Jumat, 15 Februari 2013

Gombrich, My Bloody Valentine dan Sederet Klaim


Ketika kritikus seni paripurna penyusun Story of Art, E H Gombrich, berbicara perihal propaganda, ia bicara tentang sebuah kemajemukan yang lahir dari bisik-bisik dan desas desus. Bahwa kesenian (tak terbatas pada seni rupa saja) bisa saja lahir dari klaim yang dibikin seseorang. Bisa juga lahir dari keisengan dan rasa bosan. Sebut saja suara-suara sengau nir melodik yang dilahirkan oleh My Bloody Valentine (MBV) yang diklaim sebagai sebuah pencapaian jenius dari kebosanan monoton warna musik pada zamannya.

Tapi benarkah demikian?

Awal Februari lalu Kevin Shields cumsuis merilis album yang bertajuk m b v setelah dua dekade mengambang antara ada dan tiada. Album yang oleh beberapa kritikus musik, dengan nada seloroh, mampu menyelamatkan dunia dari akhir zaman. Klaim ini bukan sembarangan. Setidaknya ketika The Quietus merilis review atas musik yang dianggap sebagai “sesuatu yang segar dan berbeda” lantas dilanjutkannya dengan bahasa khas agitasi propagandis lainnya sebagai “penantian menahun yang lunas terbayarkan” beberapa orang membenarkannya.

Dengan klaim semacam ini tak salah jika m b v digadang-gadang sebagai album terbaik sepanjang awal tahun 2013. Setidaknya bagi mereka penganut teologi urban, shoegaze. yang memuja anxiety, nausea, sesak nada dan bising yang bertalu. MBV bisa jadi adalah penggambaran mutlak nubuat ratu adil dari usangnya genre ini dikebiri keturunan mereka sendiri. Setelah post rock, yang akhir-akhir ini berkembang menjadi skena yang lebih genit dari emo, membuat shoegaze tak lebih dari artefak kuno. Generasi hari ini yang melewatkan kejayaan Slint dan Tortoise, akan menganggap MBV hanya sekedar repetoar membosankan.

Tapi mereka lalai. Kevin Shields, Bilinda Butcher, Debbie Googe dan Colm Ó Cíosóig telah lama menjadi mitos ketika terma shoegaze dilahirkan.

Tentu sebagai fans generik shoegaze yang baru berkenalan dengan genre ini tiga tahun lampau saya tak punya kapasitas untuk melakukan sebuah kritik. Apalagi juga karena MBV adalah salah satu dari sederet band yang menyelamatkan saya dari kedunguan taste MTV dan chart ampuh manapun. Tapi pekik takbir tak mungkin tak saya ucapkan ketika dua hari setelah rilis, piratebay sudah menyediakan tautan m b v secara cuma-cuma. Tanpa membuang waktu saya segera memutar album ini dengan headphone terbagus untuk bisa menikmati musik ini secara total.

Telaah seusai dua dekade

She Found Now membuka album ini dengan bisik lirih harapan. Dentuman drum repetitif yang memulai lagu ini dijamin membuat motivator manapun terpuruk murung. Apalagi ditambah dengan rengekan gitar yang dipetik malas-malas. Wajah lagu ini memang dibuat sumbing untuk mengingatkan betapa membosankannya nuansa pop dari artis karbitan youtube hari ini. Akhirnya saya bisa percaya mitos yang mengatakan bahwa Kevin Shields bisa menghabiskan waktu seharian untuk memutar dan mencari tone nada yang sesuai hanya untuk memulai rekaman lagu.

Kevin Shields bersama MBV sudah kepalang brengsek perihal menciptakan suara-suara asing serupa igauan mesin apokaliptik akhir zaman. Ia barangkali adalah berhala yang luput dihancurkan internet. Klise ini bisa digambarkan secara literer melalui sembilan nomor lagu dalam album ini. Meminjam terma Auratic ala Walter Benjamin. Pada album ini keterlepasan harapan untuk memahami musik sudah bukan lagi acuan. Mereka membuat karya hanya untuk memuaskan ego pribadi sebagai umpatan kepada pendengar apakah mereka memahaminya atau tidak.

Coba saja dengarkan nothing is yang berisi repetisi beberapa baris nada yang dilakukan dengan persis sama selama tiga menit 12 detik, lantas ditutup dengan suara perkusi yang terbengkalai. Maka diktum Gombrich yang berkata tak pernah ada seni yang ada hanya seniman adalah upaya melanggengkan berhala-berhala. Tak peduli karya apa yang lahir, tapi siapakah yang melahirkan. MBV dalam hal ini memberhalakan Kevin Shields. Sehingga untuk melepaskan dua nama yang tumpang tindih ini hampir mustahil.

Meskipun terasa memuakan akibat pekatnya lapisan noise yang menjadi struktur utama album ini. Namun dalam m b v kita bisa menemukan humor yang kecut. Coba tengok narasi lembut if I am, yang lamat-lamat berbicara perihal jatuh cinta. Tak perlu memahami semiotika untuk menyadari bahwa kita bisa berdansa dengan aneh sambil menikmati lagu ini. Juga tak perlu berusaha terlalu keras untuk mengambil jarak dari apa yang sudah kita sepakati sebagai sengau bertutur.

Lantas bagaimana seharusnya m b v dimaknai sebagai sebuah karya estetik? Sekali lagi mau tak mau saya harus meminjam terma usang Gombrich ‘the riddle of style’ dalam Art and Illusion and The Image and the Eye. Bahwa sebenarnya ketika sebuah karya seni tak bisa langsung dinikmati secara kasat mata (dalam hal ini kasat telinga) maka perlu adanya usaha penafsiran. Kita dalam hal ini menempatkan orang-orang yang dianggap sebagai kritikus (musik) untuk memberikan penjelasan. Perihal apa itu shoegaze, mengapa m b v penting dan lebih lagi mengapa ia wajib didengarkan.

Beberapa kritikus menempatkandiri mereka seperti Oracle yang meramalkan masa depan dengan metafora yang justru membuat m b v tadi jatuh pada kategori fine art. Tapi perlu diingat terma fine art atawa seni tinggi akan membuat para pemirsanya adalah kalangan terbatas. Hanya mereka yang benar-benar terdidik pengetahuannya terhadap shoegaze itu sendiri yang memahami. Sehingga mereka yang baru berkenalan akan susah menelan dan mencerna kata dan definisi yang berkelindan di antaranya.

Melanggengkan MBV sebagai sebuah kanon dengan kata-kata berat hanya akan melahirkan elitisme baru. Tapi memahaminya tanpa memiliki pemahaman yang baik perihal skena yang berkembang secara pretensius seusai gema glam rock adalah kesia-siaan. Musik gelap nan muram ini bukan lahir tanpa alasan. Ketika Isn’t Anything dirilis akhir 1 Nopember 1988. Dua tahun berturut-turut setelahnya Inggris mengalami tragedi. Seolah musik ini secara profetik meramalkan kedukaan bagi korban terbaliknya kapal Zeebrugge, terbakarnya kilang minyak Piper Alpha, peledakan Pan Am Flight 103, dan tragedi stadion Hillsborough.

Tapi apakah m b v sehebat itu? Tunggu dulu. Dalam tulisan lain Idhar Resmadi yang mendedah Post Rock  lantas mencetuskan sebuah perbincangan yang menarik. Ketika ia menawarkan konsep “kata sebagai pesan” dan “musik sebagai pesan”. Saya menilai dua terma ini tidak bisa atau belum mampu menjabarkan album baru MBV secara utuh. Kebisingan, suara asing dan keterlepasan saya kira adalah kunci untuk memahami album ini. Sehingga perlu adanya terma ketiga “bunyi sebagai pesan” adalah yang paling tepat.

Terma yang sama juga pernah lahir dari kumpulan esai dari Hartojo Andangdjaja yang berjudul dari sunyi ke bunyi. Kesunyian yang mewakili keterasingan dalam album ini lahir dari jeda dentuman drum pada tiga lagu terakhir album m b v.  Suara lengkingan gitar yang seolah ditarik pada Wonder 2 membuat saya seolah menikmati sensasi astral melepaskan diri ketika mendengarkannya seraya menutup mata. Perasaan sublim yang kental menggeliat seperti hendak keluar dengan teburu-buru.

Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua. Ketika Shoegaze berupaya bereksperimen dengan bunyi, seperti yang diadopsi oleh Godspeed You Black Emperor dan Neurosis, penikmat musik tradisional lebih berusaha memahami notasi nada daripada bunyi eksperimental. Jika tak benar-benar tekun maka indiegarden manapun akan terpental ketika pertama kali menikmati lagu MBV. Di sini perlu pengantar yang baik mengapa percobaan menciptakan suara-suara bising adalah sebuah karya adiluhung. Kesunyian yang pekat dipadu dengan kebisingan yang rapat.

Sementara In Another Way terlepas dari karakteristik gegas pada notasinya adalah sebuah lagu dengan syair yang paling subtil "Close enough to be alive / So it feels lost"  ada pernyataan hidup yang kemudian coba dinegasikan. Lebih lanjut syair itu berulang dengan kata arkaik semacam "Another way to settle down / I'll live forever / Another life," tak perlu tafsir dari Goenawan Mohammad untuk meyakini bahwa lagu ini adalah perihal kematian yang lekat dan harapan.

Preposisi Propaganda

Selain pada syair, kekuatan utama dari MBV adalah pada ketidakteraturan suara dan nada yang justru menciptakan musikalitas yang unik. Pengalaman mendengarkan ini akan secara transenden menjadi sangat intim bagi masing masing individu. Ben Cosgrove, editor life.com, mengungkapkan musik dalam album ini sebagai “getting closer to the heart of the sonic mystery they’ve been pursuing for most of their lives, and it’s mesmerizing to accompany them on the hunt.” Berlebihan? Tentu saja. Tapi sekali lagi pengalaman relijius dalam mendengarkan musik selalu personal.

Kesederhanaan juga adalah rumus penting yang jarang dilewatkan MBV dalam setiap karyanya. Gombrich dalam sebuah artikel menyebut kejeniusan ini sebagai sebuah upaya yang berat. Tapi ketika kesederhanaan ini mampu dirumuskan dengan baik, i akan lahir sebagai promosi murah dan efektif. “To make things ‘plain appear’ simply and silently,” kata Gombrich, “has sometimes been the most powerful effect of great propaganda artists.

Tapi seberapa penting sebuah propaganda? Dalam kasus MBV ia bicara tentang sebuah band yang bungkam vakum selama 22 tahun. Mereka butuh dari sebuah reputasi sebagai santo Shoegaze untuk kembali hadir dan diterima oleh telinga hari ini. Paska kematian Napster dan kedigdayaan I Tunes musisi berusaha mencari cara paling singkat dan murah untuk menjajakan karya mereka. Termasuk juga MBV yang menyadari bahwa internet sebagai ruang publik bisa menjadi beranda tempat mereka berdagang.

Berbulan sebelum akhirnya m b v rilis, desas-desus disiarkan, kabar dibagi, dan ruang diskusi dibangun. Bahwa album MBV kali ini adalah sebuah revisi atau katakan versi 2.0 dari Loveless. Semua so called pengamat yang kebetulan lahir dan besar ketika kejayaan shoegaze tergoda. Album seminal yang menjadi revisi dari Loveless? Mimpi basah ini membuat banyak zine dan penikmat musik menjadi terbata dan lena dalam fantasinya masing-masing.

Bukan berarti saya menihilkan peran kreatif MBV. Namun di tengah deru kebiadaban layanan peer to peer bahkan Goliath sebesar MBV juga butuh makan. Para indiegarden yang baru barangkali akan kesulitan untuk memahami bising nada yang dihasilkan band asal London ini. Tapi kekuatan social media juga lahirnya kritikus-kritikus musik bonafid, yang cenderung sudah akrab pada band ini, membuat Kevin Shields semacam the lost ark.

Apalagi ketika kolumnis the noisey, John Doran, menuliskan review pendek bagaimana Tony Blair, yang mencanangkan Cool Britania, akan menolak perang Iraq jika m b v tak terlambat dirilis. Internet, terutama para cyber snobs, bergelinjang. Klaim maha dahsyat ini memang mirip teori konspirasi ala FPI ketika melihat eyes of Horus dalam video clip Ahmad Dhani. Propaganda murah, cult-isme, dan keengganan MBV bersuara adalah promosi jitu untuk mendongkrak pamor band yang hampir tenggelam ditelan zaman ini.

Pada zaman ketika informasi adalah akses pada kekuatan. Evgeny Morozov meramalkan internet sebagai “quasi-religion of Internet-centrism” label ultra tendensius untuk menggambarkan betapa spin doctor alias penggoreng isu mampu membuat sebuah hal sepele menjadi perdebatan sengit. Twitter, Facebook, Tumbler dan segala social media yang berbasis real time akan menjadi kawah candradimuka informasi. Manusia tak lagi sempat memilah mana yang benar dan salah. Bahkan seringkali di Twitter, seseorang akan menelan bulat sebuah tajuk berita tanpa menelaah isinya.

Di sini barangkali keberuntungan (atau kejeniusan?) Kevin Shields dan MBV yang memanfaatkan internet ketika mereka merilis album dijital mereka. Menyadari bahwa kita tak bisa berharap banyak pada label dan distributor, seorang musisi bisa memanfaatkan kecangihan internet untuk menjual karya mereka secara otonom. Bebas pemotongan manajer atau biaya promosi. Fans, seperti saya, akan suka rela mengabarkan betapa m b v adalah magnum opus lainnya. Tentunya hal ini akan mempengaruhi pendengar lain untuk segera membeli album tersebut.

Sekali lagi ramalan Gombrich bahwa sebuah karya seni akan berbicara sendiri, ketika penciptanya mampu memberikan sebuah pandangan yang membuka. Bahwa kesenian yang sederhana adalah karya yang akan menjadi propaganda paling awet dan mutakhir. Dalam hal ini m b v telah menjadi legenda bahkan sebelum ia dilahirkan. Tapi secara musikalitas? Well saya jelas tak akan menjadikan album ini sebagai lagu pernikahan saya. Mumford and Sons lebih dari romantis untuk peran itu,

2 komentar: