Padamulanya
adalah azan, di tiap tiap kampung di Pulau Lombok surau menjadi satu jagat
kecil yang bicara tentang kehidupan. Di sana berbagai aktivitas berpusat, surau
atau langgar atau mushola, kerap menjadi sebuah pelarian. Semacam tempat
persembunyian bagi hiruk pikuk keramaian yang terlalu. Di Lombok kau lebih
mudah menemukan surau daripada wajah masam manusia yang kelelahan. Tidak heran
jika Lombok dijuluki sebagai pulau seribu surau.
Lombok
terletak di Nusa Tenggara Barat, jika kau sudah mengetahui ini baiknya kau juga perlu tahu tentang provinsi ini. Misalnya
fakta bahwa NTB merupakan salah satu daerah penyangga kebutuhan daging sapi
nasional. Pemerintah memberikan kuota sapi bagi NTB sebesar 34 ribu ekor sapi.
Sebagian besar sapi dikirim ke Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan
Selatan, dan Kalimantan Timur.
Itu baru
soal sapi, belum soal yang lainnya. Misalnya kau perlu tahu juga bahwa NTB
merupakan daerah dengan konsumsi sayuran tertinggi di Indonesia. Rata-rata
konsumsi sayuran di NTB sebesar 68 kg/kapita/tahun jauh di atas rata-rata
konsumsi sayuran nasional sebesar 40,8 kg/kapita/tahun. Itulah mengapa kau akan
menemukan sayuran dari berbagai santapan warga Lombok. Mulai dari plecing
kangkung sampai dengan beberuk yang berbahan dasar terong muda.
Tapi kita
perlu tahu di Lombok beberapa hal tidak bisa diukur dari angka. Meski angka
bisa bicara tentang banyak hal. Di Pulau yang kau kira tandus ini, pulau yang
sekilas tampak kekeringan ini, ada banyak hal yang tersembunyi. Tanah ini
menyimpan harapan bagi banyak petani, karena kau tahu? Tanah adalah kehidupan,
ia adalah surga yang lain, memberimu makan dan juga penghasilan.
Tidak
banyak yang tahu jika NTB merupakan salah satu sentra produk bawang merah dan
cabai merah nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat
produksi bawang merah di provinsi ini pada 2013, sebanyak 101.628 ton dengan
total luas panen mencapai 9.277 hektare (ha). Benar, seperti juga kau, aku
membenci angka. Tapi angka angka ini penting, ia bicara perihal kehidupan juga
penghasilan.
Misal jika
kuceritakan padamu bahwa sentra produksi bawang merah nasional terbesar berada
di Kabupaten Bima dengan volume produksi pada 2013 mencapai 80.218 ton, disusul
Kabupaten Sumbawa 11.885 ton, Lombok Timur7.823 ton, Dompu 1.583 ton, Lombok
Utara 55 ton dan Kota Bima 35 ton. Itu artinya tanah di provinsi ini memiliki
potensi, ia bisa menghidupi banyak mulut, perihal pilihan tanaman kita bisa
memperbincangkannya, tapi kau perlu tahu di provinsi ini tanah adalah sumber
kehidupan.
Di
mana-mana tanah adalah sumber kehidupan. Ah iya, ini bisa jadi benar, tapi kau
perlu tahu bagi beberapa orang tanah adalah medan pertempuran dan menanam
adalah bentuk perlawanan. Pernah aku ceritakan padamu tentang menanam dosa?
Mereka yang menanam tanaman yang dianggap berbahaya bagi kesehatan dan
direndahkan derajatnya hingga demikian getir.
Aku
bercerita tentang petani Tembakau. Mungkin kau tidak tahu bahwa Lombok adalah penghasil
Tembakau Virginia Flue Cured yang berkualitas baik. Kenapa kubilang menanam
dosa? Karena bagi beberapa orang, tembakau betapapun ia sebuah tanaman yang
menghidupi, dianggap berbahaya karena produk turunannya. Rokok. Maka duduklah
sebentar, kamu perlu membaca dan berpikir dengan jeda, memang apa istimewanya
Tembakau Lombok
Begini
tembakau Virginia Flue Cured asal Lombok memiliki kualitas sangat baik sehingga
mampu bersaing dengan Tembakau Virginia FC impor. Mungkin, jika kau pernah
bersinggungan dengan kelompok anti rokok, mereka pernah bercerita perihal
produksi Tembakau asal Cina, Brazil dan Afrika yang tinggi itu. Mereka separuh
benar, karena kebutuhan tembakau Virginia FC banyak diminati dan digunakan oleh sebagian
besar Industri Rokok (kretek/Putih). Tapi bisakah kita membandingkan antara
kualitas dan kuantitas?
Tembakau
Lombok tidak serta merta bisa disaingkan dengan hasil impor. Setidaknya kamu
perlu memahami dulu sejarah mereka. Penanaman dan pengembangan tembakau
Virginia FC DI Lombok dimulai akhir tahun 60-an oleh PT Faroka SA secara
berturut-turut diikuti oleh PT BAT Indonesia, PTP XXVII, PT GIEB, UD Tani
Praya. Sebelum tahun tahun itu sebenarnya sudah ada tembakau yang ditanam di
Lombok sejak jaman Belanda dan dikenal dengan nama Tembakau Rajangan Ampenan.
Jika kita
bicara konteks sejarah maka kalian bisa tahu, tanaman tembakau di Lombok punya
nilai sejarah. Lantas bagaimana nilai ekonominya? Begini, ah kau jangan begitu
sibuk dengan angka, sejak 1980an PT Djarum telah mengembangkan pola kerja
bersama petani sebagai mitra. Tentu kepentingannya pragmatis pelaku usaha tani
adalah stakeholder Industri Rokok yang sangat potensial, dan berperan menjaga
kesinambungan pasok tembakau bermutu dengan jumlah memadai.
Jika kau
tak percaya kau bisa bicara dengan Pak Iskandar, seorang begawan yang
mengabdikan hidupnya untuk tembakau. Ia bilang bahwa luas perkebunan tembakau
di Lombok kurang lebih 20.000 HA, luas ini berarti beberapa hal, ada petani
yang bekerja, ada tumbuhan yang ditanam dan tentu saja ada hidup yang
berlanjut. Tentu kerja sama bisnis industri rokok dan tembakau bisa jadi saling
menginjak, tapi tidak di Lombok.
Setiap
petani Tembakau akan mengetahui seberapa banyak ia perlu menanam, dibantu dan
diawasi dengan pola kemitraan. Tujuannya agar setiap yang ditanam bisa
menghasilkan tembakau terbaik dan secara efektif. Petani tidak harus merugi
karena menanam terlalu banyak, karena pola kemitraan bisa menjamin tersedianya
pasar, baik pembeli maupun penyuplai kebutuhan tembakau. Oh iya, sudahkah
kuceritakan padamu bahwa tembakau Virginia dari lombok merupakan salah satu
penyuplai terbesar kebutuhan produksi tembakau Virginia nasional?
Kau bisa
saja meragukanku atau Pak Iskandar. Jika kau tak percaya bahwa Tembakau di
Lombok memuliakan manusia manusianya kau bisa bertemu dengan Pak Sabarudin di
Desa Lekor. Kau akan menemukan bahwa daun emas Tembakau, yang dituduh sebagai
sumber nikotin pembunuh manusia ini, bisa jadi membuat seseorang sejahtera dan
terlepas dari kesengsaraan. Pak Sabarudin merupakan gambaran sempurna dari itu,
seorang penduduk desa yang berjuang dari bawah sampai menjadi manusia yang
bermartabat.
Pak
Sabarudin tinggal di Lekor, ia ketua kelompok tani Beriuk Nambah (yang artinya
mencangkul bersama) dan sukses menjadi manusia berdaya. Ia tidak sendiri, ia
ikut memuliakan rekan-rekannya yang lain. Jauh sebelum tembakau hadir di Lekor
desa itu dianggap sebagai sarang Begal, seorang kawan Pak Sabarudin pernah
dikalungi belati besar dalam sebuah usaha perampokan.
Belakangan
sejak Tembakau masuk ke desa Lekor, pekerjaan bertambah, mereka yang dahulu
mesti menjadi rampok untuk hidup barangkali memutuskan untuk menggantung belati
dan menanam tembakau. Untuk tahu seseorang mapan atau tidak di Lombok kau cukup
bertanya apakah orang itu sudah naik haji atau belum. Sabarudin seperti
beberapa rekannya yang telah menjadi petani tembakau sejak 1980an telah naik
haji, tahun ini pria murah senyum itu berencana naik haji bersama istrinya.
Sudah
kubilang bukan? Di Lombok surau menjadi satu jagat kecil yang bicara tentang
kehidupan. Ketika kau mampir di desa Lekor dan mendengar azan maka segeralah
menuju surau, jika kau beruntung kau akan bertemu dengan Pak Sabarudin.
Barangkali ia akan menghadiahimu air kelapa segar sembari bercerita tentang
masa lalu. Masa ketika tembakau belum ada di desa itu dan setiap kejahatan
selalu dituduhkan pada manusia manusia yang tinggal di desanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar