Bagaimana cara anda menikmati
puisi? Apakah dengan kesunyian dan teh yang hangat menjelang senja tiba?
Ataukah dalam hingar bingar ramai pasar yang bertempik sorak perihal harga yang
ditawar? Ataukah seperti banyak pegiat kebudayaan, anda datang pada sebuah
sarasehan melihat pembacaan puisi dengan segenap ekstase, musikalisasi,
dramatisasi dan deklamasi yang dibuat buat? Apapun itu semoga anda tak
menikmati puisi dengan cara menangis di depan podium sambil bicara soal moral.
Sebelum saya membahas buku puisi
karya penulis, esais, editor dan penyair Irwan Bajang bertajuk Kepulangan
Kelima, saya hendak bercerita tentang penyair bohemian lain Bukowski. Tentang
bagaimana si supir taksi dan penyair misoginis ini berkreasi dengan diksi dan
metafora. Tentang bagaimana sebuah sajak diperlakukan sebagai sebuah dialog.
Dengan pembaca? Ternyata tidak. Dalam pembacaan saya dari kumpulan sajak Sifting through the madness for the Word,
the line, the way (Harper Collins Ebook, 2003) Bukowski sedang melakukan
dialog dengan dirinya sebagai penyair pembaca dan penyair berkarya.
Bukowski menemukan ruang
“sakral-sunyi” dimana sebagai seorang penyair ia tak ragu berkata bahwa sajak
harus dipahami. Sajak bukan kata dalam kitab suci seperti “Alif Lam Mim” yang nir makna. Sajak semestinya dekat dengan objek
pendengar-pembacanya atau dalam bahasa saya penyair bukan tuhan yang puisinya
tak bisa dipahami. Bukowski bagi saya sukses untuk menyederhanakan konsep
sublim menjadi keseharian yang jamak. Seperti dalam bait “my happiest times were / when / I was left alone in / the house on a /
Saturday.” Sajak, bagi saya, seharusnya sederhana namun memiliki arti makna
yang dalam.
Irwan Bajang melalui kumpulan
puisinya saya kira hampir berhasil untuk menyederhanakan makna tanpa membuat
sajaknya menjadi dangkal. Ia melahirkan teks puisi yang bisa duduk dekat dan
berkarib dengan pembaca. Di sisi lain ia tetap bisa menjaga estetika dan diksi
senafas dengan identitas premordialnya. Sayang Bajang masih gagal menciptakan
gaya berpuisinya sendiri dan terjebak pada keterpukauan penyair lampau mulai dari
puisi liris Chairil dan hingga Indrian Koto. Membeo pada gaya yang sudah
terlalu sering dibikin cetakannya membuat pembacaan sajak-sajak Bajang menjadi
murahan. Hanya satu dua puisi yang benar-benar saya nikmati. Sisanya hanyalah
kalimat poster yang tak lebih baik dari slogan iklan sabun.
Kumpulan puisi ini dimulai dengan
sajak berjudul Kepulangan Kelima.
Entah mengapa saya merasakan aura-aura saduran dari sajak panjang ini. Penataan
diksi, gaya bertutur dan suasana yang ditampilkan mengingatkan saya pada sajak
Indrian Koto yang berjudul Pledoi Malin
Kundang. Apakah ini plagiasi? Amit amit jabang bayi semoga tidak. Terasa
benar anxiety of influence dari
lingkungan dimana Bajang biasa berproses. Pengaruh ini tak bisa dinafikan
begitu saja. Malahan nuansa hampir plagiat ini benar benar membuat saya rikuh
bertanya, “apakah Kepulangan Kelima
adalah usaha menciptakan Pledoi Malin Kundang
lain?”
Salah satu yang paling kental
adalah pemilihan tema merantau-pulang yang senada, meski tidak sinonim, dengan Pledoi Malin Kundang milik Indrian Koto.
Mari kita coba pahami lagi, puisi Koto adalah sebuah usaha menafsir lagi
tentang cerita Malin Kundang. Pada tubuhnya puisi ini bercerita tentang
perjalanan, merantau dan kepergian. Koto banyak mengeksplorasi diksi yang
berkaitan dengan gerak, proses perpindahan, meski di sisi lain, juga bercerita
tentang relasi ibu anak. Sedang Bajang lebih pada upaya merekonstruksi tema primordial
dalam kerangka urban.
Saya kenal Bajang sebagai kenalan
dan mustahil bagi saya melepaskan relasi itu dalam menuliskan kritik ini. Saya
merasa, ini boleh sangat subjektif, sangat terpengaruh oleh proses berkesenian
orang-orang disekitarnya. Ia jelas kenal dengan Indrian Koto, pada sebuah
kesempatan ia mengaku pernah sangat kagum, meski kemudian ia berkelakar “setelah
kenal malah biasa wae”. Elemen keterpengaruhan proses estetik berkarya setidaknya
juga terjadi dalam pemilihan tema buruh migran. Saya menduga, tentu saja dengan
tidak beralasan, hal ini karena bajang membaca Untuk Apa Puisi Ini karya dari M Irsyad Zaki yang mengangkat tema
serupa.
Jejak-jejak pengaruh M Irsyad
Zaki saya rasakan dari upaya Irwan Bajang untuk bicara perihal buruh Migran.
Jika dalam puisi Zaki dengan eksplesit bicara dan menggunakan tema TKI sebagai
inspirasi. Maka Irwan Bajang bermain aman dengan menempatkan negara Malaysia,
Korea atau Saudi Arabia sebagai detinasi. Sebagai kuli, tentu saja idiom buruh
migran, sayangnya tidak dijelaskan sebagai sebuah fenomena sosial yang utuh.
Dalam sajak Kepulangan Kelima ia hanya
sebagai latar saja dan bumbu melankolia dua anak kampung yang kasmaran.
Saya mencatat beberapa kata yang
asosiatif dengan gerak dan perpindahan. Antara lain: melewati, turun, lari,
perjumpaan, jalan, berkejaran, kepulangan, merantau, mencari, kujemput, hijrah,
perjalanan, melintas, pergi, datang, berlayar, kepergian, turunlah, keluarlah,
berjalan, meluruh, mengalir, mengemasi, mengayuh, berputar, terminal,
menjemputmu, cari, bertiup, menuju, berlarian, berlompatan, keluar, masuk,
jalan-jalan, mendatangimu, seberang, menjauh, menjemputmu, turun, pulang,
terbang, melintasi, menyusuri, bergentayangan, menggiring, jejak, kuselami,
mengejarmu, menelusuri, merayap, mengembara, menjejak, menapak, berjalan,
mengantre, melesat, membawaku, merembes, menerobos, meminggirkan, semilir,
datangi, pejalan kaki, dan menguntit.
Kata-kata itu menciptakan sebuah
imaji petualangan yang tanpa henti. Seolah-olah pembaca ditakik menuju sebuah
perjalanan hidup Irwan Bajang. Di dalamnya ada pertemuan, perpisahan, kenangan
masa kecil dan impresi hidup. Tentu bahwa antara diksi itu tidak memiliki
keterkaitan langsung pada pengalaman pembaca sebagai subjek yang lain. Tapi
dari diksi yang dipilih pembaca bisa mengaitkan, mengelaborasi jika perlu,
pengalaman uniknya sendiri sebagai sebuah peristiwa yang serupa. Bahwa orang
juga pernah memiliki kenangan bersama orang terkasih (kepulangan kelima), pertemuan dengan mantan kekasih (pada persepsi pernikahan itu), kecemasan
tanpa alasan (bangun tengah malam)
dan yang lainnya.
Ada 29 puisi yang termaktub dalam
kumpulan puisi Kepulangan Kelima.
Semua bergaya aku liris yang bercerita tentang proses laku hidup. Kecuali Histeria: Sebuah Sajak untuk Edvard Munch
(Impresi terhadap lukisan Histeria karya Edvard Munch), Tak Ada Jalan Menuju Rumah (sajak persembahan untuk novelis
Pramoedya Ananta Toer), rumah yang
terbakar (impresi terhadap salah satu lagu dari Band Jigzaw), rudi ingin bermain tapi di luar sedang
hujan (saya curiga ini adalah ode untuk seekor kucing peliharaan Bajang).
Ada pula Aria, yang saya duga,
menjadi tokoh sentral ‘kamu’ yang ada dalam kumpulan puisi ini. Namanya
tercatat muncul di tiga sajak antara lain Kepulangan
Kelima, Namaku Aria dan Pada Resepsi Pernikahan Itu. Aria adalah tokoh
metaforis dari sosok masa silam Irwan Bajang. Ia berperan pesar menjadi sumber
inspirasi, selain kampung halamannnya tentu saja, dan membentuk sebagian besar
tubuh puisi bajang. Dari Aria perpisahan dan perjalanan diakrabi sehingga
tuntas segala perasaan menjadi satu bentuk kreatif bernama puisi.
Dari sekian banyak kata yang
digunakan saya mencatat ada satu lema yang amat sering digali oleh Irwan Bajang
dalam prosesnya menulis. Yaitu Rumah. Ini mengingatkan saya pada esai panjang
membingungkan dari Bandung Mawardi yang menggali keterkaitan antara rumah
sebagai inspirasi penyair Indonesia. Di sini rumah Bajang masuk dalam kategori apa yang disebut Bandung Mawardi
sebagai rumah kreatif yang hidup dengan
nilai-nilai estetika terakumulasi dari tegangan peristiwa di luar rumah.
Sehingga imaji tentang rumah, yang jauh di Lombok, memantik kesadaran estetik
Bajang.
Rumah bisa sangat dekat dengan
tema kepulangan yang dipilih Bajang dalam kumpulan puisinya ini. Namun tema ini
begitu eklektik dan terlalu sering digali, sehingga begitu minim penggalian
kreatifnya. Dari sekian 29 puisi, hanya Bocah
Pencuri Buah yang berani mengadopsi bahasa Sasak, bahasa ibu Irwan Bajang.
Sisanya hanya sebuah serpihan yang tidak terlalu jelas seperti prosesi
pencurian mempelai (Kepulangan Kelima), lanskap kampung halaman (Rindu Yang Meranggas)
dan cerita/mitos daerah setempat (Rinjani: Perawan Bersungai Susu, Juga Bertelaga
Segara). Sayang sekali kekayaan tradisi ini tidak digali sangat maksimal, sehingga
saya merasa Irwan Bajang seolah mengambil jarak dan melepaskan identitas kulturalnya.
Sebagai penyair, Bajang,
barangkali sedikit bermasalah dengan arsip dan dokumentasi. Beberapa puisi
memiliki catatan waktu dan lokasi dimana ia diciptakan. Sisanya seperti
terserak dan muncul begitu saja. Editor atau pembaca awal naskah ini mungkin
akan sangat berkesulitan untuk menentukan tema yang hendak disusun. Terbukti
dengan pembabakan dalam penyusunan puisi-puisi dalam Kepulangan Kelima yang lumayan mengganggu. Tidak ada tema yang
jelas yang membagi runtutan dan kronologi puisi. Satu tema puisi cinta bisa
berloncatan menjadi puisi pastoral.
Mengapa dokumentasi atau
pembabakan waktu sebuah sajak penting? Bagi saya hal ini dapat dijadikan
patokan dan rujukan bagaimana seorang penyair berkembang. Karena saya percaya
kepenyairan seseorang tidak stagnan pada satu gaya, ide dan tema saja. Ia
dinamis dan hampir pasti akan berubah. Dengan adanya dokumentasi lokasi atau
waktu, kita akan mudah menelaah kapan si penyair membahas tema A, menggali gaya
B atau merespon peristiwa C. Tentu ini bisa diperdebatkan dalam hal apa kaitan
antara estetika dan dokumentasi? Kaitannya adalah, pada sebuah apresiasi yang
serius, seorang kritikus harusnya tidak hanya bicara estetika saja tapi juga
memberikan pemahaman mendalam kepada membaca tentang proses kreatif si penyair.
Hal yang sama diucapkan oleh
Barthes dalam fragment (S/Z) (S/Z an Essay 1975, Farrar, Straus & Giroux) ia berkata bahwa “the goal of literary work (of literature as work) [which] is to make
the reader no longer a consumer, but a producer of the text.” Pada teks
yang lebih panjang Barthes malah mengkritisi tidak hanya penyair sebagai
produsen karya sastra tapi para pembacanya juga. Mereka dianggap sebagai umat
yang taklid buta sehingga mematikan
nalar kreatif. Ingat, pembaca bagi saya, harus kritis dalam memahami teks juga
mendalami makna. Begitu juga dalam puisi saat ia lepas dari rahim penyair dan
dibaca maka penyair tak punya lagi otoritas penafsiran.
Lebih lanjut Barthes bicara
dengan nada yang sinis berkata jika kebudayaan sastra kita telah mengalami
keterpisahan yang kejam. “…the literary
institution maintains between the producer of the text and its user, between
its owner and its consumer, between its author and its reader. This reader is
thereby plunged into a kind of idleness -- he is intransitive; he is, in short,
serious: instead of functioning himself, instead of gaining access to the magic
of the signifier, to the pleasure of writing, he is left with no more than the
poor freedom either to accept or reject the text: reading is nothing more than
a referendum.”
Saya menentang relasi semacam
itu. Bahwa teks puisi hanya mutlak dimaknai sebagai milik penyair semata. Dari
sini saya sangat mengapresiasi positif usaha Irwan Bajang untuk menafsirkan
puisinya dalam bentuk visual dan lagu. Saat ia bekerja sama dengan Octaria Guna
Nugraha untuk menggambarkan ilustrasi, yang menurut saya gagal menegaskan
kekuatan puisinya, Bajang telah dengan sadar diri bahwa puisinya adalah milik
khalayak. Juga keberadaan Ari KPIN yang mampu, sedikit banyak, membantu nilai
tambah puisi Bajang yang hampir biasa saja ini.
Mengapa saya katakan biasa saja?
Sajak utama kumpulan puisi Ini Kepulangan
Kelima seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya sangat terpengaruh oleh Pledoi Malin Kundang milik Indrian Koto.
Tubuh, diksi dan pembabakan dalam sajak ini sangat mengingatkan saya pada karya
Koto. Hampir tak ada kerja melepaskan diri atau me-liyan-kan diri. Sehingga,
seperti yang awal telah saya katakan, ada kecurigaan bahwa ini adalah upaya
saduran Pledoi Malin Kundang.
tanah ini
kelak akan selalu melarikan kita pada ingatan
:ciuman-ciuman
rahasia,
serta
pengkhianatan api muda kita yang selalu rahasia
Dan inilah
kehilangan itu Aria
(Kepulangan Kelima)
Bandingkan dengan ini:
ini tanah
lain yang kamu percayai sebagai rumah lain
padamu aku
temukan wajah bapak yang lupa kau ceritakan
-duh, mengapa
aku juga tak pernah mempertanyakan
betapa
sumbingnya kisah yang kau gariskan di tubuhku
(Pledoi Malin Kundang, Ibumi, Kisah-kisah
dari Tanah di Bawah pelangi. I;Boekoe 2008)
Masih banyak kesamaan lain yang
jika disandingkan hanya akan membuat miris, betapa miskinnya kepenyairan
Bajang, sehingga ia bisa terpengaruh begitu besar oleh Koto. Padahal, jika
melihat sajaknya yang lain, Bocah Pencuri
Buah, Irwan Bajang bisa mengawinkan nilai lokalitas, identitas urban dan
proses kegelisahan intelektualnya dengan mandiri dan subtil. Tanpa harus
mengekor kepada penyair lain. Jika benar ini adalah sebuah sajak saduran,
disadari atau tidak, maka Bajang harus meminta maaf kepada pohon yang tubuhnya
ditebang untuk membuat kertas kumpulan puisinya ini.
Tapi tentu tidak adil jika
kemudian memburuk-burukan sebuah kumpulan karya hanya karena satu dua sajak
yang tidak becus disusun. Saya pribadi menyukai setidaknya tiga sajak dari
kumpulan puisi ini. Tentu dengan alasan subjektif personal karena ia beririsan
dengan kisah pribadi saya. Karena mustahil objektif kepada puisi yang indah,
sekeras apapun berusaha, seperi yang coba dilakukan mazhab Rawamangun. Omong
kosong bisa melepaskan perasaan sendiri dalam merasakan keindahan.
Sajak-sajak itu adalah Surat Cinta Yang Terbakar Cemburu, Bocah
Pencuri Buah, dan Pada Resepsi Pernikahan
Itu. Sebagai lelaki saya merasa berhutang banyak kepada sajak Bajang. Ia
bicara perpisahan antara sepasang kekasih dengan kepala tegak, tanpa
mendayu-dayu dan terjebak pada eufimisme murahan. Lebih dari itu sajak-sajak
perpisahan yang ditulisnya Bajang tidak menempatkan perpisahan atau masa lalu
sebagai sebuah musuh, tapi sebuah karib yang lama tak ditemui dan dihadapi
dengan santai.
Surat Cinta Yang Terbakar Cemburu
….
apalagi yang
kupunyai
rinduku kehilangan
alamat pulang
seperti kau
tahu
aku tak
pernah bisa memutar jarum jam menuju masa lalu
dimana segala
ingatan dan cinta berlalu tanpa ragu
Ada yang mencoba gagah dalam lima
baris sajak itu. Penerimaan, bahwa barangkali, perpisahaan adalah sebuah kondisi
apa boleh bikin, yang tak mungkin dihindari, yang tak mungkin dicari
penangkalnya. Maka satu-satunya cara untuk bisa tetap waras adalah dengan
ikhlas. Tentu konsep ikhlas adalah konsep paling absurd setelah konsep tentang
cinta. Tapi Bajang lewat ‘aku tak pernah
bisa memutar jarum jam menuju masa lalu’ tak ingin tunduk. Ia tetap
berharap, namun harapan yang diam, ‘dimana
segala ingatan dan cinta berlalu tanpa ragu’.
Sementara dalam Bocah Pencuri Buah saya merasakan
bagaimana kehidupan kanak-kanak Irwan Bajang. Saya seperti ditarik pulang dan
mengingat sebuah lanskap gersang, teduh dan menyenangkan dari Lombok. Puisi ini
adalah mikro kosmos bernama adat Sasak. Dimana Bajang mengambil peran sebagai
penutur kisah, tentang seorang bocah nakal pencuri buah, yang terkutuk sempengot. Sihir yang membuat pencuri
mulutnya menjadi miring/bengkok. Ada yang komikal di sini. Dua fragmen kisah
menjadi satu, ketika kanak-kanak, dan ketika si objek cerita menjadi dewasa dan
hendak menikah.
Bocah
Pencuri Buah
Dua puluh
tahun setelah itu
….
Dilihatnya
bayangan wajah dan mulutnya di seberang sana
Lalu ia
tersenyum
sembari
dikenangnya seorang kiai buta
menyemprot
mulutnya dengan air bekas kumur
sebagai
penolak bala
sihir sempengot yang ia terima.
Namun, tentu saja, sebagai
penutup saya ingin mengutip secara penuh sajak paripurna Bajang tentang
perpisahan sepasang kekasih. Bukan tema yang baru memang, cenderung klise,
picisan dan sering dituliskan. Namun entah mengapa pada sajak ini Bajang saya
merasakan keteduhan, kedewasaan lebih dari sajak lain di Kepulangan Kelima ini.
Jika dalam sajak Si Tua dan Cinta
Bajang bicara kedewasaan dari pengalaman dan umur. Maka dalam puisi ini ia
bicara kedewasaan dan kematangan berpikir dari cinta yang kandas. Bahwa, tak
melulu perpisahan harus dihadapi dengan kebencian. Bahwa, tak melulu kisah masa
lalu harus dibuang. Karena bisa saja ketika kita bertemu dengan seseorang yang
pernah penting dalam hidup kita, kau bisa aku
pulang menggandeng tangan bayanganmu.
pada resepsi pernikahan itu
pada resepsi
pernikahan sahabat kita itu
kuingat
ciuman pertama kita, aria
perutmu sudah
buncit lima bulan
kelak, kau
akan menamai anakmu berbeda
melupakan
nama-nama
yang pernah
kita rencanakan di masa muda
kau
menggandeng suamimu
lalu aku
pulang menggandeng tangan bayanganmu.
Kepulangan Kelima adalah mazmur perpisahan, ikhtiar
rantau dan usaha menjalani hidup seusai getir. Ia bisa saja, seperti yang saya
tuduhkan, menyadur dari puisi lain. Melucuti hidup sendiri secara telanjang
lantas menyusun ulang kisah itu secara metaforis sebagai puisi. Tak ada yang
baru, tidak ada yang luar biasa, dan tak ada yang istimewa dari buku puisi ini.
Malah cenderung membosankan. Tapi dalam kebosanan itu ada potensi. Repetisi
yang diulang-ulang, ketika saya membaca sajak-sajaknya, ada saja pengalaman
yang meloncat tiba-tiba. Bajang bicara soal pengalaman sehari-hari, yang bisa
saya dan anda rasakan. Dengan bahasa yang lebih baik tapi tidak istimewa.
Demikian.
Resensi yang bagus.
BalasHapusMenunjukkan anda memang kurang kerjaan sehingga punya waktu luang untuk bikin resensi sebagus ini. Lebih baik tanggung jawab skripsi diselesaikan dulu bung baru silakan lanjutkan hobi anda ini dan membela buruh kemudian.
eh, atau jangan2 karena gelar s1 yang tidak segera terengkuh anda getol menuntut supaya tamatan sma/d3 seperti anda bisa bergaji sama atau bahakan lebih dari s1?cerdas! hidup memang perlu berstrategi.
tapi mbok ya buruh jangan dibawa-bawa mas.
udah lulus keuleusssss orang ini... ah payah lu.. bukan pengikut setia dhani..preeek
HapusUdah lulus tapi kalo kerjanya serabutan atau lebih parah lagi nganggur ya lebih hina dari buruh. Gaya hidupnya persis waktu masih jadi mahasiswa,g ada peningkatan. Ini namanya kelas menengah gagal karena ga bisa meningkatkan standar hidup.
HapusWalah, si empunya blog pengangguran ternyata. Pantes saja koar-koarnya keras sekali bahkan tulisannya malah banyak di protes buruh beneran.
BalasHapusTernyata belum pernah merasakan jadi buruh.
*geleng-geleng
Belum pernah merasakan jadi buruh tapi kok jamaahnya banyak yang menyarankan bagi komentator yang kontra untuk merasakan menderitanya jadi buruh.
BalasHapusini baru yang namanya ngehek sejati
Hahahaha ngakak.
BalasHapusJadi si kribo ini pengacara* toh?mentok2nya freelancer yang notabene pengangguran tertutup.
*Pengangguran banyak cangkem rak mutu.
gue sebagai kelas menengah yang dibilang ngehek dengan tulus hati mengucapkan selamat bermasturbasi di dunia sempit laman-laman blogmu, bo.
semoga buruh-buruh yang kau bela tidak kecewa mengetahui pembela mereka dengan suara paling keras ternyata bahkan tidak pernah mengecap susahnya cari duit.
piye le? penak to masturbasi intelektual, ngenet lan ngudut nganggo duite bapakmu? haha
what a scum of the earth.
monggo di like kalau memang merasa laki-laki
BalasHapushttps://www.facebook.com/pages/Bekerja-karna-harga-diri-laki2-adlh-bekerja/383692471660402
Wah... keren. Terima kasih mas bro. Sudah mengajarkan saya untuk mengetahui bagaimana cara menikmati sebuah sastra. bahkan secara tidak langsung, mengajari cara menulis sastra.
BalasHapusmaturnuwun sekali lagi.