Kamis, 28 Oktober 2010

Lihat Hujan Ini

Saya dan kamu yang jauh, lihat hujan ini.
Tak berhenti menelikung rinduku padamu.
Tapi, tunggu sebentar. Aku akan ke toilet.
Biar kubuang marahku pada cahaya yang tak kunjung terang.
Kubuang ke jamban.
Tempat yang sama saat kau ludahi rinduku minggu lalu

lihat hujan ini, berderai-derai tak bisa lerai
mirip tangismu saat memintaku pergi saat itu
tapi aku menolak, karena aku bebal dan menolak tunduk
meski pada penolakan pertama, kedua, dan kemarin yang ke duaratus empat

lihat hujan ini bersungut-sungut tak mau usai
sudah tulis sajak ini sejak kemarin, mencatut pujangga tua, muda dan kanak-kanak
tapi kau tak mau luluh juga, ada apa?
sajak tak lagi mampu menyenangkanmu?

Lihat hujan ini, berlari
Lalu jatuh tersungkur ketanah, membawa aroma basah
Larut dibawa angin, masuk ke hidung dan keluar dari pantat
Ini, didepan jamban warna merah, tempat kau ludahi rinduku minggu lalu

Biarlah hujan ini.
Saat reda nanti, biar kukirim sisa rinduku setengah kodi
Terserah kamu. Habis rinduku.
Lalu pulang, tidur dirumah, menolak bangun mengingat kamu.
Lunas.

3 komentar:

  1. Udah, berangkat aja ke bandung, lama amat :p perempuan memang suka digombali dan dibikinin puisi, tapi itu saja tak cukup :D

    BalasHapus
  2. ckckckck...tetap ada jambannya ahhahahhaa

    BalasHapus