Sabtu, 27 Juli 2013

Peradaban Iri

Barangkali tuhan berpihak pada kejahatan. Ia memberikan Iblis keabadian agar bisa membuat manusia kalah dan masuk neraka. Sedangkan kita tak diberikan seperangkat kekuatan untuk menjauhi pengaruh-pengaruh keji itu. Kita hanya diberikan janji dan dogma. Jika manusia tabah, tekun, dan tetap beriman kita akan dilindungi dan kelak akan masuk sorga. Toh kita tahu itu tidak sepenuhnya benar. Tak ada yang benar-benar masuk surga dengan langsung dan tanpa sebelumnya bertanggung jawab atas dosa yang ia bikin. “Karena dosa sekejil biji zara pun akan mendapat perhitungan.” Sejak awal manusia memang ditakdirkan untuk kalah dalam permainan surga dan neraka ini.

Tapi barangkali disini kita belajar bahwa menjadi baik bisa jadi tak berguna. Bahwa menjadikan diri kita tulus, jujur dan terbuka bisa jadi sebuah bumerang. Dalam dog eat dog worlds, siapa yang paling tega dan paling kejam, ialah yang paling mungkin hidup. Saya meyakini itu, saya menyaksikan itu dan saya mengalami itu. Pada satu titik pernah percaya bahwa saya punya kawan yang tulus menjadi sahabat dan rela akan melakukan apapun demi saya. Tapi rupanya hidup tidak sebaik ending film-film disney. Seorang kawan menikam saya dari belakang, kawan yang lain memilih diam memahami hal tersebut, sementara kawan yang lain memilih terus menerus mengulang, mengungkit dan membahas itu sebagai bahan lawakan yang tiada habis.

Apakah saya dendam? Belum. Setidaknya ketika itu terjadi hidup saya masih baik-baik saja. Hidup saya masih berjalan apa adanya dan masih percaya bahwa orang yang saya anggap kawan itu akan menyadari bahwa apa yang ia anggap gurauan sebenarnya dalah luka yang sangat perih bagi saya. Saya tak pernah sekalipun dalam hidup berkhianat, mendiamkan kejahatan dan menertawakan kegetiran orang lain. Tapi rupanya saya salah. Hidup, sejauh ini, adalah tentang semua itu. Jika kawanmu dikhianati, bahas terus lukanya, anggap bahwa itu hal sepele yang perlu dikatakan berulang ulang, bahwa apalah masalah itu dibanding krisis nuklir Korea Utara, kapitalisme Amerika Serikat atau harga tiket Gun N Roses.

Semua tak lebih penting daripada bahan lawakan yang kerdil.

Tapi meski ditikam, didiamkan, dan dijadikan objek lawakan saya masih cukup menahan diri. Setidaknya, saya pikir, saya punya tuhan. Saya punya pelindung maha adil, maha kuasa, maha penyayang dan pengasih yang dapat diandalkan dan dijadikan inspirasi hidup. Sekali lagi saya salah. Tuhan rupanya masih berpihak pada mereka yang berbuat keji. Mereka yang mendiamkan, menikam dan menjadikan kesengsaraan kawannya sebagai objek gurauan. Tuhan melimpahkan kemuliaan dan kebesaran bagi mereka yang keji dan jahat.

Oh barangkali saya hanya merajuk, bertingkah seperti anak kecil yang iri melihat mainan kawannya lebih keren dan lebih mahal. Barangkali saya begitu. Barangkali juga Tesla begitu. Ketika ia menciptakan konsep arus listrik murah dan lampu bohlam sebelum Thomas Alfa Edisson. Sejarah boleh berkata bahwa Edisson yang menemukan lampu bohlam dan aliran listrik yang memberi nyawa peradaban modern. Tapi bagi mereka yang mencari tahu dan menyangsikan sejarah memahami jauh sebelum Edisson berpikir tentang mencipta cahaya, Tesla telah membayangkan serta mengupayakan masyarakat yang terbebas dari beban kegelapan dengan memberikan pelita secara gratis.

Saya memilih untuk kecewa pada tuhan, pada masyarakat dan pada orang-orang yang berpihak di sisi kekejian semacam ini. Atau barangkali saya sendiri yang buta dan tak memahami realitas. Atau saya sendiri yang bopeng dalam berperilaku dan sumbing dalam bersikap. Seharusnya di dunia yang keji semacam ini bersikap tulus adalah kesia-siaan. Mungkin Solmed, semacam ustad populer, itu benar. Saya menciptakan musuh saya sendiri. Saya merasa memiliki musuh padahal orang-orang yang saya anggap musuh itu tak ada. Mereka bahkan tak peduli pada keberadaan saya, mereka tak tahu kebencian dan kemarahan saya. Mereka bahkan bahagia tanpa saya. Sedangkan disini saya tersiksa perasaan saya sendiri.

Pada sebuah hikayat dikatakan jika Schopenhauer membuat kelas bersamaan dengan Hegel. Apakah ia iri pada kemasyuran filsuf sejarah itu? Mungkin. Tapi yang jelas ia merasa bahwa Hegel adalah musuh sepadan yang harus ia kalahkan dalam berbagai hal. Entah popularitas, karya dan pemikiran. Kita tentu tahu jika Schopenhauer hanya mengalami delusi. Ia dipenjara oleh obsesinya sendiri sehingga merasa bahwa Hegel selalu bersaing dan berusaha melemahkan dirinya. Padahal Hegel tak pernah (menganggap) keberadaan Schopenhauer sebagai rival atau musuh yang perlu ditanggapi. Kekecewaan ini berulang terjadi sampai keduanya meninggal.

Iri hati adalah penyakit yang membuat manusia terus berkembang. Kita mengenal dua anak Adam yang bertikai melalui penuturan kitab suci. Al Kitab menyebutnya sebagai Abel dan Cain sementara Al Quran menyebutnya sebagai Habil dan Qabil. Sesudah itu, kita semua tahu tragedi yang lahir karena iri dan dengki. Manusia menemukan pemakaman dan dosa pertama manusia di bumi diciptakan. Repetisi dari sikap iri ini terjadi ketika Iblis menolak tunduk pada Adam seperti juga Malaikat yang mempertanyakan keputusan Tuhan mencipta manusia. Iri hati melahirkan peradaban-peradaban yang barangkali melukai orang.

Saya menyerah untuk percaya dunia akan jadi lebih baik dengan sikap tulus. Pengkhianatan dan sikap keji yang berulang terjadi membuat saya percaya: mereka yang kejam adalah mereka yang bertahan. Meski saya berharap bahwa hal ini hanyalah rasa iri saya saja. Bahwa segala hal yang saya curigai itu hanyalah sebuah ilusi. Teman-teman saya baik dan tulus. Kawan-kawan saya setia dan selalu baik dalam bersikap. Semoga demikian. Semoga saya hanya iri saja. 

2 komentar:

  1. Mas Arman, salam kenal ya.
    Saya ingin mengatakan bahwa tulisan mas ini sungguh dengan tepat menggambarkan apa yang selama ini saya rasakan dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Seperti yang mas tulis bahwa pengkhianatan dan sikap keji justru mendapat apresiasi dan memiliki kedudukan dan kehidupan yang mapan. Sedangkan menjadi tulus dan jujur justru berusaha disingkirkan bahkan dicap pembangkang. Kesemuanya itu benar adanya karena saya sendiri mengalami.

    BalasHapus