Jumat, 06 Desember 2013

Nyala Kebaikan Yang Kau Padamkan Sendiri

Imam Ali yang mulia, pintu kota ilmu pengetahuan suci Kanjeng Nabi Muhammad, pernah berkata "Mereka yang bukan saudaramu dalam agama, adalah saudaramu dalam kemanusiaan". Ucapan ini ia termaktub dalam Nahj ul Balagha volume III. Perkataan ini, bagi saya, adalah tanda bahwa kepedulian tidak terbatas hanya pada keyakinan. Tapi juga pada masalah kemanusiaan, namun sayangnya, seringkali, kemanusiaan hanya masalah gombal yang ditawarkan ketika keharuan dan tragedi terjadi.

Menjadi sufi bukan berarti menjadi benar. Sufi adalah jalan hidup. Sebagian memilih kesunyian, sedikit memilih panggung dan perhatian. Beberapa sufi menolak disebut sufi. Menjadikan laku hidup hanya untuk bersatu, mabuk, dan bercinta dengan tuhannya. Sedikit di antaranya bernyanyi di depan televisi, menumpang kawan-kawan pesohornya, menjadi selebritis, menjadi penulis, memuji diri sendiri dan numpang tenar membonceng gelar suci kaum bijaksana untuk menghamba pada dunia.

Kebijaksanaan peradaban kaum suci yang menolak terkenal, menolak dibajak. Tapi tak apa, barangkali seperti sebagian dari kita, ada orang orang yang merasa perlu melabeli diri sendiri agar bisa dikenal.

Islam adalah kedamaian. As salam bukan sekedar padan kata, atau sekedar turunan makna. Ia adalah pedoman hidup. Perdamaian tak melulu harus diam. Seperti Imam Ali yang kemudian memerangi kaum Khawarij. Ia percaya bahwa sebuah kebenaran mesti ditegakan meski harus berhadapan dengan kawan sendiri. Sebuah tawaran damai, persekutuan, dan usaha rekonsiliasi diberikan. Tapi sejarah mencatat, penolakan dan sikap TIDAK MERASA SALAH, harus diperangi. Tentu tidak dengan kekerasan. Imam Ali yang lembut hati itu coba menawarkan jalan. Meski akhirnya ditolak oleh manusia manusia yang ditutup nyala nurani hatinya.

Kita tahu. Bahwa kelak, dalam persimpangan hidup yang rumit, kita akan dipaksa memilih. Seringkali pilihan itu sangat berat. Seperti apakah harus selalu membela kawan. Atau seperti yang kita ketahui saat dimana dalam sejarah, ada murid-murid menentang gurunya, rekan dekat mengkritik, dan seorang kawan paling baik harus bersikap. Bahwa ketika kelaliman terjadi, entah saudara entah karib, harus membuka mata dan tahu menempatkan pembelaannya. Tidak dengan buta tunduk pada ewuh pakewuh semu bernama solidaritas sesama seniman

Adalah benar jihad tertinggi adalah jihad melawan nafsu diri sendiri. Tentunya melawan akibat buruk nafsu teman sendiri adalah bagian jihad. Itupun jika kita konsisten. Sulit untuk bisa bersikap jelas, apabila dalam hidup kita yang pendek ini, kita berkawan pada penjahat. Lebih buruk lagi, penjahat yang berbuat baik kepada kita. Tapi tentu saja, seringkali kata-kata manis, slogan keren dan pamflet-pamflet adalah kalimat bergincu belaka. Ia kosong. Tak lebih kosong daripada kolom yangditulis dengan nada-nada moral tapi miskin sikap karena harus berpijak pada konco-isme.

Mungkin bisa jadi demikian. Kata-kata indah ditulis, dijahit, makna dieram sehingga tampak manis, tapi kemudian ada yang disembunyikan. Fastabiqu 'l-khairat terlalu sempit jika kemudian dimaknai mendiamkan dan mendoakan penjahat agar bertaubat. Taubat haruslah lahir dari diri sendiri, bukan karena tertangkap basah, lantas mengaku khilaf, setelah berulangkali melakukan kejahatan dengan modus operandi yang sama. Maka saat ini anekdot menyedihkan al-islamu mahjubun bil-muslimin, kemuliaan Islam dituupi toleh perilaku oknum orang Islam itu sendiri tak terbantahkan.

Seharusnya, saat merasa diri ini dhaif, salah, berdosa dan tidak sempurna. Kita harus bersikap untuk mencari tahu dan belajar berpikir. Membela pendosa adalah sikap mulia. Tapi jika kemudian dengan membela itu kita lantas menutup mata dan melupakan keberadaan korban dari kelaliman. Maka apa gunanya kita beragama? Jika kau hanya mampu merasa peduli, simpati dan haru hanya kepada kawan? Lantas apakah harus menunggu keluargamu menjadi korban untuk peduli? Kita peduli karena kita merasa saudara dalam kemanusiaan dan itu lebih suci daripada sekedar perkawanan.

Barangkali benar hidup adalah tragedi bagi mereka yang merasa, komedi bagi mereka yang berpikir, parodi bagi mereka yang ingin numpang tenar.

Maka belajarlah dari Abu Turab, Si Pintu Ilmu Pengetahuan. Bahwa pengetahuan yang luhur lahir dari ucapan dan tindak tanduknya. Saat Ia coba dibunuh, menjelang kematian, dengan kepala penuh darah, Imam Ali yang mulia memang degan santun dan tulus meminta agar si pembunuh diperlakukan adil. Tapi tentu ia, yang dalam hidupnya teguh menjaga damai itu, meminta agar hukum tetap tegak. "Hukumlah ia seusai ajaran agama kita. Berikan satu pukulan yang akan membunuhnya," itu kata Imam Ali dihadapan dua penghulu surga Imam Hasan dan Imam Hussain.

Ia yang mengaku sufi tentu paham. Cinta memang adalah ajaran tertinggi dalam agama. Beberapa memproklamirkan bahwa cinta adalah agama itu sendiri. Jadi saat ada sufi yang kemudian membenarkan, atau bahkan bersikap acuh, saat cinta dinodai dengan paksaan, tipu daya dan kejahatan. Saya tak tahu sufi macam apa itu. Boleh jadi ia hanyalah pencatut yang menumpang nama sufi itu sendiri. Cinta adalah nyala hidup. Ia selayaknya suci dan tak tercemar. Sayang beberapa dari kita lebih memilih memadamkan nyala cahaya itu, hanya demi membela keburukan yang terlembaga.

3 komentar:

  1. BUBARKAN SUFI CAPER DAN SUFI WANNA BE....!!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  2. Suka dengan kalimatnya. Diksinya bagus.

    BalasHapus
  3. sejak awal sy tdk sepakat skali dgn chandra malik yg ngaku2 sufi.

    BalasHapus