Kamis, 26 Agustus 2010

47 Tahun Sejarah Perjuangan

Wiji Thukul adalah sebuah kisah yang belum tamat. Manusia yang seumur nafas ditempa kerasnya hidup. Hingga pada akhirnya ia moksa tak tentu rimba. 47 tahun lalu ia dilahirkan, sebagai pria yang mungkin memang dikisahkan untuk menjadi peluru. Peluru yang dengan jalang, menelikung penindasan-penindasan.

Wiji thukul adalah kata-kata yang tak tuntas diucapkan. Sebuah kalimat yang menggantung, menunggu orang untuk menyelesaikan. Seperti mendung yang pekat, tapi tak kunjung hujan. Barisan kata-kata Wiji Thukul tak lekang menunggu jawaban. Jawaban dari mereka yang sembunyi di balik baying-bayang.

Wiji Thukul adalah barisan-barisan yang tak bubar. Ia patuh runtut menunggu ketidakadilan diselesaikan. Hutang dibayar. Pendidikan gratis. Hakim adil. Dan jendral-jendral ditangkap. Bukan karena ia komandan barisan. Karena ia sebuah garis tegak lurus. Yang menolak dibengkokan dengan moncong senapan.

Wiji Thukul adalah teater yang tak selesai. Kumpulan kisah kisah yang haus perhatian. Narasi-narasi yang jujur. Bukan sinetron yang menjual mimpi. Tragedi satir yang menanti humor. Bukankah dramaturgi tak diajarkan di kolong jembatan dan di lampu merah? Lalu mengapa teater ini tak kunjung selesai.

Wiji Thukul adalah corong usang. Yang berbisik ;

“Aku Masih utuh dan kata-kata belum binasa”

aku bukan artis pembuat berita
tapi memang
aku selalu kabar buruk
buat para penguasa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat
dan berdesakan mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ia tak mati-mati
telah kubayar apa yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
:kau masih hidup!

Wiji Thukul adalah perjuangan melawan lupa. Labirin tanpa akhir. Yang kemudian diasingkan lewat teks-teks banal. Kisah-kisah perselingkuhan. Opera sabun. Di khianati keong racun. Dan akhirnya berakhir pada selokan-selokan sejarah. Namun ini sekedar alarm. Karena “aku memang masih utuh, dan kata-kata belum binasa”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar