Minggu, 10 Februari 2013

Setelah Coldplay

Anatomy of Melancholy karangan Robert Burton, seorang Satiris yang menyebalkan, barangkali ditulis dengan sebuah keresahan. Barangkali juga dengan kesombongan, karena mencoba menjelaskan melankolia dari berbagai sudut perspektif pengetahuan. Tapi apapun sebabnya buku yang konon setebal 40.000 halaman itu bicara tentang perasaan yang jujur. Bahwa kehilangan tak melulu soal luka. Ia adalah pernyataan cinta yang detil namun dalam satu waktu keruh. Sebuah hal yang selama ini seolah kita ketahui tapi tak pernah benar-benar kita pahami dengan utuh.

Tapi sebenarnya apakah kehilangan itu? Apakah kematian? Apakah putus cinta? Apakah ditolak? Tapi di atas itu semua, pertanyaan sebenarnya adalah apakah kalian pernah kehilangan? Kehilangan yang begitu menyakitkan sehingga segala tatanan dunia wajar dan indah bagimu, hanyalah sebuah kelindan imaji yang tak lebih dari bayangan? Kehilangan yang begitu perih, sehingga kau berhenti percaya segala hal termasuk dirimu sendiri. Kehilangan yang begitu merusak, hingga menahun kau hanya bisa bangun tidur dan bergerak secara otomatik, selayaknya mesin gir dengan rantai kerja yang membosankan.

Aku pernah merasakan kehilangan yang semacam itu. Kehilangan yang terlalu prosais untuk bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Bukan saja akan hiperbolis namun juga terlalu melankolis. Seolah-olah kehilangan yang aku rasakan adalah yang paling hebat. Yang paling puncak sehingga penderitaan lain menjadi kurang penting. Atau meminjam bait puisi yang digunakan Chairil Anwar “dan duka maha tuan bertahta”.

Bagiku kehilangan adalah satu cara menuju kematian yang perlahan, tidak menyakitkan, tapi membuat apa yang tersisa dari dirimu rusak secara diam-diam.

Tapi kehilangan bukan satu-satunya hal paling menakutkan dari sebuah, katakanlah, perpisahan. Hidup yang terbiasa akan satu hal. Sebuah montase yang tiba-tiba ketika perpisahan terjadi adalah hal yang paling menakutkan. Dalam lubang dadamu tercerabut sesuatu yang telah biasa berada disana. Rasa rindu. Rasa gugup. Rasa senang. Perasaan-perasaan sepele yang lahir dari tindakan sederhana seperti senyum, guyonan garing, lesung pipi, aroma indomie dan segala macam yang kau rasa miliki tiba-tiba tercerabut.

Kekosongan dari sebuah rutinitas bersama adalah kengerian yang paling purna.

Lantas ketika kita menengok ke belakang. Mencoba meraba-raba dan memahami apa yang salah di masa lalu, kita hanya menemukan sederet peristiwa yang membuat kekosongan itu semakin menganga. Lubang itu membesar seiring ingatan yang kita gali dari kebersamaan yang semu itu. Mengabsen satu persatu pesan singkat “selamat tidur, banyak doa buat kamu” atau sekedar tanda baca seperti :).

Masa lalu yang diam itu lebih perih dari sekedar perpisahan. Ia abadi. Statis pada satu momen tertentu. Sementara otak kita merekam detik demi detik beserta segala kolase yang menyertainya. Wangi kopi, pertandingan bola, tatapan mata dan dering telpon yang luruh dalam perpisahan itu. Memori yang ingin kita tukar dengan apapun asal bukan kesan bersama. Tapi tentu saja. Kita tak punya kuasa lebih pada kinerja otak yang menyimpan beribu detik nostalgia lampau.

Itulah mengapa dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind berusaha melahirkan sebuah perspektif radikal perihal melupakan. Secara biologis naluriah manusia mustahil bisa melupakan sebuah kebersamaan yang lekat dalam tempo yang singkat. Fragmen-fragmen lampau datang serupa hujan bulan Desember. Deras dan tak memberikan kesempatan untuk sekedar menghindar berteduh.

Manusia, seperti juga aku, lantas memakai gincu dan topeng yang polos ketika menghadapi kehilangan. Berkata pada diri sendiri bahwa itu adalah proses yang wajar. Bahwa hal tersebut adalah sebuah kondisi apa boleh buat yang tak bisa dihindari. Luruh dalam kebohongan-kebohongan yang lantas kita percayai sendiri. Kesunyian paska kehilangan seringkali membuat seseorang gagal berpikir jernih. Lagi pula siapa yang bisa benar benar mengenyam perasaan orang lain?

Kehilangan selalu intim. Ia melekat pada benda atau sajak atau bunyi atau apapun yang jamak namun hanya si empu kehilangan itu yang bisa merasakan derit perih ketika potongan masa lampau hadir. Seperti dalam lagu Coldplay yang kudengar. Seperti berbaris sajak   yang membawaku pada satu fiksi yang sumbing. Tentang cinta yang dibokong, pujaan hati yang direbut dan sahabat yang berkhianat. Pada akhirnya yang tersisa hanya kesunyian.

Lucu bagaimana hal-hal yang coba kita hindari untuk mengingat. Justru semakin keras datang. Keramaian tidak bisa menyelamatkan itu. Barangkali hanya tidur, tidur yang panjang tanpa mimpi yang membuat kita benar-benar terlepas dari masa lalu. Tapi apakah itu benar? Tidak. Lari dari masa lalu hanya akan membuat dia lebih lama dekat dan erat mendekap. Pada akhirnya kita dipaksa menyerah tanpa memiliki kemampuan untuk melawan.

Look at the stars, Look how they shine for you,“ sebaris sajak tanpa panduan nada mampu menciptakan konser tak kasat telinga pada kepala kita. Mengasosiasikannya pada benda-benda seperti bintang, sepotong tiket konser, perdebatan tak penting dan hal-hal tolol yang mengiris. Kau tak bisa melogikakan sebuah kehilangan. Seperti juga berharap bahwa masa lalu akan kembali. Yang bisa kita lakukan adalah menerimanya sebagai sebuah laku tirakat.

Lantas di ujung hari kau akan melihat senja yang sama, subuh yang sama dan segala rutinitas menjemukan yang membuatmu melupakan rasanya memiliki. Aku mengalami negasi atas kehilangan itu. Luka yang dulu asing kini begitu akrab. Pelan-pelan kita menerimanya sebagai sebuah ‘kepemilikan’ lain. Karena ia yang hidup di masa lampau sudah habis tak tersisa. Yang ada hanya sekedar imaji meng-ada dari serpih kenangan kita padanya.

Lantas mau tak mau kita harus mengamini ucapan masyur pemikir politik asal Perancis, Alexis de Tocqueville, “Karena masa lampau gagal menerangi masa depan, kesadaran manusia mengembara dalam kabut,”

1 komentar:

  1. Kalo Radiohead yang "No Suprises" bagaimana kaka' ;)

    BalasHapus