Minggu, 03 November 2013

Kepulangan Kelima Dan Puisi Yang Biasa Saja

Bagaimana cara anda menikmati puisi? Apakah dengan kesunyian dan teh yang hangat menjelang senja tiba? Ataukah dalam hingar bingar ramai pasar yang bertempik sorak perihal harga yang ditawar? Ataukah seperti banyak pegiat kebudayaan, anda datang pada sebuah sarasehan melihat pembacaan puisi dengan segenap ekstase, musikalisasi, dramatisasi dan deklamasi yang dibuat buat? Apapun itu semoga anda tak menikmati puisi dengan cara menangis di depan podium sambil bicara soal moral.


Sebelum saya membahas buku puisi karya penulis, esais, editor dan penyair Irwan Bajang bertajuk Kepulangan Kelima, saya hendak bercerita tentang penyair bohemian lain Bukowski. Tentang bagaimana si supir taksi dan penyair misoginis ini berkreasi dengan diksi dan metafora. Tentang bagaimana sebuah sajak diperlakukan sebagai sebuah dialog. Dengan pembaca? Ternyata tidak. Dalam pembacaan saya dari kumpulan sajak Sifting through the madness for the Word, the line, the way (Harper Collins Ebook, 2003) Bukowski sedang melakukan dialog dengan dirinya sebagai penyair pembaca dan penyair berkarya.

Bukowski menemukan ruang “sakral-sunyi” dimana sebagai seorang penyair ia tak ragu berkata bahwa sajak harus dipahami. Sajak bukan kata dalam kitab suci seperti “Alif Lam Mim” yang nir makna. Sajak semestinya dekat dengan objek pendengar-pembacanya atau dalam bahasa saya penyair bukan tuhan yang puisinya tak bisa dipahami. Bukowski bagi saya sukses untuk menyederhanakan konsep sublim menjadi keseharian yang jamak. Seperti dalam bait “my happiest times were / when / I was left alone in / the house on a / Saturday.” Sajak, bagi saya, seharusnya sederhana namun memiliki arti makna yang dalam.

Irwan Bajang melalui kumpulan puisinya saya kira hampir berhasil untuk menyederhanakan makna tanpa membuat sajaknya menjadi dangkal. Ia melahirkan teks puisi yang bisa duduk dekat dan berkarib dengan pembaca. Di sisi lain ia tetap bisa menjaga estetika dan diksi senafas dengan identitas premordialnya. Sayang Bajang masih gagal menciptakan gaya berpuisinya sendiri dan terjebak pada keterpukauan penyair lampau mulai dari puisi liris Chairil dan hingga Indrian Koto. Membeo pada gaya yang sudah terlalu sering dibikin cetakannya membuat pembacaan sajak-sajak Bajang menjadi murahan. Hanya satu dua puisi yang benar-benar saya nikmati. Sisanya hanyalah kalimat poster yang tak lebih baik dari slogan iklan sabun.

Kumpulan puisi ini dimulai dengan sajak berjudul Kepulangan Kelima. Entah mengapa saya merasakan aura-aura saduran dari sajak panjang ini. Penataan diksi, gaya bertutur dan suasana yang ditampilkan mengingatkan saya pada sajak Indrian Koto yang berjudul Pledoi Malin Kundang. Apakah ini plagiasi? Amit amit jabang bayi semoga tidak. Terasa benar anxiety of influence dari lingkungan dimana Bajang biasa berproses. Pengaruh ini tak bisa dinafikan begitu saja. Malahan nuansa hampir plagiat ini benar benar membuat saya rikuh bertanya, “apakah Kepulangan Kelima adalah usaha menciptakan Pledoi Malin Kundang lain?”

Salah satu yang paling kental adalah pemilihan tema merantau-pulang yang senada, meski tidak sinonim, dengan Pledoi Malin Kundang milik Indrian Koto. Mari kita coba pahami lagi, puisi Koto adalah sebuah usaha menafsir lagi tentang cerita Malin Kundang. Pada tubuhnya puisi ini bercerita tentang perjalanan, merantau dan kepergian. Koto banyak mengeksplorasi diksi yang berkaitan dengan gerak, proses perpindahan, meski di sisi lain, juga bercerita tentang relasi ibu anak. Sedang Bajang lebih pada upaya merekonstruksi tema primordial dalam kerangka urban.

Saya kenal Bajang sebagai kenalan dan mustahil bagi saya melepaskan relasi itu dalam menuliskan kritik ini. Saya merasa, ini boleh sangat subjektif, sangat terpengaruh oleh proses berkesenian orang-orang disekitarnya. Ia jelas kenal dengan Indrian Koto, pada sebuah kesempatan ia mengaku pernah sangat kagum, meski kemudian ia berkelakar “setelah kenal malah biasa wae”. Elemen keterpengaruhan proses estetik berkarya setidaknya juga terjadi dalam pemilihan tema buruh migran. Saya menduga, tentu saja dengan tidak beralasan, hal ini karena bajang membaca Untuk Apa Puisi Ini karya dari M Irsyad Zaki yang mengangkat tema serupa.

Jejak-jejak pengaruh M Irsyad Zaki saya rasakan dari upaya Irwan Bajang untuk bicara perihal buruh Migran. Jika dalam puisi Zaki dengan eksplesit bicara dan menggunakan tema TKI sebagai inspirasi. Maka Irwan Bajang bermain aman dengan menempatkan negara Malaysia, Korea atau Saudi Arabia sebagai detinasi. Sebagai kuli, tentu saja idiom buruh migran, sayangnya tidak dijelaskan sebagai sebuah fenomena sosial yang utuh. Dalam sajak Kepulangan Kelima ia hanya sebagai latar saja dan bumbu melankolia dua anak kampung yang kasmaran.

Saya mencatat beberapa kata yang asosiatif dengan gerak dan perpindahan. Antara lain: melewati, turun, lari, perjumpaan, jalan, berkejaran, kepulangan, merantau, mencari, kujemput, hijrah, perjalanan, melintas, pergi, datang, berlayar, kepergian, turunlah, keluarlah, berjalan, meluruh, mengalir, mengemasi, mengayuh, berputar, terminal, menjemputmu, cari, bertiup, menuju, berlarian, berlompatan, keluar, masuk, jalan-jalan, mendatangimu, seberang, menjauh, menjemputmu, turun, pulang, terbang, melintasi, menyusuri, bergentayangan, menggiring, jejak, kuselami, mengejarmu, menelusuri, merayap, mengembara, menjejak, menapak, berjalan, mengantre, melesat, membawaku, merembes, menerobos, meminggirkan, semilir, datangi, pejalan kaki, dan menguntit.

Kata-kata itu menciptakan sebuah imaji petualangan yang tanpa henti. Seolah-olah pembaca ditakik menuju sebuah perjalanan hidup Irwan Bajang. Di dalamnya ada pertemuan, perpisahan, kenangan masa kecil dan impresi hidup. Tentu bahwa antara diksi itu tidak memiliki keterkaitan langsung pada pengalaman pembaca sebagai subjek yang lain. Tapi dari diksi yang dipilih pembaca bisa mengaitkan, mengelaborasi jika perlu, pengalaman uniknya sendiri sebagai sebuah peristiwa yang serupa. Bahwa orang juga pernah memiliki kenangan bersama orang terkasih (kepulangan kelima), pertemuan dengan mantan kekasih (pada persepsi pernikahan itu), kecemasan tanpa alasan (bangun tengah malam) dan yang lainnya.

Ada 29 puisi yang termaktub dalam kumpulan puisi Kepulangan Kelima. Semua bergaya aku liris yang bercerita tentang proses laku hidup. Kecuali Histeria: Sebuah Sajak untuk Edvard Munch (Impresi terhadap lukisan Histeria karya Edvard Munch), Tak Ada Jalan Menuju Rumah (sajak persembahan untuk novelis Pramoedya Ananta Toer), rumah yang terbakar (impresi terhadap salah satu lagu dari Band Jigzaw), rudi ingin bermain tapi di luar sedang hujan (saya curiga ini adalah ode untuk seekor kucing peliharaan Bajang).

Ada pula Aria, yang saya duga, menjadi tokoh sentral ‘kamu’ yang ada dalam kumpulan puisi ini. Namanya tercatat muncul di tiga sajak antara lain Kepulangan Kelima, Namaku Aria dan Pada Resepsi Pernikahan Itu. Aria adalah tokoh metaforis dari sosok masa silam Irwan Bajang. Ia berperan pesar menjadi sumber inspirasi, selain kampung halamannnya tentu saja, dan membentuk sebagian besar tubuh puisi bajang. Dari Aria perpisahan dan perjalanan diakrabi sehingga tuntas segala perasaan menjadi satu bentuk kreatif bernama puisi.

Dari sekian banyak kata yang digunakan saya mencatat ada satu lema yang amat sering digali oleh Irwan Bajang dalam prosesnya menulis. Yaitu Rumah. Ini mengingatkan saya pada esai panjang membingungkan dari Bandung Mawardi yang menggali keterkaitan antara rumah sebagai inspirasi penyair Indonesia. Di sini rumah Bajang masuk dalam kategori apa yang disebut Bandung Mawardi sebagai rumah kreatif yang hidup dengan nilai-nilai estetika terakumulasi dari tegangan peristiwa di luar rumah. Sehingga imaji tentang rumah, yang jauh di Lombok, memantik kesadaran estetik Bajang.

Rumah bisa sangat dekat dengan tema kepulangan yang dipilih Bajang dalam kumpulan puisinya ini. Namun tema ini begitu eklektik dan terlalu sering digali, sehingga begitu minim penggalian kreatifnya. Dari sekian 29 puisi, hanya Bocah Pencuri Buah yang berani mengadopsi bahasa Sasak, bahasa ibu Irwan Bajang. Sisanya hanya sebuah serpihan yang tidak terlalu jelas seperti prosesi pencurian mempelai (Kepulangan Kelima), lanskap kampung halaman (Rindu Yang Meranggas) dan cerita/mitos daerah setempat (Rinjani: Perawan Bersungai Susu, Juga Bertelaga Segara). Sayang sekali kekayaan tradisi ini tidak digali sangat maksimal, sehingga saya merasa Irwan Bajang seolah mengambil jarak dan melepaskan identitas kulturalnya.

Sebagai penyair, Bajang, barangkali sedikit bermasalah dengan arsip dan dokumentasi. Beberapa puisi memiliki catatan waktu dan lokasi dimana ia diciptakan. Sisanya seperti terserak dan muncul begitu saja. Editor atau pembaca awal naskah ini mungkin akan sangat berkesulitan untuk menentukan tema yang hendak disusun. Terbukti dengan pembabakan dalam penyusunan puisi-puisi dalam Kepulangan Kelima yang lumayan mengganggu. Tidak ada tema yang jelas yang membagi runtutan dan kronologi puisi. Satu tema puisi cinta bisa berloncatan menjadi puisi pastoral.

Mengapa dokumentasi atau pembabakan waktu sebuah sajak penting? Bagi saya hal ini dapat dijadikan patokan dan rujukan bagaimana seorang penyair berkembang. Karena saya percaya kepenyairan seseorang tidak stagnan pada satu gaya, ide dan tema saja. Ia dinamis dan hampir pasti akan berubah. Dengan adanya dokumentasi lokasi atau waktu, kita akan mudah menelaah kapan si penyair membahas tema A, menggali gaya B atau merespon peristiwa C. Tentu ini bisa diperdebatkan dalam hal apa kaitan antara estetika dan dokumentasi? Kaitannya adalah, pada sebuah apresiasi yang serius, seorang kritikus harusnya tidak hanya bicara estetika saja tapi juga memberikan pemahaman mendalam kepada membaca tentang proses kreatif si penyair.

Hal yang sama diucapkan oleh Barthes dalam fragment (S/Z) (S/Z an Essay 1975, Farrar, Straus & Giroux)  ia berkata bahwa “the goal of literary work (of literature as work) [which] is to make the reader no longer a consumer, but a producer of the text.” Pada teks yang lebih panjang Barthes malah mengkritisi tidak hanya penyair sebagai produsen karya sastra tapi para pembacanya juga. Mereka dianggap sebagai umat yang  taklid buta sehingga mematikan nalar kreatif. Ingat, pembaca bagi saya, harus kritis dalam memahami teks juga mendalami makna. Begitu juga dalam puisi saat ia lepas dari rahim penyair dan dibaca maka penyair tak punya lagi otoritas penafsiran.

Lebih lanjut Barthes bicara dengan nada yang sinis berkata jika kebudayaan sastra kita telah mengalami keterpisahan yang kejam. “…the literary institution maintains between the producer of the text and its user, between its owner and its consumer, between its author and its reader. This reader is thereby plunged into a kind of idleness -- he is intransitive; he is, in short, serious: instead of functioning himself, instead of gaining access to the magic of the signifier, to the pleasure of writing, he is left with no more than the poor freedom either to accept or reject the text: reading is nothing more than a referendum.

Saya menentang relasi semacam itu. Bahwa teks puisi hanya mutlak dimaknai sebagai milik penyair semata. Dari sini saya sangat mengapresiasi positif usaha Irwan Bajang untuk menafsirkan puisinya dalam bentuk visual dan lagu. Saat ia bekerja sama dengan Octaria Guna Nugraha untuk menggambarkan ilustrasi, yang menurut saya gagal menegaskan kekuatan puisinya, Bajang telah dengan sadar diri bahwa puisinya adalah milik khalayak. Juga keberadaan Ari KPIN yang mampu, sedikit banyak, membantu nilai tambah puisi Bajang yang hampir biasa saja ini.

Mengapa saya katakan biasa saja? Sajak utama kumpulan puisi Ini Kepulangan Kelima seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya sangat terpengaruh oleh Pledoi Malin Kundang milik Indrian Koto. Tubuh, diksi dan pembabakan dalam sajak ini sangat mengingatkan saya pada karya Koto. Hampir tak ada kerja melepaskan diri atau me-liyan-kan diri. Sehingga, seperti yang awal telah saya katakan, ada kecurigaan bahwa ini adalah upaya saduran Pledoi Malin Kundang.

tanah ini kelak akan selalu melarikan kita pada ingatan
:ciuman-ciuman rahasia,
serta pengkhianatan api muda kita yang selalu rahasia
Dan inilah kehilangan itu Aria
(Kepulangan Kelima)

Bandingkan dengan ini:

ini tanah lain yang kamu percayai sebagai rumah lain
padamu aku temukan wajah bapak yang lupa kau ceritakan
-duh, mengapa aku juga tak pernah mempertanyakan
betapa sumbingnya kisah yang kau gariskan di tubuhku
 (Pledoi Malin Kundang, Ibumi, Kisah-kisah dari Tanah di Bawah pelangi. I;Boekoe 2008)

Masih banyak kesamaan lain yang jika disandingkan hanya akan membuat miris, betapa miskinnya kepenyairan Bajang, sehingga ia bisa terpengaruh begitu besar oleh Koto. Padahal, jika melihat sajaknya yang lain, Bocah Pencuri Buah, Irwan Bajang bisa mengawinkan nilai lokalitas, identitas urban dan proses kegelisahan intelektualnya dengan mandiri dan subtil. Tanpa harus mengekor kepada penyair lain. Jika benar ini adalah sebuah sajak saduran, disadari atau tidak, maka Bajang harus meminta maaf kepada pohon yang tubuhnya ditebang untuk membuat kertas kumpulan puisinya ini.

Tapi tentu tidak adil jika kemudian memburuk-burukan sebuah kumpulan karya hanya karena satu dua sajak yang tidak becus disusun. Saya pribadi menyukai setidaknya tiga sajak dari kumpulan puisi ini. Tentu dengan alasan subjektif personal karena ia beririsan dengan kisah pribadi saya. Karena mustahil objektif kepada puisi yang indah, sekeras apapun berusaha, seperi yang coba dilakukan mazhab Rawamangun. Omong kosong bisa melepaskan perasaan sendiri dalam merasakan keindahan.

Sajak-sajak itu adalah Surat Cinta Yang Terbakar Cemburu, Bocah Pencuri Buah, dan Pada Resepsi Pernikahan Itu. Sebagai lelaki saya merasa berhutang banyak kepada sajak Bajang. Ia bicara perpisahan antara sepasang kekasih dengan kepala tegak, tanpa mendayu-dayu dan terjebak pada eufimisme murahan. Lebih dari itu sajak-sajak perpisahan yang ditulisnya Bajang tidak menempatkan perpisahan atau masa lalu sebagai sebuah musuh, tapi sebuah karib yang lama tak ditemui dan dihadapi dengan santai.

Surat Cinta Yang Terbakar Cemburu
….
apalagi yang kupunyai
rinduku kehilangan alamat pulang

seperti kau tahu
aku tak pernah bisa memutar jarum jam menuju masa lalu
dimana segala ingatan dan cinta berlalu tanpa ragu

Ada yang mencoba gagah dalam lima baris sajak itu. Penerimaan, bahwa barangkali, perpisahaan adalah sebuah kondisi apa boleh bikin, yang tak mungkin dihindari, yang tak mungkin dicari penangkalnya. Maka satu-satunya cara untuk bisa tetap waras adalah dengan ikhlas. Tentu konsep ikhlas adalah konsep paling absurd setelah konsep tentang cinta. Tapi Bajang lewat ‘aku tak pernah bisa memutar jarum jam menuju masa lalu’ tak ingin tunduk. Ia tetap berharap, namun harapan yang diam, ‘dimana segala ingatan dan cinta berlalu tanpa ragu’.

Sementara dalam Bocah Pencuri Buah saya merasakan bagaimana kehidupan kanak-kanak Irwan Bajang. Saya seperti ditarik pulang dan mengingat sebuah lanskap gersang, teduh dan menyenangkan dari Lombok. Puisi ini adalah mikro kosmos bernama adat Sasak. Dimana Bajang mengambil peran sebagai penutur kisah, tentang seorang bocah nakal pencuri buah, yang terkutuk sempengot. Sihir yang membuat pencuri mulutnya menjadi miring/bengkok. Ada yang komikal di sini. Dua fragmen kisah menjadi satu, ketika kanak-kanak, dan ketika si objek cerita menjadi dewasa dan hendak menikah.

Bocah Pencuri Buah
Dua puluh tahun setelah itu
….
Dilihatnya bayangan wajah dan mulutnya di seberang sana
Lalu ia tersenyum
sembari dikenangnya seorang kiai buta
menyemprot mulutnya dengan air bekas kumur
sebagai penolak bala
sihir sempengot yang ia terima.

Namun, tentu saja, sebagai penutup saya ingin mengutip secara penuh sajak paripurna Bajang tentang perpisahan sepasang kekasih. Bukan tema yang baru memang, cenderung klise, picisan dan sering dituliskan. Namun entah mengapa pada sajak ini Bajang saya merasakan keteduhan, kedewasaan lebih dari sajak lain di Kepulangan Kelima ini. Jika dalam sajak Si Tua dan Cinta Bajang bicara kedewasaan dari pengalaman dan umur. Maka dalam puisi ini ia bicara kedewasaan dan kematangan berpikir dari cinta yang kandas. Bahwa, tak melulu perpisahan harus dihadapi dengan kebencian. Bahwa, tak melulu kisah masa lalu harus dibuang. Karena bisa saja ketika kita bertemu dengan seseorang yang pernah penting dalam hidup kita, kau bisa aku pulang menggandeng tangan bayanganmu.

pada resepsi pernikahan itu
pada resepsi pernikahan sahabat kita itu
kuingat ciuman pertama kita, aria

perutmu sudah buncit lima bulan

kelak, kau akan menamai anakmu berbeda
melupakan nama-nama
yang pernah kita rencanakan di masa muda

kau menggandeng suamimu
lalu aku pulang menggandeng tangan bayanganmu.


Kepulangan Kelima adalah mazmur perpisahan, ikhtiar rantau dan usaha menjalani hidup seusai getir. Ia bisa saja, seperti yang saya tuduhkan, menyadur dari puisi lain. Melucuti hidup sendiri secara telanjang lantas menyusun ulang kisah itu secara metaforis sebagai puisi. Tak ada yang baru, tidak ada yang luar biasa, dan tak ada yang istimewa dari buku puisi ini. Malah cenderung membosankan. Tapi dalam kebosanan itu ada potensi. Repetisi yang diulang-ulang, ketika saya membaca sajak-sajaknya, ada saja pengalaman yang meloncat tiba-tiba. Bajang bicara soal pengalaman sehari-hari, yang bisa saya dan anda rasakan. Dengan bahasa yang lebih baik tapi tidak istimewa. Demikian. 

8 komentar:

  1. Resensi yang bagus.
    Menunjukkan anda memang kurang kerjaan sehingga punya waktu luang untuk bikin resensi sebagus ini. Lebih baik tanggung jawab skripsi diselesaikan dulu bung baru silakan lanjutkan hobi anda ini dan membela buruh kemudian.

    eh, atau jangan2 karena gelar s1 yang tidak segera terengkuh anda getol menuntut supaya tamatan sma/d3 seperti anda bisa bergaji sama atau bahakan lebih dari s1?cerdas! hidup memang perlu berstrategi.

    tapi mbok ya buruh jangan dibawa-bawa mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah lulus keuleusssss orang ini... ah payah lu.. bukan pengikut setia dhani..preeek

      Hapus
    2. Udah lulus tapi kalo kerjanya serabutan atau lebih parah lagi nganggur ya lebih hina dari buruh. Gaya hidupnya persis waktu masih jadi mahasiswa,g ada peningkatan. Ini namanya kelas menengah gagal karena ga bisa meningkatkan standar hidup.

      Hapus
  2. Walah, si empunya blog pengangguran ternyata. Pantes saja koar-koarnya keras sekali bahkan tulisannya malah banyak di protes buruh beneran.

    Ternyata belum pernah merasakan jadi buruh.

    *geleng-geleng

    BalasHapus
  3. Belum pernah merasakan jadi buruh tapi kok jamaahnya banyak yang menyarankan bagi komentator yang kontra untuk merasakan menderitanya jadi buruh.

    ini baru yang namanya ngehek sejati

    BalasHapus
  4. Hahahaha ngakak.

    Jadi si kribo ini pengacara* toh?mentok2nya freelancer yang notabene pengangguran tertutup.
    *Pengangguran banyak cangkem rak mutu.

    gue sebagai kelas menengah yang dibilang ngehek dengan tulus hati mengucapkan selamat bermasturbasi di dunia sempit laman-laman blogmu, bo.

    semoga buruh-buruh yang kau bela tidak kecewa mengetahui pembela mereka dengan suara paling keras ternyata bahkan tidak pernah mengecap susahnya cari duit.

    piye le? penak to masturbasi intelektual, ngenet lan ngudut nganggo duite bapakmu? haha

    what a scum of the earth.

    BalasHapus
  5. monggo di like kalau memang merasa laki-laki

    https://www.facebook.com/pages/Bekerja-karna-harga-diri-laki2-adlh-bekerja/383692471660402

    BalasHapus
  6. Wah... keren. Terima kasih mas bro. Sudah mengajarkan saya untuk mengetahui bagaimana cara menikmati sebuah sastra. bahkan secara tidak langsung, mengajari cara menulis sastra.
    maturnuwun sekali lagi.

    BalasHapus