Senin, 01 Oktober 2012

Polemik : Yang Disayang dan Yang Dilibas



Pada Majalah Sastra edisi Agustus 1968 dunia sastra Indonesia diguncang dengan penerbitan cerpen profetik yang membikin berang umat muslim di Indonesia. Cerpen panjang berjudul Langit Makin Mendung bercerita tentang turunnya Nabi Muhammad ke bumi. Dalam kisah itu ada penyosokan tuhan dan dialog yang dianggap menistakan agama islam. Lebih dari itu fragmen cerita yang menggambarkan pemuka agama sebagai sosok gila harta dan memuliakan petani komunis yang baik hati. Cerpen ini, pada zamannya, dianggap berusaha mengembalikan paham politik yang dianggap sesat itu. Polemik panjang dimulai dan barisan sumpah serapah berkembang kian kemari.

Kita menyukai polemik sebagai sebuah ajang pamer kebolehan sementara diskusi sehat, yang sebenarnya menjadi esensi polemik tersebut sering abai dipahami. Gejala ini selalu berulang sejak lama dalam sejarah negeri ini. Saya sendiri setidaknya mencatat ada empat polemik sastra besar di Indonesia. Sebagian besar melahirkan kebencian. Pramoedya menghantam Hamka, Taufik Ismail membenci Pramoedya, Goenawan Mohammad berseteru dengan Taufik Ismail perihal sastrawangi. Dan sebagainya dan sebagainya.

Polemik perihal dugaan plagiasi Hamka melalui Tenggelamnya Kapal Van der Wijk pada Magdalena karya Alphonse Karr yang diterjemahkan Al Manfaluthi. Polemik visi kebudayaan antara Lekra dan Manifes Kebudayaan, Polemik pemberian Magsasay Award pada Pramoedya Ananta Toer,  dan juga polemik Al Quran berwajah puisi yang disusun oleh HB Jassin. Semua polemik itu melahirkan caci maki, perdebatan keras, tuntutan hukum, ancaman pembunuhan dan sebagainya.

Setiap polemik sastra, atau jika boleh saya sederhanakan, polemik karya tulis seharusnya dilakukan dengan elegan. Mengingat mereka yang peduli pada polemik beginian biasanya adalah para intelektual yang memiliki kapasitas otak di atas rata-rata. Adu pemikiran dan silang sengketa pendapat seharusnya dilakukan dengan argumen yang lugas. Dalam polemik tadi beberapa penulis dengan jujur ambil sikap bersebrangan dan melakukan hantaman keras. Beberapa menyembunyikan identitas diri (seperti dalam kasus plagiasi Hamka), tapi tak sedikit yang berani pasang badan dengan menyebutkan nama terang.

Sebenarnya masih banyak polemik lain yang terjadi di Indonesia. Dalam kazanah dunia seni rupa Indonesia muncul polemik perihal pembaharu dalam senirupa modern Indonesia. Apakah ia Sudjojono dan Peragi atau Raden Saleh dan Moii Indie. Sementara di kazanah sejarah terdapat polemik 350 tahun indonesia dijajah dan kedaulatan kerajaan-kerajaan nusantara yang merasa setara dengan Belanda. Terlalu banyak perdebatan yang terjadi tapi hanya sedikit rekonsiliasi dan kesadaran yang lantas hadir.

Selama seminggu terakhir saya menikmati dagelan di situs jakartabeat.net. dalam polemik artikel suara rakyat (bukan) suara tuhan yang ditulis kolega sesama kontributor Adi Renaldi. Pada awal artikel ini diluncurkan saya sudah mengernyitkan dahi. Saya tak paham apa yang hendak disampaikan Adi. Ini resensi atau sekedar parade snobisme? Dengan gimmick semacam Godot, Marxisme Orthodox dan emansipatoris Adi membuat saya tersesat.

Saya sedang mempersiapkan sebuah naskah panjang untuk membantah dan mempertanyakan glorifikasi Adi dalam tulisan tersebut. Namun perdebatan yang terjadi adalah perang anonim dan perang dapur redaksi yang membela Adi. Ada yang salah di sini. Polemik di Jakartabeat sejauh yang saya ingat adalah perdebatan sehat yang selalu mengemukakan argumen dan bukan sekedar kebencian yang disampaikan oleh akun anonim. Saya lantas batal menulis bantahan pada Adi. Sepertinya ada yang lebih penting untuk diluruskan disini. Perihal bagaimana sikap kita dalam berpolemik.

Untuk itu saya coba mulai dari kritik pada tulisan Adi Renaldi. Saya sudah mencoba mendengarkan Max Havelar dan tak ada yang istimewa dari band ini. Jika Adi lantas mencoba melakukan analisis semiotik pada lirik band ini, saya juga tak merasa menemukan sesuatu yang luar biasa. Liriknya biasa saja. Bagi saya lirik lagu vox populi tak lebih baik dari lirik lagu yang dibuat Ahmad Dhani dan entah-apa-nama-band-barunya-itu. Barangkali yang membedakan hanyalah Ahmad Dhani lebih kaya dan botak.

Max Havelar membuka Suara Kita Suara Tuhan dengan dominasi melodi mirip organ tunggal yang sedang belajar bermusik. Vokal yang nyaris cempreng membuat saya ragu-ragu untuk terus mendengarkan musik band ini lebih jauh. Bukan apa-apa saya tak terlalu suka jenis suara macam ini. Untuk band yang mendeskripsikan lagunya dengan  “sebuah anthem politik dengan beat rock yang tight tanpa kehilangan nuasa awang” Max Havelar hampir sukses membuat saya tertidur diseparuh lagu ini. Tempo yang lambat dan repetisi lirik yang membosankan boleh jadi alasannya.

Saya sepakat dengan Adi Renaldi bahwa Max Havelar menulis Suara Kita Suara Tuhan dengan nada yang nrimo. Lebih mirip sekumpulan masyarakat yang menunggu ditolong daripada menolong dirinya sendiri. Keseluruhan lirik ini adalah representasi manusia-manusia yang lemah dan mengharap ada perubahan dari orang lain (baca penguasa). Masyarakat yang demikian, bagi saya, tak perlu dibela. Mereka perlu disadarkan bahwa dirinya punya hak untuk melawan dan tak diam saja.

Saya mengagumi Adi dalam banyak tulisan yang ia buat untuk Jakartabeat. Ia mampu merangkai diksi dan membuat kalimat renyah yang seksi untuk dibaca. Meski kerapkali saya hilang jejak terhadap apa yang hendak ia katakan. Nama-nama besar seperti Nietszche, Marx, Stuart Hall  atau siapapun itu kerap hilir mudik dalam setiap karya yang ia buat. Beberapa memberikan pencerahan dan sejalan dengan alur tulisan yang ia buat. Sementara lainnya saya tak tahu harus memaknainya seperti apa.

Saya adalah seorang snobs paruh waktu yang juga hobi melakukan name droping dalam setiap tulisan yang saya bikin. Sebuah tulisan yang memuat name droping di dalamnya harus memutus mata rantai jarak yang membuat pembaca asing pada nama yang dituliskan. Berulangkali saya gagal melakukan ini, saya tentu saja akan marah jika diejek jelek tulisannya, tapi kritik harusnya jadi obat yang pahit. Kebenaran kadang bukan candy-coated yang membuat kita terbang ke awang-awang. Seringkali ia berupa injakan keras yang membikin nyeri.

Posisi redaksi jakartabeat yang membela salah satu kontributornya adalah hal yang sah. Seperti apa yang dilakukan HB Jassin melalui Horizon dan Pramoedya Ananta Toer dalam lembar kebudayaan Lentera. Redaksi memiliki politiknya masing masing. Akan menjadi sumbang dan degil apabila redaksi tadi tak menampung kritik dan protes akan sebuah tulisan yang dinilai jelek atau salah. Jakartabeat saya kira sudah membuktikan itu dengan memberi ruang diskusi melalui polemik vampire weekend, nabi palsu, mafia berkeley, dan wacana indie. Lantas apa lagi yang diharapkan pembaca dari redaksi?

Saya tak suka dan kurang sepakat pada tulisan Adi Renaldi dengan ini saya menuliskan kritik. Saya toh juga ambil bagian dalam euforia gerombolan yang berkomentar pada laman tulisan Adi. Internet tak perlu jadi ruang saklek yang serius. Komentar perlu ditanggapi dengan ringan dan bergurau. Sesekali tertawa sangat kencang namun juga miris pada beberapa kalimat yang menyamarkan kebencian. Jika tak suka pada tulisannya, bikin tulisan lain, ajarkan bagaimana menulis yang baik. Penonton bisa belajar menulis yang baik dari sebuah polemik. Bukan belajar bagaimana menghina dengan menyembunyikan identitas diri.

Di sisi lain ada baiknya jika redaksi jakartabeat menahan diri dan bersikap seperti tuhan yang buta. Coba lihat situs kebudayaan lain seperti indoprogress yang diasuh oleh Coen Pontoh. Polemik antara Goenawan Mohammad dan Martin Suryajaya dibiarkan apa adanya. Coen, kita tahu, merupakan kolega GM. Tapi tak membuat Coen membela membabi buta padanya. Saya kira sikap adil bisa menjadi wujud zuhud seseorang pada semangat kebebasan berpendapat yang ia agungkan.

Polemik adalah sebuah keseharian yang hampir menjadi sebuah identitas masyarakat kita. Entah itu dalam kazanah pemikiran filsafat, ekonomi, kebudayaan, sejarah, sastra atau bahkan dalam selera bermusik. Satu pihak merasa lebih baik dari yang lain dan pihak lainnya merasa lebih pintar dari yang lain. Kebebalan semacam ini hanya akan melahirkan polemik yang tak berkesudahan dan memuakan. Hal ini lantas hanya menampakkan kapasitas pemikiran mereka yang kerdil. Maka berpolemiklah dengan sehat.

1 komentar:

  1. banyak pengetahuan yg saya dapat diblog ini. termasuk dalam tulisan ini. ssuka dengan kalimat "Bukan belajar menghina dengan menyembunyikan identitas diri".

    salam kenal bung dari Gorontalo :)

    BalasHapus