Tentang puisi sederhana dari penyair sosial
media.
Bertahun
lampau Chairil pernah berseloroh, bahwa yang bukan penyair tak boleh ambil
bagian. Puisi, baginya, adalah sebuah peristiwa suci dimana tidak semua orang
boleh mencipta dan membuat puisi. Puisi adalah karya adiluhung, suci, kalis dan
kerapkali merupakan hal yang kudus. Seloroh ini menjadi sebuah tantangan,
pernyataan sikap, sehingga banyak yang kemudian menantang dan berusaha untuk
melawan.
Saat
kemunculan Puisi Mbeling, puisi yang bukan puisi atau puisi yang melawan segala
otoritas puisi. Remy Silado menjadi salah satu punggawanya, mengatakan bahwa
puisi terlalu agung untuk dinikmati dan diciptakan oleh satu kelompok orang.
Puisi tidak melulu soal rima, soal bentuk atau soal pesan. Puisi boleh jadi tak
berarti apapun, puisi boleh jadi tidak punya keindahan kata tapi punya
keindahan bunyi. Puisi dalam hal ini sengaja diciptakan untuk melawan otoritas
penyair.
Kemunculan
Internet dan Media sosial lantas melahirkan pesohor-pesohor baru. Mereka yang
mampu mengolah kata menjadi satu kalimat estetik, menahbiskan diri sebagai
penyair. Apakah ini salah? Tidak, setiap zaman punya rohnya masing masing.
Mereka yang mencecap pesan sebuah zaman menafsirkan sendiri citraan dan
semangatnya sendiri. Di sini, media sosial menjadi tuhan yang melahirkan
mesiah-mesiah dengan kata-kata Indah.
Tentu Media
sosial melahirkan onggokan tragedi. Mereka yang mampu menjahit keindahan kata,
lantas abai kepada semangat pengembangan sastra. Seolah sastra adalah apa yang
ada hari ini dan gagap dan menapaktilasi sejarah sastra Indonesia di awal
pertumbuhannya. Memang akan sangat basi dan membosankan, bahwa bersastra atawa
berkesenian seseorang dituntut untuk paham sejarahnya. Namun rupa puisi,
sebagai satu karya sastra, punya satu linikala pertikaiannya sendiri.
Melalui
pemahaman yang baik perihal sastra akan ada apresiasi yang serius terhadap
sastra sebagai peristiwa kebudayaan. Meski jikalau harus mengurai seluruh
peristiwa sejarah sastra tentu merupakan hal yang sangat membosankan. Puisi
adalah peristiwa yang personal, dekat dan intim. Ia tak bisa
diinstitusionalisasi serupa badan arsip sejarah. Di sini Puisi sebagai
peristiwa aktualisasi diri adalah sebuah hal yang mutlak mesti diberikan
kebebasan.
Radhar
Panca Dahana dalam sebuah kesempatan, mengatakan bahwa puisi muncul dari
keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual
diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap
penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan. Ini
mungkin terlalu rumit untuk dimaknai oleh masyarakat kebanyakan, sehingga
diktum Chairil perihal yang bukan penyair menjadi tepat.
Namun
menikmati dan mencipta puisi bukanlah monopoli seorang penyair. Yang bukan penyair
pun berhak menikmati dan mencipta puisi, mereka yang jatuh cinta, mereka yang
berduka dan mereka yang bahagia. Di sini Andi Gunawan, seorang penulis dan juga
penyair, menghadirkan Hap! Sebuah kumpulan. Ia melawan eksklusifitas penyair
penyair kontemporer yang berusaha keras menjadi elitis. Dengan kredo puisi
untuk semua, Andi Gunawan berusaha menjadikan puisi sebagai kegiatan yang
menyenangkan dan dekat.
Saya
membenci produk kebudayaan yang dilahirkan oleh media sosial. Mereka, bagi saya
adalah sekumpulan sampah buatan bacin yang dicitrakan hebat. Namun membaca Andi
Gunawan, dan segelintir penulis dari jagat media sosial, membuat saya menafsir
ulang kebencian saya. Apa beda buku puisi dengan laman twitter? Atau apa beda
majalah sastra dengan kolom notes facebook? Jika ia memiliki unsur estetik
puitik, mengapa tak diapresiasi positif?
Maka, saya
pun mulai melirik Hap! Sebagai sebuah kecurigaan. Dan saya tak malu mesti
menjilat ludah dan kebencian saya sendiri. Sajak-sajak sepi yang dihasilkan
Andi memiliki pesonanya sendiri. Sajak-sajaknya yang menggoda, sederhana dan
centil memberikan saya perspektif berbeda tentang proses kreatifitas sastra.
Barangkali teks puisi tidak lagi dipikirkan secara berat melalui kertas dan
pena dengan berkali kali improvisasi dan koreksi. Puisi bisa saja celotehan
bosan di parkiran, atau mungkin ditulis kala bising pening di pesta-pesta.
Sapardi
pernah menulis sajak berjudul Tuan yang terangkum dalam Perahu Kertas pada
1982. Sajak itu tertulis Tuan Tuhan,
bukan? Tunggu sebentar, saya sedang ke luar. Sajak ini ditulis pendek,
serupa haiku, tentu tanpa ketentuan perihal jumlah kata. Hal serupa juga pernah
ditulis Joko Pinurbo dalam sajak Kepada Puisi pada 2003. Andi Gunawan tentu
tidak membawa kebaruan, tapi bukan soal kebaruan atau perbedaan yang membuat
sajak atau puisi menjadi berbeda dari satu penyair dan lainnya, melainkan
bagaimana ia bicara perihal kegelisahaan si penyairnya.
Ada sekitar
69 puisi dalam buku ini yang dibagi menjadi tiga bagian. Dikurasi dan dipilih
secara ketat oleh Aan Mansyur, penulis dan sastrawan asal Makasar. Pembabakan
yang terdiri dari Hap!, Air Susu Ibu dan
Ia Tak Pernah Bepergian. Masing-masing babak memberikan nuansa, rasa dan tafsir
yang berbeda-beda. Namun pada tiap puisi ada satu benang merah yang membuatnya
menjadi satu ikatan yang sama. Kesederhanaan diksi dan juga aku liris yang
mudah dipahami.
Membaca
Hap! Adalah usaha memahami puisi sebagai parodi. Puisi Andi bekerja seperti
usaha nakal menyindir. Ia mendekonstruksi pemahaman mapan puisi sebagai sesuatu
yang sakral dan serius. Andi membongkar tabu puisi dengan menempatkan diri
sendiri sebagai duta besar kegelisahan. Semisal pada sajak pakansi, Andi
menulis Pada setiap hari minggu / aku
membayangkan hangat dadamu / tempat berlibur dingin nadiku. Aku tidak lagi
mengambil jarak dengan menjadikan sosok metaforis, tapi dengan keberanian
ditunjukan sebagai satu sosok utama yang mencoba bangkit keluar.
Parodi adalah
usaha untuk menjaga diri tetap waras. Jika dipadukan dengan puisi, maka parodi
adalah sebuah diplomasi. Misalnya pada sajak Aku, Andi menulis peristiwa penciptaan yang sakral, menjadi sebuah
usaha pencarian. Aku adalah anak /
terlahir memecah katup / membaru di antara kutub-kutub / mencari jalan. Kita
bisa melihat bahwa peristiwa kelahiran adalah hal yang haru namun juga muram.
Andi seolah masih bertanya tentang mengapa ia dilahirkan, bertahun kemudian
setelah ia dewasa.
Andi
Gunawan memang sangat piawai menjahit kata-kata sederhana untuk dikemas menjadi
megah dan penuh arti. Aan Mansur menyebut Andi sebagai penyair yang gelisah. Ia
berisik namun menjadi begitu pendiam dihadapan sajak-sajaknya. Selain itu sebagai
penulis karyanya tersebar dalam banyak kumpulan puisi seperti Merentang
Pelukan, Elegi Anjing dan Antalogi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit
Trowulan 2012. Selain itu karyanya yang berbentuk cerpen juga tertuang dalam
kumpulan cerita Pindah.
Lantas apa
yang membuat buku puisi ini begitu penting untuk dibaca? Andi menjawab
tantangan banyak sastrawan mapan hari ini, yang menduga sosial media dan
internet membunuh estetika sastra. Andi yang seorang komik (pelaku stand up
comedy) juga seorang pesohor media sosial. Ia kerap kali menjadikan twitter
sebagai satu medan sastranya. Andi kerap membuat puisi-puisi yang indah, subtil
dan sederhana dalam batasan 140 karakter.
Heru
Kurniawan , Eksistensialisme Makna Karya Sastra, menuliskan bahwa pengertian
makna konotasi-implisit pada bahasa emotif dalam karya sastra, dalam hal ini puisi,
tidaklah sesederhana hanya bergerak pada wilayah semantik (internal teks) saja.
Karena persoalan sastra bukan hanya mengacu pada dunia yang dikonstruksi oleh
struktur puisi seperti diwacanakan oleh kaum strukturalisme atau persoalan
intern bahasa, namun juga satu realitas yang lain.
Kebencian
saya kepada sastrawan-sastrawan karbitan media sosial adalah kegagalan saya
pribadi untuk membaca bahwa terkadang praktik sastra adalah "realitas
imajiner" yang dikonstruksi sebagai refleksi "realitas
masyarakat". Sehingga penciptaan
karya sastra tidak wajib dan harus lahir dari satu lembaga sastra adiluhung
serupa Utan Kayu atau Salihra, namun juga bisa lahir dari media sosial yang
entah dari mana asalnya. Andi Gunawan adalah satu dari sedikit sekali penyair
yang saya kenal dari media sosial, namun punya kualitas dan cita rasa estetik
sastra yang otentik.
Pada puisi
Epitaf misalnya, ia menuliskan peristiwa kenangan sebagai kegiatan yang lekat
dan mesra. “Aku berhenti jadi pelupa,
sejak kepalaku jadi batu. Di atasnya: namamu”. Sementara pada puisi
berjudul Hap!, Andi menggali peristiwa sedih sebagai satu keberanian hidup.
“Kau patahkan hatiku berkali-kali dan aku tak mengapa. Hatiku ekor cicak.” Ada
yang nakal dan main main, ia memainkan elegi sebagai komedi yang indah.
Tapi itulah
yang membuat puisi menjadi menarik. Setiap bait dan kata yang ada harus dicurigai
memiliki makna ganda. Maman S Mahayana dalam Menikmati Puisi, Menafsiri
Tempuling menyebutkan perlu ada ketelitian dalam pilihan kata para penyair.
Kita harus curiga dan skeptik perihal pilihan kata Andi Gunawan. Apakah
kata-kata tersebut menegaskan satu peristiwa estetik, bebas makna hanya pada keindahan
bunyi, atau sebagai peristiwa puitik, sebuah usaha untuk membalut peirstiwa
dengan metafora.
Pada sajak
Ode buat Pak Guru, sekali lagi parodi nakal ditunjukan sebagai sebuah peristiwa
puitik yang komikal. Andi dengan cerdas bermain-main dengan kata untuk
menciptakan imaji adegan. Sulit untuk tidak tersenyum pada sajak ini. Kemejamu basah celanaku gerah / berjalan kau
ke almari dalam kamarmu / mengganti kemeja dengan pelukanku / yang tiba-tiba.
Sajak ini sensual dalam kazanahnya sendiri, ia tidak cabul, namun memberikan
sensasi genit yang sehat dan segar.
Puisi ini
juga menjadi satu kanal bagi Andi Gunawan untuk membebaskan dirinya sendiri. Ia
yang mengagumi sosok Subagio Sastrowardoyo, mengaku sulit untuk bisa berbaur
dengan banyak orang. Ia hidup di mana norma dan kepatutan sosial menjadi
penjara. Puisi adalah salah satu cara baginya untuk mengekspresikan diri dan
berupaya menunjukan eksistensi diri. Dalam sajak Nasib ia berusaha untuk
bercerita mengenai penjara yang ia tinggali, “Lampu kota dan aku adalah sepasang senasib, kedinginan dalam nyala yang
harus.”
Puisi-puisi
Andi yang pendek, dengan tendensi aku lirik, memang menjadi perhatian utama
saya. Ia tidak memberi jarak antara perannya sebagai penyair dan perannya
sebagai objek sajak. Andi tentu tidak sembarang mencipta puisi, ada yang
berbeda dari gayanya menulis sajak. Seolah kegelisahaan dan kecemasan yang ia
tulis lahir dari hidup yang getir. Dan memang sebagian inspirasi Andi lahir
dari upaya menghadapi lingkungan yang terlalu bising. Andi menggali kegiatan
keseharian sebagai tema utama puisi. Baginya hal yang dekat dan tak berjarak
adalah puisi yang sangat indah untuk dimaknai.
Pada
akhirnya saya harus mengakui, barang kali saya tidak adil menghakimi karya-karya
sastra yang lahir dari sosial media. Andi toh terbukti mengobati kerinduan saya
akan sajak yang intens membahas kesunyian, keterasingan, keramaian tanpa
berteriak dan sederhana. Andi menulis sajak yang jauh dari dari narasi-narasi
besar seperti tuhan, negara dan moralitas. Sajak sajak Andi adalah karib lama
yang datang membawa pisang goreng dan bakso. Ia mungkin tidak baru, tidak
haibat dan berbeda. Namun kita bisa menikmatinya dengan teh hangat, juga
pelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar