
Pada awalnya adalah ingatan.
Kamu selalu tahu bahwa aku membenci matahari yang terlalu terik datang di waktu musim hujan. Karena aku suka hujan. Oh mungkin aku lupa bilang. Karena waktu yang menembus bilik-bilik ingatan membuatku lupa apa saja yang telah kulepas dari mulutku ini. Mungkin kata atau umpatan. Aku lupa, mungkin karena sangat ingin lupa, peri-peri yang menjaga sungai kenangan mengabulkan inginku. Tetapi di hari terik ini entah kenapa ingatan tentangmu datang lagi.
Kenapa selalu tentang ingatan?
Aku mau berkisah tentang ingatan, yang kusimpan rapi dalam kertas dan kumasukan dalam botol kecap tebal. Kisah tentang ingatan yang segar berumur sewindu purnama. Dalam kisah itu sebagian besar tentang kamu, tentang kita dan sedikit tentang hal-hal yang kita sukai. Ingatan itu masih kusimpan rapi dalam botol, bukan karena aku sentimentil. Tapi aku tak tahu cara menghancurkannya. Aku mau ingatan itu hilang tapi setiap kubuang, selalu kembali dengan cara yang sama. Dengan pita merah dan sepucuk
Aku terdiam tolol dan kembali menyimpan ingatan itu.
Ingatan itu menyakitkan, karena ia bercerita tentang kamu. Tentang senyum yang lepas, tentang rindu yang tebal, dan tentang lubang besar yang hilang. Dimana semantik-semantik cinta yang mulai bertunas? (Apa hakku mengatakan itu cinta dan bukan nafsu?) Itu sudah dikubur, semenjak kau dan aku saling menyakiti. Saat aku berdusta tentang banyak wanita dan kau berkata tentang seorang pria. Aku menolak menangis tapi air dalam kantung mataku deras turun. Kau tidak tahu, karena aku tak mau kau tahu. Itu menyakitkan.
Kapan rasa sakit itu dimulai?
Di tengah bulan November yang panas, yang gerah. (Kenapa selalu gerah dan panas?) Kenangan remeh temeh tentang betapa kamu yang memakai baju putih dan rok hitam itu begitu purna. Ingatkah kau? Bukankah aku berjumpa kau dalam sebuah ruangan penuh dengan manusia, tetapi kenapa hanya kau yang tinggal dan di ingat? Dimana kemudian kau datang kepada sarang buas dimana nalar dan kebebasanku di buai. Kita bertemu lagi untuk yang kedua, (saat itu aku yakin ini jodoh) awal perkenalan kita biasa saja. Aku pun sebenarnya hanya suka, tak jatuh kagum barang sedetik. Tapi nanti kau pun akhirnya ajarkan aku betapa kau itu begitu menarik. Saat itu kau tetap begitu purna meski kusam dan berkeringat. (Dan itu awal mula Aku benci matahari Terik!)
Aku selalu ingat. Tapi entah kau.
Aku ingat sedikit jalan-jalan di
Itu kamu, yang membuat saya luluh.
Kemudian kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu? Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian bertegur kata. Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara, lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan. Karena ia tak pernah melihat momen ini sebagai hal paling kudus dalam hidup. Ia dengan kata sederhana meruntuhkan menara Babilon dalam diriku, memporak-porandakan peradaban patriarki ala
Aku rindu kau dalam banyak bahasa.
Keberanian untuk mengucap rindu itu lahir dari rahim-rahim biner dalam layar ponsel buatan
Hujan adalah kenangan yang pecah
Seperti hujan, ingatanku tentangmu itu mendung, basah, dingin dan pecah. Tetapi sampai detik ini aku masih jatuh sayang. Bukankah sayang itu pamrih? Ia memintaku tetap ingat sebagai imbalan jatuh sayangku padamu. Tentu kau ingat saat kuminta kau masak? Ya masak, kau bilang kau bisa masak, aku tak percaya, kau bilang coba saja, kujawab buktikan, dan esoknya kau bawakan aku makan. Dan sungguh aku tak percaya kenikmatan kaviar atawa escargot deux ala
Aku selalu suka suaramu.
Gendud kau panggil aku. Aku memang gendut, tapi aku suka gendut. Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan ujar Rendra mesra, kau pun begtu Juwitaku. Aku begitu kagum pada dawai suara yang rentak keluar dari bibir mungilmu. Dan suara itu yang kadang membuatku mabuk kepayang. Aih! Tak sadarkah kau suaramu itu seperti nyanyian Requiem yang dirindukan serdadu sekarat di
Hingga kau kusakiti…
Zuhud dalam keterbatasan membuatku mudah cemburu, sinis, peka, kejam, paranoid, pesimis, posesif, fanatis, banal, scizophrenic dan jahil. Aku pada dasarnya adalah mahluk lemah yang bersembunyi pada setumpuk tebal buku-buku yang tak lunas di mengerti. Hanya pada pengetahuan yang setengah aku berani bergaya. Aku cemburu atas semua kelebihanmu, kemandiranmu, pesonamu, kebaikan hatimu, perangaimu, olah lakumu, bahasamu, suaramu, wajahmu, sikapmu, marahmu, cemberutmu, tawamu dan yang paling utama, aku benci bakatmu untuk dicintai. Itulah dengki, dosa yang mengutuk iblis dalam pengasingan, dengki karena yang Maha Agung mencintai Adam lebih dari Iblis. Aku dengki atas kelebihanmu, aku cemburu atas cintamu yang luas, aku marah pada sikapmu yang adiluhung!
Aku menyayangimu dengan cara yang bodoh
Kuakui itu, aku adalah pria bodoh yang menukar emas dengan seonggok tahi. Aku rela menukar keberadaanmu demi sekerat ego. Aku dan egoku yang setolol Duryudana! Aku mulai menyakitimu dengan kata-kata kasar. Kata-kata yang keluar tanpa tendeng aling-aling. Kata-kata rusuh yang muncul dari pikiran primitif. Sikapku yang kasar dan perangaiku yang buruk. Akulah Caligula, manusia yang gila karena kehilangan cinta. Tapi itu tak memberikan pembenaran atas sikapku yang bodoh, ucapanku yang keji dan tingkahku yang menjijikan. Aku hanya tak tahu cara menyayangimu, nafsu memiliki yang membuncah serupa api yang membakar nalarku. Saat ku tahu kau dekat dengan seorang pria. Kecemburuan itu datang perlahan, menyusup perlahan dan membakar bara dalam hatiku. Aku cemburu dan aku bodoh! Sungguh, kau boleh merajamku dengan sejuta sayat paku yang direnda racun laba-laba Black Widow yang perih itu. Andai bisa menyuap betara Kala untuk mengulang waktu, maka rela kuruntuhkan Jonggring Soloka beserta isinya! Tapi tak pernah ada andai yang terkabul dalam hidup manusia. Andai tetap menjadi andai.
Keangkuhan yang luntur
Pada malam-malam suci dimana sebuah kitab umat di turunkan aku bergumam. “sedang apa kau? Sudahkah kau bahagia? Apakah kau mendapat jawab atas doa-doamu?”. Hanya angkuh ruang dan dengki yang menahanku untuk lari berontak melihatmu. Untuk memastikan kau tersenyum dan baik-baik saja. Tapi apa daya, rupanya sayangku padamu masih kalah oleh ego. Aku menangisi keputusanmu, keputusanmu untuk menerima pria lain untuk membahagiakanmu. aku tahu itu dari seorang kawan yang juga kawanmu. Betapa sakit jiwaku, rasanya seperti dicabik perlahan-lahan. Sakit dan perih. Aku menahan sakit yang tak kunjung padam, hidupku linglung, hatiku luka, mataku sayu, semangatku padam dan segala rupa keromantisan novel remaja seakan mengejek. Aku tahu ini salahku sendiri dan aku pun paham luka ini mesti aku sendiri yang mengakhiri. Luka ini akan berhenti perih jika aku berhenti mengingatmu.
Kisah ini punya akhir.
Ya, aku selalu percaya kisah yang baik harus punya akhir. Bukan berarti Happy Ending ala Disney. Karena Lemony Snicket dan Solzhenitsyn mengajarkanku untuk tak berharap pada akhir bahagia-namun tetap- kepalaku yang keras, ogah belajar dari kitab-kitab. Sehingga kemudian aku bertanya “Bagaimana cara mencintai angin yang menolak tunduk dan hanya hendak berhembus tunggang langgang tanpa sekat? Bukankah kau serupa udara yang bersifat Omnipresent? Tak mau di ikat dan terbang bebas. Dan semakin mengingat aku semakin luka. Ah entahlah biar luka ini aku yang tanggung, aku memang menutup mata, kau tau? Karena ku pikir kau tak akan kehilangan aku. Ya, kau dan temanmu yang banyak, hidupmu yang riuh, dan cintamu yang luas. Kau tak akan kehilangan aku. Aku si bungkuk buruk rupa dalam kisah karya Victor Hugo. Yang hanya bisa mencintai dengan jalan yang paling sunyi.
Ini mungkin akan menyakitkan..
Aku tahu, ini menyakitkan. Tapi obat yang baik selalu pahit. Ingatan tentang mu datang serupa banjir bandang, yang wussshhh wussshhh datang tanpa mampu dihentikan tapi kemudian Dor! Hilang begitu saja. Tapi sebelum peri-peri yang baik membuang semua ingatanmu ke dalam botol kecap, aku tetap mau berkisah. Kisah tentang ingatan kamu. Mungkin kau lupa, tapi aku selalu ingat.
Pilihan katanya genius. Serrr-serrr-an saya bacanya.. Paling suka paragraf yang ada kalimat. "Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak membutuhkan sikap aposteriori."
BalasHapus