Jumat, 20 Agustus 2010

Kenangan Dalam Botol


Pada awalnya adalah ingatan.

Kamu selalu tahu bahwa aku membenci matahari yang terlalu terik datang di waktu musim hujan. Karena aku suka hujan. Oh mungkin aku lupa bilang. Karena waktu yang menembus bilik-bilik ingatan membuatku lupa apa saja yang telah kulepas dari mulutku ini. Mungkin kata atau umpatan. Aku lupa, mungkin karena sangat ingin lupa, peri-peri yang menjaga sungai kenangan mengabulkan inginku. Tetapi di hari terik ini entah kenapa ingatan tentangmu datang lagi.

Kenapa selalu tentang ingatan?

Aku mau berkisah tentang ingatan, yang kusimpan rapi dalam kertas dan kumasukan dalam botol kecap tebal. Kisah tentang ingatan yang segar berumur sewindu purnama. Dalam kisah itu sebagian besar tentang kamu, tentang kita dan sedikit tentang hal-hal yang kita sukai. Ingatan itu masih kusimpan rapi dalam botol, bukan karena aku sentimentil. Tapi aku tak tahu cara menghancurkannya. Aku mau ingatan itu hilang tapi setiap kubuang, selalu kembali dengan cara yang sama. Dengan pita merah dan sepucuk surat tertulis “kumohon jangan kau buang”.

Aku terdiam tolol dan kembali menyimpan ingatan itu.

Ingatan itu menyakitkan, karena ia bercerita tentang kamu. Tentang senyum yang lepas, tentang rindu yang tebal, dan tentang lubang besar yang hilang. Dimana semantik-semantik cinta yang mulai bertunas? (Apa hakku mengatakan itu cinta dan bukan nafsu?) Itu sudah dikubur, semenjak kau dan aku saling menyakiti. Saat aku berdusta tentang banyak wanita dan kau berkata tentang seorang pria. Aku menolak menangis tapi air dalam kantung mataku deras turun. Kau tidak tahu, karena aku tak mau kau tahu. Itu menyakitkan.

Kapan rasa sakit itu dimulai?

Di tengah bulan November yang panas, yang gerah. (Kenapa selalu gerah dan panas?) Kenangan remeh temeh tentang betapa kamu yang memakai baju putih dan rok hitam itu begitu purna. Ingatkah kau? Bukankah aku berjumpa kau dalam sebuah ruangan penuh dengan manusia, tetapi kenapa hanya kau yang tinggal dan di ingat? Dimana kemudian kau datang kepada sarang buas dimana nalar dan kebebasanku di buai. Kita bertemu lagi untuk yang kedua, (saat itu aku yakin ini jodoh) awal perkenalan kita biasa saja. Aku pun sebenarnya hanya suka, tak jatuh kagum barang sedetik. Tapi nanti kau pun akhirnya ajarkan aku betapa kau itu begitu menarik. Saat itu kau tetap begitu purna meski kusam dan berkeringat. (Dan itu awal mula Aku benci matahari Terik!)

Aku selalu ingat. Tapi entah kau.

Aku ingat sedikit jalan-jalan di kota ini, yang basah setelah hujan. Tentang awal tinggal dirimu di sebuah induk semang. Bukankah kawanku yang menghantarkanmu? Tentu kau masih ingat padanya. Tapi kau bilang kau bosan, kau tak suka, kau tak suka dilarang bermain di loteng. Tentu aku ingat kau suka bermain di Loteng. (Ah aku tak pernah tahu sedalam apa hubunganmu dengan gravitasi). Kau selalu suka tempat tinggi. Aku membutuhkanmu. Aku butuh perempuan tangkas yang tak bisa diam, yang tak peduli kulit hitam karena berjalan panas. Perempuan yang berebut membaca buku Raditya Dika, setelah semalaman berdebat mana yang lebih baik dari Manikebu dan Lekra, perempuan yang memaksaku mengantri nonton laskar pelangi dan menangis menghukat nasib Lintang yang suram, perempuan yang teguh bilang Kerispatih itu keren meski kau tau aku jelas-jelas memandang mereka najis haram, Perempuan yang menolak patriarki tetapi begitu senewen minta di manjakan, Perempuan yang mau repot memasak, belajar membikin kue dan memaksaku untuk memakannya. Terus dan terus dan terus sampai aku bilang kue bikinanmu enak. Lalu kau tersenyum puas. Kemandirian yang dibangun atas semangat kepanduan, (hei pernahkah ku bilang aku juga penganut dasa dharma dan tri satya pramuka?) yang baru kuketahui belakangan kau adalah pandu perempuan paling manis yang pernah kukenal. Terpujilah sir Robert Baden Powell ujarku tiga kali.

Itu kamu, yang membuat saya luluh.

Kemudian kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu? Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian bertegur kata. Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara, lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan. Karena ia tak pernah melihat momen ini sebagai hal paling kudus dalam hidup. Ia dengan kata sederhana meruntuhkan menara Babilon dalam diriku, memporak-porandakan peradaban patriarki ala Sparta. Hingga aku lengser di ujung rupa penjelmaan si pendobrak Artemis yang menitis dalam dirimu. Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak membutuhkan sikap aposteriori. Tidak perlu Kant untuk membuktikannya. Karena itu wajib dan semua yang wajib hukumnya Fardhu! Itu bukan monopoli titah wahabi tapi semua umat yang pake embel-embel agama di KTP nya. Dan di ujung hari aku bertakbir Amor Platonicus!

Aku rindu kau dalam banyak bahasa.

Keberanian untuk mengucap rindu itu lahir dari rahim-rahim biner dalam layar ponsel buatan Bavaria. Ya aku kemudian berani untuk mengambil resiko jatuh sayang padamu. Ya serupa nyali Perseus yang memusnahkan Kraken, aku putuskan untuk mengenalmu, mengejarmu, dan berusaha memilikimu. Aih? Tidak, kau bukan untuk dimiliki, kau bukan benda, kau lebih luhur dari padan kata surga dan suci sekaligus. Meraih ya meraih, sehingga keberadaanku kau akui, aku akan meraih predikat itu. Aku mulai berani bertukar sapa dalam jejaring provider seluler. Karena menatapmu langsung akan membuatku ringkih, lemah dan tak berdaya. Sedikit demi sedikit aku membangun sedimen keberanian untuk bertemu denganmu, mengajakmu makan di kaki lima tanpa takut diare atau hepatitis. Aku selalu kagum atas sikapmu yang tak ambil pusing, acuh diri dan penampilan. Itulah kamu, tidak perlu rapal mantra aji jaran goyang atau puji laku pengasihan. Hatiku ini rontok untukmu! Sedikit demi sedikit dalam diri ini terpatri sebuah sarkofagus, dengan ikrar. Hingga pada batas masa penciptaan yang diakhiri 4 penunggang kuda, aku tak akan menyesali keputusan ini. Keputusan untuk jatuh sayang, meski akhirnya sangat perih.

Hujan adalah kenangan yang pecah

Seperti hujan, ingatanku tentangmu itu mendung, basah, dingin dan pecah. Tetapi sampai detik ini aku masih jatuh sayang. Bukankah sayang itu pamrih? Ia memintaku tetap ingat sebagai imbalan jatuh sayangku padamu. Tentu kau ingat saat kuminta kau masak? Ya masak, kau bilang kau bisa masak, aku tak percaya, kau bilang coba saja, kujawab buktikan, dan esoknya kau bawakan aku makan. Dan sungguh aku tak percaya kenikmatan kaviar atawa escargot deux ala paris mampu menandingi kesederhanaan masakanmu. Kau memang bukan Farah Quin, tetapi masakanmu jujur, sejujur mata terang berbinar serupa bintang saat kubilang masakanmu enak. Lain waktu kau bilang kau bikin kue, sedikit gosong, tak apalah, karena itu yang masak kau, pare mentah pun kulahap (semakin gombal, tapi benar kata Iwan Fals, cuma orang yang sedang goblog yang tak gombal bersamamu). Kau adalah dualisme Durga, kau begitu gagah dilapangan dengan bola ditangan, tapi kau juga selalu menangis karena takut gelap. Iya, aku masih ingat. Kau sengaja menelponku sesaat sebelum tengah malam, karena ingin pipis tapi takut gelap. Kubilang pergi. Kau bilang gelap, kau takut. Ya sudah aku temani, kau memaki bagaimana bisa? Kujawab bisa, hidupkan lampu! Dan kau tertawa dengan suara manis.

Aku selalu suka suaramu.

Gendud kau panggil aku. Aku memang gendut, tapi aku suka gendut. Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan ujar Rendra mesra, kau pun begtu Juwitaku. Aku begitu kagum pada dawai suara yang rentak keluar dari bibir mungilmu. Dan suara itu yang kadang membuatku mabuk kepayang. Aih! Tak sadarkah kau suaramu itu seperti nyanyian Requiem yang dirindukan serdadu sekarat di padang mashyar? Oh ini bukan seram, ini kesungguhan sayang, ini adalah suara pembebasan. Apalagi yang dirindukan orang serkarat selain kematian yang agung? Dan aku rela mati dalam tebasan suaramu di riuh rendah Valhala, menunggu kedatangan kurir Valkyrie! Suaramu adalah rindu yang ditahan waktu pada saat permulaan masa. Dan yakinlah duhai Juwita hitam manis, derai angin dari kotamu tak akan mampu merengkuh indah khalam suaramu.

Hingga kau kusakiti…

Zuhud dalam keterbatasan membuatku mudah cemburu, sinis, peka, kejam, paranoid, pesimis, posesif, fanatis, banal, scizophrenic dan jahil. Aku pada dasarnya adalah mahluk lemah yang bersembunyi pada setumpuk tebal buku-buku yang tak lunas di mengerti. Hanya pada pengetahuan yang setengah aku berani bergaya. Aku cemburu atas semua kelebihanmu, kemandiranmu, pesonamu, kebaikan hatimu, perangaimu, olah lakumu, bahasamu, suaramu, wajahmu, sikapmu, marahmu, cemberutmu, tawamu dan yang paling utama, aku benci bakatmu untuk dicintai. Itulah dengki, dosa yang mengutuk iblis dalam pengasingan, dengki karena yang Maha Agung mencintai Adam lebih dari Iblis. Aku dengki atas kelebihanmu, aku cemburu atas cintamu yang luas, aku marah pada sikapmu yang adiluhung!

Aku menyayangimu dengan cara yang bodoh

Kuakui itu, aku adalah pria bodoh yang menukar emas dengan seonggok tahi. Aku rela menukar keberadaanmu demi sekerat ego. Aku dan egoku yang setolol Duryudana! Aku mulai menyakitimu dengan kata-kata kasar. Kata-kata yang keluar tanpa tendeng aling-aling. Kata-kata rusuh yang muncul dari pikiran primitif. Sikapku yang kasar dan perangaiku yang buruk. Akulah Caligula, manusia yang gila karena kehilangan cinta. Tapi itu tak memberikan pembenaran atas sikapku yang bodoh, ucapanku yang keji dan tingkahku yang menjijikan. Aku hanya tak tahu cara menyayangimu, nafsu memiliki yang membuncah serupa api yang membakar nalarku. Saat ku tahu kau dekat dengan seorang pria. Kecemburuan itu datang perlahan, menyusup perlahan dan membakar bara dalam hatiku. Aku cemburu dan aku bodoh! Sungguh, kau boleh merajamku dengan sejuta sayat paku yang direnda racun laba-laba Black Widow yang perih itu. Andai bisa menyuap betara Kala untuk mengulang waktu, maka rela kuruntuhkan Jonggring Soloka beserta isinya! Tapi tak pernah ada andai yang terkabul dalam hidup manusia. Andai tetap menjadi andai.

Keangkuhan yang luntur

Pada malam-malam suci dimana sebuah kitab umat di turunkan aku bergumam. “sedang apa kau? Sudahkah kau bahagia? Apakah kau mendapat jawab atas doa-doamu?”. Hanya angkuh ruang dan dengki yang menahanku untuk lari berontak melihatmu. Untuk memastikan kau tersenyum dan baik-baik saja. Tapi apa daya, rupanya sayangku padamu masih kalah oleh ego. Aku menangisi keputusanmu, keputusanmu untuk menerima pria lain untuk membahagiakanmu. aku tahu itu dari seorang kawan yang juga kawanmu. Betapa sakit jiwaku, rasanya seperti dicabik perlahan-lahan. Sakit dan perih. Aku menahan sakit yang tak kunjung padam, hidupku linglung, hatiku luka, mataku sayu, semangatku padam dan segala rupa keromantisan novel remaja seakan mengejek. Aku tahu ini salahku sendiri dan aku pun paham luka ini mesti aku sendiri yang mengakhiri. Luka ini akan berhenti perih jika aku berhenti mengingatmu.

Kisah ini punya akhir.

Ya, aku selalu percaya kisah yang baik harus punya akhir. Bukan berarti Happy Ending ala Disney. Karena Lemony Snicket dan Solzhenitsyn mengajarkanku untuk tak berharap pada akhir bahagia-namun tetap- kepalaku yang keras, ogah belajar dari kitab-kitab. Sehingga kemudian aku bertanya “Bagaimana cara mencintai angin yang menolak tunduk dan hanya hendak berhembus tunggang langgang tanpa sekat? Bukankah kau serupa udara yang bersifat Omnipresent? Tak mau di ikat dan terbang bebas. Dan semakin mengingat aku semakin luka. Ah entahlah biar luka ini aku yang tanggung, aku memang menutup mata, kau tau? Karena ku pikir kau tak akan kehilangan aku. Ya, kau dan temanmu yang banyak, hidupmu yang riuh, dan cintamu yang luas. Kau tak akan kehilangan aku. Aku si bungkuk buruk rupa dalam kisah karya Victor Hugo. Yang hanya bisa mencintai dengan jalan yang paling sunyi.

Ini mungkin akan menyakitkan..

Aku tahu, ini menyakitkan. Tapi obat yang baik selalu pahit. Ingatan tentang mu datang serupa banjir bandang, yang wussshhh wussshhh datang tanpa mampu dihentikan tapi kemudian Dor! Hilang begitu saja. Tapi sebelum peri-peri yang baik membuang semua ingatanmu ke dalam botol kecap, aku tetap mau berkisah. Kisah tentang ingatan kamu. Mungkin kau lupa, tapi aku selalu ingat.

1 komentar:

  1. Pilihan katanya genius. Serrr-serrr-an saya bacanya.. Paling suka paragraf yang ada kalimat. "Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak membutuhkan sikap aposteriori."

    BalasHapus