Tapi sebenarnya apakah kehilangan
itu? Apakah kematian? Apakah putus cinta? Apakah ditolak? Tapi di atas itu
semua, pertanyaan sebenarnya adalah apakah kalian pernah kehilangan? Kehilangan
yang begitu menyakitkan sehingga segala tatanan dunia wajar dan indah bagimu,
hanyalah sebuah kelindan imaji yang tak lebih dari bayangan? Kehilangan yang
begitu perih, sehingga kau berhenti percaya segala hal termasuk dirimu sendiri.
Kehilangan yang begitu merusak, hingga menahun kau hanya bisa bangun tidur dan
bergerak secara otomatik, selayaknya mesin gir dengan rantai kerja yang
membosankan.
Aku pernah merasakan kehilangan
yang semacam itu. Kehilangan yang terlalu prosais untuk bisa diterjemahkan
dalam kata-kata. Bukan saja akan hiperbolis namun juga terlalu melankolis.
Seolah-olah kehilangan yang aku rasakan adalah yang paling hebat. Yang paling
puncak sehingga penderitaan lain menjadi kurang penting. Atau meminjam bait
puisi yang digunakan Chairil Anwar “dan duka maha tuan bertahta”.
Bagiku kehilangan adalah satu
cara menuju kematian yang perlahan, tidak menyakitkan, tapi membuat apa yang
tersisa dari dirimu rusak secara diam-diam.
Tapi kehilangan bukan
satu-satunya hal paling menakutkan dari sebuah, katakanlah, perpisahan. Hidup
yang terbiasa akan satu hal. Sebuah montase yang tiba-tiba ketika perpisahan
terjadi adalah hal yang paling menakutkan. Dalam lubang dadamu tercerabut
sesuatu yang telah biasa berada disana. Rasa rindu. Rasa gugup. Rasa senang.
Perasaan-perasaan sepele yang lahir dari tindakan sederhana seperti senyum,
guyonan garing, lesung pipi, aroma indomie dan segala macam yang kau rasa
miliki tiba-tiba tercerabut.
Kekosongan dari sebuah rutinitas
bersama adalah kengerian yang paling purna.
Lantas ketika kita menengok ke
belakang. Mencoba meraba-raba dan memahami apa yang salah di masa lalu, kita
hanya menemukan sederet peristiwa yang membuat kekosongan itu semakin menganga.
Lubang itu membesar seiring ingatan yang kita gali dari kebersamaan yang semu
itu. Mengabsen satu persatu pesan singkat “selamat tidur, banyak doa buat kamu”
atau sekedar tanda baca seperti :).
Masa lalu yang diam itu lebih
perih dari sekedar perpisahan. Ia abadi. Statis pada satu momen tertentu.
Sementara otak kita merekam detik demi detik beserta segala kolase yang
menyertainya. Wangi kopi, pertandingan bola, tatapan mata dan dering telpon
yang luruh dalam perpisahan itu. Memori yang ingin kita tukar dengan apapun
asal bukan kesan bersama. Tapi tentu saja. Kita tak punya kuasa lebih pada
kinerja otak yang menyimpan beribu detik nostalgia lampau.
Itulah mengapa dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind
berusaha melahirkan sebuah perspektif radikal perihal melupakan. Secara
biologis naluriah manusia mustahil bisa melupakan sebuah kebersamaan yang lekat
dalam tempo yang singkat. Fragmen-fragmen lampau datang serupa hujan bulan
Desember. Deras dan tak memberikan kesempatan untuk sekedar menghindar
berteduh.
Manusia, seperti juga aku, lantas
memakai gincu dan topeng yang polos ketika menghadapi kehilangan. Berkata pada
diri sendiri bahwa itu adalah proses yang wajar. Bahwa hal tersebut adalah
sebuah kondisi apa boleh buat yang tak bisa dihindari. Luruh dalam
kebohongan-kebohongan yang lantas kita percayai sendiri. Kesunyian paska
kehilangan seringkali membuat seseorang gagal berpikir jernih. Lagi pula siapa
yang bisa benar benar mengenyam perasaan orang lain?
Kehilangan selalu intim. Ia melekat
pada benda atau sajak atau bunyi atau apapun yang jamak namun hanya si empu
kehilangan itu yang bisa merasakan derit perih ketika potongan masa lampau
hadir. Seperti dalam lagu Coldplay yang kudengar. Seperti berbaris sajak yang membawaku pada satu fiksi yang sumbing. Tentang
cinta yang dibokong, pujaan hati yang direbut dan sahabat yang berkhianat. Pada
akhirnya yang tersisa hanya kesunyian.
Lucu bagaimana hal-hal yang coba
kita hindari untuk mengingat. Justru semakin keras datang. Keramaian tidak bisa
menyelamatkan itu. Barangkali hanya tidur, tidur yang panjang tanpa mimpi yang
membuat kita benar-benar terlepas dari masa lalu. Tapi apakah itu benar? Tidak.
Lari dari masa lalu hanya akan membuat dia lebih lama dekat dan erat mendekap.
Pada akhirnya kita dipaksa menyerah tanpa memiliki kemampuan untuk melawan.
“Look at the stars, Look how they shine for you,“ sebaris sajak
tanpa panduan nada mampu menciptakan konser tak kasat telinga pada kepala kita.
Mengasosiasikannya pada benda-benda seperti bintang, sepotong tiket konser,
perdebatan tak penting dan hal-hal tolol yang mengiris. Kau tak bisa
melogikakan sebuah kehilangan. Seperti juga berharap bahwa masa lalu akan
kembali. Yang bisa kita lakukan adalah menerimanya sebagai sebuah laku tirakat.
Lantas di ujung hari kau akan
melihat senja yang sama, subuh yang sama dan segala rutinitas menjemukan yang
membuatmu melupakan rasanya memiliki. Aku mengalami negasi atas kehilangan itu.
Luka yang dulu asing kini begitu akrab. Pelan-pelan kita menerimanya sebagai
sebuah ‘kepemilikan’ lain. Karena ia yang hidup di masa lampau sudah habis tak
tersisa. Yang ada hanya sekedar imaji meng-ada dari serpih kenangan kita
padanya.
Lantas mau tak mau kita harus
mengamini ucapan masyur pemikir politik asal Perancis, Alexis de Tocqueville,
“Karena masa lampau gagal menerangi masa depan, kesadaran manusia mengembara
dalam kabut,”
Kalo Radiohead yang "No Suprises" bagaimana kaka' ;)
BalasHapus