Charles
Dickens memulai dengan muram novel masyurnya yang berjudul A Tale of Two Cities.
“It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom,
it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of
incredulity,” kata Dickens. Ia barangkali bisa menggambarkan bagaimana
sebenarnya zaman kita saat ini, waktu di mana akal sehat dan kedunguan kerap
begitu abu-abu hingga sulit dibedakan. Dua kutub berseberangan yang saling menegasikan. Sehingga kerap kali kata-kata banal
menjadi terlihat agung hanya karena keterbatasan pemahaman.
Kemarin
Mojok menurunkan sebuah naskah berjudul Oh betapa-humanisnya-para-pendukung-pernikahan-sejenis,
sebuah artikel dengan tendensi misantropis yang penuh kelindan kata-kata rumit.
Mengutip secara parsial sebuah penelitian, lantas menafsirkan sesukanya tanpa
memahami konteks. Si penulis tentu saja adalah bung Edward Kennedy, seseorang
yang kerap berlagak sok nihilis dan sok jago, padahal jika naik biang lala ia
akan pucat seketika.
Bung kita
yang satu ini berkata bahwa kelompok humanis tengah bermain peran, munafik
secara lebih tepatnya, ketika mereka bicara soal #LoveWins dan advokasi
kelompok LGBT. Tentu dia tidak secara spesifik menunjuk muka siapa yang
dimaksud, ia seperti koboi yang baru belajar memegang pistol, asal menembak tak
tentu sasaran. Akibatnya, ia tidak hanya menjadi konyol, namun lebih daripada
itu ia terlihat serupa badut dengan lelucon yang tak lucu.
Moral, bung
Edward Kennedy yang baik, tidak pernah layak menjadi argumentasi atas
dialektika apapun. Maka ketika anda yang sok jagoan itu menulis tentang
humanis, sebenarnya anda tidak menjelaskan apapun dari kaum humanis itu, anda
hanya menjelaskan betapa sebenarnya anda cetek dalam melihat permasalahan kaum
LGBT ini. Saya menuduh anda hanya sekedar memandang dari jauh permasalahan ini
tanpa ada upaya untuk memahami realitas lapangan, tipikal intelektual salon
yang gemar berpendapat melulu dari teks yang ia baca sekilas.
Bung
menolak mengakui bahwa Gay terlahir Gay, bung mengatakan bahwa ia adalah nurture sekedar konstruksi. Maka mari
kita periksa, jika Gay adalah nurture, maka seharusnya disepakati pula bahwa
menjadi hetero adalah konstruksi pula. Ekspresi gender dalam masyarakat
mengatakan bahwa laki laki harus menikahi perempuan, laki laki harus jadi kuat,
perempuan harus cantik dan sebagainya dan sebagainya harus disepakati sebagai
konstruksi gender.
Dengan
mengakui hal ini, maka menuruti pemahaman anda, semestinya menjadi hetero
ataupun homo adalah hak yang tidak perlu diperdebatkan. Lho, konstruksi sosial
kok dan setiap konstruksi sosial boleh dan berhak dirombak selama ia tidak
menyakiti hak dasar orang lain. Tapi nyatanya tidak bukan? Bung mengatakan
bahwa moralitas kerap dijadikan argumen pembelaan terhadap kelompok LGBT, salah
besar, moral adalah senjata pamungkas yang kerap digunakan untuk membabat habis
ekspresi gender kelompok LGBT.
Bung yang
ditahbiskan sebagai filsuf sepak bola, dan konon sejajar Zen RS, pasti banyak
baca dong. Apakah anda tahu dalam tradisi Bugis terdapat lima ekspresi Gender?
Mereka adalah: Oroane, Makkunrai, Calalai, Calabai, dan Bissu. Tiap tiap
eskpresi gender ini memiliki tanggung jawab dan fungsinya dalam struktur
masyarakat adat Bugis. Mereka ada jauh sebelum perdebatan LGBT ini ada dan
punya peran penting dari masyarakat.
Oh
sebentar, anda tahu kan jika seks dan gender adalah dua hal yang berbeda? Anda
bisa melihatnya di sini jika terlalu malas, tenang ini bukan buku, ada
gambarnya anda pasti bisa memahami.
Masyarakat
Bugis memiliki kekayaan budaya yang demikian hebat sehingga akan membuat otak
anda yang kecil itu pusing. Maaf, jika anda sekalian masih berpikir bahwa
LGBT melulu perkara menikah sesama jenis, maka anda salah besar dan lebih baik
mengulang mata kuliah filsafat pendidikan. Dalam tradisi masyarakat Bugis peran
sosial Bissu memiliki fungsi penting terkait aspek spiritual daripada sisi
seksualitasnya. Keberadaan kaum Bissu yang berada diluar gender membuat
konstruksi gender dalam masyarakat modern berantakan. Sesuatu yang bung tak
mungkin pahami karena mentok melulu berpikir gerakan LGBT semata perkara
selangkangan.
Mengapa
#LoveWins penting? Pada satu titik ia akan memberikan porsi lebih untuk
menggugat omnirelevant dan doing gender pada kelompok rentan. Yaitu kelompok
transgender dan interseksual yang kerap mengalami diskriminasi serius.
Peradaban patriarkhis menihilkan bahkan menindas kelompok ini sedemikian hebat
sehingga kerap kali mereka diperlakukan tidak manusiawi. Banci misalnya kerap
diperlakukan seperti pariya, dihina, disakiti bahkan menjadi objek bullying
dan penghinaan.
Meski demikian bukan tidak ada kritik yang bisa disampaikan pada legalisasi pernikahan sejenis ini. Pada masyarakat modern LGBT masih mengalami diskriminasi dalam banyak aspek. Pendidikan, akses pekerjaan, status dalam masyarakat yang berujung pada banyak hal. Seperti kesehatan dan juga kemakmuran hidup mereka. Premisnya senderhana, untuk apa bisa menikah sesama jenis jika hak dasar seperti pendidikan dan jaminan kesehatan masih belum bisa diakses.
Malah jika Bung Edward mau menggunakan otak anda dengan sedikit saja lebih baik, sebenarnya masih banyak argumentasi yang bisa digunakan untuk melawan gerakan ini. Fakta bahwa di Amerika Serikat gerakan sipil masih terpentok pada wacana-wacana banal seperti pernikahan sejenis ketimbang perlindungan terhadap imigran, rasialisme kulit hitam, reformasi kepolisian sampai dengan pelarangan senjata api. Mungkin, tidak ada yang akan mati karena dilarang menikah, tapi banyak yang mati karena penggunaan senjata api ilegal di Amerika.
Meski demikian bukan tidak ada kritik yang bisa disampaikan pada legalisasi pernikahan sejenis ini. Pada masyarakat modern LGBT masih mengalami diskriminasi dalam banyak aspek. Pendidikan, akses pekerjaan, status dalam masyarakat yang berujung pada banyak hal. Seperti kesehatan dan juga kemakmuran hidup mereka. Premisnya senderhana, untuk apa bisa menikah sesama jenis jika hak dasar seperti pendidikan dan jaminan kesehatan masih belum bisa diakses.
Malah jika Bung Edward mau menggunakan otak anda dengan sedikit saja lebih baik, sebenarnya masih banyak argumentasi yang bisa digunakan untuk melawan gerakan ini. Fakta bahwa di Amerika Serikat gerakan sipil masih terpentok pada wacana-wacana banal seperti pernikahan sejenis ketimbang perlindungan terhadap imigran, rasialisme kulit hitam, reformasi kepolisian sampai dengan pelarangan senjata api. Mungkin, tidak ada yang akan mati karena dilarang menikah, tapi banyak yang mati karena penggunaan senjata api ilegal di Amerika.
Anda tentu
saja berhak berpendapat, bahkan, berhak pula curiga. Bahwa intelektual
dan humanis di Indonesia barangkali mendukung pernikahan sejenis berdasarkan
kehendak moral. Atau malah menuduh mereka ini adalah kelompok caper yang hanya
bisa sok sokan merespon hastag. Itu sah dan bisa saja terjadi. Bung juga boleh
mencibir curiga bahwa orang orang ini yang sok mendukung #LoveWins kecewa jika
ada keturunan mereka yang jadi homoseksual.
Tapi bung
alpa memahami gerakan ini dari kaca mata yang lebih luas. Ini bukan soal
sekedar menikah, di Amerika ini adalah gerakan sipil. Serupa gerakan kulit
hitam untuk diakui sebagai manusia dan serupa gerakan perempuan untuk memiliki
suara dalam politik. Memandang legalisasi pernikahan di Amerika menggunakan
konstruksi sosial di Indonesia, maaf, bagi saya status sarjana anda perlu
dipertanyakan.
Oh ya,
menyerukan toleransi adalah satu hal dan menurunkan pajak adalah satu hal
lainnya. Saya ragu orang orang ahmadiyah dan kelompok minoritas lainnya peduli
dengan pajak, ketika untuk berkeyakinan saja mereka mesti bertaruh dengan
nyawa. Lagipula para “humanis liberal” inilah yang membuat anda bisa
berpendapat begitu misantropik dan nihilis, coba jika anda hidup di korea utara
atau saudi arabia. Barangkali nasib anda seperti Raif Badawi, siapa dia? Oh
sekedar figuran dibanding tokoh pesudo intelektual Subcomandante Marcos yang
anda elu elukan itu.
Pembukaan A Tale of Two Cities yang saya kutip di awal masih punya lanjutan. Dickens berkata "...it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way." Barangkali ia benar. Barangkali kita sedang menuju ke sebuah zaman yang tidak ada satu setan pun tahu ke mana. Tapi setidaknya bung, saya meyakini bahwa anda sebaiknya membaca dan berpikir lebih banyak lagi.
Pembukaan A Tale of Two Cities yang saya kutip di awal masih punya lanjutan. Dickens berkata "...it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way." Barangkali ia benar. Barangkali kita sedang menuju ke sebuah zaman yang tidak ada satu setan pun tahu ke mana. Tapi setidaknya bung, saya meyakini bahwa anda sebaiknya membaca dan berpikir lebih banyak lagi.
yang membuat negara kita bukan seperti Korut atau Arab Saudi adalah para pejuang jalanan seperti mahasiswa dan aktivis di tahun 1998. bukannya para “humanis liberal” dadakan pejuang hestek yang koar2 HANYA pas isu tertentu lagi ngehype supaya dianggap up to date, intelek, humanis, dan open minded. bukan karena dia konsisten dgn isu tersebut.
BalasHapussecara personal, sebagai orang yang memiliki agama, saya tidak mendukung ataupun menentang soal isu LGBT ini.
lucu sekali bila di setiap isu sosial, sikap kita seolah2 dikotak2kan untuk harus setuju atau tidak setuju.