Kamis, 28 November 2013

Manusia Manusia Banyuwangi

Banyuwangi dibangun dari pesona manusianya. Ia adalah refleksi keluhuran budi dan kekayaan kazanah kebudayaan yang begitu pekat, sehingga dalam setiap identitas manusia-manusianya, Banyuwangi bukan lagi sebuah lanskap geografis, tapi ia adalah jati diri yang lain. Di sini keberadaan seni budaya memainkan peran sentral sebagai pembentuk dan transformasi diri dari sebuah individu tunggal menjadi kelompok masyarakat yang plural namun khas. Sulit untuk kemudian melepaskan manusia Banyuwangi dari identitas kebudayaan mereka. 

Bagi manusia-manusia yang lahir di Banyuwangi, kebudayaan bukanlah kebanggan premordial semu. Namun lebih dari itu, bagi setiap manusianya kebudayaan adalah apa yang membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. 

Umar Kayam dalam pidato kebudayaan di Universitas Gajah Mada 19 Mei 1989 di Yogyakarta mengatakan bahwa transformasi kebudayaan merupakan elemen penting dalam perubahan masyarakat. Sebuah kebudayaan boleh jadi terlihat statis, namun pada beberapa masyarakat kebudayaan terus dinamis, beradaptasi dan menemukan bentuk bentuknya yang baru.Transformasi kebudayaan dalam masyarakat Banyuwangi dapat dibayangkan sebagai sautu proses yang lama bertahap‐tahap akan tetapi dapat pula dibayangkan sebagai suatu titik balik yang cepat bahkan abrupt. Proses ini menjadi dialektik yang terus‐menerus dengan kondisi‐kondisi transformasi antara untuk kemudian dibayangkan akan tercapainya transformasi akhir, besar dan langgeng.

Kekayaan Seni Budaya Banyuwangi tidak hanya berupa produk produk yang berupa produk kriya. Seni Kebo-keboan misalnya merupakan ritus sekaligus kearifan budaya lokal yang punya nilai filosofis penting bagi masyarakatnya. Kebo-keboan konon berkembang di dua tempat di Banyuwangi. Yaitu di kawasan Aliyan dan Alas Malang. Ritual kebo-keboan lahir sebagai upaya syukur terhadap panen yang besar. Beberapa juga dilakukan sebagai bagian dari ritual bersih desa yang biasanya pada bulan Suro pada kalender Jawa.

Novi Anoegrajekti, Dosen Luar Biasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, menyebutkan Kesenian tradisi Banyuwangi bertumpu dan bertahan atas dasar tata nilai lokal yang dikandungnya berhadapan dengan tuntutan-tuntutan baru. Tuntutan baru tadi tak hanya lahir dari masyarakat luar Banyuwangi, tetapi ia lahir dari generasi yang tumbuh dan berkembang dengan bauran teknologi asing. Hal ini bukan saja berpotensi bisa melumpuhkan kebudayaan namun juga bisa melibas keberadaan identitas budaya masyarakat yang ada apabila kebudayaan itu tak mampu berkembang dan mematutkan diri.

Tetapi seperti yang kita lihat, seni budaya dan masyarakat Banyuwangi dapat hidup berdampingan. Seni budaya bisa memastikan rasionalitasnya pada kepatutan modern. Dalam makalahnya Novie Anoegrajeki memastikan bahwa kesenian yang lahir dari masyarakat perlu mempertimbangkan elemen survival dari segi ekonomi. Hal tersebut yang akan menentukan apakah kesenian tersebut berpeluang hidup atau tidak di masa-masa mendatang. Sejarah gandrung yang panjang menyisakan catatan bahwa kesenian milik komunitas Using ini selalu berhadapan dengan kekuatan kekuatan di luar dirinya. 

Kesenian Gandrung yang lahir dari manusia-manusia Banyuwangi adalah seni tari yang  subtil. Ia dipentaskan oleh seorang perempuan dewasa yang menari berpasangan dengan laki-laki yang dikenal sebagai pemaju. Pertunjukan ini dilakukan hanya pada saat-saat tertentu saja. Pada sejarahnya Gandrung melulu dilakukan pada puncak perayaan masyarakat desa seperti petik laut atau bersih desa. Namun pada perkembangannya hari ini Gandrung dilakukan pada banyak perayaan rakyat seperti pernikahan atau hari-hari besar nasional.

Gandrung Banyuwangi konon merupakan satu buah karya seni yang lahir dari perkembangan dari ritual seblang, upacara bersih desa atau selamatan desa yang diselenggarakan setahun sekali dan dianggap sebagai ritus tertua di Banyuwangi. Ritus seblang itu sendiri berkaitan dengan kultus kesuburan atau pemujaan dewi padi yang merupakan peninggalan kebudayaan Pra-Hindu. Butuh stamina besar untuk melakukan pementasan Gandrung. Mereka harus melakukan pertunjukan semalam suntuk. Ada pembabakan dalam tari gandrung yang masing masing memiliki filosofinya sendiri.

Dalam makalahnya Novie Anoegrajeki menjelaskan pembagian itu sebagai sebuah ritus yang berkesinampungan. Pembabakan itu adalah adalah Jejer, Paju, dan Seblang-seblang. Jejer dan Seblang-seblang adalah adegan pembuka dan penutup pertunjukan, berlangsung sekitar 45-60 menit (Jejer) dan 85-120 menit (Seblang-seblang) yang tidak melibatkan seorang pun dari penonton. Sementara Paju, yang memperoleh waktu lebih panjang (antara 4-5 jam), merupakan adegan terbuka bagi penonton untuk menari berpasangan atau membawakan lagu-lagu.

Ada yang menarik dalam pembabakan tari gandrung ini. Ia adalah representasi dari hubungan antara manusia dan alam, manusia dan manusia dan manusia dengan penciptanya. Meski demikian, sebagai bentuk kesenian, babak pertunjukan gandrung yang paling lama dan mendapat perhatian penonton adalah Paju yang berisi tari berpasangan dan ngrepen. Dalam babak ini tampak bahwa pertunjukan gandrung menjadi milik publik, sulit dipisahkan antara pertunjukan dan penontonnya.

Gandrung adalah satu dari sekian banyak karya manusia-manusia Banyuwangi. Karya lain seperti kain batik khas bermotif Gajah Oling yang lahir sebagai upaya akulturasi citarasa unik dan pemaknaan terhadap lingkungannya. Ia, menurut Bupati Abdullah Azwar Anas sebagai local genius yang mampu bercerita tentang banyak hal, mulai dari fashion, tradisi, hingga gaya hidup. Ia tidak hanya merupakan karya unik yang bernilai estetik namun juga memiliki nilai ekonomis yang bisa menjadi penanda langsung dari masyarakatnya.

Lantas apakah sekian banyak kesenian itu hanya merupakan perayaan kosong belaka? Tentu tidak. Anda bisa dating dan melihat sendiri bahwa manusia-manusia Banyuwangi adalah individu dengan kebanggaan tinggi akan identitas kulturalnya. Album-album lagu Using bertebaran, dinyanyikan dan dirayakan sebagai keseharian. Pemandangan yang sangat kontras akan anda lihat di daerah lainnya dimana kaum mud justru lari tunggang langgang menolak jati dirinya. Sementara pemuda-pemudi Banyuwangi justru merengkuh dan mengamininya sebagai hidup.

Para tamu dan pendatang di kota ini akan ditunjukan sebuah teater hidup dari masyarakatnya. Manusia-manusia Banyuwangi tak mengenal basa basi dalam berinteraksi. Mereka adalah apa yang mereka tunjukan. Anda akan mendengar teriakan-teriakan, beberapa umpatan, atau bahkan dialog yang keras. Tapi ia bukan mencirikan manusia-manusia Banyuwangi sebagai mahluk yang barbar dan tak punya kebudayaan. Mereka adalah mahluk ekspresif yang tegak dengan jati dirinya sendiri.

Idiom lare using bukan ditunjukan sebagai upaya pemisahan dan segregasi rasial dengan masyarakat yang lain. Tidak. Lare Using lahir dari pemaknaan bahwa kemana pun manusia-manusia Banyuwangi pergi, jangan pernah lupa akan akar dan rumah dimana kamu dilahirkan. Apakah hal ini kemudian menjadikan Banyuwangi sebagai kota yang ekslusif? Tentu saja tidak. Jika anda mampir ke daerah-daerah dimana kebudayaan berkembang seperti Muncar, Genteng dan lainya anda akan menemukan masyarakat-masyarakat plural yang berasal dari komunitas lain di nusantara.

Ada Suku Madura, Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Suku Using yang kemudian membentuk wajah Banyuwangi menjadi apa yang ada hari ini. Ia adalah satu mangkuk masyarakat yang tidak tunggal. Ia melahirkan manusia-manusia yang menolak tunduk pada gegas zaman. Di sini anda akan melihat dan menikmati bagaimana seni budaya dirayakan bukan hanya sekedar ritus. Tapi sebagai sebuah pengakuan. Bahwa Banyuwangi bukanlah kota biasa. Ia adalah kota yang lahir dan berkembang dari rahim manusia-manusia unik di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar