Pada Majalah Sastra edisi Agustus
1968 dunia sastra Indonesia diguncang dengan penerbitan cerpen profetik yang
membikin berang umat muslim di Indonesia. Cerpen panjang berjudul Langit Makin
Mendung bercerita tentang turunnya Nabi Muhammad ke bumi. Dalam kisah itu ada
penyosokan tuhan dan dialog yang dianggap menistakan agama islam. Lebih dari
itu fragmen cerita yang menggambarkan pemuka agama sebagai sosok gila harta dan
memuliakan petani komunis yang baik hati. Cerpen ini, pada zamannya, dianggap
berusaha mengembalikan paham politik yang dianggap sesat itu. Polemik panjang
dimulai dan barisan sumpah serapah berkembang kian kemari.
Kita menyukai polemik sebagai
sebuah ajang pamer kebolehan sementara diskusi sehat, yang sebenarnya menjadi
esensi polemik tersebut sering abai dipahami. Gejala ini selalu berulang sejak
lama dalam sejarah negeri ini. Saya sendiri setidaknya mencatat ada empat
polemik sastra besar di Indonesia. Sebagian besar melahirkan kebencian.
Pramoedya menghantam Hamka, Taufik Ismail membenci Pramoedya, Goenawan Mohammad
berseteru dengan Taufik Ismail perihal sastrawangi. Dan sebagainya dan
sebagainya.
Polemik perihal dugaan plagiasi
Hamka melalui Tenggelamnya Kapal Van der Wijk pada Magdalena karya Alphonse
Karr yang diterjemahkan Al Manfaluthi. Polemik visi kebudayaan antara Lekra dan
Manifes Kebudayaan, Polemik pemberian Magsasay Award pada Pramoedya Ananta
Toer, dan juga polemik Al Quran berwajah
puisi yang disusun oleh HB Jassin. Semua polemik itu melahirkan caci maki,
perdebatan keras, tuntutan hukum, ancaman pembunuhan dan sebagainya.
Setiap polemik sastra, atau jika
boleh saya sederhanakan, polemik karya tulis seharusnya dilakukan dengan
elegan. Mengingat mereka yang peduli pada polemik beginian biasanya adalah para
intelektual yang memiliki kapasitas otak di atas rata-rata. Adu pemikiran dan
silang sengketa pendapat seharusnya dilakukan dengan argumen yang lugas. Dalam
polemik tadi beberapa penulis dengan jujur ambil sikap bersebrangan dan
melakukan hantaman keras. Beberapa menyembunyikan identitas diri (seperti dalam
kasus plagiasi Hamka), tapi tak sedikit yang berani pasang badan dengan
menyebutkan nama terang.
Sebenarnya masih banyak polemik
lain yang terjadi di Indonesia. Dalam kazanah dunia seni rupa Indonesia muncul
polemik perihal pembaharu dalam senirupa modern Indonesia. Apakah ia Sudjojono
dan Peragi atau Raden Saleh dan Moii Indie. Sementara di kazanah sejarah
terdapat polemik 350 tahun indonesia dijajah dan kedaulatan kerajaan-kerajaan
nusantara yang merasa setara dengan Belanda. Terlalu banyak perdebatan yang
terjadi tapi hanya sedikit rekonsiliasi dan kesadaran yang lantas hadir.
Selama seminggu terakhir saya
menikmati dagelan di situs jakartabeat.net. dalam polemik artikel suara rakyat
(bukan) suara tuhan yang ditulis kolega sesama kontributor Adi Renaldi. Pada
awal artikel ini diluncurkan saya sudah mengernyitkan dahi. Saya tak paham apa
yang hendak disampaikan Adi. Ini resensi atau sekedar parade snobisme? Dengan gimmick semacam Godot, Marxisme Orthodox
dan emansipatoris Adi membuat saya tersesat.
Saya sedang mempersiapkan sebuah
naskah panjang untuk membantah dan mempertanyakan glorifikasi Adi dalam tulisan
tersebut. Namun perdebatan yang terjadi adalah perang anonim dan perang dapur
redaksi yang membela Adi. Ada yang salah di sini. Polemik di Jakartabeat sejauh
yang saya ingat adalah perdebatan sehat yang selalu mengemukakan argumen dan
bukan sekedar kebencian yang disampaikan oleh akun anonim. Saya lantas batal
menulis bantahan pada Adi. Sepertinya ada yang lebih penting untuk diluruskan
disini. Perihal bagaimana sikap kita dalam berpolemik.
Untuk itu saya coba mulai dari
kritik pada tulisan Adi Renaldi. Saya sudah mencoba mendengarkan Max Havelar
dan tak ada yang istimewa dari band ini. Jika Adi lantas mencoba melakukan
analisis semiotik pada lirik band ini, saya juga tak merasa menemukan sesuatu
yang luar biasa. Liriknya biasa saja. Bagi saya lirik lagu vox populi tak lebih
baik dari lirik lagu yang dibuat Ahmad Dhani dan
entah-apa-nama-band-barunya-itu. Barangkali yang membedakan hanyalah Ahmad
Dhani lebih kaya dan botak.
Max Havelar membuka Suara Kita
Suara Tuhan dengan dominasi melodi mirip organ tunggal yang sedang belajar
bermusik. Vokal yang nyaris cempreng membuat saya ragu-ragu untuk terus
mendengarkan musik band ini lebih jauh. Bukan apa-apa saya tak terlalu suka
jenis suara macam ini. Untuk band yang mendeskripsikan lagunya dengan “sebuah anthem politik dengan beat rock yang
tight tanpa kehilangan nuasa awang” Max Havelar hampir sukses membuat saya
tertidur diseparuh lagu ini. Tempo yang lambat dan repetisi lirik yang
membosankan boleh jadi alasannya.
Saya sepakat dengan Adi Renaldi bahwa
Max Havelar menulis Suara Kita Suara Tuhan dengan nada yang nrimo. Lebih mirip sekumpulan masyarakat
yang menunggu ditolong daripada menolong dirinya sendiri. Keseluruhan lirik ini
adalah representasi manusia-manusia yang lemah dan mengharap ada perubahan dari
orang lain (baca penguasa). Masyarakat yang demikian, bagi saya, tak perlu
dibela. Mereka perlu disadarkan bahwa dirinya punya hak untuk melawan dan tak
diam saja.
Saya mengagumi Adi dalam banyak
tulisan yang ia buat untuk Jakartabeat. Ia mampu merangkai diksi dan membuat
kalimat renyah yang seksi untuk dibaca. Meski kerapkali saya hilang jejak
terhadap apa yang hendak ia katakan. Nama-nama besar seperti Nietszche, Marx, Stuart
Hall atau siapapun itu kerap hilir mudik
dalam setiap karya yang ia buat. Beberapa memberikan pencerahan dan sejalan
dengan alur tulisan yang ia buat. Sementara lainnya saya tak tahu harus
memaknainya seperti apa.
Saya adalah seorang snobs paruh waktu yang juga hobi
melakukan name droping dalam setiap tulisan yang saya bikin. Sebuah tulisan
yang memuat name droping di dalamnya harus memutus mata rantai jarak yang
membuat pembaca asing pada nama yang dituliskan. Berulangkali saya gagal
melakukan ini, saya tentu saja akan marah jika diejek jelek tulisannya, tapi
kritik harusnya jadi obat yang pahit. Kebenaran kadang bukan candy-coated yang membuat kita terbang
ke awang-awang. Seringkali ia berupa injakan keras yang membikin nyeri.
Posisi redaksi jakartabeat yang
membela salah satu kontributornya adalah hal yang sah. Seperti apa yang
dilakukan HB Jassin melalui Horizon dan Pramoedya Ananta Toer dalam lembar
kebudayaan Lentera. Redaksi memiliki politiknya masing masing. Akan menjadi
sumbang dan degil apabila redaksi tadi tak menampung kritik dan protes akan
sebuah tulisan yang dinilai jelek atau salah. Jakartabeat saya kira sudah
membuktikan itu dengan memberi ruang diskusi melalui polemik vampire weekend,
nabi palsu, mafia berkeley, dan wacana indie. Lantas apa lagi yang diharapkan
pembaca dari redaksi?
Saya tak suka dan kurang sepakat
pada tulisan Adi Renaldi dengan ini saya menuliskan kritik. Saya toh juga ambil
bagian dalam euforia gerombolan yang berkomentar pada laman tulisan Adi.
Internet tak perlu jadi ruang saklek yang serius. Komentar perlu ditanggapi
dengan ringan dan bergurau. Sesekali tertawa sangat kencang namun juga miris
pada beberapa kalimat yang menyamarkan kebencian. Jika tak suka pada
tulisannya, bikin tulisan lain, ajarkan bagaimana menulis yang baik. Penonton
bisa belajar menulis yang baik dari sebuah polemik. Bukan belajar bagaimana
menghina dengan menyembunyikan identitas diri.
Di sisi lain ada baiknya jika
redaksi jakartabeat menahan diri dan bersikap seperti tuhan yang buta. Coba
lihat situs kebudayaan lain seperti indoprogress yang diasuh oleh Coen Pontoh.
Polemik antara Goenawan Mohammad dan Martin Suryajaya dibiarkan apa adanya.
Coen, kita tahu, merupakan kolega GM. Tapi tak membuat Coen membela membabi
buta padanya. Saya kira sikap adil bisa menjadi wujud zuhud seseorang pada
semangat kebebasan berpendapat yang ia agungkan.
Polemik adalah sebuah keseharian
yang hampir menjadi sebuah identitas masyarakat kita. Entah itu dalam kazanah
pemikiran filsafat, ekonomi, kebudayaan, sejarah, sastra atau bahkan dalam
selera bermusik. Satu pihak merasa lebih baik dari yang lain dan pihak lainnya
merasa lebih pintar dari yang lain. Kebebalan semacam ini hanya akan melahirkan
polemik yang tak berkesudahan dan memuakan. Hal ini lantas hanya menampakkan
kapasitas pemikiran mereka yang kerdil. Maka berpolemiklah dengan sehat.
banyak pengetahuan yg saya dapat diblog ini. termasuk dalam tulisan ini. ssuka dengan kalimat "Bukan belajar menghina dengan menyembunyikan identitas diri".
BalasHapussalam kenal bung dari Gorontalo :)