Anda bisa
memulai menulis tentang isu-isu kemanusiaan setelah mampu menjawab satu
pertanyaan ini. Mengapa hak asasi manusia itu penting? Jawaban yang anda
berikan harus dapat memuaskan semua orang, baik mereka yang tidak terdidik,
mereka yang terdidik, mereka yang bebal, mereka yang peduli atau bahkan mereka
yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia itu sendiri.
Jika tidak
bisa menjawab pertanyaan ini, tuliskan alasannya.
Alasan-alasan
itu bisa menjadi satu tulisan lain mengapa kemanusiaan itu penting. Setidaknya
anda bisa mengajak orang yang pada mulanya tak peduli, menjadi peduli walau
hanya sebentar saja. Setelah mendapatkan perhatian orang lain, meski sedikit,
anda harus bisa meyakinkan ia mengapa tulisan anda penting, atau pada satu
titik perlu dibaca.
Ada jutaan
tulisan yang lahir tiap harinya, baik di internet maupun di media cetak.
Informasi berlebih, sementara kapasitas manusia untuk peduli (apalagi paham)
sangat-sangat terbatas. Kecuali anda bisa meyakinkan pembaca untuk melanjutkan
membaca tulisan anda, maka sekeren atau sebagus apapun tulisan anda menjadi
tidak relevan.
Tiap-tiap
pembaca memiliki jenis bacaan yang ia anggap penting dan menarik. Menuliskan
masalah kemanusiaan bisa jadi perkara memilih jenis tulisan yang sesuai dengan
pembacanya. Jika anda pernah membaca buku Seno Gumira Ajidarma, ketika
Jurnalisme dibungkam Sastra harus Bicara, maka anda sadar. Melalui fiksi
kebenaran atau masalah kemanusiaan bisa disebarkan. Permasalahannya adalah,
berbeda dengan artikel non fiksi, anda tidak harus memiliki tanggung jawab
untuk menyajikan fakta. Sementara fakta dalam usaha menyebarkan kepedulian
tentang masalah kemanusiaan adalah satu hal yang sangat penting.
Bisakah
menuliskan fakta namun tidak membosankan?
Tentu,
namun sejauh mana anda akan bernegosiasi dengan karakter tulisan yang hendak
disampaikan? Tulisan non fiksi memiliki ragam jenis yang berbeda. Anda bisa
menuliskan opini, menuliskan satire atau bahkan menuliskan kolom komedi. Tiap-tiap jenis tulisan memiliki
karakteristiknya sendiri, kekurangannya sendiri dan memiliki pembacanya
sendiri. Tidak semua orang gemar membaca opini, tidak semua orang dapat
memahami satire dan tidak semua komedi akan dipercaya.
Saya
mendorong anda untuk menulis dengan pendekatan gaya penulisan feature, yang menggunakan
kata ganti orang pertama dalam melihat fenomena. Ini akan membuat tulisan
menjadi lebih ramah, dekat dan personal. Seringkali feature akan menujukan sisi
lain yang jarang bisa dituliskan dengan esai atau opini. Meski saya tidak
menafikan bahwa esai atau opini lebih mudah ditulis karena menggambarkan
realitas berdasarkan pandangan pribadi.
Feature
akan sangat hidup karena anda mesti dekat dengan objek tulisan, pembaca juga
akan menjadi lebih dekat dengan fenomena yang sedang dikisahkan dalam teks. Feature
akan menguji baik mentalitas maupun kepekaan anda. Sejauh mana anda akan berani
menulis dan sejauh mana anda akan berani melakukan investigasi. Feature akan
membawa anda ke garis depan sebuah peristiwa, ia bisa jadi menyenangkan bisa
jadi sangat berbahaya.
Saya
teringat sebuah situs menarik yang bernama lentera timur. Panduan penulisan
mereka begitu sederhana namun begitu taktis. Beberapa poin mereka seperti
- · Otentik. Jangan pernah melakukan plagiasi
- · Jangan menulis sesuatu yang tidak Anda ketahui atau tempat yang belum pernah Anda kunjungi
- · Tidak melakukan vonis atau streotip atas budaya atau kelompok etnis tertentu
- · Jujur, jelas, dan detail (jika hendak melakukan abstraksi atas sebuah fenomena, jangan menjadikannya sebagai perspektif utama)
- · Informatif
- · Sebisa mungkin hindari menggunakan kata sifat, dan eksplorasilah dengan kata kerja
- · Tidak perlu menjelaskan semua hal secara detail selain apa yang menjadi perspektif utama Anda
- · Hindari akronim
- · Apa pun yang Anda tulis, gunakanlah perspektif kesetaraan dan pluralisme, lalu berjejaklah selalu pada sejarah.
Jika anda
merasa terlalu berbahaya untuk melakukan reportase dan menulis feature, esai
atau opini bisa menjadi salah satu jalan tengah. Esai, kata Isnadi seorang
senior saya di kampus dulu, merupakan tulisan yang memfokuskan diri pada
pengungkapan akal sehat dan refleksi penulisnya terhadap suatu
persoalan/fenomena dengan cara tidak langsung. Tulisan ini tidak terikat waktu
dan tidak memiliki kaitan langsung dengan berita. Essay dilahirkan sebagai
pencerah kesadaran ditengah gebalau peristiwa dan pertarungan kepentingan
beserta rasionalisasi dan sistem operasionalnya dengan menyodorkan motif dan
lobang-lobang di dalamnya.
Esai
seharusnya tidak bermain dengan argumentasi muluk-muluk. Ia juga tidak
berpretensi memberikan pembahasan dan penjelasan panjang lebar. Ia cukup
memberikan gambaran dari bahan-bahan sepele dari peristiwa faktual maupun
imajinatif untuk menyentil, menyindir maupun menarik pelatuk kesadaran pembaca. Ia bergulat dengan pencarian inti persoalan.
Layaknya pergulatan pencari mutiara yang tertimbun lumpur. Ia tidak tergoda
untuk melayani kegelisahan yang dilekatkan oleh lumpur itu.
Anda bisa
menggunakan Esai sebagai jeda untuk melihat kembali apa yang telah terjadi.
Sebuah jeda dari kacamata rutin yang terus digunakan untuk menentukan jalannya
peristiwa. Jeda untuk melepaskan diri dari kacamata rutin, umum, klise, dan
stereotif. Kacamata yang telah menjadi mesin pembaca dan berhala.
Maka
tulisan apa yang akan anda gunakan untuk mengkampanyekan hak asasi manusia?
Jika anda menggemari fiksi dan percaya bahwa fiksi adalah salah satu jalan
terbaik menerangkan tentang kemanusiaan, ada baiknya anda menulis cerpen.
Beberapa cerpen lebih mudah disebar, ia relatif lulus sensor (jika rezimnya
otoritarian), dan memiliki ruang kreatif yang lebih luas ketimbang esai. Cerpen
seperti Haji Syiah karya Ben Sohib, Clara karya Seno Gumira dan Drama itu
Berkisah Terlalu Jauh karya Puthut EA memiliki latar masalah hak asasi manusia
yang kental.
*ditulis untuk Sekolah HAM Mahasiswa di Kontras 12 Agustus 2015
terima kasih mas untuk ilmu yang telah mas bagikan :D
BalasHapus