada rejeki ya di ganti keramik,” katanya. Kondisi Klenteng Fung San Sie bisa dikatakan lumayan megah. Meski harus  di desak rumah rumah petak kawasan pertokoan Jompo.
         
           Pada perayaan Imlek 2563 kemarin ia tetap berusaha menjaga dan membantu persiapan hari raya. Meski tubuhnya terserang sakit stroke dan harus duduk sepanjang hari di kursi. Namun ia tetap ramah menyapa ratusan tamu yang hadir sejak pagi. “Biasanya ramai pas Imlek dan ulang tahun Dewi Kwan Im. Di sini banyak juga yang mencari berkah keselamatan dan kesehatan,” lanjut A Kiem.
            
            Walau disebut klenteng, namun Fung San Sie merupakan rumah ibadat bagi umat Tridharma. Artinya di rumah ibadat ini terdapat sesembahan untuk umat Kong Hu Cu, Budha dan Hindu. Pada 1968 klenteng ini mendapatkan sertifikat dari direktorat urusan agama Hindu Bali dan Budha. “Intinya bagaimana menyikapi keragaman. Pancasila sudah menjawab itu. Bahwa kita harus toleran dengan perbedaan,” katanya.
            
            Bagi mereka yang hadir dan sembahyang di klenteng ini para pengurus telah menyediakan makanan dan minuman. Mereka ingin berbagi rejeki pada hari raya Imlek ini dengan sesama. Bahkan tak cukup sampai disitu bagi mereka para pengunjung yang hadir diberikan angpau berupa beras dan buah tangan kue keranjang. “Kue keranjang itu kan liat. Sebagai simbol rejeki yang tak habis-habis. Sedangkan angpau beras itu agar pangan kita selama setaun bisa dicukupi,” kata seorang pengunjung yang hadir.
            




            Tak ada larangan bagi umat lain untuk memasuki klenteng ini. Walau dikatakan rumah ibadat bagi umat tridharma. Tapi A Kiem mempersilahkan siapapun yang ingin masuk, tanpa memandang suku agama dan ras. Ini merupakan bentuk penghormatan para pengurus terhadap Gus Dur yang dianggap sangat pluralis. “Saya kira tak ada orang tionghoa yang tak kenal dan ingat jasa Gus Dur. Bahkan putrinya saya dengar sangat menghargai perbedaan.” 
            
           Para pengunjung klenteng Fung San Sie juga tak berasal dari Jember saja. Bahkan ada mereka yang datang dari Sulawesi, Jakarta, Medan dan Surabaya. Beberapa waktu lalu bahkan ada orang dari Amerika yang datang ke klenteng ini untuk melihat-lihat. “Saya gak tat mereka tau darimana klenteng ini. Tapi saya sih senang saja artinya Fung San Sie dikenal sampai ke luar.”

Pada tahun Naga Air ini para pengurus Klenteng Fung San Sie berharap agar kedamaian tetap terjaga di Indonesia. Selain itu para pengurus juga berharap keberagaman dan perbedaan yang ada di Jember bisa tetap ada. Jember bisa dikatakan satu-satunya daerah yang mampu menjaga perbedaan tanpa terjadi kekerasan. “Semoga bangsa Indonesia bisa lebih aman. Lebih rukun dan sejahtera.” Sementara langit bergemuruh seperti naga yang sedang mengamuk.

Kamis, 02 Februari 2012

Syiah dan Sejarah panjang kekerasan

            Saya kira wajah Islam di Indonesia hari ini telah gagal menunjukan sisi humanismenya. Penjagalan atas nama tuhan masih terjadi. Dan penindasan yang dilakukan sekelompok manusia fasis masih saja ada. Parahnya adalah negara mendiamkan atau dalam beberapa kasus mendukung penindasan ini. Mungkin benar apa kata penyair Jerman Bertold Brecht dalam salah satu syairnya. Bahwa dunia sedang berrada di gelap masa.

Jika almarhum Abdurahman Wahid masih hidup. Mungkin ia akan sangat kecewa, marah dan kesal atas apa yang telah terjadi di Sampang, Madura. Muslim yang mayoritas berasal dari golongan cendekia Nahdatul Ulama yang sejak lama dikenal dengan keramahannya terhadap perbedaan. Saya melihat ini bukan tanda-tanda dekadensi NU, melainkan kegagalam kita sama dalam memaknai perubahan zaman dengan sikap welas asih. 

Permasalahan di Sampang memang jauh dari kesederhanaan. Perihal klaim salah satu kelompok yang mengklaim pewaris tunggal kebenaran ilahi. Perihal sekelompok manusia yang mengklaim lebih benar daripada yang lain. Berdalih berdasarkan egosentrisme dan melegitimasi kekerasaan terhadap yang lain. Anda bisa melihat buktinya di salah satu rekaman video pengusiran di youtube dimana Halim Toha, perwakilan Kementrian Agama Sampang, mengusir jemaah syiah dengan arogansi melebihi kuasa Allah. "Saya kementrian agama. Saya yang mengatur agama di sampang." 

Bermula dari usaha jemaah Syiah di Nankrenang untuk memperoleh hak berkeyakinan. Namun yang terjadi adalah teror dan penindasan oleh mereka yang mengaku jemaah Ahlus Sunnah. Dalam artikel berjudul Api Kebencian dalam Sekam yang ditulis oleh Muhammad Iqbal tampak jelas ada usaha sistematis oleh ulama-ulama dan aparatus lokal untuk mengengkang hak Jemaah Syiah.

            Perlahan lahan sejak 2006 berbagai fitnah dihembuskan yang menganggap Syiah sebagai aliran terlarang. Padahal jauh sebelumnya Jemaah Syiah di Sampang, lebih khusus di Nangkrenang hidup berdampingan dengan warga sekitar. Sedikit demi sedikit warga sekitar diajak untuk memendam kebencian. Memelihara api dalam sekam. Sehingga semua amarah membuat perilaku jemaah Syiah tampak salah. Semua ini di dilakukan oleh mereka yang mengaku ulama Ahlus Sunnah. 

Alasannya jemaah Syiah dianggap sesat karena menistakan para sahabat nabi,. Seperti Abu Bakar As Shidiq, Umar Bin Khatab, dan Usman Bin Affan. Tudingan ini belum dapat dibuktikan kebenarannya. Jikalaupun benar. Apakah menjadi hak seseorang mengkafirkan tanpa ada usaha mendamaikan?

Konon pada 2009 diselenggarakan pertemuan antara perwakilan Ahlus Sunnah dan Jemaah Syiah bertemu. Dalam kesempatan itu mereka beradu argumen. Jemaah syiah dituduh tak melakukan sholat lima waktu, memiliki al quran lain selain yang disebut al quran Fatimah. Semua dibantah oleh Jemaah Syiah Sampang. Namun secara sepihak, seperti yang diungkapkan Iqbal, Syiah dinyatakan sesat.

Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala kata intelektual muslim Syiah, Ali Syariati. Saya kira kata-kata itu, sampai hari ini, belum lagi selesai menemukan bantahannya. Sejak kematian Imam Hussain hingga hari ini, kekerasan darah selalu menjadi karib kaum Syiah. Apa yang terjadi pada umat Syiah di Sampang hanya sebagian kecil dari sejarah panjang penindasan pada kaum ini.

Baru dalam hitungan bulan yang lalu saya sebagai umat muslim merayakan Asyura. Sebuah hari spesial yang dalam sejarah islam terjadi berbagai kejadian magis, historis dan epik. Seperti hari saat Allah, tuhan umat muslim, menciptakan jagat raya pada hari kesepuluh, hari diciptakannya Adam, diciptakannya Jibril, hari kelahiran Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayub, dan hari dimana Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan (orang yang pernah sangat membenci Rasulullah), secara biadab membunuh Imam Hussain pada 680 masehi.

            Karen Armstrong dalam bukunya Short History of Islam, mengatakan ini salah satu dari sekian banyak fitna (pertentangan) yang terjadi dalam islam. Kematian Imam Hussain melahirkan Syiah. Ini bukan tanpa sebab, karena pada sebelas tahun sebelumnya dinasti Ummayyah juga membunuh imam Hussain. Pelakunya jelas kerabat Yazid, yang meracuni cucu tertua Rasullullah Muhammad.

            Dua alasan ini cukup bagi para pecinta Ali untuk kemudian meradang. Menganggap bahwa rezim Ummayyah adalah rezim yang tiran, despotik lagi lalim. Seperti kaum Khawarij yang dulu memisahkan diri dari kalifah Ali, karena menganggap Ali gagal menindak pembunuh kalifah Ustman. Sejak kematiah Hussain kaum Syiah pun mundur ke jazirah Persia (Iran-Iraq) demi menjaga kehormatan dan menghindari rezim Yazid.

            Jalalludin Rakhmat, intelektual muslim Syiah Indonesia, menulis dalam sebuah pengantar yang menggambarkan bahwa kaum Syiah adalah kaum yang dekat dengan kematian dan darah. “…suatu kesadaran sejarah dalam hati orang-orang Syi’ah yang menyaksikan 10 Muharam sebagai benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan nurani masa lalu.”

Sepanjang sejarah kaum Syiah selalu merasa memiliki keterkaitan emosional dengan peristiwa Karbala. Hal inilah yang membuat Syiah menjadi eksklusif. Keterikatan emosional yang begitu kuat membuat mereka merindukan Imam Mahdi. Keturunan nabi yang kelak akan membawa islam (dan dunia) ke arah yang jauh lebih baik.

Linda Cristanty seorang wartawan cum sastrawan pernah menuliskan. " Saat Cucu Nabi dibantai dan disakiti. Syiahlah kaum pertama yang angkat senjata dan berkorban untuk menyelamatkan mereka.” Apa pun kata dunia tentang orang-orang Syiah, kita harus ingat bahwa mereka yang membantu kakek moyang kita. Bahkan orang-orang Sunni yang menyatakan diri mewarisi ajaran Muhammad, semuanya melarikan diri saat Imam Hussain dipenggal dengan keji.

            Kekerasan terhadap umat beragama di Indonesia bukanlah hal yang baru. Sejak sebelum kemerdekaan di Sumatera Barat yang dilakukan oleh kaum padri. Salah satu tokok padri yang terkemuka adalah tuanku Imam Bonjol, yang telah melakukan pembasmian mashab non hambali. Semua yang bertentangan dengannya dimusnahkan atas nama perjuangan melawan penjajah.

            Di era modern seperti saat ini organisasi fasis yang berkedok agama kerap melakukan penindasan. Kekerasan dalam beribadah di Indonesia tiap tahun kian meningkat. Wahid Intitute baru baru ini merilis data bahwa di tanah air terjadi peningkatan tindakan fasisme yang cukup signifikan. Jika pada 2010 lalu terjadi 64 kasus kekerasan terhadap umat beragama. Maka tahun ini meningkat menjadi 92 kasus pelanggaran yang terjadi selama 2011.

Dengan rincian kekerasan kepada Jemaat Ahmadiyah adalah korban terbanyak dengan 46 kasus (50%). Kemudian Jemaat GKI Taman Yasmin Bogor 13 kasus (14%), jemaat gereja lainnya 12 kasus (13%), kelompok terduga sesat 8 kasus (9%), Millah Abraham (4 kasus), kelompok Syiah dan aliran AKI (2 kasus), aliran Nurul Amal, aliran Bedatuan, aliran Islam Suci, Padepokan Padange Ati dan jemaah Masjid di NTT, masing-masing 1 kasus. 

            Apa yang terjadi pada jemaat Syiah di Sampang Madura adalah bukti ketakutan atas iman yang lemah. Seperti juga kaum Padri yang takut nagari-nagari tenggelam dalam permusuhan mazhab. Beberapa kelompok dominan yang mengaku beragama  kemudian memaksaakan kehendak. Seolah-olah kebenaran adalah perihal jumlah.

Saya membayangkan bagaimana perasaan Imam Hussain saat memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersama 30 orang penunggang kuda, 40 pejalan kaki dan banyak anak-anak. Sementara di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Apakah Imam Hussain tak menyadari bahwa maut sedang mengintai nyawanya?

            Muhammad Ali Hanafiah, saudara tiri Imam Hussain ternyata masih hidup sat itu untuk berkisah. Bahwa pada detik detik sebelum keberangatnya menuju Kuffah Imam Hussain masih tegak sebagai muslim yang berdaulat. Dengan tegas Imam Hussain berkata. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan."

            Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Bertolt Brecht dalam puisinya To Posterity. Sebuah nubuat mengenai zaman yang gelap. Zaman yang tunduk pada dominasi teror mayoritas yang menolak kritik. “Ah, what an age it is, When to speak of trees is almost a crime, For it is a kind of silence about injustice!” 

Kerdil lagi Hina



Sesungguhnya manusia yang paling hina adalah mereka yang tak bisa menerima kekurangan diri dan mencari kelemahan orang lain. Dalam hidup manusia semacam ini pasti selalu dan akan kita temui. Mereka yang selalu jengah dengan keberhasilan dan kelebihan orang lain. Orang yang dengki dengan kemampuan orang lain. Orang yang tersiksa karena dirinya tak cukup baik untuk bisa hidup dengan rasa ikhlas.

            Saya tahu orang semacam ini. Karena saya pernah menjadi orang semacam ini. Orang yang kerdil jiwanya sehingga tak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Selalu berusaha mencari celah salah untuk kemudian memanfaatkan cela itu sebagai senjata. Manusia yang selalu dikecam rasa sesak didada karena tak mampu meraih hidup yang lebih baik.

Mereka bukan kerdil seperti Hobbit dalam mitologi JRR Tolkien. Tapi lebih pada kekerdilan sikap seperti yang dialami Habil anak tertua Adam yang lemah. Peradaban Katolik menyebut anak adam yang ini sebagai Cain. Mereka yang tergoda iblis untuk dikuasai rasa iri dan kelemahan mental. Lalu menjatuhkan/menyakiti orang lain agar bisa menutupi kekurangan dirinya. Orang-orang yang terlalu menyedihkan untuk bisa disebut sebagai manusia.