Kamis, 04 Agustus 2011

Lissist


Apa yang spesial dari 4 Agustus? selain hari ini 100 tahun yang lalu nabi besar Jazz Louis Armstrong lahir di New Orleans? Aku pikir tak ada yang spesial semua masih sama saja. Tak pernah ada jazz yang benar-benar jazz. Karena apa yang kita pahami sebagai jazz adalah yang ada dalam festival! Sementara televisi tetap menyiarkan sampah bernama sinetron dan Nazarudin merasa gagah dengan caping tololnya. Semua sama, seperti komedi satir yang terlalu sering diulang.

Mungkin akan sedikit berbeda jika hari ini adalah hari lahir desainer pakaian bernama Louis Vuitton. Sialnya kamu tak pernah peduli dengan pakaian. Dengan trend terbaru atau bagaimana konstruksi masyarakat dibentuk oleh sebuah mode. Kamu dan aku percaya bahwa trend fashion adalah apa yang disebut Barthes sebagai, humiliated repetition. Sebuah bentuk pengulangan brengsek dari kebudayaan masa!

Ini hari juga hari dimana catatan hari Anne Frank ditemukan. Dimana semua yang bernama kenangan ditautkan dalam kisah. Serupa menjalin yang kokoh lagi keras. Sementara semua catatan harus bersikap bodoh dan tolol seperti Raditya Dika atau Pocongg. Padahal ada kisah kemanusiaan yang luput dijawab dari catatan Anner Frank. Ia dibunuh dan kisahnya dikabarkan karena ia menulis!

Jadi bagaimana cara merayakan kelahiran yang menurutmu tak penting ini? Ceremoni ulang tahun, sepertiu juga wisuda, adalah basa basi tengik yang sangat kau benci. Sebenci kau pada tugas menumpuk dan riset thesismu yang berlembar-lembar itu. Mungkin kita sama, sama merutuki tugas-tugas sebagai sebuah basa basi.

Lalu apakah yang menarik untuk kuberikan padamu pada hari ini? Ah kupikir sepotong sajak Maya Angelou sangat pas jika kubacakan menjelang subuh dengan segelas kopi pahit.

When You Come

When you come to me, unbidden,
Beckoning me
To long-ago rooms,
Where memories lie.

Offering me, as to a child, an attic,
Gatherings of days too few.
Baubles of stolen kisses.
Trinkets of borrowed loves.
Trunks of secret words,

I cry.

Lalu dimanakah kita? Kukira sama seperti kemarin. Masih mencari antara realitas dan hiper realitas. Serupa cita-cita Guttenberg dalam mesin cetak, bahwa sesungguhnya Alkitab berhak dibaca oleh siapa saja dan dimana saja. Bahwa kita masih mencari keping identitas diri di tengah gempuran segala yang kitsch segala yang banal dan segala yang artifisial. Tapi lekuk tawa dan kutukan itu jujur. Dan kita sama-sama mencintai kebebasan.

2 komentar:

  1. Bingung mau koment apa.
    Cuma suka sama potonya, lirikan cowoknya itu loh :P

    Salam.. .

    BalasHapus
  2. setuju sama yang di atas hahaha :p

    BalasHapus