Salah satu
guru jurnalistik saya, Farid Gaban, memutuskan untuk menulis sebuah esai pendek mengapa ia memutuskan tidak mencoblos. Kami berdua telah berbulan-bulan
berdiskusi dan berdebat perihal apa dan mengapa demokrasi kita tidak sekedar
pemilu. Pada satu titik kami berdua sepaham, bahwa praktik kerja politik tidak
melulu soal pemilihan umum, tapi juga menyoal kebijakan publik, akuntabilitas
anggaran negara dan juga sistem birokrasi yang baik. Tapi ada beberapa hal yang
ingin saya tolak dari apa yang ia sampaikan dalam artikelnya itu.
Mas Farid
menyebut bahwa sistem kepartaian dan pemilu di era reformasi pada dasarnya
adalah kelanjutan, bukan perubahan dari sistem Orde Baru. Sistem yang menindas
kesadaran politik warga negara dan memberi peluang pada oligarki. Saya sepakat
bahwa sistem kepartaian yang ada saat ini adalah sistem yang menindas, tapi
Jokowi adalah pengecualian. Jika pada tradisi Orde Baru calon presiden adalah
mereka para pemimpin partai, kali ini Megawati (terpaksa) mendobrak hal ini
dengan mencalonkan kader yang sama sekali tak punya ikatan trah Sukarno,
kekuatan yang selama ini menjadi barang dagangan PDIP.
Mas Farid
selaku jurnalis pasti mengetahui informasi yang berkembang selama beberapa
minggu terakhir. Bahwa meski dicalonkan oleh PDIP, Jokowi hampir minim dukungan
partai. PDIP kehabisan tenaga dan dana saat pemilu caleg. Inisiatif kreatif dan
kerja dukungan selama kampanye Pilpres, jika saya boleh sesumbar, hampir 80%
merupakan kerja-kerja inisiatif relawan. Sesuatu yang belum pernah ada dalam
tiga dekade penguasan rezim Orde Baru. Generasi muda seumuran saya, para
seniman, pekerja kreatif bahkan pelaku Golput kelas berat memutuskan untuk
turun dan ambil bagian.
Bagi saya
ini adalah harapan. Bahwa kita boleh tidak percaya pada partai, tapi ada sosok
yang kinerjanya telah ada dan terbukti. Bahwa ada orang-orang yang bukan kader
partai ambil bagian dalam proses politik menghadang kebangkitan rezim yang
pernah ditumbangkan reformasi. Bagi saya ini satu dari sekian alasan mengapa
kita jangan golput dan memaksimalkan satu hak kita (bukan satu satunya hak)
dalam berpolitik untuk mendukung calon yang bersih dan berintegritas.
Sebagai penulis
isu hak asasi manusia, khususnya kebebasan berkeyakinan bagi kaum minoritas,
telah menjadi kepedulian saya sejak lama. Trend kekerasan terhadap keyakinan
semakin meningkat selama lima tahun terakhir. Hal ini diperkuat oleh temuan
dari Setara Institute dan Wahid Institut. Mereka menilai ada trend berbeda
dalam kekerasan berdasarkan agama. Laporan
Pemantauan SETARA Institute tentang kondisi diskriminasi terhadap kaum
minoritas keyakinan di Indonesia menunjukan bahwa kondisi kebebasan beragama
masih belum terjamin.
Terdapat
banyak pelanggaran dari negara dan praktik intoleransi, diskriminasi, dan
kekerasan terhadap kaum minoritas. Padahal secara normatif negara telah
meneguhkan komitmennya melalui Pasal 28E Ayat (1 & 2), dan Pasal 29 Ayat
(2) UUD Negara RI 1945. Jaminan yang sama juga tertuang dalam UU No. 39/1999
tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No. 12/2005 tentang Pengesahan Konvensi Internasional
Hak Sipil dan Politik. Namun demikian, politik pembatasan terhadap hak ini
masih terus terjadi, baik menggunakan Pasal 28J (2) UUD Negara RI 1945 maupun
melalui peraturan perundang-undangan lainnya yang diskriminatif.
Laporan
pemantauan terdahulu sejak tahun 2007 menunjukkan bahwa kondisi kaum minoritas
beragama di Indonesia semakin memburuk. Absennya negara dalam hampir seluruh
peristiwa pelanggaran, impunitas atas pelaku pelanggaran, pembiaran
tindakan-tindakan pelanggaran, dan penelantaran para korban pelanggaran adalah
alasannya. Pew Forum, lembaga riset yang berbasis di Washington DC, menaruh
Indonesia dalam kategori "sangat tinggi" perihal social hostilities index (indeks mara bahaya sosial) yang
melibatkan agama. Berdasarkan hasil riset 2010 Indonesia berada di peringkat
ke-15 dari 197 negara.
Human
Rights Watch melakukan riset di 10 provinsi di Jawa, Madura, Sumatra, dan
Timor, serta mewawancarai lebih dari 115 orang dari berbagai kepercayaan.
Mereka termasuk 71 korban kekerasan dan pelanggaran, maupun ulama, polisi,
jaksa, milisi, pengacara dan aktivis masyarakat sipil. Hasilnya sungguh
mengejutkan, beberapa pejabat daerah sering menyikapi pembakaran atau kekerasan
dengan justru menyalahkan korban minoritas.
Saya pun
membandingkan bagaimana kedua calon presiden tersebut dalam perlindungan dan
komitmen terhadap kaum minoritas. Prabowo dalam manifesto partainya menyebut
Pengadilan HAM adalah sesuatu yang berlebihan, mereka bahkan mengatakan akan
memberlakukan pemurnian agama. Sesuatu yang mirip dengan ide-ide partai nazi
tentang kemurnian ras. Belum lagi pernyataan dari sekjend PKS, selaku sekutu
Prabowo, mengatakan akan menertibkan Ahmadiyah dan Syiah karena dianggap
mengganggu ketertiban umum.
Dua alasan
tadi sudah lebih dari cukup bagi saya untuk menolak calon nomor 1 sebagai
presiden. Lantas bagaimana dengan nomor 2? Jokowi dalam berbagai kesempatan
telah menunjukan dan konsisten berkomitmen untuk memberlakukan toleransi pada
umat beragama. Ia merangkul segala golongan, baik islam mazhab sunni, islam
mazhab syiah, kristen, katolik, dan sebagainya untuk bekerja sama dalam
perbaikan. Lurah Susan dan Ahok (Ya beliau kader Gerindra namun tak mengubah
fakta bahwa Prabowo didukung kaum intoleran) sebagai dua bukti konsistensi itu.
Mas Farid
seperti juga kawan saya yang lain, masih mempersoalkan orang-orang yang sedang
mencalonkan diri sebagai presiden saat ini. Mas Farid berkata bahwa, pemilihan
presiden ini juga bukan persaingan "yang baik melawan yang jahat"
atau "Orde Reformasi versus Orde Baru". Lihatlah: hampir semua
partai, ormas dan kelompok penekan (pengusaha, pengaruh asing) bermain di kedua
kubu, baik Prabowo maupun Jokowi.
Mas Farid
menyebut bahwa saat ini adalah era politik yang pragmatis. Kehilangan gairah
ideologi, minim kesadaran demokrasi yang substansial, dan karenanya melempem
dalam mendorong perubahan signifikan di era Reformasi. Tapi saya kira Mas Farid
abai tentang fakta bahwa Jokowi telah melahirkan satu generasi baru yang
kreatif dan peduli politik. Mereka mungkin tidak idiologis dan tidak paham
dengan substansi demokrasi, tapi Jokowi melahirkan ribuan anak muda yang mau
bekerja dengan kreatifitas mereka tanpa dibayar.
Apa yang
terjadi di GBK beberapa waktu lalu bukan People Power. Saya lebih percaya itu
adalah power of Hope. Ribuan orang datang tanpa dibayar, sebagaian besar dari
mereka non partisan partai. Tentu banyak dari di antara mereka yang datang
untuk menonton konser. Tapi jika anda datang dan melihat kerumunan orang tanpa
bendera partai, hanya bendera Slank, wajah Jokowi, dan bermacam rupa kaus
kreatifitas relawan. Anda akan bergetar dengan harapan perubahan.
Jokowi
bukan mesiah yang akan mengatasi semua masalah. Lebih dari itu ia cuma pedagang
mebel yang pernah dipercaya sebagai walikota dan gubernur. Dua jabatan yang
membuat ia memperoleh banyak penghargaan. Apakah ini kerjanya sendiri? Saya
kira seluruh prestasi tadi adalah kerja keras dari staf dan para rekan kerja
Jokowi. Jokowi hanya membantu memperbaiki keadaan yang tak baik menjadi baik,
yang tak efektif menjadi efektif dan tepat guna mengatasi problem setelah
membaca masalah.
Jokowi tidak
sempurna, seperti yang mas Farid katakan. Saya setuju bahwa dibalik Jokowi ada
juga pelaku kejahatan kemanusiaan, bahwa dibalik Jokowi kemungkinan ada cukong
pengusaha dan kepentingan asing yang bermain. Bahwa pada barisan Jokowi tidak
sempurna, ada taipan media yang menggunakan frekuensi publik semaunya. Adapula
pemimpin partai yang tak becus mengurus TKW. Tapi pada barisan Jokowi mereka
yang menjadi tertuduh penjahat kemanusiaan, yang menjadi cukong MP3Ei bukanlah
Capres atau Cawapres. Mereka sekedar menjadi pendukung saja.
Saya ingat
membaca pada satu buku kecil, jika satu kaki terinfeksi tetanus dan membusuk.
Maka cukup kaki saja yang diamputasi untuk menyelamatkan nyawa seluruh badan.
Tapi jika yang infeksi dan menjadi sumber masalah adalah kepala. Maka apa boleh
bikin, kita tak bisa berbuat apa-apa selain mengkonsumsi obat berat dengan efek
samping yang brutal dan berbahaya.
Apakah
Jokowi pasti akan menuntaskan kasus Pelanggaran HAM yang ada di Indonesia? Saya
tidak bisa memberikan jaminan itu. Yang jelas ia telah berkomitmen, sejauh ini
komitmennya banyak yang terbukti dan berbuah baik. Bayangkan jika anda meminta
penuntasan kasus Pelanggaran HAM kepada calon yang menganggap bahwa pengadilan
HAM itu tak perlu dan berlebihan? Ibarat meminta Pakar Teori Loop Quantum
Gravity mempercayai Strings Theory. Mustahil.
Jika Jokowi
terpilih, tugas pertama para relawan dan pendukung Jokowi adalah menjadi
oposisi yang mengawasi segala kebijakan yang ia janjikan. Kita bisa membidik
dan menuntut agar kasus pelanggaran HAM diusut tuntas, meminta agar para
pelakunya diadili. Apakah bisa selesai dalam satu dua hari? Saya kira tidak, Julia
Gillard adalah perdana mentri Australia yang meminta maaf kepada kelompok
Aborigin setelah empat dekade. Proses demokrasi adalah proses menjadi dewasa
dengan tertatih tatih. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali ada pengadilan
HAM.
Kita tidak
sedang memilih lesser of two evils.
Apakah dengan memilih Jokowi sama dengan mendukung AM Hendropriyono dan
Wiranto? Bagi saya tidak. Ini adalah perihal memilih Prabowo atau Jokowi. Saya
belajar dari proses kemajuan Surabaya yang dipimpin Walikota Risma saat ini.
Ketika pencalonannya Risma kerap dianggap sebagai perpanjangan dari rezim
sebelumnya. Tapi toh kota bisa melihat, ia melawan rezim buruk yang
mendukungnya dan mampu mengubah Surabaya menjadi satu kota terbaik di
Indonesia.
Saya
percaya golput adalah hak individu. Ada banyak orang yang saya kenal golput
bukan semata karena mereka muak dengan parpol. Mereka Golput karena kesadaran
politik yang lahir dari pengalaman berdialektika selama bertahun tahun. Mereka
mengorganisir rakyat, memberikan kesadaran kelas dan memberikan keterampilan
kemandirian hidup tanpa bantuan negara. Hingga kemudian menyadari bahwa toh
dengan usaha sendiri ia bisa memberbaiki keadaan tanpa bergantung pada negara.
Saya tidak
akan memaksa Mas Farid atau siapapun yang memutuskan Golput untuk memilih. Itu
adalah hak politik anda sekalian. Saya tak menjalani hidup anda dan tak alasan
mengapa anda memutuskan golput. Bahwa dengan memilih bisa otomatis mengubah
keadaan memang adalah kenaifan, tapi dengan memilih dan berpartisipasi
mendukung jokowi. Anda turut ambil bagian dalam kerja memperbaiki keadaan.
Jika ia mbalelo? Singsingkan lengan baju, kita
turun ke jalan, sekali lagi.
sangat mencerahkan, mas :)
BalasHapusKatanya banyak omong. Kok tulisan terakhirnya sudah sebulan lebih :) Salam kenal, Om
BalasHapus