Barangkali tuhan berpihak pada kejahatan. Ia memberikan
Iblis keabadian agar bisa membuat manusia kalah dan masuk neraka. Sedangkan
kita tak diberikan seperangkat kekuatan untuk menjauhi pengaruh-pengaruh keji
itu. Kita hanya diberikan janji dan dogma. Jika manusia tabah, tekun, dan tetap
beriman kita akan dilindungi dan kelak akan masuk sorga. Toh kita tahu itu
tidak sepenuhnya benar. Tak ada yang benar-benar masuk surga dengan langsung
dan tanpa sebelumnya bertanggung jawab atas dosa yang ia bikin. “Karena dosa
sekejil biji zara pun akan mendapat perhitungan.” Sejak awal manusia memang
ditakdirkan untuk kalah dalam permainan surga dan neraka ini.
Tapi barangkali disini kita belajar bahwa menjadi baik bisa
jadi tak berguna. Bahwa menjadikan diri kita tulus, jujur dan terbuka bisa jadi
sebuah bumerang. Dalam dog eat dog worlds,
siapa yang paling tega dan paling kejam, ialah yang paling mungkin hidup. Saya
meyakini itu, saya menyaksikan itu dan saya mengalami itu. Pada satu titik pernah
percaya bahwa saya punya kawan yang tulus menjadi sahabat dan rela akan
melakukan apapun demi saya. Tapi rupanya hidup tidak sebaik ending film-film
disney. Seorang kawan menikam saya dari belakang, kawan yang lain memilih diam
memahami hal tersebut, sementara kawan yang lain memilih terus menerus
mengulang, mengungkit dan membahas itu sebagai bahan lawakan yang tiada habis.
Apakah saya dendam? Belum. Setidaknya ketika itu terjadi
hidup saya masih baik-baik saja. Hidup saya masih berjalan apa adanya dan masih
percaya bahwa orang yang saya anggap kawan itu akan menyadari bahwa apa yang ia
anggap gurauan sebenarnya dalah luka yang sangat perih bagi saya. Saya tak
pernah sekalipun dalam hidup berkhianat, mendiamkan kejahatan dan menertawakan
kegetiran orang lain. Tapi rupanya saya salah. Hidup, sejauh ini, adalah
tentang semua itu. Jika kawanmu dikhianati, bahas terus lukanya, anggap bahwa
itu hal sepele yang perlu dikatakan berulang ulang, bahwa apalah masalah itu
dibanding krisis nuklir Korea Utara, kapitalisme Amerika Serikat atau harga
tiket Gun N Roses.
Semua tak lebih penting daripada bahan lawakan yang kerdil.
Tapi meski ditikam, didiamkan, dan dijadikan objek lawakan
saya masih cukup menahan diri. Setidaknya, saya pikir, saya punya tuhan. Saya
punya pelindung maha adil, maha kuasa, maha penyayang dan pengasih yang dapat
diandalkan dan dijadikan inspirasi hidup. Sekali lagi saya salah. Tuhan rupanya
masih berpihak pada mereka yang berbuat keji. Mereka yang mendiamkan, menikam
dan menjadikan kesengsaraan kawannya sebagai objek gurauan. Tuhan melimpahkan
kemuliaan dan kebesaran bagi mereka yang keji dan jahat.
Oh barangkali saya hanya merajuk, bertingkah seperti anak
kecil yang iri melihat mainan kawannya lebih keren dan lebih mahal. Barangkali
saya begitu. Barangkali juga Tesla begitu. Ketika ia menciptakan konsep arus
listrik murah dan lampu bohlam sebelum Thomas Alfa Edisson. Sejarah boleh
berkata bahwa Edisson yang menemukan lampu bohlam dan aliran listrik yang
memberi nyawa peradaban modern. Tapi bagi mereka yang mencari tahu dan
menyangsikan sejarah memahami jauh sebelum Edisson berpikir tentang mencipta
cahaya, Tesla telah membayangkan serta mengupayakan masyarakat yang terbebas
dari beban kegelapan dengan memberikan pelita secara gratis.
Saya memilih untuk kecewa pada tuhan, pada masyarakat dan
pada orang-orang yang berpihak di sisi kekejian semacam ini. Atau barangkali
saya sendiri yang buta dan tak memahami realitas. Atau saya sendiri yang bopeng
dalam berperilaku dan sumbing dalam bersikap. Seharusnya di dunia yang keji
semacam ini bersikap tulus adalah kesia-siaan. Mungkin Solmed, semacam ustad
populer, itu benar. Saya menciptakan musuh saya sendiri. Saya merasa memiliki
musuh padahal orang-orang yang saya anggap musuh itu tak ada. Mereka bahkan tak
peduli pada keberadaan saya, mereka tak tahu kebencian dan kemarahan saya.
Mereka bahkan bahagia tanpa saya. Sedangkan disini saya tersiksa perasaan saya
sendiri.
Pada sebuah hikayat dikatakan jika Schopenhauer membuat
kelas bersamaan dengan Hegel. Apakah ia iri pada kemasyuran filsuf sejarah itu?
Mungkin. Tapi yang jelas ia merasa bahwa Hegel adalah musuh sepadan yang harus
ia kalahkan dalam berbagai hal. Entah popularitas, karya dan pemikiran. Kita
tentu tahu jika Schopenhauer hanya mengalami delusi. Ia dipenjara oleh
obsesinya sendiri sehingga merasa bahwa Hegel selalu bersaing dan berusaha
melemahkan dirinya. Padahal Hegel tak pernah (menganggap) keberadaan Schopenhauer
sebagai rival atau musuh yang perlu ditanggapi. Kekecewaan ini berulang terjadi
sampai keduanya meninggal.
Iri hati adalah penyakit yang membuat manusia terus
berkembang. Kita mengenal dua anak Adam yang bertikai melalui penuturan kitab
suci. Al Kitab menyebutnya sebagai Abel dan Cain sementara Al Quran menyebutnya
sebagai Habil dan Qabil. Sesudah itu, kita semua tahu tragedi yang lahir karena
iri dan dengki. Manusia menemukan pemakaman dan dosa pertama manusia di bumi
diciptakan. Repetisi dari sikap iri ini terjadi ketika Iblis menolak tunduk
pada Adam seperti juga Malaikat yang mempertanyakan keputusan Tuhan mencipta
manusia. Iri hati melahirkan peradaban-peradaban yang barangkali melukai orang.
Saya menyerah untuk percaya dunia akan jadi lebih baik
dengan sikap tulus. Pengkhianatan dan sikap keji yang berulang terjadi membuat
saya percaya: mereka yang kejam adalah mereka yang bertahan. Meski saya
berharap bahwa hal ini hanyalah rasa iri saya saja. Bahwa segala hal yang saya
curigai itu hanyalah sebuah ilusi. Teman-teman saya baik dan tulus. Kawan-kawan
saya setia dan selalu baik dalam bersikap. Semoga demikian. Semoga saya hanya
iri saja.
Mas Arman, salam kenal ya.
BalasHapusSaya ingin mengatakan bahwa tulisan mas ini sungguh dengan tepat menggambarkan apa yang selama ini saya rasakan dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Seperti yang mas tulis bahwa pengkhianatan dan sikap keji justru mendapat apresiasi dan memiliki kedudukan dan kehidupan yang mapan. Sedangkan menjadi tulus dan jujur justru berusaha disingkirkan bahkan dicap pembangkang. Kesemuanya itu benar adanya karena saya sendiri mengalami.
Emang kamu diapain?
BalasHapus