Jumat, 30 Desember 2011

Gambar Huanjing



Saya menemukan gambar modifikasi the last supper karya Leonardo Da Vinci di laman Facebook seorang kawan hari ini. Gambarnya lucu, karena yesus dan 12 rasul diganti dengan tokoh-tokoh populer dunia. Seperti Ernesto Guevara, Tintin, Groucho Marx (atau Charlie Caplin ), Spiderman, John Lennon, Nelson Mandela, Bart Simpson, Mickey Mouse  dan lainnya saya tak kenal.

Ini seperti memandang ulang kreasi post moi indie yang dibikin oleh Pidi Baiq. Mungkin ada yang tau siapa artist pembuat gambar lukisan ini? Saya penasaran sekali.

Natal dan Islam yang penuh Kasih


Dan selamat sejahteralah atasnya dihari dilahirkan, dihari dia meninggal dan dihari dia akan dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 15)

Ada sebuah pertanyaan yang sering membuat saya bangun dari tidur dengan keringat yang deras mengalir. Apa jadinya jika saya dilahirkan bukan sebagai orang islam. Atau bagaimana jika islam itu bukan sebuah kebenaran. Ada sebuah celah dimana sebagai umat saya dituntut untuk bertauhid tanpa tanya. Tentu demikan karena ide mengenai keimanan yang lima berawal dari rasa pasrah total terhadap sesuatu yang transenden. Sebuah gagasan mengenai ketundukan total.

Tapi dalam hidup saya yang tak seberapa panjang ini. Saya menemukan bahwa nikmat islam bukan sesuatu yang given. Ia membutuhkan sebuah pergulatan dan perjuangan untuk mendapatkannya.

Islam, seperti juga seluruh agama lain, mengajarkan kebajikan, sikap welas asih dan terkadang juga kekerasan. Tergantung darimana perspektif anda melihatnya. Namun satu hal yang jelas islam tak pernah mengajarkan kesompralan untuk mengatur klaim kebenaran terhadap firman agama lain. Well, anda bisa membaca surat Al Kafirun. Seorang dengan IQ paling tiarap dapat memahami makna surat itu sebagai kartu kuning terhadap liturgi umat lain. Semacam kredo New Yorker untuk berkata mind your own religion.

Selang semalam sebelum natal tiba. Puluhan akun twitter dan blog beramai ramai mempersoalkan keabsahan natal umat Kristiani. Bahwa 25 Desember adalah perayaan kaum pagan (beberapa menuliskan kafir) terhadap pemujaan dewa matahari Apollo.

Beberapa negara di Eropa Timur seperti Ukraina, Russia dan Macedonia melaksanakan natal di antara 7 dan 19 Januari. So? Sama juga berbedanya umat islam yang berebut kuasa perihal penentuan satu Syawal. Sekali lagi perbedaan adalah fitrah. Karena jika Allah berkehendak fasis dengan menyatukan seluruh umat. Maka hal itu adalah pekerjaan maha mudah bagi Nya.

Perdebatan mengenai keabsahan natal. merupakan perdebatan yang menurut saya terlalu tolol untuk dimasuki. Karena jauh daripada itu substansi natal bukan pada kapan itu berlangsung. Karena Natal bagi umat kristiani (dalam hal ini Khatolik) tak melulu tentang perayaan dan hadiah. Namun juga tentang masa advent, sebuah penantian, persiapan untuk menyambut kelahiran sang putera Tuhan. Merujuk diskusi saya dengan Romo Yudhi, pastor Paroki Gerjea Katolik Santo Yusup, masa advent adalah masa pertaubatan. Dengan kata lain sebuah sikap (lagi-lagi) pasrah untuk mengakui kejumudan diri.

Natal juga sebagai momen retrospeksi. Bahwa pada saat kelahiran - Nya. Yusuf dan Maria yang hamil tua sedang berjalan di tengah malam di kota Bethlehem. Di malam dimana seluruh bintang bersinar sangat terang. Setelah berjalan di seluruh penjuru kota, dengan perut melilit, Maria tetap tabah meski ditolak menginap dimana mana. Seperti juga dalam islam, sebelum terjadinya hijrah, muslim diasingkan oleh kaum Quraish Mekah.

Maria dan Yusuf terus berjalan. Tentu tak mudah dengan perut membesar dan sebuah tanggung jawab iman, Maria merasa menanggung beban seluruh umat manusia. Mereka berjalan sampai menemukan sebuah kandang untuk tempat berteduh dan melahirkan bayi Yesus. Hingga orang-orang majusi yang menyembah api merasa berbahagia karena bintang terang telah lahir di Betlehem.

Apakah Yesus lahir 25 Desember? Itu bukan perkara penting. Sama dengan perdebatan mengenai Nabi terakhir Ahmad atau Muhammad. Karena semua ini adalah perkara Tauhid dan Tauhid adalah masalah keyakinan. Apa yang menjadi keputusan bahwa 25 Desember, terlepas itu perayaan kaum pagan romawi terhadap Apolo, adalah hak dan milik umat katolik. Dan jika umat islam, atau siapapun mereka yang mengklaim menjadi pewaris kebernaran Islam tak punya hak apapun untuk ambil bagian.

Imam Syamsuidin As Sarakhsy al Mabsuth dalam Darul Ma'rifah mengatakan natrukuhum wamaa yadiinun (biarkan saja masing-masing mereka menenukan pilihan aqidah mereka). Umat non islam atau kalangan ulama menyebut ahludz dzimmah (artinya tanggung jawab merujuk kepada nasib mereka merupakan tanggung jawab Allah). Berhak dilindungi dan diberikan kebebasan untuk melakukan segala liturgi dan akidah yang mereka yakini.

Mengenai tafsir umat kristiani (dalam banyak surat Allah menyebut mereka nasoro atawa ahlul kitab) bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran kristus putra Allah. Itu sepenuhnya adalah tauhid dan aqidah milik mereka. Sebagai umat islam kita bahkan dituntut untuk menjamin kemerdekaan dan hak mereka untuk beribadah sesuai dengan ajarannya. Termasuk juga saat mereka ahludz dzimmah melakukan da'wah.

Logikanya sederhana. Jika kita sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah dan menyebarkan agama dengan imbalan surga firdaus yang kekal. Maka mereka dengan tauhid dan aqidah yang mereka yakini juga pasti memiliki pemahaman serupa. Adalah sebuah oxymoron jika kemudian kita mengaku beriman dan bertakwa tetapi takut saat ada umat lain berdakwah. Apakah selemah itu iman kita sehingga perlu mengekang dan menindas umat lain dalam beribadah?

Dalam Islamologi karangan Maulana Muhammad Ali, ulama Ahmadiyah Lahore, mengatakan bahwa jika iman kita kuat. Tidak perlu takut terhadap perubahan yang bagaimanapun. Karena ajaran awal yang diberikan kepada Nabi adalah kesabaran dan ketaatan yang tulus. Ia juga membedah dua tahapan dakwah awal islam. Sebagai fase Mekah dan fase Madinah. Dimana pada fase Mekkah belum ada syariat dan seluruh umat diminta untuk bersabar. Karena kesabaran itulah kunci dari sebenar benarnya iman.

Dalam sejarah dan kesepakatan konsili Nicea, Gereja Katolik berusaha untuk berkembang dan beradaptasi dengan masyarakat yang ada. Seperti juga umat islam bersepakat mengenai hal-hal yang tak tertulis dalam Al Quran dan Hadist. Ini merupakan ijtihad versi gereja Katolik, yang menurut pendapat saya pribadi, patut dihormati dan dihargai.

Gereja katolik dan seluruh sekte dalam kristen bersepakat melalui konsili Nicea. Seperti juga islam bersepakat dalam sidang isbat penentuan idul fitri (yang konyolnya tak pernah ada perdebatan mengenai idul adha). Semua agama memiliki perdebatannya sendiri. Bagaimana Calvinis, Opus Dei, Katolik dan Orthodox memiliki akidah dan tauhidnya sendiri. Kita sebagai umat islam hendaknya bertoleransi saja.

Islam adalah agama kedamaian. Seperti etimologi awal As Salaam yang berarti perdamaian. Islam merupakan rahmatan lil alamin. Tak hanya bagi umat muslim sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia dan mahluk hidup di antaranya. Kita bahkan dilarang dan dilaknat Allah untuk tak menghina tuhan umat lain. Seperti dalam Al An'aam ayat 108. "dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan mereka selain Allah. Karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan,"

Islam juga melakukan adaptasi, infiltrasi dan modifikasi. Seperti saat permulaan masuknya islam ke Indonesia melalui pesisir utara. Tentu kita kenal tembang lir ilir gubahan Sunan Kalijaga dan bagaimana ia memanfaatkan kebudayaan tersebut sebagai infilitrasi islam ke tanah jawa. Gereja Katolik juga sama. Pada saat kekaisaran Konstatinus agung, mereka menyadari bahwa tak mungkin memaksakan ajaran kasih yang luas tanpa ada kesepakatan melngenai kanon-kanon keimanan. Tanpa ini mustahil ajaran kasih bisa masuk kedalam relung warga romawi dengan kerelaan.

Adaptasi adalah kunci keberlangsungan sebuah ajaran. Islam, saya kira juga demikian. Bukankah islam hanya ada satu di masa Rasulullah Muhammad? Namun kini ada ratusan sekte dan aliran yang mengklaim kebenaran tunggal. Belum lagi perdebatan Fiqih, Tauhid dan Syar'i antara Sunni dan Syiah. Gereja katolik juga demikian sampai dimana mereka terpaksa harus berpisah dengan saudara-saudara protestan. Bahwa tafsir adalah sebuah efek apa boleh buat dari sebuah agama.

Tak perlu memaksakan logika agama sendiri terhadap agama lain. Anda yang muslim tak akan dapat menemukan satupun alasan rasional mengenai trinitas. Seperti juga umat katolik tak dapat menemukan rasionalitas terhadap ajaran hindu mengenai tertidurnya Wisnu untuk menciptakan dunia pararel lain. Karena memang agama tak masuk akal. Dan melogikakan agama adalah pekerjaan paling tolol setelah menjadi dubing sinetron mak lampir di Indosiar.

Saya lahir dari keluarga dengan latar belakang islam yang sangat beragam. Kakek saya adalah seorang Kyai di Banyuwangi, ayah saya adalah pengurus cabang Muhammadiyah Bondowoso, Kakak saya yang pertama adalah simpatisan hizbut tahrir dan yang lain adalah self proclaimed eslam protestan. Ini bukan upaya gagah-gagahan. Ini adalah curhat karena lahir dalam keluarga semacam ini bisa jadi semacam neraka atau surga tergantung perspektif anda melihat.

Dari sekian banyak pendapat mengenai tafsir saya diajarkan untuk memiliki kehendak bebas. Semacam keberanian mencari tahu tentang apa sebenarnya agama islam itu. Bukan hanya diam saja dan duduk menerima bahwa islam adalah A B C dan seterusnya. Kritis bukan berarti nyinyir dan liberal. Ada beberapa batas yang tak perlu lagi dipertanyakan. Seperti keesaan Allah dan kenabian Muhammad. Tetapi dari kebebasan itu saya malah mendapatkan banyak pemahaman. Meminjam istilah Romo Yudhi, dalam setiap kebudayaan/literatur ada bibit-bibit keimanan tuhan.

Terakhir ada baiknya kita melaksanakan wasiat Umar Ibn Khatab perilhal ahludz dzimmah seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori. Uushiikum bidzimmatillahi fainnahuu dzimmatu nabiyikum. (Aku berwasiat kepada kalian agar menjaga Dzimmah Allah, karena sesungguhnya ia juga merupakan Dzimmah kalian)

Kamis, 29 Desember 2011

Sayembara Kecil Menulis Resensi Retrospektif Album HOMICIDE; "Godzkilla Necronometry"



2012 sudah hampir datang dan jika nubuat suku Maya benar, maka ini tahun terakhir hidup kita di Bumi. Namun bukan tentang itu anda membaca posting ini. Yak benar, sepuluh tahun lalu album Homicide pertama, "Godzkilla Necronometry" dirilis dalam dua bentuk; sebagai album dan sebagai bagian split dengan Balcony, grup hardcore dari Bandung Juga. Album ini cukup penting bukan karena sebagai album HOMICIDE pertama, tapi karena merubah tak hanya wajah hiphop lokal namun juga wajah musik Indonesia.

Untuk sekedar merayakannya kecil-kecilan, pengelola FB Unofficial Homicide berniat membuat sebuah lomba menulis essay retrospektif tentang album tersebut. Mereka membuat ini sebagai bentuk tribute. Penghargaan sadar atas kerja keras dan karya kanon Homicide. Hadiahnya pun sederhana. Hanya sebuah T-Shirt HOMICIDE dan 2 buah poster HOMICIDE ukuran A3 yang belum keluar dari plastiknya sejak dibeli dulu, akan diberikan kepada seorang pemenang dengan tulisan terbaik. Penilaian tidak akan dilakukan sendirian. Rencananya mereka akan meminta bantuan beberapa penulis/jurnalis musik yang sudah kenal. Beberapa waktu lalu Taufiq Rahman, co founder dan editor Jakartabeat, tertarik untuk menjadi juri dan menaruh review terbaik di situs kolektif itu.

Karya penulisan tidak dibatasi secara teknis, tapi mungkin 2000 kata udah cukup panjang. Silahkan kirim tulisannya ke pusakakalam@gmail.com, dan batas pengirimannya sampai dengan akhir Januari 2012. Ingat sebelum kiamat!


Untuk lebih jelas mengenai apa dan bagaimana Godzkilla Necronometry" bisa main ke SINI.

Kamis, 22 Desember 2011

Anak Mama


"Dhani nggak apa2? jng lp mkn. jg kesehatan y mama syg dhani"
Ibu saya itu reinkarnasi Nostradamus. Mungkin juga Jayabaya. Atau Ronggowarsito. Atau Merlin. Entahlah. Tapi yang jelas dia tahu kapan saya sedang jatuh, sedih dan membutuhkan dukungan. Padahal saya bukan orang yang suka bicara. Dalam banyak hal saya menyimpan masalah sendiri. Meski sering labil untuk kemudian mempostingkan perasaan ke dalam social media. Well, mungkin ini penyakit masyarakat digital paska industri. Scizhocybernia. Kecemasan digital.

Ibu saya gagap teknologi. Gagap informasi. Tapi tak membuat ibu saya buta terhadap masalah yang ada. Saya dulu ingat saat SD ibu saya berujar "Pak Harto mari ngene mudun, wes wayahe mandeg," itu sekitar tahun 96. Jauh sebelum gejolak ekonomi dan politik 98 terjadi. Dan entah karena kebetulan atau karena ibu saya 'mandhi' pak Harto benar-benar mundur. Dalam setiap ibu selalu ada kekuatan tersembunyi yang akan membuat anaknya merasa bangga telah dilahirkan.

Ibu saya tak tahu facebook atau twitter atau blog. Dia hanya tahu Al Quran, Dapur dan Masjid. Tapi dia tahu jika saya ada masalah, sakit atau sedih. Pernah saat kuliah semester 3 saya sakit tipes di kosan. Saya tak memberi tahu Ibu dan ia datang pada hari kedua dengan air mata. Ibu saya mimpi kakinya di injek gajah. Entahlah analogi gajah dan ukuran tubuh saya mungkin memiliki kemiripan.

Ibu saya marah karena tak diberitahu sedang sakit. Dan ia menjemput paksa saya untuk pulang beristirahat di rumah. 

Sampai hari ini saya tak tahu apa yang mendorong ibu saya untuk datang kala itu. Ibu sepertinya punya indra keenam untuk bisa meramalkan kondisi anaknya. Semacam radar untuk mendeteksi kebohongan, keadaan atau bahkan perasaan paling tersembunyi dari diri anaknya. Semua ibu memiliki indra ini. Tak hanya ibu saya tapi seluruh ibu yang melahirkan anak-anak paling hebat di dunia.

Hari ini ibu saya tiba-tiba menegur keadaan saya. Meminta anaknya yang badung ini untuk menjaga diri, jangan telat makan dan jaga kesehatan. Entahlah apa yang mendorong dia untuk melakukan itu. Mungkin ibu tahu kalau saya sedang sedih. Atau tahu saya sedang sangat labil. Apapun itu saya percaya tak ada satupun anak di dunia yang sanggup sembunyi dari perhatian ibunya.

Tak banyak yang mengetahui jika hari ini terjadi Kongres Perempuan Indonesia (1) pada 22-25 Desember 1928 (beberapa bulan seusai sumpah pemuda pemudi). Muhidin M Dahlan, seorang kronik sejarah Indonesia merekam ini dari majalah Isteri yang mencatat dengan detil kongres itu. Kongres itu diikuti 30 pergerakan semasa. Di situ ada Nyi Hajar Dewantara. Ny Ali Sastroamidjojo dll. Perdebatan paling mencuat saat itu adalah Poligami (Organ Sedar dan Aisjijah bertarung keras dalam forum).

Untuk memperingati Hari Kongres Perempuan Indonesia yang jatuh hari ini 84 tahun lalu itu di Yogyakarta. Saya ingin menulis ulang kisah ini. Tentang bagaimana kepedulian sederhana dari seroang perempuan bisa jadi mood booster paling ampuh. Ini juga tulisan untuk segala ibu, tak melulu bagi mereka perempuan yang melahirkan tapi dengan asih dan asuh merawat anak-anak, yang dengan rock and roll telah tulus mencintai kita. 


Terimakasih mamah. Dhani juga sayang mamah.

Kamis, 15 Desember 2011

Catatan kecil yang panjang


~ Boleh lapar tapi tak boleh berhenti tulis membaca.

Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah senja keemasan yang pecah di horison, sambil menulis sebuah catatan dan ditemani secangkir kopi hitam pahit yang pekat? Kopi yang memiliki rasa pahit getir dimana saat kau rasakan di ujung lidahmu akan tersisa getir yang teramat sangat. Seperti film tengah malam yang mengantarkanmu tidur namun berhasil merebut perhatianmu hingga ia usai.

Catatan kecil yang muncul dari rasa heboh dan meletup-letup seusai kau membaca sebuah buku yang sangat menarik. Catatan yang awalnya hendak kau buat pendek, namun berubah menjadi epos panjang, sehingga kau butuh semua keberanianmu untuk menghentikan catatan panjang ini. Seperti semua anak mami yang mesti lepas dari sapihan ibunya untuk pertamakalinya bermain di pantai.

Awalnya kau hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggangmu akibat hujan deras, yang bulir bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan kau pun terdiam lalu teringat sebuah buku baru yang tak sempat kau baca. Lalu diam-diam mencari-cari diantara ratusan tumpukan buku. Seperti kerinduan di sebuah terminal yang menunggu kedatangan.

Jari-jarimu terus menulis dan menulis dan menulis. Sampai sebuah aroma pisang goreng melayang dan menghentikan konsentrasimu dalam menulis catatn kecil yang panjang. Lalu kau sesap lagi hangat kopi pahit itu dan menunggu manis getirnya hilang. Lalu kau mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya perlahan lahan. Seperti kesabaran seorang suami yang menunggu istrinya berdandan.

Kukira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiranmu dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.

Lalu kau melihat senja yang pudar itu pelan-pelan menjadi gelap yang terlalu pekat. Saat kau sedang asik menulis pada bagian klimaks catatn kecilmu yang panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi kau terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli. Bebunyian itu terus nyalang berteriak dari sebuah benda yang berpendar-pendar. Seperti lonceng peringatan bagi umat untuk kemudian larut dalam komuni putra maria.

Kau masih terus dan terus menulis sebuah catatan kecil yang kini sudah menginjak usia halaman kelima. Kau yang awalnya hanya menulis tentang sebuah fragment buku, kini berkembang menulis perihal kebencian, kemarahan, dendam dan sebuah rasa nyeri yang tertahan. Kau terus menulis tanpa menyadari air hangat asin berderai-derai mengalir dari kedua matamu yang kosong menatap nanar monitor. Seperti sebuah aliran perigi pada musim hujan paling deras.

Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Kau masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji  tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.

 "Kriiuiuiuiuiuiuiuik" dan bunyi keparat itu benar-benar memecah konsentrasimu yang sedari pagi kau bangun dengan keangkuhan. Kau terpaksa harus tunduk kali ini. Pisang goreng hangat tadi sudah tandas tak bersisa, sementara cangkir kopi pahitmu sudah selesai dan tinggal ampas. Dengan malas kau berdiri menjerang air dan mulai menyedu kopi pahit lain. Seperti kebeblan yang tak pernah mengakui kekalahan

Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiranmu terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang panjang dan telah tamat berumur 20halaman. Kau membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas kau berkata lirih "Meh kok jadinya puisi galau?"

Terdengar ketukan panjang pada keyboard.

"Ctrl A Del."

Tampilan Baru Dapur Blogspot



Almarhun Harry Roesli pernah berkata. Perubahan sebuah zaman tak bisa ditentang atau dilawan. Tapi ada baiknya dikendalikan dan diarahkan. Saya setuju dengan diktum musisi kanon asal Bandung itu. Seperti juga arus sungai, ia bisa dibelokan, dibendung, ditahan tapi tak akan bisa dibalik arusnya. Sebuah kodrat.

Saya kira ini juga yang terjadi pada Blogspot (blogger) hosting di mana saya menulis selama dua tahun ini. Tampilan dapur (dashboard?) kini semakin cantik, semakin rapi dan ibarat seorang gadis. Sudah menemukan pesonanya sendiri tanpa perlu banyak menggunakan gincu.


Well, saya suka blog saya.

Rabu, 14 Desember 2011

Majalah Combine Edisi September 2011





Beberapa bulan lalu seorang kawan meminta saya untuk menulis di Majalah Combine. Produk berbasis oline dari Resource Institution. Sebuah lembaga yang mendukung pengembangan jaringan informasi berbasis komunitas. Komunitas yang menggali, mengolah, dan mengkomunikasikan informasi demi penguatan masyarakat sipil di Indonesia.

Beberpa pegiat majalah ini adalah kawan saya saat masih aktif dalam gerakan Pers Mahasiswa. Anam, kawan saya yang bekerja di Combine, mengatakan proyek ini untuk mereka pegiat persma yang sudah purna jabatan. Dalam banyak hal ini membantu saya untuk terus berkarya diluar media di mana saya biasa menulis. Selain itu ia menjamin bahwa Combine akan tetap netral dan berusaha sejauh mungkin untuk tidak dikooptasi oleh korporasi manapun.

Anda bisa mendapatkan majalah Combine edisi September 2011 dengan gratis di sini.

Panjang umur perlawanan. Panjang umur perjuangan. Jabat erat.

Sabtu, 10 Desember 2011

Sondang Hutagalung


~ Revolusi memangsa anak-anaknya sendiri
Kukira saat itu Sondang dengan gigil yang teramat sangat bolak balik berjalan di antara kerumuman orang. Berlalu di antara palang besi garis batas pengamanan istana negara. Ada rasa kesal, takut , kalut dan muak tercampur jadi satu. Semua berkelindan dan merasuki nalarnya. Mungkin sedari pagi ia tak makan. Ia mual. Amuk amarah telah merebut kebenarannya sendiri.

Kukira Sondang, seperti juga kebanyakan dari kita, adalah orang biasa. Mengangumi senja yang berlarian di permukan kaca-kaca gedung dingin Jakarta. Megutuk kemacetan di sudirman kala sore tiba. Menikmati sejuk dingin es degan di Taman Ismail Marzuki. Diam berfikir saat rekan sebayanya riuh berdebat dalam diskusi. Dan tentu saja sesekali ia memaki kerbau saat demonstrasi terjadi.

Kukira Sondang mengenal Munir, mengenal Wiji Thukul, mengingat Kudatuli, mengingat Talang Sari, mengingat Tanjung Priuk, mendengar Ahmadiyah dan tentu saja mendengar Lapindo. Tentu ia mengenal semua itu. Gaul berintim dengan lembaga seperti Kontras akan terus mengigir nuraninya untuk terus mengingat. Menolak melupakan penindasan dan merawat ingatan mereka yang bertanggung jawab.

Kukira Sondang juga sama seperti mahasiswa lain di republik ini. Kuliah dengan teratur. Membaca buku. Mengerjakan tugas. Merayakan kesenian dengan teater dan puisi. Sesekali membolos untuk koordinasi aksi. Sibuk bercumbu dengan pacar di kafe-kafe sekitar kampus. Semua sama. Ngopi hingga tengah malam memperbincangkan hal hal remeh. Ia melakukan itu dengan sebuah kebahagiaan. Menjadi salah seorang dari sedikit yang memikul tanggung jawab sebagai agent of change.

Agent of change taik kucing...

Kukira Sondang menyadari bahwa dalam sebuah perjuangan akan selalu ada tumbal. Ia juga menyadari, bahwa hanya sedikit perbedaan antara menjadi idealis atau melakukan kebodohan. Bahwa perihal kurban itu adalah permasalahan sudut pandang. Tak ada satupun manusia di bawah kolong langit yang berhak memberikan nilai atau kuasa hukum dalam sebuah perjuangan. Perjuangan adalah perkara keyakinan diri.

Kukira Sondang pernah membaca fragmen kisah Ramayana. Saat dimana Dewi Sinta membakar diri, sebuah laku mestia, untuk membuktikan kesetian dan kesucian dirinya. Lantas ia tiba tiba mengingat Mohamed Bouazizi. Si tukang sayur asal Tunisia yang membakar diri dan menyulut revolusi Jasmine (melati?). Menumbangkan kediktaktoran degil Ben Ali yang korup lagi bebal. Apalah arti luka demi sebuah perubahan?

Kukira Sondang juga terkejut menengenai sikap bebal dan tolol anggota-anggota DPR RI yang cabul lagi rakus. Juga keputusan pemerintah yang tak juga menuntaskan kasus Munir. Atau perihal ganti rugi Lapindo yang urung tuntas. Semua permasalahan ini menyulut kesadaran. Ada pertarungan dalam dirinya. Satu sisi menolak peduli dan ingin tetap acuh seperti kebanyakan masyarakat kita. Sisi lain berontak menuntut keadilan dan pertanggung jawaban rezim. Ia terjebak dalam keinginannya sendiri.

"dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka"  teriak Rendra.

Kukira Sondang akhirnya muntab. Mengambil satu jerigen penuh bensin dan mengguyur basah tubuhnya. Bau apak keringat, tengik bensin dan kecut air mata menyaru dalam hidungnya. Dengan gagap Sondang berjalan ketengah jalan. Tak seorangpun peduli. Di Jakarta siapa yang peduli dengan orang lain? Apalagi orang asing aneh di jalanan.

Kukira Sondang saat itu mengingat mama. Mengingat bagaimana dengan mesra dan patuh ia memeluknya di gereja. Mendengar kidung puji. Doa tuhan bapa kami dengan khusyuk. Atau betapa ketika kecil rapal Salam Maria membuatnya pulas tertidur. Yesus yang maha kasih juga semua kegiatan gereja. Mengingat betapa natal dan keriuhan bersama keluarga adalah kenangan yang sangat indah. Dan perlahan merapal doa-doa minta maaf. Kalut ia bertanya. "apakah aku akan diampuni bapa?"

Kukira Sondang gemetaran saat menyakalan korek api miliknya. Ada ragu. Ada takut. Ada marah. Ada malu. Ada amuk. Ada dendam. Perlahan api itu lantas melentik lata pada tubuhnya. Membakar dengan giras bulir-bulir bensin yang merekat dalam tubuhnya. Api membakar hangus amarah. Seperti juga dendam membakar habis akal sehat.

"Siapa yang akan berbicara untuk kami / siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini" tanya Sapardi

Kukira Sondang saat itu hendak berteriak. "Dengarlah wahai Indonesia yang tengik! Pemimpin goblok! Dan rakyat yang Pelupa! Ingat ini! Ingat Pengorbananku! Dan terbakarlah kalian semua dalam kepura-puraan!" tapi teriakan itu tak selesai terucap. Otaknya melecutkan rasa sakit yang teramat sangat dan membuatnya terkapar tak berdaya.

Kukira Sondang terbakar amarah. Tapi ia tak sendirian. Karena aku kini juga terbakar amarah. Atas kebodohanku. Kelemahanku. Dan ketakpedulianku pada masalah bangsa ini. Sondang menyulut api kebencian, yang pelan-pelan menyebar di udara. Menunggu para maling dan pencoleng republik ini gosong di dalamnya. Lantas berharap agar api yang membakar tadi melahirkan sebuah kondisi yang lebih baik. Sebuah bangsa yang lebih bernyali menghadapi kebenaran.

Tapi apalah arti sebuah api kecil di tengah keculasan yang menahun? Kegelapan terjadi bukan karena tak ada cahaya, namun karena cahaya tak mampu menerangi area yang muram. Kerusakan bangsa ini bukan terjadi karena banyaknya penjahat. Namun terlalu sedikit orang baik yang mau bangkit berdiri melawan. Mengatakan yang baik adalah benar dan yang buruk adalah salah. Tragedi seringkali terjadi akibat sikap diam.

Kukira Sondang akan selalu diingat. Olehku. Tidak oleh sebagian besar masyarakat republik ini. Dan kematiannya hanya akan berakhir jadi bisik dan perbincangan warung kopi. Seperti biasanya. Karena kebebalan lupa pada republik sudah terlalu akut untuk bisa disembuhkan.

Selamat jalan Sondang. Kau bodoh untuk terbakar sendirian.

Bakar Hak Asasimu!

Nobodycorps Courtesy

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afri HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998


Sondang Hutagalung TERBAKAR Desember 2011

Kamis, 08 Desember 2011

Purgatori

oleh Malcolm Browne


There it seemed we both burned; ..... Fix your eyes here, reader, firmly on the truth
Dante Alighieri dalam Divine Comedy

Musim gugur di Praha. Jan Palach pemuda tanggung dengan wajah murung menatap nanar bendera-bendera komunis. Dalam hatinya ia merasa perih, marah dan tersakiti. Negeri yang semula baik-baik saja menjadi tiran dalam sekejab mata. Dan dekadensi masyarakat membuih seperti air laut. Ia dikepung keinginan keinginan.

Komunisme telah membawa demoralisasi di Cekoslovakia. Seperti narasi-narasi muram dalam kisah Kafka, Jan Palach, merasa terasing dengan kondisi itu. Sebagai pemuda dengan pendidikan yang cukup baik. Ia tahu kata-kata tak lagi berguna dihadapan kebebalan dan moncong senjata. Hal ini membutuhkan tindakan nekat. Sebuah aksi revolusioner yang membiak mata lebar.

Ia tahu dalam kondisi masyarakat yang ditindas dan ditekan. Segala perlawanan adalah tabu. Pemerintah tiran punya kendali represif yang sadis. Panoptikon. Kendali aparat dan prasangka. Merasa dikeroyok Jan Pallach mengamini satu tindakan drastis. Pembakaran diri.

Tindakan ini 20 tahun kemudian memicu apa yang disebut sebagai Velvet Revolution. Revolusi damai yang berujung pada tergulingnya tiran komunis di Ceko. Pengorbanan Jan Pallach (dan tiga orang temannya) membawa pemahaman baru. Bahwa tiran tak mesti dilawan dengan kekerasan. Namun dengan kesadaran dan patronasi terhadap martir. Tapi apakah selalu butuh kurban dalam perubahan?

Meminjam istilah Abu Hanifah. "Revolusi (selalu) memangsa anak kandungnya sendiri:

Enam tahun sebelum kematian Jan Pallach ada Thich Quang Duc seorang biksu budha mahayana. Pada suatu siang 10 Juni 1963. Biksu Thich menuliskan surat untuk presiden Vietnam saat itu, Ngo Dinh Diem. Intinya berisi permohonan tentang rasa tenggang rasa dan kesungguhan untuk memberikan kesetaraan dalam beragama.

Ia merasa sangat sedih dan kesal karena Gereja Katolik mendapatkan privilage dan wewenang berlebih dalam konversi keyakinan. Ia merasa takut keyakinan budha akan hilang karena upaya ini. Berbulan sebelumnya ia mengirimkan surat dan mengajukan protes pada Ngo Dinh Diem. Namun tak ada balasan. Terdesak akan kondisi dan rasa cinta pada budhisme. Ia mengajukan diri melakukan jalan pengorbanan.

Pembakaran diri demi menyentuh hati penguasa.

Momen ini lantas diabadikan oleh Malcolm Browne, yang kelak memperoleh pulitzer, mengejutkan dunia. Sebuah pengurbanan untuk kepedulian. Sebuah usaha nekat drastis yang menjadikan masyarakatnya sendiri sebagai tumbal. Rage Againts The Machine lantas menggunakan foto Browne ini dalam sampul albumnya.

Hari ini 8 Desember 2011. Hari dimana Munir Said Thalib dilahirkan.

Jika ia masih hidup, hari ini Munir akan berumur 46 tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi jugador dalam pemberantasan pelanggaran HAM. Ia tak mati dengan membakar diri. Tapi diracun dalam pesawat yang hendak membawanya ke Amsterdam Belanda.

Sampai hari ini tak pernah ada kelanjutan perkara ini. Seolah-olah kasus ini terhenti. Terlupakan. Dan berusaha dihilangkan. Dalam masyarakat yang gemar gegar sejarah ini, apalah arti seorang Munir? Entah. Bagi saya ia adalah imam mahdi. Setara dengan seluruh intifada Palestina yang membela tanah airnya. Dan milyaran kali lebih baik dari seluruh moral anggota DPR digabungkan.

Hari ini entah saya sangat emosional sekali. Mungkin karena kemarin, pada akhirnya ada orang yang nekat membakar diri. Melakukan tindakan nekat untuk membuka mata pemimpin negeri ini. Tapi demi segala jembut di kolong langit. Pengorbanan pria malang ini tak lebih berharga dari melodrama ayu ting ting dan rafi ahmad.

Sepertinya saya hendak membakar republik ini. Dengan amarah dan dendam.

Selasa, 06 Desember 2011

Karbala Asyura

Ali Syari'ati pernah menulis."Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala."
Ia sedang merujuk kepada salah satu hari besar dalam perayaan muslim Syiah. Tapi ada baiknya jika kita memulai tulisan ini dengan kesepakatan. Bahwa Syiah dan Sunni adalah saudara. Dan mereka sedang menuju satu tempat yang sama dengan jalan yang, katakan saja, berdampingan tapi tak seragam.

Peringatan Asyura dilakukan dimana saja. Ibu saya dirumah merayakan Asyura dengan berpuasa dan membuat kue. Ini bukan langkah ibadah. Sekedar keinginan pribadi dan perasaan berbagai. Beliau sempat kaget dan tak habis pikir, saat saya bercerita kalau di di Irak dan berbagai negara Islam yang bermazhab Syiah Asyura kerap dilakukan dengan melakukan kegiatan menyakiti diri sendiri.

Di Irak misalnya, banyak orang yang berkerumun dijalanan dan memukul-mukul tubuh mereka sampai berdarah. Ini upaya masokis sebagai bentuk rasa kehilangan dan duka cita mendalam. Kaum Syiah di seluruh dunia meratapi kematian Imam Hussain bin Ali. Imam Hasan dipercaya meninggal di padang Karbala karena kepicikan Bani Umayyah.

Linda Christany menulis bahwa pada masa itu Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan (orang yang pernah sangat membenci Rasulullah), memaksa siapa pun untuk mengakuinya sebagai khalifah. Tentu hal ini ditentang para ulama dan tokoh agama karena alasan yang saat itu sudah banyak diketahui.

Yazid dikenal sebagai seorang yang destruktif, despotik, perampok, dan penista kaum perempuan.Ia kerap memaksakan kehendaknya dengan kekerasan dan ancaman. Dan saat itu hanya Imam Hussain, satu-satunya yang menolak tunduk pada tirani Yazid.

Setiap perlawanan akan menimbulkan tumbal dan martir. Setelah sebelumnya Imam Hasan dibunuh akibat diracun istrinya, yang juga kerabat Muawiyah bin Abu Sofyan. Imam Hussain merasa tak ada kemungkinan berkompromi pada tiran yang kejam.

Imam Hussain lantas memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersama 30 orang penunggang kuda, 40 pejalan kaki dan banyak anak-anak. Di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Mereka membantai Hussain dan keluarga serta pendukungnya itu. Dan kejadian ini kelak akan selalu dikenang para kaum syiah sebagai Peristiwa Karbala.

Apakah Imam Hussain tak menyadari bahwa maut sedang mengintai nyawanya?

Tidak. Bahkan sejarah mencatatkan keberanian Imam Hussain lewat Muhammad Ali Hanafiah, saudara tirinya. Saat itu Imam Hussain berada di Madinah dan sedang bersiap melakukan hijrah. Saudara tirinya telah berupaya segala cara agar Imam Hussain tak pergi dan tetap di Madinah.

Namun dengan tegas Imam Hussain berkata. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan,"

Imam Hussain yang merupakan putra Ali Bin Abi Thalib, yang juga merupakan cucu Rasulullah. Dibantai secara keji oleh Azid bin Muawiyah, Ubaidillah bin Ziyad, Syimir bin Dzil Jaushan dan para pendukung bani Ummayyah di padang Karbala. Ia dibunuh secara berkeroyok, lalu kepalanya dipancung dan dipamerkan agar seluruh pendukung Imam Hussain kecut nyali.

Namun hal ini justru melahirkan clash. Dalam A short History of Moslem yang ditulis Karen Armstrong ini merupakan Fitna ke dua yang memecah umat islam menjadi dua faksi. Sunni dan Syiah. Kelak Fitna-fitna baru semakin memecah umat islam dan menggenapi sabda Rasulullah bahwa Islam akan terpecah menjadi banyak golongan.

Linda Cristanty juga menuliskan "Apa pun kata dunia tentang orang-orang Syiah, kita harus ingat bahwa mereka yang membantu kakek moyang kita. Bahkan orang-orang Sunni yang menyatakan diri mewarisi ajaran Muhammad, semuanya melarikan diri." Sepertinya saya percaya. Klaim bahwa Sunni sebagai ahlus sunnah wal jamaah, atawa pewaris ajaran nabi perlu ditinjau ulang.

Namun saya sendiri percaya bahwa Asyura berasal dari bahasa Arab asyara yang berarti sepuluh. Bapak saya dulu pernah cerita bahwa Asyura sangat istimewa karena beberapa alasan. Pertama Allah menciptakan jagat raya pada hari kesepuluh, menciptakan Adam, Menciptakan Jibril, Kelahiran Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayub, diselamatkannya Musa dari Firaun dan sisanya saya lupa. Dalam banyak hal, Asyura adalah kompilasi hari dimana banyak rahmat diberikan kepada manusia.

Karbala. Asyura. Serangkaian darah dan kesadaran pengorbanan. Apa yang lebih tengik dari itu?

*naskah sebagain merupakan rekonstruksi dari tulisan Linda Christanty yang berjudul sama.

Senin, 05 Desember 2011

Dear Irine

foto oleh : Monica Anggraeni Dewi


Mari kita mulai tulisan ini tentang revolusi Kuba. Sebuah fragmen sederhana saat Ernesto Guevara De La Serna berdebat dengan Fidel Castro. Saat itu 1959 dan diktaktor Kuba, Fulgencio Batista, kabur ke amerika. Di satu ruangan di pinggir Havana, Ernesto dan Fidel bersitegang mengenai apa yang akan dilakukan seusai revolusi.

Ernesto bertanya kepada Fidel. "Apa yang hendak kau lakukan kepada sisa pendukung Batista?" Dengan tegas Fidel menjawab. "Paredon!"

Wajah si tampan Ernesto langsung menjadi mendung. Sementara suasana diluar lapangan Havana masih sangat meriah. Paredon secara harfiah adalah bahasa Spanyol untuk menghadap Tembok. Namun sejarah kemudian menjadikan kata ini sebagai sebuah bentuk lain teror.

Paredon adalah istilah paska revolusi Kuba untuk ekskusi mati. Pada masa peralihan kekuasaan politik Kuba. Seluruh tawanan politik dikumpulkan dalam gedung yang luas. Seperti stadion dan gedung olahraga. Disana mereka diadili secara jamaah oleh masyarakat. Ada perwakilan pemerintah yang kemudian akan memutuskan hukuman.

Namun kamu tahu Irene? Sebagian besar pendukung Batista yang ditangkap dan diadili oleh rakyat itu berakhir tragis. Karena saat itu hanya ada satu vonis bagi mereka yang dianggap pengkhianat. "Paredon!"

Ernesto menolak ini. Menurutnya sebuah rezim otoriter yang tumbang tak harus dihabisi dengan kekerasan. Jika dengan cinta bisa memperbaiki keadaan. Maka kekerasan tak perlu ada. Tapi Ernesto bukan Fidel. Dan Fidel adalah orang yang saat itu mendapat mandat sebagai pemimpin besar Kuba. Perdebatan ini berakhir dalam kesunyian.

Ku kira kamu perlu tahu ini Irene. Apa yang akan aku ceritakan nantinya adalah tentang perasaan sakit dan dendam akibat pengkhianatan dan ketidak jujuran. Perhal rasa sakit yang kemudian tertinggal dan mengenai bagaimana kamu bertahan dari perasaan kamu sendiri.

Dalam perjalanan hidupnya kemudian Ernesto menyesali ketidakmampuannya membiarkan kebencian mengambil alih Kuba. Kebencian tak pernah menyelesaikan apapun. Ia hanya akan melumat pelan perasaan manusia dan menjadikan mereka patung. Hingga akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan.

Ernesto tidak sendirian Irine. Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan, adalah contoh orang yang berkhianat dan berakhir pada penyesalan. Orang yang menyerah kepada kebencian dan obsesi hingga akhirnya mengorbankan persahabatannya. Kukira kamu tahu kisah ini Irene.

Bersama Mohandas Karamchand Gandhi, Ali Jinnah memimpikan negara India yang berdaulat. Negara yang terbebas dari penindasan Inggris. Mereka berdua kemudian menjadi sahabat dalam perjuangan. Melawan tirani Inggris. Mohandas Ghandi dengan satyagraha sedangkan Ali Jinnah dengan perjuangan hukum dan politik.

Namun pada tahun 1947 Ghandi dan Jinnah harus berpisah. Terkadang dalam persahabatan ada hal-hal perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa.

Jinnah mendirikan Pakistan dan meninggalkan Ghandi beserta India. Sebelum berdirinya Pakistan, kedua sahabat ini bertemu untuk terakhir kalinya. Saat itu Ghandi menangis dan sakit. Ia berkata "Tolong jangan tinggalkan India sahabatku. Ambillah posisiku. Jadilah perdana Mentri India. Tapi kau jangan pergi," namun permintaan ini ditolak Jinnah.

Kelak Jinnah menyesali keputusannya ini. Di ambang nafas menuju kematiannya Jinnah berkata. "Duh yang maha agung. Jika saja aku mendengar sahabatku," katanya.

Kukira kamu perlu tahu ini Irene. Seperti yang ku bilang. Jangan pernah mengambil keputusan saat kamu sedang emosi. Kesedihan hanya akan membutakan nalar dan kemarahan hanya akan membuat kita malu.

Semua ini diawali satu pada satu alasan. Sejak awal Fidel dan Ernesto tak pernah jujur tentang ending dari perjuangan mereka yang melahirkan Paredon. Sementara Ghandi dan Jinnah sama-sama sungkan berbicara perihal perbedaan keyakinan konsepsi negara ideal.

Segala yang berawal dari ketidakjujuran hanya akan membawa luka. Mungkin ada kebahagiaan. Seperti yang sesaat dialami Jinnah. Namun pada akhirnya penyesalan itu selamanya melekat.

Irine. Kamu gadis baik. Kamu dan aku mungkin sama. Orang yang disandera kenangan dan kerap kali menyerah pada keadaan daripada kemudian melawan. Kita sama-sama terlalu takut untuk berdiri dan berhenti berharap. Rasa nyaman akan masa lalu kerap kali berjelaga. Dan itu Irene harus kamu lawan.

Kamu punya kesempatan untuk berdiri dan berkuasa atas keinginan kamu sendiri. Tidak hanya diam meratapi nasib yang terlanjur tengik. Kamu gadis baik dengan banyak pesona. Kamu bisa nari. Bisa nulis. Bisa digoblok goblokin. Namun diatas itu semua kamu bisa membuat orang yang ada disekitar kamu nyaman. Aku tahu itu. Karena kamu bikin aku nyaman. Apalagi pas bayarin makan nasigoreng sapi.

Kukira kamu harus berhenti menangis. Berhenti menunggu penyelesaian dari orang lain. Kamu harus tahu, tak ada satupun orang di kolong langit yang berhak menentukan nasib kita. WS Rendra dalam sajak bersatulah pelacur pelacur kota Jakarta menulis :


"Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban"

Sesalkan apa yang mesti kamu sesali Irine. Itu manusiawi. Karena kamu bukan Dahlan Iskan yang hatinya sudah diganti. Kamu gadis biasa yang bisa putus asa dan sedih. Tapi jangan pernah kamu relakan diri sendiri untuk jadi kurban. Menjadi tumbal yang entah kapan bisa kamu sudahi. Jadi bangunlah Irene. Dan sudahi tangisan kamu. Cuci muka lalu tidurlah. Kutuk semua nama yang melukaimu. Lalu bangkit berdiri.

Jangan cengeng. Karena tangisan tak akan menyelesaikan masalah.

Sincerely.
Orang Jember Paling Kece di Selokan Mataram

Sabtu, 03 Desember 2011

Hai There December




Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu….
Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu (Soe Hok Gie)
Entah kenapa saya ingin memulai Desember dengan kebencian. Dengan dendam. Dengan amuk marah. Dengan kegetiran dan melankolia. Saya suka jadi berlebihan. Menjadikan diri saya lebih produktif. Mungkin ini perasaan yang pernah dialami Hitler saat menulis Mein Kampf atau perasaan Heinrich Kramer saat menyusun Malleus Maleficarum. Kebencian yang menggebu.

Bulan ini seharusnya kita bisa menikmati rintihan Cholil efek rumah kaca dalam lagunya Desember. Tapi entah kenapa untuk bulan ini saya hanya ingin mendengarkan History - nya Funeral for A friend. Nama band ini semiotis. Dan lirik dalam lagu ini juga. Seperti ratapan. Kegetiran dan kemarahan. Namun di atas segalanya ketidakberdayaan.

Archers in your arches,
Raise your fingers for one last salute..
And bleed this skyline dry
Your history is mine.

So you want to hold me up and bring me down?
Yes, you want to hold me up and break me down

Selamat datang Desember. Mari kita lihat seberapa jauh kebencian membawa kita berproses.

Jumat, 02 Desember 2011

Semisal kita tak perlu rindu

Jika saja apa yang dibawa khalifah gelap itu benarbenar datang

membawa gigil malam, kalut hitam dan rupa pekat


kita sepertinya akan tersesat

menjalani waktu


: lalu meringkuk ditikam sendu di uluhati


kau berziarah memanggul zaman

aku diam meratapi kehidupan


sudahi saja piutang ini

pada satu titik yang telah kita sepakati bersama


kematian

Rabu, 30 November 2011

Gigil


: 8:03 dan waktu berjalan pelan

kukira sudah habis lukaku
di taburkan pada ingatan
tetapi dalam sekerat kisah yang belum tamat
sekali lagi tanda tanya itu hadir

adalah jeda
perih pedih pekik dan peluh itu nyata
seperti langit yang
tak hendak terang seusai senja

kukira sudah tamat sakit
kusebarkan pada kenangan
tetapi dalam potongan
masa yang tak jua akhir

koma dan titik berencana
bersepakat untuk khianat
semacam peringatan akan laku lupa
berkelindan menakik rasa pedih sedalam dalamnya
sekuat
kuatnya
sakit sakit
sakit sakit
sakit sakit sakit
perih perih perih

menggigilah
hingga pudar semua hutang
sampai lunas semua rencana
lalu meratap sampai degil

haru
menyisakan ruang pekat hati

berkata : sepertinya aku merindu

Jumat, 25 November 2011

Label

~ gelar itu mereduksi segala tanduk yang melekat pada penindak

Saya kadang geli saat membaca opini dalam surat kabar. Bukan perihal isi tulisan opini, yang meski saya tak paham, sangat berkesan dan intelektuil. Tapi mengenai label yang dilekatkan kepada si empu penulis opini tersebut. Seseorang bisa melekatkan kata pakar tape dan seni orek telur. Atau pengamat kambing. Atau yang lebih monumental kurator atwa kritikus air seni. Saya kira melekatkan label adalah masalah pelik.

Belum lagi jika opini tersebut berisi pendapat dan kutipan ilmiah nir peminat. Sepertinya para penulis opini tersebut punya pemahaman bahwa mereka membaca opini si penulis bisa lunas paham dalam sekali baca. Saya kira di masa depan, koran-koran harus berupaya lebih sederhana dalam menerima opini. Kalau tidak maka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Google akan jadi alat pandu utama dalam memahami sebuah opini.

Perilhal label pun bisa jadi perdebatan yang seru. Karena kerapkali seorang penulis baru berkualitas bingung hendak melabeli dirinya apa. Menjadi pengamat? Bah bisa jadi salah kaprah karena pengamat adalah orang yang hanya pengamat. Ahli? Apapulak itu perlu sertifikasi dan pembuktian ilmiah terhadap label semacam ini. Pendek kata pemberian label bisa jadi masalah jika anda belum menjadi siapa-siapa atau tak berasal dari satu lembaga tertentu.

Beberapa waktu lalu seorang rekan menulis opini di Kompas. Ulasan menarik mengenai kondisi hubungan diplomatik Indonesia dan Asean. Sebenarnya secara kualitas tulisan, kawan saya itu tak usah diragukan. Dia bisa menganalisa konsep hubungan million friends zero enemies dengan sangat lugas, cerdas dan nyinyir. Tapi kemudian ia bermasalah mengenai pelabelan. Andai ia seorang cleaning service di CSIS ia bisa saja mengaku sebagai peneliti. Masalahnya ia hanya seorang guru di sebuah lembaga bimbingan belajar.

Ada masalah keotentikan kuasa akan kemampuan dan analisis dalam penulisannya. Seolah olah ada klaim ilahiah bahwa mereka yang menulis opini dalam koran besar harus berasal dari orang besar. Tak ayal tulisan kawan saya yang mengkritik keras gaya diplomasi negara ini kemudian dijawab oleh orang kementrian luar negeri. Secara sarkastik orang dari kementrian itu menyerang legitimasi dan kemampuan dari kawan saya itu. Sebagai amatur dan medioker yang sok tahu. Hanya karena kawan saya itu melabeli dirinya sebagai pengamat...

Label adalah reduksi. Karena seluruh pengalaman manusia dan kemampuannya harus dijejalkan dalam satu pemaknaan kata. Dalam banyak hal ini adalah sebuah tindakan fasisme. Karena manusia sesungguhnya unik. Ia akan selalu berbeda dengan yang lainnya meski kemiripan selalu ada. Tapi menafikan kedirian sebagai usaha diterima dalam masyarakat yang luas saya pikir adalah sebuah penindasan jati diri. Dalam hal ini label kerap kali menyakiti identitas seseorang.

Lalu bagaimanakah cara kita akan melakukan definisi diri? Mengenai identitas kedirian seseoang yang belum tentu orang itu menyukainya. Saya selalu ingat bagaimana Eddie Vedder, frontman Pearl Jam, selalu menolak label grunge yang kerap dilekatkan kepada band dimana ia tergabung. Atau bagaimana merumuskan seorang Leonardo Da Vinci. Apakah ia seorang avontour, ilmuan, seniman atau seorang filsuf? Kelak saya menemui orang seperti Da Vinci alih-alih dibebaskan dari label, mereka justru dilekatkan sebuah label menakutkan. Universalis!

Universalis adalah mereka yang dianggap tahu banyak dari banyak hal dan juga aktif sebagai praktisi di dalamnya. Indonesia mengenal Soedjatmoko, mantan rektor Universitas PBB di Jepang dan intelektual, sebagai salah satu universalis asal Indonesia. Ia disebut demikian karena luasnya cakupan pemikiran dan karya tulis yang Soedjatmoko susun.

Hal yang sama juga melekat kepada Romo Mangun Wijaya, sastrawan arsitek dan juga tokoh teologi. Romo Mangun banyak menulis mengenai kondisi sosial dalam esai-esai yang ia buat. Belum lagi berbagai cerpen dan novel yang secara satir menyigi identitas jawa (sebagai representasi fasisme) Indonesia. Meski demikian pemahaman sejarah yang luar biasa juga menjadi kekuatan seorang Romo Mangun. Lihat saja karyanya dalm Ikan-ikan Hiu, Ido Homa.

Romo Mangun dan Soedjatmoko tak berhenti pada tataran wacana pemikiran saja. Namun keduanya juga turut andil dalam pembangunan sosial masyarakat secara nyata. Contoh kanon sumbangsih Romo Mangun masih bisa kita lihat dalam perkembangan masyarakat Kali Code di Jogja. Sedangkan alur karya Soedjatmoko bisa dilihat dalam konsepsi perdamaian yang ia canangkan saat menjadi rektor Universitas PBB di Jepang. Soedjatmoko, meski kerap dikritik pro barat, merupakan salah satu peraih penghargaan Ramon Magsaysay terbaik. Karena keotentikan pemikiran dan sikapnya sebagai Indonesianis yang mendunia.

Perkara label merupakan perkara klaim yang dilekatkan. Seorang kawan yang aktif di komunitas seni Utan Kayu Jakarta bernah bercanda. "Kukira semua penyair yang punya julukan itu mabuk dulu untuk bikin gelar," katanya. "Saat minum dengan tuak mereka bersepakat. Hei kau jadi penyair burung camar, kau jadi penyair kolor dan aku jadi presiden penyair," lanjutntya. Saat itu kami berdua hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Karena secara naif menganggap gelar dan label adalah perkara pencapaian.

Tapi saya dan kawan saya itu tak sepenuhnya salah. Bagaimana jika sebenarnya label dan gelar itu hanya perkara sepakat atau tidak dari sekumpulan orang yang berkuasa. Coba tengok perihal pemberian gelar pahlawan. Masing-masing kelompok membawa nama-nama dari golongannya untuk kemudian dikarbit jadi pahlawan. Tak jelas apakah ia seorang diktaktor, pelawak atau sebenarnya seorang fasis. Pahlawan itu diciptakan, seperti juga gelar, itu masalah kesepakatan segelintir orang.

Label bisa jadi sebuah identitas. Itu jelas. Antara seorang S.Sos dan Ph.D bisa jadi perdebatan mengenai kuasa dan kemampuan akademis. Meski tak jelas apakah gelar itu hasil fotokopi atau sekedar jual beli skripsi. Yang jelas gelar bisa jadi pembeda masalah kedudukan dan penghasilan. Untuk itu label bisa menjadi perkara hidup mati dan penghasilan seseorang. Saya kira ada baiknya segala label itu dihilangkan. Diganti dengan sebuah capaian nyata.

Biar seorang maling jadi raja maling karena hasil curiannya banyak. Biarlah seorang profesor jadi profesor karena temuan yang luar biasa. Tak perlu legitimasi segelintir untuk kemudian melahirkan label-label baru. Saya kira masalah label adalah masalah pengakuan. Tentang bagaimana seseorang ingin dikenali dan diperlakukan. Dalam banyak hal itu hipokrit. Well, bukankah kita semua demikian?

Tiga cerita, Satu Narasi. Disabilitas






Anugerah Tuhan dan Luka

Seorang pria paruh baya duduk termenung sendirian. Matanya menerawang jauh entah kemana. Kerutan-kerutan di dahinya serupa perigi yang mengalir. Entah sudah berapa banyak cerita yang orang itu lalui. Asap rokok merambati mulut dan hidungnya. Sesekali ia hembuskan dengan perlahan. Ada sebuah rasa haru yang lindap dalam hati pria itu.

Pria itu adalah Modhar, warga Suko Jember, Dusun Leces. Ia sedang menunggui putrinya Siti Nurfadilah di sebuah sekolah yang terletak di kawasan patrang. Sesaat kemudian gadis cilik berusia sekitar 13 tahun datang menghampiri. Seketika itu juga wajah Modhar berubah ceria. Senyum tulus terkembang lebar dan tak jua berhenti ia lantas memeluk gadis itu. Tapi ada yang aneh, si gadis tak berkata satu kalimatpun. Ia hanya mengerjapkan bibir dan menggerakan tangannya.

“Putri saya itu tuna rungu wicara, ia tak bisa bicara dan mendengar,” jawabnya serta merta. Siti fadilah tetap bergelayut manja dibahu ayahnya. Modhar lalu mematikan rokoknya dan menuntun Siti masuk ke dalam kelas. “Saya mau ambil rapor siti dulu,” katanya tersenyum. Siti berjalan bersampingan dengan ayahnya, sesekali gadis itu tersenyum nakal dan mencuri tengok pada orang di belakangnya.

Modhar adalah salah satu orang tua wali murid yang hari itu khusus datang untung mengambil rapor di SDNLB Patrang. Sekolah itu sedikit tersembunyi dari jalan raya utama jalan patrang. Terletak tepat di Jalan. Dr Soebandi, gang Kenitu no 56 Jember. “Saya dulunya juga tak tahu kalau di sini ada SLB,” kata Modhar sambil keluar ruangan kelas. Siti sudah tak nampak di sampingnya, gadis cilik itu sedang seru bermain dengan sebayanya di lapangan sekolah.

Tak banyak orang tua yang berkenan menyekolahkan anak istimewa mereka di SDNLB. “Banyak orang tua yang malu sama anak mereka yang cacat, saya ndak gitu, saya justru makin sayang dengan Siti,” ujar Modhar tiba-tiba. Ia menyulut sebatang rokok lagi, lalu membetulkan topinya. Ada binar mata kebahagiaan saat ia melihat Siti bermain bersama temannya. “Saya gak habis pikir sama orang yang jahat sama anak cacat. Mereka itu kan titipannya Gusti Pangeran,” serunya lesu.

Siti awalnya diasuh Modhar secara pribadi. Ia tak tahu jika di Jember ada Sekolah Inklusi yang bisa merawat anak-anak berkebutuhan khusus. Sebelum sekolah di SDNLB Patrang, Siti selalu rewel dan menangis jika ada anak yang sekolah. Ia seringkali tak mampu berkomunkasi dengan baik. Siti hanya bisa menangis dan memberontak jika tak dapat dipenuhi kemauannya. “Tapi sekarang sudah bisa nulis, kadang saya diajari bahasa isarat juga sama bu gurunya,” ungkap Modhar bangga.

Tiap hari selama tiga tahun terakhir Modhar bolak balik tiap pagi mengantarkan Siti ke sekolah. Jarak yang lumayan jauh tak menjadi kendala bagi pria yang berusia 50an tahun ini. “Saya tak mau anak saya tertinggal, pokoknya harus sekolah sampek saya gak mampu lagi (biayai),” katanya tegas. Ia ingin menebus janji pada ibu Siti yang sebulan lalu meninggal. “Ibunya siti sudah meninggal sakit stroke, sebelum mati ia bilang Siti itu anugrah, jangan disia sia,” ujar Modhar. Ada rasa haru yang lindap saat Modhar mengucap kata anugrah.

Riva Akmalia Amanda, atau yang biasa disapa Icha, adalah seorang gadis berkerudung yang enerjik di usia pertengahan dua puluh. Ia tengah bermain dengan anak-anak di tengah lapangan. Ada Siti diantara mereka, dengan senyum lebar mereka bermain dan bekejaran. “Kadang orang suka menggunakan kata cacat, itu kurang tepat, lebih baik gunakan kata berkebutuhan khusus atau disabilitas,” ungkap gadis yang juga berstatus pengajar di sekolah itu. Disabilitas sendiri berasal dari kataDifferent Abled People atau orang yang memiliki kemampuan berbeda.

Icha menyebutkan bahwa penggunaan kata cacat kadang sudah berkonotasi negatif. Lebih dari itu dapat mengurangi nilai kemanusiaan dari seseorang. “Kesannya jelek,” tandasnya pendek. Lelah bermain, Icha lantas duduk di depan kelas bersama Modhar. “Anak-anak di sini itu semua istimewa, semua spesial, Allah memberi mereka semua kelebihan,” kata Icha. Modhar tak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan-lahan.

Di kejauhan seorang anak berlari-lari riang sambil tertawa lepas. Ada seorang ibu yang mengejar anak itu seraya berteriak-teriak. Anak itu adalah Desy Mintriani, seorang penderita down syndrome, yang berkejaran dengan ibunya Mimin. Dengan telaten Mimin akhirnya bisa menangkap dan mendekap erat Desy. “Sini ibu betulkan dulu bajunya, jangan gerak-gerak,” ujar Mimin lembut. Desy seketika terdiam, ia masih saja menatap kosong pada langit langit saat ibunya mengikat erat tali di belakang bajunya. “Nah sekarang anak ibu sudah cantik,” katanya

Ibu dan anak itu lantas berpelukan mesra dan memasuki ruang kelas untuk mengambil rapor. Di dalam anak-anak yang lain sedang asik bersenda gurau dengan rekan sebayanya. Ada orang tua pula yang duduk menenangkan mereka yang mulai rusuh itu. “Sebentar lagi rapor dibagikan,” kata seorang guru. Selepas menerima rapor Mimin dan Desy keluar ruangan dan berencana pulang. “Dulu anak saya 10 bulan di sekolah biasa, tapi tak mampu. Di sini saya senang dia bisa baca tulis,” kata Mimin sambil tersenyum.

Beberapa orang tua yang anaknya memiliki kebutuhan khusus sering kali menafikan kondisi anak mereka. Orang tua semacam itu kadang memaksakan anak mereka untuk sekolah di sekolah biasa, akhirnya anak-anak tadi tertinggal dan semakin tertekan. “Desy sudah lima tahun disini, salah satu yang pertama, sekarang ia bisa juga menggambar dan mewarnai,” kata Mimin.

Hal-hal sederhana dari anak terkadang mampu membuat kebahagiaan bagi seorang ibu. “Saya terima Desy apa adanya, ia bisa nulis nama saya saja itu sudah luar biasa, bikin saya nangis,” ungkap Mimin. Dukungan keluarga dan merupakan faktor utama dalam perkembangan anak-anak disabilitas. “Bapaknya Desy jauh lebih sayang dari saya, kita sebagai orang tua kan bisa mendorong dan merawat,” katanya.

Seperti Mimin dan keluarganya, Modhar juga tak ingin Siti Nurfadilah hanya berhenti pada SDNLB. “Kalau nanti mau kuliah saya kuliahkan, pokoknya jadi orang,” kata Modhar. Kini Modhar yang hanya seorang petani berharap adanya fasilitas dan perhatian yang lebih banyak terhadap kaum disabilitas. “Buat sekolah saja jauh, memang sekarang sulit. Semoga saja nanti SLB nya makin banyak,” katanya penuh harap.

Pengabdian dan empati

Seorang gadis duduk di pelataran Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember yang terang karena pantulan cahaya pagi itu. Angin datang semilir menerpa rambutnya yang ikal. Gadis itu berwajah oval, berhidung bangir, kulitnya kuning langsat dan tatapan matanya tegas. Ia punya pesona kasat mata serupa dengan bintang iklan di televisi.

“Panggil saja saya Lutfi,” ujarnya singkat. Ia sendiri adalah seorang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam kelengkapan anggota tubuh. Meski demikian gadis dengan senyum manis ini tak sedikitpun tampak sedih atau malu. “Ini titipan yang diberi Allah sama saya, kenapa harus malu?” katanya singkat.

Gadis asal Bondowoso itu baru saja bersiap membaca koran pagi. Radar Jember yang tergeletak di atas meja ia baca sepintas lalu. “Saya suka membaca, setidaknya memberikan pengetahuan. Kebiasaan ini sudah ada sejak saya kuliah dulu,” katanya. Ya, Lutfi adalah seorang sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Meski memiliki keterbatasan Lutfi tak hendak bergantung pada orang lain.

Awalnya Lutfi diterima di fakultas MIPA dengan jurusan Biologi. Tetapi akibat keterbatasan fisik ia ditolak untuk kuliah di sana. “Saya terima saja, meski demikian saya bertekad untuk tetap kuliah,” imbuhnya. Dengan perjuangan yang cukup keras, dalam tempo empat tahun setengah Lutfi mampu lulus dengan predikatcumlaude.

Selepas kuliah Lutfi berusaha untuk melamar kerja di beberapa instansi dan perbankan. Namun ditolak karena alasan keterbatasan fisik. Ia sempat geram dan patah arang menganggap dunia tidak adil. “Saya kecewa, belum dicoba kok dianggap tak mampu,” ungkapnya. Atas desakan dan dorongan orang tua yang selalu suport, Lutfi akhirnya kembali percaya diri. “Akhirnya saya iseng melamar di sini (YPAC), almamater saya, eh diterima ya sudah saya jalani,” ungkapnya.

Lutfi mengajar di sekolah itu dengan tujuan memberi inspirasi bagi sesamanya. “Yang dibutuhkan orang berkebutuhan khusus bukan rasa kasihan, tapi dukungan dan kesempatan yang sama,” katanya. Ia selalu berusaha memberikan semangat pada semua anak didiknya untuk dapat meraih cita-cita. “Kami juga sama dengan orang normal,” tandasnya tegas.

Seperti juga Lutfi, Nanang Ahsanurohim juga tak ingin anak didiknya yang disabilitas patah arang. Nanang, begitu ia disapa, bertekad menjadi seorang guru bagi anak-anak disabilitas karena melihat keponakannya yang berkebutuhan khusus kesulitan mencari sekolah. “Saya terenyuh melihat ponakan saya itu, dia ingin seperti anak-anak kebanyakan, bisa sekolah dan main,” ungkapnya.

Meski awalnya ia tak berniat untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus, Nanang tak ingin tinggal diam melihat keponakannya tak terdidik. Berbekal kenekatan ia berusaha mencari tahu informasi mengenai jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). “Awalnya ada di Surabaya, tetapi saat saya main di IKIP PGRI Jember ternyata juga buka jurusan itu,” katanya. Ia lantas kuliah di sana dan bertekad mengabdikan ilmunya untuk dapat mengembangkan anak-anak disabilitas.

Hari itu Nanang tampak rapi dengan balutan baju batik berwarna gelap. Pria muda yang mengajar di SDNLB Patrang ini hendak membagikan rapor kepada wali murid. Wajah Nanang tampak sangat bersemangat, ia tak sabar untuk bertemu dengan para muridnya. “Jarang sekali bisa ketemu sama orang tua nya anak-anak,” katanya senang.

Nanang hanya salah satu dari beberapa anak muda yang memutuskan mengabdikan diri sebagai pengajar di SDNLB itu. Umumnya mereka ingin berbagi kepada para siswa-siswa yang istimewa tersebut. “Anak-anak di sini membutuhkan banyak perhatian dan cinta yang tulus,” kata Nanang. Ia tahu jika pekerjaan ini tak akan memberikan kemapanan apalagi kekayaan. “Saya puas jika bisa melihat senyum anak-anak ini,” katanya singkat.

Di ruang sebelah kelas Nanang, Riva Akmalia Amanda atau Icha, sedang asik bercanda dengan Siti Nurfadilah. Seorang anak tuna rungu wicara yang tersenyum sangat riang. “Saya akan kangen saat-saat seperti ini,” katanya tiba-tiba. Icha adalah seorang guru yang mencintai anak-anak disabilitas sejak remaja. “Saya aktif di PMR saat SMP dan SMA, dulu sering bertemu dengan anak-anak ini,” katanya. Melihat mata anak disabilitas yang polos membuat Icha jatuh hati dan selalu ingin bersama mereka.

“Saat saya bersama anak-anak ini, saya menjadi tenang. Mampu membuat saya lupa terhadap masalah yang ada,” katanya. Ia cenderung merasa nyaman berbagi dengan anak-anak disabilitas daripada dengan orang normal. “Kalo sama anak-anak saya bisa ngajari mereka bernyanyi, tiap anak memiliki karakter sendiri. Yang membuat saya jatuh cinta,” katany halus.

Icha sedapat mungkin bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak ini. Banyak orang yang tak sadar bahwa kaum disabilitas adalah manusia utuh yang punya hak untuk dihargai. “Seringkali orang acuh dan jahat, itu karena mereka tak tahu bahwa mereka punya kebutuhan khusus,” katanya. Masyarakat perlu membuka mata dan bersikap adil dan jangan bersikap apriori pada kaum disabilitas. “Jangan memusuhi apa yang tak kita ketahui,” lanjutnya.


Tersisih dan Terbuang

Gedung tua di pinggri jalan Imam Bonjol nomor 42 itu ringkih diterpa zaman. Cat tembok yang berada di masing-masing sisinya sudah terkelupas. Belum lagi rerimbunan tanaman di depan gedung itu. Jika tak jeli orang akan menganggap gedung itu berhantu dan ditinggalkan.

Ada sebuah monumen nama yang menunjukan identitas gedung tersebut. Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember. Beberapa huruf di monumen itu sudah hilang entah kemana. Tangan-tangan jahil merusak kisi-kisi dinding halaman gedung itu dengan berbagai coretan. Belum lagi poster-poster dan spanduk yang dipasang seenaknya di pagar gedung itu. Gedung itu seolah sendiri di tengah degilnya masyarakat sekitarnya.

Di dalam gedung tua itu ada dua orang yang tengah bercakap-cakap. Seorang ibu muda dan gadis berambut ikal yang asik membaca koran. Ibu itu adallah Mubarokah, kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Jember. Disampingnya adalah Lutfi, salah satu guru di sekolah itu. “Gedung ini mulai beroperasi ejak 89 yang merintis adalah istri bupati saat itu,” katanya.

Ya, gedung tua itu telah berumur lebih dari 22 tahun. “Awalnya YPAC merupakan pusat rehabilitasi bagi penderita polio,” tapi kini kondisinya tak begitu baik. Memang beberapa tahun lalu sempat ada upaya perbaikan dan penambahan fasilitas. Namun semua dirasa kurang. “Idealnya setiap kelas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” katanya. Saat ini SLB YPAC Jember hanya mampu menampung dua kelas saja perangkatan.

Tak hanya kurang kelas, tenaga pengajar juga menjadi kebutuhan yang penting dipenuhi. “Saya memang kepala sekolah, tapi ikut mengajar rangkap beberapa pelajaran,” katanya. Ia sendiri telah berulang kali meminta agar ada guru baru, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan baik dari Diknas maupun yayasan. “Sabar saja,” ujarnya seraya tersenyum.

“Saya tak banyak menuntut, tapi memang begini kondisinya,” ujar Mobarokah. Dalam ruangan utama YPAC memang ada lantai yang terkelupas sepanjang dua meter. Langit-langit yang tak tertutup internit. “Belum lagi fasilitas bagi anak anak, semacam mesin jahit dan komputer,” katanya. Meski demikian Mubarokah dan seluruh pengajar yang ada tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Mubarokah sendiri adalah salah satu dari sedikit pengajar yang merintis usaha pendidikan pada anak disabilitas di Jember. “Saya dulu bersama pak Tamsun (salah satu pengelola SDLB Bintoro) yang memulai mengajar disini,” katanya. Dalam 20 tahun terakhir sudah banyak perkembangan menggembirakan yang terjadi. “Kini mulai ada kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak disabilitas, dulunya mereka diasingkan bahkan dipasung,” ungkapnya

Mubarokah telah mengecap pahit getir sebagai pendidik anak-anak disabilitas. Meski telah banyak berkembang tetapi ada beberapa hal yang masih menjadi perhatian wanita ini. “Dari lingkungan sini saja tak tau apa itu YPAC, kadang masih ragu menyekolahkan, padahal tiap anak disabilitas punya potensi,” katanya. Ada pekerjaan besar yang masih menunggu diselesaikan.

Umi Salman adalah kepala SDNLB Patrang Jember. Dalam komplek sekolah itu ada pula SMPLB dan SMALB, semua dikelola dengan swadaya dan dibantu oleh dinas pendidikan setempat. Seperti juga Mubarokah, ia masih khawatir dengan pola pikir masyarakat yang menafikan keberadaan kaum disabilitas. “Mereka (anak disabilitas) diasingkan dan tak diurus, padahal mereka manusia juga,” ungkapnya.

Perempuan yang juga telah mengabdi sejak 1989 ini tak berhenti mengembangkan sekolahnya. “Dulu hanya ada SDNLB, tapi karena banyak permintaan dari orang tua wali murid. Saya ajukan untuk membuat SMPLB dan SMALB,” aku Umi. Ia ingin memberikan kesempatan bagi para anak-anak untuk mengeyam pendidikan terbaik. “Mereka adalah anak bangsa yang berhak dapat pendidikan,” lanjutnya.

Keberadaan SDNLB Patrang sebenarnya cukup tersembunyi. Dari jalan utama dr Soebandi, sekolah ini terletak didalam sebuah gang kecil. Plang pengumuman sekolah ini pun tertutup rimbun pohon dan warung di pinggir jalan. “Memang tersembunyi, tapi ini yang ada,” ujar Umi sambil tersenyum.

Baik SDNLB Patrang dan SDLB YPAC merupakan sedikit diantara sekolah yang berbasis pendidikan inklusif bagi kaum disabilitas. “Ada juga sekolah di Bintoro, tapi ini semua terpusat di kota,” kata Umi. Ia tak hendak membandingkan apalagi berkomentar. Namun jarak yang harus ditempuh orang tua siswa demi pendidikan anak disabilitas memang lumayan jauh.

Modhar misalnya, pria asal Jelbuk ini tak tahu jika di Jember ada sekolah bagi kaum disabilitas. “Saat pertama datang kayak sekolah yang gak diurus, tapi ternyata pendidikannya baik,” ungkap pria yang memiliki anak tuna rungu wicara ini. Ia tak ambil pusing yang penting putrinya bisa mendapat pendidikan yang baik. Tetapi apakah akan seperti ini terus? “Mereka yang berkebutuhan khusus juga berhak mendapat pendidikan baik,” ujar ibu guru Mubarokah lesu.(*)