Rabu, 09 September 2015

Manusia, Tanah, dan Tembakau di Lombok


Padamulanya adalah azan, di tiap tiap kampung di Pulau Lombok surau menjadi satu jagat kecil yang bicara tentang kehidupan. Di sana berbagai aktivitas berpusat, surau atau langgar atau mushola, kerap menjadi sebuah pelarian. Semacam tempat persembunyian bagi hiruk pikuk keramaian yang terlalu. Di Lombok kau lebih mudah menemukan surau daripada wajah masam manusia yang kelelahan. Tidak heran jika Lombok dijuluki sebagai pulau seribu surau.

Lombok terletak di Nusa Tenggara Barat, jika kau sudah mengetahui ini baiknya kau  juga perlu tahu tentang provinsi ini. Misalnya fakta bahwa NTB merupakan salah satu daerah penyangga kebutuhan daging sapi nasional. Pemerintah memberikan kuota sapi bagi NTB sebesar 34 ribu ekor sapi. Sebagian besar sapi dikirim ke Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Itu baru soal sapi, belum soal yang lainnya. Misalnya kau perlu tahu juga bahwa NTB merupakan daerah dengan konsumsi sayuran tertinggi di Indonesia. Rata-rata konsumsi sayuran di NTB sebesar 68 kg/kapita/tahun jauh di atas rata-rata konsumsi sayuran nasional sebesar 40,8 kg/kapita/tahun. Itulah mengapa kau akan menemukan sayuran dari berbagai santapan warga Lombok. Mulai dari plecing kangkung sampai dengan beberuk yang berbahan dasar terong muda.

Tapi kita perlu tahu di Lombok beberapa hal tidak bisa diukur dari angka. Meski angka bisa bicara tentang banyak hal. Di Pulau yang kau kira tandus ini, pulau yang sekilas tampak kekeringan ini, ada banyak hal yang tersembunyi. Tanah ini menyimpan harapan bagi banyak petani, karena kau tahu? Tanah adalah kehidupan, ia adalah surga yang lain, memberimu makan dan juga penghasilan.

Tidak banyak yang tahu jika NTB merupakan salah satu sentra produk bawang merah dan cabai merah nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat produksi bawang merah di provinsi ini pada 2013, sebanyak 101.628 ton dengan total luas panen mencapai 9.277 hektare (ha). Benar, seperti juga kau, aku membenci angka. Tapi angka angka ini penting, ia bicara perihal kehidupan juga penghasilan.

Misal jika kuceritakan padamu bahwa sentra produksi bawang merah nasional terbesar berada di Kabupaten Bima dengan volume produksi pada 2013 mencapai 80.218 ton, disusul Kabupaten Sumbawa 11.885 ton, Lombok Timur7.823 ton, Dompu 1.583 ton, Lombok Utara 55 ton dan Kota Bima 35 ton. Itu artinya tanah di provinsi ini memiliki potensi, ia bisa menghidupi banyak mulut, perihal pilihan tanaman kita bisa memperbincangkannya, tapi kau perlu tahu di provinsi ini tanah adalah sumber kehidupan.

Di mana-mana tanah adalah sumber kehidupan. Ah iya, ini bisa jadi benar, tapi kau perlu tahu bagi beberapa orang tanah adalah medan pertempuran dan menanam adalah bentuk perlawanan. Pernah aku ceritakan padamu tentang menanam dosa? Mereka yang menanam tanaman yang dianggap berbahaya bagi kesehatan dan direndahkan derajatnya hingga demikian getir.

Aku bercerita tentang petani Tembakau. Mungkin kau tidak tahu bahwa Lombok adalah penghasil Tembakau Virginia Flue Cured yang berkualitas baik. Kenapa kubilang menanam dosa? Karena bagi beberapa orang, tembakau betapapun ia sebuah tanaman yang menghidupi, dianggap berbahaya karena produk turunannya. Rokok. Maka duduklah sebentar, kamu perlu membaca dan berpikir dengan jeda, memang apa istimewanya Tembakau Lombok

Begini tembakau Virginia Flue Cured asal Lombok memiliki kualitas sangat baik sehingga mampu bersaing dengan Tembakau Virginia FC impor. Mungkin, jika kau pernah bersinggungan dengan kelompok anti rokok, mereka pernah bercerita perihal produksi Tembakau asal Cina, Brazil dan Afrika yang tinggi itu. Mereka separuh benar, karena kebutuhan tembakau Virginia FC  banyak diminati dan digunakan oleh sebagian besar Industri Rokok (kretek/Putih). Tapi bisakah kita membandingkan antara kualitas dan kuantitas?

Tembakau Lombok tidak serta merta bisa disaingkan dengan hasil impor. Setidaknya kamu perlu memahami dulu sejarah mereka. Penanaman dan pengembangan tembakau Virginia FC DI Lombok dimulai akhir tahun 60-an oleh PT Faroka SA secara berturut-turut diikuti oleh PT BAT Indonesia, PTP XXVII, PT GIEB, UD Tani Praya. Sebelum tahun tahun itu sebenarnya sudah ada tembakau yang ditanam di Lombok sejak jaman Belanda dan dikenal dengan nama Tembakau Rajangan Ampenan.

Jika kita bicara konteks sejarah maka kalian bisa tahu, tanaman tembakau di Lombok punya nilai sejarah. Lantas bagaimana nilai ekonominya? Begini, ah kau jangan begitu sibuk dengan angka, sejak 1980an PT Djarum telah mengembangkan pola kerja bersama petani sebagai mitra. Tentu kepentingannya pragmatis pelaku usaha tani adalah stakeholder Industri Rokok yang sangat potensial, dan berperan menjaga kesinambungan pasok tembakau bermutu dengan jumlah memadai.

Jika kau tak percaya kau bisa bicara dengan Pak Iskandar, seorang begawan yang mengabdikan hidupnya untuk tembakau. Ia bilang bahwa luas perkebunan tembakau di Lombok kurang lebih 20.000 HA, luas ini berarti beberapa hal, ada petani yang bekerja, ada tumbuhan yang ditanam dan tentu saja ada hidup yang berlanjut. Tentu kerja sama bisnis industri rokok dan tembakau bisa jadi saling menginjak, tapi tidak di Lombok.

Setiap petani Tembakau akan mengetahui seberapa banyak ia perlu menanam, dibantu dan diawasi dengan pola kemitraan. Tujuannya agar setiap yang ditanam bisa menghasilkan tembakau terbaik dan secara efektif. Petani tidak harus merugi karena menanam terlalu banyak, karena pola kemitraan bisa menjamin tersedianya pasar, baik pembeli maupun penyuplai kebutuhan tembakau. Oh iya, sudahkah kuceritakan padamu bahwa tembakau Virginia dari lombok merupakan salah satu penyuplai terbesar kebutuhan produksi tembakau Virginia nasional?

Kau bisa saja meragukanku atau Pak Iskandar. Jika kau tak percaya bahwa Tembakau di Lombok memuliakan manusia manusianya kau bisa bertemu dengan Pak Sabarudin di Desa Lekor. Kau akan menemukan bahwa daun emas Tembakau, yang dituduh sebagai sumber nikotin pembunuh manusia ini, bisa jadi membuat seseorang sejahtera dan terlepas dari kesengsaraan. Pak Sabarudin merupakan gambaran sempurna dari itu, seorang penduduk desa yang berjuang dari bawah sampai menjadi manusia yang bermartabat.

Pak Sabarudin tinggal di Lekor, ia ketua kelompok tani Beriuk Nambah (yang artinya mencangkul bersama) dan sukses menjadi manusia berdaya. Ia tidak sendiri, ia ikut memuliakan rekan-rekannya yang lain. Jauh sebelum tembakau hadir di Lekor desa itu dianggap sebagai sarang Begal, seorang kawan Pak Sabarudin pernah dikalungi belati besar dalam sebuah usaha perampokan.

Belakangan sejak Tembakau masuk ke desa Lekor, pekerjaan bertambah, mereka yang dahulu mesti menjadi rampok untuk hidup barangkali memutuskan untuk menggantung belati dan menanam tembakau. Untuk tahu seseorang mapan atau tidak di Lombok kau cukup bertanya apakah orang itu sudah naik haji atau belum. Sabarudin seperti beberapa rekannya yang telah menjadi petani tembakau sejak 1980an telah naik haji, tahun ini pria murah senyum itu berencana naik haji bersama istrinya.


Sudah kubilang bukan? Di Lombok surau menjadi satu jagat kecil yang bicara tentang kehidupan. Ketika kau mampir di desa Lekor dan mendengar azan maka segeralah menuju surau, jika kau beruntung kau akan bertemu dengan Pak Sabarudin. Barangkali ia akan menghadiahimu air kelapa segar sembari bercerita tentang masa lalu. Masa ketika tembakau belum ada di desa itu dan setiap kejahatan selalu dituduhkan pada manusia manusia yang tinggal di desanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar