Kamis, 21 Oktober 2010

Homunculus

Entah apa yang dipikirkan oleh Piere Rivere saat membantai seluruh keluarganya-termasuk ibunya yang sedang mengandung- di Normandia pada tahun 1836. Boleh jadi ia sedang kerasukan atau ia hanya sedang iseng dan tiba-tiba ingin membantai. Saya tidak pernah tau dan dunia juga tidak pernah tahu, yang jelas sejak saat itu definisi kewarasan atas hukum di dunia boleh jadi berubah. Sebuah konsensus sementara yang mencoba meng-humanisasi orang gila; “Orang yang tidak waras dilarang diadili!”.


Di Indonesia kita kemudian mengenal Dukun AS, yang membantai 42 orang dengan alasan pesugihan. Dukun AS adalah manusia biasa, serupa dengan Muhammad, serupa dengan Hitler dan serupa dengan Bunda Theresa. Jika narasi sejarah tak luput dari Anxiety of Influence, maka boleh saya berdendang riang tentang kisah homo homini lupus. Dimana manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, yang membedakan adalah posisi otoritas mangsa dan pemangsa. Bukankah sejarah manusia biasa berkutat pada pergulatan atas kuasa menentukan norma dan aturan-aturan?

Bisa jadi benar jika sejarah dunia adalah sejarah tentang perebutan kuasa atas norma. Tetapi tidak semua norma tadi tulus jujur untuk kemaslahatan umat. Malah sebagian besar adalah tentang darah yang dibaptis atas nama peradaban. Pembantaian sebuah suku atas nama barbarisme, pemusnahan umat agama karena menyimpang, atau genosida atas nama keagungan ras? Bukankah sejarah yang mencatat Columbus sebagai penakluk Amerika, namun sedikit sekali yang mengungkap jika yang maha Agung Columbus juga melakukan pembantaian atas kaum indian Arawaks Amerika.


Mungkin karena muak dengan kemunafikan bernama norma dan sikap banal ke-beradaban itu, Marquis de Sade merayakan orgy untuk mengejek kewarasan. 120 days of Soddom serta segala macam rupa penyimpangan seks diperagakan seakan-akan manusia tidak mengenal tata krama, sebuah Ode atas keliaran yang kemudian ditutup dengan makan seperangkat tahi. Kejijikan pada kemunafikan lebih menusuk pada sanubari Sade, lebih dari siksa penjara Bastille yang menggerogoti tubuh di sisa umurnya. Adakah yang salah dari hal itu?


Sekali lagi sejarah mengenal perilaku Sade sebagai sebuah kegilaan, penyimpangan, subversi atas status quo dan sepenggal bentuk sikap barbar. Tetapi ia adalah avantgarde kewarasan, kejujuran, dan seperangkat alat pemutar balik definisi abnormalitas. Adakah manusia yang bertindak demikian? Tentu jawabannya bisa jadi ya dan tidak, tapi nyatanya ada.


Apakah ke-tak-warasan melulu tentang pembunuhan? Tentang olah laku tak wajar? Tidak juga, bukankah kita mengenal Galileo yang musti di asingkan karena pencerahan dan juga kita mengingat Socrates yang musti minum racun karena pertanyaan. Keterbatasan pemikiran, perbedaan dan Xenopobia membuat manusia takut akan sesuatu yang baru. Dan akhirnya masyarakat punya definisinya sendiri tentang kewajaran, tentang baik buruk, benar salah dan segalanya.


Maka tak salah jika Teto memilih untuk mengabdi pada yang mulia ratu Wilhelminna dan bukan pada kaum republik. Mangunwijaya boleh jadi sekedar menyentil, Burung-Burung Manyar hanya ingin jujur memberi perspektif. Ini kisah tentang manusia yang berusaha digubah sejarah. Mereka yang mencoba hidup secara berbeda, menentang arus, menolak definisi dan mengabaikan kemapanan. Bukankah wajar untuk memilih pada pihak pemenang dan berlindung pada mereka yang kuat. Namun dari berbagai alasan Teto tetap pada pemikiran Nederland punya jawaban atas bangsa ini. Apakah ini gila?


Apa kemudian yang membentuk Diri dan kewajaran tadi? Konsensus atau hanya sekedar apologi? Kisah Thích Quảng Đức dan Cristhoper McCandless yang menjadi martyr atas apa yang mereka yakini boleh jadi adalah sebuah petasan kecil yang menghancurkan definisi mapan dan kebahagiaan yang diyakini oleh kebanyakan manusia. Thích Quảng Đức yang memutuskan untuk melakukan self immolation sebagai bentuk protes memicu keruntuhan rezim Ngô Đình Diệm di Vietnam, pembakaran diri untuk sebuah kejatuhan rezim? Mungkin bukan harga yang sepadan namun terbukti bisa menginspirasi perubahan.



Cristhoper McCandless atau Alexander Supertramp pengelana yang menolak “kemapanan” dalam arti sesungguhnya, meleburkan diri dalam belantara alam liar Alaska untuk menjalani semacam tapa brata. Manungaling kawula jagat, menyatu dengan alam sekitar. Serupa dengan jalan moksa resi-resi dalam kisah wayang purwa, melakukan jalan kematian dengan nyepi. Dan Cristhoper McCandless toh mati bahagia dengan sebuah tulisan sederhana yang ia tulis “I HAVE HAD A HAPPY LIFE AND THANK THE LORD. GOODBYE AND MAY GOD BLESS ALL!”.

Lalu apa kiranya yang membuat indvidu-invidu tadi berbeda begitu rupa? Adalah “homunculus” ujar para cendikia jiwa dan magis, manusia dalam manusia. Psikologi dan sihir menemukan apologinya sendiri. Ada manusia dalam manusia yang melakukan representasi atas segala hal; Citra, rasa, warna, dan suara. Hingga pada akhirnya membuat pemahaman atas realitas disekitar tubuh. Jika norma adalah sebuah keberadaan yang imajiner maka Homunculus inilah yang melakukan interpertasi terhadap nilai-nilai, lupakan perasaan, karena pengampu keputusan bukan di ‘hati’ tapi didalam ‘kepala’.


Lalu apakah ini semua tentang Interpertasi kewarasan, norma, nilai dan hukum? Bah, itu hanya sekedar gaya-gayaan. Karena apakah interpertasi bisa diwakili oleh seperangkat statistik atau teori-teori? Jika ya jelaskan apa itu cinta dan gila. Beribu teks dan lembar Papirus mengumbar definisi dan logika tentangnya, namun tetap tak pernah ada pemahaman yang utuh. Kita semua tersesat dalam gegar definisi kewarasan penguasa. Dan pada akhirnya, biarlah Bertold Brecht bicara tetang Gelap Masa.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar