Rabu, 17 Juli 2013

Perjalanan Yang Lain

Saya tidak pernah suka perjalanan. Lebih dari apapun, saya akan menghindari kegiatan ini. Perjalanan hanya membuat saya lelah, mengantuk, berkeringat dan pada akhirnya lemas. Perjalanan terlalu panas dan buku saya bisa lepek karena terik matahari atau basah karena rintik hujan. Tapi bukan berarti saya sinis dan menganggap bahwa perjalanan itu tidak berarti apapun. Perjalanan seringkali malah semacam terapi, semacam usaha untuk memejalkan nyali, menyabung nasib dan mempertaruhkan sesuatu pada hal yang belum pasti. Perjalanan, bagi beberapa orang, adalah cara untuk menjadi dewasa.

Seperti hari ini, ketika bangun pagi saya harus melakukan perjalanan dari atas kasur ke kamar mandi. Ini masalah pelik. Selain karena menuju ke kamar mandi berarti saya harus berdiri dan memakai celana, ya saya tak suka memakai apapun ketika tidur, berarti saya harus membuka pintu kamar tidur turun ke bawah lantas menuju kamar mandi. Pekerjaan berat membosankan yang melelahkan. Kita harus berdiri, menyibak selimut, membuka jendela kamar, lantas berjalan tertatih menuju kamar mandi yang jauhnya empat meter. Ugh...

Kegiatan pagi memang sangat menyebalkan. Terutama jika kita tidur terlampau larut pada malam sebelumnya. Kita tercerabut dalam dua momen: gelap malam dan terang pagi. Manusia dipaksa untuk beraktifitas di pagi hari sementara malam digunakan untuk tidur. Dalam banyak peradaban, masyarakat Inca di Peru misalnya, percaya jika gelap merepresentasikan kejahatan, misteri dan teror. Sementara cahaya terang merepresentasikan pencerahan, kreasi dan kedamaian. Sehingga mengawali hari merupakan kegiatan paling penting dalam hidup. Tapi saya tak pernah setuju. Pagi hari terlalu dingin dan silau untuk bangkit lantas mengerjakan apapun.

Barangkali kita perlu belajar dari para ibu di Republik Dominika perihal mengawali hari. Pada bulan-bulan awal melahirkan para ibu akan tetap di rumah saat pagi tiba. Mereka sudah sibuk menyembunyikan anaknya di dalam ruangan secara hati-hati sejak subuh berakhir. Mereka percaya jika pada masa-masa itu monster, hantu, kolong wewe dan roh jahat akan mengganggu tidur bayi mereka. Jikalau terpaksa, pada kondisi yang tak terelakan, harus keluar rumah. Para ibu di Republik Dominika akan melindungi seluruh tubuh bayinya dengan tudung gelap, jimat, lotion dan segala penangkal bala. Barangkali bukan cuma saya yang sepaham, matahari terlalu silau untuk ditatap sebangun tidur.

Saya sendiri tak keberatan untuk tinggal berlama lama di atas kasur. Namun keinginan untuk kencing begitu menggebu, begitu binal sampai membuat saya terpaksa bangun untuk pergi. Tapi tentu saja, barangkali, kamar mandi itu hanya 10 cm di depan kita. Kita tak pernah tau. Jika saya berhenti sekarang saya akan menyerah dan tak bisa menikmati puncak. Puncak kenikmatan dimana saya tak lagi menahan kencing. Terbebas dari beban yang mengikat ulu hati, mengganggu waktu tidur saya dan tentunya merusak kenyeyakan tidur yang telah lama saya damba. Untuk itu saya harus menuju kamar mandi meski pada akhirnya terpaksa melewati tumpukan buku yang berserakan di lantai, tumpukan baju kotor dan juga kotak kardus berisi koleksi kaset tape yang belum saya singkirkan. Sementara sinar matahari pagi yang malu-malu mulai muncul di antara celah jendela yang tertutup kelambu. Silau sekali.

Semilir angin yang berhembus membuat kulit saya bergidik dingin. Pelan-pelan saya melangkahkan kaki telanjang menapaki karpet di kamar menuju pintu. Pekik kicau burung di luar memang menyegarkan. Tapi mata saya mengantuk dan tak bisa ditahan. Tapi saya tak bisa menyerah di sini. Tidak setelah saya bersusah payah bangun dan berdiri dari kasur yang melenakan itu. Saya harus tetap berjalan ke depan. Menemukan surga tersembunyi yang barangkali belum dieksplorasi. Kakus di kamar mandi saya barangkali merpukan spot terbaik untuk kencing. Tak banyak orang yang datang ke sana. Barangkali ini adalah kesempatan saya untuk jadi pertama yang datang ke kamar mandi hari ini. Menikmati tempat itu sebelum orang lain. Oh pasti keren sekali.

Sebenarnya ada jalur yang lebih mudah untuk mendapatkan kamar mandi. Cukup melakukan reservasi sebelumnya saya bisa mendapatkan paket murah kamar tidur dan kamar mandi dalam. Saat itu sedang promo karena rumah saya renovasi. Ibu saya menawarkan kamar tidur dengan fasilitas kamar mandi dalam, pendingin ruangan dan pemandangan terbaik. Tapi akomodasi ini harus satu paket dengan pilihan menetap di rumah. Apa menariknya promo semacam ini jika kemudian kebebasan itu hanya semu. Bahwa sesungguhnya pilihan untuk menginap atau memilih jalur perjalanan menuju kamar mandi adalah hakiki milik si pejalan. Untuk itu saya memilih untuk mendapat kamar tidur paling ujung, yang paling sempit, yang paling jauh asal saya tetap bisa menjadi seorang pejalan mandiri dan bukan turis.

Jelas kamar yang saya miliki ini lebih mirip sebuah bilik asmara yang dibangun tergesa gesa. Oh jangan salah, bilik asmara tak melulu tentang tindakan mesum. Pada masa kolonial di Amerika Serikat misalnya, pasangan muda yang ingin menikah kerap melakukan praktik bundling. Dalam kamar yang berukuran tak lebih besar dari kamar mandi, lelaki dan perempuan muda dikumpulkan. Sepasang kekasih diuji kesiapan mental menahan birahi. Dalam hukum bundling mereka diminta tidur berpakaian lengkap di ranjang dengan papan untuk meredam setiap godaan seksual. Kadang-kadang mereka dipisahkan dengan sebuah kain menjadi lembaran di antara mereka.

Pelan pelan saya telah melakukan dua langkah perjalanan. Sungguh prestasi yang membanggakan. Mata berat yang menggantung membuat pandangan saya sedikit buram. Perjalanan masih jauh dan saya tak mau menyerah sampai di sini. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi saya dimanjakan oleh tembok putih dan lemari pakaian di sisi kiri dan kanan. Ugh, andai saya membawa kamera saya pasti momen ini bisa diabadikan. Sebuah pemandangan syahdu nan subtil dimana tembok putih polos dengan sedikit retakan yang eksotis dipadu dengan sarang laba-laba penuh debu. Saya yakin instagram tak pernah menemukan foto seperawan ini tentang tembok kamar tidur.

Akhirnya langkah ketiga terjadi. Pagi masih sepi dan diisi kebisingan burung yang berkicau. Di kejauhan kamar sebelah dimana ibu saya tinggal sudah ramai dengan tartil Quran. Memang ada perbedaan besar antara kamar saya dan ibu. Secara geopolitis kami memiliki kebijakan dan idiologi yang berbeda dalam menentukan arah gerak dan Pedoman Penataan Kamar yang Disempurnakan (PPKD). Untuk memahami kebijakan sebuah negara tak bisa naif hanya memandang hitam putih belaka. Keadaan kamar saya dan kamar ibu saya bisa jadi merupakan perwujudan betapa negara yang direpresentasikan aktor bisa berpengaruh pada kebijakan penataan kamar.

Sebagai contoh pembangunan Baikonur Cosmodrome di Kazahstan pada 1950an misalnya,merupakan produk zaman ketika ekspedisi ruang angkasa mencapai puncak kejayaannya. Saat itu ketika Uni Soviet masih bersitegang dengan Amerika Serikat melakukan serangkaian kampanye masif untuk unjuk gigi terhadap kedigdayaan negaranya. Kondisi ini terus terulang, entah dalam hal persenjataan, catur, teknologi nuklir hingga yang paling kekinian. Pariwisata. Ia tak bisa dibaca sebagai sebuah geliat pariwisata modern secara an sich.  Mengatakan bahwa industri pariwisata adalah hal besar yang bisa dikontrol oleh negara itu naif. Senaif mengatakan bahwa eksploitasi pertambangan melahirkan kemakmuran pada masyarakatnya. Same shit different story.

Kosmopolitanisme dan kejumudan teritorial membuat manusia terus bergerak. Juga keinginan untuk buang air yang menggebu. Satu langkah lagi aku akan mencapai pintu kamar. Pintu kayu yang tentu saja bukan terbuat dari jati. Mengapa demikian? Eksploitasi berlebihan pada Jati menyebabkan kayu ini terlalu diminati dan semakin langka. Padahal ketika masa pemerintahan kolonial Belanda telah memulai pengelolaan hutan jati (Tectona grandis) di Jawa dan Madura pada pertengahan abad ke-19, setelah lebih dari 200 tahun lamanya hutan alam jati dipotong secara besar-besaran. Eksploitasi oleh pemerintah Hindia Belanda dilakukan untuk memasok bahan baku industri-industri kapal kayu milik pengusaha Cina dan Belanda, yang tersebar di sepanjang pantai Utara Jawa mulai dari Tegal, Jepara, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, sampai Pasuruan.

Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degradasi yang sangat serius. Karena itu, ketika pemerintah kolonial Belanda kemudian mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda pada tanggal 14 Januari 1808, salah satu tugas yang dibebankan kepadanya adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi pada lahan-lahan hutan yang mengalami degradasi serius.  Dalam melaksanakan tugas rehabilitasi dan reforestasi yang menjadi tanggung jawabnya Daendels membentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan),  membuat perencanaan reforestasi untuk kawasan hutan yang mengalami degradasi, dan juga mengeluarkan peraturan mengenai kehutanan, yang membatasi pemberian ijin penebangan kayu jati, dan memberi sanksi pidana bagi penebang kayu-kayu jati tanpa seijin Jawatan Kehutanan.

Pintu sudah dibuka dan saya masih harus turun untuk menuju kamar mandi. Entah berapa banyak noda sabun yang saya miliki karena sering keluar masuk toilet orang. Barangkali ratusan? Ribuan? Entah saya tak pernah menghitung jumlahnya. Bagi saya jumlah noda sabun, seperti juga stempel pada passport, tak lebih penting dari tujuan saya masuk kamar mandi. Apakah hendak kencing ataukah cuma memperbaiki gincu di kaca kakus? Beberapa dari kita memang lebih genit dan berisik dari kucing yang hendak kawin. Tapi tak apalah. Barangkali ada orang yang gagal logika sekolah sehingga merasa bahwa pencapaian perjalanan melulu diukur dari jarak dan destinasi, bukan lagi kedewasaan dan kebijaksanaan. Prek konsep kok ngawang.

Satu persatu tangga saya turuni untuk menuju kamar mandi. Memang tidak sekestrim menuruni kawah Rinjani. Tidak perlu juga harus seteknis dan sesaklek menuruni tebing Prekestolen, Dataran Tinggi Kjerag, Forsand, Norwegia. Namun tetap saja saya harus berpegangan tangan di antara bahu tangga. Dalam perjalanan turun nyali saya diadu dengan alam rumah. Keringat dingin mengalir di dahi dan leher saya. Tangan menekan keras tembok untuk menjaga saya tetap seimbang. Sedikit saja angin bertiup saya akan jatuh. Sementara jarak antara tangga dan tanah terasa masih jauh. Mata sedikit berkunang-kunang karena bangun tergesa setelah tidur semalaman. Menuruni tangga untuk menuju kamar mandi tak pernah seberbahaya ini.

Untunglah satu persatu tangga terjal itu saya takluki. Memang benar pepatah yang mengatakan jangan pernah bermain-main dengan alam. Karena dengan sedikit kekuatannya manusia bisa hancur lebur. Untuk itu kita mesti konsisten menjaga alam. Mau di gunung atau di rumah tetaplah bijak untuk tak mengambil apapun kecuali gambar dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Sampai di pos bawah menuju kamar mandi saya beristirahat. Tak menyangka perjalanan dari kamar tidur ke kamar mandi membuat saya kelelahan. Kebetulan di meja makan ada segelas teh melati hangat. Saya minum teh itu dengan perlahan dan menikmati sesap hangatnya sendirian. Anugerah tuhan bisa kita nikmati dengan sangat subtil jika dilakukan dengan bersyukur.

Konon menurut sejarah tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia pada 1684. Awalnya dibawa dari Jepang oleh warga negara Jerman bernama Andreas Cleyer. Pemanfaatannya yang pertama bukanlah untuk konsumsi melainkan sebagai tanaman hias di Jakarta. Setelah berhasil melakukan penanamanskala besar di Purwakarta dan di Banyuwangi, Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa. Sehingga pada tahun 1828 bersama Gubernur Jendral Belanda Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa. Tapi tentu ini tak penting, karena minum teh ketika kebelet kencing adalah sebuah kesalahan.

Dengan bergegas saya menuju ke kamar mandi. Beruntung kamar mandi kosong sehingga secara aklamasi saya ambil alih ruangan itu. Melalui tindakan khidmat dan penuh penghayatan saya membuang air seni di dalam kakus. Bentuk kakus di Indonesia biasanya berbentuk leher angsa dengan lubang pembuangan dibagian belakang. Hal ini mau tak mau membuat saya mengingat dongeng Zizek tentang makna kakus. Ia menelaah pemikiran Hegel yang menemukan anomali bentuk kakus dalam tiga peradaban.

Pertama adalah kakus Jerman yang umumnya, lubang tempat pembuangan kotoran terletak di bagian depan, sehingga kotoran itu akan terpampang bagi kita untuk diendus dan diamati apakah ada jejak-jejak penyakit. Sementara dalam kakus Perancis umumnya, lubangnya terletak di belakang dimana kotoran itu harus menghilang secepat mungkin. Terakhir, kakus Anglo-Saxon (Inggris atau Amerika) menghadirkan sejenis sintesis, mediasi antara dua kutub yang bertentangan tadi. Cekungan kakus itu penuh terendam air, sehingga tahinya mengambang: bisa terlihat, tapi bukan untuk diamati.

Hegel termasuk orang pertama yang menafsirkan bahwa segitiga geografis Jerman-Perancis-Inggris ini mengekspresikan tiga sikap eksistensial yang berbeda: Jerman ketelitian permenungan, Perancis ketergesaan revolusioner, sementara Inggris pragmatisme utilitarian moderat. Dalam pengertian sikap politik, segitiga ini bisa dibaca sebagai konservatisme Jerman, radikalisme revolusioner Perancis, dan liberalisme moderat Inggris. Sedangkan dalam pengertian dominasi bidang kehidupan sosial, tersebutlah metafisika dan puisi Jerman lawan politik Perancis dan ekonomi Inggris ( tertuang dalam The Plague of Fantasies (London: Verso, 1997) yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus (2007-2008), khusus untuk jurnal online Paralaks.)

Ah. Usai sudah perjalanan saya menuju kakus. Kini saya harus memilih. Kembali ke haribaan kasur yang melenakan atau berusaha bangkit mandi dan menghadapi hari. Kita melakukan perjalanan lantas ketagihan untuk terus menerus berjalan, mencari dan menaklukan. Mungkin memang benar adanya. Beberapa dari kita terlampau sering melakukan perjalanan sehingga pada akhirnya lupa untuk pulang.

3 komentar:

  1. Yang tepat: do not take nothing but experuences, do not throw nothing but ego

    BalasHapus