Jumat, 27 Agustus 2010

Semalam bersama Ayos Purwoaji


Ayos Purwoaji, man with tight leather, not a porn star!


Ruang 6 x 5 meter itu sebagian besar berbalut karpet warna merah. Memiliki 4 jendela besar, dua diantaranya memakai teralis besi. Didekat pintu masuk ada dua meja besar, diatasnya berserakan kertas berbagai jenis, di salah satu sudut meja ada semacam termos yang digunakan sebagai dispenser darurat. Tempat itu remang-remang gloomy, salah satu dari dua lampu yang terpasang tidak bekerja sesuai tanggung jawabnya. Disepanjang dinding ruang itu terpajang berbagai macam potret. Mulai dari potret pegunungan bromo, model, dan kawah ijen. Lalu disebelah kiri pintu ada semacam sekat yang memisahkan antar ruang di tempat itu. Didalamnya terdapat pula sepasang meja yang diatasnya terdapat sepasang komputer. Tempat itu bernama Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto.

Tegalboto baru saja menyelesaikan rapat integral berbasis komunikatif verbal antar divisi saat pria berambut tipis itu tiba. Wajahnya oval, giginya putih rapi, memakai kaca mata dengan frame agak tebal, dan senyampang nampak jambang di kedua sisi pipinya berpadu dengan rambut tipis itu. Pria itu kemudian masuk kedalam ruang dengan karpet merah. Menyapa dengan suara halus dan logat bahasa Indonesia sesuai EYD. Senyumnya manis, kulitnya lebih putih dari yang saya kira. Pria ini yang selama beberapa hari menjadi beban pikiran saya. Ayos Purwoaji Lagi Tersayat Ngeritenan, pekerja seni baik budi dari Padepokan Tinggi Sepuluh Nopember.

Diruang utama sebelumnya berjejer 6 pria, salah satunya tampan dan mengemaskan. Mereka adalah Nuran wibisono; pria dengan tampang metal hati dangdut, Arys Aditya; filsuf cum penyair jawapos penggemar Naruto, Didik Saputra; internisti penyuka wanita paruh baya, Marlutfi Yoandinas; putra kyai asli Situbondo, dan Widi Widahyono; desainer yang sayang ibu. Dan yang terakhir adalah saya, pria tampan menggemaskan dengan sejuta pesona.

Nuran Wibisono, animal molester!


“Raaaan! Pacarmu teko Raaaaan!” saya berteriak.

“sopo cok?” kata nuran Sembari keluar dari ruang redaksi.

Ayos kemudian perlahan masuk ke ruangan Tegalboto, wajahnya pucat pasi, seperti tahu bahwa malam ini kehormatannya yang tinggal sebiji itu, akan kami rengut dengan brutal. Ia kemudian duduk bersimpuh dan bersalaman dengan kawan saya Lutfi. Malam itu ia memakai celana Jeans biru dan kaos putih yang dibalut sweatshirt warna coklat. Ia seksi malam itu, meski gak seseksi pacar saya Norah Jonez.

Gayanya konyol, seperti seorang santri yang ketemu habib, Ayos mencium tangan lutfi lalu menempelkan bekas salaman tadi kejidatnya. Berulang kali. Saya jadi teringat acara di NG, ritual ini di Uganda, merupakan salam antar sesama pria jantan. Tapi sayang Ayos sudah tidak jantan lagi.

“wah mas Dhani, alumni pantau” kata Ayos pada saya.

“ah mas Ayos dari tempo” saya jawab

“jancuk jancuk”

“jancuk kembali”

“piye Dhan? Dapat apa saja dari pantau kemarin? Siapa saja yang ngisi? Enak gak? Tanya ayos.

Saya gak pernah tau ayos punya bakat sebagai satpam, baru pertama kali ketemu sudah banyak nanya. Tapi karena beliau ini adalah salah satu “hero” saya. Maka dengan senang hati saya jawab.

“wah banyak” (jawaban standar, karena gak tau mau mulai dari mana)

“Anderas Harsono sama janet Stelee” (berasa ngisi ulangan)

“ya lumayan lah” (bingung mau jawab enak apa gak, soalnya belum sempet ngicipin rasanya Andreas dan Janet)

Ayos kemudian duduk dihadapan saya, dan memulai obrolan ringan dengan Lutfi. Padahal dari kemarin saya sudah sangat kebelet ingin ketemu orang ini, tapi sekalinya ketemu kok ya speechless. Berasa ketemu sing mbaurekso gitu. Selesai bercengkrama dengan Lutfi, Ayos memandang saya lekat-lekat. Syahdu. Seakan ada pertanyaan namun tertahan. Mungkin karena muak dengan wajah saya, ia kemudian memutuskan bertanya.

“lha rambutnya kemana? Padahal saya liat di fesbuk bagus gitu”

“hahaha, Emak saya ngelarang”

“lha kenapa emangnya?”

“ya Ibu saya bilang, tukang cukurnya gak ada yang genah ta?”

Lalu kami mulai bicara ngelantur hal-hal bodoh yang tidak pantas untuk dituliskan disini. Karena melanggar kazanah budaya dan bahasa yang ada. Jika anda kemudian bertanya-tanya siapakah Ayos Purwoaji Lagi Tersayat Ngeritenan ini? Sampai bisa ditulis dalam blog saya yang super keren ini? Maka anda adalah orang sesat, yang harus mandi kembang 7 rupa dan mencium Hajjar Aswat untuk bisa melepaskan dosa asal tersebut!

Ayos adalah pemilik sah dan meyakinkan dari blog naudzubillah super dahsyat bernama hifatlobrain. Sebuah blog -yang sekilas mirip situs porno- travelogue yang terkenal seantero Uganda dan Mozambique. Dengan tagline absurd nan filosofis “Lemak jadi Raja, Akal jadi Dodol”. Ayos akan membimbing anda semua kesebuah perjalanan spritual sesat menuju tempat-tempat eksotis di Indonesia!

Semua berasal pada tanggal 5 Januari 2007 pada pukul 07.12 malam. Pria ini menciptakan blog yang kelak dikenal orang karena tulisan dan sensasinya. Kenapa saya bilang sensasi? Selain penulis blog dan desainer tanpa status, ia dikenal sebagai partner in crime begundal arjasa bernama Nuran Wibisono. Tak kurang dari 3 buku elektronik dibuat dan sukses dibagikan. Bahkan beberapa orang ditengarai menjadikan buku tersebut sebagai kitab suci.

Tetapi mari fokus pada Ayos, karena Nuran hanya sekedar figuran di tulisan ini. Konon kata orang ia menyukai Mlaku-mlaku, fotografi dan mendengarkan musik jazz macam Incognito, Earth Wind and Fire, Fourplay, Yellow Jacket, Lee Ritenour, Ridho Roma, D’Bagindaz, Armada dan D’nasip. Bukankah ini luar biasa? Hal inilah yang membuat saya saat itu jadi blank, tidak tahu harus berkata apa. Namun kebuntuan itu terpecahkan saat Ayos bertanya tentang kursus saya di Pantau

“terus-terus memangnya apa saja yang diajarkan (di Pantau), kmaren?”

“ya banyak, sebagian besar Janet dan Andreas menekankan tentang pentingnya srtuktur, tentang bagaimana menjaga irama tulisan dan menjaga agar pembaca tidak cepat bosan”

“janet itu seperti orang jawa, sungkanan, jadi semua tulisan dia bilang baik, bagus gitu, tapi andreas orangnya sadis, blak-blakan”

“hahahahaha, lha emang Andreas bilang apa?”

“yo kayak tulisannku yang ancur itu lah hahahahaha”

Saya lupa juga menceritakan tentang Engine, selain pentingnya Structure, Janet mengajarkan saya pentingnya Engine. Ibarat obat, engine itu adalah viagra. Suatu hal yang membuat sebuah kisah ngaceng. Seperti kisah Anthony Shadid, wartawan Washinton Post dalam A boy who ‘was like a flower’. Kesederhanaan dan emosi cerita membuat pembaca menjadi kecanduan. Menurut saya, Ayos pernah menulis yang semacam demikian dalam posting yang berjudul Holy Cloves Land J.

Lalu Nuran datang mendekat, sepertinya ia tahu kalo saya lagi flirting-flirting dengan Ayos. Nuran kemudian duduk di dekat Ayos. Mungkin takut saya rebut.

“Terus ketuane tegalboto siapa sekarang?” tanya Ayos.

“yo iki mat” kata nuran menunjuk saya.

“wah pak ketua,, pak ketua”

“hahahah hasyu, ayolah kita ngopi dimana gitu”

“di Quick Chiken (semacam rumah makan waralaba agak mahal) tah?” kata nuran

“loh tadi aku liat tutup” jawab Ayos.

“maksud’e warung sebelane Quick Chiken!” kata saya.

Setelah menemukan kata mufakat, musyawarah besar penentuan lokasi kami tutup, dengan memutuskan ngopi di warung sebelah Quick Chiken. Saya kemudian dobonceng mas Widi, Ayos dengan Nuran, dan Lutfi dikerubutin Aris dan Didik sekaligus. Kami kemudian berjalan ke arah jalan jawa, perjalanan lancar tanpa hambatan, meski di beberapa titik perjalanan kami terjebak macet. Namun sesampainya di lokasi, ternyata warung tersebut sangat ramai.

“piye iki?” tanya nuran

“embuh mat”

“nang gubug wae tah?”

“oyi wes, sek ngenteni arek-arek sik”

Mas lutfi tertinggal karena harus membonceng dua babon secara bersamaan. Tak lama kemudian mereka datang, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju ke gubug. Dari jalan Jawa kemudian kami menuju jalan Karimata. Lalu berbelok kesebuah jalan kecil di seberang gereja Karimata. Dan sampailah kami di Gubug, warung kopi yang agak Mbois.

Kami kemudian duduk di sebelah kanan pintu masuk. Lalu memesan minuman. Sambil menunggu minuman tiba kami mulai ngobrol macam-macam. Tetapi Ayos sepertinya belum puas tentang kisah saya di Pantau, padahal saya malu sekali, cerita kok sama tukang nulis bagus.

Lalu tentang Investigasi gmana?” ujar Ayos.

Ya pertama dari hal sederhana, seperti hal janggal, kayak tulisan Bondan winarno dalam Bre X, ato tulisannya Hunter S Thompson di hells angel”

“okelah kalo masalah contoh emang banyak, maksudnya gmana?”

“ya bagaimana kita bisa menggambarkan bahwa penyelidikan berita ini mejadi penting dan memang menyangkut nasib orang banyak”

“maksudnya?”

“Seperti kisah Hiroshima-nya John Hersey, dia kan menceritakan betapa dahsyatnya bom atom, sehingga banyak orang yang merasa bahwa bom tersebut tidak usah dipakek lagi”

Banyak pertanyaan yang diajukan oleh Ayos membuat saya agak keteteran. Saat kami ngobrol Ayos lebih slow, lebih banyak mengutarakan pertanyaan, dan jarang bicara jika tak ditanya. Namun tetap, binal dalam segala suasana. Ia dan Nuran memang benar-benar best combo, ibarat konser, kamu bisa nonton Ritchie Blackmore dan Ray Charles ngejam bawain lagu Imagine. Sukab! Dan ini bukan sekedar testimoni menjilat. Kalian semua bisa ketik nama Ayos dan Nuran di Google yang maha pencari. Dan voila, anda akan menemukan jajaran kasus pelecehan seksual terhadap hewan! Hehehe.

Pada mulanya adalah iri, saya mengenal Ayos lewat sebuah majalah besutan ITS yang berjudul ITS Point edisi Nopember 2006. Jauh sebelum Ayos dan Nuran memutuskan jadi couple. Saat itu Ayos ditampilkan sebagai tokoh mahasiswa berprestasi, sejujurnya saya benci model tulisan macam beginian. Karena biasanya yang ditulis adalah mahasiswa dengan wajah ganteng ato cantik dengan IP ciamik. Saya dan Nuran tentu bukan kategori mahasiswa macam beginian. Namun ITS Point kala itu mengejutkan saya, Ayos digambarkan sebagai mahasiswa imbisil berprestasi di luar bidang akademik. Ia merupakan pemenang asean writing contest 2006 dan juara 2 surabaya sparkling. Wotdefak? Sumpah saat itu saya iri sekali!

Buat saya kuliah itu tentang belajar dan bukan tentang nilai bagus di lembar hasil studi. Bukankah asu kalo misalnya IP 4 tapi gak tahu maksud dari perkuliahan yang dijalani. Namun Ayos dalam kesempatan itu membuka mata saya, ‘hei cuk, if you got somethin’ better prove it!’. Saya yang hanya bisa grundel, ditampol untuk bikin suatu karya. Dan jangan hanya bisa mengkritisi tanpa suatu output yang jelas. Maka dengan niat jihad fisabilillah dan dilandasi rasa narsis riya’, saya mulai menulis, berkarya dan membuat blog! Ya blog! Agar setidaknya karya saya (siapa tahu) bisa menginspirasi orang lain.

Buat Ayos, hifatlobrain serupa Pacar kebanggan. Sehingga sejak kelahiran sampai sekarang ia membuat 240an postingan yang berkualitas. Teknik penulisan yang jenaka, tata artistik yang superb dan konsep blog yang mabtab membuat pembacanya betah berlama-lama matengin monitor. Seperti pengakuan Ria Hayati di akun Fesbuknya “hflbnya mas aklam panyun memang selalu cerdik, sebulan tidak punya pulsa internet membuat saya punya banyak pr baca.. tapi saya senaang, bertambah porsinya... langsung dilahap saja :D”. ngepet kan?

Dalam suatu postingan Ayos menulis tentang mencari tuhan di Google. Sebuah refleksi spiritualitas yang mantab jaya. Semacam igauan dari orang yang membaca komik. Tulisan itu begitu sederhana, jujur dan runut. Jauh dari kesan menggurui dan dogmatis. Saya jadi ingat tulisan mbak Karen Armstrong di Islam a short History kalo baca tulisan Ayos ini. Mbak Karen berujar :“Modernisasi masyarakat melibatkan perubahan sosial intelektual. Kalo dulu nyari tuhan di masjid, sekarang tadarusan di warnet. Asoy.

Bukan itu saja yang menjadikan Ayos dan blognya begitu istimewa. Salah satunya adalah dedikasi. Ayos berusaha membuat semacam pertaruhan akan masa depan. Ia memang tidak tahu kemana nasip akan membawa namun ia sudah dihantui kecemasan;


Salah satu ketakutan terbesar saya adalah: suatu saat nanti saya harus bekerja dan saya tidak bisa meneruskan blog ini”.


Itu merupakan kalimat takzim paling kusyuk yang diucapkan seniman pada karya seninya. Dan saya yakin, khainul yakin, blog yang dibuat Ayos ini akan everlasting.

Malam semakin larut dan minuman kami di gubug sudah habis. Kami memutuskan untuk Hit The Road lagi. Destinasi berikutnya adalah bakso bius. Bakso yang konon punya kasiat sekali makan langsung tidur. Kami bertujuh langsung menuju ke Pasar Tanjung. Malam semakin dingin, tapi hati saya panas. Dengan pergumulan pertanyaan, “heh su, kapan nulis apik?”. Sebuah pertanyaan retoris, karena saya gak tau musti jawab apa.

Malam itu saya banyak belajar, tentang persahabatan, tentang menerima kawan homo, dan tentang bagaimana berkarya untuk kemaslahatan umat. Ayos mengajarkan saya banyak, meski malam itu saya yang banyak bicara. Tipikal. Ini bukan sebuah testimoni. Ini sebuah agitasi, pamflet bagi anda yang banyak bicara. Menantang anda untuk membuat karya. Saya juga, musti banyak refleksi dan menulis. Siapa tau, who know’s, mbok menowo, saya mendapat kehormatan tulisan saya disunting dan dimuat di blog asoy semacam hifatlobrain. Tabik.

2 komentar:

  1. Ganteng ya! bukan kamu atau Nuran lho Dhan yang aku maksud. gak usah Riya' dulu! :D

    BalasHapus