“Ia selalu
bermimpi tentang pepohonan,” kata Placida Lenaro, tentang anaknya Santiago
Nasar. Mereka adalah nama nama dari tokoh rekaan Gabriel García Márquez dalam The Cronicle of a Death Foretold. Ada
yang haru di situ. Tentang bagaimana seseorang yang meninggal diingat. Pagi
ini, 18 April 2014, sehari setelah Yasunari Kawabata bunuh diri puluhan tahun
lalu. Gabo, begitu ia diingat, meninggal dunia. Hati saya kosong, tidak ada
duka atau kesedihan. Seolah olah semua ini hanya guyonan. Gabo? Gabriel García
Márquez meninggal? Oh ayolah Tuhan, setelah Mandela kini kau jemput juga Gabo?
Saya tak
ingin percaya. Tapi juga tidak mungkin mengabaikan fakta bahwa sejak dini hari
tadi puluhan situs berita mengutip kabar kematiannya. Cristobal Pera, mantan
editor Gabo di Random House membenarkan kabar ini. Apalagi yang bisa saya
lakukan selain meratap? Tapi tidak ada tangis hari ini. Barangkali juga
seterusnya, saya butuh tidur lebih dari lima jam, untuk benar benar mencerna.
Gabo sudah benar benar meninggal. Ia sudah pergi dengan meninggalkan seluruh
warisan kebudayaan kepada generasi setelahnya.
Saya
pertama kali membaca buku Gabo saat duduk di bangku Kuliah. Saya membaca
Seratus Tahun Kesunyian, terbitan bentang yang berwarna biru. Realisme Magis,
gaya menulis yang konon dilekatkan padanya, sebenarnya bukan selera saya. Ia
rumit, bertele-tele, membosankan dan terlalu banyak simbol. Tapi Gabo meramu
sebuah novel dengan bahan bahan butut menjadi sebuah cerita yang renyah, gurih
dan nikmat dimamah. Ibarat makanan Gabo memberikan anda masakan eksperimental,
tidak baru memang, karena ada generasi sebelumnya yang mencoba menawarkan hal serupa, tapi
kali ini ia memasaknya dengan takaran yang tepat dan sedap.
Gabo menulis
dengan stamina tinggi. Saya selalu percaya Gabo menulis bukan untuk menciptakan
genre atau mengejar capaian estetis. Ia sedang menggenapi sebuah buku yang
berjudul “La bendita manía de contar,” atau
kegilaan kudus untuk bercerita. La bendita manía de contar adalah kumpulan diskusi
dan petuah tentang lokakarya menulis naskah film yang pernah ia lakukan. Namun
entah mengapa, saya seolah menemukan jawaban dari ragam tema tulisan yang ida
kerjakan.
Menjadi
penulis bukan pekerjaan mudah. Ia membutuhkan ketelatenan dan nafsu membaca
yang luar biasa. Belum lagi jika anda menulis untuk media. Secara tidak sadar
pilihan saya untuk menjadi jurnalis barangkali terpengaruh oleh Soe Hok Gie,
Ahmad Wahib dan Gabo. García Márquez menyebut
jurnalisme sebagai pekerjaan terbaik sedunia. Ia menyatakan bahwa kemampuannya
menulis fiksi sekarang diperoleh dari pengalamannya mencermati fakta-fakta saat
masih menjadi jurnalis.
Saya
beruntung menemukan sastra alibi, blog yang diasuh oleh begawan dan pakar
sastra latin, Ronny Agustinus. Di dalamnya saya berselancar dan berulang kali
membaca naskah esai, cerita satir dan kabar perihal Gabo. Dari blog kang Ronny
pula, saya membaca “Usos y abusos del
paraguas”. Sebuah satir pendek dari kolom Gabriel García Márquez muda saat
menjadi jurnalis El Espectador. Naskah
ini menyindir perilaku sosial kelas menengah atas di Kolombia yang memintingkan
gaya daripada fungsi.
Kang Ronny
menjelaskan apabila gaya García Márquez di sini mengingatkan akan vinyet-vinyet Julio Cortázar di Historia de cronopios y famas (1962).
Tapi ia memberi penekanan bahwa kolom ini terbit bertahun-tahun sebelum García
Márquez mengenal Cortázar. Saya menduga Gabo adalah seseorang yang visioner dan
juga seorang eksperimentalis. Ia mencari, menjelajah dan mencoba berbagai gaya
penulisan sebelum akhirnya menemukan dan mencipta gayanya sendiri.
Pada pidato
kebudayaan saat meraih Nobel sastra dunia pada 8 Desember 1982, Gabo bercerita
tentang “The Solitude of Latin America”
kesunyian Amerika Latin. Gabo, tak seperti kebanyakan penulis hari ini, punya
nyali untuk memilih dan memihak haluan politiknya. Ia membuka pidatonya tentang
sosok Antonio Pigafetta, seorang navigator asal Florentine navigator yang pergi
menjelajah bersama Magellan. Ia bercerita tentang “…y que aquel gigante enardecido perdió el uso de la razón por el pavor
de su propia imagen,” seseosok raksasa yang kehilangan citra akan dirinya
sendiri karena rasa takut.
Tapi
tentang apakah pidato itu sebenarnya? Saya dan anda tahu, Gabo yang
berkebangsaan Kolombia ini memiliki kedekatan dengan Fidel Castro. Hal ini
membuatnya sedikit taklid buta dan menganggap kebenaran kiri adalah hal yang
mutlak. Ia percaya bahwa sosialisme memiliki kebenarannya sendiri. Karya-karya Gabo bercerita tentang kondisi masyarakat latin yang tertindas, yang dijajah dan tanpa sadar sedang ditundukan oleh musuh di luar dirinya sendiri. Pada pidato itu Gabo ingin kembali mengingatkan bahwa kesadaran akan kedaulatan diri adalah hal yang paling penting agar tak lagi jadi korban.
Pilihan Gabo untuk menjadi seorang kiri memang bukan hal yang baru. Agak mengejutkan jika melihat Gabo muda diasuh oleh kakeknya yang berasal dari dinas militer. Pilihan politiknya memang sangat keras dan fanatik. Hal ini melahirkan perseteruan dengan Mario Vargas Llosa, mantan sahabatnya yang juga sesama peraih nobel sastra. Bagi Llosa, Castro tak lebih baik daripada diktaktor lain karena telah memberangus para penyair di zamannya. Perseteruannya berlangsung lebih dari 30 tahun dan menjadi pertikaian paling lama dalam sejarah sastra dunia.
Pilihan Gabo untuk menjadi seorang kiri memang bukan hal yang baru. Agak mengejutkan jika melihat Gabo muda diasuh oleh kakeknya yang berasal dari dinas militer. Pilihan politiknya memang sangat keras dan fanatik. Hal ini melahirkan perseteruan dengan Mario Vargas Llosa, mantan sahabatnya yang juga sesama peraih nobel sastra. Bagi Llosa, Castro tak lebih baik daripada diktaktor lain karena telah memberangus para penyair di zamannya. Perseteruannya berlangsung lebih dari 30 tahun dan menjadi pertikaian paling lama dalam sejarah sastra dunia.
Kritikus
sastra dunia, Harold Bloom, menulis dengan getir bahwa Gabo berhutang kepada
William Faulkner dan Franz Kafka. Bloom menuduh bahwa segala capaian estetik
Gabo adalah usaha menuliskan kembali “keriangan masa lalu dan kemuraman hari
akhir,” dari peradaban manusia. Bloom tidak menuduh Gabo menjiplak, lebih dari
itu, Gabo menyempurnakan apa yang gagal dicapai oleh Faulkner dan Kafka.
Pembacaan yang lebih ringan dari sisi gelap sejarah manusia.
Di sisi
lain sosok sosok perempuan dalam cerita Gabo adalah tulang punggung cerita.
Mereka adalah sebenar benarnya tokoh kunci yang memberi kekuatan pada sekitar.
Tak mungkin Florentino Ariza bisa bertahan hidup tanpa harapan dan cinta pada
Fermina Daza dalam Love in the Time of
Cholera. Mustahil keluarga Buendia di Kota Mocondo bertahan tanpa ketegaran
dari Úrsula Iguarán. Perempuan bukan sosok subaltern di sini, mereka adalah
tokoh kunci yang menjadikan para prianya hidup dan berharap.
Namun
memang jika dibaca secara kasat mata, cerita cerita dalam Novel Gabo adalah
lanskap muram tentang Amerika Latin yang tengah ditindas. Tapi ia tidak
menuliskannya dengan gaya meledak-ledak mendorong sebuah insureksi. Gabo, bagi
saya, menulis dengan sebuah tawaran. Diskusi tenang di antara kepul asap cerutu
dan kopi panas. Sebuah humor gelap dengan nada satir yang pekat. Seperti dalam One Hundred Years of Solitude (1967), Chronicle of a Death Foretold (1981) dan
The General in His Labyrinth (1989).
Namun ia
juga punya sisi romantis yang melenakan, seperti dalam kisah Love in the Time of Cholera (1985) dan Memories of My Melancholy Whores (2004).
Pada sebuah wawancara Marlise Simons, di New York Times 30 Juli 2008, Gabo
mengaku bahwa dalam setiap karyanya ia mencoba menggali sesuatu yang baru, tema
yang baru dan kepenulisan yang baru. Bahwa menulis adalah tentang perasaan,
mood dan bagaimana kau ingin menyampaikan sebuah cerita. Ia menyebut tulisanya
dengan cita rasa “Karibia, sesuatu yang tak bisa dipahami kritikus,” katanya.
Mustahil
bagi saya untuk tidak emosional. Barangkali ini serupa perasaan kanak-kanak
yang kehilangan seorang kakek. Kakek yang gemar memberimu mainan, permen dan
mahir mendongeng. Kau akan merasa bahwa si kakek ini adalah satu satunya orang
yang mengertimu. Bahwa dengan segala dongeng yang ia ceritakan, kakek tak ingin
mengguruimu, ia hanya menunjukkan. Menceritakan bagaimana sebuah hidup
seharusnya dilalui, tentu saja, sebagai kakek ia akan memberimu kotbah,
memarahimu dan sesekali memukulmu dengan geras. Gabo adalah sosok Kakek yang
tidak pernah saya miliki.
Pada
penutup pidato Nobelnya, Gabo mengutip kata kata dari William Faulkner, yang ia
sebut sebagai gurunya. "I decline to
accept the end of man". Saya menolak menerima bahwa kematian Gabo
adalah sebuah akhir. Ini adalah satu titik baru, sebuah momen untuk kembali
membaca. Bahwa sosoknya yang dikanonkan sebagai seorang sastrawan tinggi semestinya
ditempatkan pada posisi yang tepat. Pendongeng tentang sebuah negeri yang
dijajah, ditekan tiran dan diteror rasa takut. Realisme magis adalah bumbu,
tapi semangat dari cerita Gabo, bagi saya, adalah tentang menjadi manusia yang
merdeka.
Selamat
Jalan Gabo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar