Rabu, 01 Juli 2015

Berusaha Memahami Hobgoblin

Bagaimana melepaskan Sajama Cut, sebuah band dengan eksperesi artistik megah, dari Marcel Thee vokalis sekaligus musisi dengan banyak capaian dalam komunitas musik independen Indonesia? Barangkali jawabannya adalah tidak perlu, tidak perlu disibukan dengan hal-hal rumit semacam itu. Beberapa musik memang asik ditelaah sebagai kajian kebudayaan populer, namun Sajama Cut band asal Jakarta ini, hanya perlu didengar untuk membuat kita jatuh cinta pada musik mereka.

Lima tahun lalu Sajama Cut merilis album Manimal, kali ini mereka kembali menghadirkan album keempat mereka dengan tajuk Hobgoblin yang berisi 11 lagu. Album ini menjadi istimewa karena sempat menggandeng beberapa seniman muda kontemporer untuk membuat ilustrasi huruf dari album Hobgoblin. Tidak hanya itu mereka juga menggandeng Dwi Putripertiwi, seorang penyair muda, untuk menyumbangkan puisi. Hasilnya adalah sebuah promosi brilian yang menurut saya, sukses secara artistik dan juga secara pemasaran.

Band ini beranggotakan Marcel Thee (vokalis yang juga menguasai berbagai alat musik), Dion Panlima Reza (gitar), Randy Apriza Akbar (bas), dan Hans Citra Patria (synthetizer). Saya sendiri pertama kali mendengarkan album Sajama Cut melalui Osaka Journal yang dirilis dalam bentuk Vinyl oleh Elevation Records. Susah untuk mendefinisikan genre musik mereka, namun satu hal yang pasti Sajama Cut memiliki karakteristik yang segar dan sama sekali berbeda dengan band-band kebanyakan di Indonesia.

Pada wawancara bersama Kompas, Marcel mengatakan bahwa Album ini telah direkam sejak lama. "Dari album yang terakhir pada 2010, Manimal, kami langsung rekam draft-draft awal. Prosesnya lama karena banyak penggubahannya sih. Mulai 2011 aku sudah kerjain sendiri aransemen-aransemen awalnya. Mulai 2013 anak-anak masuk dan mulai mengisi," katanya. Hasilnya memang membuat bulu kuduk berdiri, Single pertama yang diluncurkan Bloodsport langsung membuat saya jatuh cinta.

Hobgoblin menyapa anda dengan sebuah avant propos berjudul History of Witches. Dengung synthesizer dan piano yang malas dan suara Marcel yang kelelahan membuka album ini seperti epos panjang rasa bosan yang menemukan akhirnya. Dibanding album sebelumnya Manimal dan The Osaka Journal, Sajama Cut pada album ini terdengar lebih progresif, matang dan penuh kejutan daripada album sebelumnya.

Lagu berikutnya adalah Bloodsport yang sangat catchy dan melenakan. Ia bisa diputar berkali-kali, berjam-jam, tanpa takut berubah menjadi membosankan. Aransemen yang subtil dengan lirik yang entah apa artinya. Jangan salah, lirik-lirik yang ditulis oleh Marcel butuh dibaca berulang untuk kemudian bisa dimaknai. Meski demikian seperti setiap puisi, barangkali musik dan lirik Sajama Cut tidak harus dipahami dengan kening berkerut, namun dinikmati dengan mata terpejam.

Proses kreatif selama lima tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Setiap personil Sajama Cut membawa bagasinya masing masing, sehingga musik yang dilahirkan benar benar membuat anda mengumpat. The German Abstract adalah lagu yang secara personal memiliki pesona untuk jadi yang terbaik dalam keseluruhan album ini. Dosis masing masing instrumen tertata, bahkan petik bass dan keyboard menjadi begitu harmonis. Sebuah anthem yang mesti didengar oleh mereka yang kelelahan setelah pulang bekerja.

Curtains for Euro dibuka dengan dentum drum yang megah. Seolah menjadi lagu pengukuhan seorang raja muda dari kerajaan yang berada di ujung perang saudara. Pada beberapa bagian lagu ini efek synthesizer menghadirkan imaji tentang paduan suara dari barisan ksatria yang muram. Sementara Beheadings adalah satu dari tiga lagu instrumental dalam album ini. Lagu ini mengingatkan saya pada fragmen Ulysses ketika Buck Mulligan mengucapkan Introibo ad altare Dei. Sakral namun profan dalam saktu waktu.

Dinner Companion sebaiknya tidak didengar oleh sarjana sastra yang tengah risau menyelesaikan skripsi mereka. Entah mengapa lirik pada lagu ini membuat saya membayangkan sebuah kamar kosan seorang sarjana semester akhir yang tengah berkutat dengan skripsi. Di tengah kesuntukan ia memutuskan keluar dari kamar dan melakukan perjalanan yang membawanya pada sebuah pertanyaan. Buat apa kuliah? Serta berbagai pertanyaan hidup yang bekelebat seperti video rusak.

Fatamorgana memberikan anda sebuah puisi tentang sisa hari yang membosankan. “Songs that you sing, we can hope it causes a sound, We can gather the right around, it can be a victory ground," tulis Marcell. Mendengarkan lagu ini di angkot, metromini dan belakang alphard akan menghadirkan sihir yang sama. Sebuah kesadaran akan hidup yang melambat dan sia-sia, namun patut diperjuangkan.

House of Pale Actresses adalah lanskap biru dari Jakarta pada minggu sore. Manusiawi, kalis dan menghadirkan kecintaan pada hal-hal yang selama ini hanya mampu melukai. Nomor instrumental ini lantas dilanjutkan dengan Recollecting Instances sebuah kemegahan yang percuma diterjemahkan dalam kata-kata, ia hanya bisa didengar lantas diumpat karena mampu menggali tiap-tiap elemen emosi kita dengan lirik yang kuat dan musikalitas yang prima.

Compassion adalah lagu insturmental terakhir sekaligus ketiga dalam album Hobgoblin. Ia seperti jeda untuk sebuah badai yang akan datang menerjang dan memang tepat. Rest Your Head on the Day adalah lagu pamungkas yang membuat anda akan berhenti melakukan apapun. Duduk terdiam, menyeringai untuk kemudian dipaksa ambruk oleh suara lembut Marcel yang membaca puisi tentang betapa hidup anda sebenarnya berantakan. Ia tidak sedang berkotbah, ia sedang menunjukan, bahwa barangkali anda butuh waktu untuk merenung serta kembali menyadari betapa nisbi hidup yang penuh kepalsuan.

Sulit untuk menempatkan pada genre apa Sajama Cut mesti diletakkan. Karena label akan mereduksi segala kerja-kerja estetik mereka dalam membuat musik. Marcel mengatakan bahwa Sajama Cut bukanlah band yang pernah dapat dirangkum dengan satu kalimat, baik indie-rock, alternative, punk, shoegaze, lo-fi, atau apapun yang ingin disebut orang. “Di album ini hal itu jadi bukti. Elemen-elemennya begitu banyak, dari rock berbagai era, pop berbagai era, ambient dan punk berbagai era. Kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosankan dan tidak organik," tutur Marcel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar