Selasa, 23 Oktober 2012

Setelah Beberapa Jam Yang Melelahkan Itu

Untuk Shofi

adakah jarak yang menjadi batas kata-kata?
demi masa lalu, karib yang terhempas di sisip waktu
mau sekali aku bercengkrama denganmu.

Sajak ini bikinan seorang kawan. Aufanuha namanya. Mungkin kau ingat, pada suatu malam yang lampau kita pernah berbincang perihal puisi dan perihal keinginanmu membikin buku. Saat itu aku benar-benar dibikin malu oleh kemampuanmu meracik kata. Sebuah gaya yang konon kupikir sudah selesai dan tak akan pernah terulang. Mungkin itu yang membikin aku terus memantau dan menengok laman blogmu yang luar biasa itu. Seperti sebuah sudut kecil pada perpustakaan yang sepi.

Aku tahu kita tak kenal dekat. Bahkan juga tak pernah benar-benar bertemu. Sekedar saling sapa dalam dunia maya yang sebenarnya beresiko mereduksi pesan. Tapi bukankah itu tak penting? Kukira hari ini, pada detik aku menulis ini kau sedang berjuang untuk mendapatkan cintamu kembali.

Aku tak paham benar apa maksud dari #10hourstogetyouback. Seorang kawanmu bercerita bahwa kau sedang berjuang untuk mengejar kembali cintamu. Dalam waktu 10 jam kau kembali ke Indonesia dari Singapura hanya untuk memperbaiki hubunganmu. Semula kupikir ini hanya ada pada sebuah skenario FTV kelas dua. Tapi bukankah hidup yang simetris hanya berujung pada repetisi yang membosankan?

Memperjuangkan sesuatu untuk yang kita yakini tak pernah mudah. Apalagi soal perasaan. Einstein yang masyur itu pun mesti bertekuk lutut pada perasaan. Tak satu teori yang bisa ia jelaskan pada seseorang yang jatuh cinta. Juga pada seseorang yang dilumat dendam. Atom meledak, cinta membuncah dan segala yang bernama masa depan lantas dibentuk dari keinginan paling primordial. Nafsu.

Tapi nafsu tak pernah benar-benar bisa mendorong manusia untuk mencapai ketenangan. Kukira begitu. Dorongan untuk menyelamatkan cinta dalam waktu 10 jam bukan lahir dari nafsu. Ia lahir dari keinginan bahwa "Masa depan akan lebih indah bersamamu," daripada sekedar "aku nyaman bersamamu tolong jangan pergi". Ada perbedaan besar antara menghabiskan manis getir sisa umur dengan seseorang yang kau cintai dan menjalani hubungan yang menyenangkan dalam kesementaraan.

Biar kuceritakan padamu sebuah kisah pendek. Kisah seorang lelaki yang jatuh cinta pada jarak, lantas memasung dirinya pada sebuah imaji. Di Surakarta pada suatu petang yang berjelaga merah, seorang lelaki menemukan seraut wajah yang ia kira adalah potongan nasibnya yang lain. Seorang wanita dengan lesung pipi paling manis yang pernah ia lihat.

Tahun berjalan dan bengawan Solo tak pernah mengering. Seperti itu juga imaji si lelaki untuk terus mendapatkan si wanita dengan lesung pipi paling manis. Ia berpikir hanya dengan berpikir dan berharap cinta akan datang. Hanya dengan kata-kata ia berharap. Menjalin kalimat dengan bujuk rayu gombal yang diharapkan bisa menakik wanita tadi kedalam haribaan rindunya. Tapi jutaan tahun peradaban manusia membuktikan. Berpikir dan berharap tak melulu akan membuat kita mendapatkan apa yang diinginkan.

Kau akan sadar Shofi. Bahwa kekecewaan lahir dari harapan, sedangkan kebahagiaan itu kau sendiri yang bikin. Jikalau nanti setelah 10 jam yang melelahkan itu kau tak mampu menyelamatkan cintamu. Kau mesti  bersiap berhadapan dengan sesosok mahluk besar bernama ego. Ia adalah gambaran dari segala keinginanmu yang tak terpenuhi. Kau akan dihajar oleh detik-detik yang melumat segala semangat, ia pelan-pelan mengambil alih kesadaranmu dengan pertanyaan "mengapa".

Harapan seringkali berkhianat. Juga kebahagiaan. Andaikan kau berhasil kau masih akan dihantui perasaan-perasaan nisbi seperti "apakah ini akan terulang kembali?" atau paranoia semacam "apakah ia benar-benar tulus padaku?" terus menerus hingga kau dimangsa perasaanmu sendiri. Rasa jengah dan pedih atas penolakan tak hadir seketika Shofi. Seperti seorang gerilyawan yang tangguh, ia akan hadir pada saat kau paling rapuh.

Tapi diatas itu semua kukira kau akan baik-baik saja. Kau bukan seorang perempuan lemah, kau seorang pedusi (kau tau pedusi kan?) yang tak akan meratap hanya karena seorang lelaki. Lelaki yang bagkan tak bisa menghargai perjuanganmu untuk mempertahankan sebuah hubungan. Kau lebih dari itu semua. Kau telah meretas sekat-sekat yang kupikir hanya ada dalam novelet konyol bikinan Dewi Lestari atau lagu cinta kebanyakan.

Kau akan merutuki bahwa 10 jam perjuanganmu adalah kesia-siaan yang melahirkan penolakan. Tapi tak pernah ada perjuangan yang sia-sia. Dengan berjuang dan mengambil keputusan pulang kau telah membuktikan bahwa dirimu adalah seseosok manusia yang patut diselamatkan cintanya. Jika dengan usaha ini kau tak juga berhasil. Maka lelaki itu tak pantas diselamatkan dan diperjuangkan cintanya.

Tapi jika kau berhasil cobalah ingat segala perjuanganmu itu sebagai sebuah ritus keabadian. Bahwa dalam satu waktu dalam hidupmu yang hanya sekali itu kau berjuang untuk apa yang kau percayai. Tak semua manusia memiliki kualitas seperti ini. Kebanyakan dari kita, termasuk aku, lebih memilih meringkuk meratapi nasib yang semestinya bisa dirubah.

Saat menulis ini aku sedang mendengar lantunan band Post Rock Jerman, Collapse Under the Empire - The Last Reminder. Berulangkali dalam riuh ramai suara gitar yang rapat dan melompat-lompat itu, jeda dilahirkan sebagai sebuah ruang untuk bernafas. Berjuang barangkali seperti itu. Ia adalah gerakan konstan yang tak melulu merangsek maju dan berkelindan merebut keinginan. Cobalah kau dengar lagu ini.

Aku tak tahu bagaimana kisahmu dalam #10hourstogetyouback. Tapi kuharap kelak kau mau berbagi kisahmu. Atau kau boleh menyimpannya rapat-rapat. Obat yang baik selalu terasa pahit. Sehingga kelak jika suatu saat kau telah bahagia. Kau akan mengingat semua ini dengan tertawa.

Sebagai penutup aku mau kasih kau puisi dari Saint John the Cross. Seorang salih katolik pendiri ordo carmel. Puisi ini berjudul The Dark Night of The Soul. Puisi yang bercerita tentang seorang kekasih yang tak menyerah pada kehampaan. Manusia yang jatuh cinta pada Tuhan dan membiarkan dirinya terluka untuk terus mendamba. Masokis barangkali, tapi kukira cinta tak pernah sederhana. Seperti juga usaha untuk memperjuangkan cinta itu sendiri. Ia adalah pilihan. Meski untuk perkara jarak, kupikir, menyerah bukanlah pilihan.
I abandoned and forgot myself,
laying my face on my Beloved
;all things ceased;
I went out from myself,
leaving my cares
forgotten among the lilies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar