Selasa, 17 September 2013

Dan Selebihnya Dusta

Bersepakat soal perpisahan itu adalah sebuah menerima bahwa pada satu titik kata-kata tidak lagi berguna, tindakan tidak lagi berarti dan kebersamaan tidak lagi penting. Barangkali juga menyoal bahwa kita memang tidak pernah bisa-bisa sadar akan keberadaan yang lain dalam hidup kita. Tapi tentu itu tidak penting sayangku. Tidak ada yang lebih penting daripada oksigen juga air. Aku bisa hidup tanpamu tapi mustahil hidup tanpa oksigen dan air.

Tentu ini olok-olok yang menyebalkan. "Perpisahan kok disandingkan dengan kebutuhan bertahan hidup," tapi benarkah demikian? Kebersamaan dengan yang lain, juga kebutuhan menerima afeksi, bisa jadi lebih penting daripada oksigen dan air. Oksigen dan air, bagaimanapun pentingnya ia bisa didapat dengan gratis. Kecuali kamu sedang sakit dan butuh tabung oksigen, atau sedang berada di gurun pasir gobi dan butuh air kemasan. Keberadaan yang lain, yang memberikan kita kehangatan, perhatian juga keberadaan itu sendiri adalah halm pelik yang rumit rumit susah.

Kamu tidak bisa menjelaskan betapa berada diam dan disamping seseorang itu sangat melenakan. Memberikan kepastian dan keteduhan yang lebih kalis daripada payung saat hujan. Tidak ada logika yang bisa menjelaskan kebutuhan sosial. Maslow boleh bikin hirarki kebutuhan yang mengatakan apabila aktualisasi diri itu penting. Bahkan yang utama. Tapi tentu aktualisasi menjadi hal yang komikal dan bodoh tanpa ada yang lain yang mengakui atau menyadari aktualisasi diri itu

Tapi sayang apakah itu penting?

Tidak ada yang lebih penting daripada kamu di sini lantas bertengkar hebat perihal jumlah bungkus indomie yang aku makan semalam. Atau mengapa dalam rentang tujuh hari deadline aku masih bersantai-santai tak peduli soal gegasnya waktu. Keberadaan kamu adalah upaya menggenapi ada ku yang lain. Mengada bahwa manusia yang sendiri sebenarnya invalid dan tak lengkap. Manusia yang sendiri butuh separuh yang lain untuk bisa menggenapi yang ganjil. Dua bukan berarti genap dan tiga bukan berarti ganjil. Juga yang lain bukan berarti harus hetero.

Tapi apakah itu penting sayang?

Jarak harusnya hanya soal angka-angka brengsek dari peta yang kita kutuki keberadaannya. Kita yang dicintai dan mencintai. Soal betapa sebenarnya kita, sekali lagi, harus dipaksa menunggu oleh kepentingan kepentingan yang tidak sukai. Hidup seringkali memang demikian. Kita mengerjakan hal yang tidak kita sukai, untuk memenuhi keinginan orang yang kita benci, agar bisa terus menjalani hidup yang kita kutuk keberadaannya. Untung ada kamu sayang. Untung ada kamu yang membuat hidupku tak lebih waras daripada keinginan Hitler mendominasi dunia.

Tapi sayang adakah yang lebih penting dari ini?

Kita hidup dalam dunia rumit yang untuk membahagiakan diri sendiri kita harus tunduk pada standar kebahagiaan orang lain. Aku mencintaimu. Mencintaimu dengan seluruh kekuatanku yang pemalas ini. Juga menerima bahwa untuk membahagiakanmu aku perlu bekerja. Lantas memberikan hal-hal sepele, namun penting, seperti makan, orgasme, tidur dan rasa aman. Kau dan aku sadar kita tak bisa melulu hidup dengan cinta. Cinta akan habis. Suatu saat nanti 20 tahun usai pernikahan kita aku akan berhenti terangsang oleh pesonamu dan mudah bergariah dengan belahan dada gadis puber SMA.

Tapi bukankah kita sadar akan ini sayang?

Kita sadar bahwa menjadi manusia yang kasmaran adalah menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang fana lagi dhaif. Aku mencintaimu karna kau menyadari kelemahanku dan entah apa alasanmu mencintaiku. Sebentar sudah berapa cinta yang aku ucapkan? satu, dua, tiga, hmm terlalu banyak. Intinya, mungkin, begini. Bahwa kita menerima untuk tidak lagi tunduk pada ketakutan-ketakutan, tapi menyongsongnya sebagai karib yang tengik. Dan berharap, semoga, bahwa ketengikan itu akan hilang dengan kejujuran yang kita anggap sebagai aib.

Yakinlah perpisahan ini cuma sementara. Tapi jangan yakin yakin amat. Keyakinan berlebih hanya akan membuatmu menjadi dungu sayangku. Tetaplah berpikir sehat dan percaya hati nuranimu sendiri. Aku tidak baik, sangat jahat, mungkin keji, tapi aku mencintaimu. Jangan lelah membuatku percaya menulis dan mencintaimu adalah keniscayaan di senjakala zaman yang terlampau brengsek ini.

1 komentar: