Kamis, 04 Agustus 2011

Kritik


In the finest critics one hears the full cry of the human. They tell one why it matters to read. Harold Bloom
Saya suka kritik. Jika kritik dimaknai sebagai sebuah hinaan, cercaan dan kata-kata pedas dari orang yang anda kenal. Well, saya suka kritik itu. Tapi bukan berarti saya kebal. Sesekali saat mood dan emosi tidak stabil saya kadang ikut tersulut dan marah. Tapi selebihnya kritik membuat saya tahu apa yang salah dan memperbaikinya dengan seksama. Mungkin terdengar naif dan sangat bijak, tapi sebenarnya itu tindakan pragmatis yang perlu dilakukan jika kita ingin terus berkembang.

Adalah Cicero yang kemudian mempekerjakan seorang budak untuk selalu berbisik kepadanya di tengah kerumunan. "Kamu adalah manusia biasa, manusia yang punya banyak salah," kira-kira seperti itu si budak berkata pada Cicero. Sebagai salah satu pemikir dan orator t terhebat Roma, Cicero selalu dalam lingkaran pujian yang tak henti-henti. Ia membutuhkan seseorang yang mengingatkan bahwa seorang Cicero adalah manusia biasa yang bisa gagal dan salah.
Adapula Louis Amstrong, legenda Jazz asal New Orleans yang lebih dikenal sebagai penyanyi (di Indonesia) daripada seorang pemain trumpet. Ia kerap kali menolak membuat satu repetoire jazz yang sama setiap manggung. Akan ada sebuah karya dan teknik baru yang ia kembangkan. Meski berulang kali menyanyikan lagu yang sama. "I will not let people to criticizes me. That Why i made whole new songs," ujarnya suatu saat. Kritik kerap kali terjadi karena repetisi dan miskinnya improvisasi.

Saya membenci kritik yang didasari oleh prasangka dan kebencian pribadi. Meski kadang saya pernah melakukannya, tapi saya tahu kebencian membuat kritik jadi tidak objektif. Seperti menilai sebuah sambal pedas tanpa mencobanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar