Ketika kritikus seni paripurna
penyusun Story of Art, E H Gombrich,
berbicara perihal propaganda, ia bicara tentang sebuah kemajemukan yang lahir
dari bisik-bisik dan desas desus. Bahwa kesenian (tak terbatas pada seni rupa
saja) bisa saja lahir dari klaim yang dibikin seseorang. Bisa juga lahir dari keisengan
dan rasa bosan. Sebut saja suara-suara sengau nir melodik yang dilahirkan oleh
My Bloody Valentine (MBV) yang diklaim sebagai sebuah pencapaian jenius dari
kebosanan monoton warna musik pada zamannya.
Tapi benarkah demikian?
Awal Februari lalu Kevin Shields
cumsuis merilis album yang bertajuk m b v setelah dua dekade mengambang antara
ada dan tiada. Album yang oleh beberapa kritikus musik, dengan nada seloroh,
mampu menyelamatkan dunia dari akhir zaman. Klaim ini bukan sembarangan.
Setidaknya ketika The Quietus merilis review atas musik yang dianggap sebagai “sesuatu yang segar dan berbeda” lantas dilanjutkannya dengan bahasa khas agitasi propagandis
lainnya sebagai “penantian menahun yang lunas terbayarkan” beberapa orang
membenarkannya.
Dengan klaim semacam ini tak salah jika m b v digadang-gadang sebagai album terbaik
sepanjang awal tahun 2013. Setidaknya bagi mereka penganut teologi urban,
shoegaze. yang memuja anxiety, nausea, sesak nada dan bising yang
bertalu. MBV bisa jadi adalah penggambaran mutlak nubuat ratu adil dari
usangnya genre ini dikebiri keturunan mereka sendiri. Setelah post rock, yang
akhir-akhir ini berkembang menjadi skena yang lebih genit dari emo, membuat shoegaze tak lebih dari artefak kuno. Generasi
hari ini yang melewatkan kejayaan Slint dan Tortoise, akan menganggap MBV
hanya sekedar repetoar membosankan.
Tapi mereka lalai. Kevin Shields, Bilinda Butcher, Debbie Googe dan Colm Ó Cíosóig telah lama menjadi mitos ketika terma shoegaze dilahirkan.
Tentu sebagai fans generik
shoegaze yang baru berkenalan dengan genre ini tiga tahun lampau saya tak punya
kapasitas untuk melakukan sebuah kritik. Apalagi juga karena MBV adalah salah
satu dari sederet band yang menyelamatkan saya dari kedunguan taste MTV dan
chart ampuh manapun. Tapi pekik takbir tak mungkin tak saya ucapkan ketika dua
hari setelah rilis, piratebay sudah menyediakan tautan m b v secara cuma-cuma.
Tanpa membuang waktu saya segera memutar album ini dengan headphone terbagus
untuk bisa menikmati musik ini secara total.
Telaah seusai dua dekade
She Found Now membuka album ini dengan bisik lirih harapan.
Dentuman drum repetitif yang memulai lagu ini dijamin membuat motivator manapun
terpuruk murung. Apalagi ditambah dengan rengekan gitar yang dipetik
malas-malas. Wajah lagu ini memang dibuat sumbing untuk mengingatkan betapa
membosankannya nuansa pop dari artis karbitan youtube hari ini. Akhirnya saya
bisa percaya mitos yang mengatakan bahwa Kevin Shields bisa menghabiskan waktu
seharian untuk memutar dan mencari tone nada yang sesuai hanya untuk memulai
rekaman lagu.
Kevin Shields bersama MBV sudah kepalang
brengsek perihal menciptakan suara-suara asing serupa igauan mesin apokaliptik
akhir zaman. Ia barangkali adalah berhala yang luput dihancurkan internet. Klise
ini bisa digambarkan secara literer melalui sembilan nomor lagu dalam album ini.
Meminjam terma Auratic ala Walter Benjamin. Pada album ini keterlepasan
harapan untuk memahami musik sudah bukan lagi acuan. Mereka membuat karya hanya
untuk memuaskan ego pribadi sebagai umpatan kepada pendengar apakah mereka
memahaminya atau tidak.
Coba saja dengarkan nothing is yang berisi repetisi beberapa
baris nada yang dilakukan dengan persis sama selama tiga menit 12 detik, lantas
ditutup dengan suara perkusi yang terbengkalai. Maka diktum Gombrich yang
berkata tak pernah ada seni yang ada hanya seniman adalah upaya melanggengkan
berhala-berhala. Tak peduli karya apa yang lahir, tapi siapakah yang
melahirkan. MBV dalam hal ini memberhalakan Kevin Shields. Sehingga untuk
melepaskan dua nama yang tumpang tindih ini hampir mustahil.
Meskipun terasa memuakan akibat pekatnya
lapisan noise yang menjadi struktur utama album ini. Namun dalam m b v kita bisa
menemukan humor yang kecut. Coba tengok narasi lembut if I am, yang lamat-lamat berbicara perihal jatuh cinta. Tak perlu
memahami semiotika untuk menyadari bahwa kita bisa berdansa dengan aneh sambil
menikmati lagu ini. Juga tak perlu berusaha terlalu keras untuk mengambil jarak
dari apa yang sudah kita sepakati sebagai sengau bertutur.
Lantas bagaimana seharusnya m b v
dimaknai sebagai sebuah karya estetik? Sekali lagi mau tak mau saya harus
meminjam terma usang Gombrich ‘the riddle
of style’ dalam Art and Illusion and
The Image and the Eye. Bahwa sebenarnya ketika sebuah karya seni tak bisa
langsung dinikmati secara kasat mata (dalam hal ini kasat telinga) maka perlu
adanya usaha penafsiran. Kita dalam hal ini menempatkan orang-orang yang
dianggap sebagai kritikus (musik) untuk memberikan penjelasan. Perihal apa itu
shoegaze, mengapa m b v penting dan lebih lagi mengapa ia wajib didengarkan.
Beberapa kritikus menempatkandiri mereka seperti Oracle yang
meramalkan masa depan dengan metafora yang justru membuat m b v tadi jatuh pada
kategori fine art. Tapi perlu diingat
terma fine art atawa seni tinggi akan
membuat para pemirsanya adalah kalangan terbatas. Hanya mereka yang benar-benar
terdidik pengetahuannya terhadap shoegaze itu sendiri yang memahami. Sehingga
mereka yang baru berkenalan akan susah menelan dan mencerna kata dan definisi
yang berkelindan di antaranya.
Melanggengkan MBV sebagai sebuah
kanon dengan kata-kata berat hanya akan melahirkan elitisme baru. Tapi
memahaminya tanpa memiliki pemahaman yang baik perihal skena yang berkembang
secara pretensius seusai gema glam rock adalah kesia-siaan. Musik gelap nan
muram ini bukan lahir tanpa alasan. Ketika Isn’t Anything dirilis akhir 1
Nopember 1988. Dua tahun berturut-turut setelahnya Inggris mengalami tragedi.
Seolah musik ini secara profetik meramalkan kedukaan bagi korban terbaliknya
kapal Zeebrugge, terbakarnya kilang minyak Piper Alpha, peledakan Pan Am Flight
103, dan tragedi stadion Hillsborough.
Tapi apakah m b v sehebat itu? Tunggu dulu. Dalam tulisan lain Idhar Resmadi yang mendedah Post Rock lantas mencetuskan sebuah perbincangan yang menarik. Ketika ia menawarkan konsep “kata sebagai pesan” dan “musik sebagai pesan”. Saya menilai dua terma ini tidak bisa atau belum mampu menjabarkan album baru MBV secara utuh. Kebisingan, suara asing dan keterlepasan saya kira adalah kunci untuk memahami album ini. Sehingga perlu adanya terma ketiga “bunyi sebagai pesan” adalah yang paling tepat.
Tapi apakah m b v sehebat itu? Tunggu dulu. Dalam tulisan lain Idhar Resmadi yang mendedah Post Rock lantas mencetuskan sebuah perbincangan yang menarik. Ketika ia menawarkan konsep “kata sebagai pesan” dan “musik sebagai pesan”. Saya menilai dua terma ini tidak bisa atau belum mampu menjabarkan album baru MBV secara utuh. Kebisingan, suara asing dan keterlepasan saya kira adalah kunci untuk memahami album ini. Sehingga perlu adanya terma ketiga “bunyi sebagai pesan” adalah yang paling tepat.
Terma yang sama juga pernah lahir dari kumpulan esai dari Hartojo Andangdjaja yang berjudul dari sunyi ke bunyi. Kesunyian yang mewakili keterasingan dalam album ini lahir dari jeda dentuman drum pada tiga lagu terakhir album m b v. Suara lengkingan gitar yang seolah ditarik pada Wonder 2 membuat saya seolah menikmati sensasi astral melepaskan diri ketika mendengarkannya seraya menutup mata. Perasaan sublim yang kental menggeliat seperti hendak keluar dengan teburu-buru.
Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua. Ketika Shoegaze berupaya bereksperimen dengan bunyi, seperti yang diadopsi oleh Godspeed You Black Emperor dan Neurosis, penikmat musik tradisional lebih berusaha memahami notasi nada daripada bunyi eksperimental. Jika tak benar-benar tekun maka indiegarden manapun akan terpental ketika pertama kali menikmati lagu MBV. Di sini perlu pengantar yang baik mengapa percobaan menciptakan suara-suara bising adalah sebuah karya adiluhung. Kesunyian yang pekat dipadu dengan kebisingan yang rapat.
Sementara In Another Way terlepas dari karakteristik gegas pada notasinya adalah sebuah lagu dengan syair yang paling subtil "Close enough to be alive / So it feels lost" ada pernyataan hidup yang kemudian coba dinegasikan. Lebih lanjut syair itu berulang dengan kata arkaik semacam "Another way to settle down / I'll live forever / Another life," tak perlu tafsir dari Goenawan Mohammad untuk meyakini bahwa lagu ini adalah perihal kematian yang lekat dan harapan.
Preposisi Propaganda
Preposisi Propaganda
Selain pada syair, kekuatan utama dari MBV adalah
pada ketidakteraturan suara dan nada yang justru menciptakan musikalitas yang
unik. Pengalaman mendengarkan ini akan secara transenden menjadi sangat intim
bagi masing masing individu. Ben Cosgrove, editor life.com, mengungkapkan musik
dalam album ini sebagai “getting closer
to the heart of the sonic mystery they’ve been pursuing for most of their
lives, and it’s mesmerizing to accompany them on the hunt.” Berlebihan? Tentu
saja. Tapi sekali lagi pengalaman relijius dalam mendengarkan musik selalu
personal.
Kesederhanaan juga adalah rumus
penting yang jarang dilewatkan MBV dalam setiap karyanya. Gombrich dalam sebuah
artikel menyebut kejeniusan ini sebagai sebuah upaya yang berat. Tapi ketika kesederhanaan
ini mampu dirumuskan dengan baik, i akan lahir sebagai promosi murah dan
efektif. “To make things ‘plain appear’
simply and silently,” kata Gombrich, “has
sometimes been the most powerful effect of great propaganda artists.”
Tapi seberapa penting sebuah
propaganda? Dalam kasus MBV ia bicara tentang sebuah band yang bungkam vakum
selama 22 tahun. Mereka butuh dari sebuah reputasi sebagai santo Shoegaze untuk
kembali hadir dan diterima oleh telinga hari ini. Paska kematian Napster dan
kedigdayaan I Tunes musisi berusaha mencari cara paling singkat dan murah untuk
menjajakan karya mereka. Termasuk juga MBV yang menyadari bahwa internet
sebagai ruang publik bisa menjadi beranda tempat mereka berdagang.
Berbulan sebelum akhirnya m b v rilis,
desas-desus disiarkan, kabar dibagi, dan ruang diskusi dibangun. Bahwa album
MBV kali ini adalah sebuah revisi atau katakan versi 2.0 dari Loveless. Semua so called pengamat yang kebetulan lahir dan besar ketika kejayaan
shoegaze tergoda. Album seminal yang menjadi revisi dari Loveless? Mimpi basah ini membuat banyak zine dan penikmat musik
menjadi terbata dan lena dalam fantasinya masing-masing.
Bukan berarti saya menihilkan
peran kreatif MBV. Namun di tengah deru kebiadaban layanan peer to peer bahkan Goliath sebesar MBV juga butuh makan. Para indiegarden yang baru barangkali akan
kesulitan untuk memahami bising nada yang dihasilkan band asal London ini. Tapi
kekuatan social media juga lahirnya kritikus-kritikus musik bonafid, yang
cenderung sudah akrab pada band ini, membuat Kevin Shields semacam the lost ark.
Apalagi ketika kolumnis the noisey, John Doran, menuliskan review pendek bagaimana Tony Blair, yang mencanangkan Cool Britania, akan menolak perang Iraq jika m b v tak terlambat dirilis. Internet, terutama para cyber snobs, bergelinjang. Klaim maha dahsyat
ini memang mirip teori konspirasi ala FPI ketika melihat eyes of Horus dalam video clip Ahmad Dhani. Propaganda murah, cult-isme,
dan keengganan MBV bersuara adalah promosi jitu untuk mendongkrak pamor band
yang hampir tenggelam ditelan zaman ini.
Pada zaman ketika informasi adalah akses pada kekuatan. Evgeny Morozov meramalkan internet sebagai “quasi-religion of Internet-centrism” label ultra tendensius untuk menggambarkan betapa spin doctor alias penggoreng isu mampu membuat sebuah hal sepele menjadi perdebatan sengit. Twitter, Facebook, Tumbler dan segala social media yang berbasis real time akan menjadi kawah candradimuka informasi. Manusia tak lagi sempat memilah mana yang benar dan salah. Bahkan seringkali di Twitter, seseorang akan menelan bulat sebuah tajuk berita tanpa menelaah isinya.
Di sini barangkali keberuntungan (atau kejeniusan?) Kevin Shields dan MBV yang memanfaatkan internet ketika mereka merilis album dijital mereka. Menyadari bahwa kita tak bisa berharap banyak pada label dan distributor, seorang musisi bisa memanfaatkan kecangihan internet untuk menjual karya mereka secara otonom. Bebas pemotongan manajer atau biaya promosi. Fans, seperti saya, akan suka rela mengabarkan betapa m b v adalah magnum opus lainnya. Tentunya hal ini akan mempengaruhi pendengar lain untuk segera membeli album tersebut.
Sekali lagi ramalan Gombrich bahwa sebuah karya seni akan berbicara sendiri, ketika penciptanya mampu memberikan sebuah pandangan yang membuka. Bahwa kesenian yang sederhana adalah karya yang akan menjadi propaganda paling awet dan mutakhir. Dalam hal ini m b v telah menjadi legenda bahkan sebelum ia dilahirkan. Tapi secara musikalitas? Well saya jelas tak akan menjadikan album ini sebagai lagu pernikahan saya. Mumford and Sons lebih dari romantis untuk peran itu,
Pada zaman ketika informasi adalah akses pada kekuatan. Evgeny Morozov meramalkan internet sebagai “quasi-religion of Internet-centrism” label ultra tendensius untuk menggambarkan betapa spin doctor alias penggoreng isu mampu membuat sebuah hal sepele menjadi perdebatan sengit. Twitter, Facebook, Tumbler dan segala social media yang berbasis real time akan menjadi kawah candradimuka informasi. Manusia tak lagi sempat memilah mana yang benar dan salah. Bahkan seringkali di Twitter, seseorang akan menelan bulat sebuah tajuk berita tanpa menelaah isinya.
Di sini barangkali keberuntungan (atau kejeniusan?) Kevin Shields dan MBV yang memanfaatkan internet ketika mereka merilis album dijital mereka. Menyadari bahwa kita tak bisa berharap banyak pada label dan distributor, seorang musisi bisa memanfaatkan kecangihan internet untuk menjual karya mereka secara otonom. Bebas pemotongan manajer atau biaya promosi. Fans, seperti saya, akan suka rela mengabarkan betapa m b v adalah magnum opus lainnya. Tentunya hal ini akan mempengaruhi pendengar lain untuk segera membeli album tersebut.
Sekali lagi ramalan Gombrich bahwa sebuah karya seni akan berbicara sendiri, ketika penciptanya mampu memberikan sebuah pandangan yang membuka. Bahwa kesenian yang sederhana adalah karya yang akan menjadi propaganda paling awet dan mutakhir. Dalam hal ini m b v telah menjadi legenda bahkan sebelum ia dilahirkan. Tapi secara musikalitas? Well saya jelas tak akan menjadikan album ini sebagai lagu pernikahan saya. Mumford and Sons lebih dari romantis untuk peran itu,
Review yang bagus. :)
BalasHapustulisan yang bagus kawan ...
BalasHapus