Senin, 27 Agustus 2012

Lancelot III



anak jadah meminta tuhan bicara
dengan kalimat sederhana
ia menjura ke segala udara
kaki bernanah harapan

"Duh sang hyang gusti,
apakah ibuku bidadari surga
dan ayahku betara kala?"

tuhan diam
bahasa gagal diucap
tak ada kata berani menafsir kehendak
yang maha cemburu

pada sebuah batu badik tertancap
serupa nasib perang
juga kelindan air mata
"excalibur" pedang penguasa
tanah mendung, dan hujan murung

pada hari ketujuh tuhan berkata
"Lancelot, nasibmu parau
seperti balon kempis
dan lingga bengkok,"

"maka jadilah," Lancelot menjawab.
ia masih jadah
namun tak ada nanah, hanya sebuah
parang dengan hulu berdarah

Minggu, 26 Agustus 2012

Ada Apa Indonesia?



Indonesia saya rasa telah gagal menunjukan wajahnya yang damai. Alih-alih memberikan senyum ramah terhadap sesama, yang nampak hari ini adalah kebencian-kebencian yang terlembaga, terstruktur dan dibiarkan. Hal ini melahirkan fasisme dan teror dibenak masyarakat kita. Sehingga yang terjadi adalah pelan-pelan muncul pembiaran kekerasan dan kebencian pada kelompok-kelompok minoritas.

Hari ini, komunitas Syiah di Sampang Madura kembali diserang. Oleh mereka yang mengaku memiliki otoritas keimanan tuhan. Sebuah klaim tengik nan sombong yang semestinya tak perlu terjadi. Keimanan adalah perkara hati dan usaha untuk menjadi manusia berguna bagi yang lain. Parang dan darah tak seharusnya menjadi bagian dari dakwah. Ia adalah sebuah usaha degil yang menunjukan betapa fana dan hinanya manusia lain, yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan.

Kasus-kasus kekekerasan pada kelompok keagamaan makin lama semakin meningkat. Konstruksi pemahaman masyaraka juga semakin dialihkan. Bahwa di Indonesia ini merupakan bangsa yang didasari dari sebuah dominasi teologis tertentu. Hukum diludahi dan aparatus negaranya hanya menjadi penonton. Kita sedang menyaksikan teater besar dimana para pemain figuran bebas bermain semaunya, sementara pimpinan sirkus sibuk berkutat pada banalisme album musik.

Indonesia telah gagal mengaplikasikan ide tentang bhineka tunggal ika sebagai sebuah jalan tengah. Egoisme sektarian menjadi sebuah pemandangan sehari-hari. Sehingga dalam lambat laun bangsa ini digerogoti permusuhan yang kasat mata. Semakin banyak orang yang merasa memiliki klaim pembenaran atas tindakan kekerasan atas nama Tuhan. Sementara Islam, dalam hal ini sebagai agama yang dipinjam namanya, telah diperkosa esensi ajaran-ajarannya.

Islam adalah agama yang damai. Ia rahmatan lil alamin. Bukan hanya sekedar milik umat muslim saja. Saya kira kita perlu belajar banyak dari bagaimana sejarah agama ini sendiri. Seluruh umat islam juga tak boleh hanya diam dan menerima dogma sebagai sebuah kue siap saji. Kita semestinya kritis mencari dan belajar bahwa, pacifisme dan upaya damai merupakan jalan yang paling dianjurkan dalam Islam. Ia berusaha menempatkan kemanusiaan lebih utama daripada kepentingan kelompok semata.

Dalam suatu Hikayat Kalifah Umar ibn Khatab pernah mengancam seorang gubenur dalam pemerintahannya, karena telah berlaku tak adil pada seorang yahudi yang rumahnya dirusak. Islam begitu memuliakan manusia terlepas apapun keyakinan mereka.  Umar yang sama juga pernah memberikan jaminan kepada setiap orang, bahwa dalam pemerintahannya setiap ritus keagamaan dijamin. Saya kira kita sudah lama melupakan sejarah yang semestinya dibangun dari kesabaran dan memaafkan.

Indonesia hari ini juga merupakan negara yang abai pada makna. Hal-hal sederhana yang salah kaprah dimaknai sebagai sebuah kebenaran. Seperti penggunaan kata dalam kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi sebuah fitnah. Barangkali juga hanya di Indonesia Institusi Keagamaan bisa seenaknya memberikan label pemaknaan pada sebuah kata. Majelis Ulama Indonesia contohnya, dimana ia dengan seenaknya memaknai pluralitas sebagai “Keyakinan yang membenarkan semua agama.” Bahkan ketololan mesti memiliki batas saya kira.

Pluralisme merupakan sebuah jalan landai perdamaian. Ia tidak memiliki tanjakan atau turunan yang curam. Kelokan yang tajam atau tanda jalan yang  menyesatkan. Pluralisme semestinya dimaknai secara luas dan tidak semberono membenarkan semua agama. Ia lebih dari itu semua. Saya kira banyak dikalangan ulama kita yang enggan belajar mencari tahu pengetahuan di luar agama sebagai sebuah pembanding. Hal ini lantas melahirkan kejumudan dan sempit pemikiran.

Saya percaya semua agama berupaya menyiapkan para umatnya berujung pada keselamatan dan cinta kasih terhadap sesama. Sudah tidak relevan lagi memperdebatkan kebenaran atas tafsir wahyu. Juga kepatuhan buta pada tokoh agama yang tak memberikan contoh laku hidup yang damai. Saya selalu meyakini bahwa kebencian hanya melahirkan kebencian lainnya, juga tak ada kemuliaan yang bisa diraih dari sebuah kerusakan.

Di Indonesia hari ini memproklamirkan diri sebagai Syiah, Ahmadi atau Baha’I adalah usaha bunuh diri. Mereka adalah kelompok minoritas yang sengaja dibiarkan disakiti. Arus informasi yang beredar kemudian menjadi sangat bias. Sekali lagi, penggunaan bahasa kemudian menjadi sangat krusial disini. Sesat, tidak dikenal, asing dan juga ormas keagamaan menjadi terma-terma bisu yang menyesatkan. Khalayak ramai dipaksa menafsirkan sendiri kata-kata tersebut sehingga melahirkan xenopobia akut.

Saya kira kita perlu mencari wajah damai indonesia. Wajah yang tak lagi murung dan garang dalam menghadapi perbedaan. Kita semua bisa melakukannya dengan sebuah langkah sederhana. Seperti melakukan refleksi kritis terhadap pemikiran teolog, politik kebudayaan yang kaku lagi naif. Tentu ini akan sia-sia jika tak diimbangi dengan usaha dialog yang tenang, tanpa kebencian dan tanpa pretensi idiologis apapun.

Kita tak bisa lagi mengharap pada pemerintah. Mereka telah menjadi abai pada masyarakat dengan membiarkan kekerasan atas nama agama terjadi. Membiarkan sepak terjang kedegilan kelompok fasis sebagai sebuah tindakan wajar. Kita mesti belajar untuk tak lagi menggantungkan diri pada pemerintah. Memulai sendiri upaya damai tersebut dengan kelompok-kelompok minoritas seperti Syiah, Ahmadi dan lainnya.

Pluralisme saya kira merupakan upaya untuk mengerti, bukan membenci apa yang tak kita ketahui.

Minggu, 12 Agustus 2012

Pedusi Liat


apa yang kau cari?
kabar kekasihkah menyertai
atau sekedar ingin kembali?
tahukah kamu, di sini
seumur hujan ia menanti
Radhar Panca Dahana - Pulang


Ada sebuah mitos dari suku Mentawai yang barangkali kini mulai dilupakan. Tentang perempuan yang ditipu keadaan lantas menunggu. Tentang berdamai dengan diri sendiri dan menikmati kemenangan sebagai sebuah proses. Inilah kisah Sinanalep Siguk Galajet, atau terjemahan harfiahnya Perempuan yang menelan barang-barangnya. Kisah ini sangat membekas bagiku karena ia bercerita tentang kekuatan memaafkan. Bahwa harapan yang dibokong bisa diatasi dengan cinta yang tulus.

Alkisah, seperti yang dituturkan para tetua pada Pastor Bruno Spina, orang Mentawai yang mendiami Kepulauan Pagai percaya bahwa roh-roh alamiah tinggal di langit yang disebut Taikamanua. Beberapa tinggal roh ini juga tinggal di hutan atau Takaleleu, yang lain tinggal di laut atau Taikabaga't Koat dan sisanya tinggal di bawah bumi atau Taikabaga't Polak. Kisah Sinanalep Siguk Galajet, yang hendak kuceritakan ini terjadi di bumi kuno Suku Mentawai, yaitu  di sekitar Takaleleu.

Pada suatu masa yang tak begitu jauh dari zaman ketika para Kerei (shaman Mentawai) berkuasa, hiduplah pemuda yang hendak melaksanakan Mukebbukat (menikah). Seorang Kerei menyuruhnya datang di tepi salah satu Takaleleu yang didiami oleh seorang wanita dengan dua anak. Sang Kerei menyuruhnya menikahi sang adik karena baik budi dan sikapnya. Tapi tentu kisah yang mulus tak akan menarik bukan?

Si lelaki ini membawakan mahar kalung mutiara, alat masak, alat berburu dan benda-benda indah yang lainnya. Karena iri sang kakak lantas mencuri minyak wangi yang biasa dipakai adiknya, sehingga berganti raga mirip dengan si adik. Tertipu penampilan si kakak, sang lelaki tadi akhirnya menikahinya tanpa sadar. Singkat cerita si adik merasa dikhianati, ia lantas memakan semua barang lamaran yang ditingggalkan sang lelaki tadi hingga menjadi buruk rupa. Kau tentu tau perasaan ini, perasaan orang yang dianiaya harapan dan pengkhianatan. 

Di sini kuhentikan dulu cerita ini. Kukira kau mesti paham benar, bahwa bersikap acuh pada perubahan adalah usaha bunuh diri. Pilihan terbaik adalah menjalaninya dengan kepala tegak, atau kau boleh menekuk tubuh dan mengkasihani diri. Hidup toh perihal pilihan-pilihan konyol dalam mempersiapkan kehilangan. Karena manusia tak pernah dilahirkan dengan buku panduan menghadapi getir perasaan. Kita mengembangkan kekebalan diri terhadapnya. Beberapa berhasil bangkit, yang lainnya tersungkur lantas menyerah.

Kukira kau perlu belajar, bahwa luka yang kau rasakan itu bisa jadi tak seberapa, konyol malah jika dibanding jutaan manusia lain di luar sana. Apa arti kehilanganmu bagi manusia yang mesti merasakan perebutan kuasa tuhan atas kematian. Kukira kehilangan yang paling purna adalah kematian. Di luar itu hanya sedu sedan centil yang semestinya di masukan dalam keranjang sampah lantas dibakar. Perasaan manusia itu khianat, mereka tak pernah benar-benar memberikan substansi nyata pada kedewasaan diri.

Satu waktu kau merasa terbebaskan. Merasa hidup. Merasa manusia yang paling bahagia di jagat ini. Dikelilingi sahabat, handai taulan, saudara yang merangkulmu dalam cinta. Lantas sepotong sajak, atau syair lagu, atau aroma parfum, atau dialog film, atau kencing kuda, atau apapun membawamu pada sebuah kenangan pilu. Lantas kau terisak menangis meratapi diri. Merasa tak berguna, hina dina dan tak beruntung. Kau lupa, kau dicintai dengan seksama. Hanya saja kau menolak membuka mata lebih lebar dan melihat ke sekeliling.

Aku kasih kau sesusun sajak panjang dari Radhar Panca Dahana. Baca lalu renungkan.

andaikata kuregang badan sekujur waktu, tetap saja tak kutemukan kau di situ. sejak lama sudah, kecewa ini kupelihara, seperti lumut menyelimuti batu. aku tak pernah sia-sia, walau sekali lagi, sekali lagi, melulu kekalahan kurayakan.secangkir kopi panas yang kuhirup pagi dini sekali, menyodorkan kangen yang selalu datang di permukaan peruntunganku; kapan aku bisa memenangkan kejuaraan yang tak pernah dipertandingkan? kangen yang selalu mengingatkan bahwa kau masih ada. tapi koran pagi, berita radio dan televisi tak henti mengingatkan siapa saja bahwa waktu sudah tiada. karena itu, silakan kita ramai ramai membunuh kecewa. kita tidak bisa lagi mengenali diri sendiri lewat cermin mephistopheles. bahkan kata hati pun sudah tidak jujur pada dirinya sendiri. lidah selalu mengatakan “yang sebenarnya” dari yang sebenarnya bukan. emhh…betapa panas hari, dan tak ada angin di sini. padahal masih dini pagi, dan tukang sayur mulai menjajakan koran.pada saat seperti itu, pada suasana seperti itu, hanya satu yang ingin aku nyatakan; aku dapatkan satu dari kamu dengan melenyapkan satu dariku. kau tak tahu.
Pembunuhan Kopi di Pagi Hari - Radhar Panca Dahana

Aku menulis ini tak hendak mengguruimu. Kukira kau sudah cukup dewasa untuk bisa belajar sendiri. Atau lebih baik, cukup bijak untuk bisa berpikir sendiri. Kehilangan akan sesuatu memang tak pernah mudah, tapi kesalahan atas kelenyapan tak bisa melulu kau tunjuk pada orang lain. Kau mesti duduk sendiri bertafakur, berpikir dalam diam dan tenang, apa kesalahanmu sehingga kau kemudian mesti kehilangan. 

Kau tak bisa berpikir bahwa kau selalu jadi korban. Kau mesti berpikir panjang, jangan-jangan kau adalah biang kerok. Semacam kutu kupret yang merusak keadaan. Orang-orang hanya berusaha sabar di dekatmu, berusaha bertahan di sekitarmu. Padahal sebenarnya mereka lelah. Padahal mereka sudah jengah. Mereka sudah tak tahan untuk mendengar segala rengekanmu. Menunggu waktu yang tepat untuk kabur dan meninggalkanmu sendiri. 

Kau mesti belajar mengamini kesendirian sebagai seorang karib yang setia. Manusia selalu lahir dari kesunyian, kesendirian kemudian mati dalam kesendirian. Lantas kelak di akherat, jika kau percaya, manusia akan menemui sendiri pertanggung jawabannya. Mungkin kau bisa bertemu dengan Santo Petrus di gerbang surga. Atau barangkali mesti menikmati api penyucian dosa? Entahlah, seperti kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyian masing-masing.

Hiduplah sebagai Pedusi yang liat. Kau tau Pedusi? Pedusi adalah bahasa lain perempuan dalam kazanah melayu minang kalau tak salah. Pedusi tak tunduk pada lelaki, mereka menundukan lelaki, dominan, serta tahu benar apa yang mereka mau. Penguasa atas nasibnya sendiri. Jauh sebelum para feminis dunia melakukan demitologi atas konsepsi kesetaraan lelaki dan perempuan, para pedusi telah menjadikan diri mereka setara di mata para lelaki.

Seroang Pedusi tak akan kalah oleh keadaan. Ia akan sigap bergerak, kalau perlu melawan, atau seperti pasir, menjadi liat. Pedusi akan selalu bersikap lemah lebut tapi bukan berarti ia takluk. Seorang pedusi akan bersabar, bukan berarti ia akan diam diinjak. Ia adalah nama lain dari tekad yang keras. Pedusi adalah perempuan dewasa yang mengerti bagaimana bersikap pada perubahan juga pada kehilangan. Kukira kau harus mengerti ini. Aku mau kau mengerti tentang dunia lain di luar duniamu yang muram penuh amarah itu.

Kamu mau tahu akhir dari kisah Sinanalep Siguk Galajet? Akhirnya sang Adik bertemu dengan si lelaki tadi setelah bertahun lamanya. Si lelaki dan kakaknya tadi telah memiliki anak. Ia tak lagi menaruh dendam, malah sang adik menerima tawaran si lelaki tadi untuk merawat anak-anak mereka. Si adik lalu memuntahkan semua barang-barang yang ditelannya dulu. Ia kembali cantik dan membuka tabir penipuan sang kakak. Si adik lantas menjalani hidupnya dengan kedamaian, bahwa kesempurnaan akan tercapai dengan memaafkan orang yang menyakitinya. Lalu sisanya menjadi tak penting. 

Kukira kau harus mengerti bahwa seiring bertambahnya usia manusia mesti mengerti arti penting kedewasaan. Kita tak lagi bisa merajuk cemburu hanya karena Justin Bieber masih diputar di MTV. Atau mengumpat karena Jakarta masih saja diperkosa kemacetan yang menyebalkan. Atau mencibir karena tiket konser Radiohead kepalang brengsek mahalnya. Atau kita menangis karena gagal menjalani sebuah hubungan. Hidup, kukira, terlalu berharga untuk diisi dengan kesia-siaan semacam itu.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Dalam Perjalanan Kita...

Adam, manusia pertama adalah traveler. Dia mencari dimana Hawa berada.

Salman Rushdie memulai novel masyurnya, Satanic Verses, dengan sebuah pernyataan filosofis yang menggetarkan. "To be born again," kata malaikat Gibreel Farishta menggema dari surga, "first you have to die.” Saya kira Rushdie hendak menyampaikan sebuah pesan. Bahwa untuk menemukan sesuatu, kita mesti kehilangan yang lain. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa didapat hanya dengan berdiam diri dan terlena pada satu keadaan. 

Pernah dalam suatu masa saya merasa jenuh dengan kehidupan yang monoton. Kuliah, berorganisasi, pacaran lalu pulang tidur di kosan. Rutinitas yang awalnya menyenangkan ini pelan-pelan menjadi semacam penjara. Semua yang dulunya adalah kegiatan yang saya inginkan, berubah menjadi kebiasaan yang menjemukan. Tidak ada greget yang dulu memantik semangat hidup. Seringkali dalam diam pertanyaan datang dengan cara yang menyebalkan. "Apa ada yang salah dalam hidup saya?"

Lalu pada akhir 2007 saya berkenalan dengan seorang kawan yang gemar melakukan perjalanan. Ia mengaku dirinya sebagai petualang. Terinspirasi dari sebuah novel karangan Gola Gong, si norak ini tampil dengan tampilan gembel. Kerap dalam diskusi kami yang diselangi makian itu ia becerita, bahwa di luar sana, di Indonesia ada jutaan tempat yang menunggu dijamah, menunggu ditemukan, menanti untuk diceritakan. Tanpa sadar ia membakar semangat baru dalam hidup saya. Semangat petualangan.

Saya bukan seorang pemberani. Seringkali dalam hidup saya lebih memilih berjalan di pinggiran daripada berdiri tegak menghadapi masalah. Pengecut yang ragu-ragu lebih tepatnya. Tapi si norak kawan saya itu rupanya punya cara jitu untuk menyebarkan laku perjalanan, atau traveling, sebagai sebuah gairah hidup. Ia tidak mencemooh gaya hidup aman yang selama ini saya inginkan. Lulus cepat, jadi PNS atau karyawan bank, menikah, beranak lantas mati. Ia hanya bertanya. "Apa yang didapat dari hidup semacam itu?"

Saya kira hidup bukan perihal mendapat gaji lalu beranak. Manusia lebih hebat dari itu.

Pelan-pelan saya memacu diri untuk berani melakukan perjalanan. Awalnya beramai-ramai dengan beberapa kawan pergi ke Jogja, lantas berjalan sendiri. Kota ini adalah kota pertama yang mungkin akan selalu membuat saya menyemai rindu. Ia adalah segala yang bernama kepulangan, sahabat dan juga getir. Getir? Ah sudahlah suatu saat saya akan ceritakan. Tapi di sini saya bertemu dengan kawan-kawan lain yang juga menyadari arti penting sebuah petualangan. Perpindahan manusia kerap kali melahirkan gagasan, kawan dan juga pencerahan yang baru.

Tapi bagaimana sebuah perjalanan mesti dimaknai? Saya kira setiap manusia pernah melakukan perjalanan, petualangan dan ziarah. Tiap-tiap dari perpindahan tersebut memiliki arti sendiri. Sebuah perjalanan tidak selalu linier dengan keinginan kita. Artinya, dalam beberapa kasus, perjalanan bisa menjadi sebuah neraka atau surga tergantung bagaimana kita melakukannya. Perjalanan, seperti juga hidup, semestinya memiliki tujuan normatif. Tidak melulu datang foto-foto, menulis lalu melupakan begitu saja. Perjalanan yang semacam ini, buat saya, adalah perjalanan yang dangkal.


Kadang untuk memuaskan dahaga perjalanan, saya membaca, karena gak punya duit buat jalan.

Mau tidak mau saya ingin bersepakat dengan Jack Kerouac dalam cara menikmati sebuah perjalanan. Melalui magnum opusnya, On the Road, Kerouac bercerita bahwa perjalanan semestinya dimaknai seperti membaca buku. Ia bersama Dean Moriarty ia menjelajahi Amerika Serikat seperti membaca sebuah puisi. "I preferred reading the American landscape as we went along." katanya "Every bump, rise, and stretch in it mystified my longing.” Saya kira ia punya cara yang asik dalam bersenang-senang.

Apakah perjalanan juga harus dilakukan pada sebuah lokasi yang terpencil? Melulu indah dan eksotis? Saya kira tidak. Saya belajar dari Orhan Pamuk yang menyusun Istanbul dengan jeli. Perjalanan semestinya proses yang mencerahkan. Seperti saat pertama kali saya melakukan perjalanan ke Jogja. Saya terpesona akan segala yang dimiliki kota itu. Para penduduknya, toko bukunya, stasiun keretanya dan juga makanannya. Jogja seperti ibu lain yang selalu membuat saya betah berlama-lama menikmati peraduan yang ia sediakan.

Setiap kota, bagi saya, selalu menawarkan satu sudut baru untuk diceritakan, satu sosok baru untuk dikenali dan satu jalan baru untuk dijalani. Untuk itu, dalam setiap perjalanan, dimanapun destinasinya, saya selalu memperlakukan mereka sebagai sebuah tempat asing yang pertama kali dijamah. Sehingga meski satu tempat telah berkali-kali dijamah, dikunjungi atau diceritakan. Ia pasti memiliki sudut lain yang lalai dijelaskan. Perjalanan bagi saya bisa jadi merupakan sinonim dari sebuah pencarian.

Beberapa saat lalu seorang kawan, Farchan Noor Rachman, menuliskan sebuah bernas yang berjudul "What are you traveling for?" Si manis berkaca mata hitam ini berkata "Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana menikmati perjalanan dengan apapun, kemanapun dan dengan ongkos berapapun." Awalnya saya hendak setuju dengan pernyataan ini, kalimat itu benar sebagai sebuah jargon. Namun sebagai pribadi yang pernah mengenyam 30 episode Wiro Sableng dan 42 jilid kitab Dragon Ball saya diajarkan untuk menjadi kritis. 

Farchan alpa pada apa yang telah ia dan kawan-kawan travelernya lakukan. Mereka telah menyebarkan demam perjalanan sebagai sebuah gaya hidup baru, tanpa mempersiapkan pribadi-pribadi lain yang akan terjun dalam petualangan itu. Seperti juga cinta, melancong adalah sebuah virus yang bisa menjangkiti siapapun. Sayangnya tak semua orang bisa memperlakukan perjalanan dengan bijaksana. Beberapa, meminjam bahasa Farchan, "dunia traveling sudah terlalu riuh, terjadi kekosongan, terjadi upaya sombong-sombongan."


Saya ingin berdialog dengan Farchan juga situs semacam hifatlobrain atau yang lainnya, perihal kode etik seorang pejalan. Sebenarnya apa esensi sederhana dari sebuah perjalanan? Kerapkali situs traveling atau travel writer gagal menyampaikan pesan tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya stimulan, perayu yang mengiming-imingi orang lain untuk melakukan perjalanan, tanpa memberikan sebuah cagar batas apa tujuan dari sebuah perjalanan. Katakanlah tujuan setiap manusia dalam melakukan perjalanan berbeda satu sama lainnya. Tapi bukan berarti tak ada batasan bagaimana sebuah perjalanan dilakukan bukan?

Apakah mereka salah? Tidak. Saya hanya khawatir perjalanan tersebut hanya menjadi sebuah vakansi kosong. Sebuah ziarah semu atas ego kita menaklukan sebuah destinasi. Saya ingat perjalanan saya ke Toraja 2009 silam. Di balik riuh promosi dan hiperbola keindahan tanah kematian tersebut, rupanya tersimpan duka. Kita boleh jadi melihat sebuah perayaan kematian yang luar biasa, puluhan kerbau dibantai, babi disembelih untuk sebuah pemandangan. Tapi sedikit sekali kemudian yang menyigi bahwa dalam ritus itu beberapa keluarga jatuh bangkrut. Pernahkah kita peduli?

David Chaney, seorang pemikir kajian budaya populer, mengatakan adanya fenomena illusory surface. Penampakan luar yang indah namun membusuk di dalam. Saya mengakui begitu menikmati ratusan foto indah yang dipamerkan dengan tagar #indonesia atau #traveling. Tapi keindahan itu buat saya menjadi ironis, kerap kalo menusuk, jika kemudian kita gagal memahami realitas sosial yang ada dibalik foto tersebut. Melulu kita memamerkan sebuah surga tapi lupa, barangkali para penghuni surga tersebut sebagian besar putus sekolah atau bahkan mal nutrisi.


Meminjam istilah Pink Floyd, we just two lost soul in the fish bowl. Orang asing yang datang ke destinasi asing.

Saya pikir kita perlu bertanya dalam diri kita sendiri. Perlukah perjalanan hanya perihal destinasi tanpa serta berupaya memberikan sesuatu kembali? Di Bromo beberapa waktu lalu saya kembali dihadapkan pada situasi yang pelik. Dalam khusyuk upacara kasada para pencari berkah berkumpul di dalam kawah. Menanti sesaji yang dilempar untuk kemudian dikumpulkan. Siapa mereka ini? Seorang kawan berkata bahwa mereka adalah para penduduk Bromo yang miskin. Mengumpulkan sesaji bertaruh nyawa hanya untuk mengumpukan renik. Hati saya nyeri.

Ada juga beberapa pelancong yang abai dengan kondisi lingkungan sekitar dimana ia berkunjung. Permasalahan Cagar Alam sebagai lokasi perlindungan telah banyak dicabuli oleh pelancong yang enggan mengerti. Ambil contoh Cagar Alam Pulau Sempu dan Cagar Alam Pulau Nusa Barong. Sila anda cari di Google foto kedua lokasi tersebut. Puluhan atau mungkin ratusan foto akan muncul memamerkan keindahan pantainya. Tapi apakah mereka sadar jika lokasi tersebut adalah daerah konservasi alam?

Vidiadhar Surajprasad Naipaul, penulis dan peraih nobel asal India, pernah menulis sebuah catatan perjalanan yang bernas. Ia tak melulu bicara soal keindahan atau pesona alam. Jauh lebih itu ia bicara soal kemanusiaan. Soal realitas sosial yang terjadi di India. Ia bicara tentang kemiskinan yang kejam, konflik ras dan agama yang keji, juga polemik Khasmir antara Pakistan dan India. Adakah dari kita, para pejalan tadi, berani menuliskan itu semua? Menuliskan perjalanan sebagai apa adanya, bukan sekedar surga, indah, mengagumkan dan wow semata.

Sejauh ini pula belum pernah saya membaca travel writer yang berani menulis perihal Papua dalam perspektif humanisme. Deskripsi yang muncul selalu saja, pantai yang indah, penduduk yang unik, hutan yang memukau dan sederet eufimisme lain. Padahal dari catatan Human Rights Watch, hampir setiap hari terjadi pembunuhan di Papua. Kekerasan atas nama rasialisme dan juga konflik tanah adat. Pernahkah para pejalan tadi berani mengigir kisah ini dalam ceritanya? Saya ragu.

Dalam An Area of Darkness, V.S Naipul juga bercerita tentang kehidupan sehari hari. Ia bicara soal kehidupan sosial di India yang disebutnya sebagai sebuah tragedi. Kebanyakan dari kita mungkin berpikir jika India adalah bollywood yang indah, atau dalam bahasa Naipul "All the extravagantly coloured women with big breast and big hips," katanya. Lalu dilanjut dengan kalimat lebih nyinyir "a descendant of those figures of old indian sculpture which, until separated from the people who created them, like a tragic folk longing."

Saya kira kita perlu belajar mengambil jarak pada sebuah keindahan. 

Entah mengapa sebuah perjalanan di Indonesia kehilangan kaidah-kaidah kemanusiaan. Apakah traveling di Indonesia tak memiliki semacam norma atau kode etik? Semacam tapal batas. Bahwa, saat kau melakukan sebuah perjalanan ke satu destinasi tentukan tujuanmu ke sana. Apakah hanya sekedar hura-hura, pelarian, menyelami kebudayaan mereka, atau sekedar mampir. Lantas apa yang bisa kau berikan pada destinasi tersebut? Pajak lewat penginapan? Kabar perihal problema sosial di sana? Atau menutup mata dan berkata. Wow lokasinya indah, lo mesti ke sana deh.

Farchan, juga beberapa kawan di situs Hifatlobrain, saya kira perlu menalar lagi tujuan mereka dalam melakukan perjalanan. Atau dalam kasus hifatlobrain, mempromosikan lokasi wisata. Perlukah kita mengajak orang datang ke satu destinasi hanya sekedar untuk menikmati keindahannya tanpa berpartisipasi dalam pengembangan manusia yang tinggal disana? Atau Hifatlobrain berhenti pada wacana travel experience, experience yang mana? Yang foto-foto narsiskah? Yang murah-murahankah? Atau yang eksotis-eksotiskah? Sekali lagi, pengalaman menjadi personal bagi masing-masing manusia.


Foto oleh Heru Putranto. Saya ngobrol dengan nelayan di pantai Puger. Mereka kerap terbelit hutang jika tak melaut. Kita para pelancong kerap menikmati pemandangan alam tapi mungkin luput peduli pada detail semacam tadi.

Farchan pantas khawatir jika perjalanan yang dilakukannya kini menjadi impulsif. Saya kira ia takut apa yang ia cintai, perjalanan itu, menjadikan ia pribadi yang congkak, sombong lagi naif. Perjalanan, seperti juga ziarah, bukan perihal berapa destinasi yang telah kita lalui, atau berapa negara yang telah kita singgahi. Kalian, seperti juga saya, para manusia lebih dari itu. Perjalanan semestinya momen untuk menyadari kedhaifan diri. Berbagi kisah pada sesama untuk bahan renungan, pelajaran atau mungkin pencerahan.

Samuel Clemens atau yang biasa kita kenal sebagai Mark Twain, dalam salah satu karyanya yang tak terkenal, The Innocents Abroad, berkata “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts." Sebuah perjalanan yang diawali dari prasangka hanya akan berujung sia-sia. Lebih dari itu ia melanjutkan "Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one's lifetime.”

Satu kehidupan tak akan pernah cukup membuat kita mengelilingi bumi. Apalagi belajar dari setiap destinasi yang ada. Pilihan wajarnya adalah menikmati perjalanan tersebut, belajar darinya, lantas memberikan timbal balik pada lingkungan dimana kita tuju. Itu saja uneg-uneg yang hendak saya sampaikan. Saya belum banyak melakukan perjalanan, belum banyak pelajaran juga pengalaman yang bisa saya bagi.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kemudian Quran

Iqra karya Haya Segal

Ada yang semestinya dipahami dalam setiap peringatan Nuzulul Quran. Bahwa perintah pertama dalam islam adalah Iqra atawa bacalah. Bukan sekedar beribadah lalu mengklaim diri sebagai mahluk yang beriman. Lebih dari itu. Islam adalah agama yang mengajarkan kesadaran kritis. Kita di tuntut untuk "(mem)Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan." Membaca juga tak melulu dari buku saya kira. Iqra dalam kazanah relijius perlu juga diperluas pemaknaannya.

Dalam lima ayat pemula dari Al Alaq, Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, memerintahkan dua kali untuk membaca. Saya kira perintah ini bukan sekedar ayat yang turun tanpa sebab. Al Quran, berbeda dengan kitab lain, turun secara bertahap. Ia lahir sebagai sebuah peringatan, sebagai sebuah panduan dan juga sebuah jalan keluar atas permasalahan. Hal ini lantas melahirkan kitab Azbabun Nuzul yang berguna untuk memehami konteks sosio historis sebuah ayat dan perintah di dalamnya.

Saya percaya Al Quran merupakan manifestasi panduan hidup juga perintah yang harusnya dijalani orang muslim, sebagai bagian dari proses keimanan. Tapi sebagai manusia yang memutuskan jatuh cinta pada puisi. Al Quran adalah segala yang dirindukan para penyair. Narasi yang elok, diksi yang menggugah, kata yang kuat dan juga seranai kalimat yang menggugah. Kadang saya berpikir tuhan adalah seorang penyair yang malu-malu. Ia menyisipkan makna dalam setiap firman yang ada.

Mu'shaf Quran adalah kiasan yang menunggu dimengerti para pembacanya. Bahwa banyak kata, kalimat juga cerita di dalamnya yang kadang gagap dipahami sebagai sebuah pesan dari masa lalu. Al Quran pulalah yang menjadi sebab banyak manusia merasa memiliki warisan kuasa tuhan. Bahwa atas nama kata-kata, juga perintah yang kadang masih bisu, manusia menindas manusia yang lain. Kitab dengan isi kejam juga menjadi beringas pada kaum karena salah dimengerti.

Quran telah berabad-abad menjadi inspirasi manusia. Ia adalah cahaya yang menerangi gelap akal budi dan juga pelita atas kelam perilaku. Coba tengok manusia-manusia utama yang menjadikan Quran sebagai jalan hidup. Para alim ulama, ahlul bait, juga sufi yang merindu tuhan. Apakah melulu Quran adalah milik umat islam? Tidak. Quran, seperti juga islam, adalah berkah bagi seluruh umat. Rahmatan Lil Alamin yang sebenar benarnya.

Si murung Edgar Alan Poe adalah salah satu manusia yang terinspirasi dari Quran. Al Aaraaf adalah sajak terpanjang yang pernah ditulis penyair asal Amerika ini. Ia bercerita tentang Peri Nesace yang diperintahkan Tuhan untuk mengabarkan kepada para malaikat, untuk melaksanakan perintah Nya. Akan tetapi perintah ini gagal dilakukan karena dua malaikat terlibat dalam kisah asmara. Akibatnya Tuhan mengutuk dua malaikat ini untuk tak diterima baik di surga dan di neraka. Al Aaraaf  sendiri memiliki arti yang di antara surga dan neraka.

Dalam salah satu surat yang mesra Goethe, penyair besar Jerman itu, pernah memuji keindahan syair dan makna Quran. Kepada Schlosser ia berkata "to celebrate respectfully that night when the Prophet was given the Koran completely from above" Apakah ia mengimani Quran sebagai kalamullah/ kata-kata tuhan? Entahlah. Yang jelas Goethe yang dikala muda pernah jatuh cinta pada jazirah Arab juga pada bahasanya. Dalam kata-kata yang penuh igauan ia berkata, bahasa Arab dalah "In no other language spirit, word and letter are embodied in such a primal way."

Al Quran bagi saya adalah sebuah kitab yang mencerahkan. Ia memberikan orgasmus bagi saya yang mencintai sajak. Tuhan menunjukan bagaimana kata-kata dirajut hingga menjadi sebuah bala keselamatan. Tuhan menjadikan firman bukan hanya sekedar perintah yang mesti ditaati, tetapi juga sebuah teka-teki yang menunggu dipecahkan. Al Quran adalah segala yang bernama kesejukan. Kalimat yang indah, suara yang magis juga sahabat yang kental.

Menikmati Al Quran adalah menikmati hidup sebagai seorang sufi. Kita tak perlu tunduk tafakur dan menjadi a sosial untuk memahami bahwa Al Quran menyediakan segala yang rohani kita butuhkan. Ia sebenar-benarnya karib yang banyak bercerita tentang kaum lampau. Berharap kita bisa belajar dari mereka. Juga melepaskan beribu petuah tanpa perlu menjadi hakim yang garang. Ia ada di sana. Segala yang kita rindukan dari sebuah petunjuk. Janji yang mesra, ancaman yang nyata juga panutan yang rendah hati.

Sepertinya saya rindu mengaji. 

Minggu, 05 Agustus 2012

Anasir / Retak

#1

Kau mencari satu titik untuk berhenti,
sementara rindu menunggu ditemukan.
Lalu mestikah kita bersengketa
perihal waktu dimana perpisahan
selalu menjadi bagian dari akhir cerita

#2

Hujan selalu datang dalam diam, juga
ketergesaan yang malu-malu.
Siapkah kita menghadapi masa
lalu yang merambat?

#3

Pada sebuah malam yang dihadiri bulan
awan datang dengan semangat.
Bahwa gelap, tak harus berujung pekat
juga harapan patut diperjuangkan.
Dengan atau tanpa bayonet,
pendosa berhak bertobat.

#4

Apa yang lebih parau dari keraguan?
Di bilik rumahnya hanya ada curiga.
Sementara manusia adalah fana.
Juga harapan, yang dibiarkan diam.

#5

Kita menyemai harapan seperti debu.
Takluk pada apa yang kasat mata
seolah-olah zaman lahir
karena ketiadaan. Sementara niskala
hadir seperti rupa udara.

#6

Sebuah perbincangan tergeletak tak berdaya.
Tatal kacang, juga ampas kopi.
"Kemerdekaan," katamu "Lahir dari manusia yang bangun dinihari"
Esok pagi, sepasang ayam jantan meludah.
"Manusia tak pernah belajar,"
tapi kita tak pernah tahu apa maksud ayam berkokok bukan?

#7

Yadnya Kasada, dengung rapal doa.
Serupa mantra. Serupa tulah.
Serupa wajah-wajah yang menunggu
debu surut, pagi usai, juga angan angan.
Larung sesaji di puncak api.

#8

Asa tetas di satu sudut bernama persimpangan.
Lalu kau, lelaki yang menganyam
dendam berkarat. Sudahkah masa depan
bercerita tentang satu cerita?
Tentang sungai Gangga yang
melabuhkan anak cucu Santanu.

#9

Sinode pagi dimana Musa datang sebagai
musafir yang kelelahan. "Adakah Yesus di antara kalian? Saya lapar."
"Tuan, tidakkah tuan tahu? Yesus mati
tiga hari lalu," kata seorang wanita bercadar hitam.
"Jika Yesus mati. Lalu siapakah yang
membukakan pintu maaf pada umat manusia?"


Rabu, 01 Agustus 2012

Anjing!

Teater Tiang dalam lakon Monumen Para Anjing



Pada satu cerpen masyur karya Kuntowijoyo yang berjudul Anjing-anjing Menyerbu Kuburan, ada sebuah fragmen tentang simbol keserakahan yang teramat nyata. Tentang bagaimana manusia dan hewan, dalam hal ini anjing, bisa masuk dalam sebuah kriteria yang sama. Menjadi mahluk yang tak berpikiran logis dan menjadi budak atas keinginannya sendiri. Anjing yang memakan bangkai manusia dan manusia yang mencuri dari bangkai sesamanya. Keduanya seragam atas nama ketamakan.


Interpertasi yang muncul dalam Anjing-anjing Menyerbu Kuburan adalah posisi kemanusiaan yang sudah diambang batas. Tokoh utama yang sedang melakukan ritual digambarkan tengah berada dalam himpitan ekonomi, sehingga ia rela melakukan apapun untuk meraih kekayaan. Sementara para anjing liar, yang entah darimana, tiba-tiba muncul untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Makan. Dua kebutuhan yang bertemu dengan alasan yang kurang lebih mirip. Hanya satu berdasarkan insting dan yang lainnya keterhimpitan.


25 Juli lalu pada sebuah malam yang tak begitu larut, Unit Jegiatan Seni Pertunjukan Mahasiswa Teater Tiang FKIP Universitas Jember, tengah mementaskan sebuah lakon teater surealis yang berjudul Monumen Para Anjing. Naskah nir dialog ini disutradari oleh Ferick Sahid Persi, yang juga ketua Teater Tiang. Meski tak banyak dihadiri oleh penonton, namun pementasan yang berdurasi sekitar 45 menit ini mampu membuat saya terhenyak dengan fragmen-fragmen simbolis yang berkelebat.


Dimulai dari tata panggung yang sebagian besar diisi oleh kursi juga sebuah gerobak yang membawa kursi tadi. Karena memang tak banyak ragam properti yang digunakan Teater Tiang pada lakon kali ini. Sebuah lapangan bundar di tengah kampus FKIP Unej dipilih sebagai tempat pementasan. Di awal hingga akhir pementasan para pemain sama sekali tak melakukan dialog. Hanya permainan ekspresi dan suara-suara yang mirip dengan Anjing.



Pada paruh awal pementasan para aktor tak banyak melakukan gerakan. Gerak yang dilakukan juga lamat-lamat seperti ogah-ogahan. Tidak melulu menampilkan banyak gestur yang gegas apalagi terburu-buru. Salah satu unsur yang menarik yang saya sukai dari naskah Monumen Para Anjing adalah penggunaan unsur simbol dan ketiadaan dialog. Para penonton dibuat bertanya-tanya mengenai apa maksud dari pementasan tersebut. Boleh jadi antar satu penonton dan yang lainnya memiliki tafsir yang berbeda.

Simbol-simbol yang dimainkan oleh Ferick dan kawan-kawan memiliki beberapa lapisan tafsir. Tentang simbol anjing, tentang kursi dan juga gerak yang lambat. Ia seolah bicara tentang manusia yang tunduk. Manusia yang hanya bisa mengekor dan dipelihara oleh sistem. Kursi sendiri merupakan perlambang kekuasaan. Sebuah monumen yang merepresentasikan otoritas dan penguasa. Sementara para anjing adalah manusia-manusia yang direpresi dan dimanjakan oleh penguasa tersebut.

Dalam lakon Monumen Para Anjing, para anjing tadi awalnya adalah manusia. Namun karena mereka tunduk dan direpresi pelan-pelan kesadaran kritis mereka habis. Direduksi oleh teror, uang dan juga propaganda yang dilakukan penguasa. Hal ini disimbolkan oleh Teater Tiang melalui amplop, anjing yang meneror juga indoktrinasi melalui topeng-topeng. "Kita semua awalnya manusia. Tapi berubah jadi anjing. Anjing yang tunduk dan hanya bisa diam saja," tukas Ferick.

Ferick sendiri sebagai sutradara sebenarnya terinspirasi sejak lama untuk mementaskan teater surealis yang nir dialoh. "Saya telah lama ingin menyusun naskah ini. Sejak pertama bisa membaca pada koran, saya rasa tidak pernah ada perubahan yang berarti dalam pemberitaan," katanya dengan landai. Ia lantas bercerita jika naskah ini adalah upaya untuk mengkritisi kondisi masyarakat yang tak pernah berubah sejak bertahun lampau.

Namun yang membuat pementasan ini kurang sempurna adalah menjelang akhir, Ferick saya kira melakukan blunder dengan menuliskan kata-kata. Seperti Demokrasi, Anti Korupsi dan lainnya. Ia yang sedari awal ingin pementasan ini sebagai sebuah "Puisi yang dimaknai secara mandiri," telah menggiring penontonnya terhadap sebuah pemaknaan. Padahal jika dilakukan dengan rapi ia bisa menggunakan simbol-simbol lain yang mewakili kata-kata tersebut.

Sebagai penutup saya hendak mengingat beberapa fragmen dalam cerpen  karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Legenda Wong Asu. Anjing digambarkan sebagai sebuah komoditas juga simbol kesetiaan. Ia hadir dalam penggambaran sengsu (oseng-oseng asu) yang dikonsumsi sebagai makanan. Lebih dari itu detail narasi Seno tentang bagaimana perbandingan anjing liar dan anjing domestik bisa menjadi sebuah ironi. Bahwa dalam dunia binatang pun terdapat perbedaan bagaimana sebuah keas dibentuk. Apakah kau seekor anjing buluk atau anjing aristokrat.