Senin, 29 Juli 2013

Kemana Penyair Muda?

Ada yang salah ketika kumpulan puisi yang dipajang dan dicetak ulang adalah milik penyair tua. Generasi kita dipaksa untuk melanjutkan upaya kanonisasi masa lalu yang sudah basi. Saya menyalahkan toko buku. Ia merupakan garda depan pengenalan sastra modern setelah koran dan kritikus hari ini sudah pelan-pelan jadi jelaga usang. Belum lagi gempuran internet yang melahirkan situs sosial media, yang sedihnya, menjadi dangkal oleh kutipan-kutipan klise dan puisi kitsch dari penyair apkiran. Ada apa ini?

Saya kira kita perlu kembali lagi, mau tidak mau, ke masa lalu. Ketika pelajaran sastra, bukan bahasa Indonesia, masih diajarkan. Ketika pertikaian dan polemik kesusastraan dipelihara di koran-koran. Semua orang masih suka membaca dan menulis. Ketika sastra bukan sekedar kata eklektik 140 karakter. Sastra, dalam hal ini puisi, adalah barang mewah yang lahir dari pergulatan, perenungan dan pemikiran yang intens, kalis juga subtil. Ia bukan sekedar terjemahaan kata-kata mutiara, atau saduran yang bisa kita dapat dari mengetik kata romantic poem di google. Puisi adalah proses penciptaan yang lahir dari selibat hati dari materalisme dunia.

Mungkin saya salah. Kepenyairan hanyalah sekedar label yang diberikan orang lain dengan argumen dan pembenarannya sendiri. Kita mengenal HB Jassin, paus sastra Indonesia, yang rajin sekali mencari-cari, mempromosikan dan mengkritik para penyair muda untuk kemudian diperkenalkan. Jassin tidak sembarangan memperkenalkan, tentu dengan catatan dan juga penjabaran yang serius mengapa seorang penyair wajib dikenal. Kritikus dalam hal ini tidak melulu mencari cela dan salah dari orang lain untuk kemudian diutarakan dalam kata-kata pedas. Kritikus juga berperan memperkenalkan orang, komunitas atau sebuah karya untuk bisa diapresasi lebih luas sebagai karya sastra yang agung.

Tapi tentu saja kritikus bisa jadi para praktisi itu sendiri. Saya ingat bagaimana Subagio Sastrowardoyo dalam Sosok Pribadi dalam Sajak atau Goenawan Moehamad dalam buku di sekitar sajak, menulis tentang penyair dan puisi-puisinya. Juga bagaimana Afrizal Malna dalam Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca yang Tak Bersih  menjelaskan rona zaman melalui esai-esai tentang puisi yang dibuat oleh para pendahulunya. Namun apakah kita akan melulu hanya dicekoki mereka? Penulis yang hanya mengglorifikasi dan menasbihkan masing-masing kelompoknya sebagai kelompok sastra terbaik. Apakah kita melulu hanya akan menerima sajak dari Chairil, Rendra, Sapardi, Goenawan Moehammad dalam kutipan-kutipan dan apresiasi sastra. Lantas kemana sebenarnya penyair muda?

Toko buku, juga penerbit mainstream hari ini, hanya menerbitkan buku puisi dari penyair yang telah dikenal. Mereka tentu paham buku puisi tidak selaku buku-buku motivasi dan novel yang bisa laku cetak hinga belasan kali. Sementara buku puisi harus tertatih dan mengejan untuk bisa laku dalam satu kali cetakan. Mengapa demikian? Saya kira kita jauh jatuh pada era kebergegasan dimana menikmati puisi, yang tak bisa sebentar, adalah perbuatan yang sia-sia. Joe Kraus dalam artikel bernasnya menyebut zaman ini sebagai culture of distraction. Zaman ketika informasi, pekerjaan dan trend bergerak sangat cepat sehingga yang mampu kita cerna hanya kelebat-kelebat dan fragmen-fragmen saja.

Seorang kawan yang juga editor dan penerbit buku mandiri berpendapat jika para penyair muda telah terpinggirkan. Mereka, para penyair tadi, tinggal di bilik-bilik maya, di buku-buku indie dan forum-forum kecil yang jauh dari hingar bingar. Era digital melahirkan pesohor-pesohor karbitan, penulis-penulis dadakan yang dirayakan dengan seberapa sering ia di re tweet, di favorite dan ditawarkan kontrak menulis kumpulan tweet. Pada satu kadar tertentu hal ini tak ada yang salah. Buku, apapun isinya, punya nasib sendiri yang tak perlu dipusingkan ajalnya. Tapi apakah kita mau melulu mengenal karya sastra hanya dari sekumpulan ocehan sepanjang 140 karakter?

Kita, atau barangkali saya, perlu lagi berpikir apakah sebuah zaman perlu mencecap pentingnya sastra? Terutama puisi yang barangkali sudah kepalang kadaluarsa relevansinya untuk dinikmati hari ini. Ketika berhala bernama teknologi dan kuasa rasa diukur dari materi yang dipakai/dimiliki. Apalah arti puisi? Ketika semua gaya, terma, leksikon, lema dan kata juga diksi telah habis dibabat oleh penyair sebelumnya. Apalah arti eksplorasi puisi? Ketika semua wacana dan perdebatan soal puisi telah habis dibabat. Apalagi arti apresiasi puisi? Lantas apa yang tersisa bagi mereka penyair muda?

Barangkali jawabannya bukan lagi mencari lahan yang baru. Jika internet dan toko buku hanya berisi karya-karya picisan atau fragmen usang penyair tua. Para penyair muda harus bergerak dan bergerilya dari satu forum komunitas ke satu panggung yang lain. Jika dunia maya dan industri hanya memuja mereka yang mapan dan kuat. Maka terbentang luas kesempatan para penyair untuk bereksistensi dan berkarya di alam nyata. Toh kepenyairan pada awalnya adalah upaya untuk tampil dan bicara di lokus-lokus terpencil, intim dan dekat. Tak perlu mengejar dunia jika kalian bisa berkarya dan diapresiasi secara bernas oleh sekawanan yang serius.

Penyair muda atau penyair baru tak perlu bingung tunggang langgang mengejar kebaruan. Toh orisinalitas hanya perkara klaim dan dukungan saja. Gaya berpuisi apapun itu aku lirik, mbeling, mantra atau bahkan haiku merupakan identitas kepenyairan yang tunggal. Ia boleh saja meniru tapi semirip-miripnya sajak, asalkan tidak menjiplak atau menyadur, tentu punya makna dan pemahamannya sendiri. Jika saat ini sebuah gaya hanya sekedar perdebatan dalam ranah proses kreatif, maka buatlah karya syair dan sajak yang lahir dari upaya yang iseng dan main-main. Toh jika harus berkarya seorang penyair tak wajib membebek penyair lampau untuk bisa diterima bukan?

Jika permasalahan hilangnya para penyair muda karena miskinnya apresiasi, maka jawabannya adalah sering-sering berbagi dan manggung dengan karya sendiri. Perang sesungguhnya dari puisi adalah ketika ia dideklamasikan. Puisi seindah apapun jika ia tak pernah dibaca atau dipertanggungjawabkan secara estetis di atas panggung, bagi saya, ia hanya tak lebih sekedar pamflet sabun cuci. Seorang penyair harus berani adu nyali membagikan sebanyak mungkin karyanya, entah dijual ataupun ditautkan secara gratis, kepada banyak orang untuk dinilai. Kritik, seperti yang telah saya ungkapkan di atas, merupakan apresiasi paling baik. Karena untuk melakukan kritik seseorang harus membaca dengan serius dan tuntas.

Beda pasal apabila kalian para penyair muda membuat sajak hanya untuk cumbu rayu dan pamor. Maka kalian hanya berakhir menjadi penyair bergincu yang lemah nyali. Jenis penyair semacam ini hanya haus pujian dan apabila dikritik akan berderai air mata macam ditulah oleh seluruh alam. Tak terbilang sebenarnya penyair-penyair yang besar karena hantaman dan kritik lantas menjadi kanon. Ambilah nama (aduh mau tak mau menulis penyair tua) Linus Suryadi, yang ketika melepas karya Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa  dianggap premordial dan merendahkan perempuan. Apakah ia jatuh tersungkur? Tidak, malah kita mengenal karyanya sebagai sebuah kanon atas realitas konco wingking yang sering luput ditengok.

Jadi kepada para penyair muda. Kini tentukan saja daras sajak kalian akan dibawa kemana. Ke panggung gemerlap dimana seluruh orang akan antri mengutip dan berbincang karya kalian, dengan resiko tentu saja kalian akan menjadi kanon usang yang miskin kritik. Atau dibicarakan secara tersembunyi namun intens dan akrab, tentu dengan resiko kalian akan dilupakan dan tak dikenal. Tapi apapun pilihannya jangan lupa bahwa tugas penyair adalah bicara soal kedalaman rasa. Bukan sekedar keinginan dikenal atau berdagang.

2 komentar:

  1. apik.
    tak bisa dielakkan bro, 2 fenomena yang kamu sebut ada dan menurutku sama kuat. banyak penyair muda dan tua hanya blusukan di kampungnya, membuat event sederhana atau berpuisi tentang dirinya dan lingkunganya semata. ngeprint puisinya untuk hanya dikaji teman-teman kampungya, atau malah hanya ia nikmati sendiri. banyak penulis sajak protes yang hanya ia baca sambil demonstrasi, tak ada niat dibukukan, diingat atau bahkan konsen menggali estetika sajak.

    selain tentu saja puluhan sastrawan tua dekaden yang jadi artis panggung dan jadi refrensi pemerintah untuk memberaki siswa di bangku sekolah.

    generasi terbaru cyber banyak limbung gamang memilih keduanya. narsisme menjadi lawan sekaligus kawan untuk kenyamanan.

    terus?
    saya masih percaya bahwa ada kelompok atau personal yang seperti pembabat hutan, ngamuk sendiri atau beberapa kawannya menebas belantara yang tak nyaman baginya lalu bermukim membuat sebuah koloni kecil yang entah sampai kapan bertahan atau meluas. hehehe


    ngono wae komenku, nanti tak nulis juga aja deh tentang ini :)

    BalasHapus
  2. (((MENGHANTAM)))

    Salut, mas! Sebenarnya ini ulasan tentang motivasi berbagai aspek yg sekarang sedang "ngetren". Mau terus tegak atau hanya "sekedar" saja.

    BalasHapus